[BTS FF Freelance] Justice #3 | Second Case

10581354_324714057713750_594835603_nAuthor : jjkim_ririe

 

Title : Justice #3 (Second Case : Stress & Suicide)

 

Rating : Teenager, PG-17

 

Length : Chaptered

 

Genre : AU, Action, Fantasy, Romance

 

Main Casts :

 

Yoon Jineul (OC)                    as Justice Goddess

Kim Seokjin (BTS)                 as Ruler of Weather

Min Yoongi (BTS)                  as Ruler of Ocean / Water

Jung Hoseok (BTS)                 as Ruler of Duplication

Kim Namjoon (BTS)               as Ruler of Fire

Park Jimin (BTS)                     as Ruler of Invisible Shield

Kim Taehyung (BTS)              as Ruler of Time

Jeon Jungkook (BTS)              as Ruler of Lightning

 

Other Casts :

You can see through the story 🙂

 

Disclaimer :

Member BTS murni milik Tuhan, keluarga, Big Hit Ent., juga milik semua A.R.M.Y~ Tapi cast OC disini adalah milik author sendiri~ Kalau ada kesamaan nama/alur cerita dengan author lain, JJ mohon maaf, tapi asli ini author sendiri yang nyari nama OC & alur ceritanya~ Author cuma terinspirasi dari dramkor Cheo-yong & beberapa FF, plus Mahabharata~

No copying please, ini murni pemikiran author lho~ ^^

=========================

 

TAGLINE

 

We will protect you..

 

=========================

 

Seoul Wide-area Search Team, 19.00 KST

 

Jineul POV

 

Saat ini aku sedang beristirahat, setelah kasus penjualan organ tubuh manusia secara ilegal kemarin selesai, kami masih belum mendapat kasus lagi. Jimin bisa kembali bertugas besok. Sebenarnya aku dan Hyunsoo seuseungnim tidak memaksanya bekerja besok, karena dia baru sembuh. Tapi Jimin tetap bersikukuh untuk bekerja besok. Katanya agar tidak bosan di rumah sakit. Mau apa lagi?

 

Aku menghela nafas, kemudian menatap hamparan kota Seoul di malam hari dari rooftop gedung W.S.T. Angin yang berhembus, terasa membelai lembut wajahku, membuatku menutup mata untuk menikmatinya, sambil menyaku tanganku di saku jaket yang ku kenakan.

 

Ini benar-benar momen yang sangat kunikmati, karena kesibukanku di W.S.T dua minggu belakangan ini menyita waktu santaiku. Aku hanya memikirkan kasus, bagaimana cara menyelesaikan kasus, melatih kemampuanku juga member Bulletproof, dan memikirkan cara untuk mengalahkan Kang Hantae. Aku bahkan tidak punya waktu untuk sekedar berbincang santai dengan Yoongi oppa.

 

Statusku dan Yoongi oppa saat ini tidak lebih dari teman se tim dan tidak lebih dari ketua tim dengan anak buahnya. Walaupun kami pernah diikat di masa lalu, di masa ini kami belum mengikat hubungan apa-apa.

 

“Apa yang kau lakukan disini malam-malam begini, nak?”

 

Sebuah suara yang sangat ku rindukan, terdengar di telingaku. Aku membuka mata, lalu menoleh. Aku tersenyum melihat ibu berdiri di samping kananku, dengan senyum manis tersungging di wajah cantiknya yang pucat. Aku memeluk erat ibuku, untuk melepaskan kerinduanku padanya.

 

“Ada apa? Apa yang terjadi? Ada masalah dengan appamu? Atau karena timmu?”

“Aniya, eomma. Aku hanya sangat sangat merindukanmu.”

 

Kurasakan belaian halus dari rambut ke punggungku. Aku mempererat pelukanku pada ibu. Airmata meleleh dan membasahi pipiku.

 

“Apa yang kau lakukan saat ini tidaklah mudah. Tapi eomma tahu, kau pasti akan bisa dan sanggup menjalaninya. Kau bukanlah manusia biasa, nak. Begitupula ketujuh pelindungmu. Kalau kau bisa menyelesaikan kasus kemarin dengan sempurna, eomma yakin begitupula dengan kasus lainnya nanti.”

 

Kata-kata ibu sungguh sangat menenangkan dan seakan memberiku semangat. Aku melepaskan pelukanku pada ibu, lalu menatap ibu, dan mengusap pipiku. “Aku sangat merindukanmu, eomma,” ujarku. Ibu mengulurkan tangannya, lalu membelai pipiku lembut. Aku tersenyum dan menggenggam tangannya yang membelai pipiku.

 

Kami berdua kemudian menatap keindahan Seoul di malam hari dari rooftop W.S.T. “Kemana appamu?” “Sedang menangani tugas, eomma. Kemana Nayoung ahjumma?” “Mengikuti Minjae. Kemana lagi?” Kami berdua tertawa. Ya, walaupun Nayoung ahjumma adalah arwah, dia masih saja mencintai dan mengejar-ngejar Minjae sunbae, yang anehnya tidak kunjung menikah sampai detik ini. Padahal Minjae sunbae tidaklah jelek.

 

“Eomma.. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu sejak dulu.”

“Ada apa?”

“Setiap hari ulang tahunmu, kau selalu terlihat sedih. Apa hal yang pernah terjadi di hari ulang tahunmu, hingga membuatmu selalu sedih?”

 

Ibu terlihat termenung, lalu tersenyum sendu. “Karena di hari itulah, eomma kehilangan sahabat terbaik eomma, Han Nayoung.”

“Maksudnya Nayoung ahjumma?”

Ibu mengangguk.

 

=========================

 

Rooftop Cheonan Girls High School, 33 Years Ago, 00.00 KST

 

Author POV

 

==flashback==

 

Nayoung menyalakan lilin di atas kue coklat kecil, yang sengaja ia belikan untuk sahabatnya, Ha Sunwoo.  Tak lupa, ia juga membeli dua kaleng coke untuknya dan Sunwoo.

 

“Wah! Jinjja kyeopta!” puji Sunwoo.

Nayoung tertawa kecil.

“Hmm.. Kue krim coklat lagi. Kau kan tahu kalau aku lebih suka kue krim kocok! Kau melakukannya agar aku tidak menghabiskannya kan?” protes Sunwoo.

Nayoung mengeluarkan cengiran khasnya.

“Mau krim coklat atau krim kocok, kau pasti tidak akan menghabiskannya,” sahut Nayoung.

“Dasar rakus!” ejek Sunwoo, sambil tertawa.

“Sudahlah! Cepat buat permintaan!

 

Sunwoo memejamkan matanya dan merapatkan kedua telapak tangannya, sambil memejamkan matanya, kemudian membuat harapan dalam hati, sedangkan Nayoung menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Sunwoo.

 

Saengil chukka hamnida! Saengil chukka hamnida! Saranghaneun uri Sunwoo.. Saengil chukka…” Nyanyiannya terpotong, lalu menatap Sunwoo. “Yah! Apa kau membuat permintaan yang bagus untukku?” tanya Nayoung pada Sunwoo, sambil menatap Sunwoo penuh harap. “Aku minta agar kau berhenti berkhayal,” jawab Sunwoo. Nayoung berdecak. “Kenapa? Memang ada yang salah dengan permintaanku?”

 

“Apa? Detektif dikelas itu?”

“Yah! Kalau aku tidak bisa jadi detektif dikelas, setelah lulus nanti, aku akan ikut tes polisi patroli.”

“Eo? Bagaimana kau tahu? Aku berharap kau jadi polisi wanita di kantor polisi didekat sini,” ujar Sunwoo.

“Benarkah?” Nayoung menatap Sunwoo dengan mata berbinar-binar. Sunwoo mengangguk mantap. Seakan membayangkan dirinya menjadi polisi nanti, Nayoung tersenyum-senyum sendiri, lalu menatap Sunwoo. “Kau ternyata memperhatikanku juga ya, gadis nakal.”

 

Nayoung dan Sunwoo tertawa bersama. “Sebenarnya, aku tidak berharap begitu, sih,” ungkap Sunwoo, lalu membuka kaleng cokenya, dan meminumnya. Nayoung kembali berdecak kesal. “Lalu kau berharap apa?” tanya Nayoung penasaran. “Aku berharap kita bisa bersama selamanya,” ujar Sunwoo, lalu meniup lilinnya. Nayoung mencibir, lalu tertawa kecil. “Kau ingin kita hidup, tumbuh, dan mati bersama?” Nayoung berdiri, lalu menggelitik pinggang Sunwoo. Mereka berdua tertawa bersama.

 

“Yak! Han Nayoung! Geli! Ampun, ampun, ampun!” rengek Sunwoo. Nayoung pun duduk kembali, lalu membuka kaleng cokenya dan bersulang dengan Sunwoo, kemudian menautkan telunjuk mereka yang terdapat cincin persahabatan yang diberikan oleh Nayoung. “Ah!” ujar mereka bersamaan, setelah meminum coke mereka. “Ayo, potong kuenya!” seru Nayoung, sambil memberikan pisau pada Sunwoo.

 

Baru saja, Sunwoo akan memotong kue tartnya, mereka mendengar suara seorang perempuan berteriak mendekat. “Pasti itu guru jam malam,” ujar Nayoung. Mereka segera membereskan kue dan cokenya, lalu bersembunyi di balik tumpukan meja yang ada disana.

 

Hantae yang saat itu merasuki raga Yang Soohyuk, tengah mengejar guru Nayoung dan Sunwoo, yang dulu pernah ikut campur dalam kasus pembunuhan terhadap Kang Hantae. “Seonsaengnim,” lirih Sunwoo. Nayoung menutup mulut Sunwoo. Hantae mencengkeram leher wanita itu. “Maaf.. Ampuni aku. Tolong jangan bunuh aku,” pinta wanita itu memelas. “Jangan membunuhmu? Sujinku dulu juga mengatakan itu berulang kali, tapi kalian tidak menggubrisnya!” bentak Hantae, lalu mematahkan leher wanita tadi dengan sekali gerakan.

 

Sunwoo yang terkejut, tak sengaja membuat suara nafasnya terdengar ke telinga Hantae. Hantae terkejut lalu menoleh kearah tempat persembunyian Nayoung dan Sunwoo. Sunwoo dan Nayoung sontak panik, terlebih mendengar langkah Hantae yang semakin dekat. “Aku akan mengalihkan perhatiannya. Kau diamlah disini. Akan segera ku teleponkan polisi, kalau aku berhasil mengalihkan perhatiannya,” ujar Nayoung. Sunwoo menggeleng keras. “Tetaplah disini,” bisik Sunwoo. “Tak apa. Kita berdua akan mati kalau tetap disini.” Nayoung berdiri, lalu melepaskan genggaman tangannya pada Sunwoo, dan berlari.

 

Cincin yang terpasang di telunjuk Nayoung terlepas. Sunwoo mengambilnya, lalu kembali bersembunyi dengan panik. Sementara Hantae yang melihat bayangan Nayoung, langsung mengejar Nayoung, mengira hanya Nayounglah satu-satunya orang yang bersembunyi disana.

 

Cheoyong yang datang terlambat setelah mendapatkan kepastian tentang posisi Hantae dengan hasil pelacakannya, menemukan Sunwoo sendirian di rooftop Cheonan Girls High School, setelah memeriksa sekolah yang sebenarnya sudah sepi. Cheoyong mendekati Sunwoo dan menepuk bahu Sunwoo. “Ah!” pekik Sunwoo. “Tak apa. Aku adalah polisi. Kau tak apa?” Tubuh Sunwoo gemetar hebat, karena takut. Ia menoleh perlahan dan menatap Cheoyong.

 

“Ahjussi.. Temanku dalam bahaya karena aku. Bagaimana ini?” ujar Sunwoo panik, sambil menangis. Cheoyong memegang kedua bahu Sunwoo yang terlihat jelas sangat ketakutan. “Ahjussi, tolong cari temanku. Kumohon,” isak Sunwoo. “Baiklah, jangan khawatir. Aku akan menemukannya. Kau disini saja dulu dan jangan bergerak. Mengerti?” pinta Cheoyong. Sunwoo mengangguk pelan dan Cheoyong langsung berdiri, kemudian kembali mencari Nayoung. Sunwoo masih gemetar dan menangis.

 

Cheoyong akhirnya sampai disemak belukar di belakang sekolah. Cheoyong tidak tahu, jika Hantae telah membekap mulut Nayoung dengan tangannya, agar Nayoung tidak bersuara. Cheoyong mengambil revolvernya, lalu kembali mencari. Sedangkan Hantae akhirnya membunuh Nayoung setelah terlebih dulu membanting dan mencekik Nayoung.

 

Cheoyong menemukan jasad Nayoung yang sudah pucat dengan darah di kaki dan kepalanya. Ia menelepon pihak kepolisian juga rumah sakit. Cheoyong yang teringat akan Sunwoo, langsung berlari untuk membawa Sunwoo turun dari rooftop. “Maafkan aku,” ujar Cheoyong pada Sunwoo. Sunwoo melihat petugas rumah sakit membawa brankar dengan jasad Nayoung dan tangan Nayoung terkulai lemas keluar dari selimut yang menutupi raganya. Sunwoo menatap nanar brankar itu, lalu beralih menatap Cheoyong.

 

=========================

 

Seoul Wide-area Search Team, 19.30 KST

 

Jineul POV

 

Aku mengusap pipiku yang basah karena airmata dengan pelan. Begitu mengenaskannya akhir hidup Nayoung ahjumma. Di usia yang belia, hidupnya berakhir hanya karena ingin melindungi sahabatnya, yaitu ibuku. “Sejak hari pemakaman Nayoung, eomma berjanji pada diri eomma sendiri, pada appamu, dan pada Nayoung, untuk meneruskan impian Nayoung, yaitu menjadi detektif,” ujar ibu mengakhiri ceritanya.

 

Aku menghela nafas. “Itukah sebabnya Nayoung ahjumma selalu ada disisimu?” Ibu mengangguk. “Dia terus melindungi dan membantuku, meskipun dia sudah jadi arwah. Bahkan, setelah aku menjadi arwah, dia masih membantuku. Membantu menjagamu dan appamu, diawal kematianku.” Ibu tersenyum sambil menatapku, membuatku ikut tersenyum.

 

Aku mngalihkan pandanganku, kembali menatap Seoul di malam hari. “Pasti menyenangkan punya teman atau orang seperti Nayoung ahjumma,” ucapku. “Kau bahkan memiliki lebih dari satu orang seperti Nayoung, nak.” Ibu menepuk bahuku. Aku menatap ibu, lalu mengerutkan dahi.

 

“Kau lupa dengan ketujuh pelindungmu?” goda ibu. “Eommaa…,” rajukku. “Eomma benar kan? Mereka bertujuh sudah seperti Nayoung untukmu. Yoongi, dia membantumu mengurus satu bajingan yang kalian tangkap kemarin. Taehyung, dia langsung kembali ke markas saat mendapat penglihatan tentangmu. Hoseok, dia satu-satunya yang tidak tidur dan membantumu membobol website internal Dongbukhan Hospital, sehingga kau bisa mendapat keterangan rahasia mereka. Jungkook, dia selalu membantumu mengendalikan emosimu. Seokjin, dia selalu menjadi tempatmu untuk bercerita dan berkeluh kesah. Namjoon, walau kelihatannya dia tidak banyak membantumu, tapi dia selalu jadi yang pertama menghiburmu, saat kau merasa lelah. Dan Jimin, dia merelakan dirinya terluka untuk melindungimu. Sama, kan?” jelas eomma. Aku tersenyum, lalu mengangguk.

 

Ya, aku sempat lupa memiliki ketujuh pelindung yang lebih berarti dan lebih berharga dari berlian. Aku tertawa bersama ibu.

 

“Disini kalian rupanya.”

 

Sebuah suara yang familiar terdengar di telingaku -aku yakin ibu juga mendengarnya-. Aku dan ibu serempak menoleh ke sumber suara. Nayoung ahjumma. “Ada apa, ahjumma?” tanyaku. “Yak! Kau tidak lihat aku masih pakai seragam sekolah dan wajah cantikku ini? Jangan panggil aku ahjumma!” protes Nayoung ahjumma.

 

“Baiklah. Ada apa, Nayoung-a?” godaku.

“Yak! Tidak sopan kau ini! Aku ini teman eomma dan appamu!”

“Kau kan masih anak sekolah, sedangkan aku sudah lulus kuliah tahun lalu,” sahutku.

“Tapi aku lebih tua darimu!”

“Aku jauh lebih tua, kalau kau menghitung usiaku di kehidupanku sebelumnya,” jawabku.

 

Skak mat! Nayoung ahjumma langsung mengerucutkan bibirnya. Aku hanya tertawa. “Dipanggil ahjumma tidak mau, dianggap lebih muda tidak mau. Kau ini menyebalkan, Nayoung-a,” komentar ibuku.

“Jadi ada apa, ahjumma?”

 

=========================

 

Seoul Wide-area Search Team, 19.40 KST

 

Author POV

 

“Turunlah! Di bawah sedang ramai!” seru Nayoung, senang.

“Ada apa memangnya?” tanya Jineul penasaran.

Nayoung mendekati Jineul, lalu menarik Jineul masuk ke gedung W.S.T.

 

Di ruang kerja bersama tim Defensive dan Bulletproof, terlihat para pria berkerumun, sambil tertawa. “Ada apa ini?” tanya Jineul. Jungkook menoleh, lalu tersenyum, dan mendekati Jineul. “Kau pasti akan menyukainya, noona-ya,” ujar Jungkook, lalu menarik Jineul ke tengah kerumunan.

 

Seokjin terlihat menggendong seorang bayi yang tengah menangis. “Siapa bayi itu? Anakmu, oppa? Kapan kau menikah? Seingatku, kau belum punya pacar. Atau jangan-jangan kau……” duga Jineul. “Yak! Aku bukan pria seperti itu!” elak Seokjin. “Aku dan Hoseok menemukannya di jembatan dekat rumah sakit, saat menjemput Jimin.” Jineul melirik Jimin yang sedang membuat tampang lucu untuk meredakan tangis bayi yang digendong Seokjin.

 

“Katanya kau baru boleh pulang besok. Kenapa kau sudah minta dijemput?” tanya Jineul pada Jimin.

“Aku bosan di rumah sakit. Lagipula bau karbolnya menyengat, tidak seperti disini,” jawabnya.

Jineul memutar bolamatanya, lalu menatap bayi perempuan yang digendong Seokjin.

 

“Bagaimana ini? Anak ini tidak berhenti menangis,” ujar Jonghyun panik. “Pampers juga sudah diganti, susu sudah kita minumkan. Apalagi yang harus kita lakukan?” Minjae ikut panik. Jineul melirik Cheoyong yang diam saja. “Appa, kau kan pernah merawatku saat kecil. Kenapa kau tidak melakukan apapun?” protes Jineul. Cheoyong hanya mengedikkan bahunya.

 

Jineul berdecak kesal. “Berikan padaku!” pinta Jineul pada Seokjin. “Kau tidak akan membanting atau membunuhnya kan, Jineul-a?” tanya Namjoon, polos. Jineul langsung menjitak Namjoon. “Kau gila?!” bela Yoongi. Yang lain bersiul. Jineul kembali berdecak kesal, lalu langsung menggendong bayi di tangan Seokjin.

 

Jineul perlahan tersenyum melihat wajah bayi perempuan yang tengah menangis itu. “Dia sangat cantik,” ujarnya, sambil membelai pipi bayi itu. Setelah membelai pipi bayi itu, Jineul menepuk-nepuk pelan pantat bayi itu, sambil bernyanyi lirih, dan menimang-nimang badannya pelan.

 

Eonjengan i nunmuri meomchugil

Eonjengan i eodumi geodhigo

Ttaseuhan haetsari i nunmureul mallyeojugil

 

Gidarimyeon eonjengan ogetji

Bami gireodo haeneun tteudeushi

Apeun nae gaseumdo eonjengan da natgetji

 

Tangis bayi itu sudah tak terdengar lagi. Bayi itu sudah tertidur lelap dalam dekapan Jineul, karena terbuai oleh lagu yang Jineul nyanyikan. Senyum Jineul semakin mengembang melihat bayi di gendongannya sudah tertidur lelap. Sementara para pria yang berkerumun tadi -kecuali Cheoyong-, menatap kagum Jineul.

 

“Cheoyong-a, mungkin sudah waktunya kau menimang cucu,” goda Hyunsoo. Pipi Jineul langsung memerah. “Kau sudah punya calonnya, Jineullie?” tanya Hongmin. “Ada,” jawab Seokjin, Hoseok, Namjoon, Jimin, Taehyung, dan Jungkook bersamaan. Yoongi dan Jineul langsung memberi death glarenya kepada keenam orang tadi. “Siapa memangnya?” tanya Jonghyun penasaran.

 

“Sudahlah! Belum terpikir olehku menikah diusia muda!” jawab Jineul, ketus. “Dimana kalian menemukan bayi ini tadi?” tanya Jineul untuk mengalihkan pembicaraan. “Di jembatan dekat rumah sakit Jimin dirawat,” jawab Hoseok. “Kalian tidak menemukan apa-apa lagi?” selidik Jineul. Seokjin dan Hoseok kompak menggeleng. Jineul menatap keranjang bayi yang terletak di meja kerjanya. Ia mendekati keranjang bayi itu sambil masih menggendong bayi tadi. “Siapapun, tolong gendongkan anak ini sebentar,” pinta Jineul. Yoongi langsung mendekati Jineul dan menggendong bayi tadi. “Ehem! Ehem!” Semua orang berdehem kecuali Cheoyong dan Sunwoo.

 

Jineul memeriksa keranjang bayi itu dan.. Bingo! Jineul menemukan sepucuk surat dibalik selimut itu. Jineul langsung menyakunya tanpa terlihat oleh yang lain kecuali Yoongi, Sunwoo, dan Nayoung yang tahu. “Apa yang akan kau lakukan dengan surat itu?” bisik Yoongi. “Akan kulihat nanti,” jawab Jineul, lalu kembali menggendong bayi perempuan itu. “Ayo kita beri nama bayi itu!” ujar Jungkook bersemangat. “Jungkook-a, kau mau mengadopsi bayi itu?” tanya Minjae. Sontak, Jungkook menggeleng kuat. “Lebih baik kita serahkan ke rumah sakit atau ke panti asuhan,” saran Jonghyun.

 

Jineul menatap wajah bayi itu yang terlihat tidur dengan damai, lalu mengalihkan pandangannya dan memikirkan sesuatu.

 

=========================

 

Seoul Wide-area Search Team’s Rooftop, 20.30 KST

 

Jineul POV

 

Member timku sedang melatih kekuatannya masing-masing dibelakangku. Namjoon sedang bekerja sama dengan Jungkook membuat petir api dalam skala kecil. Seokjin oppa tidak banyak memakai kemampuannya karena kekuatannya adalah mengendalikan cuaca. Cuaca cerah di Seoul malam ini pasti karena dia, padahal menurut ramalan cuaca, hari ini diprediksikan akan turun salju. Yoongi oppa sedang menciprati air ke Jimin, yang tentu saja mudah dihindari Jimin dengan cara menghilang. Sedangkan Hoseok dan Taehyung, mereka sedang bercerita di sudut rooftop. Aku bersyukur kemampuan kami sudah terasah dengan baik dalam waktu yang singkat.

 

Sedangkan aku? Aku kembali menatap pemandangan Seoul di malam hari, sambil berpikir. Bayi itu tadi telah dititipkan oleh Jonghyun sunbae dan Hongmin sunbae ke Panti Asuhan yang telah bekerja sama dengan W.S.T. Aku teringat dengan surat yang tadi kuambil dari keranjang bayi itu. Aku merogoh saku jaketku, lalu mengambil surat tadi. Aku membuka surat itu dan mulai membacanya dalam hati.

 

“Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin membuang bayiku.

Aku sangat mencintainya walaupun dia bukanlah hasil cinta.

Tapi aku sudah tidak kuat lagi.

Tekanan dari orang-orang disekitarku membuat hatiku sakit.

Jadi kepada siapapun yang menemukan Lee Haneul ku, tolong rawatlah dia dengan baik.

Terima kasih.

– Lee Hyun Yi -“

 

Aku kembali melipat surat itu dan menyakunya. Apa maksudnya dengan dia tidak kuat lagi dengan membuang atau menitipkan bayinya? Jangan-jangan… Aku langsung berbalik dan menatap Hoseok juga Seokjin oppa. “Hoseok-a, Seokjin oppa, apa kalian yakin tidak menemukan apa-apa lagi disamping keranjang bayi itu?” desakku. Mereka berdua mengangguk mantap. “Memang ada apa, noona?” tanya Jimin, lalu mendekatiku. Aku merogoh saku jaketku, lalu mengeluarkan surat tadi, dan memberikannya pada Jimin. “Bacakanlah dengan sedikit keras agar semua mendengarnya,” titahku. Jimin mengangguk, lalu mulai membaca.

 

“Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin membuang bayiku. Aku sangat mencintainya walaupun dia bukanlah hasil cinta. Tapi aku sudah tidak kuat lagi. Tekanan dari orang-orang disekitarku membuat hatiku sakit. Jadi kepada siapapun yang menemukan Lee Haneul ku, tolong rawatlah dia dengan baik. Terima kasih. Tertanda, Lee Hyun Yi,“ ujar Jimin, lalu menganga. Aku menggigit bibir bawahku dengan perasaan gelisah. “Kemana sebenarnya orang bernama Hyun Yi ini?” ujarku pelan.

 

“Aku tidak dapat melacaknya. Setiap kusebut nama Lee Hyun Yi, tak ada yang terjadi. Aku tidak dapat melihat masa depannya,” ujar Taehyung. Aku menatapnya, lalu bertanya, “Bisa kau lihat masa lalunya?” Taehyung tampak sedang mencoba. Tak lama, ia tercengang. “Ada apa? Kau tahu apa yang terjadi padanya?” tanya Namjoon. Aku menatapnya penuh harap. “Aku tidak bisa melihat jelas  semuanya, tapi aku melihat kalau dulunya dia… dijual oleh ayahnya sendiri ke tempat prostitusi, karena ayahnya kalah berjudi, dan ayahnya sudah mempertaruhkan Hyun Yi.”

 

Aku tercengang, begitupun yang lain. Dunia ini memang sudah berubah sangat kejam.

 

=========================

 

Next day…

 

Seoul Wide-area Search Team, 05.30 KST

 

Jineul POV

 

Aku menginjakkan kakiku ke gedung W.S.T bersama dengan ayahku, Cheoyong. “Semoga ada kasus menarik hari ini,” ujar ayah. Aku meliriknya. “Ya. Sepertinya aku sudah memperkirakan sesuatu akan terjadi,” jawabku, asal. Langkahku tertahan, karena seperti ada yang menarik lenganku. Aku berhenti, lalu menoleh dan tersenyum simpul. Orang yang menarik lenganku tak lain adalah ayah. “Ada apa?” tanyaku pada ayah. “Kekuatanmu.. sampai sejauh itu?” “Entah. Kan tadi aku mengatakan kalau aku hanya memperkirakan. Belum tentu terjadi.” Aku menarik lenganku, lalu menyaku tanganku disaku jaket dan memasuki ruang kerja Bulletproof.

 

Saat aku membuka pintu, semua anggota Bulletproof sudah disana. “Tumben sekali,” batinku. Mereka semua kemudian menatapku dan tersenyum. “Pagi semua,” sapaku lalu duduk di meja kerjaku. Aku menghela nafas, lalu mulai menyalakan komputer, ketika telepon di ruangan berbunyi. Telepon ini juga tersambung ke ruangan kerja Defensive. Aku segera mengangkatnya.

 

“Seoul Wide-area Search Team. Ada yang bisa kami bantu?” ujarku.

“Selamat pagi. Saya satpam di Seoul Girls High School. Kami menemukan sesosok mayat wanita disini,” jawab suara diseberang.

Dugaanku benar, kan?

“Baiklah, kami akan segera meninjau lokasi. Tolong amankan sekolah dan jauhkan tempat kejadian dari beberapa siswa.”

“Baik.”

 

Aku memutus sambungan telepon, lalu menatap anggota timku. “Kita dapat pekerjaan,” ujarku sambil tersenyum kecil. “Taehyung, Jimin, kau harus ikut denganku, karena aku butuh kekuatan kalian.” Taehyung dan Jimin mengangguk mantap. “Yoongi oppa, ayo.” Yoongi oppa mengangguk. “Yang lain, bersiaplah untuk meluncur ketempat yang kuperintahkan nanti,” ujarku, yang diikuti anggukan Jungkook, Seokjin oppa, Namjoon, dan Hoseok.

 

Aku berjalan keluar dari ruang kerja Bulletproof. “Minjae sunbae, Jonghyun sunbae. Mau kemana?” tanyaku. “Ke Seoul Girls High School,” jawab Minjae sunbae. “Tidak. Biar Tim Bulletproof yang menangani kasus ini.” “Kau tidak bisa memutuskan begitu saja, Jineul-a,” protes Jonghyun sunbae. “Kenapa? Lagipula aku lah yang pertama menjawab sambungan telepon itu,” ujarku sambil menjulurkan lidahku kearah Jonghyun sunbae. “Kau yakin, Jineul-a?” tanya Hyunsoo seuseungnim meyakinkan. “100% siap! Kami pergi dulu,” pamitku, lalu membungkuk, dan beranjak keluar dari gedung W.S.T.

 

=========================

 

Seoul Girls High School, 06.30 KST

 

Author POV

 

Jineul, Yoongi, Jimin, dan Taehyung akhirnya sampai di Seoul Girls High School dengan ambulans dan beberapa polisi lain. Jineul, Yoongi, Jimin dan Taehyung langsung mendekat ke TKP. Saat berlari, tiba-tiba Jineul berhenti dan tangannya mengepal kuat. Nafasnya menderu hebat, merasa ada aura lain yang ada disana. Jineul lekas menoleh keatas gedung sekolah didekat TKP. Ada sesosok arwah siswi yang tengah menatap marah kearah para siswi lain yang tengah mengerumuni jasadnya.

 

Jineul bergegas mendekati jasad seorang siswi yang tergeletak bersimbah darah. Jineul mengenakan sarung tangan, lalu berjongkok didekat jasad itu. Jineul memeriksa mata jasad itu terlebih dahulu. Terlihat sedikit bekas lebam di dekat matanya yang berbatasan dengan hidungnya. Setelah melihat lebih dekat dan membersihkan sedikit darah di dekat sudut kiri bibir jasad itu, Jineul menemukan luka yang sudah sedikit mengering, dan bekas lebam. Jineul mengerutkan dahinya.

 

“Harusnya luka seperti ini tidak ada di mata ataupun di bibirnya, jika posisi jatuhnya dari atas gedung itu terlentang seperti ini,” batin Jineul. Jineul kemudian melihat seragam yang dikenakan jasad itu. Bisa dipastikan ia adalah salah satu siswi disini, mengingat seragam yang ia kenakan sama dengan seragam siswi lain.

 

“Akhirnya pelacur itu mati,” gumam seorang siswi yang terdengar oleh Jineul.

“Iya. Sungguh, nama baik Seoul Girls High School rusak karena dia berani membawa bayi hasil hubungan gelapnya itu ke sekolah,” gumam siswi lain.

“Syukurlah, kalau dia mati. Aku tidak perlu muak melihat tampang murahannya setiap hari,” gumam yang lain.

“Lalu bagaimana nasib bayinya?”

“Pasti sudah dibuang atau mungkin dibunuh,” sahut siswi lain.

 

Jineul menatap kosong kearah lain untuk berpikir, lalu mengerutkan dahinya mendengar gumaman para siswi lain di sekolah itu yang tengah berkerumun di dekat TKP. “Pelacur? Bayi? Dibuang?” batin Jineul, berusaha menghubungkan ketiga kata itu, dengan sesuatu yang ia temukan semalam. Taehyung mendekati Jineul dan menepuk bahu Jineul. “Kenapa, noona?” tanya Taehyung. Jineul menggeleng pelan, lalu kembali menatap jasad itu – tepatnya seragam jasad siswi itu -. Bingo! Jineul menemukan sebuah nametag di seragamnya. Jineul membersihkan sisa darah dan tanah yang menempel di nametag itu. Jineul mengeja nama yang tertulis di nametag itu. “Lee.. Hyun.. Yi..” Jineul terbelalak, lalu menatap Taehyung disampingnya.

 

Taehyung ikut membaca nama di nametag itu. “Lee Hyun Yi? Siapa itu, noona? Kenapa kau terkejut begitu?” tanya Taehyung, dengan polos. Jimin dan Yoongi mendekati Jineul dan Taehyung, setelah melihat Jineul seperti terkejut bukan main. “Ada apa, Jineul-a?” tanya Yoongi. Taehyung hanya menunjuk nametag Jineul.

 

“Lee.. Hyun.. Yi..,” eja Jimin, lalu terkejut, “Bukankah itu adalah yang menulis surat…” “Di keranjang bayi yang ditemukan Seokjin hyung dan Hoseok semalam?” sambung Yoongi. “Kita harus melakukan penyelidikan,” ujar Jineul. Jineul berdiri dan melepas sarung tangannya, lalu mempersilakan petugas ambulans untuk menggotong jasad Hyun Yi ke ambulans dan membawanya ke rumah sakit. “Taehyung-a, minta Jungkook dan Hoseok ke Hannam Hospital sekarang, untuk menerima dan mengambil laporan otopsi Hyun Yi,” titah Jineul. Taehyung mengangguk. Ambulans sudah pergi menuju Hannam Hospital.

 

=========================

 

Seoul Girls High School, 07.30 KST

 

Taehyung POV

 

Aku mengambil ponsel di sakuku, lalu memencet nomor ponsel Jungkook, dan memencet tombol dial. Aku menunggu beberapa saat, sampai akhirnya Jungkook menerima panggilan dariku.

 

“Yeoboseyo, hyung?”

“Eo, yeoboseyo, Jungkook-a.”

“Waeyo, hyung?”

“Jineul noona memintamu dan Hoseok hyung untuk ke Hannam Hospital sekarang. Jasad siswi yang bunuh diri bernama Lee Hyun Yi itu sudah dibawa ke Hannam Hospital untuk diotopsi.”

 

Aku melihat Jineul noona berlari ke atas gedung itu. Apa yang mau dilakukan Jineul noona? Yoongi hyung terlihat mengikuti Jineul noona keatas juga.

 

“Apa ada perintah dari Jineul noona lagi, hyung?”

Aku tersadar, lalu menjawab panggilan Jungkook.

“Tidak ada, Kook-a. Cepatlah kesana, lalu ambil dan bawalah ke W.S.T untuk dievaluasi bersama dengan Bulletproof nanti.”
“Ne, hyung.”

“Baiklah.”

 

Aku memutus sambungan telepon dengan Jungkook lalu mendekati Jimin yang hanya menatap Jineul noona dan Yoongi hyung dengan tatapan yang tidak dapat kuartikan. “Waeyo, Jimin-a?” tanyaku. “Ani. Aku hanya menebak apa yang dilakukan Jineul noona diatas sana. Dia tampak berbicara tapi tidak dengan Yoongi hyung,” ujarnya. Aku meniup poniku sedikit, lalu menjitak Jimin. “Kau ini bagaimana. Jineul noona kan bisa melihat hantu. Dia pasti sedang berkomunikasi dengan arwah siswi bernama Hyun Yi tadi,” jawabku, sambil mengerucutkan bibirku. “Ooo,” jawabnya pendek.

 

Noona, noona. Bagaimana bisa kau begitu kuat?

 

=========================

 

Seoul Girls High School, 07.35 KST

 

Jineul POV

 

Aku segera berlari ke atas gedung saat melihat arwah Hyun Yi akan menghilang. Sesampainya disana, aku tidak melihat siapapun. “Apa yang kau lakukan diatas sini?” tanya sebuah suara. Aku menoleh, mendapati Yoongi oppa yang tidak kukira akan mengikutiku keatas. “Ada yang harus kucari tahu. Apa yang oppa lakukan disini?” “Aku hanya memastikan bahwa kau baik-baik saja.” “Aku akan baik-baik saja disini, oppa.” Aku tersenyum, lalu mendekati drum air besar yang terdapat di dekat ujung gedung.

 

Aku memejamkan mata, lalu membaca beberapa mantra untuk memanggil kembali arwah Hyun Yi tadi. Saat aku membuka mata, arwah Hyun Yi berdiri di hadapanku. Aku membungkuk padanya sebagai salam dan ia pun membalas dengan membungkuk juga. “Ada apa? Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau memutuskan mengakhiri hidupmu sebelum waktunya?” tanyaku. “Aku tidak bisa menjawabnya. Aku sudah menuliskan penyebabku bunuh diri di surat yang kuletakkan di keranjang bayiku,” jawabnya, dingin.

 

Aku menghela nafas. “Temanku yang menemukan bayimu, lalu membawanya ke kantor, para seniorku memberikannya ke panti asuhan yang kami percaya. Dan aku yang membaca suratmu, aku juga sempat me-ninabobo-kan bayimu.” Sorot matanya yang awalnya sangat dingin dan tajam, melunak saat menatap mataku. Tak lama, ia menangis. Aku memegang bahunya, lalu meraihnya dan memeluknya. “Ceritakan padaku dengan jelas, Hyun Yi-ssi,” pintaku, lembut. Kulihat, ia menggeleng kuat. Sepertinya tekanan yang ia alami sangatlah berat.

 

Bagaimana tidak berat? Ingat kan, saat Taehyung berkata setelah membaca masa lalunya, bahwa ia dijual ayahnya setelah ayahnya kalah berjudi? “Kau jangan khawatir, Hyun Yi-ssi. Aku akan memberikan keadilan untukmu. Dan aku akan menjaga bayimu, Lee Haneul,” ujarku. Tangisnya terdengar sedikit lebih keras dari sebelumnya. Aku membelai rambutnya, pelan.

 

=========================

 

Hannam Hospital, 08.00 KST

 

Jungkook POV

 

Aku melangkah masuk bersama Hoseok hyung lalu mendekati meja resepsionis. Aku mengeluarkan tanda pengenalku dari W.S.T, begitupun Hoseok hyung. “Kami detektif dari Seoul Wide-area Search Team. Kami datang untuk mengambil hasil otopsi dari korban bunuh diri bernama Lee Hyun Yi,” ujar Hoseok hyung. “Ah silakan menuju ke ruang otopsi. Dari sini, anda hanya perlu lurus lalu belok ke arah kiri. Nanti ada tulisan ruang otopsi diluarnya,” terang suster penjaga tadi. ”Gamsahamnida,” ujarku, lalu berjalan menuju ruangan itu bersama Hoseok hyung.

 

“Hyung, bukankah Lee Hyun Yi adalah penulis surat di keranjang bayi yang kau temukan kemarin?” tanyaku.

Hoseok hyung mengangguk. “Pasti banyak tekanan yang dialami Lee Hyun Yi ini sampai dia memutuskan bunuh diri.”

 

Tak lama, kami sampai di ruang otopsi. Aku mendekati dokter yang tengah berdiri disamping brankar yang terdapat jasad seorang wanita disana. “Selamat pagi, dokter. Kami detektif dari Seoul Wide-area Search Team,” ujarku, lalu membungkuk. Dokter itu ikut membungkuk, lalu mengambil berkas hasil otopsi dan memberikannya padaku. Aku menerimanya, kemudian membuka dan membacanya, sambil mendengar dokter itu menjelaskan.

 

“Korban bernama Lee Hyun Yi, siswi Seoul Girls High School, usianya 16 tahun. Dari hasil otopsi, jelas penyebab utama kematiannya adalah benturan keras di bagian punggung dan kepalanya. Ada bagian tulang rusuk belakangnya yang patah dan serpihannya menusuk paru-paru dan jantungnya. Juga tulang kepala belakangnya yang patah saat membentur tanah, mencederai otaknya.” Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil membaca berkas itu, sementara saat kulirik, Hoseok hyung mencatat apa yang dijelaskan dokter itu. Untuk apa dia mencatatnya? Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, lalu kembali membaca.

 

“Yang mengejutkan…” Aku langsung menatap dokter itu.

“Aku mendapatkan beberapa fakta yang aneh dari hasil otopsi. Saat hidup, dia sepertinya mengalami trauma yang sangat hebat. Bahkan, kami menemukan beberapa rekam medis atas nama Lee Hyun Yi dari Byunshin Hospital dan Hanhae Hospital.Dia pernah mengalami pendarahan parah di organ kewanitaannya sebanyak empat kali. Juga, ia melahirkan di Byunshin hospital dua minggu yang lalu,” sambung dokter itu.

 

“Dokter, apa kemarin atau sehari sebelumnya Lee Hyun Yi memiliki rekam medis di Byunshin Hospital?” tanya Hoseok hyung.

“Dari yang kudapatkan, ia pernah berusaha menitipkan anaknya di kedua rumah sakit itu dua hari sebelum ia meninggal. Tapi ditolak oleh kedua rumah sakit itu.”

 

Hoseok hyung kembali terlihat mencatat apa yang dikatakan oleh dokter itu. “Kurasa hanya itu yang bisa kusampaikan dari hasil penelitian yang kami dapatkan,” ujar dokter itu. “Baiklah, terima kasih, dokter,” ujarku dan Hoseok hyung bersamaan, lalu membungkuk pada dokter itu. Kami pun melangkah bersama keluar dari ruang otopsi. “Hyung, untuk apa kau mencatat ulang laporan tadi? Kan sudah ada disini,” ujarku sambil menunjuk amplop yang kubawa. “Entahlah. Tanganku sedang ingin menulis saja,” jawabnya sambil mengeluarkan cengiran khasnya. Aku tertawa kecil, lalu masuk ke mobil, untuk kembali ke W.S.T.

 

=========================

 

Seoul Girls High School, 08.00 KST

 

Yoongi POV

 

Aku dan Jineul berusaha mencari keterangan lain di Seoul Girls High School ini, sementara Jimin dan Taehyung diminta kembali ke W.S.T oleh Jineul. Jineul terlihat akan berjalan mendekati kedua orang gadis yang sedang duduk ditaman, tapi dia berbalik lalu menatapku. “Ada apa?” tanyaku. “Oppa, tolong kau minta keterangan dari pihak guru atau kepala sekolah. Bisa kan?” pintanya. “Kau yakin akan baik-baik saja?” Ia mengangguk, lalu tersenyum padaku. “Baiklah kalau begitu,” ujarku sambil membalas senyumnya, lalu melangkah masuk ke gedung sekolah.

 

“Permisi. Dimana ruang kepala sekolahnya?” tanyaku pada seorang siswi. “Ah, disana, ahjussi,” ujarnya sambil menunjuk ruangan dengan papan tergantung bertuliskan “Ruang Kepala Sekolah”. Dia memanggilku ahjussi? ……….. Aku mendengus dalam hati. Baiklah, aku terima, karena kalau di hitung dari usia di kehidupanku dilangit, aku jauh lebih tua dari gadis ini. Bisa mati terkejut dia, kalau tahu usiaku sebenarnya lebih dari seratus tahun. “Baiklah, terima kasih.” Aku membungkuk, lalu berjalan menuju ke ruang kepala sekolah itu. Aku mengetuk pelan pintunya. “Masuklah.”

 

Aku membuka pintu ruang kepsek itu, lalu membungkuk pada seseorang yang duduk didalam sana. SMA khusus wanita, kepseknya seorang laki-laki? Aku masuk kemudian menutup pintunya. “Selamat pagi, pak.” “Selamat pagi. Silakan duduk, hyeongsa-nim,” ujarnya mempersilakan. Akupun duduk di sofa itu. “Annyeonghasimnikka. Saya Min Yoongi dari Tim Bulletproof Seoul Wide-area Search Team,” ujarku memperkenalkan diri. “Annyeonghasimnikka, Yoongi-ssi. Aku Jung Myung Gon, kepala sekolah Seoul Girls High School,” ujarnya.

 

“Langsung saja, Kepsek Jung. Aku ingin mencari keterangan atas kematian siswimu, Lee Hyun Yi.”

“Silakan saja, Yoongi-ssi.”

“Kudengar, Lee Hyun Yi pernah melahirkan dan mempunyai bayi. Kau mengijinkannya membawa bayinya kesekolah?”

“Iya, aku kasihan padanya. Di usianya yang muda, dia sudah mengandung dan melahirkan, padahal dia adalah siswi yang pandai. Semua siswi disini memakinya dan memanggilnya pelacur. Dia dijual oleh ayahnya sendiri.”

“Dijual?” ulangku.

“Iya.”
“Siapa yang menjualnya?”

“Ayahnya sendiri. Ayahnya adalah seorang penjudi kelas berat di kawasan Cheongdam.”

“Lalu dimana ibunya?”

“Ibunya sudah meninggal 3 tahun yang lalu karena kanker mulut rahim. Setelah kematian istrinya, ia menjual anaknya pada para penjudi. Karena ia juga menjual istrinya dulu.”

 

Aku menulis apapun yang ia katakan.

 

“Apa sudah selesai, Yoongi-ssi? Aku masih harus menghadiri rapat dengan kepala sekolah dari sekolah lain.”
“Ah, sudah, kepsek Jung. Terima kasih atas kerja samanya.” Aku berdiri lalu membungkuk. Dia membalas membungkuk. Akupun melangkah keluar dari ruangannya dan berjalan menuju taman. Rasanya masih ada yang sangat mengganjal di otakku. Bagaimana bisa seorang kepala sekolah membiarkan siswinya yang hamil diluar nikah membawa anaknya ke sekolah? Bukankah itu akan menambah tekanan bagi Hyun Yi?

 

“Kau sedang memikirkan apa, oppa?” Lamunanku buyar karena suara yang akrab ditelingaku. Aku menatap Jineul yang berdiri disampingku.

“Tidak. Aku hanya merasa ada yang janggal dari penyebab kematian Hyun Yi.”

“Akupun merasa begitu setelah aku menanyai siswi tadi.”

“Ada apa?”

“Mereka berkata kalau mereka sebenarnya merasa aneh dengan keputusan kepsek Jung yang membiarkan Hyun Yi membawa bayinya ke sekolah.”

“Aku juga berpikir begitu. Kepsek Jung berkata kalau dia kasihan melihat Hyun Yi yang masih muda sudah harus melahirkan. Dan semua siswi disini memanggilnya pelacur. Kepsek Jung juga mengatakan kalau dia tidak tahu kalau menjadi pelacur itu keinginannya sendiri atau karena paksaan.”

 

Aku membukakan pintu mobil untuk Jineul, lalu setelah Jineul masuk, aku menutup pintunya. Kemudian aku berlari dan masuk juga ke mobil. “Oppa, apa kau lupa apa yang dikatakan Taehyung kemarin? Hyun Yi memang dijual oleh ayahnya.” Aku sedikit tercengang. Bagaimana aku bisa lupa? “Sekarang kita tinggal mencari bukti untuk menangkap ayahnya.” “Mudah saja. Dia adalah penjudi kelas berat di Apgujeong,” ujarku. “Apgujeong?” Jineul tampak berpikir sejenak. “Kita ke Joker Night Club nanti malam. Kau bawa alat perekam kan?” sambungnya Jineul. “Joker Night Club?”

 

“Iya. Klub malam terbesar di Apgujeong. Kalau memungkinkan, kita tuntaskan kasusnya hari ini juga.”

 

Ya. Inilah Jineul ku. Dia semakin dewasa pemikirannya sekarang dan semakin bijaksana.

 

=========================

 

At Night..

 

Joker Night Club, 20.00 KST

 

Jineul POV

 

Aku sudah menunggu diluar Joker Night Club dengan Yoongi oppa, Jimin, dan Seokjin oppa, juga beberapa polisi yang menyamar. Aku sendiri juga sudah menyamar, begitupun Yoongi oppa, Jimin, dan Seokjin oppa. Kami juga sudah memakai alat perekam suara dan kamera pengintai kecil. Aku mengangguk pada Yoongi oppa, Jimin, dan Seokjin oppa. Kami pun berjalan bersama memasuki Joker Night Club.

 

Aku dan Yoongi oppa bertingkah seolah kami adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Yoongi oppa merangkul bahuku dan membelai pipiku, sedangkan aku merangkul pinggang Yoongi oppa sambil tertawa-tawa.  Jimin dan Seokjin oppa bertingkah seperti sahabat yang senang berjudi. Bahkan akting Jimin menggoda wanita malam disini sangat natural. Sementara Seokjin oppa berpura-pura berjudi sambil berbaur dengan orang-orang lain.

 

Mengerikan sekali disini. Banyak orang yang berlawan jenis berciuman, bahkan melakukan seks di tempat terbuka seperti ini. Dunia ini semakin kejam saja.

 

“Hyunjong-a, kudengar anakmu bunuh diri,” ujar pria disampingku. Ah iya, aku sedang duduk di meja bartender dengan Yoongi oppa.

“Iya. Dasar anak tidak tahu diuntung. Sudah kuberi pekerjaan, kuberi tempat bernaung untuk hidup, kuberi kenikmatan, malah bunuh diri. Sekarang dimana aku bisa mendapatkan uang?! Dasar Hyun Yi brengsek!” umpat pria disebelah kanan pria tadi.

 

Hyun Yi? Jadi dialah ayah Hyun Yi. Aku mendekati Yoongi oppa, seolah akan mencium lehernya, tapi kemudian aku berbisik, “Pria disebelah kanan pria disampingku ini adalah ayah Hyun Yi.” “Iya, aku juga dengar,” balas Yoongi oppa. “Perlukah kita menyergap mereka sekarang?” tanyaku. “Jangan. Kita korek dulu informasi lebih jauh.” Kurasakan ada tangan melingkar di pinggangku. “Jangan macam-macam. Appaku akan membunuhmu nanti,” bisikku memperingatkan pada Yoongi oppa.

 

“Aku tidak melakukan apa-apa,” bisik Yoongi oppa. Aku terkejut, lalu menjauhkan diri dari Yoongi oppa, dan melihat kesampingku. Pria disamping ayah Hyun Yi yang rupanya memeluk pinggangku. Aku menoleh, lalu menatapnya sinis. “Lepaskan tanganmu dariku sekarang atau kau akan menyesal seumur hidupmu,” ujarku dengan nada rendah dan dingin. “Oouu.. Menakutkan. Jangan terlalu serius, nona cantik. Ayo….”

 

=========================

 

Joker Night Club, 20.15 KST

 

Jimin POV

 

Saat aku mencoba merayu seorang gadis untuk mengorek informasi, aku melihat Jineul noona dirangkul orleh pria tak dikenal disampingnya. Nafasku menderu marah. Aku beranjak meninggalkan wanita tadi, lalu mendekati Jineul noona. Yoongi hyung kenapa diam saja? Astagaaa…

 

“Oouu.. Menakutkan. Jangan terlalu serius, nona cantik. Ayo….”

 

Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, aku menarik tangannya yang melingkar di pinggang Jineul noona, lalu meninjunya sampai terjatuh dari kursinya. Aku menghajarnya. “Beraninya kau menyentuh Jineul noona, pria brengsek,” ujarku, marah. Aku terus memukulinya, sampai aku merasa ada seseorang memukul wajahku. Aku terjatuh sejenak, lalu segera berdiri. Aku menatap orang yang tampaknya teman dari pria yang ku hajar tadi. Jineul noona terlihat langsung menodongkan revolvernya ke arah pria itu.

 

“Angkat tangan! Kami detektif dari Seoul Wide-area Search Team!” ujar Jineul noona. Semua pengunjung tampak terkejut dan tidak bisa berkutik. Aku ikut mengeluarkan revolverku, begitupun Yoongi hyung. Seokjin hyung yang sejak tadi tidak kulihat, tiba-tiba muncul dengan seorang pria yang sudah diborgol tangannya. “Dia pemilik klub malam ini,” ujarnya tanpa kami perlu bertanya. Aku tersenyum pada Seokjin hyung. Dia bergerak lebih cepat dengan mencari dan menangkap pemilik klub malam ini.

 

Seokjin hyung menyerahkan sebuah amplop pada Jineul noona. Setelah melihat isinya, Jineul noona menyuruh polisi untuk masuk. Beberapa polisi yang berangkat bersama kami tadi, langsung masuk menyerbu klub malam itu. “Klub malam ini akan ditutup. Karena perdagangan wanita dibawah umur, perjudian, dan pelanggaran perpajakan tempat hiburan malam,” ujar Jineul noona, lalu menatap teman pria yang kupukul tadi. “Dan kau kutangkap dengan tuduhan menjual anakmu sendiri dan mempekerjakan anak dibawah umur sebagai wanita penghibur.”

 

Yoongi hyung langsung memborgol orang tadi, juga temannya yang kupukul. “Good job, Jimin-a, Seokjin oppa,” puji Jineul noona. Aku dan Seokjin hyung hanya tersenyum.

 

=========================

 

Seoul Wide-area Search Team, 21.15 KST

 

Author POV

 

Hyunjong – ayah Hyun Yi – kini tengah duduk di ruang interogasi dengan Jineul dan Jimin. “Kau tahu kan kenapa kau ada disini sekarang?” tanya Jineul. Hyunjong hanya tertawa sinis. “Apapun yang kulakukan bukanlah urusanmu, nona detektif,” jawabnya. “Ini jadi urusanku, karena kasus kematian anakmu tengah kutangani. Yang kudengar dari kepala sekolah tempat Hyun Yi bersekolah kau menjual anakmu setelah kau kalah berjudi. Benarkah itu?” Hyunjong tertawa jahat.

 

“Nona.. Nona.. Tidakkah kau merasa aneh, mengapa kepsek Jung mengetahui semuanya?”

Jineul mengerutkan dahinya. “Maksudmu?”

“Kau pikir biaya masuk ke Seoul Girls High School itu murah? Tentu saja Hyun Yi bisa masuk kesana, karena kepsek Jung adalah pelanggan tetap untuk Hyun Yi. Tiap bulan, aku menerima sepuluh juta won darinya, karena dia ikut menikmati Hyun Yi.”

 

Jineul terkejut setengah mati. Jimin menanti perintah dari Jineul. Jineul menatap Jimin, lalu berkata, “Minta Namjoon dan Hoseok untuk menangkap kepsek Jung. Dia pasti masih di sekolah sekarang.” “Baik, noona,” jawab Jimin, lalu keluar dari ruangan. Jimin menemui Namjoon dan Hoseok yang tengah berada di ruang kerja tim Bulletproof. “Namjoon hyung, Hoseok hyung, kalian diminta Jineul noona untuk menangkap kepsek Jung sekarang di Seoul Girls High School.” Namjoon dan Hoseok mengangguk, kemudian berlari keluar dari Seoul Wide-area Search Team.

 

Jimin kemudian kembali ke ruang interogasi. “Sudah, noona.”

 

“Kau tahu kan, kalau menjual anakmu adalah suatu kesalahan? Terlebih anakmu masih dibawah umur!”
“Memang kenapa? Dia anakku, aku memiliki hak penuh untuknya.”
“Memiliki hak penuh bukan berarti kau bisa menjualnya kan? Kau juga menjual istrimu kan, sampai akhirnya dia meninggal karena terkena kanker mulut rahim?”

“Aku sudah bilang kan, aku memiliki hak penuh atas istri dan anakku.”

“Tapi memperdagangkan manusia adalah tindakan kriminal, bodoh!”

“Masa bodoh dengan hukum!”

“Jimin-a, bawa dia ke penjara sekarang.”
“Baik, noona.” Jimin langsung membawa Hyunjong keluar dari ruang interogasi dan memasukkannya ke penjara. Sedangkan, Namjoon dan Hoseok sudah kembali dengan kepsek Jung, lalu memasukkannya ke ruang interogasi. Namjoon menemani Jineul menginterogasi kepsek Jung.

 

“Aku tidak menyangka kau ikut terlibat dalam masalah ini. Sejak awal aku menerima laporan dari Yoongi juga beberapa siswi Seoul Girls High School, aku sudah curiga denganmu.”

“Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Kau pikir aku akan percaya pada omong kosongmu?! Katakan yang sejujurnya sekarang!”

“B..Baiklah. Aku memang mengijinkannya membawa bayinya ke sekolah.”

“Bagaimana bisa kau mengijinkan siswi yang memiliki bayi membawa bayinya ke sekolah? Bukankah itu akan menambah tekanan batinnya?”

“Aku tidak peduli. Aku mau selalu melihat dan menikmatinya. Aku sudah membayar mahal kepada ayahnya setiap bulan.”

 

Jineul menggeram marah. “Namjoona, penjarakan kepsek Jung sekarang.” “Baik.” Namjoon langsung memborgol kepsek Jung, lalu membawanya keluar dari ruang interogasi menuju penjara. Jineul mengurut keningnya, lalu membereskan berkas di meja, dan beranjak keluar dari ruangan. “Jungkook-a, kau bisa tulis laporan penyidikan barusan?” tanya Jineul. Jungkook mengangguk, menyanggupi. Jineul menyerahkan berkas penyidikan, lalu pergi ke rooftop untuk menenangkan diri.

.

=========================

 

Three days later..

 

HyunHae Orphanage, 10.15 KST

 

Jineul POV

 

Saat ini, aku sedang menjenguk Lee Haneul di Panti Asuhan Hyunhae. Aku menimang-nimang Haneul sambil menyanyikan lagu. Menurut perkiraanku, dia lahir tepat saat salju pertama turun. Aku menyanyikan sebait lagu yang dinyanyikan personil girlband korea untuk dramanya.

 

Gyeoure taeeonan areumdaun dangsineun

Nuncheoreom kkaekkeuthan namanui dangsin

Gyeoure taeeonan sarangseureon dangsineun

Nuncheoreom malgeun namanui dangsin

 

Hajiman bom, yeoreumgwa gaeul, gyeoul

Eonjena malgo kkaekkeuthae

 

Gyeoure taeeonan areumdaun dangsineun

Nunchereom kkaekkeuthan namanui dangsin

Hajiman bom, yeoreumgwa gaeul, kyeoul

Eonjena malgo kkaekkeuthae

 

Haneul terlihat tersenyum samar dan tertidur nyenyak. Sebuah tangan bercahaya membelai pipi Haneul. Aku mendongak, lalu terkejut mendapati Hyun Yi tengah membelai pipi Haneul, sambil tersenyum. “Hyun Yi-ssi,” gumamku. Hyun Yi tersenyum kemudian menatapku. “Terima kasih, kau telah menjenguk Haneul disini. Kau juga telah membantuku menyelesaikan masalahku. Aku bersyukur kau mau menjaga dan menyayangi Haneul ku, Yang Mulia Dewi Keadilan. Sekarang, aku bisa pergi dengan tenang dan terus mengawasi Haneul ku dari langit,” ujarnya. Ia mengecup pipi Haneul, lalu membungkuk padaku. Aku membungkuk juga padanya, lalu sambil tersenyum perlahan bayangannya menghilang. Aku kembali menatap Haneul dan tersenyum.

 

=========================

 

Seoul Wide-area Search Team, 11.00 KST

 

Jineul POV

 

Aku melangkahkan kakiku menuju rooftop, ketika aku mendengar suara disana. Suara yang sangat kukenal, suara ayah, ibu, dan Nayoung ahjumma. Aku tidak segera menemui mereka karena mereka tampaknya sedang membicarakan hal pribadi. Aku menyamarkan diriku, lalu mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

 

“Seperti biasa, putri kita menyelesaikan kasus yang ditanganinya dengan baik dan sempurna,” ujar ayah.

“Tentu saja. Dia adalah Dewi Keadilan,” imbuh ibu.

“Iya. Dia adalah wujud dari Dewi Keadilan itu sendiri,” sanggah Nayoung ahjumma.

Aku mengerutkan dahiku.

 

“Iya. Dia bukanlah manusia biasa seperti kita atau yang lain. Begitupun ketujuh pelindungnya.”

Ayah terlihat menghela nafas panjang. “Terlebih saat aku tahu aku tidak bisa hamil, aku sempat putus asa. Tapi Yang Kuasa memberiku jalan lain, walaupun Jineul tidak terlahir langsung dariku.” “Lalu kapan kalian akan memberitahukan kenyataan ini padanya?”

 

Kata terakhir dari ibu membuatku lututku gemetar hebat. Apa maksudnya.. Aku tidak terlahir langsung dari ibu? Lalu aku terlahir darimana? Dari siapa?

 

“Apa maksud kalian?” tanyaku dengan nada bergetar. Mereka menatapku dengan tatapan terkejut. “Jineul-a..”

 

============TBC=============

 

Author’s Note :

 

Hai hai~ Maaf ya telat lagi ngepostnya~ ;;

Anyway, tampaknya ini nanti kisah kedepannya merubah kisah awalnya, karena JJ dapet inspirasi yang kereeennn~~ XD

Tunggu aja ya di chapter-chapter selanjutnya ya~

Commentnya di tunggu nih~ ^^

Maaf kalo ceritanya rada gaje & typo bertebaran~ :3

Advertisements

10 thoughts on “[BTS FF Freelance] Justice #3 | Second Case

  1. *speechless*
    *pingsan*/?
    aku bener2 tersepona/? Dengan ef ef eonni XD
    DDAEBAK DDAEBAK!!
    Setiap chapter ga pernah bikin aku bosen^^
    pokoknya FIGHTING!

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s