[BTS FF Freelance] Complete Me – (Vignette)

0329cb24eb218528c45dbee99a966aeb

Complete Me

by Pungkisseu

Starring: [BTS] Park Jimin & [OC] Kayla Nam || Rating: PG-17 (for alcohol) || Genre: AU, Romance || Length: Vignette || Disclaimer: I just own the story and OC’s, Kayla Nam. Hehe

.

.

.

.

“Pacar gunanya untuk saling melengkapi, kan?”

.

.

.

.

***

Hari ini Jimin memutuskan bolos, seperti apa yang ia jalani pada hari-hari sebelumnya. Tak peduli dengan ulangan harian Bahasa Inggris, tak peduli dengan Guru Jung yang memberinya surat peringatan saat ia masuk sekolah, tak peduli dengan Ibunya yang menangis sedih karena mengetahui kelakuan badung putra semata wayangnya. Jimin tak pernah peduli, tak pernah peduli pada apapun.

Kecuali satu.

.

“Kak Jim!”

Terdengar gadis itu seperti berlari menghampirinya. Jimin masih enggan untuk bergerak, bahkan hanya untuk sekedar menoleh saat gadis di belakangnya meraih lengan kokohnya.

“Ayo, kita berangkat bersama lagi!” ujarnya kelewat riang.

Dulu Jimin tak pernah peduli. Tak pernah peduli pada penampilan, tak pernah peduli pada omongan orang, dan segalanya. Tapi ketika Kayla, bocah yang waktu itu kelas dua sekolah menengah pertama datang menempati rumah kosong di samping rumahnya dan menyatakan secara blak-blakan bahwa Jimin itu tampan kalau saja mau memperbaiki penampilan, saat itu juga Jimin sadar bahwa apa yang dibicarakan orang terkadang penting untuk dirinya.

Namun Hoseok kembali mengingatkannya semalam.

“Memangnya apa nikmatnya pacaran dengan anak sekolah menengah pertama?”

Jimin terkadang tak habis pikir, mengapa bisa hatinya berlabuh pada anak cengeng seperti Kayla?

“Aku bolos.” Pelan-pelan Jimin mencoba menjauhkan diri. Masih dengan posisi membelakangi, Jimin berucap pelan dan datar, “Berangkat saja sendiri.”

“Tidak masuk sekolah lagi? Kenapa?”

Rasa ingin tahu bocah seumuran Kayla memang sulit untuk dihindari. Kayla menuntun kakinya untuk berdiri di depan Jimin. Dan selanjutnya ia terbelalak.

“Ya ampun! Matamu merah!” Ia memekik, “Semalam, Kak Jimin habis minum, ya?” Kayla meraih pundak tegap itu, menggoncangnya pelan demi mendapatkan sekata atau dua kata jawaban dari Jimin.

Jimin mendorongnya. Ini pasti bukan dirinya, Jimin tak akan berlaku kasar pada pacar manisnya. Apalagi sampai membuat Kayla tertunduk dan sebentar lagi pasti akan menangis sesenggukan.

“Apa pedulimu?”

Jimin hanya ingin tahu, seserius itukah Kayla mempedulikannya? Jimin hanya kalut sekaligus takut jika Kayla ternyata sama seperti orang-orang lain—

.

—yang berbalik pergi ketika tahu kehidupan kelam dari seorang Park Jimin.

“Aku peduli,” Pundaknya mulai bergetar, “Karena aku pacarnya Kak Jimin. Aku berhak tahu semua tentang Kak Jimin. Aku berhak mengingatkan atau bahkan marah kalau Kak Jimin mulai berbuat menyimpang.” Kayla mendongak, memperlihatkan matanya yang menggenang, “Aku ingin jadi pacar yang baik. Apa salah?”

Dari awal Kayla memang tulus. Dia percaya bahwa Jimin tak sebrutal itu, tak sekelam seperti yang orang-orang kira. Jadi, tidak ada salahnya kan jika Kayla ingin memperbaiki Jimin agar menjadi lebih baik lagi?

“Kau tidak peduli padaku. Kau hanya peduli dengan tugas sekolahmu, ulangan harian, tugas kelompok, nila rapot, dan—oh, bahkan aku tak tahu ada di nomor berapakah aku dalam pikiranmu.”

Kayla mengeratkan pegangan tangannya pada tali tas. Ingin teriak namun tak mampu. Ingin marah, tapi tak mungkin, karena apa yang diucapkan Jimin ada benarnya juga.

“Tidak usah berlagak seakan-akan kau peduli denganku, Kay.” Jimin tersenyum miring. Setelahnya Jimin pergi, meninggalkan Kayla yang masih berdiri dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Meninggalkan pacarnya sendirian, lalu berlari sekencang yang ia mampu sebelum gerbang sekolah ditutup.

.

Hari ini Jimin masuk sekolah dan ikut ulangan harian Bahasa Inggris.

.

.

.

***

Malam harinya berjalan seperti biasa. Jimin datang ke markasnya lalu disambut oleh Hoseok yang sepertinya sudah mabuk.

Hoseok menuangkan Absolut Vodka ke gelas mungil di depan Jimin, “Tidak bergairah untuk minum, eh?”

“Hyung, diamlah.”

Jimin benar-benar tak bergairah. Bukan masalah ulangan Bahasa Inggris yang ia kerjakan asal-asalan, melainkan karena seorang gadis yang sekarang pasti sedang murung di dalam kamarnya.

Kayla pasti sedih, tentunya juga menyesal karena telah mempercayai Jimin, si badung ini, untuk mengisi kekosongan hatinya.

Jika dipikir-pikir, apa yang bisa dibanggakan ketika punya pacar seperti Jimin? Jimin tak pernah mencetak prestasi yang memukau di sekolah, tapi ia juga tak terlalu bodoh. Setidaknya Jimin pernah merasakan mendapat peringkat sepuluh besar satu tahun yang lalu—saat kelas dua SMA.

Jimin juga bukan pria romantis, jadi mengapa Kayla mau dengannya?

“Aku pulang, hyung.”

Hoseok tak menjawabnya, ia masih asyik bercengkrama dengan wanita-wanita dan beberapa orang yang mengelilinginya.

Malam itu, untuk pertama kalinya Jimin tak menyentuh minuman yang ia favoritkan.

.

.

***

Di malam yang sama, Kayla duduk di depan meja belajar ditemani beberapa buku. Sesekali kepalanya melongok melihat ke luar jendela. Siapa tahu Jimin lewat. Siapa tahu malam ini Jimin minum lagi, kemudian muntah di selokan dekat pagar. Maka Kayla dengan suka rela akan keluar rumah dan memijat tengkuk pacarnya, membantu Jimin agar cepat mengeluarkan isi lambungnya yang sudah tercampur dengan alkohol.

Kayla menghela napas. Selain tugas rumah yang begitu sulit, pikirannya juga tak fokus. Otaknya jadi sulit diajak bekerja sama.

“Kak Jim, hilanglah dari pikiranku. Aku mau belajar sebentar. Please?”

Kayla tak menyadari jika pintu kamarnya terbuka lalu menutup dengan suara pelan. Suara langkah kaki terdengar dari belakang, tapi Kayla beranggapan bahwa itu hanya halusinasinya saja.

“Kay?”

Pundaknya seperti dipijat. Aroma parfum yang ia kenali menyeruak di indera penciumannya. Sial! Beginikah rasanya merindukan pacar? Bahkan aroma parfumnya saja sampai bisa kau bayangkan.

“Kudengar ada yang kesulitan mengerjakan tugas Fisika. Mau kubantu?”

“Apa-apaan ini?” Dengan frustasi, Kayla membenturkan kepalanya pelan ke meja belajar, “Bahkan suara Kak Jimin juga muncul di pikiranku. Ish..”

Jimin kembali memijat pundak Kayla, “Jadi, sedari tadi kau memikirkanku?” Ia terkekeh. Lucu sekali saat mengetahui Kayla kesulitan belajar hanya karena memikirkan dirinya.

Menyadari bahwa kehadiran Jimin bukanlah halusinasinya, Kayla sontak tekejut. Ia menoleh ke belakang, dan.. betapa senangnya Kayla saat mendapati Jimin tersenyum hangat untuknya.

“Kak Jim!”

Jimin mengusak rambut Kayla saat gadis manisnya itu memekik. Ia benar-benar merindukan saat-saat seperti ini, saat dimana Jimin mengusak rambut pacarnya, saat dimana mereka begitu dekat.

“Kata Ibumu, kau kesulitan dengan tugas Fisika,” Jimin menyandarkan tubuhnya pada meja belajar, “Biar kubantu, oke?”

“Tidak usah, tidak usah!” Kayla buru-buru merapikan buku-bukunya, “Aku bisa menyontek jawaban temanku besok pagi. Bagaimana kalau kita nonton film saja? Oh, aku lupa. Aku punya film baru! Ini Horror. Kak Jimin pasti—”

“Kay,” Jimin kembali tersenyum hangat. Diusapnya puncak kepala pacarnya dengan begitu lembut, seakan Kayla adalah barang berharga yang bisa rusak kapan saja jika Jimin terlalu ceroboh saat menyentuhnya.

“Jangan mengesampingkan masalah belajar.”

“Tapi, tadi pagi Kak Jimin marah karena aku terlalu serius mengurusi masalah sekolah.”  Bibirnya mengerucut, “Aku tidak mau Kak Jimin marah lagi.”

“Ah, tadi pagi,” Jimin berpura-pura lupa tentang apa yang terjadi tadi pagi. Padahal masalah tadi pagilah yang membuatnya tak bergairah untuk minum, bahkan minuman favoritnya sekalipun. “Tadi pagi aku hanya takut. Pagi tadi jadwal kelasku ulangan harian Bahasa Inggris. Kau tahu kan aku tidak suka Bahasa Inggris? Aku—aku mendadak bad mood, dan tidak bisa mengontrol mulutku.”

Entah mengapa Kayla merasa senang saat mendengar pengakuan dari Jimin. Berarti Jimin masuk sekolah tadi pagi. Berarti Jimin masih mendengarkannya. Berarti Jimin tak menganggapnya sok peduli lagi.

“Tapi Kak Jimin tidak perlu mengerjakan tugas rumahku jika Kak Jimin memang tidak menginginkannya.”

Jimin kembali mengusak rambut Kayla. Gadis manisnya ini benar-benar membuatnya gemas.

“Pacar gunanya untuk saling melengkapi, kan?”

Kayla tak menjawabnya. Kepalanya miring, menagih penjelasan lebih dari Jimin. Karena, jujur saja, Kayla sama sekali tak mengerti apa yang Jimin bicarakan.

“Melengkapi—maksudku—jika kau kesulitan dengan tugas Fisika, maka aku akan mengerjakannya. Jika aku kesulitan dengan tugas Bahasa Inggris, maka kau yang akan mengerjakan tugasku.” ucap Jimin agak gugup, namun setelahnya cengiran khas Park Jimin muncul, “Saling melengkapi, kan?”

.

Oh.

Begitu maksudnya?

.

Kayla senang dengan kedatangan Jimin malam ini. Tugas Fisikanya akan selesai, dia bisa tidur nyenyak, dan Jimin juga jarang main ke rumahnya akhir-akhir ini.

“Kak Jim,”

Masih dengan posisi duduk, malu-malu Kayla memeluk pinggang lelaki di depannya. Bibir bawahnya sedikit maju, merubah ekspresinya seakan ia kembali sedih seperti tadi pagi.

“Jangan marah lagi, ya?”

Jimin tersenyum simpul sambil kembali mengusap puncak kepala Kayla dengan sayang. “Tidak akan.” Jimin sedikit mengangkat dagu Kayla lalu berbisik,

.

“Berhenti memajukan bibir seperti itu. Kau belum cukup umur untuk kucium.”

.

fin

.

 

a.n: ndak tau ini nulis apa. maapkeun kalo ngga jelas.

itu ceritanya jimin kelas 3 SMA, dan Kayla 3 SMP. Enak kali ya pacaran sama anak SMP? kok jiminie sampe betah gitu :v

Yowes, semoga menghibur ya ^^

Salam uanget,

Pungki.

Advertisements

11 thoughts on “[BTS FF Freelance] Complete Me – (Vignette)

  1. “Berhenti memajukan bibir seperti itu. Kau belum cukup umur untuk kucium.”

    baca bagian ini ngakak thor😂
    kayla..kayla..😄
    dan ff author ini sweet sweet gimana gituu☺
    keep writing yaa~

    Like

  2. Yawla aku kok nyengir ini wqwq muka jimin gapantes maboq vodca kamu nak. Pantesnya maboq jasjus uhuhuhu. Tapi ini kiyowo banget aku suka interaksinya jimin yang (sok) dewasa sama pacarnya yg unyelable hihik.
    Keep nulis ya!

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s