[BTSFF 1st Event] After Sunset, Midnight, and Rise of Happiness

after sunset, midnight, and rise of happiness

After Sunset, Midnight, and Rise of Happiness

(Based of true story)

A short fic by JRY

.

[BTS’s] Kim Taehyung and OC || Genre : Family, Hurt/Comfort, slight!Angst ||

Lenght : Ficlet (±800words)  ||  Rating : General

Disclaimer : Ide cerita tercetus dari sebuah pengalaman.

Special poster by my beloved artworker imjustagirls

*

Ketika senja mulai membiaskan cahayanya, malam menyusul bersama gulita. Namun tak lama, mentari pagi akan bersinar. Turut andil dalam perputaran sang alam. Begitulah takdir terus bergulir, karena lentera kebahagiaan akan menghampiri mereka yang bertahan di tengah kelamnya kepedihan.

.

.

.

Gurat warna lembayung tergores indah mengukir senja. Merekam tiap detik peristiwa dalam memori. Deburan ombak pantai Jeju yang kian bergejolak seolah memberi tanda—alam turut merundung duka bersama dua insan yang masih setia menantang cakrawala.

Ditatapnya yang lebih muda tanpa suara. Hanya memastikan ia baik-baik saja. Gadis yang saat ini menginjak usia remaja itu membiarkan hening terus mengambil alih suasana. Menikmatinya dan ikut melebur bersamanya. Tak ada niat memecah atmosfer kebisuan yang telah berkuasa sejak dua jam belakangan. Ia masih merasa nyaman.

Setidaknya, keadaan ini jauh lebih baik dari petaka yang baru saja menimpa. Yang dengan tega memporak-porandakan seluruh kedamaian keluarganya—serta berimbas pada lara hati yang ia yakin tak akan sirna begitu saja. Ia baru saja sadar; alam begitu kejam padanya—juga pada adik kecilnya yang bahkan belum tahu apa-apa. Pedih. Ia tahu bukan hanya dirinya yang terluka. Bocah beranjak remaja yang duduk di sampingnya juga pasti memendamnya. Bukan perkara sederhana yang menjadi alasan di balik ini semua; kehilangan orang tua. Bukankah ini lebih menakutkan dari bencana apapun yang ada di dunia?

Gadis pemilik nama Cassie itu merangkulkan tangan kirinya pada pundak Taehyung. Membagi sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya.

“Apa yang akan terjadi selanjutnya, Cass? Hanya tinggal kita berdua.” sang adik bertanya dengan nada bergetar. Fokusnya masih sama; hamparan pantai di depannya.

“Bukankah itu masih cukup baik daripada sebatang kara? Tenanglah, Taehyung. Kita akan baik-baik saja.”

Ada jeda beberapa sekon sebelum Taehyung menyahut, “Bohong. Kau berbohong, Cassie.”

Air mata yang sedari tadi tertahan mulai lolos dari pelupuknya. Bocah itu menangis—lagi. Memprotes ketegaran palsu yang diperlihatkan kakak perempuannya. Ia memang bukan siswa terpandai di sekolahnya. Namun jika untuk memahami situasi yang tersaji saat ini, ia cukup mengerti jika mereka berdua tak sedang dalam keadaan seperti yang Cassie bicarakan.

Mereka—dua remaja tanggung yang terpaksa hidup tanpa orang tua, kini tak ubahnya kapal tanpa awak yang mengemudikannya. Terombang-ambing di tengah kerasnya dunia. Hanya berdua. Cassie dan Taehyung tentu tak tahu apa yang bisa mereka lakukan. Mimpi buruk kehilangan ayah dan ibu dalam waktu bersamaan masih membayang dalam ingatan. Seolah memperkeruh jalan kehidupan yang terpampang.

“Berjanjilah, Cass. Kita akan baik-baik saja. Seperti yang kau katakan tadi.”

Cassie menatap manik adik laki-lakinya. Netra kecoklatan yang biasanya berbinar itu kini seolah kehilangan pancarannya. Meredup tanpa menyisakan semangat sedikitpun.

Seperti ada sembilu tak kasat mata yang mengiris-iris hatinya. Cassie mencelos. Menemukan fakta bahwa mereka hanya tinggal berdua membuat dadanya kembali sesak. Himpitan emosi dan kepedihan yang bergemuruh melengkapi penderitaan yang ia rasakan. Ia menyesali semua; mengapa bukan ia saja yang diambil Yang Kuasa? Mengapa Taehyung harus ikut merasakan penderitaan bersamanya? Sejatinya, ini terasa dua kali lipat lebih menyakitkan melihat air mata adiknya yang mengalir tanpa henti.

“Maafkan aku, Taehyung. Jika ayah dan ibu tidak pergi menjemputku, mereka pasti tak akan mengalami kecelakaan seperti itu.”

Itu memang benar. Jika ada yang harus disalahkan, gadis bersurai panjang itu memiliki andil terbesar atas kejadian naas yang menimpa orang tuanya. Andai saja ia bersedia pulang naik bus kota, atau memboceng Taehyung yang kebetulan berangkat sekolah mengendarai sepeda. Semua pasti akan baik-baik saja sekarang.

Cassie terisak. Tak mampu lagi bersembunyi di balik topeng yang selama ini ia kenakan. Bahunya naik turun seiring liquid-liquid bening yang meleleh menganak sungai di pipinya.

“Aku tak menyalahkanmu, sungguh.”

“Tapi tetap saja ini salahku. Kau berhak membenciku, Tae. Aku…aku tak keberatan jika kau memang tak ingin memaafkanku.”

“Katakan sekali lagi, Cass—“ bentaknya keras, “—dan aku akan benar-benar membencimu!”

Cassie terhenyak. Bentakan adiknya bukan membuatnya takut. Namun menyadarkan betapa Taehyung tak ingin dirinya larut dalam penyesalan. Sorot kekesalan itu seolah memberi keyakinan bahwa Taehyung sama sekali tak menyalahkannya—sedikitpun.

“Jangan menyalahkan diri seperti itu. Aku masih membutuhkanmu, Cass. Aku hanya memilikimu sekarang.”

Gadis itu bersumpah kalimat yang baru saja ia dengar adalah ucapan tertulus yang pernah keluar dari mulut Taehyung. Tanpa sadar sudut bibirnya melengkung ke atas. Mengukir seulas senyum di atas kepedihan yang masih saja membelenggunya. Air matanya kembali lolos kala kelopaknya mengerjap.

“Aku tahu. Bersandarlah. Aku akan berusaha menjadi kakak yang bisa diandalkan untukmu.”

“Aku juga berjanji akan menjadi adik yang bisa kau banggakan, noona.”

Cassie terkesiap. Meragukan pendengarannya saat Taehyung mengucapkan kata terakhirnya.

“Kau memanggilku apa?” tuntutnya.

Noona.” jawab Taehyung enteng.

“Katakan sekali lagi?”

Noona. Memangnya kenapa? Ada yang salah? Bukankah selama ini kau menyuruhku memanggilmu noona?”

Di tengah air mata yang belum mengering, ia kembali tersenyum. Tangannya terulur, mengacak surai coklat keemasan milik adiknya. Taehyung yang duduk di samping tak begitu keberatan. Senyumnya perlahan turut mengembang di wajah innocentnya.

Deburan ombak terus bersahutan. Menyongsong sunset yang perlahan menghilang berganti rembulan. Tempat di mana kegelapan berkuasa sebagai raja. Tempat di mana anak-anak manusia bersembunyi menyimpan kepedihannya. Hanya di balik sang malam, mereka bebas menjadi sosok yang sebenarnya. Namun dua kakak-beradik yang masih setia duduk beralas pasir putih itu tak lagi peduli. Malam adalah awal bagi mentari yang esok kembali bersinar. Mereka memiliki satu sama lain. Mereka coba menguatkan dan saling berbagi. Baik kepedihan maupun harapan akan kebahagiaan di masa datang.

.

.

.

Fin.

Nb : di ambil dari pengalaman pribadi seorang teman. Dengan berbagai tambahan setting demi kepentingan cerita tanpa mengubah fakta-fakta yang ada. Bagi yang sudah bersedia membaca, terimakasih sekali^^ And last, review, please…

Advertisements

16 thoughts on “[BTSFF 1st Event] After Sunset, Midnight, and Rise of Happiness

  1. sehunlight

    That feels tho..
    Kak diksinya bagus sekali, jika memiliki lebih dari 4 jempol maka aku ingin mengacungkan semuanya, aku ikut hanyut dalam ceritanya, gak bakal bisa bayangin kalau ditinggal kedua orang tua, sangat menginspirasi.

    Like

  2. sofia

    enggak bsa fokus sama ceritanya, aku terhipnotis sama diksinya yang subhanallah cantik sekali. . siapapun authornya, kamu kren bgt ❤ salam kenal, sofia 98l 😀

    Like

  3. Rositaetae

    Ga heran Semua ngOmongin diksi di FF ini, emang Ngga diragukan, kyKnya udah pro banget yG nulis. Fighting taehyung & cassie, fighting juga authornim^^

    Like

  4. HarzukiV

    Mphiee,,, nyesek bgt kamu 😦
    diksinya juga cetar membahana bikin pengin nangis jadinya,, udah kaya tulisan di novel2,, penggambarannya bagus.
    bikin lagi ya thorr…

    Like

  5. Lily Hana

    diksinya bikin hatiku mencelos ;w; ah, diksinya bagussss banget macam novel-novel terkenal :”
    aku pengen bikin ff bermajas-majas begini tapi gagal teruss ;w;
    ini bikinnya berapa lama, kak? kok bisa…

    Like

  6. juliahwang

    Hai buat author yang nulis ff ini, salam kenal dan cinta dariku ^^

    Jujur, aku tertarik baca ff ini karena baca summary dan satu lagi… aku langsung tertuju pada nama OC yang ada di dalam ff xD Mengingatkanku pada salah satu author dengan nama OC yg sama . Dan… dia juga kakak dari Taehyung 😀 Kayanya aku tahu sang pemilik ff indah ini 😉 hehe

    Back to ff, BEAUTIFUL! REALLY BEAUTIFUL! :*
    Aku suka sekali diksimu ini aduh aku ikut terhanyut dan ini INDAAHHHH SEKALI AKU INGIN MENANGI SAJALAH :’D
    Typo? Ngga ada sama sekali ini itu udah rapi dan mulus sekali mulai dari setting, isi dan narasinya :’)
    aku pengen nangis jadinya, diksimu kece sekali sih kak, ajarin dong ajarin 😥 haha

    Konfliknya simple sih Cassie dan Taehyung yang kehilangan orang tua, but kaka bawainnya udah bener-bener kaya novelnya Tere Liye yg keren banget ❤

    Mungkin itu aja komenku dan maaf jadinya malah panjang dan nyepam gini :'D
    Good luck! ^^

    Like

  7. diah

    yaah seperti biasa lah yaa.. miss jung riyoung yg keren… ff ny sesimpel apapun tetep bikin nyesnyesan… hahaha
    setelah dr sekian byk ff ny yg emg rata2 banyakan konyolny.. yg ini termasuk yg nyesek…
    Aigooo… ga kebayang klo aku d posisi mreka.. ywd lah ga ush d bayangkan (?)…
    Semoga siapapun yg jd inspirasi ff ini sll kuat dan semangat kedepanny !! 🙂

    Like

  8. Lisa Kim

    Mengharukan 😭
    Gx bisa bayangin gimna rasanya ditinggal Ortu gitu…huhuhu…
    Aduhhhh thor…bacanya ikutan hanyut dlm cerita…. Daebakkkkk!!!!

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s