[BTSFF 1st Event] What’s Wrong With Friday

1 1 poster Untitled-1 copy

 

Author : SE
Main Cast : Jeon In Ha (OC) & Jeon Jungkook (BTS)
Length : Oneshot
Rating : PG-13
Genre : Family, Comedy.

 

Summary :

“Hari ini hari jumat? Tunggu, biar ku cek dulu.”

Disclaimer :

This story is pure mine and about my reality story.

.

.

Hari ini hari jumat? Tunggu, biar ku cek dulu. Ah, iya. Ternyata memang benar. Sekarang ini hari jumat telah datang menyapa. Entahlah, akhir-akhir ini telingaku menjadi sensitive  tiap kali hari jumat disebut. Ada saja ganjalan yang terasa bila aku hendak memulai hari yang kata teman-teman di sekolahku terasa santai ini. Padahal menurutku, Jumat terasa begitu menyeramkan dan seketika membuatku merinding tanpa sebab. Kenapa ya?

Apa…

Oh!

Iya, iya. Aku ingat!

Ini semua pasti bermula dari hari itu……

.

.

Jumat, 27 Februari

KRINGGG KRINGGGG~

Di tengah sensasi nyaman yang diliputi hawa dingin bercampur hangat, sebuah suara berisik entah dari mana asalnya berseru di samping kepalaku. Telingaku seketika merasa terganggu karenanya, namun nyatanya mataku masih betah terpejam tanpa peduli lagi. Rupaya kelopak mataku masih mementingkan kinerja otakku yang masih ingin istirahat. Bahkan tubuhku rasanya terlalu berat untuk digerakkan barang menyikap selimut.

Namun entah mendapat bisikan dari mana mataku tiba-tiba terbuka dengan cepat. Dan seketika itu pula terangnya cahaya matahari sudah menembus kaca jendela kamarku. Dengan wajah mulai panik, takut-takut aku melirik jam beker di laci samping ranjang. Sungguh aku tak percaya apa yang telah kulihat setelahnya.

“YA JEON JUNGKOOK KENAPA KAU TIDAK MEMBANGUNKAN NUNA???!!!!”

.

.

Dan kau tahu apa yang terjadi setelahnya?

.

.

Jumat, 27 Februari

Tak menunggu lama lagi, kakiku segera menapaki lantai dan segera berlari menuju kamar mandi. Bergegas mandi tentunya. Mengganti pakaian sekolah, menyemprotkan minyak wangi, mengikat rambut sampai tinggi, menyikap tas sekolahku, dan langsung bergegas. Aku harus cepat!

Tapi sayangnya kala aku baru saja keluar dari kamar, isi rumahku tenyata sudah sepi.

“Sial, apa anak itu sudah pergi ke sekolah duluan?”

Lantas merasa dongkol akupun segera menuju garasi untuk mengambil motor kesayanganku yang biasa ku pakai ke sekolah. Dan lagi-lagi sepertinya aku harus di uji. Bahkan wajahku sepertinya sudah mulai memanas, hati terbakar, dan tangan mengeras.

“DIMANA MOTORKU?!”

Yeah, benda beroda dua itu tak ada disini. Kunci motor yang biasanya menggantung di dinding garasi itupun tak ada. Ubun-ubunku memuncak sampai ujung kepala. Tanpa sadar jemariku sudah meremas gemas ujung rok ku.

“MATI KAU JEON JUNGKOOK!”

.

.

Benar-benar. Jumat itu aku sudah dirundung kesialan mulai dari pagi. Tsk! aku tak pernah membayangkan kalau  mengandalkan seorang adik lelaki ternyata malah mendatangkan masalah bagiku. Saat itu ayah dan ibuku pergi ke Busan karena menjenguk nenekku yang sakit. Berhubung aku dan Jungkook disungguhi tugas sekolah yang menumpuk, kita tak bisa ikut kesana.

Parahnya, anak itu sudah menyulut masalah denganku. Alarmku di setting saat aku telah tertidur lelap. Aku jelas-jelas sudah memasang alarm pukul setengah 6 pagi. Namun anak nakal itu malah merubahnya jadi pukul setengah 7. Sialan sekali, bukan? Pantas saja aku jadi kesiangan. Dia juga membawa sepeda motorku ke sekolah, sementara aku ditinggalkan dengan sepeda motornya yang bensinnya sudah nyaris habis. Kau bisa bayangkan betapa nakalnya anak itu, bukan? beruntung kala itu aku tidak terlambat ke sekolah karena berhasil mengendari sepeda motor miliknya dengan kecepatan sangat tinggi.

Tapi…

Sepeti yang kubilang tadi, ini baru permulaan.

.

.

Jumat, 27 Februari.

Kegiatanku di sekolah ternyata berjalan lancar-lancar saja meski tadi nyaris saja satpam sekolah menutup gerbang. Beruntung pula aku tidak jadi digiring oleh guru piket menuju ruang BK. Sepertinya Tuhan menurunkan petolongannya padaku karena sayang padaku juga mendengar doa yang ku komat-kamitkan sejak tadi agar selamat dari vonis hukuman. Akupun sukses belajar dengan nyaman. Mendengar guru menjelaskan materi sembari mencatat poin-poin penting. Yah meskipun aku sempat di tegur oleh guru matematika gara-gara lupa membawa buku paket. Setidaknya guru berkumis lebat itu tidak mencatatku ke dalam daftar pelanggaran, jadi aku masih merasa aman dan tenang.

Tiba sampai pukul 3 siang, bel pulang didentumkan. Inilah moment paling membahagiakan bagi kami para murid yang semenjak tadi nyaris ketiduran di kelas saking bosannya akan pelajaran yang menjenuhkan. Maka dari itu, kami akan langsung memberesi buku-buku kami dan secepat kilat memasukkannya ke dalam tas. Seusai memberi hormat dan salam pada pembimbing, kami pun berhamburan keluar kelas. Diantara mereka-para murid-langsung merangkul kawanannnya masing masing. Membuka topic pembicaraan, tertawa, lalu berjalan bersama-sama menuju tempat parkir. Beberapa couple sekolah pun terlihat saling menghampiri sambil saling melambai serta bertegur sapa . Tak jarang juga murid lainnya berlarian kecil mendatangi ruang guru untuk konsultasi perihal materi pelajaran yang ingin mereka tanyakan. Yeah, kalau itu sudah pasti murid yang pintar dan rajin.

Lalu aku? tentu aku akan langsung pulang ke rumah. Kali ini aku benar-benar ingin cepat pulang. Berangkat terburu-buru, pulangpun aku jauh lebih terburu-buru. Dahiku mendadak dibanjiri keringat. Sebelah tanganku memegangi perutku. Ahhh, makan apa ya aku semalam? perutku ini sangat sakit sekali! Sebenarnya sejak sejam yang lalu aku sudah ingin buang air besar. Mengingat aku bukan gadis yang bisa buang air besar selain di rumah, aku menahannya sampai bel pulang berbunyi.

“Siaaal, aku tak tahan!”

 

Sekarang ini aku sudah setengah jalan. Sekitar 1 km lagi aku akan tiba di rumah. Yeah, sedikit lagi, sedikit lagi, Hwaiting Jeon In Ha! bayang-bayang kamar mandi sudah tergiang di pikiranku.

Greek Greek

“Eh, ada apa ini?”

Tiba-tiba di tengah jalan motor ini berhenti. TIIIINNNNN-seketika itu pula kendaraan lain di belakangku membunyikan klakson sekencang-kencangnya. Aku pun akhirnya tersadar kalau tadi aku membawa motor ini dalam keadaan bensin nyaris abis. Oh God, what should I do now?

Dunia mungkin memang benar-benar ingin menguji kesabaran seorang Jeon In Ha. Seraya menahan malu di balik kaca helm, aku turun dari motor lalu menggiringnya ke pinggir jalan. Bensinnya benar-benar kosong. Jadi sia-sia saja kalau aku berusaha menghidupkannya. Ugh, ini  berkat JUNGKOOK! awas saja kalau aku menjumpaimu di rumah adik tersayang! gara-gara sakit perut tadi aku lupa kalau bensinnya habis. Dan setelah motor ini mati di tengah jalan raya, rasa mulas untuk buang air besar hilang 100%.

Mataku menyusuri sekitar, berharap menemukan tempat bensin yang di jual di toko kecil. Entah karena aku terlihat membutuhkan bantuan atau bagaimana, seorang wanita paruh baya menghampiriku dan berkata,

“Bensinnya habis? sebaiknya kau membelinya di toko sana” Ia menunjuk toko kecil di ujung jalan yang tadi sudah kulewati. Hmm sepertinya aku harus berjalan kesana dan membawa sebotol bensin kemari karena tak mungkin aku mengendarai motorku di jalur arus balik. Setelah mengucapkan terimakasih, aku berlalu segera menghampiri toko itu.

“Permisi”

Ne?”

“Boleh saya membeli bensin ini sekaligus botolnya? saya harus membawanya ke sana. Motor itu benar-benar sudah mati”

Setelah nampak ragu, akhirnya ia mengiyakan dan memberikan sebotol bensin itu dengan harga lebih tinggi. Lagi, dan lagi aku berlari menghampiri sang motor. Namun, Pyaaaanggggg

Kejadiannya begitu cepat. Botol bensin yang kubawa meluncur dari genggamanku dan terbanting ke trotoar begitu saja. Aku yang masih syok hanya mampu mengangakan bibir sampai tanpa kusadari bibi penjual bensin sudah menghampiriku.

Aigoo kau ini, kenapa tidak membawanya hati-hati, eo?” ujarnya sedikit membentak sambil berjongkok memunguti pecahan kaca di bawah sepatuku. Orang-orang yang berlalu lalang otomatis menghentikan langkahnya dan memandangiku. Sebagian pengemudi juga sampai menghentikan kendaraannya, penasaran akan apa yang terjadi di sekitarku. Benar-benar, air mataku nyaris tumpah saat ini juga.

.

.

Aku sungguh tidak akan lupa kejadian memalukan itu. Aku pasti terlihat begitu konyol bagai pemeran badut yang melakukan hal menggelikan. Ugh….aku benar-benar ingin menangis.

.

.

Jumat, 27 Februari.

“Ya, nuna kenapa baru pulang?”

Begitu sampai di bibir pintu rumah, aku sudah melihat Jungkook duduk di sofa dengan kaki terlipat, like a boss tanpa wajah berdosa. Ia menatapku sembari melahap keripik kentang dengan santai. Melihat itu aku sudah tak lagi bisa menahannya.

“Kenapa kau melakukan ini padaku, eo?!”

“Eh?”

Air mataku pun akhirnya keluar dan tas yang kubawa sudah kulempar ke arahnya.

“Tega sekali kau Jeon Jungkook. Usiamu baru 16 tahun tapi kau sudah berani mengerjaiku yang 2 tahun lebih tua darimu! kenapa, eo?! Kau tahu, aku nyaris saja terlambat. Gara-gara kau, aku lupa membawa buku paket matematika. Gara-gara motormu, aku harus menahan malu di depan umum! Jahat sekali kau ini!” Sejenak aku menahan nafas. Emosiku meluap tak terhankan. Amarah yang kutahan semenjak pagi tadi akhirnya membuncah.

“Kau ini… kau tahu motormu itu mati ditengah jalan, bodoh. Aku terpaksa harus berbalik arah dan berlari mencari bensin. Kemudian aku tanpa sengaja menjatuhkan botol bensin itu di trotoar dan berujung dimarahi oleh bibi penjual bensin itu karena menyebabkan serpihan kacanya berserakan. Orang-orang sampai menghentikan langkahnya dan menjadikanku tontonan. Puas kau, hah?!” lontarku tak terkendali sambil menangis tersedu-sedu.

Nuna….”

“Hiks hiks hiks….”

Mian….”

“Aku membencimu”

“Kumohon maafkan aku”

“Tak ada gunanya bodoh…. hiks…”

“Aku sadar perbuatanku sangat keterlaluan, nuna. Tapi aku benar-benar tak tahu kalau akan berakibat sefatal ini. Kalau nuna kesal padaku lebih baik tendang saja bokongku seperti biasanya, kalau nuna sangat marah lebih baik pukuli lenganku saja sampai puas. Kumohon jangan menangis begini. Nuna terlihat aneh kalau menangis. Nuna membuatku harus menahan gengsi untuk minta maaf pada nuna

Anehnya mendegar kalimat terakhir Jungkook, air mataku perlahan berhenti. Sungguh aneh mendengar kalimat ‘Nuna terlihat aneh kalau menangis. Nuna membuatku harus menahan gengi untuk minta maaf pada nuna’ karena biasanya, kalau orang itu memang berniat menenangkan, maka ia akan berkata ‘Menangis saja kalau ini dapat menenangkan nuna dan memaafkan berbuatanku’. Kata-kata yang baru saja ia ucapkan memang terkesan  kalau ia sama-sekali tak merasa bersalah, tapi hal ini justru berimbas banyak pada benakku. Rasa kesalku menyusut hilang tak tahu kemana. Isakan tangisku sudah mereda. Bahkan sudut bibirku menyunggingkan secercah senyuman tipis.

Kali ini, malah aku yang merasa bersalah.

Tanpa ragu aku langsung menariknya dalam pelukan. Masa bodo ia kebingungan atas apa yang kulakukan.

“Lain kali jangan kau ulangi, atau aku akan menendang bokongmu lebih keras dari sebelumnya”

Yaak nuna, ini artinya kau memaafkanku? k-kalau begitu lepaskan pelukanmu”

“Diam. Kalau kau protes lagi aku benar-benar akan menendang bokongmu”

.

.

Yeah, aku tahu itu. Ini memang cerita singkat yang aneh karena berahkir memaafkannya dengan mudah. Tapi ini justru mengajarkanku banyak hal. Sekesal-kesalnya aku pada Jungkook, aku tetap tak bisa membencinya karena ia satu-satunya adik yang paling langka di dunia. Aku juga tak peduli jika tak iklash minta maaf padaku. Karena bagiku, usaha perminta maafnya lah yang terpenting. Hanya ia yang mampu membuatku marah sampai klimaks dan membuatku luluh dalam waktu bersamaan.

Satu lagi. Aku memang sudah memaafkan Jungkook. Tapi jangan harap aku bisa melupakan kejadian di hari Jumat lalu. Dan jangan salahkan aku karena sudah membencinya.

.

.

FIN

.

.

 

Sebelumnya aku mau ucapin makasih banyak buat admin yang ngijinin ff ini buat di post dan para readers yang berkenan untuk membacanya. Dan jujur aja aku gayakin kalau ff ini bisa lolos sebagai sebagai pemenang karena ide ceritanya yang masih mentah dan ending yang sangat konyol buatku.

Advertisements

4 thoughts on “[BTSFF 1st Event] What’s Wrong With Friday

  1. Aku bacanya seakan-akan ini pengalaman pribadi author *sok tahu. hahaha
    Bagus, bagus, feel dijahilin dek Jungkook kerasa bangeeet… dan wajah polos dek Jungkook juga kebayang banget.. Ya wajah-wajah inosen *by the way, adik tingkatku ada yang wajah polosnya mirip jungkook. Imut banget, ngegemesin, dan disayang semua orang. 11 12 lah kayak jungkook *lovesign

    Like

  2. risa

    Haha 😀memaafkan jungkook semudah itu?! Padahal dia sudah membuat masalah yg menurutku tidak bisa dimaafkan.ok daebak thor 👍👏👏

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s