[BTSFF 1st Event] I’m Scared and I’m Proud!

isaip

Title        : I’m Scared and I’m Proud!

Author        : yC

Main cast     : Park Jimin, Kim Taehyung, Kim Namjoon, Jeon Jungkook

Genre        : Friendship

Length        : Oneshot

Rating        : General

Disclaimer    : Bangtan punya Tuhan dan ortunya masing-masing. Cerita asli diambil dari pengalaman author, dengan beberapa.. Uhh.. Maksudnya, BANYAK, penyesuaian~ ^^;

Poster was made by nae chingu~ouo

Summary    :

Setiap penakut memiliki paling tidak satu keberanian. Keberanian untuk mengantisipasi sesuatu sampai berpuluh langkah sebelum hal itu kemungkinan terjadi.

    Apakah itu ketakutan? Haruskah kita memeranginya? Sungguh, kenapa kau tanyakan hal itu padaku? Kalau kau bertanya haruskah kita melawannya, aku akan dengan santai menjawab bahwa itu bukanlah suatu keharusan. Yahh, itu pendapat pribadiku, sih…

    Ugh.. Baiklah, aku mengaku, aku cukup buruk dalam membuat prolog, atau monolog, atau apalah itu, istilah yang sepertinya tak akan pernah kuingat.. Sudahlah, karena setelah ini kalian akan banyak mendengar ocehan dari seorang Park Jimin, lebih baik kuakhiri monolog, atau prolog, atau—   Err, maksudku.. Akan kumulai ceritanya..

    Aku terdiam sejenak, menghayati perjalanan yang telah kulalui dari sekolah sampai akhirnya bisa kembali ke rumah.. Oke.. Mungkin ini terlalu berlebihan.. Ku boot laptopku, dan segera kuinstal sebuah game. Tanganku gemetar, menunggu proses instalasinya yang tak kunjung selesai. Kuakui memang kinerja laptopku yang lamban ini juga sebagian merupakan salahku, karena terlalu malas untuk menghapus atau uninstall software yang sudah tidak kugunakan lagi.. kekeke  Ohh, sepertinya game-nya sudah selesai terinstall!! Dengan ekspektasi yang tinggi, kujalankan gamenya. Baiklah, sejauh ini terlihat seru dan menegangkan~   Aahh aku jadi bersemangat~!!

“Baiklah… Kurasa ini tidak terlalu sulit… Antena dengan TV, dan… Gyaaahh—!!!” aku terjungkal melihat scene di layar laptopku. A-apa-apaan itu!!? T-tadi, muncul gambar pembawa berita, lalu.. Lalu.. Wajahnya berubah menyeramkan!! Lalu TV-nya mati.. Lalu, aku tidak tahu lagi.. Jemariku sudah reflex menutup layar game…

Tanganku gemetar, sungguh.. Segera kuambil ponselku, dan kubuka LINE. Kuketikkan nama seseorang dan segera kukirim pesan padanya. Yahh… Mungkin tidak segera juga… Tanganku yang gemetar beberapa kali membuat typo yang pada akhirnya mau tidak mau harus kubetulkan.

“Besok, pokoknnya kau harus menemaniku main game *peeeep* (sensor). Aku tidak kuat main sendiri~~” tulisku. Tak lama kemudian, kudapatkan balasan darinya.

“Itu game terbaru dari seri *peeeeep* kan!!? Aku mau lihaaaatt!!!” tentu. Seorang penggemar horror sepertinya mana mungkin menolak.. heh.. Segera kubalas dengan stiker yang berupa acungan ibu jari. Aku menyeringai. Baiklah… Kurasa wajah terkejut seorang Kim Taehyung boleh juga..

Keesokan paginya di sekolah, kebetulan ada jam kosong. Murid yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing. Beberapa yeoja terlihat sedang menggosip.Hampir seluruh namja sedang berkumpul di depan laptop salah satu teman kami dan menonton sesuatu yang sepertinya tidak ingin kusebutkan. Sedangkan sisanya entah kabur ke kantin atau sedang terlelap. Aku segera melirik ke sebelahku. Taehyung. Dia sedang asyik dengan ponselnya. Kutepuk pundaknya layaknya seorang magician yang akan menghipnotis targetnya, tapi sayangnya aku bukan magician. Kalau aku magician, mungkin hal pertama yang akan kulakukan adalah menghipnotis Taehyung agar bertingkah seperti katak— Yahh paling tidak, walaupun aku bukan magician, tepukkanku bisa membuatnya berpaling dari ponselnya sejenak.

“Ayo main!” kataku to-the-point. Ia segera meletakkan ponselnya lalu mendekat ke arahku. Tentu, aku tahu itu tandanya setuju. Segera kujalankan game-nya, dan kupilih continue.

Layar kembali menunjukkan gambar TV terkutuk itu, yang oh tentunya, membuatku segera menutup mataku dan berpaling dari layar. Tapi pada akhirnya, setelah kusadari bahwa aku menekan continue, yang berarti scene yang sudah kulewati tidak akan terulang lagi, barulah aku menyeringai dan tertawa geli akan perbuatanku sendiri, dan Tae yang sepertinya menyadari kelakuanku, ikut tertawa.

Jujur, sebenarnya aku cukup hebat dalam game seperti ini. Bukan, bukan game horror.. Maksudku game hidden object. Itu lho, game yang mengharuskanmu mencari sejumlah item yang diperintakan pada scene-scene yang terlihat tidak ideal, alias tidak mungkin kau temukan di dunia nyata. Sungguh! Cobalah bermain. Kau akan tahu begitu kau memulainya~

Setelahscene TV itu, sepertinya tidak banyak hal yang membuatku terkejut. Yahh… Beberapa hal memang agak mengejutkan sih.. Tapi tidak separah scene itu… Scene ini, dapur yang berbatasan dengan pintu ruang belakang, agak mengerikan memang. Atau mungkin aku saja yang terlalu paranoid?

Ohh, baiklah, aku mengaku.. Aku memang penakut. Lalu memangnya kenapa menjadi seorang penakut? Tapi hey, akui saja! Setiap penakut memiliki paling tidak satu keberanian. Keberanian untuk mengantisipasi sesuatu sampai berpuluh langkah sebelum sesuatu hal kemungkinan terjadi. Ahh lagipula, inti dari cerita ini memang menceritakan tentang seberapa takutnya aku pada hal-hal yang berbau horror kok~   ..Aish… Bagus… Aku baru saja membocorkannya.. T-tapi, hey! Bukankah kalian bisa mengetahuinya hanya dari judul dan summary-nya? ..Kan?

Aku masih terus menatap layar laptop dengan waspada. Berusaha menyelesaikan hidden object scene secepat mungkin. Aku harus segera pindah dari scene dapur ini! Harus!! Dan akhirnya, saat seluruh objek yang diperintahkan telah kami temukan, barulah aku bisa sedikit bernafas lega. Sepertinya… Kamera mulai men-zoom, dengan gaya mengintip, ke arah lubang pintu yang sepertinya menuju ke ruang belakang. Firasatku tidak enak… Dan benar saja, tiba-tiba, sebuah mata melirik dari dalam, tepat di depan lubang pintu itu—

“asdfghjkl  Tae!! Tusuk matanya!! Tusuk!! TUSUUUKKK!!!” kututup mataku sambil berteriak histeris.

“Dengan apa!? Hanya ada hairpin di inventory!! Dan ini tidak bisa digunakan!!”teriak Tae yang entah kaget karena scene barusan, atau stress mendengar teriakanku.

“Aaarrgghh pokoknya tusuk saja! TUSUKKK!!!!” aku semakin histeris setelah mengetahui bahwa tidak ada apapun yang bisa digunakan. Aaarrgghh.. Di saat seperti ini!? Kalau aku ini detektif seperti karakter di game itu, sudah kuludahi mata itu, atau akan kuluruskan hairpin di inventory lalu kutusuk mata menyebalkan itu sampai sedalam-dalamnya!! Sungguh!!

“..Ini kan hanya cutscene…” kami langsung terdiam, mendengar sebuah suara yang familiar..

“N-Namjoon-hyung..?”

“Sejak kapan kau memperhatikan kami?”

“Baru saja. Saat kalian berteriak histeris tadi~” dia menyeringai lalu menunjuk ke belakang kami. Perlahan kami menoleh dan beberapa anak sedang menatap kami heran. Ohh… Sial…

“Aku baru tahu kalau Jimin cukup sadis, ya.”

“Mata siapa yang mau kau tusuk, eh?”

“I-itu.. Eheheh…” dan akhirnya wajahku berakhir merona merah karena rasa malu yang sungguh, tak mungkin kutahan..

    Entah mengapa, aku merasa kalian yang membaca ini sedang mentertawakanku sekarang.. Hey, mau bagaimana lagi? Walau setakut apapun, aku memang tertarik pada sesuatu yang berbau horror! Yeah. Tertarik.. Meskipun pada akhirnya, Tae yang kusuruh memainkan game horrornya, lalu aku akan duduk manis dan menunggu spoiler darinya. Karena, aku tidak suka saat jantungku rasanya mau copot karena hantu yang tiba-tiba muncul. Aku tidak suka adegan pengejaran yang dapat membuat screen Game Over keluar dalam sekejap mata. Ahh… Pada akhirnya, aku tetap tidak suka keduanya.. Oh, hey, kalau kalian membaca ini, tolong carikan aku game horror tanpa kedua elemen itu, ya! kekeke

    Baiklah, itu baru sebagian dari ceritaku. Seperti yang kau tahu, aku menceritakan tentang ketakutanku pada game horror tadi. Sebenarnya hal seperti itu bukan hanya sekali atau dua kali terjadi. Tapi kurasa yang paling memalukan adalah kejadian itu… Sudahlah, aku akan langsung melanjutkan ke bagian duanya, ya~   Oh tidak, tidak.. Ini tidak akan bersambung ke chapter selanjutnya, karena pada dasarnya, kau diatas tadi membacanya kan, ini cerita oneshot. Aku akan langsung meneruskannya disini. Lagipula, cerita ini masih berkaitan, kok.. Sepertinya… M-maksudku, sungguh, ya, aku tidak mengada-ada!! K-kenapa wajah kalian tidak percaya seperti itu, sih—?!

Jam istirahat, hari pertama setelah libur semester. Taehyung tidak masuk sekolah. Kudengar ia masih berada di kampung halamannya. Dasar anak itu.. Kurasa hari ini aku akan melihatnya dengan Namjoon-hyung saja.

Oh iya, mungkin kalian agak heran kenapa aku memanggilnya dengan akhiran hyung. Namjoon-hyung sebenarnya satu tahun lebih tua dari kami. Kurasa menggunakan akhiran hyung adalah cara yang sopan untuk memanggilnya kan? Namjoon-hyung sempat vakum dan pergi ke LA bersama orang tuanya selama setahun. Karena itulah walaupun dia setahun lebih tua dari kami, tetapi kami ada di kelas yang sama. Di kelas—   ahh, tidak, bahkan mungkin di sekolah, Tae dan Namjoon-hyung lah yang paling dekat denganku. Dan aku dengan bangga mengatakan bahwa kami bertiga penggemar horror. Dan sepertinya aku yang paling penakut diantara mereka bertiga—  Ohh, tidak, bukan sepertinya lagi.. Sudah dikonfirmasi bahwa aku yang paling penakut diantara mereka bertiga..

“Namjoon-hyung! Coba lihat ini..” kataku, lalu menyendok sesuap nasi dari kotak makan siangku.

“Huh? Apa itu?” ia yang baru saja akan mulai memakan makan siangnya juga, segera menolehkan kepalanya ke arahku. Yahh, sebenarnya ke layar laptopku sih—

“Ini horror webtoon~   Aku ingin coba melihatnya di rumah, tapi aku terlalu takut. Kemarin sudah kukatakan pada Tae untuk melihatnya, tapi sekarang dia tidak masuk, jadi aku tidak bisa dapat info apapun~  haaahh” aku menghela nafas panjang, berpura-pura terlihat kecewa. Tapi sebenarnya memang agak kecewa, sih..

“Aku mau lihat!! Ayolah, kalau kau terlalu takut, aku akan menemanimu melihatnya~”  sebuah senyum lebar terbentuk di wajahnya. Sungguh… Walaupun kami bertiga suka hal yang berbau horror, pada akhirnya hanya akulah yang penakut.. Menyedihkan… Ya.. Kau tidak salah dengar.. Pada dasarnya aku mengasihani diriku sendiri..

“Hmm baiklah~~   Aku tidak berani melihatnya karena beberapa orang di internet mengatakan ini sangat menyeramkan. Dan lagi, ini multimedia webtoon, jadi ada beberapa bagian yang bergerak~”

“Sungguh?? Aish.. Aku jadi penasaran..!! Ayo cepat buka linknya!!”

“Baiklah, baiklah~~” segera kutekan link menuju ke halaman webtoon tersebut. Untunglah ini jam makan siang, jadi wifi sekolah kami sedang dalam keadaan prima, alias hanya sedikit yang menggunakannya. Segera setelah halaman selesai loading, kutekan tombol panah ke bawah secara berkala. Tidak terlalu cepat, tidak juga terlalu lamban. Kami sempat tertawa terbahak-bahak saat melihat warningnya. Apakah bisa separah itu?

Beberapa halaman pertama, tidak ada yang terlalu menakutkan. Memang suasana yang digambarkan cukup mencekam, tetapi sejauh ini tidak ada hantu yang kel— Ohh, kutarik kembali ucapanku. Sepertinya sosok yang berpotensi merupakan sosok hantu baru saja keluar.. Untunglah hanya tampak belakangnya~

“Hyung, hyung, lihat itu~   Hiii…..”candaku, tanpa mengalihkan fokusku dari layar.

“Itu hantunya?” katanya, dengan mulut yang dipenuhi makan siangnya.

“Sepertinya iya~” kami kembali terdiam selama beberapa saat. Menikmati makan siang kami, sambil menatap layar laptop.

Setelah beberapa halaman, aku mulai curiga. Ini.. Multimedia webtoon, kan? Dimana gambar yang bergerak? Sedari tadi tidak ada yang bergerak…

“Hyung, apa loadingnya belum selesai, ya? Kok tidak ada yang bergerak?” kualihkan pandanganku sejenak untuk melihat apakah lingkaran berputar yang mengindikasikan page load itu masih ada, dan hasilnya nihil.

“Eh? Mana kutahu..”

“Yahh mungkin pada suatu halaman akan munc—  hoeekk—!!!” belum aku selesai bicara, akhirnya page yang bergerak muncul juga. Menampakkan sosok hantu yang menolehkan badannya ke arah layar, yang sukses membuat organ pencernaan bagian atasku terganggu; atau singkatnya biasa disebut tersedak. Untunglah aku masih memiliki persediaan air yang cukup untuk mencernanya, kalau tidak, mungkin aku yang akan berakhir menjadi hantu—

“Wahh… Keren… Bagaimana mereka membuatnya? Wahhh….” reaksi Namjoon-hyung ternyata bertolak belakang dengan reaksiku. Dia tampak sangat tertarik. Baiklah, aku mengaku sedikit iri, karena ia lebih memperhatikan laptopku, padahal salah satu sahabatnya sedang tersedak di sampingnya—

“Baiklah, aku tidak mau lihat lagi~   Bacalah dan berikan live report padaku, hyung~” segera kualihkan fokusku dari layar, ke kotak makan siangku. Namjoon-hyung hanya bisa tertawa. Atau mungkin mentertawakanku? Yang jelas, aku yakin diantara kedua itu..

Lalu yang terjadi selanjutnya adalah, Namjoon-hyung yang berusaha meyakinkanku untuk melihat ke layar laptop, yang oh tentunya, tidak kulakukan! Hal ini berlangsung sampai dua buah webtoon selanjutnya. Pandanganku terus berusaha kufokuskan ke makan siangku. Dan dengan itu, jam istirahat makan siang pun berakhir..

Baiklah, tadi sudah kukatakan kalau aku benci hantu yang tiba-tiba muncul, kan? Ini contohnya.. INI!! Untung saja laptopku sedang kutaruh di meja. Kalau tidak, bisa-bisa benda kesayanganku ini menghantam lantai.. Hey, kalian bisa memegang kata-kataku yang satu ini : “Aku tidak akan pernah melihat horror multimedia webtoon lagi. Seumur hidupku!”   Ya, silahkan, rekam atau apapun. Aku tidak akan pernah mengingkari omonganku yang satu itu~  Aku bersumpah!!

    Sayangnya, sekarang kita akan mulai bagian terakhir dari rekor pertarungan seorang Park Jimin melawan ketakutan, yang sejauh ini dimenangkan oleh horror game dan multimedia webtoon. Tidak.. Aku tidak akan bilang kalau aku akan menang setelah ini, karena ohh, itu merupakan suatu kebohongan besar! Lagipula, jika aku menang, ini tidak akan menjadi sebuah kisah dengan judul seperti ini.. Tanpa basa-basi lebih lanjut, akan kumulai bagian ketiga~

Kusingkirkan hampir semua barang yang ada di atas tempat tidur, kecuali bantal, guling, dan selimut, karena ketiga hal itu merupakan senjata yang cukup ampuh dalam menghadapi hal ini.

“Kookie, ayo sini!” aku melambai-lambaikan tanganku ke arah sepupuku, Jungkook, yang masih sibuk dengan ponselnya. Kalau dipikir-pikir, dia sebelas-dua belas dengan Taehyung, tapi bedanya, Kookie lebih penakut dariku, sedangkan aku lebih penakut dari Tae.

“Ne…” tanpa mengalihkan pandangan dari layar handphonenya, ia berjalan mendekat ke arahku. Sesungguhnya, aku sedikit berharap untuk melihat sebuah adegan dimana ia terjatuh karena tidak melihat apa yang ada di depannya, dan ohh, entah mengapa barusan hal itu hampir terjadi!

“Sudah kubilang berapa kali, kalau sedang berjalan, alihkan pandangan dari ponselmu!” kata seorang Park Jimin yang hampir berkali-kali turun-naik tangga sekolah sambil asyik bermain game di ponselnya—

“Ahh sudahlah hyung, mulai saja~” katanya santai sambil masih terfokus pada layar ponselnya. Sesekali ia melayat layar laptop. Tapi sungguh, hanya sesekali! Argh… Kan rencanaku untuk melihat wajah ketakutan seorang Jeon Jungkook jadi gagal…

“Kalau kau mau menonton, singkirkan dulu benda terkutuk itu dari tanganmu”

“Benda terkutuk yang sering kau gunakan untuk main *peeep* ini, hyung?” ia memberikan smirk andalannya, dan ohh, kenapa selalu telak seperti ini..?

“Heyy, aku kan mendownload ini khusus untuk kutonton bersama dengan sepupuku tercinta, Jeon Jungkook~” kataku dengan nada menggoda, yang langsung dibalas dengan ekspresi wajahnya yang sulit kujelaskan.

“Hoekk.. Dimana baki muntah, dimana?” ia tertawa sambil menampar paha putih mulusku yang sayangnya sedang tidak terlindungi oleh sehelai kainpun, karena aku sedang mengenakan celana pendek.

Kira-kira, seperti inilah kami selalu menghabiskan malam Jum’at kami. Menonton film ataupun video bersama. Aku akan memberitahukan kepadanya part-part yang menarik, dan ia akan menatap layar handphonenya hampir sepanjang waktu, kecuali saat-saat tersebut. Karena itu, kalau aku sedang jengkel karena kelakuannya itu, aku akan menonton video-video itu sendiri, tanpa memberitahukan apapun padanya, kecuali dia sendiri yang mengajakku untuk menontonnya. Lagipula bedanya tidak akan jauh saat kami menonton bersama atau aku menonton sendirian.. Ahh malangnya nasib Park Jimin iniii~~

Oh iya, kali ini kami akan menonton film *peeep*. Menurut suatu sumber, yang tidak akan kusebutkan namanya, film ini tidak seseram film pendahulunya. Aku sendiri—   maksudku, dengan Jungkook, sudah pernah menonton film sebelumnya. Seram memang.. Tapi ahh, untukku semua film horror itu memang seram, jadi kurasa sama saja. Dan karena itulah, kuberanikan diriku untuk menonton film ini, bersama Jungkook.

Dengan agak terpaksa, akhirnya kujalankan filmnya. Kuseret Jungkook agar duduk di sebelahku, tidak peduli dengan posisinya yang sedang memegang ponselnya. Kudekap sebuah bantal, sebagai amunisi untuk menutup mataku, jikalau ada sesuatu yang terjadi di layar.. Kau tahu kan apa maksudku~   Aish.. Bukan..Bukan adegan yadong~   Memang kadang film horror luar ada yang mengandung adegan itu, tetapi sumberku sudah menjamin bahwa film ini tidak mengandung itu. Ini persiapan untuk adegan menegangkan, dimana kemungkinan besar hantunya akan muncul.. Secara tiba-tiba..

Selama beberapa menit, kami berdua menatap layar dengan seksama. Kau tahu, diam-diam ku silent ponsel Jungkook, dan kumatikan getarnya juga, jadi tidak ada yang mengganggu kami. Anak itu..Mensetting volume notifications dengan sangat keras.. Dan tanpa kusadari, ternyata Jungkook juga memegang sebuah amunisi : boneka kodok dengan ukuran yang cukup besar! Tunggu—   Itu kan—

“Yahh! Jeon Jungkook!! Itu milikku!!” yeah.. Itu punyaku… Dan seorang Jeon Jungkook memang sudah lama mengincarnya—   Kumohon dengan sangat, jangan berkomentar soal dua orang namja yang memperebutkan boneka, oke?

“Aish hyung kau pelit sekali! Aku hanya pinjam sebentar!” ia menjulurkan lidahnya, dan aku hanya bisa menggembungkan pipiku sambil cemberut.

Beberapa menit semenjak aku menekan tombol play. Kami masih mengumpat dibalik amunisi kami. Terkadang kami mengintip, hanya untuk melihat apa yang sedang terjadi, tapi lebih sering menyembunyikan mata kami, dari tampilan yang mungkin bisa merusak mimpi indah kami malam ini. Aku tidak ingin mengambil resiko, sungguh…

Keadaan berubah menjadi agak mencekam.. Maksudku keadaan di film, bukan antara kami. Kau membayangkan apa? Kami saling membunuh satu sama lain? Aku mendekatkan posisiku ke Jungkook, dan ia melakukan hal yang sama. Yak. Pasti ada sesuatu yang akan muncul sebentar lagi.. Aku yakin! Aku memburamkan mataku sedikit, dan tiba-tiba, kudengar Jungkook berteriak, yang ohh… Membuatku reflex ikut berteriak…

“Ada apa sih?”

“Tadi! Tadi! Ugh kau tidak lihat, hyung?” dia mendekatkan jarinya ke arah keyboard, dan aku yakin ia akan mencoba mengulang scene tadi. Segera kutepis tangannya.

“Tidak, tidak, aku tidak mau lihat.”kataku cepat. Ia tampak tidak terlalu memperdulikannya, dan kembali menonton.

Sekitar setengah dari film sudah berjalan. Aku tidak tahu lagi sudah berapa kali kami berteriak. Dan aku tidak tahu lagi sudah berapa banyak umma nya memarahi kami karena berteriak terlalu keras. Tapi, sayang kan kalau kami berhenti di sini? Akhirnya, simponi teriakan kami pun berlanjut.. Sampai—! Seorang Jeon Jungkook mulai mengambil ponselnya, dan terbelalak melihat tumpukan notifications di sana.

“Hyung! Kau silent ponselku, ya?!! Aish.. Banyak sekali notifnya…” dan dalam sekejap, ia berpaling dari Park Jimin dan laptopnya, ke ponsel tercintanya itu. Aku cemberut, berusaha mengalihkan perhatianku. Kusadari sesekali ia menoleh untuk melihat, tapi sungguh! Hanya sesekali!

“Ahhhh!!! Jungkookie! Ituuuu!!!” segera kututup mataku dengan bantal, sambil menunjuk-nunjuk layar, yang tentunya, sedang menunjukkan salah satu adegan yang paling kubenci—

“Apa? Mana mana?” katanya, tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.

“IIITTUUUUU!!!”

“Ahh tidak ada apapun~”

“TERLAMBAT, PABO! KAU TADI LIHAT KE MANA!? DI LAYAR LAPTOP!! BUKAN DI PONSELMU!!!” teriakku geram, sambil menarik kepalanya dan memposisikannya ke depan layar. Entah karma atau apapun, saat posisi kepalanya sejajar dengan layar, dan tiba-tiba, adegan yang serupa kembali muncul—

“AAAAAAAAHHHHHHHHH!!!!!!!”

    Sepupuku, Jungkook.. Dia sering mengajakku menonton film horror di bioskop, yang ohh, tentunya kutolak! Dan pada saat ia akhirnya menonton bersama teman-temannya, cerita yang kudapat darinya sebagian besar tentang ia menutup pandangannya dari layar.. Aku tidak mengerti, sungguh… Bukankah itu hanya membuang-buang uang? Lagipula, volume di bioskop kan tidak bisa di mute, jadi.. Yeah.. Kau tahu…

    Sayangnya, atau mungkin akhirnya, kita telah sampai di penghujung cerita. Maafkan aku kalau banyak menaruh sensor. Aku hanya menghindari aksi promosi secara tidak langsung, kau tahu~   Ahh tapi itu bukan intinya.. Intinya… Kurasa aku mulai terbiasa dengan sikap penakutku. Yahh, mungkin bisa dibilang, aku juga tidak berusaha untuk menghilangkannya. Aku tidak mau mengambil resiko.. Hei, setidaknya aku berani untuk berpikir berpuluh langkah kedepan! Oh, ya, aku juga baru menemukan sesuatu.. Aku juga buruk dalam menulis epilog.. kekeke   Ya sudah, sampai di sini saja.. Sungguh.. Aku akan berhenti berbicara sekarang.. Hei, sudahlah, untuk apa kalian masih melihat? Sudah tidak ada apapun setelah ini, kok.. Aku serius..!!

The End(?)

Advertisements

7 thoughts on “[BTSFF 1st Event] I’m Scared and I’m Proud!

  1. ff ini tih ngingetin aku banget
    cara mereka berbagi kasih sayang sebagai adik kakak itu,bikin aku ngerti kalau kakak itu sayang sama kita cuman beda mengungkapkannya

    Like

  2. Wahahahah kovlak xD jimin beler -_- ngomong sama aku gitu ya ceritannya? Mau tidur kagak jadi gegara ngakak sama ceritanya. 헐… keep writing thoor!! ~(^0^)9

    Like

  3. WAHAHA AUTHOR-NIM KITA SAMA! aku juga demen banget hal berbau horror, tapi takuuut banget kalo suruh nonton/main hal berbau horror. Daebak banget author hahahaha aduh berasa membuka aib /g

    Like

  4. Authorrrrrrrr…. gw suka gaya penulisanmu….kece…berasa Jimin yg lagi curhat dikamar gw *ehh #Abaikan kekekek..
    Ini koplak bikin ngakak thor…Sukaaaaa banget…huaaaaaaaa

    Like

  5. Wakakakak ini konyol bgt sumpah…. ngakak guling2 bacanya.. ngebayangin jimin nyerocos sendirian cerita ngalor ngidul.. plus kuki ny… astagaaaa… hahahaha 😄
    Sukaaaaakkk

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s