[BTSFF 1st Event] A Tale of Trouble Maker

A Tale of Trouble Maker

A Tale of Trouble Maker by JIMXSIZ

Cast: Park Jimin, Min Yoongi, Park Nayeon (OC). Genre: Friendship, Family. Length: Oneshot. Rating: G. Summary: Ketika orang itu kembali berulah.

**

Punya adik cerewet dan galak sama sekali bukan keinginan Park Jimin. Sedikit saja belok dari kebenaran, adiknya akan mengomel. Embel-embel ‘oppa’ agaknya kurang pantas didapatinya. Maka sekolah adalah satu-satunya sarana yang bisa menunjukan sosok dewasa, keren, dan yang lebih penting adalah menjadi seorang kakak.

Tiap mobil Ayah tak terlihat lagi, Jimin mengeluarkan sebagian bajunya, mengacak-acak rambut, dan siap menggangu anak-anak perempuan. Adiknya, Nahyun, mengernyit lantas berjalan mendahului kakaknya. Sebut saja, Nahyun merasa malu punya kakak seperti Jimin. Tapi Jimin selalu menahannya dan meyakinkan kalau hari ini tidak akan terjadi hal bodoh.

Kala melewati gadis cantik ia tersenyum manis, berusaha menggoda. Berbeda saat melewati kumpulan siswa, ia akan berpolah seolah memiliki ketampanan yang patut disyukuri. Memang terdengar narsis, tapi Nahyun hanya bungkam; sedikit menjaga image-nya di sekolah.

Langkah Jimin berhenti tiba-tiba, maka Nahyun melakukan hal yang sama.

“Hai, Haeryung.” Jimin berdehem. “Kecantikanmu lagi-lagi membuat jantungku berdegup kencang, sungguh!” katanya sembari menyimpan tangan kanannya di dada beserta wajah serius yang dibuat-buat.

Gadis yang dipanggil Haeryung itu mengetukkan sepatu ke lantai berulang-ulang. Menilik penampilan acak-acakan Jimin dari rambut yang tampak tidak pernah disisir sampai sepatu yang… berbeda jenis?

“Park Jimin, kalau kau mau menggodaku, berpenampilanlah yang pantas!” katanya lantas menujuk sepatu beda jenis yang dikenakan Jimin menggunakan dagunya. Sepatu sport di sebelah kanan dan sneakers di sebelah kiri, itu sama sekali bukan style, ‘kan?

Alhasil, Park Jimin jadi bahan tertawaan. Maka dengan setengah rasa malu, Nahyun pergi ke kelas sembari menutupi wajah menggunakan buku yang sedari tadi dipegangnya.

Nahyun menggelengkan kepalanya, berangkat sekolah dengan Jimin tentu bukan suatu yang bagus.

“Hyun, style kakakmu benar-benar harus diacungi jempol!” sindir Youngji sembari menyenggol sikut Nahyun. Nahyun mendengus tanpa berkomentar, membiarkan sahabatnya tertawa di luar kendali.

“Hyun, Jimin sunbae benar-benar bodoh.”

Baru saja ia berharap agar bisa duduk dengan tenang, seseorang datang mengusiknya dan membuat Youngji terbahak hingga memegangi perut.

“Aku pikir, dia berubah setelah keluar dari gengnya Yoongi sunbae.” Yang ini membuat Nahyun menggebrak meja, membuat seisi kelas menatapnya dengan kening berkerut. Suasana semakin tegang lagi saat ia mengacungkan telunjuknya ke arah si pelaku dengan alis bertaut.

“Hei, Bae Sooji.” Orang yang disebut menatap manik Nahyun gugup, setengah merasa bersalah. “Kau benar. Aku pikir Jimin Oppa benar-benar sudah gila,” lanjutnya yang berhasil membuat Sooji menghembuskan napas lega. Tapi sebagian siswa ribut meneriakinya, merasa tontonan gratis mereka tidak jadi tayang.

Di waktu yang bersamaan, seseorang membuka pintu kasar menggunakan kakinya. Mungkin ini klimaksnya, pikir beberapa siswa.

“Halo, apa di sini ada Kim Taehyung?” tanya seorang kakak kelas–yang katanya–punya banyak pesona, Min Yoongi.

Serempak, seisi kelas memeriksa bangkunya di pojok kanan lantas menggeleng kala menyadari absensinya. Sementara Nahyun yang enggan kembali duduk, merasa akan ada suatu bencana besar yang dibuat oleh ‘mantan sahabat’ kakaknya.

“Tolong berikan surat cinta ini padanya. Nahyun bilang, dia malu memberikannya sendiri.” Sambil terkikik ia memberikan surat dengan amplop merah muda itu ke meja paling depan.

Sebagian siswa membuka rahangnya lebar-lebar, pun dengan Nahyun. Karena, Nahyun tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis sebelumnya. Maka detik selanjutnya, kelas menjadi ribut akibat gosip panas itu.

Di sebelahnya ada Youngji dengan alis bertaut, meminta penjelasan. Sungguh, ia tidak mengerti perasaanya sekarang; diselimut tebalnya rasa malu dan jengkel akibat rahasianya terbongkar. Yoongi segera melarikan diri setelahnya, tapi Nahyun tidak akan membiarkannya begitu saja.

**

“Oi, Jimin. Sudah kena omel adikmu hari ini?” Hoseok yang baru datang menepuk pundak Jimin pelan, membuatnya bertambah jengkel. Tapi rahangnya kaku, hingga hanya melirik Hoseok tajam sebagai jawaban.

Di tengah keheningan itu, seseorang yang berlari menyenggol pundak Jimin kasar. Niatnya ingin menonjok sang pelaku ia urungkan setelah tahu siapa orang itu; Min Yoongi.

Melihat perubahan air muka Jimin, Hoseok buka suara, “Setelah hari itu, hubungan kalian jadi buruk, ya?” tapi lagi-lagi Jimin enggan menjawab, hanya mengangkat bahunya acuh.

Tak lama, terdengar suara mengaduh Yoongi akibat sepatu yang mendarat tepat dipunggungnya. Di belakangnya juga terdengar teriakan yang dirasa familiar. “MATI KAU MIN YOONGI!” pantas saja, itu Nahyun dengan alis menyatu dan wajah memerah.

Tapi Yoongi sama sekali tidak merasa bersalah, ia malah tersenyum simpul lantas menggiring sebelah sepatu Nahyun ke tempat sampah. Mata Nahyun membulat dan kedua tangannya mengepal.

“Hyun! Apa yang dilakukan Yoongi Sunbae?” tanya Jimin khawatir. Berbeda dengan Hoseok yang bergidik seram tiap Nahyun berapi-api, maka ia lebih memilih membuat v sign dan berinisiatif mengambil sepasang sepatunya di tempat sampah.

“Jimin! Anak itu benar-benar menyebalkan! Bagaimana bisa dia membongkar rahasiaku?” kata Nahyun lirih, matanya memerah, butir-butir air keluar sedikit demi sedikit. Segera Jimin mendekapnya, membiarkan tangisnya reda. Karena Jimin tidak akan pernah membiarkan Nahyun memamerkan air matanya di depan orang lain. Nah, sekarang Jimin sudah seperti kakak sungguhan, kan?

Oppa, kau harus memberinya pelajaran!” katanya disela-sela isak tangisnya. Jimin enggan mengangguk, tapi enggan juga menolak. Jika saja lawannya bukan Yoongi, ia pasti mengangguk mantap tanpa butuh berbagai macam pertimbangan bodoh.

**

Bel tanda istirahat berbunyi. Kali ini Jimin membiarkan hobinya tidur di waktu istirahat ditangguhkan. Semangatnya sedang menggebu, maka Hoseok menghampirinya dengan mulut membulat dan bertepuk tangan kecil.

“Oh, apa yang membuatmu semangat, Jimin?”

“Aku akan menghajar lelaki bernama Yoongi agar adik–“ Yoongi ada di sana. Menghalangi pintu menggunakan kakinya diiringi seringai. Maka Jimin harus segera ambil tindakan. “Hoseok, perutku sakit! Ah, aku harus ke UKS.” Begitu katanya, dengan permainan peran yang buruk, mengusap-usap pipi di saat sakit perut? Oh, hei! Siapapun tahu kalau dia sedang berbohong.

Awalnya Jimin berhasil bernapas lega karena berhasil menginjakkan kakinya di luar kelas dengan selamat. Tapi Yoongi tidak berhenti, ia menarik kerah bajunya dari belakang. Membuat Jimin mau tak mau membalikan tubuhnya, menatap Yoongi. Kalau bukan karena anak-anak kelas yang mulai menjadikan mereka sebagai objek tontonan, ia pasti akan lari terbirit-birit.

“Mau balas dendam?” tanya Yoongi selekas melepas tangannya dari kerah baju Jimin. Ia bicara santai sekali, tanpa beban, berbeda dengan Jimin yang berusaha melawan rasa takutnya dan kaki atau tangan yang mulai bergetar.

Dengan polah sok santainya, Jimin mengadukan kepalan tangannya dengan tembok yang digunakan Yoongi untuk bersandar. “Aku ingin kau tidak menganggu adikku lagi,” katanya yang berhasil mendapat pujian atas keberaniannya. Maka ia akan kelebihan rasa percaya diri kalau sudah dapat pujian.

“Baik, aku tidak akan menganggu adikmu lagi, Jimin,” kata Yoongi dengan suara yang sengaja dikeraskan, agar semua orang tahu. Detik selanjutnya, ia melangkah, mengikis jarak diantara mereka diiringi bisikan kecil, “Setelah kau mau melakukan apa yang aku mau.”

Yoongi berjalan angkuh, meningkalkan Jimin dan sorakan kemenangan. Saat itu juga, Jimin berbalik dan menunjuk Yoongi tanpa rasa takut, “Yoongi, lihat saja waktunya nanti. Kau akan kalah aku pukuli!” Sebenarnya itu cuman perumpamaan, hanya ingin terdengar lebih hebat dan mendapat pujian berlebih.

Tapi Yoongi sama sekali tidak terusik, maka sembari terus berjalan santai, ia berkata, “oke. Tapi kalau mau bertarung nanti, jangan pakai kaus kaki merah muda bergambar barbie, ya.”

Mata Jimin menyipit, lantas menaikkan celananya untuk melihat kebenaran. Bagus. Ini pasti kerjaan Nahyun.

Sudah susah-susah dapat pujian, tetap saja berakhir dengan tawaan. Mungkin ini yang namanya nasib.

**

Saat pulang sekolah, Nahyun akan menunggu Jimin di depan gerbang. Tak jarang, beberapa siswa melontarkan perkataan tentang betapa-bodohnya-seorang-Park Jimin. Tapi Nahyun hanya mendengus saja atau menatap mereka tajam-tajam; padahal ia sungguh malu.

Misalnya anak tingkat akhir, Park Chorong dan dua kawannya.

“Hyun, belikan Jimin kaus kaki laki-laki, ya. Sungguh memalukan mengetahui dia memakai kaus kaki barbie milikmu.” Selanjutnya, mereka akan tertawa. Karena Nahyun adalah adik yang kelewat polos, ia akan ikut tertawa kalau merasa itu akibat kejahilannya. Seperti sekarang.

“Benarkan, Sunbae? Ah, berarti aku berhasil mengerjainya! Kenapa dia tidak sadar aku telah menukarnya, ya?” Nahyun tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk. Tapi para senior itu menatapnya dengan alis bertaut, merasa yakin bahwa mereka benar-benar saudara kandung; karena kebodohan dan kegilaannya.

Ini sudah menit ke sepuluh Nahyun menunggu dan dia sudah sangat kesal. Maka ia segera menghampiri Hoseok saat melihatnya diantara gerombolan siswi-siswi.

“Hoseok! Di mana Jimin?”

Hoseok melipat tangannya di dada dan menatapnya serius, membuat kening Nahyun berkerut meminta penjelasan.

“Panggil aku Sunbae.”

Nahyun mengerling, lantas memperbaiki kalimatnya, “Hoseok Sunbae yang sangat tampan, apakah kau tahu di mana kakakku yang bernama Park Jimin?” kali ini ia bicara dengan nada sedikit sok imut, membuat Hoseok terkikik bahkan membuat pipinya memanas.

“Ia pergi ke atap setelah menerima telepon dari Yoon–“ Alih-alih melanjutkan kalimatnya, Hoseok malah membuka mulutnya lebar-lebar ketika menyadari suatu hal. “–Oh! Sepertinya mereka akan berkelahi, Hyun!”

Nahyun mendengus lantas membawa tangan Hoseok berlari, mencari Jimin di atap. Walaupun Nahyun ‘kadang’ menyebalkan, tapi serius, ia sangat menyangangi kakaknya. Jadi, ia masih ingin melihat wajah bodoh kakaknya!

**

Sunbae, apa kita akan bertengkar di perpustakaan?” tanya Jimin kala Yoongi menariknya paksa memasuki perpustakaan.

“Aku tidak mau berkelahi dengan tukang tebar pesona. Lebih baik, kau kerjakan saja pekerjaan rumahku,” katanya sembari mengeluarkan buku dari tas lantas duduk di depannya sembari mengangkat kaki ke meja.

Jimin menatap dua buku di depannya sendu, merasa tidak yakin bisa mengerjakan. Perkerjaan rumah milik sendiri saja tak mampu ia kerjakan, apalagi milik seorang di tingkat tiga? Tapi demi adik yang menyebalkan namun tetap disayangnya, ia mulai membuka lembaran-lembaran soal.

Baru saja mencoretkan satu rumus, ponselnya berdering. Tapi Yoongi segera mengambil alih setelah Jimin mengatakan ‘halo’ pada adiknya.

“YA, MIN YOONGI! APA YANG KAU LAKUKAN PADA KAKAKKU?” Yoongi menjauhkan ponsel dari telinga, suara Nahyun terlalu nyaring untuk didengar dekat-dekat.

“Kakakmu baik-baik saja, aku hanya sedang memberinya sedikit pelajaran.” Jimin mendengus mendegarnya. Kalau boleh jujur, ia lebih rela berkelahi dari pada mengerjakan soal fisika yang mematikan ini.

“KAU ADA DI MANA? KATAKAN ATAU–“

“Adikmu masih tetap bawel dan menyebalkan, ya,” katanya lantas memberikan ponsel itu pada Jimin. Ponsel yang bertipe sama dengannya. Bahkan Yoongi masih ingat betul toko dan tanggal pembeliannya. Tapi sekarang semua cuman kenangan pahit, mengingat hal itu tidak akan terjadi lagi.

Jimin diam, enggan merespon karena perkataan Yoongi terlalu benar untuk dibantah.

Diam-diam, Yoongi terkikik melihat air wajah kebingungan setengah mati Jimin. Hingga rasa rindu yang dikubur dalam-dalam mulai menampakkan diri. Tapi emosi dan ego lebih berkuasa, membuat hubungan mereka jadi renggang.

“Jimin. Besok belikan aku beberapa porsi ramen, ya.”

Dan mata Jimin membulat saat itu juga. Beberapa milik Jimin sama dengan menghabiskan seluruh uang sakunya. Maka ia harus menyiapkan mental untuk itu atau setidaknya meminta beberapa bantuan pada adiknya yang pelit tidak ketulungan.

**

Oppa, Yoongi benar-benar tidak melakukan apa-apa, kan?” Nahyun terus bertanya hal yang sama hingga keesokan paginya, saat mereka berjalan bersama menuju gerbang sekolah.

“Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa, Sayang.” Sebenarnya Jimin sudah jengkel, tapi ia harus tetap bersabar, menghindari omelan.

“Maafkan aku ya, Oppa.” Jujur saja, Jimin lebih suka Nahyun si adik yang menjengkelkan dari pada melankonis seperti ini. Jimin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, memandangi Nahyun yang menunduk.

Detik berikutnya, Nahyun berhasil mendaratkan tendangan tepat di tulang kering Jimin.

“Bagus! Kau tertipu, Park Jimin! Ayo kejar aku!” Nahyun berlari diiringi gelak tawa setelahnya.

Baru satu langkah ditempuh Jimin, seseorang menampakkan dirinya tiba-tiba di depan. Dengan wajah serius, ia membuka lembaran buku perkerjaan rumahnya. Sebenarnya hanya berniat meminta penjelasan mengenai, kenapa kau malah mengisinya dengan coretan-coretan tak berguna, tapi Jimin ketakutan setengah mati.

“Bu–bukan begitu maksudku!”

Tanpa memberikan kesempatan bicara, Yoongi menarik Jimin menjauhi gerbang sekolah. Membuatnya panik akan diajak berkelahi di tempat yang sepi, sehingga nyawanya tidak akan tertolong. Oh, Yoongi benar-benar sudah gila!

Jimin dibuat menganga lagi saat Yoongi menyetop taxi dan minta diantarkan ke kedai ramen langganan mereka dulu. Yoongi tersenyum tipis melihat Jimin menepuk-nepuk pipinya, merasa ini semua adalah mimpi.

Tak butuh waktu lama, mereka sudah ada di depan kedai ramen. Yoongi melangkah lebar-lebar, berbanding terbalik dengan Jimin yang enggan.

“Tunggu, Sunbae.” Jimin menginterupsi lantas menilik manik Yoongi, mencari kebenaran yang terjadi.

“Jangan salah paham. Aku hanya ingin ada teman untuk bolos.”

**

Pesanan sudah datang sejak tadi, tapi Jimin enggan menyentuhnya. Padahal, Yoongi sudah menghabiskan tiga porsi ukuran besar. Jimin menggeleng melihat kelakukannya, merasa ada yang aneh. Namun saat manik mereka saling bertemu, ia buru-buru mengambil sumpit lantas menggulung ramennya.

“Min Yoongi.” Yoongi dibuat tersedak karena ini adalah kali pertama Jimin kembali memanggilnya tanpa embel-embel sunbae; setelah keluar dari geng. Selepas meneguk air putih, ia melipat tangan di dada, bersiap mengomel tapi–

“Kenapa harus Nahyun yang kau ganggu?” tanya Jimin dengan nada serius, sembari menunduk dan memainkan ramennya menggunakan sumpit.

Yoongi mendongkak, menatap langit-lagit kedai, berpolah layak manusia tak berdosa. Namun manik Jimin menguncinya, meminta penjelasan. Kali ini, Jimin benar-benar berubah jadi menakutkan.

“Apa aku harus bicara yang sesungguhnya?” tanya Yoongi sembari menggaruk kepalanya, tanpa berani menatap manik Jimin. Tapi Jimin hanya merespon dengan deheman, membuat Yoongi menyerah dan menghela napas panjang.

“Aku–“

“Menyukai adikku, kan?” Jimin menjentikkan jarinya, kendati alis Yoongi saling bertaut.

“Bodoh! Mana mungkin! Bukan itu–“

“Apa? Tidak mungkin? Dengar, dengan jawabanmu itu artinya kau telah merendahkan adikku. Dan aku tidak–“

“Aku hanya ingin berbaikan denganmu, Jimin,” sambar Yoongi yang membuat Jimin menganga, tidak percaya. Tapi diluar perkiraan, Jimin malah menggendong tasnya, menghindari percakapan ini.

“Jimin aku sungguhan!” maka Jimin menghentikkan langkahnya, kembali berbalik menghadap Yoongi. Menunggu kalimat selanjutnya dalam geming. “Aku ingin kita bermain bersama lagi. Aku tidak peduli kalau kau tidak ikut-ikutan gengku–memalak, menggangu anak baru, membuat keributan, aku hanya ingin kita kembali seperti dulu. Tertawa bersama, mengganggu dan menggoda Nahyun bersama. Hanya itu…”

Jimin mendekati Yoongi dengan wajah seriusnya. “Maafkan aku, Yoongi. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi karena aku sangat malu. Aku takut kau membenciku karena keluar dari gengmu; atas perintah Nahyun.”

Ada segelintir rasa bahagia dalam diri Yoongi, pun dengan Jimin. Karena akhirnya, mereka bisa kembali bersatu, melalui hari bersama sebagai sahabat, bukan orang yang berpura-pura tidak saling mengenal. Maka selepasnya, Yoongi bangkit sembari meninju perut Jimin pelan lantas berlari meninggalkan kedai.

“Min Yoongi, kau!”

Sambil memegangi perutnya, Jimin berlari mengejar Yoongi yang berlari sangat cepat. Tapi lampu merah membuat Yoongi kalah, hingga akhirnya, Jimin dapat membalas pukulannya. Tawa mereka berhenti ketika seorang kakek yang membawa sapu di belakang mereka berseru; Kau belum membayar, anak muda!

Mereka sama-sama terkejut, pun panik. Bukan karena si kakek, tapi lima orang lelaki berotot di sekeliling si kakek. Kaki Jimin bergetar, tapi Yoongi sama sekali tidak ketakutan. “Yoongi, kita hanya harus membayarnya lalu–“

“Biarkan saja! Ini petualangan pertama kita!” kata Yoongi sembali mengepal tangannya kuat-kuat. Jimin bergidik ngeri lantas melakukan hal yang sama. Para lelaki itu ada tiga langkah di depannya bersamaan dengan lampu merah yang telah menjadi hijau. Maka dengan semangat, Yoongi menarik tangan Jimin yang bergetar melewati zebra-cross.

“Ini yang aku maksud! Ayo melarikan diri!”

“Sial kau, Min Yoongi! Aku bisa diceramahi Nahyun pulang nanti!”

Tapi sungguh, itu sangat menyenangkan bagi mereka. Rasa takut yang membuat jantungmu berdebar dan rasa senang saat berlarian bak anak kecil ini, benar-benar memacu adrenalin. Apalagi setelah memiliki luka memar, ditambah omelan tanpa henti dari Nahyun. Oh! Itu adalah hal yang mereka rindukan!

Advertisements

3 thoughts on “[BTSFF 1st Event] A Tale of Trouble Maker

  1. Huaaa neext!! >< persahabatannya keren!! Si nahyun lagi iseng banget -.- prihatin sama jimin ._. Heheh~ next nya jangan lama-lama eonn :3

    Like

  2. Kaus kaki barbie…..cocok kok.bahahahah
    Kirain suga pengen ngajak ribut jimin karena keluar dari geng,ternyata…okelah..

    Like

  3. Beneran ngakak pas part Jimin pake kaos kaki pink gambar Barbie…. aku gx yakin itu milik Nahyun…. aku curiga itu milik Jin *NAhloh 😂
    Dan, Yoongi…haruskah seperti itu hanya untuk baikan sama Jimin? Adohhh bang lu modus bgt.ckckckck.
    Btw, Kisahnya Nahyun sama Taehyung blh tuh dilanjutin.kekekek..

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s