[BTSFF 1st Event] Different

Different

Different

Cast        : Yoon Hyun Jung (OC) and Kim Tae Hyung / V BTS

Genre        : Family

Length        : Ficlet

Author        : VR

***

“Apa tidak bisa sekolah memberikan kelonggaran?” Aku berusaha untuk memohon. Jika tidak, ini akan menyulitkanku lagi. Menyulitkan Tae Hyung lagi. Tae Hyung harus bisa bertahan di sekolah ini. Bagaimanapun caranya.

“Sejak awal kami sudah memberi kelonggaran pada Tae Hyung. Tapi anak itu memang tidak mampu untuk sekolah di sekolah biasa. Bukannya kami ingin membeda-bedakan Tae Hyung dengan yang lain, tapi ini demi kebaikan Tae Hyung.” Sepertinya aku harus menyerah. Tae Hyung memang berbeda dan tidak seharusnya aku memaksakannya untuk sama dengan anak yang lainnya.

“Kalau begitu saya permisi. Mohon segera urus surat kepindahan Tae Hyung sesegera mungkin.”

“Akan kami usahakan.”

Aku bersalaman dengan Guru Jang yang baru saja berbicara denganku membahas Tae Hyung, keponakanku. Usianya 17 tahun. Siswa SMA Junghwa sejak dua bulan lalu sejak pindah dari sekolah lamanya dan sekarang juga harus segera pindah dengan alasan yang sama. Tae Hyung berbeda.

Kim Tae Hyung. Keponakan yang menjadi kebanggaan kakakku itu menderita autisme sejak kecil. Ia memiliki hambatan untuk berkomunikasi, sulit berhubungan dengan orang lain dan lebih suka bermain dengan mainannya dari pada dengan orang sekitar. Aku perlu waktu seminggu lebih untuk bisa dekat dengannya.

Aku dan Ibu Tae Hyung −kakak perempuanku— memiliki perbedaan usia 12 tahun. Tae Hyung lahir ketika aku berusia delapan tahun. Tapi karena kami tinggal di rumah yang terpisah, aku jadi tidak begitu dekat dengannya.

Kakakku selalu berusaha menyekolahkan Tae Hyung ke sekolah umum. Tae Hyung boleh berbeda, tapi ia harus menerima perlakuan yang sama dengan anak normal lain, pikir kakakku. Tae Hyung dapat bertahan dan bisa mengikuti pembelajaran di sekolah cukup baik meski kakakku harus berusaha sangat keras untuk itu. Mengajari Tae Hyung dengan penuh kesabaran, membantunya mengerjakan pekerjaan rumah, mempersiapkan ujian hingga anak itu bisa lulus meski dengan nilai terendah. Kurasa, pihak sekolah sudah menyumbang angka yang lumayan untuk angka di nilai Tae Hyung.

Tapi sejak kakakku dan suaminya meninggal dalam kecelakaan beruntun di jalan tol tahun lalu saat, Tae Hyung menjadi sebatang kara jika saja aku tidak mau mengurusnya. Tapi kakak hanya punya aku karena kami yatim piatu sejak aku SMA dulu. Aku juga tidak sampai hati jika harus menitipkan Tae Hyung ke panti asuhan hingga akhirnya aku yang merawatnya.

Aku tetap mengikuti keinginan kakakku dengan mendaftarkan Tae Hyung ke sekolah umum saat Tae Hyung akan masuk SMA. Tapi siswa lain sering mengganggunya dan sekolah tidak bisa mengawasinya terus menerus, banyak sekolah yang menyerah. SMA Junghwa yang kupercaya memiliki tenaga guru yang kompeten pun sama saja. Sepertinya, aku memang harus melanggar janjiku pada kakak.

“Hey, bodoh! Cepat ambil bolanya!” Aku baru sampai di tepi lapangan utama sekolah saat aku hendak ke tempat parkir. Teriakan itu terdengar jelas di telingaku beserta suara tawa yang lain. Segerombolan siswa tengah tertawa terbahak-bahak ketika ada satu siswa lain tengah melangkah pelan dengan kepala tertunduk dan kedua ujung telunjuk yang bersentuhan menghampiri bola yang berada di pinggir lapangan. Siswa itu adalah Tae Hyung. Ia dibully lagi.

“Kau butuh bolanya?” Aku mengambil bola yang akan diambil Tae Hyung sebelum anak itu mencapainya. Kulempar sekeras mungkin dan mengenai kepala salah satu siswa yang kulihat tertawa paling keras tadi. Itu salam perpisahan dari Tae Hyung.

Kuhampiri Tae Hyung yang ebrdiri terpaku dan menatapku bingung dengan mata cemasnya. “Noona?

“Kau mau pulang?”

“Tapi belum waktunya.”

“Guru Jang memberimu kelonggaran dan kau bisa pulang lebih cepat. Ayo!” Langsung kugandeng tangan Tae Hyung dan menggiringnya ke mobil yang kuparkir di parkiran. Tas Tae Hyung mungkin bisa kutitipkan pada Guru Jang karena kebetulan rumah beliau dekat dengan rumah kami.

Sepanjang perjalanan, Tae Hyung hanya diam dan menatap keluar mobil. Itu sudah menjadi kebiasaannya. Dari pada mengobrol denganku, pemandangan di luar jauh lebih menarik baginya.

“Tae Hyung, kau mau makan apa nanti malam? Noona akan memasakannya untukmu.” Meski aku yakin jika Tae Hyung hanya akan memakannya satu atau dua suap saja.

“Apa aku akan pindah sekolah lagi?” Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan Tae Hyung. Sebelumnya, Tae Hyung tidak pernah bertanya hal-hal seperti ini. Atau mungkin karena ia terlalu terbiasa.

“Kau keberatan?”

Tae Hyung menggeleng. “Aku tidak suka Junghwa.”

“Baguslah. Noona janji akan mencarikan sekolah yang terbaik untukmu.” Setelah itu, Tae Hyung diam lagi. Menatap pemandangan di luar lagi.

Aku sudah berjanji akan menjagamu dengan baik dan aku akan menepati itu, Tae Hyung. Sampai kapan pun. Ini janjiku pada Ibumu, Ayahmu, dirimu dan diriku sendiri.

Kubelokkan mobilku di perempatan mengarah ke supermarket terdekat. Kurasa, aku ingin membuat sup kimchi dan sup rumput laut. Semoga Tae Hyung menyukainya.

Advertisements

12 thoughts on “[BTSFF 1st Event] Different

  1. demi apapun sedih. jadi inget adek dulu juga sering digituin karna dia juga berbeda. siapa yang mau tanggung jawab atas air mata ini :/

    sejauh ini cuma ini story yang bikin remember the time(?) yosh good<3

    Like

  2. Lisa Kim

    Entah mengapa aku merasa ff ini mengharukan bgt, sungguh!!!
    Ini kisah nyata thor? Dan mslh yg orgtua-nya meninggal kecelakaan jg bener? Kok tragis yaa 😭

    Btw, ini keren…sukaaaaaa bgt 😍

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s