Chapter 5 : When Jimin Get Married

whenjimingotmarried

Author Ririn My a.k.a rinaizawa || Cast Park Jimin & OC || Genre Marriage Life, Romance || Length Chaptered

Poster by andinarima © HSG^^

Previous : Teaser | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

Preview—

“Ya! Sejak kapan kau disini?!”

Jimin tersentak dari lamunannya begitu mendengar suara Ji Eun. Baru saja jantungnya berdebar karena melihat paras gadis itu, kini jantungnya kembali berdebar mendengar teriakan Ji Eun yang tidak terlalu keras itu. Pria itu kembali menatap Ji Eun membuat gadis itu membalas tatapannya dengan sedikit kekesalan.

“Aku? Kau tidak sadar pria tampan ini sudah lama duduk disebelahmu.”

“Apa? Pria tampan? Aku ingin mual.”

“Kau adalah orang pertama yang meragukan ketampanan ku.”

Sebenarnya Ji Eun sedikit ragu dengan kalimatnya. Tidak mungkin ia meragukan ketampanan Jimin. Bukankah ia begitu mengidolakan pria yang ada disampingnya ini? Hanya saja ia terlalu gengsi untuk mengakuinya.

Jimin bangkit dari duduknya. Membuka jas lalu kemejanya. Menyisakan kaos dalam berwarna putih. Alis Ji Eun tertaut memandangi Jimin dengan penampilan seperti itu. Pertama, ia heran mengapa Jimin melepaskannya disini. Dan yang kedua, ini pertama kalinya bagi Ji Eun melihat penampilan Jimin yang begitu sexy secara langsung, bahkan tepat di hadapannya. Selama ini ia hanya melihat bentuk sixpack itu melalui video klip No More Dream. Namun sekarang ini – di hadapannya – Ji Eun mendadak malu.

Dengan santainya pria itu kemudian melepaskan kaos putih dan kini ia hanya berpenampilan half – naked di depan Ji Eun.

“Park Jimin apa yang kau lakukan?!”

##

#5 : So Scared, But I’m Okay

 

Pria itu kembali terkejut mendengar teriakan Ji Eun. Kali ini suaranya lebih keras dari yang sebelumnya. Bahkan gadis ini menutup wajahnya membuat Jimin semakin bingung. Sebenarnya apa yang dipikirkan gadis ini. Biasanya orang – orang akan histeris melihat Jimin berpenampilan seperti ini namun yang terjadi pada Ji Eun malah sebaliknya.

Jimin mengerti mungkin Ji Eun malu melihatnya berpenampilan seperti. Atau mungkin ini kali pertama bagi Ji Eun melihat Jimin half naked secara langsung. Namun itu tidak membuatnya kembali untuk berganti pakaian. Terlintas satu hal di dalam benak Jimin untuk mengerjai gadis itu. Ia pun tersenyum penuh misteri.

“Ji Eun – a.”

Ji Eun menoleh ketika Jimin memanggilnya. Lalu ia kembali teriak karena pria itu belum memakai bajunya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia terus saja mengomel panjang ketika Jimin menertawainya.

“Ya! Pakai bajumu atau aku menyeretmu keluar!”

“Aku tidak mau.”

“Park Jimin!”

Jimin memulai idenya. Ia berjalan pelan mendekati Ji Eun yang sesekali masih mengintip. Semakin lama semakin dekat. Ji Eun menyadari kalau Jimin segera mendekatinya. Lantas gadis itu melepaskan tangan perlahan dan mendapati Jimin yang tepat berdiri di atasnya. Gadis itu ingin berteriak, namun suaranya seolah tercekat. Tubuhnya kaku dan tangannya tiba – tiba dingin. Bahkan pikirannya kacau saat ini.

Pria itu tersenyum. Kini ia hanya berjarak beberapa centi dari Ji Eun. Jimin semakin mendekatkan tubuhnya dengan Ji Eun dan tanpa sadar gadis itu mulai berbaring di sofa. Melihat reaksi Ji Eun membuat Jimin ingin tertawa. Ia tidak menyangka gadis itu bisa merespon dengan baik. Sementara Ji Eun hanya mengikuti situasi yang terjadi. Ia terus saja memperhatikan Jimin dengan penuh tanda tanya. Mungkinkah pria itu akan ‘melakukannya’ sekarang?

“Gadis pintar.”

Jimin kembali mencium bibir milik Ji Eun membuat gadis itu jantungan. Hanya beberapa detik kemudian ia melepaskannya dan tertawa meliihat Ji Eun yang sangat terkejut dengan perlakuannya.

“Park Jimin!!”

##

Ji Eun berjalan menuju tempat tidur. Matanya mulai sedikit mengantuk. Bahkan ia berjalan sempoyongan. Benar – benar melelahkan, pikirnya. Ia mulai melihat seisi kamar itu. Satu ranjang tidur, lemari besar, meja rias, sebuah meja belajar yang tidak jauh dari jendela. Ji Eun menyukainya. Tapi – hanya satu ranjang? Ini artinya ia akan tidur dengan Jimin? Oh tidak sepertinya gadis ini lupa jika sudah menikah mereka akan tidur satu ranjang.

Gadis itu menggeleng kepalanya pelan. Berhubung Jimin sedang mandi, ia berusaha untuk tidur. Di dalam hati ia juga berharap agar Jimin tidak meminta untuk ‘itu’. Jujur saja, Ji Eun belum siap memulainya. Lagi pula ia ingin fokus dengan pendidikannya dan membiarkan pria itu fokus pada karirnya. Mungkin saja Jimin akan mengerti.

Suara air di dalam kamar mandi mulai berhenti menandakan Jimin sudah selesai. Ji Eun kembali gugup. Ia masih mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Bahkan ia tidak ingin membahasnya lagi. Ji Eun benar – benar kesal dengan pria itu atau lebih tepatnya sedikit kesal. Walaupun begitu Ji Eun tidak bisa memungkiri kalau ia suka dengan penampilan Jimin tadi. Menurut Ji Eun, Jimin sangat mempesona dengan tubuhnya yang half – naked saat ia melepas kaosnya dan memamerkan tubuh sixpack yang ia miliki. Meskipun Ji Eun terus berteriak kesal tetapi di dalam hatinya Ji Eun sangat menyukai bahkan ketika pria itu mengambil ciumannya. It’s make her fly.

“Hei, dimana baju ku?”

Suara serak Jimin membuat Ji Eun tersadar dari pikirannya. Ia memandangi pria itu yang hanya menggunakan handuk. Ji Eun menelan ludahnya dengan kasar. Jantungnnya terus berdegup kencang. Sepertinya Ji Eun harus terbiasa dengan keadaan ini.

Gadis itu bangkit dari duduknya dan mengambil baju Jimin dari dalam koper. Ia masih belum sempat meletakkan baju mereka di dalam lemari. Lantas ia mencari baju tidur dan memberikan langsung kepada Jimin. Entah mengapa ia tidak protes ketika Jimin memerintahkannya. Mungkin ia merasa ini memang tugasnya.

“Kau belum memasukan kedalam lemari?”

“Aku masih terlalu lelah.”

Jimin memandangi Ji Eun yang kini telah berbalik. Pria ini berpikir sejenak, sebenarnya bagaimana sifat asli Ji Eun? Ketika pertama kali bertemu gadis itu sangat pendiam dan tidak banyak berbicara. Namun ketika mereka sudah menikah beberapa jam yang lalu, Ji Eun sangat cerewet, dan berbeda dari waktu itu.

Apa dia psycho? Ah. Tidak mungkin.’

“Sampai kapan kau berdiri seperti itu?”

Ji Eun merasa tidak nyaman melihat Jimin yang berada di depannya dengan penampilan seperti itu. Ia berpikir bagaimana kalau handuk yang dipakai pria itu merosot? Apa ia akan memalingkan muka? Paboya. Tentu saja Choi Ji Eun. Tapi bukankah aku berhak melihat – ah aku tidak ingin mengingatnya lagi.

“Cerewet sekali kau nona.” Cibir Jimin. Ia kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai bajunya. Sedangkan Ji Eun memilih untuk memeluk guling sambil berusaha untuk tidur.

##

Sudah hampir setengah jam Ji Eun tidak bisa memejamkan matanya. Kedua pengantin baru tu masih belum tertidur. Jimin sedang membaca buku, sementara Ji Eun memeluk guling. Hening. Suara gemuruh mulai terdengar sejak tadi membuat Ji Eun semakin resah. Ia berusaha untuk tenang walalupun tidak bisa.

Kini kilat mulai terlihat bahkan suara gemuruh semakin besar. Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi. Jimin melirik ke arah jendela sekilas lalu melihat Ji Eun yang memeluk erat gulingnya. Aneh sekali pikir Jimin. Ia melihat Ji Eun yang memejamkan matanya dengan kuat. Apa gadis ini mimpi buruk? Batin Jimin. Namun sejak tadi Ji Eun belum memejamkan matanya.

Suara gemuruh yang semakin besar, membuat Jimin terlalu malas melanjutkan kegiatan membacanya. Lantas pria itu memilih untuk menutup buku dan berjalan ke tempat tidur. Jantungnya berdegup kencang karena baru kali ini ia akan tidur satu ranjang dengan perempuan yang sudah menjadi istrinya. Perlahan ia mulai naik dan berbaring di tempat tidur. Ia berpikir mungkin Ji Eun akan meresponnya ketika ia berada disamping gadis itu. Namun gadis itu hanya diam saja. Ia membelakangi Jimin. Ia berubah lagi.

“Kau tidak apa – apa?” tanya Jimin hati – hati. Ia takut Ji Eun menolak tidur satu ranjang dengannya.

Diam. Ji Eun tidak menjawab pertanyaan Jimin.

Ji Eun masih saja berkutat dengan batinnya. Ia berusaha untuk tenang, namun suara gemuruh itu terus membuat ia semakin takut. Berkali – kali ia mencengkram guling itu dengan kuat untuk meredamkan rasa takutnya.

“Ji Eun – a.”

“Aku –– baik – baik saja.”

“Kau yakin?”

Ji Eun mengangguk pelan.

‘Kau harus bisa Choi Ji Eun.’

##

Ding dong ding dong

Alarm yang berasal dari ponsel Ji Eun terus berbunyi sejak satu menit yang lalu. Ji Eun menyadarinya dengan cepat sebelum Jimin terbangun. Dengan mata terpejam gadis itu meraih ponselnya dan mematikan alarm tersebut. Namun ia merasa aneh karena tubuhnya seolah di kunci membuat ia kesulitan bergerak. Beberapa detik kemudian, ia mulai membuka matanya lalu melihat sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya.

Ini tangan Jimin.

Ji Eun tahu siapa pemilik lengan ini. Pemiliknya masih tertidur tanpa melepaskan tangannya dari tubuh Ji Eun. Jujur saja, gadis ini ingin berteriak tepat ketika Jimin melepaskan tangannya tiba – tiba membuat Ji Eun menjadi diam dengan beribu pertanyaan di tanya.

Jimin mengerti. Ji Eun pasti terkejut dengan perbuatannya. Tentu saja Jimin mempunyai alasan mengapa ia melakukannya. Ia tidak mempunyai niat ‘lebih’ sebagaimana mestinya karena ia tahu kalau Ji Eun tidak siap. Lagi pula ia hanya memeluk. Ya hanya itu.

“A – Aku tidak melakukan hal lebih.” Sahut Jimin sebelum Ji Eun melontarkan pertanyaannya.

“Kau bohong.”

“Tidak. Aku serius.”

Ji Eun mulai bergerak mundur dan ini membuat Jimin mulai kesal. Pria itu mencoba menarik lengan Ji Eun namun gadis itu melepaskannya.

“Ya!” Sepertinya Ji Eun ketakutan ketika Jimin mulai menyentuhnya. “Jangan menyentuh.”

“Paboya. Bagaimana aku bisa menyentuhmu, bahkan pakaianmu masih utuh sekarang.” Balas Jimin kesal.

“Perv—“

Jimin menarik lengan Ji Eun sebelum gadis itu terjungkal ke belakang. Ia menatap mata Ji Eun lekat dan dengan refleks Ji Eun membalasnya. Kembali jantung gadis itu berdegup kencang ketika Jimin memandanginya seperti itu.

“Hei nona Choi. Aku tidak menyentuhmu tadi malam. Lalu mengapa aku memelukmu? Semalam kau tidur seperti orang ketakutan. Aku berpikir kau mimpi buruk. Lantas aku memelukmu. Ya agar kau tidur dengan nyenyak.”

Ji Eun takjub dengan penjelasan Jimin. Ia tidak menyangka pria yang sebelumnya membuat gadis ini pusing dengan sikapnya, sekarang malah membuat Ji Eun nyaman. Ji Eun berpikir apa sebenarnya Jimin sedang bermetamorfosis atau pria ini berkepribadian ganda? Ah tidak mungkin.

“Benarkah?” tanya Ji Eun ragu – ragu dan Jimin hanya mengangguk. Mencoba meyakinkan gadis itu.

“Ngomong – ngomong –“ Jimin terdiam sesaat. “Selamat pagi.”

##

Ji Eun memandang lurus tembok dapur yang ada di depannya. Ia tengah membuat dua gelas susu untuk ia dan Jimin. Ia sedikit beruntung membawa susu kesukaannya. Mengingat di apartemen ini belum ada bahan makanan apapun. Rencananya setelah ini ia akan berbelanja dan mengajak Jimin kalau pria itu ingin pergi bersamanya.

Ia terus saja mengaduk minuman itu meskipun sudah larut. Ji Eun masih saja teringat akan pelukan Jimin bahkan ucapan selamat pagi tadi. Meskipun sangat sederhana, hal ini mampu membuat Ji Eun terus memikirkannya. Jujur saja ia tidak menyangka Jimin sudah menyukainya? Atau ia terpaksa melakukan ini semua? Entahlah. Ji Eun tidak mengerti.

“Ku rasa aku harus meminum susunya.”

Ji Eun tersentak kaget dan refleks melepaskan sendok ketika Jimin mengambil gelas tiba – tiba. Pria itu berdiri disampingnya sembari menghabiskan segelas susu yang baru saja ia buat. Diam – diam gadis itu terus memperhatikan Jimin yang sepertinya sangat menikmati minuman itu. Hanya minum susu saja ia sudah tampan. Aish!

Jimin sadar sejak tadi Ji Eun memandanginya. Lantas ia melirik gadis itu dan memberikan sebuah kedipan. Dan ini tentu saja membuat Ji Eun tersentak dari lamunannya. Dengan cepat gadis itu menoleh ke arah lain. Jujur saja ia malu tertangkap basah memandangi Jimin. Sedangkan pria itu tersenyum tidak jelas. Setelah selesai, Jimin meletakkan gelas di depan Ji Eun agar gadis itu mau menoleh.

“Sudah puas mendapat kedipan dariku?” Jimin menganggu Ji Eun.

“A-Apa? Untuk apa aku kedipanmu.” Balas Ji Eun asal. Ia mengambil gelas susu yang belum ia minum lalu meneguknya dengan cepat.

“Jujur saja kau memikirkan aku tampan bukan?”

Uhuk!

Sepertinya Jimin berhasil membuat Ji Eun tersedak. Pria itu menepuk pelan punggung Ji Eun sementara gadis itu masih saja terbatuk – batuk. Mengapa aku terlihat salah tingkah sejak tadi? Aishh Park Jimin! Berhentilah membuatku merasa salah tingkah.

“Gadis aneh. Apa kata – kataku begitu menyeramkan?” tanya Jimin penasaran. Ia mengusap punggung Ji Eun.

“Tentu saja. Kalau tidak menyeramkan mungkin aku tidak batuk seperti ini.” Jawab Ji Eun asal.

“Apa? Menyeramkan bagaimana?”

“Intinya menyeramkan.”

“Aku tidak mengerti.”

“Anggap saja kau mengerti.”

“Sudahlah.”

“Memang sudah.”

“Ya! Berhentilah menyambung.”

“Aku tidak menyambung pabo!”

Jimin mendengus kesal. Entah mengapa gadis ini begitu sensitif sehingga ia terus saja membalas perkataannya. Tidak ingin ini semakin berlanjut maka Jimin memilih untuk diam dan mengabaikan perkataan terakhir gadis itu.

“Ngomong – ngomong aku lapar.”

Ji Eun lupa jika ia harus membeli bahan makanan sebelum mereka mati kelaparan. Ia bergegas membersihkan gelas dan bersiap – siap untuk ke supermarket.

“Itu –“ Ji Eun bingung bagaimana ia mengajak Jimin. Atau ia tidak harus mengajak pria itu? Jika Jimin mengikutinya, maka orang – orang bahkan penggemarnya akan mengetahui hubungan mereka.

“Ya?”

“Kau – kau tidak perlu ikut denganku.”

##

Jungkook terbangun ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar dorm. Sudah 5 menit yang lalu ia menyadari suara itu. Ia berharap hyungnya yang akan membukakan pintu tersebut. Sayangnya, diantara kelima pria itu tidak ada yang bangun ataupun terusik dengan suara ketukan pintu kecuali sang maknae. Mungkin mereka masih terlelap mengingat hari ini hari libur. Bahkan ini sudah hampir pukul 8 dan mereka belum sarapan. Oh tidak. Jangankan untuk sarapan, mereka saja bahkan belum bangun.

Dengan langkah malas, Jungkook berjalan ke arah pintu. Suara ketukan itu semakin keras. Siapa yang datang sepagi ini? Tidak mungkin Jimin kembali ke dorm. Ia diberi waktu 3 hari untuk menikmati awal pernikahan mereka sebelum bersiap – siap untuk comeback.

“Annyeong.”

“Eh?”

Seorang gadis yang tidak asing lagi berdiri tepat di depan Jungkook membuat pria itu tersadar sepenuhnya tanpa harus membasuh muka. Gadis itu tersenyum membuat Jungkook juga membalasnya. Jungkook sudah menebak tujuan gadis itu datang ke dorm sepagi ini. Tidak ada tujuan lain, selain mencari Jimin.

“Mianhae membuatmu menunggu lama.” Ujar Jungkook.

“Tidak masalah. Apa kalian sedang sibuk?” tanya Hanna.

“Sebenarnya hyungnim masih tidur. Hanya aku yang terbangun mendengar suara ketukanmu.”

“Sepertinya aku menganggu tidurmu.” Hanna terkekeh pelan. Begitupun Jungkook. Walau memang benar ‘sedikit’ menganggu tetap saja pria itu mengelak.

“Tentu saja tidak. Lagi pula sudah siang.” Jungkook mengusap tengkuknya. Berusaha menghilangkan kegugupan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Ia berharap agar Hanna tidak masuk ke dalam atau menanyakan keadaan Jimin.

Hanna merasa aneh. Sudah 10 menit sejak Jungkook membuka pintu, pria ini tidak mengajaknya untuk masuk ke dalam. Biasanya, sebelum berbicara Jungkook segera mempersilahkan ia masuk, namun yang terjadi malah sebaliknya. Seperti ada yang disembunyikan, pikirnya.

“Ngomong – ngomong, kau ada keperluan apa datang kemari?” Jujur saja pria ini tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepada Hanna.

“Ah. Aku mencari Jimin.” Gadis itu tersenyum tipis. Ia merasa Jimin tidak akan ingin menemuinya.

Bingo! Jungkook sudah menduganya. Tidak ada tujuan lain bagi Hanna untuk datang ke dorm BTS kecuali untuk menemui Jimin. Namun percuma saja, Jimin tidak ada dorm dan Jungkook tidak mungkin mengatakan pria itu tidak ada dorm tetapi ada di apartemen bersama istrinya. Maka perang dunia ketiga akan terjadi.

“Mianhae noona. Sepertinya, Jimin hyung masih tertidur.”

“Benarkah?”

Jungkook mengangguk. “Ia sulit untuk dibangunkan.”

Terlihat raut kecewa di wajah Hanna. Ia berusaha tersenyum meskipun sedikit kecewa karena tidak dapat bertemu dengan Jimin. Entah Jimin memang sedang tertidur atau pria itu tidak ingin bertemu dengannya. Hanna tidak tahu. Yang jelas, ia merasa Jungkook seperti menyembunyikan sesuatu tentang Jimin.

“Baiklah.” Hanna perlahan mundur membuat Jungkook merasa tidak enak.

“Kau tidak apa – apa.”

Hanna mengangguk. “Katakan pada Jimin, bahwa aku mencarinya.”

“Baiklah. Akan ku sampaikan.”

##

“Kita akan belanja disini?” Jimin menatap sebuah gedung supermarket yang tidak terlalu jauh dari apartemen mereka.

“Ya. Sudah ku katakan kalau aku tidak perlu di antar.” Ji Eun sedikit kesal ketika Jimin memaksa untuk tetap ikut bersamanya. Meskipun ia sudah melarangnya tetap saja pria itu bersikeras.

“Kau – kau tidak perlu ikut denganku.”

“Apa? Kenapa aku tidak boleh ikut denganmu? Aku bisa mengantarmu.”

“Kau tidak perlu mengantarku. Lagi pula tempatnya tidak terlalu jauh.”

“Tetap saja aku harus mengantarmu. Bagaimana jika belanjaanmu banyak? Apa kau bisa membawanya sendiri? Tentu saja aku harus membantumu.”

“Aku tidak belanja begitu banyak Jimin.”

“Tetap saja aku harus ikut.”

“Astaga! Park Jimin kau seorang idol. Bagaimana jika penggemarmu melihat kau berjalan bersamaku? Bisa – bisa pernikahan kita tercium oleh media!”

“Tenang saja. Aku yakin masih memakai alat penyamaran.”

“Kau benar – benar keras kepala.”

“Jadi, kapan kita akan berangkat?”

 

Begitulah perdebatan mereka hingga akhirnya Jimin ikut dengan Ji Eun. Entah mengapa begitu tiba disini, Jimin sedikit ragu. Supermarket ini begitu ramai. Ia tidak yakin jika masuk kesana. Jimin memeriksa laci yang ada di dekat Ji Eun. Memastikan alat penyamarannya ada disana.

“Oh tidak.” Gumam Jimin.

“Ada yang tinggal?”

Jimin menepuk jidatnya. “Alat penyamaranku tertinggal.”

Ji Eun tertawa. Ia tidak menyangka Jimin bisa ceroboh seperti ini. Mau tidak mau, pria ini harus tetap di dalam mobil sampai Ji Eun selesai belanja.

“Baiklah. Ku rasa kau harus tinggal disini.”

Gadis itu keluar dari mobil dan mulai melangkah masuk ke dalam supermarket. Sementara Jimin hanya memandangnya dari dalam mobil sembari tersenyum. Jujur saja, ia tidak tahu harus tersenyum untuk apa. Hanya ketika melihat Ji Eun yang kadang bersikap santai, kadang dewasa, polos, dan panik tanpa sadar telah membuatnya tersenyum. Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya dengan wanita manapun. Apalagi Jimin baru saja mengenal Ji Eun. Namun ia merasa sudah mengenal gadis itu cukup lama.

Cukup lama ia menatap supermarket itu meski Ji Eun tidak ada disana hingga ia merasakan ponselnya bergetar. Jimin merongoh saku jaketnya dan mendapati panggilan masuk dari Jungkook.

“Ada apa?”

“Hyung, Hanna mencarimu di dorm.”

Jimin menghela nafas. Ia tidak menyangka gadis itu masih mencarinya. Padahal Hanna sendiri mengatakan bahwa ia akan berangkat ke Kanada.

“Lalu?”

“Sepertinya ia tidak percaya jika aku mengatakanmu sedang tidur ketika ia datang.”

“Kau berbohong?”

“Ya! Tidak mungkin aku mengatakan padanya kalau kau sedang menikmati hari pernikahanmu di sebuah apartemen.” Ujar Jungkook setengah berteriak membuat Jimin menjauh ponsel dari telinganya.

Jimin tertawa. Benar yang dikatakan Jungkook. “Biarkan saja ia seperti itu.”

“Hyung, apa kau sudah melupakan Hanna?” Jungkook tidak yakin jika Jimin membiarkan Hanna seperti itu terus.

“Ku rasa.”

“Tapi kau harus mengatakan padanya.” Pria itu terdiam sesaat. “Jangan membuat ia terus berharap padamu. Ingat, Hanna tidak tahu kalau kau sudah menikah. Dan Ji Eun, ia tidak mengerti masa lalu antara kau dan Hanna.”

“Aku – akan menyelesaikannya. Tapi kau jangan –“ Jimin terdiam ketika matanya menangkap sesuatu yang tidak asing baginya.

“Apa?”

“Jangan katakan pada Hanna bahwa aku sudah menikah. Sudah ya aku tutup dulu.”

##

Ji Eun memeriksa tasnya berkali – kali, ia yakin telah membawa dompetnya ke dalam tas. Namun di dalam tas dompetnya tidak ada. Sepertinya tertinggal di mobil, batinnya.

“Agassi, apa kau akan membayarnya? Antrian sudah mulai penuh.” tanya sang kasir.

“Sebentar—bisakah aku kembali ke mobil dan membawa barangnya? Dompetku tertinggal disana. Aku janji akan segera kembali.” Pinta Ji Eun.

“Maaf. Tapi tidak bisa.”

“Biar aku yang bayar.”

Ji Eun menoleh ke belakang. Seorang gadis yang tidak ia kenal sebelumnya berniat membayar belanjaannya. Gadis itu tersenyum. Lantas meletakan belanjaannya beserta kartu atm.

“Tapi –tapi—“

“Tidak apa. Kau bisa menggantinya saat kau sudah mengambil dompet di mobil.”

Ji Eun masih saja terdiam menunggu gadis itu membayarnya. Setelah selesai mereka pun keluar bersamaan dari supermarket.

“Terima kasih banyak sudah menolongku.” Ujar Ji Eun sembari menunduk.

“Tidak masalah. Lagi pula jika menunggumu kembali ke mobil akan memakan waktu yang lama.” Balas gadis itu tersenyum. “Oh iya. Namaku Jung Hanna.”

“Choi Ji Eun.” Kedua gadis itu tersenyum satu sama lain. “Hanna-ssi, tunggu sebentar aku akan kembali ke mobil.”

Ji Eun berjalan cepat menuju mobil dan mengisyaratkan Jimin yang tengah memadanginya dengan tatapan bingung untuk membuka pintu belakang. Begitu pintu terbuka ia meletakan barang dan bergegas mengambil dompetnya yang ternyata tertinggal.

“Ji Eun –a, kau mengenal gadis itu?”

“Akan ku jelaskan nanti.” Ji Eun tidak sempat menjawab pertanyaan Jimin. Ia buru – buru membayar uang Hanna sebelum gadis itu pulang. Jimin masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Ji Eun bertemu dengan Hanna? Apa yang terjadi?

##

Yo wassuppp ~~!^^

Btw masih ada yang ingat ff ini gak? 😀 v

Maaf ya baru bisa ngepost sekarang u,u

Happy reading and don’t forget, please leave ur comment ya ;___;

Big thanks buat para readers yang udah baca, udah ngasih saran plus ninggalin jejak di chapter sebelumnya ~

Kritik & saran kalian bisa jadi bahan masukan buat aku kedepannya ^^

 Terimakasih^^~~ *bow*

See ya! 😀

_rinaizawa

Advertisements

47 thoughts on “Chapter 5 : When Jimin Get Married

  1. Pingback: Another x Yoghurt
  2. aaaaa aku baru nemu ff ini, aduuhh greget dehh;3 btw chap 6nya belum ya thor? semoga cepet dilanjut yaaa, ini ffnya bagus aned sayang kalo di gantung huhu;3 fightinggg

    Like

  3. maaf ya thor bru coment pdhl bcnya udh lma hehee……

    next ya thor ditungguu… loooo..

    go go go semangat*kaga papalah ikut2 full house dikit

    Like

  4. Waaa akhirnya jieun ketemu hanna><
    Sebelumnya aku minta maaf baru komen di chap.5 😀 FFnya bagus, dari awal sampe chapter 5 jalan ceritanya menarik^^ ditunggu ff yang selanjutnya ya author^^

    Like

  5. Jangan lama” di lanjutin. Penasaranni apa yg bakal terjadi. Suka chapter yg ini👍. Pokoknya jangan lama” update next chapterny

    Like

  6. Kyaaaa.. ceritanya bikin deg” an aku suka banget ff ini ..so sweet bnget aduh aduh pengganggu nih hanna aish……
    LAnjut yaa…..ditunggu bnget…. …✌〜(^∇^〜)

    Like

  7. author kenali aku readers baru disini sellya imnida thor ff mu bkin aku greget sumpah sampe kyak gmna gtu thor kpan ff mu dilanjut seneng soaalnya ada bias ku kookie trus jiminnn awww sweatt hahah

    Like

  8. YAELAH TBC … 😭😭
    LANJOOOT ATOH THOOORR ..
    maap baru komen disini 😄😄
    GILS NANTI KONFLIKNYA GIMANAA?!?!😦😦
    CEPETAN APDET YAA THOOR NTAR ANE KEBURU KARATAN NGITUNGIN CICAK (padahal ga ada cicaknya) AMA KOOKIE *lah(?)/–“/abaikann ..
    NEEXT THOOR, KEEP WRITING 😁😁😍😙

    Like

  9. Akhirnya ff ini di post juga setelah sekian lama.. Sesuai perkiraan ini ff jjang #tunjukin 4 jempol buat author.
    Next chap nya di tunggu ya author yang baik :-).
    Jangan lama lagi yaya.

    Like

  10. .akhirnya d.post jg… udah lama nunggu ff ini…. ini intro konflik.kah? jd penasaran…
    lanjutan nya jngan lama² ya
    keep writing and go go semangat

    Like

  11. Ini kenapa harus hana ketemu jieun nasib jimin gimana ini di antara dua wanita gimana ntar kali jieun tau tentang hana dan jimin “tolong thor culik hana aja umpetin kemana gitu…lol
    Demen bgt pas jimin ngisengin jieun gitu pengin nabok chiiiim rasa nya

    Like

  12. Kebetulan banget si ji eun ketemu hanna.. harusnya jimin jelasin aja ke hanna kalau dia udh suka sama ji eun dan udh pacaran (kalau emang jimin gamau ngaku kalau ji eun itu istrinya) trus jimin juga jelasin ke ji eun kalau hanna itu masa lalunya jimin supaya ga salah paham nantinya… maaf author kalau aku terlalu banyak saran, kkkkk keep writing!! XD

    Like

  13. Ohh ya ampun, hilangkan hanna dari sini thorr -_-
    thorr lama sekali di update nya, tapi ga papa 😀 saya tetap setia menunggu haha

    nice ff dehh

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s