[Monochromic Youth] Unpredictable Youth – Ficlet

unpredict youth

Unpredictable Youth

by malfione

[BTS’s] Kim Taehyung || Family, Fantasy

Ficlet || General

Bodoh. Penyakitan. Pemalas. Pembuat onar. Masa muda yang menyedihkan. Memangnya apa yang bisa dibanggakan dari diriku? Sama sekali tidak ada. Harusnya mereka malu memiliki anak sepertiku. Harusnya kakak juga malu punya adik semenyedihkan aku. Tapi entahlah, kurasa mereka sebenarnya menaruh kebencian di balik kepalsuan yang mereka ciptakan. Aku tidak ingin berprasangka sebenarnya, tapi, ya mungkin saja ‘kan?

Menjadi satu-satunya anak lelaki di rumah ini harusnya aku bisa menopang, menjadi tulang punggung keluarga. Tapi tidak. Alih-alih, yang kulakukan justru minta uang, minta uang dan minta uang. Selalu seperti itu. Sampai ayah terpaksa melakukan korupsi di perusahaan demi membiayaiku. Kau tebak apa yang terjadi berikutnya? Ayah masuk penjara dan aku sama sekali tidak merubah tabiat burukku.

Mungkin ibu frustasi. Mungkin kakak tidak tahu bagaimana lagi caranya untuk menghentikan sifat burukku. Mereka selalu menatapku dengan pandangan kosong tiap kali minta uang. Menganggap seolah-olah aku Voldemort yang telah mengutuknya dengan mantra Imperius. Bloody hell, aku tidak semenyeramkan itu. Tapi masa bodoh. Selama keinginanku terpenuhi, aku tidak masalah.

*

Hari ini aku mabuk lagi. Lebih parah dari biasanya sampai-sampai aku harus berjalan dengan tangan yang meraba-raba tembok. Untung sudah dini hari dan tidak banyak—atau malah tidak ada—kendaraan yang berlalu lalang sama sekali. Awalnya aku biasa saja lantaran sudah terbiasa. Tapi tidak lagi setelah mendengar raungan seorang perempuan. Aku melihatnya—tentu saja dengan pandangan buram. Bersimpuh di trotoar sembari meronta minta dilepaskan dari jeratan dua lelaki dewasa. Harusnya aku membiarkan saja—tipikal aku sekali. Tapi yang kulakukan adalah menyebrang, menghampiri dua lelaki sangar yang entah dapat kekuatan dari mana aku berhasil membuat mereka terkapar dengan beberapa tinjuan. Mungkin benar apa yang orang-orang katakan : orang mabuk akan jauh lebih beringas.

Perempuan yang bersimpuh membelakangiku itu menangis sesegukan. Menggumamkan beberapa kata yang berhasil membuat hatiku mencelos, “ayahku dipenjara, keuangan keluarga menurun drastis dan adikku sama sekali tidak peduli. Aku ingin mati. Aku ingin mati.”

Ratapannya sungguh menusuk hati seakan benar-benar merasa frustasi. Aku berbalik. Merasa beruntung karena pandanganku tidak seburam tadi. Tapi—

Tidak.

Perempuan ini, mengapa aku merasa familier sekali?

Tidak mungkin.

“Taehyung?”

Bam!

Yang kudapati sepersekian sekon setelahnya adalah aku yang bangun dari mimpi. Terengah-engah dengan peluh membanjiri dahi. Bagaimana bisa itu tadi terasa sangat nyata? gumamku pada diri sendiri.

Tidak ada hal lain yang bisa kukerjakan selain bangun-mandi-lantas menghampiri meja makan dengan wajah berseri. Ayah ada di sana, duduk di kursi paling ujung dengan kedua tangan yang memegang koran. Kakak masih repot dengan buku bawaannya, juga ibu yang berseliweran ke sana ke mari untuk menata sarapan. Sementara aku? Terkekeh melihat rutinitas mereka yang itu-itu saja setiap hari.

Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri tatkala ibu berteriak dari balik pantry, “Taehyung-a, nanti kamu latihan basket lagi?”

Sembari mengunyah roti aku mengangguk antusias. Wajahnya meneduhkan hati selagi menyodorkan wadah makan warna biru—warna favoritku sejak bayi. “Ini. Bekal untukmu dan teman-teman. Jangan jajan di luar lagi kalau tidak ingin sakit perut berhari-hari!” Kemudian ia melangkah menghampiri kakak sebelum melakukan cipika-cipiki, ugh, khas wanita sekali.

*

Seumur hidup , baru kali ini aku merasa bahwa bermain basket bisa semenyenangkan ini. Maksudku, ini berbeda dari biasanya. Aku menjadi lebih bertenaga, lebih… apa ya? Bahagia. Beberapa jam terakhir semenjak aku mengalami mimpi yang menurutku sangat nyata sekali, rasa-rasanya ada yang aneh. Seperti bukan diriku yang selama ini. Seperti dilahirkan kembali.

Efek ini membawa dampak yang besar sekali di malam hari; aku tidur bagai orang mati. Ini lantaran saking semangatnya, aku sampai lupa waktu dan terus saja meminta teman-teman untuk bermain lagi dan bermain lagi. Anehnya, tidak ada yang protes, dan memilih untuk menuruti. Ya, walaupun beberapa dari kami : Suga hyung dan Seokjin hyung, pamit lebih dulu lantaran sudah ada janji.

*

Jalan tak berujung. Sisi kanan-sisi kiri yang tak bertepi. Pula kabut yang memenuhi pandangan membuat alisku sekonyong-konyong berjungkit. Seingatku, sepersekian menit yang lalu aku masih terlelap di kasur dan tidak pernah pergi ke mana pun. Tapi, kenapa aku bisa sampai di sini?

Aku masih sibuk dengan berbagai tanda tanya di hati sebelum netraku mendapati orang-orang berbaju putih yang berlalu lalang di sana-sini. Fokusku serta merta berpindah ke tubuhku sendiri. Sejak kapan kaus oblongku berubah menjadi kemeja putih?

Instingku membawaku berjalan ke depan tanpa henti. Begitu terus sampai berjam-jam kemudian. Anehnya aku tidak merasa kelelahan alih-alih justru dirundung rasa penasaran. Apalagi tatkala netraku mendapati bahwa jalanan ini terpisah menjadi dua bagian. Kanan dan kiri. Melongokkan kepala untuk sekadar tahu manakah jalan yang sebaiknya aku pilih, tapi agaknya itu tidak berguna sama sekali.

“Pilih satu jalan dengan menggunakan kata hatimu. Ada dua pilihan di situ. Entah kanan atau kiri. Salah satunya akan membuatmu terperangkap dalam masa muda yang mengerikan.”

Samar aku mendengar kemaman. Tapi sejauh mata memandang, tidak ada seorang pun di sisiku. Ugh, ini jelas membuatku bingung secara terang-terangan.

*

Butuh kira-kira lima menit sebelum aku memantapkan tekad memasuki salah satu sisi jalan. Entah kanan entah kiri, aku membiarkan kakiku bergerak sesuai keinginan, tentu saja menuruti kata hati.

Rasanya seperti disedot habis-habisan oleh penyedot debu raksasa. Ini mengerikan. Aku dipontang-pantingkan. Berputar-putar sampai perutku terasa mual. Dan detik berikutnya, buram, samar, lalu netraku mendapati wajah ayah, ibu, juga kakak yang mengisyaratkan kekhawatiran yang besar.

“Oh syukurlah, Nak.”

“Kamu tidur seperti orang mati, Tae. Ini mengerikan.”

Dan masih banyak kemaman lain yang berjejalan untuk diterima indera pendengaran. Aku kembali. Dan beruntung sekali mengetahui fakta bahwa pilihanku tepat sekali. Keluarga harmonis. Teman yang saling menyayangi. Memangnya ada, masa muda yang lebih menyenangkan dari pada ini?

—fin.

Advertisements

3 thoughts on “[Monochromic Youth] Unpredictable Youth – Ficlet

  1. Yang ikutan event ini kok senpai semua kayaknya, da inimah keren atuhlah aku larut dalam narasi yang kaujabarkan /apasih Vi/

    Ini semacam gimana ya, duh aku gabisa jelasin(?) Kentara sekali kalau Taehyung kebingungan pas masuk alam yang kedua(?) Yang nentuin gimana dia milih masa mudanya, entah yg mengerikan kayak narasimu di awal cerita, atau menyenangkan kayak narasimu yang bagian pertengahan. Intinya ini bagus hee semangat ya, lain kali pasti lolos(?) LOL /vi jayus/

    Like

    1. Haiii siapa kamu? Yuk kita kenalan LOL :’v senpai apaaaaa pliseu daque baru njebur dunia perauthoran(?) baru Desember atuhlah(?)

      Tapi terimakasih banyakkk yaaa, dan semua penjabaranmu di komenan 100% bener XD

      Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s