[VIGNETTE] Cold Blood

jungkook eleanor

Jungkook – Eleanor

A Vignette Colaboration by Joonisa and Gyuskaups

Special for Jejeaurd’s Birthday

Genre: Romance, Fantasy

Rating: PG – 13

Tak seperti pemuda-pemudi di luar sana yang suka bepergian ketika akhir pekan tiba, Goo Eleanor lebih memilih untuk bekerja di Café Cold Blood yang berada tak jauh dari rumahnya, guna mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Eleanor hanya tidak ingin bergantung kepada kedua orang tuanya, apalagi dengan kondisi perekonomian keluarga Goo yang berada di tingkat menengah ke bawah.

Beruntunglah Eleanor mempunyai bos yang baik hati bernama Jeon Wonwoo. Wonwoo memperbolehkan Eleanor untuk memilih jam kerja sebisanya, menyesuaikan jam kuliah.

Kebetulan, hari ini Eleanor mendapat shift malam lantaran aktivitas perkuliahannya berada di jam siang. Setidaknya, kurang seperempat jam menuju tengah malam, café tempatnya bekerja sudah tutup dan dirinya pun bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Namun, ada satu pelanggan yang mengaku sebagai sepupu sang pemilik café datang berkunjung. Naasnya, pelayan yang tersisa hanyalah Eleanor seorang. Wonwoo pun menyuruh Eleanor untuk melayani saudaranya barang sejenak, sebelum pulang.

Dari arah dapur, Eleanor dapat mendengar segala konversasi antara Wonwoo dengan sepupunya. Sejatinya, gadis itu tak berminat untuk mendengarkan percakapan mereka. Namun, kondisi yang sangat sunyi juga rasa penasaran akan hal apa yang membuat sepupunya Wonwoo datang tengah malam begini, memaksa rungunya untuk mendengarkan percakapan mereka.

“Ayah dan Ibu berencana untuk menjodohkanku dengan Yoojin. Memang sih dia cantik, tapi dia tergolong gadis yang payah, tak bisa diandalkan.”

Eleanor berdecak kesal seraya membatin. Datang malam-malam hanya membicarakan tentang perjodohan? Kenapa tidak besok saja? Apakah waktu akan habis di esok hari? Menyusahkan saja.

“Coba saja lagi. Barangkali kalian ditakdirkan untuk berjodoh.””

Selama membuat dua gelas espresso, Eleanor tak henti-hentinya menguap. Tak biasanya jam segini dirinya sudah mengantuk. Mungkin ini terjadi gara-gara aktivitas yang begitu padat di kampusnya tadi siang. Sampai espresso itu jadi pun Eleanor terus saja menguap. Sedikit memaksakan matanya yang terlalu mengantuk, Eleanor pun melangkah keluar dapur sambil mengangkat dua gelas espresso itu dengan baki. Namun keberuntungan tampaknya sedang enggan menghampiri Eleanor hingga akhirnya –

Ya! Eleanor, apa yang kau lakukan barusan?”

─Ups, minumannya tumpah tepat pada kemeja sepupunya Wonwoo. Mana kemejanya berwarna putih pula. Sepupu Wonwoo langsung berdiri lantas membersihkan kemejanya. Namun rasanya percuma saja, karena pada dasarnya, espresso bersifat kental. Tidak akan bersih kalau belum bersentuhan dengan air dan deterjen.

Eleanor hanya bisa membungkukan badan sembari melontarkan berbagai kalimat penyesalan, alih-alih mengumpat dalam hati. Bagaimana ia bisa seceroboh ini? Kalau saja dirinya tadi membasuh muka dahulu guna menghilangkan rasa kantuk, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Apalagi yang kena tumpahannya adalah sepupunya Wonwoo. Bisa-bisa, gajinya dipotong gara-gara kejadian barusan.

“Wonwoo, bisakah kau meninggalkanku dengannya sebentar? Aku harus minta kompensasi dengannya.”

Tak ingin ribut dengan sang sepupu, Wonwoo pun meninggalkan sepupunya tersebut dengan Eleanor dan rasa takutnya. Eleanor takut kalau sepupunya Wonwoo tersebut meminta ganti rugi dengan uang. Membayangkannya saja ia enggan.

Tamatlah riwayatmu, El!

“Sebelumnya perkenalkan namaku Jeon Jungkook, sepupunya Wonwoo.”

“Nama saya Goo Eleanor.”

Jungkook terlihat jengah mendengar perkataan Eleanor. “Kenapa sih, manusia terlalu menjaga kesopanan?”

Eleanor menatap nanar Jungkook.

Manusia? Menjaga kesopanan? Mengapa dia bilang seperti itu?

“Baiklah, abaikan saja perkataanku tadi.” Jungkook memosisikan tempat duduknya senyaman mungkin.

“Jadi begini, tadi kan kau menumpahkan minuman pada kemejaku. Daripada kau mencucinya atau apalah itu, bagaimana kalau kau membantuku?”

“Me – membantu apa?”

Jungkook menggerakkan telunjuknya, memberi isyarat agar Eleanor mendekat. Takut-takut, Eleanor mencondongkan tubuhnya ke arah Jungkook.

“Jadilah teman kencanku, setidaknya selama beberapa kali.”

Mata Eleanor membulat tatkala otaknya berhasil mencerna apa yang dikatakan Jungkook.

“Kalau tidak mau, ya sudah. Itu artinya kau lebih memilih untuk mengganti kemejaku yang edisi terbatas ini dengan kemeja yang sama persis.”

Eleanor tampak sulit meneguk salivanya. Tawaran itu terdengar cukup menggiurkan lantaran dirinya tak ingin uang yang ia kumpulkan harus terbuang sia-sia hanya karena mengganti kemeja orang yang tak dikenalnya. Tapi, menurut Eleanor, menjalin hubungan dengan seseorang tentu menyita waktu. Waktu dua jam bagi orang pacaran bisa digunakan untuk berkencan. Bagi Eleanor yang terlalu sibuk dengan urusan kerja dan kuliah, dua jam sangatlah berharga untuk ia gunakan untuk beristirahat.

“Bagaimana?” tanya Jungkook tak sabar. Ia adalah tipikal orang yang tidak suka menunggu, meskipun hanya beberapa menit saja.

“Ta – tapi kenapa harus aku yang berkencan denganmu? Aku cuma gadis miskin yang – “

“Karena hanya kau manusia yang tidak bau. Selama ini Ibuku selalu menyuguhkan gadis-gadis bau untuk kukencani dan aku tidak suka itu. Setidaknya Ibuku harus melihat kalau aku punya kekasih untuk menghentikan kencan buta dan perjodohan konyol itu.”

Penjelasan panjang lebar dari Jungkook membuat Eleanor terperangah. Ia sesungguhnya tidak begitu paham mengenai apa yang dikatakan Jungkook, namun satu hal yang ia bisa cerna, yaitu kata bau. Eleanor spontan mengendus tubuhnya sendiri yang membuat Jungkook geleng-geleng kepala.

“Jadi, bagaimana? Ganti kemejaku atau kencan?”

Eleanor akhirnya memilih untuk mengangguk dua kali, meskipun ia masih dipenuhi oleh keraguan karena pembicaraan Jungkook yang janggal. Jungkook tersenyum puas, lalu bangkit dari duduknya dan menepuk-nepuk bahu Eleanor.

“Kita kencan besok. Aku akan menjemputmu di depan kafe ini jam sepuluh pagi.”

Jungkook celingukan mencari sosok Wonwoo. Sesaat setelah menemukan Wonwoo yang tengah memainkan ponsel di balik meja dapur, ia melambaikan tangannya kemudian berteriak,

“Wonwoo! Beri Eleanor hari libur untuk besok! Aku mau mengajaknya kencan, oke?”

Setengah terkejut dan setengah bingung, Wonwoo hanya bisa menganggukkan kepalanya. Jungkook kemudian pergi seenaknya dari kafe itu, menyisakan Eleanor dan Wonwoo yang sama-sama kebingungan. Wonwoo kemudian menghampiri Eleanor untuk meminta penjelasan, namun Eleanor hanya menjelaskan seadanya karena rasa kantuk kembali menyerangnya. Tidak tega, Wonwoo kemudian menyilakan Eleanor untuk pulang naik taksi yang sudah ditelepon oleh Wonwoo.

Ck, kasihan sekali gadis itu. Apa Jungkook yakin tidak akan memangsanya?” gumam Wonwoo setelah Eleanor pergi. Detik berikutnya, Wonwoo memegang perutnya yang berbunyi seperti engsel pintu yang kurang dilumasi. Ia kemudian berlari ke kamar pribadinya yang berada di dalam kafe itu dan bergegas meraih satu kantong cairan merah bertuliskan O+ lalu meminumnya sampai habis dalam hitungan detik.

“Ahhh, segarnya.”

.

.

Eleanor sudah menunggu lima menit sebelum waktu yang dijanjikan oleh Jungkook. Ia berpakaian rapi dan sedikit bersolek layaknya gadis muda yang akan berkencan sungguhan. Rambut dikuncir kuda, dress motif bunga selutut berwarna biru muda, sepatu flat, dan sedikit pulasan perona bibir membuat Eleanor tampak feminim.

“Kau lumayan juga ya, ternyata.”

Keberadaan Jungkook di belakangnya yang terlalu tiba-tiba membuat Eleanor hampir saja berteriak. Sejenak ia berpikir, sejak kapan Jungkook berada di belakangnya padahal baru beberapa detik yang lalu Eleanor masih sendirian di depan kafe itu.

“Lumayan apa? Lumayan jelek?”

“Hei, aku tidak bilang begitu.”

“Lalu apa?” tantang Eleanor. Bukan tanpa alasan Eleanor melakukannya, ia hanya tidak ingin besar kepala saat Jungkook yang baru dikenalnya semalam tiba-tiba memujinya.

“Lumayan, yeah, uhm, cantik.”

Eleanor mencibir. Sesungguhnya ia ingin sekali percaya namun di dalam pikirannya semua laki-laki itu adalah buaya, tak perlu dipercaya saat mereka menyebut dirinya cantik. Ia pun balas menatap Jungkook dari atas sampai bawah.

Tampan juga. Ah apa yang kupikirkan! Hentikan, Eleanor!

Eleanor menggeleng-gelengkan kepalanya yang memancing tatapan bingung dari Jungkook.

“Kau kenapa?”

“Ah, tidak. Aku sedikit kepanasan, itu saja.”

“Ah iya benar juga. Ayo, masuk mobilku. Rasa terik ini sudah begitu menyiksa.”

Jungkook menarik tangan Eleanor tanpa ragu. Bagi Eleanor yang tidak terbiasa memegang tangan lawan jenis, ada degup aneh yang menyusup ke dadanya saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Jungkook yang terasa dingin.

“Kita mau ke mana?” tanya Eleanor sesaat setelah mereka berdua berada di dalam mobil.

“Rumahku. Memangnya ke mana lagi?”

Mata Eleanor seketika membulat. “Apa?! Rumahmu? Katanya mau kencan?”

Jungkook menelengkan kepalanya, “kita hanya pura-pura, bukan? Jadi kau cukup kuperkenalkan beberapa kali dengan ibuku, setelah itu tugasmu selesai.”

Mulut Eleanor membentuk lingkaran seraya mengangguk paham. Ia sempat salah menyangka kalau Jungkook akan melakukan yang tidak-tidak karena langsung mengajak Eleanor ke rumahnya. Kini ia merutuki pikirannya yang kelewat serong.

“Hei, jangan melamun saja! Pasang sabuk pengamanmu. Aku tidak mau ditilang.”

“Eh – Iya. Maaf.”

.

.

Di hadapan Jungkook dan Eleanor, ada seorang wanita yang terlihat seperti berusia dua puluh tahunan sedang menatap Eleanor dengan seksama sambil bersedekap. Eleanor hanya bisa menunduk karena merasa tak nyaman dengan tatapan itu. Sesekali ia melirik Jungkook yang tepat berada di sisinya. Tidak seperti Eleanor, Jungkook malah duduk santai cenderung merosot karena kepalanya bersandar di sofa.

“Jadi namamu Goo Eleanor, pekerjaan sebagai pramusaji di kafe Wonwoo, dan lulusan SMA?” wanita itu mengulang semua biodata Eleanor yang sudah dikatakan Jungkook padanya sebelum ia menjempput Eleanor.

“I – iya be – benar.” Jawab Eleanor terbata-bata.

“Kenalkan, aku ibunya Jungkook. Kim Mi Sun.”

Eleanor mendongak. Ia benar-benar terkejut karena ibu Jungkook terlihat terlalu muda untuknya. Bahkan kalau ada yang mengatakan wanita itu adalah kakaknya Jungkook, orang-orang pasti akan percaya. Nyonya Kim hanya terkekeh pelan melihat ekspresi Eleanor.

“Aku sudah punya pacar. Jadi, jangan jodohkan aku dengan siapa-siapa lagi ya, Bu.” Kali ini Jungkook yang buka suara.

“Baiklah, ibu tahu kau pasti muak kujodohkan berkali-kali dengan berbagai wanita. Tapi, bolehkah ibu tahu kenapa kau memilih Nona Goo sebagai kekasih?”

“Sederhana saja,” Jungkook menegakkan posisi duduknya lalu menatap Eleanor, “Eleanor tidak memiliki bau yang mengganggu hidungku, Bu.”

Sontak Nyonya Kim berdiri saking terkejutnya. Ia menutup mulut dengan telapak tangan dan mata yang melotot sempurna. Jungkook dan Eleanor sama-sama bingung melihat reaksi Nyonya Kim barusan, namun dengan alasan yang berbeda. Jungkook bingung karena ibunya mengeluarkan ekspresi yang menurutnya berlebihan sementara Eleanor bingung karena lagi-lagi ada yang menyebutnya tidak bau.

“Jungkook, ibu mau bicara sebentar. Berdua saja.”

Nyonya Kim lantas pergi dari ruang tamu. Jungkook pun menoleh pada Eleanor.

“Kutinggal sebentar, ya?”

“Iya.”

Jungkook pun pergi menyusul ibunya. Begitu sampai di halaman belakang, Nyonya Kim langsung memeluk anak bungsunya itu.

“Aduh, ibu kenapa sih? Kenapa tiba-tiba memeluk – “

“Jungkook! Akhirnya kau menemukan wanita itu!” Nyonya Kim memekik tanpa bisa menyembunyikan rasa senangnya. Jungkook menggeliat dengan susah payah karena pelukan ibunya terasa menyesakkan.

“Ada apa sih, Bu?” tanya Jungkook yang berhasil melepaskan diri.

“Kau menemukan jodohmu, Nak!”

“Hah?”

“Dengarkan aku,” Nyonya Kim memegang kuat bahu kedua bahu Jungkook, “bagi vampir jenis langka seperti keluarga kita, lawan jenis yang tidak tercium baunya adalah pasangan sejati, jodoh, dan teman hidup kita selamanya.”

“Apa?” Jungkook hampir saja berteriak kalau saja ia lupa kalau ada Eleanor di rumahnya.

“Iya, Nak. Itulah keistimewaan dari jenis kita. Kita bisa tahu orang itu adalah jodoh kita kalau kita merasa orang itu tidak mengeluarkan bau apapun.”

“Kenapa aku tidak tahu hal itu? Kenapa ibu baru bilang sekarang?” tanya Jungkook dengan nada tinggi.

“Kau tidak pernah bertanya!”

Jungkook terdiam. Memang benar, selama ini ia terlalu cuek untuk masalah mencari pasangan padahal umurnya yang sudah genap seratus tahun sudah lebih dari cukup untuk memiliki pasangan. Ini sepenuhnya adalah salahnya yang  memang tidak pernah bertanya.

“Lalu aku harus bagaimana, Bu?”

“Apanya yang harus bagaimana? Ya tentu saja kau harus menikah dengannya!”

“Kalau ia tahu identitasku yang sebenarnya lalu tidak mau menikah denganku, bagaimana?”

“Kau akan menemui ajalmu, Nak.”

Jungkook lagi-lagi harus terdiam. Ia pernah mendengar kalau vampir yang terlalu lama membujang akan mati, tapi ia tidak pernah menyangka kalau penyebab kematian vampir yang membujang itu adalah karena tidak bisa menikahi orang yang sudah diketahui sebagai jodohnya.

Untuk sesaat Jungkook menyesal sudah pernah bertemu dengan Eleanor. Namun pertemuan itu bukanlah sebuah kesengajaan, pun ajakan kencan pura-pura itu adalah ide dari Jungkook. Semua itu adalah garis hidup yang sudah dituliskan untuk seorang Jeon Jungkook.

Jungkook tengah dihadapkan pada pilihan antara hidup dan mati.

.

.

“Euhm, terima kasih ya.”

Jungkook yang tengah melepas sabuk pengamannya menoleh cepat.

“Terima kasih? Untuk apa?”

“Makanan yang enak, keluarga yang ramah, dan sudah mengantarku pulang.”

Jungkook menghela nafas. Sebuah getar kekhawatiran menelusup ke dalam hatinya saat realita menerobos masuk ke logika Jungkook. Mereka adalah dua makhluk yang berbeda. Jungkook adalah seorang makhluk immortal penghisap darah sementara Eleanor murni seorang manusia. Jungkook sibuk memutar otak, berusaha menjawab sendiri kuriositas apakah ia benar-benar ditakdirkan untuk bersama dengan Eleanor atau tidak.

“Ibuku suka padamu, El.” Sebuah kalimat akhirnya lolos dari bibir Jungkook. Eleanor menatapnya dengan dibarengi sebuah senyum tipis.

“Ibumu sepertinya orang baik. Aku juga suka padanya.”

Secercah harapan seolah mendarat di ubun-ubun Jungkook. Kalau Eleanor dan ibunya sudah sama-sama saling menyukai, satu langkah untuk merebut hati gadis itu sudah dilewatinya karena biasanya ibu Jungkook pilih-pilih dalam urusan menyukai teman wanita anak-anaknya. Gadis-gadis yang pernah beliau jodohkan dengan Jungkook pun sebenarnya tidak ada yang disukai oleh beliau.

“Aku masuk dulu ya, Jungkook. Sudah terlalu malam.”

“El tunggu!”

Jungkook meraih pergelangan tangan Eleanor, menahan gadis itu untuk tidak membuka pintu mobil. Nafas Eleanor terhenti untuk beberapa saat karena Jungkook kelewat kencang menarik tangannya, membuat jarak mereka saat ini bisa dibilang terlalu dekat.

“A – ada apa?” suara Eleanor mendadak tercekat.

“Kalau aku, kau suka?”

Eleanor mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia terlampau bingung atas pertanyaan Jungkook, mengingat ini baru hari kedua mereka bertemu dan Jungkook sudah menanyakan hal itu padanya.

“Tergantung –”

“Tergantung apa?” Sifat tak sabaran Jungkook keluar lagi.

“Tergantung bagaimana sikapmu padaku.”

Jungkook terdiam selama beberapa jenak, lalu melepaskan tangan Eleanor. Membiarkan gadis itu keluar dari mobil dan pergi menuju rumahnya. Namun baru beberapa menit berjalan, sebuah ketukan di jendela membuat Jungkook tersadar dari lamunannya. Ia pun segera membuka jendela saat mengetahui kalau yang mengetuk adalah Eleanor.

“Ada apa? Ada yang ketinggalan?”

“Ada.” Eleanor mengangguk ragu.

“Apa?” Jungkook celingukan di kursi penumpang, mencari barang milik Eleanor yang ia kira terjatuh di mobilnya.

“Bukan barang. Aku hanya lupa mengatakan sesuatu – ”

Jungkook mengerutkan alisnya. Namun setelah Eleanor berujar, Jungkook merasa kehidupannya akan berlanjut beberapa ratus tahun ke depan.

.

“Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak suka padamu ya.”

.

“Kalau kuantar jemput kuliah dan kerja sambilan, bagaimana?”

.

.

“Oke.”

.

.

FIN

A/N:

SELAMAT ULANG TAHUN JEJE ^_^

Maaf ya kalo ff dari kami super absurd. *bow* pokoknya yang penting Jungkook – Eleanor deh. 😀

 

Advertisements

13 thoughts on “[VIGNETTE] Cold Blood

  1. Pingback: [VIGNETTE] Cold Blood – THE ROAD – JOONISA'S

  2. YAKALO JUNGKOOK BUKAN CUMA EL YANG SUKA, AKU JUGA SUKA /plak/
    MASIH GABISA KOMEN DENGAN NORMAL SUMPAH. TERIMA KASIH KAKNIS DAN MBAHMBLO I LAF YU POKOKNYA. BAPER INI MEMBUNUHKU/gak ding aku masih mau hidup sama Jungkook gamau mati dulu//dzing/

    BESOK EL MAKAN MENYAN MANDI KEMBANG SABUNNYA PAKE DEODORANT BIAR GAK BAU:” /astaghfirullah sumpah Je nyampah doang kalo komen sumpah/ HUWAAA AKU DIMABOK JUNGKOOK MALAM INI XD TERIMA KASIH POKOKNYA WAHAI SENPAINIMDEUL ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

    OH IYA, SEJAK KAPAN KELUARGA GOO JADI BANGKRUT GITU YA? TOLONG DIINGAT INI KELUARGA GOO ANTI BANGKRUT, TENGS! :") /tebar cireng//tidur Je, kamu nyampah/

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s