[BTSFF 1st Event] What a Manly Man Should Do

[poster] what a manly man should do

 What a manly man should do

A fanfic by Z

[BTS] Park Jimin [BTS] Kim Taehyung [BTS]  Jeon Jungkook

| AU, Friendship, Failed Comedy | Ficlet | G |

I own nothing except the plot

Terkadang Park Jimin terlalu memikirkan gengsinya sebagai seorang lelaki.

.

.

“Yakin kita akan lewat sini?”

Park Jimin melempar pandang sekaligus pertanyaan kepada dua orang bocah laki-laki di sampingnya, sedikit ragu.

“Memangnya kenapa?” Salah seorang dari dua manusia lain yang bersama Jimin bertanya. Kim Taehyung. Pencetus dan penyebab utama tiga pemuda yang masing-masing merasa paling tampan itu kini memaku langkah di depan jalan masuk sebuah gang.

“Buatku, sih tidak masalah.” Tepat di sebelah Tehyung berdiri seorang bocah lain. Sedikit lebih muda, sedikit lebih tampan dan sedikit lebih tinggi dari Jimin. Sedikit. Hanya sedikit. Ingat itu. Namanya Jeon Jungkook, adik kelasnya dan Taehyung.

Netra Jimin terkunci pada kegelapan pekat yang menguar dari jalanan sempit di sela-sela remangnya lampu penerangan. Nyaris tidak terlihat lalu lalang kehidupan yang biasanya mampu memanjakannya kala siang. Jika pagi identik dengan kicauan kenari, maka malam yang telah mengambil alih sukses menggantinya dengan suara jangkrik yang saling bersahutan diselingi celetukan burung hantu di setiap kesempatan. Jalanan sepi, tentu saja, karena ini sudah di atas jam sepuluh malam. Jam dimana biasanya Jimin sudah asik bergelut dengan kehangatan kasur dan selimutnya yang begitu menggoda, bermimpi indah dengan gadis-gadis rupawan, surai gelap yang menawan, rok mini dan —ups, sori, bukan saat yang tepat untuk membahas hal ini. Hal yang patut diketahui adalah Jimin benci gelap. Dan semua entitas kemistisan. Demi apapun, salah satu aktivitas yang paling tidak ingin dilakukannya adalah berjalan di malam hari di suatu jalan yang asing dengan hembusan angin dingin dan cahaya yang minim, bahkan jika ia bersama dua orang lainnya.

Jimin sedikit menyesal mengikuti keinginan impulsif Taehyung untuk menonton bioskop di kota tadi siang. Kombinasi Taehyung, Jungkook dan dirinya adalah sedikit penyesalannya yang kedua, karena mereka jadi terlalu asik bermain hingga lupa waktu dan tak tahu kalau malam sudah menunggu di luar sana. Jadi, kronologisnya adalah,  mereka menonton film di bioskop, bermain, kemalaman, nyaris ketinggalan bus terakhir yang menuju rumah mereka dan kini terdampar di pinggir jalan karena sang supir berhenti terlalu jauh dari perkiraan, ditemani lirih deru kendaraan yang mulai menghilang.

Jimin menoleh kembali. “Tidakkah sedikit–,” suara ludah ditenggak. “–seram?”

Taehyung terkekeh. “Oh, ayolah. Kau takut gelap?” Ia menepuk punggung kawannya. “Aku sudah pernah lewat sini malam-malam Jimin, dan tidak ada apa-apa. Aman.”

Oke.

‘Pernah’.

Tolong dicatat.

Taehyung memang bilang ia pernah melewati jalan ini. Ketika Jimin bertanya kapan, ia jawab saat umurnya sembilan. Itu sudah lima tahun yang lalu. Jadi, kata ‘aman’ yang ia ucapkan tidak bisa jadi acuan.

“Bukan begitu.” Jimin buru-buru menukas. “Hanya saja–

Jimin berpaling. Bayangan apapun yang bisa muncul dari kegelapan berkelebat di pemikiran. Hening sejenak. Bayangan kemungkinan yang bisa terjadi kalau ia salah memberi komentar muncul menggantikan. Dua pasang manik kristal menunggu jawaban. Hening lagi.

–tidak jadi.”

Oh, sial. Gengsi lelaki ternyata kelewat menguasai. Jimin tidak bisa mengaku saat ini. Tidak kalau resikonya adalah jadi bahan ejekan. Siapa yang bisa sangka apa yang bakal disebar Taehyung dan Jungkook kalau mereka tahu bahwa kegelapan dan segala tetek bengek maupun bonus dunia perhantuan yang entah kenapa selalu dikaitkan adalah mimpi buruk baginya? Satu hal, semoga saja ia tidak menyesal.

“Oke. Kalau begitu tidak ada masalah, ‘kan. Hyung jalan di depan.” Satu langkah lebih awal terpaksa diambil kaki kanan Jimin, didorong oleh sentuhan bertenaga di punggungnya oleh sang adik kelas. Nyaris ia terjungkal karena motoriknya–yang dipandu otaknya menolak apa yang refleksnya tengah lakukan.

Hey, aku, ‘kan tidak hafal jalan. Kenapa kita tidak jalan bertiga saja?” Jimin mencebik, melempar protesnya pada dua manusia di hadapannya.

“Jalanan ini terlalu sempit untuk dilalui bertiga, Jimin,” sahut Taehyung sok bijaksana. Dan memang sih, jalannya terlalu penuh kalau dipakai tiga orang.

“Atau hyung mau jalan di belakang?”

Setengah detik.

“Tidak. Aku akan jalan di depan.” Secepat penawaran, secepat itu juga sahutan terdengar. Dengan sok gagah Jimin segera menata langkah, buru-buru sebelum ada yang berubah pikiran.

Paling tidak, kalau dia ada di depan, dia tak akan khawatir ada sesuatu yang mencoleknya dari belakang. Taehyung dan Jungkook bisa jadi tamengnya. Kalau masalah serangan mendadak dari depan, solusinya bisa ia pikirkan belakangan.

Lima menit pertama perjalanan masih menyenangkan, walau Jimin tetap saja jantungan. Apa itu yang bergerak di bak sampah? Oh, cuma kecoa. Apa barusan ada yang melambai? Oh, hanya kain yang dibelai angin. Celoteh-celoteh riang dan guyonan saling mereka lempar sepanjang perjalanan. Beberapa pukulan di bahu melayang disusul jalur yang sedikit melebar sehingga Jimin akhirnya bisa melebur dalam satu barisan. Lima menit kemudian, sunyi mengambil alih. Mereka baru sadar betapa lelah mereka setelah aktivitas seharian. Susu hangat dan roti bakar, walau bukan kombinasi terbaik mungkin terasa cukup nikmat untuk dibayangkan.

Sebuah pertigaan dan Taehyung mengarahkan mereka untuk berbelok ke kanan, melewati beberapa baris sesemakan rimbun dan pagar yang aus dimakan rayap. Lesir angin membelai dedaunan, menimbulkan gesekan yang ditelinga Jimin kadang terdengar seperti bisikan. Inilah yang Jimin benci dari kegelapan dan malam hari. Terkadang susah membedakan mana yang nyata dan mana yang maya.

Di belokan kedua, petak tanah lapang mengiringi langkah mereka. Masih ada beberapa rumah yang lampunya masih menyala, tapi tetap saja tidak mampu mengalahkan pekatnya malam yang ada di mana-mana. Resiko kalau tinggal di daerah pinggiran perkotaan. Sepertinya sih dekat kota, tapi bangunan dan kondisi daerahnya masih campuran pedesaan. Masih cukup banyak pohon-pohon tinggi dan rerimbunan yang membuat suasana malam makin mencekam. Beberapa kali Jimin harus terlonjak karena gemeresak diantara semak-semak yang ternyata hanya kucing dan tikus yang berkejaran.

Tunggu, bau apa ini?

Entah hanya perasaan Jimin saja atau tiba-tiba memang ada aroma yang mendadak menyambangi indera penciumannya. Hidung Jimin mengendus sesuatu yang familiar. Aroma wangi yang mengingatkannya pada sesuatu yang biasanya mampu merangsang saliva dan pencernaannya mengekstrak enzim sebagai penanda bahwa ada sesuatu yang bisa dimakan. Masalahnya, Jimin tahu arti aroma menggoda itu lain lagi kalau kau menciumnya di tengah jalan, malam-malam. Belum lagi tidak terlihat apapun atau siapapun yang kelihatannya tengah menyalakan api yang mampu membuat aroma itu menguar sepanjang jalan. Saliva Jimin memaksa ditengguk tapi bukan karena kelaparan.

Oke, Jimin mulai merinding sekarang. Ia mengatur mental sekaligus detak jantungnya. Dua orang temannya tak ada yang bereaksi, masih setengah bermimpi mungkin karena rindu dengan kasur dan bermacam pelengkapnya. Tidak perlu mengusik mereka kalau begitu. Dia ingin segera lari sebenarnya, tapi katanya, kau hanya harus pura-pura tidak tahu kalau tak ingin diganggu.

“Hey, kalian mencium sesuatu?”

Sial. Kenapa Taehyung tiba-tiba bertanya.

“Tidakkah seperti ubi bakar?”

Jeon Jungkook, tak bisakah kau tidak memberi jawaban?

Dua pasang obsidian yang ada di samping Jimin saling mengunci. Jangan bilang mereka juga memikirkan apa yang sempat melintas di benaknya.

“Katanya, kalau ada aroma ubi bakar malam-malam–

Ini Taehyung.

“Artinya–

Jungkook menimpali.

“HANTU!!”

Diiringi teriakan, tanpa peringatan, dua bocah jangkung memacu langkah ke depan, meninggalkan Jimin yang tak punya kesiapan untuk ditinggalkan.

Jimin berusaha tak tampak gelisah meski dalam hati ia menyumpah. Kakinya terlalu gemetar untung langsung dipacu dan jantungnya juga memompa terlalu cepat karena dipicu.

Tenanglah Jimin, laki-laki itu tidak boleh menunjukkan ketakutannya dengan mudah. Bayangkan kalau ada seorang gadis yang melihatmu berlari sambil menjerit ketakutan. Itu tidak lucu. Seumur hidupmu kau bisa dianggap lelaki pengecut yang kabur karena takut hantu. Bagaimana kalau setelah itu bahkan tidak ada gadis cantik yang mendekatimu? Oh, hidupmu pasti hampa dan kau tak mau itu.

Kuatlah Jimin. Dengan begitu besok kau bisa cerita pada anak-anak bagaimana Taehyun dan Jungkook berlari tuggang langgang sementara kau dengan gagah berani tetap berjalan.

Tidak. Kau tidak takut Park Jimin. Kau tidak takut. Tidak akan ada apa-apa. Itu pasti hanya mitos. Kau laki-laki Jimin dan laki-laki itu harus–

Sebuah colekan yang lembut oleh semilir angin persis di tengkuk.

YA! Jangan tinggalkan aku sendiri.”

–berani.

Oh. Oke. Persetan dengan keberanian. Peduli dengan para gadis yang akan menertawakanmu di kemudian hari Park Jimin. Yang penting hari ini kau tidak ngompol sambil berdiri. Itu baru namanya laki-laki.

.fin.

a/n:

Ini.apa.duh.

Ini kisah nyata saya ketika ditinggal sendiri gara-gara aroma-aroma aneh saat perjalanan di malam hari dengan sedikit modifikasi plus dramatisasi, mencoba menyesuaikan dengan POV Jimin sebagai cowok, walau yah, failed ahaha

Kalau di Indonesia sih, biasanya bau singkong bakar, kalau di korea saya sudah berusaha nyari tapi kayaknya hantu di sana tidak identik dengan bau-bauan jadi saya ubah, dengan pemaksaan/uhuk menjadi ubi bakar.

Terima kasih bagi yang bertahan membaca hingga akhir.

Advertisements

9 thoughts on “[BTSFF 1st Event] What a Manly Man Should Do

  1. Rizfani

    Jimin kebanyakan gaya sih, lari juga kan jadinya. hahahaha!!!!!

    jadi ngerasa Jimin sedikit oon dah. #ditabok JImin
    maap min, piss dah piss. hehe

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s