[BTSFF 1st Event] Min Yoon Gi

minyoongi-sj

Min Yoon Gi

by: SJ | Vignette: ±1600w

cast: Min Yoon Gi (BTS), Ra as you

Rating: PG-15

Genre: Family, life, hurt/comfort, slight!comedy

Rules : no plagiarism !

Disclaimer : Yoon Gi‘s belong to me himself.

This fic is absolutely based on real life–bapernya masih kerasa sampe sekarang. Hiks x(

(p.s.) maaf untuk judul yang ‘enggak banget’ ini ><

.

Summary:

Min Yoon Gi–lelaki kesayanganku.

.

Debaran tak berirama mendominasi jantungku. Selagi aku dirias, iris pekat milik lelaki di hadapanku menatap intens. Dari balik retinanya, aku menangkap pandangan kekaguman–mungkin.

Sayang sekali, aku tak berani berharap lebih. Karena, laki-laki ini–Min Yoon Gi–sampai matipun tak akan menunjukkan rasa kagumnya dengan berbagai untaian kalimat pujian yang membuai telinga. Tidak akan.

Padahal, aku berdandan seperti ini juga demi dirinya. Mengenakan gaun berwarna pastel yang manis, didandani bak seorang putri dalam kerajaan dongeng–sama sekali bukan tipeku. Jika bukan demi perhelatan akbarnya, aku tak akan sudi menyematkan riasan-riasan ini pada wajahku, sungguh.

Disaat yang lain sibuk memperelok paras, Yoon Gi masih tampak sangat kusut dengan kaus oblong tanpa lengan yang sudah berlubang di beberapa sisi. Belum lagi kantung mata yang membengkak akibat tak tidur semalaman, juga rambut harimau menghiasi kepalanya–mengerikan.

Sesekali, Yoon Gi menyudutkan salah satu ujung bibirnya–yang konon katanya mampu membuat gadis-gadis terpikat oleh pose andalannya ini. Tapi, tidak termasuk diriku.

Aku sudah sangat mengenalnya, menghabiskan sekian puluh tahun waktu bersamanya, membuatku cukup paham mengenai segala kebiasaan buruknya–itulah alasan, mengapa aku tak termasuk dalam kategori gadis yang terpikat oleh pesonanya. Well, Yoon Gi tak punya pesona yang terlalu menarik, menurutku.

Kau mengira hubungan kami sangat dekat? Tentu saja tidak. Aku tidak sedekat itu dengannya.

Pertengkaran-pertengkaran sengit tak terelakkan tiap kali kami bertemu. Entah, sudah berapa kali bola basket kesayangannya melayang tepat mengenai permukaan wajahku, jika aku membuat suasana hatinya buruk. Sudah puluhan ribu kali pula, aku dibuat menangis karenanya–saat ia merebut remote televisi dari tanganku.

Apa yang kau pikirkan tentang hubungan kami berdua?

Kau benar, aku dan Min Yoon Gi mempunyai nama keluarga yang sama, tinggal di sebuah rumah yang sama, memiliki satu ayah dan satu ibu yang sama.

Tapi, hal itu tak lantas membuat kami akur. Perbedaan pendapat, kebiasaan, dan kesukaan membuat kami tak tampak seperti–adik dan kakak yang normal pada umumnya.

Kudengar, Yoon Gi sangat ingin punya adik yang manis, dan penurut. Agaknya, ia kecewa ketika Tuhan memberikannya seorang adik perempuan yang serampangan, keras kepala dan menyebalkan sepertiku.

Yoon Gi sangat suka bermain basket, sedangkan aku–sangat suka menyembunyikan bola basket miliknya.

Aku, suka sekali menyetel dan menyanyikan music rock keras-keras, sedangkan Yoon Gi–sangat suka membakar semua koleksi kaset-kaset lagu kesukaanku.

Akui saja, aku payah dalam hal olahraga, apalagi basket. Maka dari itu, Yoon Gi tak pernah mengenalkanku pada teman-temannya–atau, mungkin ia malu, lantaran tinggi badan adiknya sudah mampu menyainginya, entahlah.

Dan, akui juga bahwa–Yoon Gi sangat buruk dalam bernyanyi. Oh, dia hanya mampu membuat berbagai lirik sosial yang cukup baik. Tapi tolong, jangan suruh ia menyanyi.

Pernah suatu kali, ia dan teman-temannya membuat sebuah mini album, untuk backsound proyek show freestyle basketball teamnya ke seluruh penjuru kota. Kala, suara Yoon Gi terdengar di berbagai radio, aku menertawainya keras-keras dan menyarankan pada setiap orang yang kukenal, untuk tak mendengar nyanyiannya. Dan–benar saja, pemberitaan mengenai–suara merdu dalam tanda kutip–milik Yoon Gi sudah menjadi asupan utama bagi khayalak ramai–untuk diumpat, tentunya.

Aku selalu datang dalam setiap pertandingan basketnya–untuk kemudian menjadi bahan ejekanku dirumah–tapi, Yoon Gi tak pernah datang dalam setiap pertunjukan bandku.

Seperti itulah hubungan kami. Tidak menarik, bukan?

Hari ini, Yoon Gi mendapukku untuk bernyanyi dalam perhelatan ikrar suci yang akan ia ucapkan bersama kekasihnya. Sungguh, hatiku melonjak girang lantaran senang sekaligus takut.

Aku takut mengacaukan segalanya–mengingat, aku tak pernah menyanyikan lagu ballad di depan ratusan pasang mata dalam sebuah ritual khidmat.

Impuls tersebut semakin meradang, kala sepasang manik di hadapanku mengintimidasi. Belum lagi sebuah rentetan kalimat penyemangat–atau lebih terkesan ancaman–menggelitik telingaku, “Bernyanyilah dengan baik Ra-yah. Kau pasti bisa bernyanyi dengan baik–eh, ralat. Kau HARUS bernyanyi dengan baik.” Yoon Gi berujar–disertai seringai. Entah, sejak kapan ia menjelma sebagai penyihir tua dan cerewet seperti ini.

Sebelum Yoon Gi beringsut pergi, ia menepuk puncak kepalaku. Seketika, aroma tak menyenangkan menguar dari sisi apitan lengannya yang tak tertutup kain. Ekor mataku menangkap sekelebat bulu bersarang disana. Memuakkan.

“CEPAT MANDI SANA! KAU BAU!” ledakku dalam amarah, sedangkan sang oknum malah terbahak, usai berhasil menjejalkan aroma ketiaknya pada rongga hidungku–dengan sukses.

***

Sang perias memuji betapa cantiknya diriku, kala ia telah menyelesaikan riasan pada wajahku. Mati-matian aku menahan tanganku untuk tak menghapus karya riasannya. Jujur saja, ini terasa sangat asing bagi kulitku. Beruntung,kehadiran ibuku menginterupsi kala jemariku mulai gatal merabai wajah.

“Cantik sekali, anak ibu.” Ujar ibu sembari menggengam punggung tanganku.

“Benarkah?” tanyaku ragu akan penuturannya. Pasalnya, jika aku benar-benar terlihat cantik, mengapa Yoon Gi tak mengatakannya padaku–tadi. Ibu membawaku untuk mematut diri bersama di depan cermin.

“Lihat, kau cantik bukan?”

“Tapi, kakak tidak bilang begitu.”

“Jadi, itu masalahnya?” ibu terkekeh mendengar penuturanku. Seolah memahami, bahwa anak perempuannya sedang dilanda kecewa akut, lantaran sang kakak tidak memuji penampilannya yang berbeda dari biasanya.

Ibu memosisikan dirinya untuk duduk di sisi ranjang, dan mengundangku untuk turut duduk bersama. “Oh, sayang, itu hanya masalah sepele. Ibu yakin, ada hal yang jauh lebih mengganggu pikiranmu saat ini.”

Tepat.

Ibu melontarkan bedil–tepat pada sasaran. Nyatanya, memang ada hal yang jauh lebih mengganggu daripada–sekadar tidak mendapat pujian.

Kenyataan bahwa, aku akan kehilangan lelaki kesayanganku lagi, membuat benteng pertahanan air mataku tak lagi dapat dibendung.

“J–jangan menangis, nanti riasannya rusak, sayang.” Ibu mencoba mencegah genangan air yang hampir melorot dari pelupuk mataku. Tapi, ibu gagal–malah, pada akhirnya, ibu ikut menangis bersamaku.

Aku belum sanggup melepas kakakku–untuk menjadi milik orang lain.

Hipokampus yang menghamba pada otak besar di kepalaku, kini giat bekerja menampilkan memori-memori mengenai–the most lovable brother–Min Yoon Gi.

Mungkin, sosoknya tak setegas ayah dengan kumis menjulang dan gurat keras pada setiap sisi wajahnya. Berbanding terbalik dengan wajah polos dan kekanakan milik Yoon Gi. Tapi, setidaknya ada satu hal yang membuat kedua lelakiku ini nampak sama. Yakni, semburat dingin dan bengis yang akan muncul jika ada lelaki kurang ajar yang berani memporak-porandakan hatiku. Hal tersebut, membuat para lelaki di luar sana segan untuk menyakitiku.

Mungkin, sosok Yoon Gi tak semanis bangsawan yang mengucapkan rasa terimakasihnya melalui kecupan singkat di punggung tangan, tiap kali mendapat hadiah ulang tahun dari–adiknya sendiri. Tapi setidaknya, dengan memamerkan boxer–bergambar tengkorak berpita merah muda; hadiah ulang tahun dariku–dan memakainya pada saat berlatih basket bersama teman-temannya. Cukup, untuk membuatku berpikir bahwa ia menghargai pemberianku–sekaligus, menganggapnya agak sinting.

Mungkin, seorang Min Yoon Gi tak setulus merpati, ketika ia mengantarku ke sekolah di pagi buta dengan wajah muram–hanya karena ayah yang memerintahkannya. Tapi, toh ia tetap mengantarku dengan alasan; tidak ada yang bertugas membersihkan kamar mandi, jika aku diculik orang asing.

Dan, mungkin–mau tidak mau–Min Yoon Gi lah satu-satunya lelaki yang menjadi tempatku bersandar semenjak kepergian ayah ke haribaan Yang Kuasa. Dan kini, aku rasa aku belum sanggup kehilangan lelaki lain lagi, setelah ayah.

Min Yoon Gi–lelaki kesayangan ibu; Aku–gadis kesayangan ayah.

Mantra itu terpatri dalam seumur hidup kami, namun sekarang bolehkah aku menambahkan satu hal?

Min Yoon Gi–lelaki kesayanganku.

***

Min Yoon Gi pembohong.

Dulu, ia sering sekali melontarkan pernyataan bahwa ia membenciku, tapi nyatanya–

“Dia cantik kan bu? Agak cerewet dan keras kepala sih, seperti Min Yoon Ra.” Masih terngiang di telingaku, kala ia berbisik pada ibu–menyamakan kekasihnya denganku. Sekalipun ia selalu mengatakan benci padaku, tapi lelaki itu–sadar atau tidak–selalu memilih gadis yang berkarakter sama denganku untuk dipacari.

Pernah, suatu ketika–di tengah guyuran hujan lebat di luar rumah. Saat listrik di seluruh penjuru distrik padam, Yoon Gi menangis di sisiku. Dalam suasana yang lengang, nampak kepribadiannya yang mencengangkan. Lelaki tertutup dan sok keren bernama Min Yoon Gi, terisak di hadapan adiknya.

Hanya karena–ditinggalkan oleh gadis yang menjadi cinta pertama dalam hidupnya.

Yang menghujam jantungku bukanlah tangisan paraunya, ataupun kisah buruknya–melainkan, kalimat mirisnya. “Tak apa, aku berharap kau tak mengalami hal yang sama denganku, Ra-yah.” Alih-alih menyalahkanku atas karma–yang harusnya kutanggung; karena kebiasaan burukku yang mudah meninggalkan pria begitu saja, saat merasa bosan–Yoon Gi malah membiarkan dirinya menanggung segalanya sendiri. Kakakku, yang malang.

Bukan sekali-dua kali ia mengalami hal yang serupa, membuat tanganku gatal ingin menghajar para gadis yang menyakiti hatinya, tapi di sisi lain, Yoon Gi–dengan paras sok tegar–selalu mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Dan hari itupun terjadi. Hari dimana–segalanya akan baik-baik saja–itu, terjadi.

Kini, telah ada tangan ramping yang melingkar di lengan kakakku–yang hari ini nampak menawan dengan tuxedo putih yang dikenakannya.

Seiring lonceng gereja berdentang, sayup langkah mereka terdengar dari ujung lorong. Menandakan bahwa, waktuku bernyanyi telah dimulai, mengiringi perjalanan sepasang insan menuju ke altar.

It’s been a long and winding journey–

But i’m finally here, tonight.

Dentingan piano mengalun lembut dari jemari lentik milik sahabatku. Kubiarkan suaraku menguar lepas dari kerongkongan, menyanyikan bait demi bait dari lagu milik Guy Sebastian–Angels Brought Me Here.

Sekelebat ingatan mengenai perdebatan singkat antara aku dan kakakku, muncul begitu saja seiring lagu ini kunyanyikan. Aku masih sangat ingat, ketika Yoon Gi menolak keras untuk menikah, sebelum diriku menikah lebih dulu. Dan, aku juga masih sangat ingat–saat itu, aku mengumpatinya habis-habisan atas keputusan konyolnya, karena usia Min Yoon Gi tak lagi muda.

Bukankah ini yang kuharapkan? Melihatnya menikah dan bahagia?

Aku sadar, aku tidak konsisten. Di satu sisi aku memaksanya menikah, di sisi lain aku tak ingin kehilangannya.

Air mataku tumpah lagi, tapi kali ini terasa bahagia dan menenangkan–kala, bayangan kakakku mendekat bersama calon istrinya. Hatiku merasa sedikit lega, saat Yoon Gi melebarkan senyum tanda kebahagiaan sekaligus kegugupan.

Dan, saat gadis cantik di sampingnya memandang lembut pada kakakku, untuk meredakan kegugupannya. Disitulah aku tahu, bahwa aku tak perlu khawatir lagi.

Kini, tak akan ada lagi gadis yang bisa menyakitinya, karena di sisinya kini telah bertambah lagi seorang gadis luar biasa yang akan mendampingi seorang Min Yoon Gi–seumur hidupnya.

-END-

Writer’s blablas:

Baiklaaaah sudah selesai; beserta cucuran air mata #lebay #plak

Padahal, pas pertama lihat temanya. Alamaak syusyah sekali man! Jangankan temanya, milih castnya aja mikir ribuan kali. Tapi nampaknya, Yoon Gi kita yang unyu-unyu ini cucok buat karakter si kakak, gak terlalu jauh OOCnya lah, juga ternyata, daku bisa juga bikin fic beginian temanya walau agak nyesek 😀

Seriusan, sudah setahun berlalu, daku sudah bisa ikhlas lahir batin atas pernikahan kakak laki-laki semata wayangku, mengingat daku sudah resmi menyandang status ‘tante’ sekarang. Mereka sudah mencetuskan (?) sebuah (?) dedek bayi yang sangat cantik dan menggemaskan. Jadi, sebodo amat sama bapak-ibuknya, yang penting anaknya lucu dan bisa dipamerin kemana-mana x)

Eneiwei, selamat ulang tahun yang pertama BTS FF ({})

Lafyah :*

11 thoughts on “[BTSFF 1st Event] Min Yoon Gi

  1. Tenang aja Ra-yah… Yang mendampingi Min Yoongi kan daku~ /plak/
    Ga bisa bilang apa-apa dudududu~ suka banget lah sama ceritanya…. keep writing thor~

    Like

  2. Baru sempet baca aaaaaa. Sumpah gue gatau harus ngomong apa,gue punya kakak sih 3 lagi tp yg serumah cuma 1 dan itu ngeselin bnget*curhat. Tapiii sejujurnya gue sama kayak karakter diatas. Berantem terus dan saling nyalahin tp kalo ditinggal sehari aja gue udh kangen. Mungkin kalo dia nikah gue bakal sedih juga ya… daaan masalah diksi ,alur dan lain2 perfect. uh i love this fic so much!

    Like

  3. Terharu banget deh bacanya. Oh iya aku ini yang melingkarkan tangan di lengan yoon Gi loh tadi. #plakk!!! *digampar author* hihihi.. ini ff mengingatkan aku sma kakaku yg punya nama mirip(?) Dikit bgt sama nama panggungnya yoongi. Kalo yoongi SUGA kalo kakaku SUGI haha miripkan? Kalo ngga mirip ya di miripin aja lah #maksa!! Hubungan persaudaraanku sama SUGI jg g beda jauh dari hubungan yoongi dan adiknya di ff ini. Sering berantem(hampir tiap hari malah) dulu. Tapi sbenernya saling menyayangi. Saling menjaga satu sama lain gitu.. aduh pokoknya aku merasa ter…. (apa yah? Lupa) terharu, dan ah pokoknya gitu lah. Hehehe.. (udah kehabisan kata2) anyeong…..

    Like

  4. Annyeong……
    Thor ketjeh terimakasih sudah membuat cerita ini….. Aku baca cerita ini berasa baca cerita yang ceritain pengalaman hidup sendiri 😀 ini cerita nya mirip banget sama cerita kehidupan ku xD tapi beda nya kakak ku baru mau nikah 6 bulan lagi…..

    Jadi sedih lagi kalau inget orang yang dingin nyebelin tapi perhatian banget bakalan diambil sama orang lain…..

    Pokonya keren bin ketjeh lah thor makasih udah bikin ff ini lope lope buat author <3<3<3

    Like

  5. aaaa~ aku suka ff nya, bikin terharu bacanya:’) apalagi castnya suamiku yoongi /gak xD
    trs ada bbrp part jg yg bikin air mata hampir keluar:’) good lah thor/? tpi tetep aku lebih seneng gapunya kakak cowo, soalnya liat sodaraku kadang dinistakan sm kakak cwonya/g xD
    jdi yg dlunya aku ngebayangin gmna enaknya pnya kakak cwo jdi buyar semua grgr liat nasibnya sodaraku wkwkwk. okedeh gitu aja curhatnya /eh /ditabok author/?
    haha kereen deh thor ditunggu karya selanjutnya ya^^

    Like

  6. ini siapa penulisnya?? ini siapaaaa?? /ganyante/
    seriusan,, setelah menimbang2 mana yang mau dibaca aku langsung tertuju sama summarynya yang simpel tapi bikin penasaran..

    Ah, Min Yoongi’ku….kamu tetep kakak idaman kok buat aku /lah sapa gue -_-

    nice, suka sekali dengan cara kamu menggambarkan dua bersaudara itu,, persis seperti aku dan saudaraku. kakak adik emang ga pernah bisa akur di luar, walopun di dalam mah sayang banget 😄

    cuma koreksi mungkin banyak sekali tanda koma yang tidak perlu. Malah membuat bacanya jatohnya aneh. tapi overall ini ringan dan menghibur sekali untukku. bukannya nyesek malah jatuhnya yang ‘wow deskripsi semua, keren’ (abaikan orang aneh ini)

    sukses sama eventnya yaa, semoga menang! 🙂

    Liked by 2 people

  7. sedih thor bacanya..
    aku gak mau kehilangan kakak aku :3 nanti gak ada yg ngajakin jalan2 :3 aku takut dia berubah -_- :v
    tpi thor ff nya bagusss buangettt nyampe thor hahha xD karakter yoongi disini aku suka bangt kakak yg baik xD dia gak rela kalo adiknya disakiti
    aaaaaa pokoknya suka thor ^^

    Like

  8. HUAaaaaaaaaa baca ff ini dan baca komen dibawah…bikin aku pengen punya Kka laki2, tp apa daya aku tak bisa 😭#Abaikan
    Btw, Kka prempuanku bln mei nnti mau nikah…. kok aku mlh seneng yaaa… nnti dirumah bakal bebas dari mak lampir itu *Nahloh (Knp saya yg jd curhat/?) #AbaikanLagi kekekeke…

    Tp asli ini kece…sukaaa pke banget 😍

    Like

  9. Baca ini bikin aku mikir gimana jadinya klo kakak laki2 semata wayangku jg nikah suatu saat nanti. Huhuhu. Tp kayaknya bakal aku duluan yg nikah deh, mengingat jarak umur sama kakak cuma selisih satu tahun *ditendang* -____-

    Tp serius deh, meski kakakku belum nikah, aku masih ngerasa iri plus malas bgt sama orang yg diperhatiin lebih sama kakakku. Errrrr. Padahal dulu sering dianter ke mana2, tp sekarang dia sibuk sendiri sama urusannya. Huhu. Okeh, kenapa ini jd malah curhat *digetok author*

    Aku suka bingits sama cerita ini krn ini bener2 aku banget. Wuahahaha. Sifat Yoongi di sini jg bikin aku seneng bgt(?). Gak tau, tp suka aja sama karakternya. Mwahahaha. Trs, yg namanya kakak nih, meski cuek bebek sama adiknya, pasti nggak mau lihat adiknya sedih. Jd gak heran klo Yoongi lgsg nyerang siapa pun yg berani nyakiti adiknya. Wuuus, pokoknya pasti sayang banget deh. Ciyuuuus~

    Oke, segitu aja deh. Ff ini keren! Keep writing, ya! 😄

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s