[BTSFF 1st Event] 미안해 오빠 (Oppa, I’m Sorry)

IMG_20150313_053711

| Title : 미안해, 오빠 (Oppa, I’m Sorry) || Genre : Family, Angst, Mystic || Length : Oneshoot || Cast : Min Yoon Gi (Suga BTS), Min Yoon Bi (OC) || Support cast : BTS member, Misterious cast (you can find who is he on last part), Min Family || Author : ZC |

Cr poster : mutiarahmah2908.wordpress.com

.

.

“Aku tak dapat melakukan apapun.  Maaf, Oppa.”

Author POV

KRINGG……

Bel pulang sekolah berbunyi lebih cepat daripada yang Yoon Bi perkirakan. Mungkin karena pelajaran guru Yoo yang menyenangkan dan tidak terlalu serius. Ya, aku rasa begitu. Pikir Yoon Bi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tak sadar.

Tangan kanannya sibuk menggendong tasnya. Sedangkan tangan kirinya dengan buku-buku pelajaran tebalnya.

Astaga!

Hampir saja Yoon Bi terjungkal karena terlalu kaget. Sejak lahir, Yoon Bi memang dikaruniai sebuah kemampuan untuk melihat sesuatu yang orang lain tak dapat melihatnya. Seperti sekarang ini salah satunya. Sesuatu yang sedikit menyeramkan menghalangi jalannya menuju luar kelasnya.

“Bi-ya!”

Yoon Bi berulang kali mengucapkan kalimat bersyukur. Ia telah melihat kakaknya yang menunggu di dekat pintu gerbang. Dengan secepat kilat gadis yang baru berusia sepuluh tahun itu berlari menghampiri kakak laki-laki satu-satunya itu.

“Hei! Bi-ya!”

Oppa, ayo pulang!”

“Tenanglah, bukankah kau sudah bertemu oppa?”

“Pulang!!”

Gadis kecil itu menendang kaki kakaknya dengan keras. Membuat kakaknya meringis menahan sakit.

Min Yoon Bi, adik perempuan dari Min Yoon Gi berusia sepuluh tahun. Ia sangat cantik. Dengan tinggi di atas rata-rata anak seusianya. Namun sifatnya yang sangat nakal, dan jahil itu yang kadang membuat Yoon Gi harus bersabar lebih. Ia takkan bisa untuk marah pada adik satu-satunya itu. Kenapa? Karena hanya Yoon Bi satu-satunya orang yang paling berharga yang masih dimilikinya. Dan Yoon Bi adalah malaikat kecilnya.

Yoon Gi ingat, saat ia membawa pacar-pacarnya ke rumah. Yoon Bi selalu mengatakan ia tidak suka. Dan berakhir dengan hubungan Yoon Gi kandas begitu saja. Alasannya, perempuan-perempuan itu tak tahan dengan kelakuan Yoon Bi. Yoon Bi akan melakukan apa saja agar pacar-pacar kakaknya itu merasa tak betah. Seperti menumpahkan jus ke baju mahal mereka, menendang kaki, menyandung, memukul, dan masih banyak kelakuan Yoon Bi yang memang agak keterlaluan lainnya.

Sedangkan Min Yoon Gi. Pemuda berusia lima belas tahun namun cukup disegani karena kekayaan keluarganya. Sifatnya urakan, senang mengikuti balapan liar–mobil maupun motor–, dan playboy. Ya, jangan tanyakan yang terakhir, karena memang jika ia memiliki seorang pasangan itu hanya karena sebuah taruhan. Selain itu hubungannya juga tak pernah bertahan melampaui waktu satu minggu, selain karena kelakuan Yoon Bi juga.

“Baiklah.. baiklah…,” Yoon Gi meringis, “pakai helm milikmu.”

Yoon Bi langsung menyambar helm berwarna biru laut itu dan memakainya. Bahkan Yoon Bi telah duduk di jok motor Yoon Gi–yang entah sejak kapan itu Yoon Gi tak tahu–dengan manis. Sepertinya Yoon Bi benar-benar ketakutan kali ini.

Yoon Gi hanya dapat menggelengkan kepala. Ia mulai men-stater motor sport–kali ini ia memakai warna merah–dan melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata.

.::oo*OO*oo::.

Yoon Bi membolak-balikkan buku pelajaran miliknya. Pekerjaan rumah yang diberikan guru Wang terlalu banyak dan memusingkan. Ayolah… Yoon Bi memang bukan anak yang bodoh, hanya saja ia sedang malas untuk mengerjakan pekerjaan rumah kali ini.

Pelajaran bahasa.

Yoon Bi membeci pelajaran bahasa. Yoon Bi lebih menyukai hitung-menghitung dan logika, persis seperti kakaknya. Apa sih asyiknya pelajaran bahasa? Menurut Yoon Bi sama sekali tidak menarik. Tidak seperti matematika, lebih menantang dan menuntut Yoon Bi untuk berpikir lebih keras.

Sekilas, Yoon Bi melihat ke arah jendela kamarnya. Hujan mulai turun dengan deras disertai dengan petir yang menggelegar tiada henti. Yoon Bi menyukai hujan, seperti namanya “Bi”. Tapi jika dengan petir, itu berbeda lagi.

PRANG!!!

Suara pecahan kaca yang cukup keras membuat Yoon Bi menghentikan aktivitasnya ‘melihat hujan dan petir di malam hari.’ Perlahan Yoon Bi melangkah menuju kamar kakaknya. Dengan sangat hati-hati ia membuka pintu kamar kakaknya. Matanya membulat seketika. Sepasang mata yang begitu tajam menatapnya, membuatnya mundur beberapa langkah ke belakang. Dan secara tiba-tiba, pintu kamar Yoon Gi menutup sendiri dengan keras.

Napas Yoon Bi memburu. Suaranya tercekat. Ia terlalu takut untuk mengingat kembali apa yang baru saja ia lihat. Ini lebih menyeramkan dibandingkan dengan makhluk-makhluk tak kasat mata yang pernah ia lihat. Bahkan kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya hingga jatuh terduduk di lantai.

“Yoon..Gi oppa…”

Perlahan, isak tangis dari bibir kecil Yoon Bi terdengar. Ia meringkuk memeluk kedua lututnya. Ia tak tahan mendengar suara-suara yang terdengar dari kamar kakaknya. Suara berdebum, kaca yang pecah, suara benda-benda yang dilempar,  dan suara rintihan kakaknya yang menahan sakit.

Hingga suara-suara itu lenyap, tak terdengar lagi.

Yang tersisa hanya suara isakan Yoon Bi yang beradu dengan suara hujan dan petir. Yoon Bi berdiri dengan tubuh yang masih bergetar. Dengan sangat cepat ia berlari menuju kamarnya dan mengunci pintunya. Ia membanting tubuhnya ke atas kasur dan bersembunyi di balik selimutnya yang tebal.

Tok… tok… tok…

Ketakutan Yoon Bi memuncak saat tak lama kemudian ia mendengar pintu kamarnya diketuk. Ia tak mau bertemu dengan makhluk itu lagi. Yoon Bi tidak mau!

Lagi, Yoon Bi mendengar pintu kamarnya yang diketuk. Namun, setelahnya sebuah suara yang sangat familier  tertangkap oleh indra pendengarannya.

“Bi-ya? Ini…oppa…”

Yoon Bi menggelengkan kepalanya. Itu memang suara Yoon Gi, kakaknya. Namun belum tentu juga itu adalah Yoon Gi. Mungkin saja ‘kan makhluk itu berubah menjadi Yoon Gi agar Yoon Bi membukakkan pintunya?

Hingga sebuah suara kembali terdengar.

“Sungguh, ini oppa, Bi-ya. Ia telah…pergi… ja..ngan takut…. Ada oppa di…sini…”

Suara itu terdengar terbata-bata seperti menahan sakit. Dan saat itu juga Yoon Bi yakin itu adalah suara kakaknya.

Bi-ya. Makhluk itu tak pernah memanggilnya selembut itu dan menggunakan nama itu. Dengan cepat Yoon Bi membukakkan pintu kamarnya.

Seketika ia terkejut. Tatkala tubuh Yoon Gi ambruk ke arahnya. Susah payah Yoon Bi menahan kakaknya yang beratnya lebih beberapa belas kilogram darinya. Memapahnya menuju tempat tidurnya dan membaringkan kakaknya di sana.

Wajah Yoon Gi terlihat pucat. Dengan luka dan lebam di beberapa bagian tubuhnya. Yoon Bi membekap mulutnya sendiri menahan tangis. Sungguh, bahkan di saat seperti ini orang tuanya belum juga pulang. Kedua orang tua mereka masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Terutama ayahnya.

Ia malah menikah dengan wanita lain. Yang membuat Yoon Gi benar-benar marah besar saat itu karena ayahnya telah membuat Yoon Bi menangis. Yoon Gi sangat menyayangi Yoon Bi.

.::oo*OO*oo::.

Yoon Gi mengerjapkan matanya berkali-kali. Refleks tangan Yoon Gi memegang keningnya, sakit dan pusing sekali rasanya. Yoon Gi berhenti memijat pelan keningnya dan beralih pada sosok gadis kecil yang tengah tertidur pulas dengan posisi memeluknya.

Yoon Gi tersenyum.

Yoon Bi pasti begitu ketakutan tadi malam. Makhluk itu datang lagi. Yoon Gi dapat mengingat begitu mengerikannya tadi malam saat ia berhadapan langsung dengan makhluk itu. Yoon Gi tak menyangka jika kemampuannya melihat ‘makhluk lain’ itu justru membahayakan dirinya.  Namun sepertinya, tanpa kemampuan itu pun ini semua akan terjadi.

Itu karena semua ini berhubungan.

Yoon Gi perlahan melepaskan pelukan adiknya itu dan berjalan keluar kamar Yoon Bi tanpa membuat suara. Badannya terasa sangat sakit. Semalam, walaupun ia telah berada di kamar Yoon Bi. Namun makhluk itu tetap mendatanginya melewati mimpi. Dan membawanya berjalan-jalan hingga pagi. Ini bukan khayalan Yoon Gi semata. Namun ia memang terkadang didatanginya pada saat-saat tertentu. Yoon Gi telah mengalami ini sejak kecil.

“Kasihan Yoon Bi, ia harus ikut merasakan betapa mengerikannya makhluk itu…”

Yoon Gi kembali memegang keningnya. Kepalanya masih terasa berdenyut-denyut sakit. Dan pemuda itu berjalan menuju kamarnya.

Berantakan sekali.

Sungguh kini kamar Yoon Gi lebih parah dari pada kapal pecah. Barang-barang berserakan di sana-sini dan beberapa telah pecah hancur berkeping-keping. Yoon Gi menghela napasnya panjang dan menghembuskannya kasar. Tidak ada kemungkinan jika ia tak akan didatangi lagi oleh makhluk itu malam ini.

.::oo*OO*oo::.

“Sopir Shin!”

“Ya, Nona?”

“Di mana Yoon Gi oppa?”

Wajar saja jika Yoon Bi bertanya seperti itu pada sopir keluarganya. Ketika ia bangun, matahari sudah lumayan tinggi. Dan lebih parahnya, ia tak menemukan kakaknya di kamarnya. Namun kamar kakaknya itu sudah rapi–ya, walaupun masi sedikit berantakan–yang  entah sejak kapan itu.

“Maaf, Nona. Sepertinya tuan Yoon Gi telah pergi ke sekolah menggunakan motornya.”

Yoon Bi menghela napas lega, “baiklah, sekarang antarkan aku ke sekolah.”

“Baik, Nona.”

Yoon Bi memasuki mobil Mercedenz hitam keluaran baru milik keluarganya. Sopir Shin yang telah bekerja cukup lama di keluarga ini. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi Yoon Bi untuk berlaku kasar pada beliau. Apalagi sopir Shin begitu baik padanya.

“Yoon Gi-ya!”

Yoon Gi menoleh. Seok Jin–salah satu teman bandnya–setengah berlari menghampirinya. Yoon Gi hanya menampakkan ekspresi datarnya.

“Apa?”

“Hei, kau tahu ‘kan jika akan diadakan kompetisi band?”

“Jam berapa?”

Maksud Yoon Gi mereka akan latihan jam berapa untuk kompetisi band itu, namun sepertinya Seok Jin salah menangkap pertanyaan Yoon Gi.

“Dimulai jam sembilan pagi sampai selesai.”

Yoon Gi menatap tajam temannya itu seperti mengisyaratkan sesuatu–bukan-itu-yang-kumaksud-bodoh!–dan pergi begitu saja. Membuat Seok Jin sedikit merinding.

Yoon Gi menghentikan langkahnya saat ia sampai di kelasnya. Duduk di kursi yang biasa ia tempati. Memasang headset, memutar lagu, dan mulai memejamkan matanya. Inilah yang biasa ia lakukan. Berusaha mengusir pikiran-pikiran kacaunya. Hidup Yoon Gi terlalu melelahkan. Tidak ada yang dapat diistimewakan pada hidup Yoon Gi.

Apalagi untuk terus hidup.

Tapi tidak!

Yoon Bi. Satu-satunya alasan mengapa Yoon Gi masih bertahan hingga sekarang karena Yoon Bi, malaikat kecilnya. Hanya Yoon Bi satu-satunya orang yang paling ia sayangi. Bagi siapapun yang membuat Yoon Bi menangis, atau menyakitinya sedikit saja, Yoon Gi tak akan segan untuk membalas lebih darinya. Pendapat Yoon Bi, pendapat Yoon Gi juga. Jika Yoon Bi mengatakan ‘tidak’, itu artinya ‘tidak’ pula pada Yoon Gi.

Bel masuk berbunyi. Sejenak, Yoon Gi membuka matanya. Dan berpindah tempat duduk di pojok bagian belakang. Kembali melanjutkan aktivitasnya–maksudnya tidur sambil memutar musik. Yoon Gi memang selalu acuh dalam mengikuti pelajaran. Namun entah mengapa jika saat diadakan tes, Yoon Gi akan mendapatkan nilai-nilai yang tinggi. Mungkin saja karena kemampuan otaknya yang berada di atas rata-rata?

.::oo*OO*oo::.

Yoon Gi yang sedang merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengahnya. Dengan kedua bola matanya yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Mengikuti alur dari deretan-deretan huruf yang tersaji di sebuah buku di tangannya.

Davinchi code.

Ya, buku tebal itu selalu menjadi bacaan favoritnya setiap hari. Namun, sepertinya kegiatan membacanya terganggu saat ini dengan suara kegaduhan yang berasal dari ruang depan. Yoon Gi meletakkan buku tebal tersebut dan berjalan perlahan mengamati apa yang tengah terjadi di sana.

Seketika wajah Yoon Gi memerah padam karena marah. Dengan langkah lebar-lebar ia menghampiri orang-orang yang berada di hadapannya dan menatap tajam salah-satunya. Beralih menatap iba pada gadis kecil di belakangnya, dan merengkuhnya lembut. Mengusap rambut gadis kecil itu pelan berusaha menenangkan tangis yang meluncur dari bibir mungilnya.

Yoon Gi kembali berdiri. Ia tidak dapat menahan amarahnya lagi. Dan apa lagi kekacauan yang ayahnya lakukan? Membawa istri barunya ke rumah? How dare? Apa ayahnya tidak memiliki otak untuk berpikir kembali?

Bugh!

Laki-laki yang berusia sekitar 40-an tersebut tersungkur di lantai. Baik, jangan salahkan jika Yoon Gi menjadi anak durhaka untuk kedua kalinya–yang pertama saat ayahnya tiba-tiba menikah lagi–karena kesalahan ayahnya sendiri. Ia benci saat melihat malaikat kecilnya menangis. Siapapun itu, Yoon Gi akan membencinya.

Appa, tidak! Bahkan kau sudah tak layak dipanggil dengan sebutan itu! Sekarang, keluar dari rumah ini bersama perempuan j*lang yang kau bawa! Aku sudah muak melihat wajahmu! Jangan pernah tampakkan wajahmu di hadapanku lagi!!”

Yoon Gi terus menghalangi adiknya untuk menyusul ayahnya–yang bahkan tak layak lagi disebut ayah–yang beberapa detik lalu melangkah pergi dari rumahnya, dengan mengendarai mobilnya. Yoon Gi tak peduli lagi.

Namun sial, dengan satu sentakan saat Yoon Gi lengah membuat Yoon Bi dapat melepaskan diri dan dengan cepat berlari ke arah jalan raya. Yoon Gi mendelik, secepat kilat ia menyusul adiknya tersebut. Mata Yoon Gi semakin membulat saat ia melihat sebuah mobil dengan kecepatan cukup tinggi melaju semakin dekat dengan adiknya. Dan yang lebih parahnya, Yoon Bi tidak menyadari jika dirinya dalam bahaya. Yoon Bi masih terus menatap bagian belakang mobil ayahnya–bukan ayah Yoon Gi lagi–yang semakin menjauh. Dapat Yoon Gi lihat bahu gadis kecil tersebut naik-turun karena terisak.

Tidak ada waktu lagi! Waktu semakin menipis dan mobil tanpa mengurangi kecepatan terus melaju mendekat.

“Bi-ya, awas!!”

TIIIIIINN!!!

Semua seperti mimpi bagi Yoon Gi. Suara tabrakan yang keras dan bau anyir darah mendominasi penciumannya. Namun pikirannya melayang entah kemana. Rasa sakit mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Terutama kepala dan kakinya. Namun itu tidak penting, yang paling utama adalah malaikat kecilnya. Apakah ia baik-baik saja?

Hingga sakit itu Yoon Gi tak dapat menahannya lagi. Dan semua menjadi gelap.

.::oo*OO*oo::.

Yoon Bi menangis meringkuk sendirian di sebuah ruang tunggu rumah sakit. Gadis kecil itu takkan pernah menyangka jika semua akan berakhir seperti ini. Berawal dari ia yang mendengar bel rumahnya berbunyi, membuka pintunya, ayahnya yang datang bersama perempuan lain, kakaknya yang marah, Yoon Bi berlari ke jalan raya, dan tiba-tiba saja Yoon Gi memeluknya. Melindunginya dari hantaman keras mobil yang melaju. Hingga mereka berguling-guling beberapa meter dan… pikiran Yoon Bi bahkan terlalu kacau. Ini terlalu rumit untuk anak seusianya.

Yoon Bi mendongak dan mencari sumber suara saat ia mendengar langkah kaki yang terburu-buru. Lensa matanya dapat menangkap seorang wanita dengan wajah oriental yang khas berjalan ke arahnya. Itu ibunya!

“Yoon Bi-ya! Astaga…”

Dapat Yoon Bi rasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya beberapa detik kemudian. Rasanya sudah sangat lama Yoon Bi tak merasakan seperti ini. Ibunya kini tengah memeluknya. Hangat dan nyaman, itu yang dapat Yoon Bi rasakan sekarang.

“Bagaimana dengan Yoon Gi?” Tanya wanita tersebut saat mereka telah duduk di kursi tunggu.

Yoon Bi menggeleng pelan. Itu sebuah kejujuran. Yoon Bi memang tidak tahu bagaimana keadaan kakaknya saat ini. Sudah cukup lama Yoon Bi berada di tempat ini, namun dokter belum juga keluar ruangan sekedar memberinya bagaimana kabar kakaknya? Tangan Yoon Bi terulur kembali memeluk ibunya. Wanita berdarah keturunan Arab ini masih terlihat cantik walaupun usianya yang terus bertambah setiap tahunnya. Oh, jangan bayangkan wajah wanita ini seperti apa. Cantik, tentu saja.

Tak berapa lama kemudian suara pintu terdengar berdecit. Serentak Yoon Bi dan ibunya menoleh. Dokter baru saja keluar. Dengan cepat ibu Yoon Bi–dan Yoon Gi–berdiri.

“Anda keluarganya?”

“Ya, bagaimana keadaannya?”

Dokter terlihat menghela napas, “luka akibat benturan di kaki dan kepalanya cukup serius. Ada beberapa bagian di kakinya yang mendapat luka cukup parah dan ada bagian yang mengalami patah tulang.”

Wanita itu tercengang. Tangannya merengkuh Yoon Bi yang mulai terisak mendengar keadaan kakak satu-satunya. Hingga satu lagi kalimat yang dokter ucapkan membuat air mata lolos begitu saja dari wajah cantik wanita tersebut.

“Dan di otaknya mengalami pendarahan yang cukup serius. Ia harus segera di operasi.”

.::oo*OO*oo::.

Ini sudah minggu kedua Yoon Gi di rumah sakit. Dan pada akhirnya Yoon Gi dapat membuka matanya merasakan silaunya lampu. Kepalanya masih terasa berdenyut sakit. Hingga ia sadar kepala dan kakinya–bahkan tangannya–dalam keadaan diperban. Apakah ini karena kecelakaan waktu itu? Saat dirinya menolong Yoon Bi dari mobil yang melaju kencang?

Sosok itu lagi. Batin Yoon Gi.

Ya, tiba-tiba saja sosok itu muncul lagi di hadapannya.  Sesosok yang begitu mirip dengannya. Hanya tahi lalat di dekat alisnya yang membedakannya dengan Yoon Gi.

“Bagaimana keadaanmu, saudara kembarku?”

Yoon Gi memutar kedua matanya malas. Ya, walaupun rasa sakit dirasakannya. Namun entah mengapa Yoon Gi dengan mudah dapat mengabaikannya, “aku baik-baik saja.”

Sebenarnya, sosok itu tidak menyeramkan. Rupanya masih berbentuk manusia. Ia adalah arwah dari saudara kembar Yoon Gi. Namanya, Min Yoon Jae. Ia sering mengunjungi Yoon Gi sejak kecil. Namun terkadang yang Yoon Gi benci darinya adalah saat ia berubah menyeramkan dan membuat Yoon Bi ketakutan. Karena Yoon Jae juga memporak-porandakan isi kamarnya, dan beberapa kali menyakiti diri Yoon Gi. Bahkan Yoon Jae sering membawa jiwa Yoon Gi berjalan-jalan melalui mimpi. Dan ketika Yoon Gi bangun di pagi hari, seluruh tubuhnya merasa sakit.

Sosok tersebut mulai menampakkan senyuman liciknya, “bagaimana jika sedikit berjalan-jalan dan bersenang-senang?”

“Tidak! Aku tidak mau!”

“Membantahku? Atau aku akan menyakitimu… dan adik kecilku yang sekarang tengah mengintip dari balik pintu itu?!!” ancam Yoon Jae dengan berbagai penekanan di setiap katanya.

Yoon Gi menoleh ke arah pintu. Dapat ia lihat bayangan Yoon Bi yang buru-buru menghilang itu. Yoon Gi menggertakkan giginya menahan marah. Tangannya mengepal kuat. Ia selalu kalah, ia harus selalu mengalah. Tidak ada jalan lain selama ini…

Sementara itu Yoon Bi seketika menjauh dari balik pintu saat Yoon Jae menyadari keadaannya. Ia tak menyangka Yoon Jae kembali datang. Padahal di saat seperti ini, saat Yoon Gi baru saja pulih dari komanya.

Sebenarnya Yoon Bi tak berniat mengitip. Hanya saja, ia sedang ingin mengunjungi kakaknya. Namun langkahnya terhenti saat Yoon Bi melihat sosok itu berdiri di samping ranjang kakaknya.

Tubuh Yoon Bi merosot. Ia telah mengetahui kejadian ini sejak lama. Namun kenapa ia tak dapat melakukan apapun untuk membantu kakaknya? Tidak membiarkan kakaknya tersiksa kembali oleh beberapa kelakuan tak menyenangkan dari saudara kembarnya? Yoon Bi merasa begitu lemah.

“Aku tak dapat melakukan apapun.  Maaf, Oppa.”

Yoon Bi kembali menangis dan menutup kedua telinganya, saat  ia mendengar suara erangan yang cukup menyakitkan kakaknya.

.::oo*OENDO*oo::.

[a/n]

Hallo,I am back with this fiction kkk~ inspirasi ini kudapat dari kisah hidup temanku. Dia anak band (Basis sama kadang jadi drummer), dan anak basket. Ini kisah nyata, walaupun ada sedikit yang kuubah. Jadi dia mempunyai saudara kembar yang meninggal saat umur mereka masih kecil. Dan saudara kembarnya selalu mendatanginya pada saat-saat tertentu untuk membawanya jalan-jalan melewati mimpi, dalam arti jiwanya dia mungkin yang pergi. Namun pagi hari dia udah bangun kayak biasa lagi. Tapi badannya sakit semua. Dia indigo dan adiknya yang umurnya sekarang sepuluh tahun juga. Dan kecelakaan itu bikin dia agak kesusahan main basket dan drumnya karena cidera dan efek operasinya.

Maaf ya aku ngangkat kisah hidupmu di sini… teman…. Dan ngubah beberapa kejadian aslinya…

Advertisements

7 thoughts on “[BTSFF 1st Event] 미안해 오빠 (Oppa, I’m Sorry)

  1. Ada kelanjutannya dong min, penasaran banget nihh… Oiya annyeong no imnida, aku suka sama semua ff yg ada di blog ini, ff yg ini juga suka keren….. Semangat min

    Like

  2. Adohhhh… baca ini mlm2 merinding ihh… kok kembarannya jahat gt sie, kan kesian Yoongi.huhuhu…

    Ini kisah nyatakan? Trus sampe skrng masih kya gitu gx? Gx ada solusinya gt? Kan kesian merekanya 😭

    Asli, ini keren…beneran gx nyangka kisah kya gini bener2 nyata. Ngebayanginnya serem, sungguh!!!

    Yg jelas aku suka Authirnim…huaaaaaa
    Dan sepertinya aku tahu siapa Author dr ff ini…kekeke *Kedip2UnyuBrngJin* 😉

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s