[BTS FF Freelance] Bloody Hill (Part 8)

BLOODY HILL POSTER 2BLOODY HILL PART 8

Main Casts      :

  • Park Jimin of BTS as Jimin & James
  • Oh Hayoung of Apink as Hayoung & Princess Hanna
  • Jung Eunji of Apink as Eunji
  • Jeon Jungkook of BTS as Jungkook & Prince Johnathan

Support Casts  :

  • Park Chorong of Apink as Bibi Park
  • ??? of ??? as The Evil Witch

Genre              : Fantasy, Romance
Rating             : PG-17
Length             : Chaptered

Disclaimer       :

Annyeong, chingu^^ Bloody Hill chapter 8 alhamdulillah sudah di post hehe 😀 Jeongmal mianhae merubah uri maknae menjadi semakin berdarah dingin di chapter ini L Dan rating author naikkan menjadi PG-13. Dan mungkin kalian penasaran siapa other cast “???” silahkan dibaca dan temukan jawabannya J Oh ya, di sini Jungkook akan sering mengeluarkan ekspresi “senyum tenang namun dingin.”. Buat yang bingung, kalian pada nonton Twilight saga kan? Kalian tahu dong ekspresi yang muncul dari musuh vampirenya keluarga Cullen? Ya kurang lebih seperti itu ekspresinya^^ Atau kalian bisa bayangin ekspresinya Yoo Rachel di drama The Heirs hehe. Well, buat yang penasaran sama kelanjutan kisah cinta Jimin & Hayoung, check it out!

The casts are only belong to God, family, management, and YOU as their fans. I just own the storyline. I hate plagiarism and please don’t be a siders. Warning, typo everywhere J

Last but not least, Happy reading^^

.

.

.

.

.

Summary         :

Jungkook banting stir ke kiri, ketika dia melihat sosok yeoja berpakaian serba putih tiba – tiba melintas di hadapannya. Mobil Jungkook hilang kendali dengan rem yang blong, mengakibatkan mobilnya menabrak batang pohon yang besar, sehingga kap mobilnya ringsek. Dan Jungkook tidak sadarkan diri.

Sementara sosok yeoja itu, tersenyum lalu menghilang dari pandangan….

 

Flashback sebelum Jungkook kecelekaan

“Sekarang, kita harus bergegas! Dia akan sampai sebentar lagi.”, ucap Eunji. Jimin dan Hayoung terkejut karenanya. Mereka tidak menyangka pelarian itu akan berlangsung sesegera ini. Lalu, Eunji berlari menuruni bukit, diikuti oleh Jimin dan Hayoung. Mereka berlari dengan tergesa – gesa dan nafas yang tersengal, tentu saja hal itu tidak berlaku untuk Eunji. Sekarang mereka sudah sampai di pintu belakang rumah Bibi Park.

“Sekarang, kalian masuk dan berpamitan dengan bibi kalian. Bilang saja dengan sejujurnya, dia akan mengerti. Tidak perlu membawa barang – barang. Percayalah, pelarian ini akan sangat menyibukkan, kalian tidak akan bisa beristirahat makan. Berlarilah ke arah bukit, ke arah barat. Apa kalian tahu di mana barat?”, tanya Eunji. Jimin melihat aplikasi kompas yang ada di handphone nya, lalu dia mengangguk. “Bagus. Aku tunggu kalian di sana. Sekarang kalian masuk…”, ucapan Eunji terhenti ketika seseorang membuka pintu belakang rumah. Bibi Park.

“Apa yang kalian berdua lakukan di sini? Dan, Eunji? Apa yang kau lakukan di sini?”, tanya Bibi Park heran. Pertanyaan itu mengundang rasa penasaran dari pihak Jimin dan Hayoung. Bagaimana mungkin Eunji dan Bibi Park bisa saling kenal?

“Kalian berdua saling mengenal?”, tanya Jimin heran.

“Ne, aku dan chorong adalah teman baik sejak bibimu masih kecil.”, jawab Eunji singkat.

“Ada apa, Eunji-ah?”, tanya Bibi Park heran.

Eunji terdiam sejenak, menghela nafas panjang, dan menjawab, “Sudah saatnya, Chorong-ah.”

Bening kaca yang siap pecah itu muncul dari bola mata itu. Perlahan mencair dan membasahi keriput tua di pipi Bibi Park. Meskipun dia tahu saat ini akan terjadi, namun dia tidak pernah menyangka akan secepat ini datangnya.

“Sekarang, Eunji-ah?”, tanya Bibi Park. Eunji mengangguk. Dan detik selanjutnya, Jimin merasakan tubuhnya ditubruk seseorang. Seseorang itu menangis di pundaknya. Bibi Park memeluknya.

“Jaga diri kalian baik – baik. Akan kutunggu kabar baik dari kalian.”, ucap Bibi Park seraya melepas pelukannya pada Jimin dan merengkuh Hayoung dalam pelukannya. Kedua yeoja itu menangis berpelukan.

“Gomawo atas kebaikan hatimu, Bibi.”, ucap Hayoung. Sementara Jimin sedang memikirkan ucapan Bibi Park beberapa detik yang lalu. ‘Akan kutunggu kabar baik.’ berarti Bibi Park tidak ingin mendapat kabar buruk. Atau lebih tepatnya, tidak siap. ‘Mianhae, Bibi. Aku tidak tahu apa aku bisa menepati apa yang kau ucapkan barusan’, batin Jimin.

“Cheonma, Hayoung-ah. Bibi senang membantu kalian. Kalian sudah seperti anak Bibi sendiri.”, ucap Bibi Park.

“Chorong-ah. Mianhae, tapi kami harus bergegas. Dia akan datang sebentar lagi.”, ucap Eunji. Bibi Park mengangguk dan melepas pelukannya pada Hayoung.

“Baiklah, kalian berhati – hatilah. Cepat bergegas. Jangan khawatir, Eunji akan melindungi kalian. Dan aku, akan mendoakan kalian dan menahannya jika dia datang ke rumah ini.”, ujar Bibi Park sambil memaksakan senyum. Jimin dan Hayoung mengangguk pelan. Sepertinya persendian leher mereka menjadi kaku seiring dinginnya malam dan ketegangan yang melanda.

Sungguh, pemandangan seperti ini membuat Jung Eunji ingin menangis. Dia tidak pernah suka adegan perpisahan seperti ini. Baik itu perpisahan karena jarak atau karena kematian. Tiba – tiba, dia merasakan ada sesuatu yang membisikinya.

“Kajja, jaraknya hanya tinggal beberapa meter dari pintu masuk desa ini. Kalian berdua, mianhae aku tidak bisa membawa kalian terbang atau pergi menggunakan cara sihir lainnya. Aku tidak bisa menggunakan kekuatan ku untuk itu. Dan kalian harus memutar lewat hutan, yang itu berarti akan memakan jarak 2 kali lebih jauh. Aku akan menahannya. Jaga diri kalian baik – baik dan Chorong….”, Eunji memanggil Bibi Park. Bibi Park menoleh.

“Ne, Eunji-ah?”, jawab Bibi Park.

“Jaga dirimu baik – baik.”, yang dijawab anggukan kecil dari Bibi Park. Lalu Eunji menghilang dari pandangan.

“Bibi, apa bibi akan baik – baik saja kalau kami tinggal? Jeon Jungkook itu orang yang sangat jahat, Bi.”, ucap Hayoung khawatir. Jimin mengangguk setuju. Dia masih ingat sorot mata dingin yang menurutnya menyebalkan itu.

“Gwaenchana, Hayoung-ah. Kajja! Kalian harus pergi. Hutan ada di sisi lain desa ini. Aku akan memberi kalian sepedaku untuk sampai ke sana, tidak ada kendaraan lain yang melintas tengah malam begini.”, ucap Bibi Park. Lalu dia berjalan ke arah sepeda yang terparkir rapi di belakang rumahnya.

“Ini, kalian pakai ini.”, ucap Bibi Park. Jimin memperhatikan bibinya itu sejak tadi. Dia tahu ada getaran yang berusaha disimpan rapi oleh Bibi Park. Dan detik selanjutnya, dia menghambur memeluk bibinya itu.

“Kami akan kembali, Bi. Kami akan kembali.”, ucap Jimin.

‘Semoga kami bisa kembali.’

Lalu mereka berdua pergi dengan menunggangi sepeda pemberian Bibi Park. Jimin yang menyetir sepeda itu sementara Hayoung duduk di belakangnya, memeluk pinggangnya karena selain takut jatuh, dia sedang dilanda ketakutan yang sangat sekarang ini. Dan Jimin lah tempat dia merasakan aman dan perlindungan.

Sementara itu Bibi Park memperhatikan mereka yang menjauh. Getaran yang berusaha dia simpan rapi itu akhirnya meledak keluar. Pertahanan hatinya runtuh. Dan dia menangis.

‘Tuhan, selamatkan mereka.’

Flashback off

Sementara sosok yeoja itu tersenyum….

‘Semoga aku bisa menahannya sampai Jimin dan Hayoung pergi agak jauh. Semoga dia tidak mati. Kalau dia mati, kutukan itu tidak akan patah dan selamanya menimpa mereka.’ Batin sosok yeoja itu, yang ternyata adalah Eunji.

…. lalu menghilang dari pandangan.

*****

Tubuh itu bergerak setelah beberapa saat tidak sadarkan diri. Tidak ada luka yang berarti di tubuhnya. Mobil yang dikendarai orang itu beberapa saat yang lalu tampak rusak bagian depannya. Jeon Jungkook mencoba untuk membuka laci dashboard nya dan mengambil sebuah pistol di dalamnya. Lalu dia beranjak keluar dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Akhirnya, Jungkook menemukan sesuatu yang dia cari sejak tadi. Sesuatu yang tidak terlihat ketika dirinya mulai memasuki wilayah sepi ini. Sebuah papan penunjuk jalan.

‘Ah, 1 km lagi. Tujuan sudah dekat. Bersiaplah, Park Jimin.’

Jungkook melanjutkan langkahnya, dengan sedikit pincang karena pergelangan kaki kirinya agak terkilir. Namun, rasa sakit itu tidaklah seberapa. Dia terus berjalan melawan udara malam yang dingin dan malam yang gelap tanpa ada lampu, karena lampu di pinggir jalan masih dalam kondisi mati. Jungkook bergidik mengingat kejadian tadi. Bulu kuduknya meremang.

‘Apa yang terjadi?’

500 meter lagi, maka dia akan sampai di pintu gerbang desa. Menurut keterangan yang dia dapatkan, rumah Bibi Park memiliki nomor rumah 10, yang itu berarti tidak jauh dari pintu gerbang desa. Jungkook tersenyum, sebuah smirk yang cukup menakutkan, membayangkan keberhasilannya untuk mendapatkan Oh Hayoung. Yeoja yang membuatnya begitu terobsesi karena kekayaan keluarganya.

‘Come to me, Hayoung.’

Dan Jungkook sudah memasuki pintu gerbang desa.

*****

Tok! Tok! Tok!

Bibi Park terkesiap ketika mendengar suara ketukan dari arah pintu depan rumahnya. Dia sedang berada di dapur, mencuci piring. Dia bergegas membuka pintu depan dan mendapati sosok Jeon Jungkook berdiri di depan pintu rumahnya. Dengan pakaian serba hitam, rambut hitam legamnya, dan sorot mata yang tenang, namun dingin. Serta senyum yang, Bibi Park tidak tahu apa maksudnya, tipis terkembang di wajahnya.

“Selamat malam. Anda nyonya Park?”, tanya Jungkook dengan suara yang lembut namun, entahlah, mengandung aura negatif.

“N..ne.. ada yang bisa saya bantu?”, tanya Bibi Park. Tak dapat dipungkiri dia terpengaruh aura hitam nan mengerikan yang terpancar dari Jeon Jungkook.

“Ya, tentu Anda harus membantu saya. Saya mencari keponakan Anda, Park Jimin dan kekasihnya, Oh Hayoung. Menurut sumber yang terpercaya, mereka berdua ada di sini. Apa saya bisa bertemu mereka?”, tanya Jungkook, masih dengan nada dan ekspresi yang tenang. Tenang yang menyimpan aura negatif di dalamnya.

Bibi Park tampak semakin gugup. Dia bingung harus berbuat apa. Panik menguasai dirinya. Ingatannya akan pelukan Jimin, akan Jimin yang kehilangan kasih sayang orang tuanya, akan Jimin yang terlihat, untuk pertama kalinya, tersenyum bahagia di depannya ketika menceritakan Oh Hayoung, 5 tahun yang lalu. “Memangnya kenapa kalau mereka ada di sini?”, tanya Bibi Park, dengan nada dan ekspresi yang menantang Jungkook.

“Saya ingin berbincang sebentar dengan mereka, kalau Anda berkenan? Ini tidak akan lama dan akan cepat selesai.”, jawab Jungkook. Bibi Park dapat melihat kilatan gairah di mata kelam Jungkook yang tenang. Rupanya, Jungkook berpikir urusan ini tidak akan rumit.

‘Akan kusingkirkan Jimin, kalau perlu ahjumma tua ini juga. Lalu Hayoung akan menjadi milikku.’

“Mereka memang ada di sini, beberapa saat yang lalu. Mereka kini sudah pergi, dan kamu tidak akan bisa mengejar mereka.”, jawab Bibi Park. Dan kilatan gairah itu berubah menjadi kilatan amarah.

“Katakan kalau kau berbohong, Nyonya Park.”, ucap Jungkook. Nyonya Park menggeleng. Jungkook memaksa masuk dan memeriksa seluruh ruangan itu. Nihil. Tidak ada tanda – tanda kehadiran Jimin dan Hayoung di sana.

‘Sial, mereka selangkah lebih maju dariku.’

Lalu dia melangkah turun. Melewati dapur. Bibi Park berdiri di sana, dengan menggenggam pisau di balik punggungnya. Bibi Park dapat melihat ekspresi tenang yang negatif itu lagi dari wajah Jungkook. Lalu Jungkook berbalik menghadapnya.

“Mereka memang tidak ada di sini. Dan, Nyonya Park…”

DOR!

“…. terima kasih atas informasi dan perjuangan Anda.”, lalu Jungkook pergi. Meninggalkan rumah itu dan bergegas mencari Jimin dan Hayoung.

Rumah itu hening. Dapur itu bersimbah darah. Tubuh Bibi Park terbujur kaku dengan peluru yang menembus jantungnya. Bibi Park telah berjuang melindungi Jimin dan Hayoung sebisanya. Pisau itu tergeletak tak berarti di samping kirinya. Air dari kran yang belum sempat ditutup itu meluber keluar, menggenangi lantai dapur dan membasahi tubuh Bibi Park.

Jungkook berjalan ke luar, dan mendapati jejak ban sepeda yang berasal dari halaman belakang rumah Bibi Park. Jungkook berpikir pasti mereka mengendarai untuk kabur, entah kemana tujuan mereka. Dan Jungkook terus mengikuti jejak sepeda itu yang dia sendiri tidak tahu kemana jejak itu bermuara.

*****

Eunji melihat itu semua dari atas sana. Awan malam terbang berarak di sekelilingnya. Dia melihat bagaimana Jimin dan Hayoung yang berusaha melarikan diri, bagaimana Jungkook yang membunuh Bibi Park dengan tragis. Ingin dia mencegah, namun dia tahu itu tidak akan merubah apapun. Satu – satunya cara adalah kutukan itu harus dipatahkan, dan Jimin dan Hayoung yang harus melakukannya.

Eunji melihat ke suasana desa di bawahnya dan dia kaget mendapati seseorang berdiri di puncak bukit di belakang rumah Bibi Park. Pasalnya, kehadiran seseorang itu tidak diduga atau bahkan sama sekali tidak diinginkan. Eunji terbang menghampiri orang itu.

“Ya! Apa yang kamu lakukan disini?”, tegur Eunji kesal. Dan Eunji kesal karena ada suatu alasan. Seseorang itu, yang ternyata adalah sosok Pangeran Johnathan, menoleh ke arah Eunji dan memandang Eunji dengan heran.

“Kamu bisa melihatku?”, tanya Pangeran Johnathan. Eunji tidak menunjukkan reaksi apapun karena pertanyaan kaget dari Pangeran Johnathan. Dia mendekati Pangeran itu dengan langkah pelan dan, untuk pertama kalinya, ekspresi wajah itu marah.

“Tentu aku bisa melihatmu. Kita berasal dari dunia yang sama. Kalau kamu mau tahu, aku Eunji, roh pohon yang menjadi saksi kematian James, Puteri Hanna, dan Jenderal 500 tahun yang lalu. Tentu kamu ingat hal itu.”, ucap Eunji. Dan ketika kata “kematian James, Puteri Hanna” terucap dari bibir Eunji, air muka Pangeran itu berubah segelap langit malam yang mendung itu.

“Aku tahu ini semua kesalahanku. Tidak ada yang bisa mematahkan kutukan itu.”, ucap Pangeran Johnathan.

“Ya sudahlah. Sekarang yang terpenting kutukan itu harus dipatahkan. Hanya Jimin dan Hayoung yang bisa.”, ucap Eunji. Dan tanggapan berupa gelengan kepala dari Pangeran Johnathan membuat Eunji bingung.

“Tidak ada yang bisa mematahkan kutukan itu, kecuali penyihir itu sendiri atau kekuatan penyihir itu musnah.”, kata Pangeran Johnathan. Mata Eunji membelalak kaget mendengar ucapan dari Pangeran Johnathan itu.

“Darimana kau tahu?”, tanya Eunji. Dan pandangan menerawang itu muncul lagi dari mata Eunji. Dia sedang mencoba membaca pikiran Pangeran Johnathan. Jawaban yang dia dapat itu membuat matanya membulat tidak percaya. Ternyata ini semua tidak semudah yang seharusnya. Teka – teki ini masih belum selesai.

“Ternyata, sejarah telah dirubah.”, ucap Eunji pada akhirnya. Pangeran Johnathan mengangguk. Dia memandang ke bawah lagi, dimana Jimin dan Hayoung tengah mengayuh sepeda menuju hutan, sementara Jungkook tengah berlari mengejar mereka. Dan untungnya, jarak mereka masih sangat jauh.

“Mereka mendekati rumah penyihir itu.”, ucap Pangeran Johnathan sambil menunjuk ke arah Jimin dan Hayoung yang sedang mendekati hutan. Eunji mengikuti arah yang ditunjuk oleh Pangeran Johnathan. Terbersit sebuah pertanyaan di benaknya.

“Apa dia masih hidup?”, tanya Eunji. Dan anggukan dari Pangeran Johnathan adalah jawaban dari pertanyaan itu.

“Dia tidak pernah mati. Dia hidup dengan abadi kecuali ada seseorang yang membunuhnya.”, jawab Pangeran Johnathan. Lalu dia menunjuk ke arah Jungkook. “Dan pemuda itu berhubungan langsung dengan penyihir itu.”, lanjut Pangeran Johnathan.

“Apa maksudmu?”, tanya Eunji heran. Pernyataan yang diungkapkan Pangeran Johnathan membuatnya bingung. Sejujurnya sekarang ini dia bingung harus percaya padanya atau tidak, namun Eunji merasa itu tidaklah penting sekarang.

“Aku selalu mengawasi mereka berdua. Mereka berdua sama jahatnya. Dan, apa yang terjadi 500 tahun lalu adalah skenario yang dibuat olehnya. Semuanya.”, jawab Pangeran Johnathan. Dari nada suaranya, Eunji mendapatkan sebuah kegetiran.

“Aku yang akan menghentikannya.”, ucap Eunji “kalau perlu, aku akan membunuhnya.”, lanjutnya. Lalu dia terbang pergi meninggalkan Pangeran Johnathan sendirian. Pangeran Johnathan memandang kepergian Eunji dengan tatapan sendu.

‘Semoga kamu berhasil, Eunji-ssi.’

*****

“Oke, kita sudah sampai, Youngie-ah. Sepertinya, kita harus melangkah mulai dari sini.”

Jimin dan Hayoung sudah sampai di pintu masuk hutan. Hutan itu gelap. Pohon – pohon itu besar – besar. Suara – suara hewan itu terdengar menakutkan dari dalam hutan sana. Suasana hutan itu berbeda, tidak seperti hutan – hutan yang lain. Aura hutan itu gelap. Hayoung dapat merasakannya, dan dia menggigil ketakutan.

“A..apakah kita harus masuk ke sana?”, tanya Hayoung pada Jimin. Jimin menoleh ke arah Hayoung. Tampak Hayoung yang tidak beranjak dari tempat duduknya dan hanya memandang hutan itu dengan takut. Jimin mendekati Hayoung dan membawa Hayoung dalam dekapannya.

“Tidak perlu takut, chagiya. Aku akan ada di sampingmu. Kalau ada aku, tidak ada alasan kau untuk takut.”, ucap Jimin sambil mendekap Hayoung di dadanya dengan erat. Mengelus surai kemerahan itu dan mendapati aroma shampoo strawberry memasuki indra penciumannya. Jimin suka wangi – wangi itu.

Perlahan, ketenangan merasuki tubuh Hayoung. Dia turun dari tempat duduknya dan menatap Jimin dengan senyuman yang berarti ‘aku-tidak-apa-apa’ dan dibalas Jimin dengan senyuman yang berarti ‘kajja-kita-masuk’. Lalu Jimin menggenggam tangan Hayoung, yang berarti ‘aku-ada-di-sini-bersamamu’, lalu mereka melangkah memasuki hutan itu, menghadapi apapun yang akan mereka hadapi di sana.

*****

Eunji terbang mengelilingi hutan itu, berusaha mencari petunjuk soal keberadaan penyihir yang di sebut – sebut oleh Pangeran Johnathan. Karena, kalau benar penyihir itu memang ada, maka Jimin, Hayoung, dan Jungkook berada dalam bahaya kalau mereka memasuki hutan itu. Bisa jadi mereka mati sebelum kutukan itu berhasil dipatahkan, maka kutukan itu akan terus berlanjut sampai ke kehidupan berikutnya.

Eunji terus terbang mencari. Hutan itu luas, sehingga sedikit sulit untuk mencari keberadaan penyihir itu. Tiba – tiba mata Eunji menangkap sebuah pemandangan yang aneh. Asap yang membumbung menuju langit. Asap itu bukan asap biasa. Asap itu hitam pekat, tidak menguap di udara melainkan menggumpal di satu titik di atas sana. Asap itu tampak…. Berbeda.

‘Itu dia!’

Lalu Eunji terbang turun dan mendapati asap itu berasal dari sebuah pondok kayu tua yang kecil. Warna kayu itu hitam. Pondok itu tampak tidak terawat. Eunji melangkah masuk ke pondok itu dan langsung disambut oleh sang penyihir, yang sosoknya sama sekali tidak dia duga kemunculannya.

“Kamu?!”

“Ya, ini aku, Eunji. Kamu tidak menyangka kalau ini aku, kan? Tokoh dibalik semua ini yang tidak kamu duga sama sekali kehadirannya?”, tanya penyihir itu dengan seringai yang menyeramkan. Eunji menatap penyihir itu dari atas hingga kebawah. Penampilan penyihir itu sama sekali tidak seperti penyihir pada umumnya. Dia memakai baju panjang animal print macan tutul, jeans gelap yang ketat, dan sepatu boot dengan high heels yang cukup tinggi. Serta rambutnya yang dicat berwarna pirang. Tak lupa aksesoris berupa anting dan cincin yang menghiasi telinga dan jemari tangannya. Terlalu glamour untuk seorang penyihir.

“Aktingmu sebagai seorang eomma sungguh hebat, Lee Chae Rin. Apakah kamu yang mengajarkan Jungkook untuk selalu bersikap dingin pada orang lain?”, tanya Eunji. Chae Rin, eommanya Jungkook yang ternyata adalah seorang penyihir, menatap Eunji tajam sebelum akhirnya tertawa. Tawa yang terdengar sangat jahat sekaligus mengerikan.

“HAHAHA akhirnya kamu tahu juga. Ya, aku yang menanamkan sifat itu ke sifat Jungkookie kecilku. Dan aku bangga dia dapat mewarisinya dengan baik.”, ucap Chae Rin dengan senyum yang membuat Eunji merasa jijik karenanya.

“Atas dasar apa kamu melakukan ini semua?”, tanya Eunji pada Chae Rin. Chae Rin berjalan dengan anggunnya, namun tetap dengan tatapan dinginnya. ‘Jadi tatapan mata Jungkook itu didapat dari dia?’, batin Eunji.

“Atas dasar cinta, Eunji-ssi.”, bisik Chae Rin di telinga Eunji. Eunji tidak bergeming, namun otaknya dipenuhi dengan pertanyaan – pertanyaan. ‘Atas dasar cinta? Apa maksudnya?’, pikir Eunji.

“500 tahun yang lalu, aku mengejar cinta dari pemuda itu. James. Aku tinggal di dekat rumahnya. Kami bersahabat sejak kecil, hanya dia yang mengerti aku. Namun, penduduk desa tahu kalau aku penyihir dan mereka takut. Lalu aku diusir dari desa, dan aku membangun kehidupanku sendiri di hutan ini. James masih sering mengunjungiku, sebelum dia bertemu dengan Puteri Hanna. Sejak saat itu, dia melupakanku dan meninggalkanku sendirian di sini. Lalu, Pangeran bodoh itu datang dan memintaku untuk membuat Puteri Hanna mencintainya. Pada awalnya aku akan melakukan itu untuknya, tapi setelah aku pikir – pikir, James sangat mencintai Hanna dan akan sangat patah hati kalau Hanna meninggalkannya. Jadi, biar adil, maka aku mengucapkan mantra kutukan itu. Agar tidak ada siapapun yang dapat mendapatkan apa yang dia inginkan.”, ucap Chae Rin. Senyum licik terkembang di wajahnya.

“Tapi, kalau begitu, anakmu sendiri akan mati, Chae Rin-ssi. Jungkook akan mati.”, ucap Eunji kaget. Dia tidak menyangka ini semua sudah direncanakan dari awal.

“Dia tidak akan mati. Kamu lihat kalung yang dia pakai? Itu pemberian dariku dan mengandung sihir yang dapat melindunginya. Dia akan bertahan, sementara yang lainnya akan mati.”, ucap Chae Rin. Eunji memandang Chae Rin dengan tatapan penuh kebencian.

“Kamu… keterlaluan!”, teriak Eunji.

“Aku memang keterlaluan, Eunji-ssi.”, balas Chae Rin

Dan mereka berdua saling tatap. Menyampaikan kebencian mereka satu sama lain, dan kesiapan mereka untuk menghancurkan satu sama lain.

*****

Jimin dan Hayoung terus berlari, berusaha menyelamatkan diri dari kejaran Jeon Jungkook. Berbekal aplikasi kompas di handphone nya, Jimin menuntun Hayoung berlari menembus hutan gelap dan serba-berbahaya itu.

Hutan itu dipenuhi semak belukar yang seringkali menusuk mereka. Pakaian mereka sedikit robek karena tersangkut dahan atau duri. Sekitar mereka gelap karena mereka sama sekali tidak membawa alat penerangan apapun. Akar – akar yang mencuat dari dalam tanah tampak mengancam, seolah siap menjatuhkan langkah mereka kapanpun.

BRUK!! “ADUUH!!”

Tiba – tiba Hayoung terjatuh. Rupanya akar – akar itu melaksanakan tugas mereka dengan baik. “Youngie-ah! Gwaenchana?”, tanya Jimin khawatir. Ah, bodohnya dia. Tentu saja Hayoung tidak dalam kondisi baik – baik saja sekarang. Bagaimana mungkin lutut yang lecet karena jatuh dan juga pergelengan kaki yang memar bisa dibilang baik – baik saja? Hayoung menjawab pertanyaan Jimin hanya dengan mengaduh. Sementara itu, Jimin merobek bagian bawah kaus yang dia pakai dan dia gunakan untuk menutup luka Hayoung, layaknya perban. Selesai menutup luka Hayoung, Jimin berbalik dan mengarahkan punggungnya menghadap Hayoung.

“Kajja, Youngie-ah. Naik ke punggungku!”, ucap Jimin. Hayoung menggeleng. Jimin pasti akan keberatan karena bobot tubuhnya sementara perjalanan mereka masih jauh. Dia mencoba bangkit sementara Jimin memandangnya keheranan.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Cepat naik ke punggungku, Youngie-ah!” “Ani, Jimin-ah. Aku bisa berjalan sendiri.”, ucap Hayoung. Dan tampak sekali dari ekspresinya kalau luka biru memar yang berada di pergelangan kakinya itu sangat menyakitkan kakinya. ‘Aishh’, batin Jimin. Lalu dengan sigap dia mengangkat tubuh Hayoung ke punggungnya. Lalu mereka melangkah lagi menembus hutan.

Sementara itu, di kejauhan, Jungkook baru memasuki hutan. Tatapan mata itu tidak menyiratkan ketakutan sedikitpun terhadap hutan gelap yang tampak mencekam itu. Hembusan angin yang cukup kencang yang menerpa pohon – pohon besar itu tidak membuatnya bergidik sedikitpun. Dia hanya menatap hutan itu dengan tatapan mata yang dingin itu.

Dia menyiapkan pistol yang ada di genggaman tangannya, bersiaga jika ada sesuatu yang akan menyerangnya. Biar bagaimanapun, hutan adalah tempat yang berbahaya. Persiapan dibutuhkan untuk menghadapi apapun nantinya.

Jungkook terus berjalan mengikuti jejak kaki yang untungnya belum banyak terhapus. Ditambah lagi, dia menemukan potongan – potongan kain yang dia temukan tersangkut di ranting dan duri yang tajam yang, sepertinya, berasal dari pakaian yang dikenakan oleh Jimin dan Hayoung. Jungkook menatap ke atas. Gumpalan awan tampak gelap, disertai dengan petir yang menyambar dengan dahsyat.

‘Kalau turun hujan, pasti mereka akan berteduh. Aku harus bergegas.’

Dan Jungkook mempercepat langkah kakinya.

*****

“Kamu tidak akan bisa mengalahkanku, Eunji-ssi.”, ucap Chae Rin. Mereka melayang tinggi di antara gumpalan awan hitam dan petir, yang ternyata adalah hasil dari reaksi alam atas emosi yang kedua ‘makhluk’ itu rasakan. Eunji hanya tersenyum meremehkan.

“Kita lihat saja, Lee Chae Rin.”, dan seiring kalimat itu keluar, seiring cahaya itu keluar dari telapak tangan Eunji tepat mengenai tubuh Chae Rin. Dia sempat limbung sesaat lalu dengan cepat dia bisa menguasai diri lagi.

“Hahahaha, hanya segitu kemampuanmu, wahai roh pohon yang suci? Baiklah, kau tidak perlu menjawabnya.”, dan Chae Rin mengumpulkan sesuatu di kedua tangannya sembari mengucapkan mantra. Gumpalan awan hitam dan petir itu berkumpul di kedua tangan Chae Rin. Lalu dia menembakkan awan hitam dan petir itu ke arah Eunji. Dengan sigap, Eunji mengeluarkan pelindung sehingga awan gelap dan petir itu tidak mengenai tubuhnya dan lenyap. Lalu Eunji mengangkat kedua tangannya. Hembusan angin sangat kencang melanda hutan itu, membuat 3 orang di dalamnya harus menunduk berlindung ketakutan. Dan daun – daun itu beterbangan, berkumpul di atas tempat Eunji dan Chae Rin bertarung. Dan dalam sekali gerakan tangan Eunji, daun – daun itu menghujam tubuh Chae Rin layaknya jarum. ‘Jarum – jarum’ itu menancap di tubuh Chae Rin, mengalirkan darah segar dan dia terjatuh menuju bumi. Eunji tersenyum puas karena dia berhasil melukai Lee Chae Rin. Dia hendak mengembalikan daun – daun yang tidak terpakai itu ke tempatnya semula, sebelum….

“…. kekuatanmu lumayan juga, Eunji-ssi.”

…. Chae Rin memiting lehernya dari belakang dan dalam sekali gerakan tangan kanannya, gumpalan awan hitam itu kembali menyelubungi mereka berdua. Kilatan – kilatan cahaya dari gumpalan awan hitam itu tampak seperti petir bagi Jimin, Hayoung dan Jungkook.

“Kajja, kita harus bergegas sebelum hujan benar – benar turun.”, ucap Jimin kepada Hayoung yang berada di gendongan punggungnya. Jimin mempercepat langkahnya menjadi berlari, sementara Hayoung memeluk leher Jimin dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher belakangnya.

“Semangatlah, chagi. Mianhae aku telah merepotkanmu seperti ini. Saranghae, chagi. Jeongmal saranghae.”, bisik Hayoung namun masih terdengar oleh telinga Jimin. Meskipun ucapan itu sangat sederhana, namun cukup untuk membakar semangat seorang Jimin untuk mempertahankan kelanjutan kisah mereka. Dan Jimin pun tersenyum karenanya.

“Nado saranghae, Youngie chagi.”, ucap Jimin.

Dan hembusan nafas yang teratur di ceruk lehernya menandakan Oh Hayoung tertidur di punggungnya.

 

-TBC-

Annyeong, readers^^
Author kembali hehe 😀 Gimana ceritanya, seru gak? Kalo ga seru mianhae ne L Terjawab kan siapa cast misterius “???” itu? Yups! Dia adalah Lee Chae Rin alias CL dari 2NE1 yang di part 5 berperan sebagai Ibunya Jungkook 😀 Untuk part ini, dan mungkin juga di part – part selanjutnya, tidak akan ada pertanyaan seperti di part2 sebelumnya. So, nikmati saja ceritanya readers^^ See you at next chapter 😀

Dan tolong hargai author yang sudah membuat ff ini J Author udah keluar banyak uang cuma buat bayar CL noona jadi other cast, bayarannya mahal.__. (?) So, mind to RnR? 😀

8 thoughts on “[BTS FF Freelance] Bloody Hill (Part 8)

  1. kalo CL penyihirnya ??????? setuju mbakyu.. secara CL kan wajah wajah bad girl gtu hehe * ditabok sapu sama jungkook
    okelah , akau mlah ketinggalan bacanya… huhu
    tapi ini kwreeeenn thor keren sumvah kece badass tenan , aku suka plot , apalh itu pkoknya terongdicabeinlah enak (lah) ??

    Like

  2. Udah di post ternyata, baru ngecek sih~ okaay2 ini udah mau end kan ya part nya?? ‘-‘)a. Waah dugeun dugeun 😄 aku mau baca part selanjutnya~

    Like

  3. Kookie sungguh kejam. Main bunuh2 aja….. kesian bibi Park.huhuhu
    Dan CL, huaaa gx nyaka klw dia itu penyihirnya…. penyihir jaman sekarang kece2 yaa.kekekeke…
    Ini makin seru bagas, sungguh!!!
    Dan maaf bgt br sempet baca skrng…huhuhu…

    Okesipp, mau lanjut ke chap 9 dlu ahh.hehehe

    Like

    1. Hai noon 😀 kan kookie aku buat berdarah dingin noon di sini…. *ditabokJungkook *dibakarARMY
      Hehe iyadong udah ga jaman pemyihir pake jubah item wkwk oke gapapa noon makasih sudah meninggalkan komentar 😀

      Like

  4. Waaaaaaaaaaauu..
    Ada acara terbang terbangannya juga …. kkkkk
    Oh ternyata penyihir itu ibunya toh…
    Aduuh mbayangin jungkook .. aduh ganteng banget …
    Mbayangin jimin .. doooh kasian banget. Hoho..

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s