[BTSFF 1st Event] He Isn’t My Brother, He Is A Stranger

He Isn't My Brother, He Is A Stanger

Title: He Isn’t My Brother, He Is A Stranger
Author: Grwly
Genre: Family
Cast: Park Jimin – Park Yeonhee
Length: Ficlet (1547words)
Rating: Teen
Disclaimer: Alur milik saya!
Summary: Seorang gadis yang lelah membuat saudaranya berubah, hingga pada akhirnya mereka menjadi orang asing satu sama lain.

///

Korea Selatan, 2007

Aku tidak sendiri, tapi tetap merasa sepi. Ada kalanya aku marah dan berteriak pada ibu kenapa sesuatu yang seharusnya malah terbalik menjadi tidak semestinya? Tuhan memberiku teman dalam keluarga, tapi semua seperti biasa, kosong. Emosiku bermain dengan sangat baik ketika aku tidak sengaja membuka gallery photo di ponsel temanku. Aku menangis, dan itu di sekolah.

Ada beberapa foto yang memuat dua orang yang tengah tertawa geli tanpa menghadap kamera. Seorang lelaki dengan wajah tegas dan terlihat dewasa sedang menggelitik perut adik perempuannya. Mereka tertawa bersama hingga membuat mata mereka terlihat seperti garis yang melengkung. Kalau saja yang ada di foto itu adalah aku dan Jimin-Oppa, pasti rasanya seperti di surga.

Sebuah kenangan yang tidak pernah kupunya, tapi teman-temanku punya. Tanpa perlu merapal asa ketika berada di gereja, teman-temanku sudah mendapatkan saudara yang mau tersenyum bersama. Hanya satu hal yang kutakutkan. Ketika dewasa nanti, aku takut karena tak sanggup mengenali yang mana saudara kandungku.

Pernah suatu waktu, langkahku dihadang oleh beberapa anak laki-laki yang terkenal dengan keusilannya. Jelas aku takut. Tanpa berpikir lama, aku berlari kencang ke arah Jimin-Oppa yang sedang asik membuat layang-layang bersama teman-temannya. Pikiranku kalut, aku takut. Tapi aku masih bisa melihat guratan malas di mata Jimin-Oppa ketika melihatku datang menghampirinya.

Oppa? Ada yang ingin menggangguku,” Kupikir ia adalah tempatku mengadu saat tidak ada ibu, kupikir ia adalah satu-satunya orang yang akan berdiri  di depanku; menantang mereka yang ingin mengganggu. Ternyata bukan! Aku salah!

“Biarkan saja.” Timpalnya malas, kemudian kembali sibuk dengan rangka layang-layangnya.

Hanya itu! Hanya itu yang ia ucapkan meskipun ia tahu aku sedang ketakutan setengah mati. Tubuhku melemas seketika. Aku bingung. Hanya bisa berdiri kikuk di pinggir lapangan ditemani tatapan aneh dari teman-teman Jimin-Oppa. Kutelan salivaku dengan susah payah, kemudian beberapa kali mengerjapkan mata; untuk mengembalikan kesadaranku bahwa Jimin-Oppa akan tetap menjadi saudara kandungku. “Oppa, jangan pulang terlalu sore. Ibu bisa marah,” Petuahku setiap hari. Dan setiap hari pula diabaikan olehnya.

Aku berjalan meninggalkannya. Kupikir, ia ingin melatihku menjadi gadis yang kuat. Ia ingin aku belajar membela diriku sendiri, menghadapi mereka yang ingin mengusiliku, dan menyelesaikan masalah pribadiku. Pada akhirnya, ia ingin menjadikanku gadis yang dewasa.

Hanya itu caraku untuk menghilangkan pikiran kalau Jimin-Oppa tidak pernah mau peduli padaku. Sumpah, aku iri dengan teman-temanku yang bisa kapan saja bersembunyi di balik punggung saudaranya.

Masih di hari yang sama. Ibu muak dengan kelakuan anak pertamanya yang tidak pernah pulang sebelum hari menjadi gelap. Ibu mengunci seluruh pintu rumah agar Oppa tidak bisa masuk.

“Kau tidak perlu pulang! Bermainlah sesukamu, Park Jimin!” Pekik ibu geram dari dalam rumah ketika mendengar suara ketukan pintu dan teriakan memohon dari Jimin-Oppa.

“Ibu, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi,” Jawab Oppaku masih dengan mengetuk pintu tanpa irama yang beratur.

Ibu tak menjawab. Ia sudah sangat hapal dengan kelakuan anak-anaknya. Tapi ibu sudah paham betul tentang resiko memiliki anak laki-laki. Cepat atau lambat, seorang ibu pasti merasakan seberapa bandelnya anak laki-laki, entah itu saat masih kecil ataupun saat sudah dewasa nanti.

Perlu ditekankan disini, Jimin-Oppa bandel dalam batas yang sewajarnya. Hanya ketika ia sedang asik bermain, ia akan lupa dengan rumah, lupa dengan teriakan ibu yang sangat memekakkan telinga, terlebih denganku. Astaga, bahkan kehadiranku tidak pernah dianggapnya ada. Yang ia lihat dan ia tahu hanya bermain layang-layang, bermain  bola, bermain sepeda, dan semacamnya.

“Yeonhee-ya, tolong buka pintu untuk Oppamu,” Titah ibu.

Aku senang akhirnya ibu memberi izin Oppa untuk masuk. Memang selalu seperti itu. Ibu hanya perlu waktu sebentar untuk menghukum anaknya yang selalu pulang telat karena sibuk dengan aktivitasnya di luar rumah.

Aku berjalan cepat ke arah pintu utama, kemudian membukakan pintu untuk Jimin-Oppa. “Aku tadi sudah mengatakan untuk tidak pulang terlalu sore,”

“Diam atau kau ingin kumakan? Karena hari ini aku lelah sekali.”

Setiap hari. Tak ada satupun kalimat lembut nan manis yang keluar dari lisan Oppaku, semua selalu sakratis. Astaga, aku bahkan sudah menjadi biasa dengan ini. Bukan keanehan lagi.

Dan yang lebih parah lagi adalah ketika ada satu dari sekian teman-teman Jimin-Oppa datang menghampiriku dan tersenyum manis. Usianya sama dengan Jimin-Oppa, hanya saja, ia terlihat jauh lebih tampan karena senyumnya yang merekah untukku.

“Kau sedang apa, gadis kecil?” Sapanya sembari menunduk mensejajarkan kepalanya dengan kepalaku. Ia meraih puncak kepalaku. Dan saat itu juga darahku berdesir cepat, pipiku juga memanas.

Aku tidak pernah diperlakukan layaknya seorang adik, bahkan oleh saudara kandungku sendiri. Aku suka sikap hangatnya, aku suka senyum lembutnya.

“Aku sedang belajar membuat layang-layang. Suatu saat nanti, aku ingin menerbangkannya bersama Jimin-Oppa,”

Ia kembali tersenyum. Tak lama kemudian, ia duduk di hadapanku dan memintaku untuk melanjutkan kegiatanku yang sempat terhenti karenanya. Tangan mungilku dengan lihai mengukur seberapa panjang bambu yang harus kugunakan, membuat rangka layang-layang berbentuk seperti salib dengan melilitkan benang di tengahnya, kemudian memasang kertas layang-layang dengan memberi lem agar melekat sempurna, dan sebagai sentuhan terakhir aku membubuhkan namaku dan Jimin-Oppa dengan spidol pada layang-layang udik milik seorang gadis yang berharap Oppanya bisa berubah menyayanginya.

“Sudah jadi. Lalu kapan kau akan menerbangkannya bersama Jimin?”

“Kurasa layang-layang ini tidak akan pernah bisa terbang. Oppaku tidak pernah mau tahu tentangku,” Jawabku dengan menunjukkan wajah lesu. Haha, aku tidak yakin Jimin-Oppa bisa berubah menjadi sayang padaku hanya karena aku bisa membuat layang-layang. “Tidak apa. Aku bisa menerbangkan ini bersama-” Sambungku, namun terhenti ketika aku ingin menyebutkan nama lelaki manis ini tetapi tidak tahu.

“Yoongi. Min Yoongi,” Ia tersenyum, lagi.

“-bersama Yoongi-Oppa,”

Sosok peran sebagai saudara kandung untukku diambil alih oleh lelaki bernama Min Yoongi. Ia yang selalu menemaniku bermain, tetapi bukan bermain boneka, masak-masakkan atau semacamnya. Aku juga bisa berpikir bahwa ia adalah lelaki, dan aku berusaha mengimbanginya.

Aku bermain layang-layang di tengah lapang bersamanya, aku duduk di pinggir lapangan ketika ia bermain bola, dan aku menjadi gadis yang melemparkan kain kecil untuk memulai perlombaan balap sepeda antara Yoongi-Oppa dengan Jimin.

Yang kutakutkan benar-benar terjadi. Bersama Jimin, aku merasa sangat asing. Bersama Yoongi-Oppa, aku merasa nyaman.

Aku tidak lagi peduli dengan saudara kandungku sendiri. Aku tidak lagi mengingatkan Jimin untuk pulang lebih awal, daripada harus terkena teriakan ibu. Aku tidak lagi tersenyum padanya. Aku tidak lagi berbicara padanya. Aku tidak lagi membagi es krim dengannya. Aku tidak lagi memanggilnya dengan imbuhan Oppa dibelakang nama.

Ketika senja di hari Selasa, Jimin pulang dengan bercak-bercak noda lumpur di bajunya. Ibu tidak marah, karena anaknya pulang tepat waktu. Tetapi malah Jimin yang marah dan berteriak keras pada ibu. Ia mengatakan kenapa ibu harus melahirkan anak perempuan? Ia ingin adik laki-laki, bukan perempuan yang hanya bisa bermanja-manja ria.

“Apa yang kau katakan? Ibu juga tidak bisa memprogram gender dari janin yang ibu kandung, Jimin,”

“Seharusnya ibu rajin pergi ke gereja dan meminta pada Tuhan untuk menghadiahiku adik laki-laki saja, dan bukannya perempuan!” Teriak Jimin.

“Kau tidak menginginkanku, Oppa? Jadi itu sebabnya kau mengabaikanku?” Sahutku yang baru saja keluar dari kamar. “Kalau begitu, mari kita menjadi orang asing yang tidak saling mengenal. Jangan pernah menyapaku meskipun itu terpaksa,” Sambungku kemudian masuk kembali ke dalam kamar dengan membanting pintu. Itu hobiku ketika sedang marah.

Aku ingin menangis. Mendengar itu aku ingin menangis. Park Jimin tidak menginginkanku menjadi adiknya.

Kalau dulu, aku yang selalu  marah dan berteriak pada ibu karena Jimin-Oppa tidak pernah menunjukkan sikapnya yang seolah seperti saudaraku. Kini, ibu yang selalu marah dan khawarir pada perubahanku yang terlihat sangat jelas.

Aku juga tidak ingin  seperti ini, tapi bukan aku yang memulai semuanya. Aku bisa mengerti mana yang menyayangiku, dan mana yang tidak. Jangan pernah anggap remeh anak usia 11 tahun!

“Yeonhee-ya? Jimin hanya tidak tahu caranya bermain dengan anak perempuan,”

“Bu, aku juga tidak tahu bagaimana caranya menghargai orang yang bertahun-tahun mengabaikanku.”

“Kau terlihat sangat dekat dengan Yoongi, tapi tidak dengan Jimin. Ibu takut kau lebih menyayangi Yoongi dibanding Jimin,”

“Itu sudah terjadi, bu. Bukankah itu yang diinginkan Jimin? Kita hidup seperti orang asing yang tidak saling mengenal, tanpa perlu bicara, tanpa perlu menyapa, tanpa perlu bercanda, dan yang lainnya. Jimin suka keadaan seperti ini, bu,”

Bahu ibu melemas. Mungkin aku tidak harus melakukan ini, demi ibu. Karena belakangan ini, ibu menjadi sering sakit, tekanan darahnya juga naik. Bukan aku yang meminta ini. Tuhan juga tahu itu.

Jika dibandingkan dengan anak perempuan lainnya, kulitku termasuk gelap. Banyak yang bertanya kenapa, dan aku hanya perlu mengatakan kalau aku banyak menghabiskan waktuku di tengah lapang. Di usia 11 tahun, yang kupikirkan tidak jauh-jauh dari bermain dan bermain saja.

7 tahun kemudian.

“Dulu kau takut dengan boneka Santa Claus, ingat?”

“Aku? Takut pada boneka selucu itu? Apa kau sedang mengigau, Oppa?” Aku terkekeh kecil.

“Aku berbicara sebenarnya. Tanyakan saja pada ibu,”

“Kalau sampai kau berbohong, aku akan unfollow akun twittermu.” Ancamku.

Aku menjadi biasa dengan keluarga dari Yoongi-Oppa. Aku tidur disana, aku mandi disana, aku makan disana, semua seperti keluarga. Aku sudah dianggap seperti anak kandung oleh bibi Yoon, bahkan sekarang aku memanggilnya ibu.

Bukan berarti aku tidak peduli lagi dengan ibu kandungku. Aku hanya suka bermain di tempat Yoongi-Oppa karena hanya disanalah tempat yang mampu membawaku dalam kehangatan dari sosok saudara kandung. Dan ibu mengerti itu.

Dan, apa kabar dengan Park Jimin?; saudara kandungku. Ia baik-baik saja. Aku masih memantaunya, tapi tidak lagi mempedulikannya. Aku hanya tahu bahwa ia baik-baik saja, tidak ada yang lain. Kami merasa sangat asing setelah kejadian hari itu. Hari di mana ia mengatakan tidak menginginkanku menjadi adiknya, kemudian aku memintanya untuk tidak menyapaku meskipun terpaksa.

Dia bukan saudaraku, dia adalah orang asing.

-SELESAI-

Advertisements

11 thoughts on “[BTSFF 1st Event] He Isn’t My Brother, He Is A Stranger

  1. Salsa

    Nyesek bangeeet T.T
    Aku pengen banget punya oppa.. tapi kalo oppa aku kyk Jimin gimana yaa… *gak kebayang

    Tapi aku suka jalan nya 😉
    Nice (y)

    Like

  2. KimseokJinhyoSangdo

    Mian aku baru baca
    Ini rame tapi kasian yoonhee
    nyesek bacanya
    Huaa Jimin kejam banget,Yoongi nya ahhh jadi ngapung heheh

    Sequel dong thor 🙂

    Like

  3. Ini kereenn….
    Sumpah yaa yg namanya Jimin itu di sini Juahhaattt bangett!!
    Ampe segitu dinginnya ama adek sendiri gara2 gk mau punya adek perempuan. Ish!!!
    Tapi, sedih juga sih, kesian Yoonhee, 11 tahun di abaikan sma Oppa-nya sendiri T^T
    Dan lebih sedih lagi pas Yoonhee tinggal di rumah Yoongi, padahal kan dia masih punya keluarga, tapi yaa mungkin terlalu muak sama kakaknya yg superr nyakitiiiin itu..
    Waduh, ini kepanjangan yaa u,u?
    Ok! Sekali lgi fict-nya kereeenn! Penulisannya juga sdh lumayan bagus, dan bahasanya mudah di mengerti ^^b
    Suka – Sukaa ^^

    Like

  4. JoeyKim

    Jimin jahat banget sama adeknya 😦
    untung ada yoongi 😀
    suka deh sama FFnya, ga bsa ngebayangin gmana rsanya 1 rumah tapi nganggep orang asing
    nice FF

    Like

  5. risa

    Huft -,- jimin sejahat itu dengan adiknya,hadooh trima sjalaah oppa, kshan adikmu >_< keren thor ff ny,feelnya dpet 😀fighting for next 😊👍

    Like

  6. jadi jimin sama yeonhee ga deket sampe akhir cerita? what the fate…. kok nyesek :”””””” kirain ntar jimin nyumbangin jantung buat adeknya karna adeknya sekarat taunya…. yah baguslah ada yoongi oppa…

    iya sih kadang juga ngiri sama orang yang punya kakak laki2. sayangnya ternyata saya yang jadi kakak kelaki-lakian/? /apaan sih/ /abaikan/

    yah begitulah ini cerita ternyesekseksek yang dibaca hari ini. da aku mah apa atuh cuma bisa berharap yang terbaik :”””” good job<3

    Like

  7. Lisa Kim

    Ini seriusan? Adohhhhh…kok nyesek yaa 😭
    Jimin kok bisa yaa sedingin itu sama adiknya sendiri… ckckck…
    Seumur2 aku jg blm pernah ngerasain kasih sayang seorang Oppa -Yaiyalah,OrgLuGxPunyaOppa- dan jujur klw ngeliat temen punya Oppa trus mereka dkt itu rasanya iri bgt…huhuhu…
    Pengen punya oppa, tp dptnya malah Eonni. Malah bawel bgt lg…hemmmm (OkeSipp, ini knp saya yg curhat) #Abaikan 😁

    Yg jelas aku suka ceritanya…bahasanya jg ringan dan enak dibaca…keren >_<

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s