[BTSFF 1st Event] Separated Pieces

separated pieces

Separated Pieces

By vl

Oneshoot, 2,899 words

Starring by Jeon Jungkook & Kim Taehyung

Full of friendship, school-life, angst

You disturb my life.

You make me crazy all the time.

But—

When you leave and go,

I feel half of me was lost.

2015©

“Apa hari ini Han Seonsaengnim akan memberikan materi itu lagi?”

Taehyung mengangkat bahu dengan setengah hati. Kedua matanya sibuk menelaah kalimat demi kalimat yang menempel manis pada buku bergaris biru yang diisi dengan huruf demi huruf tulisannya sendiri. Itu, buku Fisika-nya.

Siapa sih, yang tidak mengenal Han Seongsaengnim? Baiklah. Jangan hitung anak-anak sekolah di luar sekolah Daeguk. Cukup murid-murid Daeguk saja. Semuanya—ya, semuanya, pasti mengenal guru itu. Dan semuanya bersumpah, mereka mengenalnya karena Guru Jangkung itu adalah guru Fisika yang tanpa henti menggamit nama Euclides di setiap materi. Yah, Taehyung memang anak pintar—sebut saja begitu, karena ia menduduki juara satu di kelasnya—dan ia tahu siapa tokoh keren bernama Euclides itu. Guru Matematika-nya pernah menyebut nama itu ketika mereka membicarakan perihal sudut dan geometri.

Tapi mengapa guru Fisika itu harus terus-menerus menyebutkan nama itu, tanpa henti?

Tapi biarlah, toh Taehyung tidak begitu perduli. Ia terlalu lelah untuk membantah guru itu. Sama lelahnya seperti ketika ia harus membantah Jungkook yang selalu makan es krim di setiap jam istirahat, Jungkook yang menyisakan remah-remah cone es krim stroberi di perpustakaan yang notabene adalah ruang kesukaan Taehyung, Jungkook yang malas belajar Biologi, Jungkook yang tak mau mengerjakan PR, Jungkook yang selalu datang ke rumahnya dan masuk ke kamarnya tanpa izin, Jungkook yang suka memakan bekalnya, Jungkook—

Yang tergila-gila pada rubik.

Taehyung bersumpah. Selain Han Seongsaengnim, Jungkook adalah orang teraneh kedua yang muncul tanpa aba-aba dalam hidupnya. Hidup enam bulan bersama dalam satu kelas baru dan mereka baru dekat ketika menginjak bulan kelima. Tanpa aba-aba dan tanpa label apapun.

Semua menyebut Taehyung dan Jungkook sahabat. Lebih dari sahabat, malah, karena mereka terlalu dekat. Bayangkan saja, duduk sebangku, mengerjakan PR bersama, beberapa kali Jungkook menginap di rumah Taehyung, makan siang bersama setiap harinya, menghabiskan malam minggu mereka yang seharusnya sendirian menjadi berdua—apa kebersamaan tak bisa di definisikan menjadi sahabat?

Bagi Taehyung, tidak.

Setelah merasakan arti pahit dari persahabatan, Taehyung cenderung tak mempercayai sekelumit kata indah yang keluar dengan gampangnya dari mulut orang. Sengatan sakit bekas masa lalu dengan mantan sahabatnya telah membuatnya belajar siapa sahabat dan siapa musuh di balik selimut.

Mereka mirip, tapi berbeda.

Karena bagi Taehyung, persahabatan bukan suatu label yang hanya digunakan untuk ajang jawaban ketika ada orang yang menanyakan siapa sahabatmu, bukan. Tapi lebih dari itu.

Sahabat adalah seseorang yang ada di sampingmu, tak pernah mengkhianatimu, tak pernah membuatmu bosan, ada di dalam suka dukamu, bisa menjadi satu-satunya orang yang kau percaya ketika waktu perlahan mengambil semua orang yang kau kira bisa menyimpan rahasiamu dengan cermat.

Sahabat itu—

Sama seperti Jungkook dan rubiknya.

Jungkook terlalu tergila-gila pada rubiknya. Ia menghabiskan separuh harinya dan seluruh hatinya hanya untuk menyusun kubus berwarna-warni itu. Dengan berbagai latar tempat, waktu dan suasana—dan itu cukup untuk membuat Taehyung tahu apa arti persahabatan.

“Jungkook,”

Jeon Jungkook—yah, orang itu memang masih berada di sisi Taehyung, walaupun matanya masih berkelumit pada benda kubus kesayangannya itu—dia hanya menaikkan alisnya tanpa melempar pandang pada Taehyung ketika namanya tersebut.

“Berapa waktu yang kau habiskan untuk rubikmu itu, hm?”

Jungkook menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap Taehyung dengan ujung matanya, lalu meletakkan rubik yang kini berpindah di atas meja di depannya. Kini, jemarinya sibuk menghitung dan mulutnya berkomat-kamit, mengiringi jarinya yang perlahan bertambah, seiring satu angka tersebut olehnya.

“Dua belas jam. Kurang lebih, setengah hari. Hehe.” Jungkook tersenyum, lalu terkekeh setelah mengetahui fakta bahwa ia menghabiskan harinya demi satu kubus yang sampai sekarang terus membuatnya penasaran.

“Apa kau tak bosan?” Taehyung meletakkan buku Fisika-nya di samping rubik Jungkook. “Kau termasuk murid yang tidak kuper sepertiku, cukup gaul dan terkenal di kalangan siswa dan siswi. Yah, kau setara dengan Namjoon dan Yoongi,”

“Oh, aku memang terkenal, Taehyung. Kau saja yang terlalu lama mengakui itu, ck.” Jungkook mencibir.

Aish,” Taehyung mendesis jijik. “—ku teruskan. Karena kau setara dengan Namjoon dan Yoongi, mengapa kau tak seperti mereka? Yah, seperti pada jam istirahat seperti ini, pergi ke luar kelas, menebar pesona kemana-mana dan mendapatkan penggemar dimana-mana. Ku pikir, kau lebih cocok di posisi itu ketimbang berpacaran dengan rubikmu,”

Dan beberapa detik setelah Taehyung berujar tentang gagasannya,

Jungkook tertawa. Tertawa. Keras sekali. Bahkan ia sampai mendapatkan teguran dari pustakawan yang mengalihkan pandangannya dari majalah wanita.

“Hahaha,” Jungkook berusaha mengontrol tawanya. Dan akhirnya, ia bisa. Dengan nafas yang tersengal-sengal, tentu saja. “Hah. Untuk apa aku seperti Namjoon atau Yoongi? Pergi ke luar kelas, menebar pesona kemana-mana—ku rasa, terkenal di kalangan siswa sudah cukup. Aku tidak perlu keluar kelas jika mereka sudah mengenalku, ‘kan?” Jungkook mengangkat alisnya.

“Dan soal wanita, aku rasa aku tak perlu, Taehyung-ah. Akan banyak perempuan di kelas lain yang jatuh cinta dengan tulusnya tanpa aku menebar pesona. Biar sajalah mereka jatuh cinta dengan sendirinya,” ucap Jungkook. “Aku juga malas mengurusi pacaran. Sudah cukup ada kau dan rubikku disini, aku sudah cukup senang, Taehyung.”

Definisi sahabat itu, lebih mudah dari yang Taehyung pikirkan, walau sulit menemukan seseorang yang bisa memenuhinya.

Apa adanya dan setia. Cukup. Dan semuanya Taehyung pelajari dari Jungkook dan rubiknya.

2015©

Semua berjalan baik-baik saja setelah hari itu berlalu. Taehyung masih tetap berdiri pada pendiriannya—bahwa sahabat itu bukanlah sesuatu yang bisa kau temukan dengan mudahnya, dan Jungkook, ia masih tetap setia pada rubiknya.

Beberapa hari lalu, Jungkook berhasil menyelesaikan satu sisi dari kubus itu dengan warna putih. Dengan teriakan gembira yang tertangkap oleh Taehyung—ya, Taehyung mengerti mengapa Jungkook berteriak seperti itu—dan jangan lupa, kamera SLR Taehyung bahkan sudah dipenuhi oleh foto sisi rubik yang terselesaikan itu. Bukti bahwa seorang Jeon Jungkook berhasil, setelah melewati jerih payah dan dua belas jam setiap harinya.

Tapi bukan itu. Bukan itu yang membuat Taehyung ingin menghentikan hari ini dan memutar kembali pikirannya pada hari ini.

Ia tahu, ada begitu banyak momen-momen penting yang ia lewatkan bersama Jungkook yang jauh lebih manis daripada hari itu. Tapi Taehyung memutuskan untuk menghentikan pikirannya pada hari itu.

Oh, lebih tepatnya, sore itu.

“Ini sudah kelewat sore, Jungkook.”

Oh, bahkan Taehyung ingat kalimat pertama yang mengawali cerita pada sore itu. Kalimat itu keluar dari mulutnya—yang beberapa detik sebelum kalimat itu meluncur, ia sedang menyeduh teh dan melirik Jungkook yang masih asyik menatap kameranya.

“Taehyung, sebentar lagi saja. Berikan aku lima menit lagi disini atau aku akan mengambil SLR-mu?!”

Itu kalimat kedua, dan berasal dari Jungkook. Kala itu, Jungkook sedang berada di rumahnya. Bayangkan, rumah Jungkook yang berjarak berkilo-kilo meter jauhnya dari rumah Taehyung bukan alasan untuk Jungkook malas datang hanya untuk menunjukkan susunan rapi dari rubiknya.

“Tapi Jungkook—“ Taehyung menatap Jungkook putus asa, ya, Taehyung mengingat mimiknya saat itu. “—aku mau belajar. Kau ingat, kan, besok kita ulangan Biologi? Pulanglah dan belajar. Aku akan membawa SLR-ku besok, kau boleh melihatnya. Lagipula, aku takut kedua orangtuamu khawatir.”

“Aku bukan anak kecil, Taehyung!” Jungkook mengerucutkan bibirnya. Dengan sedikit hentakan, ia meletakkan kamera SLR Taehyung di atas meja belajarnya. Kemudian bangkit dari kasur Taehyung dan menarik ranselnya. “Baiklah, aku pulang. Antarkan aku ke pintu rumahmu, Taehyung!”

Taehyung ingat, setelah menuruni anak demi anak tangga dan sampai pada kenop pintu, ia membuka mulutnya terlebih dahulu.

“Tak seharusnya kau kesini hanya untuk menunjukkan rubikmu dan meminjam kameraku. Kau bisa mengirim pesan supaya aku membawa kameraku besok, Jungkook. Apalagi besok kita ulangan.”

“Apa peduliku dengan Biologi,” Jungkook mencibir sambil mengikat tali sepatu kets-nya. “Aku lebih perduli dengan rubikku, Taehyung.”

“Apa hubungannya denganku, jika begitu?” balas Taehyung dengan nada sedikit kesal. “Kau tinggal mengirim pesan supaya aku membawa kamera besok.”

Dan Jungkook tersenyum. Taehyung masih ingat, bagaimana cara Jungkook menampilkan senyum itu. Karena pada hari selanjutnya, tak Jungkook temui lagi senyum secerah itu terulas dari bibir Jeon Jungkook.

“Karena—“ Jungkook tampak menggantungkan kalimatnya setelah tersenyum. “Karena, baik kau dan rubikku, kalian adalah sesuatu yang berharga untukku.”

Berhenti sampai disana. Pikiran Taehyung berhenti sekejap.

Itu pertama kalinya, seseorang mengakui Taehyung berharga setelah tujuh belas tahun hidup dalam dunia. Itu pertama kalinya. Dan Jeon Jungkook berhasil merebut kali pertama itu.

Dengan senyum kecil, Jungkook meraih bahu Taehyung akrab, merangkulnya dengan seulas senyum yang Taehyung tahu akan sirna. “Karena—kita adalah sahabat, kan?”

Sahabat. Kita adalah sahabat. Jungkook dan Taehyung adalah sahabat.

Tidak, Taehyung tidak lagi menghentikan pikirannya disana. Tapi memang waktu berhenti sore itu. Waktu seolah berhenti, dan Taehyung tengah berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Dan tanpa ia sadari, waktu tetap berjalan. Ia telah melewati beberapa menit dengan menggantungkan Jungkook yang senyumnya telah melorot turun dan dengan tak rela melepas rangkulannya dari bahu Taehyung.

Taehyung bukan tak ingin menjawab pernyataan itu. Hanya saja—

Ia tak bisa. Ia tak bisa dengan mudahnya memutuskan siapa Jungkook untuk dirinya.

Dan sore itu, adalah sore terkelam untuk Taehyung. Karena pada sore-sore selanjutnya, tak Taehyung temukan lagi sosok Jungkook yang keluar-masuk rumahnya seenaknya. Ya, itu adalah sore terkelam dalam 17 tahun Taehyung.

2015©

Menghindar bukan penyelesaian, tapi terkadang menghindar dibutuhkan untuk menemukan penyelesaian.

Pernyataan itu memang tidak mendefiniskan Taehyung secara keseluruhan. Setelah sore yang kelam itu berlalu, Taehyung tetap berada bersama Jungkook, Taehyung tetap bisa melihat Jungkook dengan kubus rubiknya itu. Taehyung tetap bisa, hanya saja—

Taehyung tak bisa lagi melihat senyum terselip dari wajah lucu itu. Taehyung tak bisa lagi mendengar suara lucu ketika Jungkook menyanyikan lagu BTS bertajuk Boy in Luv itu. Taehyung tak bisa.

Karena setelah sore kelam itu berlalu, Taehyung selalu diam setiap Jungkook mengajaknya bicara. Taehyung hanya mengangguk atau menggeleng ketika ditanya, dan tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab Jungkook.

Pendeknya, Taehyung menghindari Jungkook.

Terlalu aneh memang, ketika Jungkook berusaha mengajak Taehyung bicara, Taehyung mendiaminya. Ketika Jungkook mendapatkan detik dimana matanya berkontak langsung dengan Taehyung, Taehyung memutuskan membuang muka dan pergi begitu saja. Ketika Jungkook dengan hebohnya menyapa Taehyung, Taehyung hanya mengangguk kecil. Terlalu aneh.

Dan Jungkook merasakan keanehan itu.

Itu juga sore. Dan Jungkook pikir, tak akan lebih baik daripada sore kelam di hari lalu. Jungkook menemukan Taehyung, duduk di taman sendirian sambil memetik gitarnya. Thinking Out Loud milik Ed Sheeran menggema di taman itu, dan Jungkook yakini itu suara Taehyung. Dengan gitar melodi, Taehyung mengisi kosongnya sore dan suaranya mengalun di udara. Dari jauh, Jungkook hanya menahan nafas sebelum akhirnya berjalan pelan ke arah Taehyung.

“Kim Taeh—“

Dan Taehyung berdiri dari duduknya, lalu melangkah jauh-jauh dari tempat Jungkook berada. Tapi di saat bersamaan, Jungkook meraih tangan kiri Taehyung dan dengan kencang menariknya ke sebelahnya.

“Apa alasanmu menghindariku, Kim Taehyung?”

“Apa yang kau bicarakan? Lepaskan!”

Ini kali pertama Jungkook menangkap nada dingin dalam kalimat Taehyung, ini kali pertama—Jungkook bersumpah. Selalu ada senda dan gurau di setiap kalimat Taehyung. Tapi untuk kali ini, senda gurau itu hilang. Sepertinya pindah pada orang lain disana. Taehyung tak lagi sama.

Dan ketika Taehyung mencoba pergi kedua kalinya, Jungkook terlebih dahulu meraih bahu Taehyung, menghadapkan wajah orang yang selama ini ia anggap berharga, orang yang selama ini ia jaga, orang yang—

Selalu ia mimpikan menjadi sahabat terbaiknya. Kim Taehyung.

“Kau menghindariku, Taehyung?” Jungkook memelankan nada bicaranya. Kini, mata mereka bertatapan dan Taehyung tak lagi punya alasan untuk pergi kemana-mana. Dari tempatnya berdiri, Jungkook dapat melihat kerasnya wajah Taehyung di sebelah sana, pertanda sesuatu akan meledak dari dasar dirinya.

Apa Taehyung marah?

“Apa karena aku menyatakan bahwa kita sahabat—apa karena itu, Taehyung? Apa karena itu kau menghindariku?” Jungkook mengerti. Setelah menelaah seribu satu alasan mengapa Taehyung pergi darinya, Jungkook mengerti.

“Apa kau tak ingin menjadi sahabatku, Taehyung? Apa alasanmu? Apa Taehyung, apa? Aku tak mengerti.” Jungkook mendesis kecewa. “Aku pikir, aku sering berada di dekatmu, aku selalu ada untukmu—ku pikir semua itu sudah cukup. Tapi mengapa—”

Apa arti Jungkook dalam lubuk hati Taehyung jika bukan ‘sahabat’?

Dan ketika Jungkook perlahan melepas tangannya dari bahu Taehyung, Taehyung mengangkat kepalanya, menatap Jungkook dalam-dalam dengan kedua iris matanya—oh, tidak, tidak hanya itu. Tapi Taehyung juga melihat Jungkook dengan seluruh kedalaman hatinya.

“Karena—” Taehyung menggantungkan kalimatnya dengan selaan nafas.

“Karena aku tak pernah menganggapmu sahabatku, Jungkook. Dan aku tak akan pernah bisa mengganti definisi persahabatan dengan kebersamaan. Suatu saat, kau bisa hilang, pergi dan memilih orang lain. Suatu saat, kebersamaan itu bisa saja hilang dan kau akan melupakanku, Jungkook.”

Bahu Jungkook melorot turun. Tatapan matanya berubah menjadi sangat kecewa, sayu dan putus asa.

Jungkook tidak memiliki arti lebih di mata Taehyung, setelah berusaha berbulan-bulan untuknya.

2015©

Satu hal yang Taehyung ketahui pada hari itu—ia merasa kehilangan sesuatu. Ia tidak tahu apa. Pagi tadi, ia sudah memeriksa seluruh tasnya dan ia tidak merasa meninggalkan satu buku pun di rumah. Ia tidak lupa mengerjakan tugas sekolah dan yang terpenting, ia tidak merasa meninggalkan uang jajannya.

Dan ketika Taehyung tak sengaja melirik kalender di koridor sekolah, matanya melirik empat hari yang ia lalui pasca pertemuannya dengan Jungkook di taman. Dan setelah empat hari itu, tak ia temukan lagi batang hidung anak itu di sudut kelas.

Kemana dia?

Taehyung pikir, mungkin Jungkook terlalu lelah. Setahunya, pasca Jungkook menemuinya di taman, Jungkook langsung pergi entah kemana, yang jelas bukan jalan menuju rumahnya. Dan tak pernah terpikir oleh Taehyung bahwa absennya Jungkook disebabkan oleh dirinya. Tidak pernah.

Dia tak secengeng itu, percayalah.

Setelah melirik kalender besar yang tergantung di koridor itu, Taehyung kembali berjalan, melewati tapak demi tapak bekas injakan murid-murid Daeguk. Awalnya, Taehyung tak berniat berhenti dan menoleh pada sisi lain, tapi—

“Jeon Jungkook? Oh, aku kenal dia. Iya, dia termasuk siswa terkenal. Tapi lucu sekali, dia lebih memilih bermain bersama Kim Taehyung—juara kelas X1, kau tahu?—dan rubiknya. Sepertinya dia anak rumahan. Ah, payah sekali.”

—Taehyung memutuskan untuk menghentikan langkahnya setelah mendengar kalimat itu terlontar. Dengan sedikit torehan, ia mengenali siapa pemilik suara itu.

“Maaf, tapi Jungkook tak sejelek yang kau kira, Kim Namjoon-ssi,” desis Taehyung sinis. “Aku harap kau berkenalan dengannya sebelum mengecapnya salah. Telingaku menjadi kotor karena ucapanmu, tahu.”

Namjoon—oh, dia adalah salah satu rapper terbaik sekaligus siswa yang paling populer—menatap sinis Taehyung. Dengan satu seringaian, ia melirik Min Yoongi—siswa populer yang selalu berdampingan dengan Namjoon itu—dan menunjuk Taehyung dengan kepalanya. “Sepertinya ada yang sensitif dengan perkataanku tadi. Benarkan, Yoongi?”

Sementara Yoongi hanya tersenyum sinis. “Apa dia Kim Taehyung yang kau maksud?” dan Namjoon menganggukkan kepalanya. Seketika, Yoongi menyeringai dan merogoh kantungnya.

Rubik yang telah terpotong setengah keluar dari kantung itu. Hati Taehyung mencelos. Jantungnya berdegup kencang, darahnya berdesir. Ia kenal betul siapa pemilik rubik itu. Dua bulan lalu, pemilik rubik itu mulai dekat dengannya, seminggu lalu menyatakan bahwa Taehyung adalah sahabatnya dan menghilang pasca empat hari lalu Taehyung patahkan harapannya.

Itu patahan rubik Jungkook. Apa yang mereka perbuat dengan rubik itu?

Yoongi maju beberapa langkah, mendekati tempat Taehyung berdiri. Tangan kanannya menyodorkan potongan rubik itu. “Ini, ambillah.”

“M—maksudmu?” masih belum mengerti, Taehyung menatap Yoongi penuh tanda tanya. Sedangkan Yoongi hanya tersenyum sinis kepada Taehyung.

“Jeon Jungkook, dia pindah empat hari lalu. Karena kalian berdua dalam keadaan tak baik, dia menitipkan ini padaku, untukmu. Ambil.”

Dan detik selanjutnya, bahu Taehyung merosot jauh. “M—maksudmu, J-J-Jung—“

“Jungkook pindah sekolah,” potong Namjoon gusar.

Dengan sedikit tergesa, Taehyung menarik potongan rubik itu dari tangan Yoongi yang teracung lama. Di carinya di setiap sudut potongan rubik itu sesuatu yang ditinggalkan Jungkook untuknya.

Dan jawabannya, tak ada. Jungkook tak meninggalkan apapun selain rubik itu. Tak ada surat, atau apapun selain potongan rubik yang tersisa setengah itu. Tersusun rapi, dan Taehyung yakin Jungkook berusaha keras memotongnya dengan baik.

Detik-detik selanjutnya, Taehyung berlari secepat angin mengejarnya menuju kantor guru. Berteriak kecil pada wali kelasnya, memekik dan bertanya seperti orang gila. Persis seperti Jungkook yang berteriak menanyakan alasannya yang menolak ide Jungkook untuk bersahabat.

Dan satu jawaban membuat Taehyung kecewa ketika ia keluar dari ruang guru,

“Jungkook pindah ke Bucheon, dia pindah sekolah. Katanya, ia akan menyelesaikan sekolahnya disana dan kuliah di Amerika.”

2015©

Butuh berapa lama lagi agar aku bisa menemukanmu? Percuma. Semua ini hanya akan menambah pilu.

Taehyung membaca tulisannya dan merobek kertas itu. Sudah empat bulan berlalu, dan tak satu pun kabar tentang Jungkook terselip dalam harinya. Dan Taehyung hanya bisa menatap potongan rubik yang tersisa di atas meja belajarnya.

Jika saja waktu bisa di ulang kembali, atau jika saja waktu bisa ia beli—ia rela menukarkan apapun yang ada padanya, asal ia bisa memutar waktu dan mengambil Jungkook kembali. Kembali bersamanya. Menjadi warna bagi hari-harinya.

Karena ketika Jungkook pergi—Taehyung tahu apa arti kehilangan setengah.

Satu hal yang perlu kau ketahui, kehilangan separuh dirimu bukanlah candaan. Sakit itu terasa hidup dan kau merasakannya setiap waktu sebelum penawar sakit itu datang padamu. Tapi berapa lama lagi Taehyung mendekam dalam sakit hanya untuk menunggu Jungkook?

Karena ketika Jungkook pergi—

Tak ada lagi seorang Jeon Jungkook yang mengisi hari-hari Kim Taehyung. Tak ada lagi Jungkook yang penuh semangat berdiri di sisi Taehyung sembari memutar rubiknya—karena, yang tersisa hanya setengah potongan dari rubik itu. Dan kini, tinggal kenangan.

Sementara hujan turun membasahi bumi Seoul, perlahan, tangan Taehyung menulis dalam alunan garis bukunya,

Mungkin aku tak sempat merengkuhmu sesaat sebelum kau pergi, kawan.

Aku bahkan tak sempat mengakui siapa kau sebenarnya dalam hatiku. Tapi percayalah, kau satu-satunya orang yang bisa menempati kata sahabat.

Jika saatnya tiba, kembalilah. Kembalilah. Terserahmu dalam musim apa. Terserahmu bersama siapa, ketika umurmu berapa. Yang jelas, kembalilah. Datang dan jadilah penawar sakitku yang terasa hidup menjalariku.

Kembalilah kesini, ke tempat dimana kita bisa bertemu. Karena aku tak akan pernah lagi menolakmu.

Aku merindukanmu, Jeon Jungkook. Kembalilah, sahabatku.

Mungkin, di hari-hari sebelumnya, Taehyung boleh menolak. Taehyung boleh menghindar. Tapi waktu membujuknya kembali dan mengakui—

Bahwa ia tak dapat memungkiri, Jeon Jungkook sudah menjadi sahabatnya sejak waktu mempertemukan mereka.

Biarlah, rasa sakit itu boleh terus terasa hidup, sementara Taehyung akan meluruskan kakinya—sekedar melepas penat seraya menunggu sahabatnya—satu-satunya orang yang ia harapkan kembali padanya.

Dia, Jeon Jungkook.

Karena persahabatan itu sederhana. Apa adanya dan setia.

FIN.

Hai!!

Absurd? Iya. Wkwk. Yakin banget dah ini bakal absurd. Soalnya ngetiknya kecepetan dan gak dipungkiri ini jelek banget. Btw, makasih semua udah baca fic ini, meluangkan waktu sekedar baca doang.

MAKASIH ☺

Advertisements

11 thoughts on “[BTSFF 1st Event] Separated Pieces

  1. Mana author nya ?
    Tanggung jawab thor,
    nangis aku bacanya….
    Huuuuuuuu feel nya dapet banget..
    sumpah mewek aku bacanya

    Like

  2. duh nyesek bgt ceritanya gilakk ;'(. apalagi suratnya taehyung buat jungkook sumpah itu bikin napas jadi sesek. nice thor! keep writing yaa :). Ayo bikin ff friendship/brothership lagi 😀

    Like

  3. Aku netesin air mata!!!!! Aaaaakk asli ini fanfic yaampun>< speechless gatau mau ngomen apa yg jelas ini sangat menyentuh!!!👍👍👍👍

    Like

  4. Aaaakk!! Suka!! Feelnya dapet banget;; Jujur, aku lebih suka ff genre friendship gini daripada romance tapi gak karuan;; Gak tau harus komen apa selain ‘keren’ *-*)b

    Like

  5. Euh.. nyesek..sek…sek.. sana jemput jungkook tae !! Seret pulaaaang…hiks :”)
    tp emg ad yg tipeny gtu.. introvert.. tertutup.. dan selektif..
    Walaupun klo berlebihan yaa bs jd kya taehyung gni akibatny.. hahahah
    Yasudah lah.. pokokny aku sukaaaa… 🙂

    Like

  6. Adohhhhh… kok Tae gt sie.huhuhu..
    Dia trauma sama siapa emng? Sampe sahabat sebaik Kookie diabaikan seperti itu…. nyeselkan jdnya…huhuhu..
    Btw, ini keren 😄

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s