[BTSFF 1st Event] BOOOM – O.M.A

req-boom-oma-2

BOOOM

Author: O.M.A || Cast: Jeon Jungkook and OC

Genre: Family, comedy(?), slice of life, AU || Lenght: Vignette || Rating: General

Disclaimer: Plot milik O.M.A.. Dan terima kasih Flickerbeat @artfantasy1st untuk posternya yang unyu(?)

Orang macam apa yang dengan santainya menjalani hidup ketika bermasalah dengan keluarga?

 

.

Tangan kanan Jungkook menggapai kenop pintu rumah, seraya tangan kirinya sibuk mengamit kantung kertas berisi french fries dari restoran cepat saji yang hanya beberapa blok dari sekolah. Dibukanya perlahan pintu kayu itu kala aroma makanan yang ia bawa terendus sampai hidung, mengirim impuls dari bulu-bulu hidung menuju otak, dan kembali membawa sebuah sinyal berupa suruhan—atau mungkin, lebih tepat disebut sebuah provokasi—untuk segera memakannya.

 

Tidak, tidak, pikir Jungkook, rambut kelamnya bergerak seirama dengan gelengan kepalanya. Kakaknya, Yumi hanya beberapa meter di depan, duduk santai di sofa panjang ruang keluarga dengan televisi menyala di hadapan. Dan tugasnya sekarang hanyalah bergegas memberikan makanan ini kepada Yumi. (Recehan uang di celengan kelincinya sudah ia sikat bersih untuk membeli makanan yang katanya kecintaan kakak tersayang. Jadi, ia harus tahan godaan kalau tidak ingin usahanya sia-sia.)

 

“Hai, Kak!” sapa Jungkook ceria sambil memamerkan senyum termanis, tertampan, serta terbaiknya yang jarang diperlihatkannya. Semakin dua tungkainya menggiring tubuhnya mendekati Yumi, hingga tersisa satu langkah saja dari gadis itu, Jungkook kontan menyembunyikan sebungkus hadiah sederhananya untuk kakak tercinta di balik badan mungilnya.

 

Kekehan kecil menerobos bibir tanpa Jungkook sadari, membayangkan bagaimana bentuk air muka Yumi begitu menyadari french fries yang masih mengumpet di belakang punggung kecilnya. Setelah menilik salah satu file otaknya, file tentang ibu yang pulang dari kantor dengan membawa dua porsi besar french fries untuknya dan Yumi, ia tampaknya yakin betul akan ekspresi yang akan ditampilkan Yumi. Tampang kakaknya itu sudah barang tentu menjadi cerah, makin manis dengan kemunculan satu lesung pipit di pipi kanannya. Lalu kedua matanya akan semakin nyaman dipandang begitu melengkung ke atas dan berseri.

 

Aw, hanya dengan berandai-andai saja, kedua sudut bibir Jungkook semakin mengembang. Hatinya bertambah mantap, bertambah yakin kalau-kalau kakaknya akan memaafkannya.

 

Ups, belum pernah diceritakan, ya. Omong-omong tentang maaf-memafkan, tiga hari yang lalu Jungkook telah melakukan sesuatu yang fatal. Well, dibilang fatal karena Jungkook sukses membuat Yumi bungkam pdanya selama dua puluh empat kali tiga jam, memperlakukannya bak orang-orang asing di luar sana yang tidak pernah tercantum di sejarah kehidupannya, setelah menjarah samseon jajanmyeon favorit sang kakak.

 

Iya, hanya karena mi hitam.

 

Maka dari itu, Jungkook pikir, ini aneh sekali. Padahal sudah tidak bisa terhitung oleh jari lagi kelakuan Jungkook yang seperti itu, tapi baru kali ini ia menjumpai sisi lain dari Yumi yang mendadak tidak mengacuhkan dirinya. Kapan pun ia menyapa, Yumi akan berpura-pura menjatuhkan apa yang ia pegang dan berlagak terkejut, atau—sok—mengomentari lukisan di dinding seolah-olah gadis itu adalah seorang pengamat seni handal, atau jika memang tidak ada yang bisa dijadikan alasan, ia hanya menganggap Jungkook sebagai senyawa karbondioksida kasat mata yang selalu dibuang dari jantungnya; tidak penting.

 

Sungguh, hampir tujuh tahun hari-hari Jungkook dipenuhi oleh kehadiran Yumi, namun baru kali ini hubungannya dan Yumi seakan tertarik magnet kuat yang tertanam di bawah jurang dan siap terpecah belah menjadi kepingan-kepingan malang. Jika dibiarkan terus, lama-lama Jungkook tidak betah dengan kondisi ini. Sekali lagi: Jungkook. Tidak. Betah.

 

Senakal apapun dirinya, Jungkook tetap seorang bocah kelas satu di sekolah dasar yang masih menghisap jempol ketika tidur. Bak bayi, menurutnya, dia tidak bisa berbuat banyak tanpa Yumi. Tanpa Yumi, pekerjaan rumah dari sekolah tidak akan pernah tuntas, karena Yumi adalah kakaknya yang selalu membantunya menyelesaikan tugas-tugas yang tidak ia pahami. Tanpa Yumi, Jungkook mungkin selalu terlambat ke sekolah, karena Yumi adalah kakaknya yang selalu menjewer kupingnya ketika ia tak terusik alarm ayam jagonya yang berdering nyaring di pagi hari. Tanpa Yumi, mungkin ia akan tamat diejek Taehyung, karena berkat bantuan Yumi, ia jadi pandai mengendarai sepeda roda dua.

 

Tetapi, poin penting yang membuatnya tak nyaman adalah perasaan bersalah yang bolak-balik merundung hati nuraninya. Orang macam apa yang dengan santainya menjalani hidup ketika bermasalah dengan keluarga?

 

Entah sudah berapa sekon terlewat sejak Jungkook menyapa Yumi. Dan akhirnya, Jungkook menyadari memang tidak ada balasan yang meluncur dari bibir Yumi, dan malah bunyi klarinet Squidward yang berseliweran di sekitar indera pendengarannya. Ia terdiam sejenak, memandang wajah bulat Yumi dengan memasang raut sedih. Oh, sungguh ia tidak pernah menyangka kakaknya akan semarah ini. Ia pikir, selama ini Yumi sudah terbiasa dengan sikapnya yang masih kekanak-kanakan (dan memang, Jungkook, ‘kan, masih anak-anak). Tetapi ternyata, tidak.

 

Menghembuskan napas panjang, Jungkook kembali memanggil Yumi, kali ini nyaris berbisik, namun masih sanggup diterima gendang telinga anak perempuan itu. “Kak Yumi.” Lagi, Jungkok menghirup oksigen secukupnya, lalu mengekskresikannya menjadi karbondioksida sebelum melanjutkan perkataannya, “Kakak masih marah?”

 

Yumi mendengarnya—malah dengan sangat jelas. Tapi, ia memilih bergeming, senantiasa membiarkan bola matanya memelototi acara kartun di televisi, tanpa ada niatan barang secuil pun untuk melirik, apalagai menoleh.

 

Well, yang Jungkook tidak tahu sampai detik ini ialah perasaan Yumi yang telah dibuat kesal setengah mati oleh polahnya yang super manja. Ia tidak tahu telinga Yumi terus-menerus berdengung setiap mendengar rengekannya yang menginginkan jajangmyeon kala itu. Bukan, bukannya Yumi bermaksud untuk tidak membagi kelezatan jajangmyeon itu bersama Jungkook. Hanya saja, sekali lagi, ia sangat sebal—dan peristiwa perebutan jajangmyeon tujuh puluh dua jam lalu sukses menyentil titik didih maksimum di kepalanya.

 

Bagaimana tidak? Jungkook, dalam artian yang sebenarnya, telah merampok dirinya. Seperti perampok bank yang lari setelah berhasil melaksanakan rencana, Jungkook pun langsung kabur ke kamar tidurnya begitu memperoleh jajangmyeon kepunyaan Yumi tanpa menyisakan seutas mi untuk si kakak. Jadi, jangan salahkan pasukan-pasukan ‘dongkol’ yang tanpa aba-aba menyerudukinya saat itu hingga kini. Apalagi, sambil memikirkan tabiat Jungkook yang acap kali merajuk di sana-sini setiap ia membawa makanan ke rumah, plus perangai Jungkook yang setiap jam istirahat menyambanginya ke kelas hanya untuk meminta uang jajan atau bekal makanan—iya, meminta uang saku dan makanan seperti bocah itu memintanya dari ibu; memangnya Jungkook pikir Yumi itu ibu?—pasukan dongkol itu tidak lagi singgah, melainkan memilih menetap dan resmi menjadi warga negara di hatinya.

 

Oleh karena itu, untuk kali ini saja. Untuk kali ini saja Yumi mati-matian melarang hasratnya untuk berbaik hati pada Jungkook. Ia bertekad tidak akan mengindahkan segala bentuk interaksi yang disuguhkan Jungkook padanya, tidak akan membagi makanannya atau barang-barang lainnya dengan Jungkook, hingga bocah itu—

 

“Maafkan Jungkook, Kak.”

 

—meminta maaf.

 

Mendengar sebaris kalimat yang terucap dari Jungkook, kedua netra Yumi sontak membelalak, rahang bawahnya otomatis terjatuh, dan ia tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk tidak melirik Jungkook yang tengah menunduk sampai-sampai dagunya menyentuh dada. Baru saja ia membatin dan… Jungkook sungguhan meminta maaf padanya? Jeon Jungkook, Si Bocah Tengil itu?

 

“Maafkan Jungkook, Kak,” ulang Jungkook sembari menyodorkan sebungkus makanan ke hadapan Yumi. Kepalanya tak lagi menunduk, nada bicaranya terdengar penuh penyesalan. “Jungkook minta maaf sudah merebut jajangmyeon Kak Yumi. Jungkook menyesal,” akunya. “Dan ini, Jungkook belikan kentang goreng sebagai gantinya karena toko jajangmyeon langganan Kak Yumi tutup.”

 

Awalnya, Yumi masih ingin berlama-lama menonton aksi  Spongebob Squarepants dan rakyat Bikini Bottom lainnya karena jujur saja, rasa gengsi ini masih menyelimuti seluruh jiwa dan raga. Tapi, lama-lama bau french fries itu menguar bebas di udara dan mengakibatkan irisnya tidak tahan untuk tidak mencerling makanan cepat saji itu secara gamblang. Kesepuluh jari tangannya pun di bawah koordinasi yang sama seperti kedua matanya, tidak bisa mengelak untuk tidak menimang jalan mana yang harus dipilih: mengambil atau membiarkan.

 

Tapi….

 

Ugh, ya sudahlah.

 

Benteng dalam diri Yumi runtuh seketika, terhasut wewangian french fries yang bahkan terasa sedemikian renyah di pikirannya. Gadis itu menerima wadah cokelat itu dengan tangkas dari Jungkook. Sekilas, dapat ia lihat tingkah Jungkook yang melompat-lompat kegirangan sambil menyerukan frasa “Aku berhasil!”, menyambut fakta yang baru saja terjadi. Namun, hal itu tidak bertahan lama sesaat setelah Yumi berkata, “Kamu pikir aku sudah memaafkanmu?”

 

Well, oke. Seperti sebelumnya, mendadak suasana kembali hening, dan saat ini giliran tawa cempreng Spongebob yang bergema. Dengan kedua tangan terangkat, Jungkook mendelik sangar, menatap Yumi tidak percaya seolah ia telah mendengar kabar bahwa besok kiamat. “Kok begitu, sih, Kak?! Jungkook, ‘kan, sudah membelikan kentang—“

 

“Tapi, bukan berarti aku memaafkanmu, tahu!” sela Yumi, mencebik. Mengubah sedikit posisi duduknya, persendian lengan Yumi tergerak membuka kantung kertas cokelat di tangannya agar dapat segera mengecap makanan renyah itu. Wah, asinnya kentang lumer di dalam mulutnya. Nikmat!

 

“Kak!” seru Jungkook, menggerutu. Kalau begini, ia harus—“Kembalikan kentang itu!”—merebut kembali french fries itu hingga titik darah penghabisan! Ia tidak terima! Jelas ia akan rugi besar jika kentang itu menjadi milik Yumi, padahal gadis cilik itu masih belum—atau bisa jadi tidak akan—memaafkannya.

 

Argh! Lalu, bagaimana nasib Jungkook di masa depan? Masa ia terus bermusuhan dengan Yumi? Kalau begitu terus, ia bisa… bisa saja… mengkuti jejak Taehyung yang berkepribadian alien itu.

 

Jungkook tidak mau! Pokoknya tidak mau!

 

“Ingat, ya, Kook! Tadi kamu bilang ini sebagai ganti jajangmyeon yang kemarin, bukan?” Jungkook mau tidak mau membenarkan ucapan Yumi dengan sebuah anggukan kepala. Memang, kentang goreng itu sebagai ganti jajangmyeon yang kemarin, tapi ia juga tidak memprediksi sebuah ending yang seperti ini. “Ya sudah, berarti ini untukku,” lanjut Yumi.

 

“Tapi, Kak—“

 

“Sudah, deh, Kook. Kalau ini untukku, berarti untukku,” ujar Yumi yang kemudian berdiri dan melenggang menjauhi Jungkook, berjalan menuju tempat ternyaman di bangunan ini—kamar tidurnya. Belum mencapai langkah ketiga, Yumi berbalik dengan senyum merekah di paras ayunya. “Dan terima kasih banyak atas kebaikanmu! Semoga kamu tidak pelit lagi, ya, Kook!”

 

Ugh, Kak Yumi!!!

 

The End

N.b: Haaai! Pertama aku mau bilang terima kasih sudah bersedia membaca cerita jelek begini, aku nggak percaya diri sama hasil ff ini. Absurd dan aduh rasanya kjdsfnfvbyj banget sih setelah ngirim ff ini ke blog ini. Huhuhu. Terus, big thanks untuk kawanku tercinta yang kapan hari cerita kalau dia sering digosipin keluarganya gara-gara pelit dan nyaris tengkar sama adiknya cuma gara-gara makanan. Hihi. Aku juga, sih, soal makanan kadang sayang banget. Byeee~! XD

Advertisements

4 thoughts on “[BTSFF 1st Event] BOOOM – O.M.A

  1. Jung Han Ni

    jongkooknya lucu banget sih >< tapi kasian dia udah beliin makanan pake seluruh uang di celengannya tapi ka2nya blm maafin dia kkk~ 😀

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s