[Monochromic Youth] Sepersekian Detik Sebelum Senja Meledak – Oneshot

[Poster] Sepersekian Detik Sebelum Senja Meledak

[Monochromic Youth] Sepersekian Detik Sebelum Senja Meledak – Oneshot

©2015 by Fadillaskrn

Kim Namjoon [BTS] & Kim Nana [OC]

Angst, Hurt/comfort, Family

PG-13 || Oneshot ±2500 words

When trouble thinks it’s found us.

The world falls down around us.

I promise you won’t ever feel a thing

-o0o-

South Korea, 2016

Masa muda Namjoon sangat tidak menyenangkan. Sungguh. Siapa pula yang mau jadi buronan, dikejar-kejar oleh polisi-polisi di seantero Korea, dan hidup dalam kecemasan serta ketakutan pada usia sembilan belas tahun?

Namjoon tertawa getir. Kendati demikian, pandangannya tak juga lepas dari jendela berkosen putih model Eropa kuno yang ada di depannya. Kacanya yang sedikit retak basah oleh lelehan air hujan, menimbulkan butir-butir embun ketika dinginnya berpadu dengan napas Namjoon yang berderu hangat.

Sebenarnya, sejak kecil, ia benci hujan. Sangat-sangat benci, malahan. Lantaran hujan selalu menghancurkan segalanya: membuat kegiatan-kegiatan di luar ruangan batal, mengotori sepatu-sepatu mahal dengan noda becek jalanan, dan membuat semua orang mendadak menjadi melankolis. Namun, kali ini, ia merasa perlu bersyukur. Paling tidak, hujan telah menyelamatkan mereka. Ya, mereka. Ia dan…

Sejenak, ia berpaling ke belakang. Beberapa meter di sana, seseorang duduk bersandar pada tembok dalam penerangan seadanya dari sinar matahari yang dihalang-halangi awan hujan. Perempuan. Usianya lebih muda lima tahun darinya. Namanya Kim Nana. Perempuan itu adiknya.

Menyadari Namjoon menoleh, maka Nana berkata, “Kita tidak bisa di sini terus, Kak Joon. Polisi-polisi itu pasti akan datang lagi setelah hujan reda.”

“Dan, kita juga tidak bisa pergi kalau hujannya belum reda, Na. Lukamu.” Namjoon berjalan mendekat sembari menyahut. Matanya mengintai ke sudut-sudut yang gelap, yang tidak terjamah oleh cahaya. Ini rumah tua yang kosong. Mereka berhasil sampai ke sini setelah berlari beberapa ratus meter dan mendapat sebuah kenang-kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup: luka tembak di lengan kiri Nana. Mereka bersembunyi di semak-semak, lalu secara diam-diam menyelinap ke sini tatkala polisi-polisi itu sedikit lengah karena hujan deras yang tiba-tiba mengguyur.

Namjoon duduk di samping Nana. Lalu, pelan-pelan, ia mengangkat lengan kiri adiknya. Jemarinya menyingkap ujung kaus yang bernoda darah. “Masih sakit?”

Nana tidak menjawab. Namun, erangan kesakitan yang tertahan di mulut perempuan itu sudah membuat Namjoon paham. Luka itu cukup dalam, dan serpihan proyektil peluru masih bersarang di sana. Hanya dibalut sederhana dengan kain yang ia robek dari pakaiannya agar pendarahannya berhenti. Namjoon berharap, luka itu tidak terinfeksi. Ia tidak mau adiknya kenapa-kenapa.

Lalu, cukup lama mereka diam. Hening hanya diisi oleh suara rintikan air yang jatuh dari celah-celah atap yang bocor, embusan angin yang mengetuk-etuk kaca jendela, dan suara helaan napas Namjoon yang sarat frustasi.

“Harusnya kau tidak ikut, Na. Ini berbahaya sekali, tahu.” Ia mengusap rambutnya yang sudah menyentuh bahu dan menghalangi mata. Penampilannya kacau. Entah sudah berapa bulan ia tidak bercukur dan memangkas rambut. Kemudian tangannya berhenti di wajah, mengusapnya, dan menangkupkan tangan lama untuk menutupinya. Matanya terpejam.

Tahu-tahu, tiba-tiba ada beban berat yang mengenai bahu kanannya. Namjoon menoleh. Nana rebah dan langsung tertidur begitu saja tidak lama kemudian. Bahu perempuan itu bergerak naik-turun dengan teratur, pun napasnya ringan menggelitik. Namjoon tahu, Nana sangat lelah. Semua hal ini terlalu berat untuk bisa ia pahami.

Maka, tangannya terjulur merangkul bahu ringkih itu, mengusapnya lembut dan memberi beberapa bisikan penenang serta kecupan dalam di puncak kepala yang sarat emosi. “Semuanya akan baik-baik saja, Na. Ya, kan?”

Kemudian, samar-samar, hidungnya membau aroma tanah basah, aroma kayu tua yang sudah lapuk dimakan usia, dan harum wangi rambut Nana yang berasa vanilla. Telinganya dipenuhi suara rintikan hujan. Pemuda itu menghirupnya kuat-kuat, merasakan sedikit ketenangan yang menyelimuti batinnya setelah sekian lama.

Momen ini mengingatkannya pada suatu hal. Kala itu, mereka masih kanak-kanak dan semuanya belum menjadi serumit ini. Ia bukan Namjoon yang dibenci dan jadi buronan lantaran dituduh melakukan aksi teror bom, tetapi ia masih Namjoon kecil yang jadi kesayangan orang tuanya, yang kerap menemani Nana di malam-malam yang pekat saat anak perempuan itu tidak bisa tidur sembari merakit robot.

Kemudian, ia juga ingat, di malam yang lain, raung mobil polisi menggema di telinganya. Mereka sudah mengepung rumah Namjoon. Ibunya sudah pergi kemarin pagi, menyelamatkan diri entah ke mana. Kini, ia tidak tahu sama sekali perihal keberadaan perempuan itu. Sementara Nana, yang memang lebih dekat dengan dirinya dibanding dengan siapapun di dunia ini, merengek-rengek padanya sembari menangis. Nana kecil bilang ingin ikut kabur bersamanya.

Dan, kalau Nana sudah sampai begitu, ia tidak bisa menolak.

Ia hanya berjanji akan melindungi satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa itu.

-o0o-

“Kak Joon?”

Seketika, Namjoon menoleh. Sebuah baterai lepas dari tangannya sebab kaget. Pintu kamarnya setengah terbuka, dan kepala Nana mencuat dari sana bersama boneka beruang kumal kesayangannya. “Ada apa?” Ia bertanya. Kalau tidak salah, saat itu ia berusia lima belas tahun, sementara Nana sepuluh tahun.

Tanpa dipersilakan, Nana masuk, lalu duduk bersila di atas tempat tidur Namjoon. Sejenak, matanya menyapu sekeliling, ke sudut-sudut yang bernuansa monokrom dan dipenuhi poster robot serta rak-rak buku yang menjulang tinggi. “Aku mimpi buruk. Boleh aku tidur di sini?”

Tidak bisa tidak, Namjoon terkekeh. Ia segera memutar kursi belajarnya hingga ia kini berhadapan dengan Nana. Lalu, katanya, “Kau sudah besar, Na, masa masih takut dengan mimpi buruk? Ya sudah, tidur sana. Aku masih ada pekerjaan.”

Dan, ia kembali sibuk dengan pekerjaannya, merangkai robot. Asal tahu saja, bersama tiga orang temannya, ia ditunjuk mewakili sekolah dalam kompetisi robot tingkat nasional. Dua minggu lagi. Tidak usah heran begitu, sebab inilah Namjoon. Dia pintar, bahkan kelewat genius dibanding anak-anak seusianya. Ia juga tumbuh menjadi anak yang cadas. Benar-benar cadas. Ayahnya meninggal saat ia tujuh tahun, dan ia segera sadar jika tinggal ia satu-satunya laki-laki dalam keluarga. Dulu, kata ayahnya, laki-laki adalah pelindung. Jika ia lemah, ia takut ibu dan adiknya akan tertindas.

Namjoon terjaga nyaris semalaman. Merancang sketsa model rangka, lalu mencatat bahan-bahan yang ia butuhkan. Ia pula yang merancang software pengendali di laptopnya. Ia baru bisa memejamkan mata setelah lewat pukul tiga. Nana, yang katanya mau menemaninya semalaman, sudah tertidur duluan di ujung tempat tidurnya. Dengkurannya samar, tetapi hangat. Air liur mengalir samar ke boneka beruang kumal yang sudah dimilikinya sejak ia balita. Namjoon menatap pemandangan didepannya dengan sorot mata hangat.

Kemudian, tanpa ia sadari, tiba-tiba ia memeluk Nana erat-erat. Bahkan tidak pernah seerat itu hingga Nana terbangun dengan kaget sembari meronta-ronta karena kesulitan bernapas. Di bawah lampu yang remang-remang, dua saudara itu tersenyum. Senyumnya rikuh.

“Nana, nanti kalau Namjoon sudah besar, Namjoon mau buat robot besar yang bisa berubah jadi mobil seperti di film Transformers. Nanti, kita jalan-jalan keliling dunia pakai itu sama-sama, ya?”

Barangkali, saat itu, belum terpikir oleh Namjoon jika robot buatannya, robot yang rencananya ia buat untuk menemani Nana bermain kalau ia sedang tidak berada di rumah akan menimbulkan bencana. Bukan sekarang, tetapi tiga tahun kemudian. Umurnya delapan belas tahun saat itu.

Kejadian terkutuk itu terjadi pada 7 Oktober 2015. Di sore hari, kota Seoul tidak disapa oleh silau sinar matahari senja yang menyerbu masuk lewat celah jendela, melainkan oleh suara ledakan keras yang memekakkan telinga. Lantai-lantai bergetar. Orang-orang langsung terjaga dalam suasana mencekam dan waspada. Bocah-bocah menangis, melesak dalam pelukan ibunya masing-masing. Mata-mata lelah memaksa terbuka, sekadar berjaga-jaga.

Lalu, pertanyaannya, ada apa? Apa yang sudah terjadi? Kegilaan macam apa lagi ini? Ya Tuhan, ini masih pukul enam. Banyak orang yang butuh istirahat.

Matahari seolah-olah meledak senja itu. Hanya dalam waktu sepersekian detik, kaca-kaca pecah berhamburan di jalanan dan asap pekat membumbung tinggi dari atas COEX mall dan beberapa bangunan penting di seluruh kota Seoul: gedung Dewan Perwakilan Korea, Incheon Airport, dan Seoul National University. Sebelumnya, beberapa suara ledakan terdengar hampir bersamaan. Lalu, sejumlah orang keluar dari bangunan-bangunan itu dengan langkah terseok-seok dan tubuh penuh luka. Sesudahnya, ribut suara mobil polisi dan pemadam kebakaran meraung-raung di jalanan.

Orang bilang, itu teror bom. Bagian dari rencana licik organisasi-organisasi ilegal yang ingin menjatuhkan pemerintah. Segera, penyelidikan besar-besaran dilakukan ketika lokasi kejadian sudah dikira aman beberapa hari kemudian. Gila. Benar-benar tidak masuk akal. Semuanya direncanakan sangat rapi dan tanpa cela. Tidak ada kesalahan sama sekali dalam teror itu, sebelum akhirnya sesuatu yang mencurigakan ditemukan. Di lantai dua, di sudut dekat toilet wanita COEX mall.

Di hari yang sama, Namjon menatap apa yang terpampang di layar televisinya dengan tubuh bergetar hebat. Wajahnya basah oleh air mata. Dadanya sesak. Pakaian tidurnya berantakan. Sementara beberapa langkah di belakangnya, Nana menangis histeris dalam dekapan ibunya di sofa. Jemarinya yang rapuh terangkat, menyetuh sesuatu di permukaan layar. Seketika, rasa takut yang teramat sangat menyerbu masuk dalam hatinya. Meluap-luap, meledak-ledak, membuatnya nyaris pingsan saat itu juga.

Itu… Itu…

Itu rangka robot buatannya.

Robot yang ia jual seharga lima juta won pada salah satu perusahaan barang elektronik terbesar di sana.

-o0o-

“Kak Joon, bangun!”

Suara Nana membuat kesadaran Namjoon kembali secara perlahan-lahan. Rupanya, tadi ia tertidur cukup lama. Perempuan itu mengguncang-guncangkan lengannya dengan keras, berulang kali, membuatnya tersentak.

Mata Namjoon menyipit. Lengannya menutupi mata. Sekujur tubuhnya sakit dan pegal. Kepalanya pening. Tampaknya, hujan sudah reda dan silau cahaya matahari senja masuk lewat celah-celah lubang udara. Setelah tidak lagi tersilau, tangannya turun perlahan-lahan. Ia mengerjap beberapa kali hingga matanya yang semula buram kini sudah berubah jelas. Rumah tua bergaya Eropa kuno. Kim Nana. Raut wajahnya cemas.

“Polisi-polisi itu di luar,” katanya setengah berbisik. “Ayo pergi, Kak.” tangannya menarik ujung kaus Namjoon, memaksanya bangkit.

Namun, Namjoon malah diam. Matanya memejam rapat dan lama. Ia menghela napas panjang. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Gemingnya pemuda itu membuat suasana jadi amat sangat mencekam dan Nana sampai senewen dibuatnya. Lalu, setelah hening yang cukup panjang, akhirnya Namjon bersuara juga. Suaranya parau. Matanya yang berair membuka perhalan-lahan. Nana, yang sebelumnya sudah berdiri, kini kembali berlutut di depan kakaknya. Perasaanya tidak enak.

“Aku tidak mau kabur lagi, Na. Karena ada kau, ini jadi berbahaya. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa lagi.” Ia meraih lengan kiri Nana, mengusap kain yang membalut lukanya. Darah masih merembes sedikit-sedikit, tetapi sebagian sudah mengering dan menghitam.

Sontak, Nana menutup mulutnya dengan tangan. Tidak, tidak, pikirnya. Kepalanya menggeleng kuat-kuat. Seakan-akan, ketakutannya yang berusaha ia enyahkan selama ini akhirnya terjadi juga. Nyaris saja pekikan syok terdengar, tetapi buru-buru ia tahan, lantaran ia tahu, satu suara gaduh sedikit saja dapat membuat polisi-polisi itu curiga dengan keberadaan mereka di sini.

Ya, setelah hampir setahun bersembunyi, akhirnya Namjoon menyerah.

“Polisi itu belum tahu jika ada kau di sini,” kata Namjoon sembari melirik ke jendela. Di luar, di balik pagar besi yang tertutup sulur-sulur tanaman liar, polisi-polisi tengah berkeliaran. “Sekarang, kau pulang. Selamatkan diri. Sembuhkan lukamu juga. Biar saja aku menyerahkan diri nanti. Lagi pula, cepat atau lambat, aku akan tertangkap juga, kan?” setelah berkata demikian, Namjoon tertawa. Tawanya getir, penuh rasa cemas pun mewakili rasa pasrahnya.

Namjoon tidak sedang bergurau kali ini; ia sungguh-sungguh, dan Nana tahu itu. Tidak pernah ia melihat kakaknya serapuh dan seputus asa ini sebelumnya. Bahkan, setelah berkata demikian, Namjoon menangis. Tangisannya pilu, membuat hati Nana terasa seperti teriris-iris. Seumur hidup, ia tidak pernah melihat Namjoon menangis.

Mendadak, Nana bingung. Ia tahu, waktu berpikirnya tidak banyak. Namjoon memberinya kesempatan besar untuk menyelamatkan diri. Sayangnya, ia masih punya hati dan perasaan. Masa iya dia tega meninggalkan kakak tersayangnya ini sendirian di sini?

Belum sempat Nana berpikir lebih jauh, pintu di sebelah kirinya mendadak terbuka. Oh, maaf, ralat, bukan dibuka, melainkan didobrak dengan kasar. Debuman keras terdengar. Dan, kejadian setelahnya benar-benar diluar didugaan Nana maupun Namjoon: pistol-pistol melontarkan tembakan peringatan ke udara, derap langkah kaki yang terdengar rapat dan menyahut-nyahut, serta anjing-anjing yang menyalak dan menggeram. Suasana mencekam. Nana menutup telinganya dengan kedua tangan dan memejamkan matanya erat-erat. Tubuhnya gemetaran. Menakutkan.

Dalam hitungan detik, polisi-polisi itu sudah berjajar di hadapan mereka, lengkap dengan berbagai senjata di tangan yang disertai tameng pelindung. Sepasukan polisi itu membentuk setengah lingkaran dan memerangkap mereka ke dinding. Sudah, ia tidak bisa kabur lagi. Jantungnya berdetak tak keruan. Bertalu-talu, memukul dadanya hingga terasa sakit sekali. Badannya kuyup oleh peluh.

Berbeda dengan Nana, Namjoon berusaha tenang. Laki-laki itu patuh. Dalam duduk diamnya, ia mengangkat tangannya ke atas kepala dan tidak melakukan perlawanan sama sekali. Matanya masih memejam sejak tadi. Rupanya, ia sudah benar-benar menyerah sekarang. Ia tidak peduli jika harus ditahan seumur hidup atau bahkan sampai dihukum mati nantinya.

Salah satu polisi, yang Nana yakini adalah pemimpin mereka, maju ke arah Namjoon. Tubuhnya gempal, perutnya buncit, lehernya nyaris tidak terlihat, dan kumisnya hampir menutupi bibir. Di tangannya ada sebuah borgol. Langkahnya tegap dan meyakinkan. Sementara, di belakang, pasukannya masih berdiri siaga. Moncong-moncong pistol mengancam di tangan mereka. Pelatuknya siap ditarik jika sewaktu-waktu Namjoon memberontak.

Lalu, tanpa diduga-duga, Nana maju. Tubuh mungilnya menghadang jalan si polisi gendut yang hendak mendekati Namjoon. Kedua tangannya direntangkan di samping tubuh. Jemarinya yang masih gemetar mengepal, sangat kuat. Setelah itu, ia berteriak, “Jauh-jauh dari Kak Joon!”

“Kau mau cari mati, hmm?” Si polisi gendut tersenyum meremehkan. Barang tentu, ia bisa mematahkan tangan perempuan itu dengan sekali pukul saja. Namun, ia hanya mengedikkan bahu sembari menoleh pada anak-anak buahnya. Segera, moncong-moncong pistol yang sebelumnya sempat diturunkan kini kembali bersiaga.

Detik-detik setelahnya berjalan seperti sebuah film yang diputar dengan efek slowmotion: Nana yang terisak-isak sambil terus merentangkan tangan di depan Namjoon; Namjoon yang berteriak kesetanan meminta Nana menjauh; dan si polisi gendut yang mengangkat sebelah tangan sambil melangkah mundur. Ia sedang memberi aba-aba pada anak buahnya, tentu saja. Sepersekian detik kemudian, puluhan pelatuk itu ditarik bersamaan.

Samar-samar, sembari memejamkan mata, Nana tersenyum lemah. Karena walaupun peluru-peluru tersebut menghujam tubuhnya, ia sudah tidak peduli sama sekali. Ia akan tetap berada di sini, berdiri tegak dan melakukan apapun demi melindungi Namjoon, satu-satunya anggota keluarganya yang masih tersisa.

Apapun.

 

Fin.

Epilog:

South Korea, 2017

“Kak Joon? Pasti sedang melamun lagi, ya? Dasar.”

Lagi-lagi, Namjoon tersentak kaget ketika lengan Nana menyenggol lengannya. Ia menoleh, lalu perempuan itu berlagak merajuk. Bibir mungilnya mengerucut dan tangannya bersedekap di depan dada.

Kemudian, dengan santainya, Namjoon bertanya, “Memangnya tadi kau cerita apa?”

Nana mendengus. Tanpa menunggu Namjoon, ia segera berlari ke mobil mereka. Mobil Chevrolet Camaro warna kuning, persis seperti Bumble Bee dalam film Transformers, dan sesuai dengan janji Namjoon dulu. Namun, ini bukan mobil yang bisa berubah menjadi robot dan membantu menyelamatkan dunia dari kejahatan. Ini hanyalah mobil biasa. Namjoon membelinya akhir tahun lalu.

“Aku bicara tentang rencana keliling dunia kita. Menurutku, kita harus ke Bali dulu sebelum ke Australia. Katanya, pulau kecil itu sangat indah.” Nana bersuara juga setelah Namjoon mengejarnya ke mobil dan dengan susah payah membujuknya. Nadanya acuh tak acuh.

“Oke,” katanya sembari mengangguk. “Kita ke Bali dulu.” Setelah itu, Namjoon segera keluar dari mobil. Nana, yang masih berlagak merajuk, langsung menoleh. Dahinya berkerut samar. Aih, laki-laki ini. Menyebalkan. Sudah, begitu saja?

Dengan setengah berlari, Nana menyusul Namjoon yang kini sudah berdiri di tepian pantai. Tangannya bertopang pada pagar pembatas dari baja. “Eh, mau ngapain lagi?”

Lagi, Namjoon diam. Setelah beberapa saat, barulah ia menoleh pada Nana sembari tersenyum manis, “Mau lihat senja. Mau melihat matahari tenggelam untuk terakhir kalinya di sini sebelum memulai perjalanan panjang kita besok pagi.”

Setelah itu, pandangannya kembali pada hamparan laut lepas di depannya. Nana pun melakukan hal yang sama. Perlahan, matahari mulai turun. Sapuan kuning-oranye menyapu mereka, membuat mereka harus sedikit menyipitkan mata. Sinar itu juga menyapu permukaan laut, membuatnya seperti bercahaya. Seolah-olah, matahari hendak menjatuhkan diri ke laut yang dalam.

Nyatanya, matahari tidak menjatuhkan diri ke laut pada hari itu. Sebaliknya, matahari meledak. Ya, sungguh. Senja benar-benar meledak di sana.

Dan, tepat ketika matahari hampir menghilang sepenuhnya, suara ledakan terdengar sekali. Lalu, Namjoon merasa ada yang bergerak mendekatinya dari arah sana. Sesuatu yang melaju sangat cepat diiringi suara desing samar yang hampir tidak terdengar. Sesuatu itu mengenai dadanya.

Setelah itu, dalam pandangan Namjoon, semuanya gelap.

“Eksekusi berhasil. Dia sudah benar-benar mati.”

A/N:

  1. Judul Sepersekian Detik Sebelum Senja Meledak terinspirasi dari salah satu flashfiction teman yang berjudul sama.

Advertisements

7 thoughts on “[Monochromic Youth] Sepersekian Detik Sebelum Senja Meledak – Oneshot

  1. Pingback: Sepersekian Detik Sebelum Senja Meledak – Bluerocks and Her Wonderworld

  2. Demi……. aku ga nyangka endingnya bakal begini. Kukira udah selesai aja namjun dibebasin karna sebenernya bukan dia yang jadi pelaku pengeboman walaupun dia yang bikin robotnya. Eh ternyata….

    Jadi kepikiran eksekusi jaman dulu di pantai bali, bikin baper parah pas baca disini :””” entahlah aku bener-bener ga tau harus komen apa lagi. Ficnya bagus banget!

    Liked by 1 person

  3. Anw, ini salah satu fic favku 😍 Diksinya enak(?), ceritanya pun simple, cuma endingnya aja agak rancu(?). Ditambah kusuka fic genre family, jadi makin suka aja(?). /inikomentarmacamapa.
    Sayang belum bisa menang di event MY~ tetep semangat dan ikut terus event BTSFFINA yang lainnya yaaa, hohoho.

    Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s