[Monochromic Youth] Teenager’s Diary – Oneshot

teenagers-diary-copy

Title : Teenager’s Diary

Author : LaillaMP

Genre : Drama, Comedy, Friendship,A bit Angst, Fluff, Slice of Life

Length : Oneshot (2k+ words]

Rating : PG 13

Cast : Kim Taehyung, Min Yoongi, Jung Hoseok, Park Jimin, Kim Seokjin and mentioned Jeon Jungkook, Kim Namjoon

Dislaimer : I didn’t own anything but the story. All cast(s) belongs to God, their parent(s), BigHit Entertainment and themselves. Poster belongs to Xyoblue@IndoFanfictionsArts [thank you for the best poster, dear^^]

Summary : Ini kisah mudaku, mana kisah mudamu?

*****

Kata orang, masa muda itu masa yang indah. Ketika kita bisa berteman asyik dengan siapapun di dunia ini misalnya.

“Hey!”

“Taehyung-ah!”

Ya, Kim Taehyung!”

“Bagaimana lomba kemarin?”

Lelaki yang bernama Kim Taehyung itu langsung dikerubungi 4 anak laki-laki lainnya setelah kaki kanannya memasuki ruang kelas. Kedua bahunya sudah ditumpangi dua siku dari anak berbeda, sedangkan dua lainnya mengikuti langkahnya sembari menatap kagum pada anak itu.

“Lihat saja hasilnya nanti. Aku pasti menang,” ucap Taehyung mantap. Toh mereka juga tidak akan tahu kalau aku lupa bawa kuas keramatku kemarin.

 

Masa muda itu masih menempati masa terindah di benak orang, contohnya ketika kita berani memimpikan sesuatu yang belum tentu terjadi, atau mungkin tidak akan terjadi.

“Aku mau masuk SKY[1],” ucap Jimin, yang langsung mendapat tawa dari berbagai mulut disekitarnya.

Taehyung tidak bisa menghentikan tawanya, memikirkan bagaimana Jimin yang jika menatap tulisan saja sudah tertidur dengan air liur membentuk pulau di kertasnya bermimpi untuk masuk SKY University. Seoul University dan Korea University sama-sama sedang bersaing untuk menempati posisi pertama di dalam negeri, sedangkan Yonsei University…. memangnya hanya ada beberapa orang yang memimpikan masuk kesana?

“Hey, ini kan cuma impian! Jangan dianggap serius, dong,” lanjut Jimin membela diri. “Kalau aku benar-benar masuk kesana bagaimana?”

“Mungkin dunia akan kiamat!” ucap Taehyung mantap.

“Aku mungkin akan jomblo seumur hidup,” Seokjin ikut menjawab pertanyaan retoris Jimin.

“Kalau kau masuk kesana, aku pasti bisa menikah dengan Suzy besok,” jawaban dari Hoseok ini membuat mood Jimin makin jongkok.

“Ha! Sepertinya aku harus menyiramkan cairan antiseptik untukmu, Jim,” dan jawaban pamungkas dari Yoongi ini mengakhiri semuanya. Jimin mendengus kesal dan berniat untuk mencampurkan minuman mereka dengan racun tikus yang sering ibunya pakai di rumah.

“Kami bercanda, hey! Jangan marah!” Taehyung yang melihat wajah kecut Jimin menepuk pundaknya pelan. “Tapi juga jangan berharap yang tinggi-tinggi. Kita bisa masuk peringkat satu seangkatan saja sepertinya orang-orang telah mati di medan perang, menyisakan kita seorang.”

Di masa muda ini, kami juga mengenal hal yang baik dan yang buruk, serta mengaplikasikannya pada dunia yang keras ini. Kami harus selektif, memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk.

“Resolusi Lee Kangja sepertinya sangat bagus,” Hoseok menatap baliho calon presiden yang dipasang di pinggir jalan. “Memberantas korupsi, memperkaya budaya, menjadikan Korea negara nomor satu dalam pendidikan.”

“Yang Jihoo lebih bagus! Coba baca bagian ‘harga stabil untuk kebutuhan pokok’.” Jimin menunjuk baliho di ujung jalan.

“Bodoh! Kalau pilih presiden itu yang bisa menjadikan murid-murid di Korea bahagia seperti di drama! Memangnya kau tahan tiap selesai ujian melihat kubangan darah karena banyak yang bunuh diri?!” Yoongi menatap skeptis pada baliho-baliho calon presiden yang berdiri kokoh di setiap sudut jalan.

“Benar juga,” Taehyung mengangguk.

“Hmm… Aku setuju,” kata Seokjin. “sekalian, yang menurunkan harga sapi Korea!”

“Hei, Min Yoongi, sepertinya kau tidak perlu lulus sekolah. Daftar saja jadi presiden. Kami pendukung setiamu!” Jimin mengepalkan kedua tangannya di depan Yoongi, membuat lelaki itu langsung menggertaknya keras.

“Baiklah, pilih saja siapapun yang sesuai denganmu pilihan kalian. Ingat, dilarang golput!” dan ucapan pamungkas Seokjin membubarkan kawanan itu dari depan baliho calon presiden yang akan mereka pilih bulan depan.

Para bijak berkata, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

“Kerjakan soal ini dalam 2 menit. Si-jak[2]!”

Jimin di bangku belakang mencoba mengingat rumus yang dipelajarinya secara cepat sebelum masuk tadi. Angka-angka di kertas itu makin lama makin berputar, kemudian mengeluarkan suara ‘tidur…. tidur… tidur….’.

“PARK JIMIN, BUKA MATAMU DAN KERJAKAN SOALNYA!”

Seokjin di samping Jimin sibuk membuka rumus yang ditulisnya di media yang dapat terjangkau oleh tangan. Rumus yang ditulisnya di badan penghapus tidak cocok dengan soal itu, begitu pula rumus yang ditulisnya di sela-sela jari manisnya. Seokjin mencari rumus lainnya di dalam tempat pensil, menemukan kertas kecil dan itu benar-benar cocok dengan soal ini.

“KIM SEOKJIN, JANGAN MENYONTEK!”

Berbeda dengan Jimin dan Seokjin, Hoseok jadi orang yang paling alim disaat-saat seperti ini.

“Tuhan, jika aku diberikan kesempatan hidup satu kali lagi aku akan melakukan yang terbaik dari yang paling terbaik. Aku akan belajar sekeras apapun agar aku bisa menjadi anak pintar. Tapi Tuhan, maukah kau memberikanku jawaban atas pertanyaan ini?” doa Hoseok sembari mengepalkan tangan di depan dada.

“Hei, Jung Hoseok, kau sedang di gereja? Kerjakan, CEPAT!!”

Min Yoongi punya cara yang lebih baik dalam mengerjakan soal yang hanya diberi waktu 120 detik ini.

“Hei, kalau sudah dikali diapakan lagi?”

“Ditambah.”

“Lalu?”

“Dihitung keseluruhan jumlahnya.”

“Duh, susah nih! Angkat lembar jawabanmu sedikit, dong!”

Guru Kim sudah berdiri disamping Yoongi, menggelengkan kepalanya takjub karena Yoongi tiba-tiba aktif dalam menanyakan jawaban.

“Yoongi, kalau sudah dikali diapakan lagi?”

Yoongi menyalin jawaban dari teman depannya sembari menjawab pertanyaan dari orang disampingnya.

“Ditambah.”

“Lalu?”

“Dihitung semua, Saem…” hening seketika setelah Yoongi menyadari si sumber suara.

“Kerjakan sendiri, Min Yoongi!”

Taehyung di bangku depan tersenyum saja mendengar nama teman-teman seperjuangannya diteriaki satu-satu.

“Oke, berapa hasilnya?”

“106!!” teriak hampir semua anak.

“107!” dan ini jawaban pribadi Taehyung yang sangat percaya diri.

Guru Kim bergeming sebentar, kemudian memberi tepuk tangan pada Kim Taehyung yang duduk tepat di depannya.

“Benar, Kim Taehyung!”

Prestasi di masa muda menentukan prestasi di masa selanjutnya. Dan disinilah kami berkarya.

“LOMBA MELUKIS ANTAR KOTA YANG DIWAKILI OLEH 5 ORANG DARI SMA DAEHAN, MENGUMUMKAN BAHWA SISWA…..”

Taehyung sudah dihadiahi tepukan di punggung dari teman-temannya. Taehyung hanya tersenyum, meringis tepatnya.

“KIM….”

“TAEHYUNG!! TAEHYUNG!! TAEHYUNG!!” Seokjin, Jimin, Hoseok dan Yoongi bersorak riang.

“……NAMJOON MENJADI JUARA 1 DI TINGKAT KOTA!”

Oke, kuakui bukan aku pemenangnya kali ini. Tapi aku sudah berprestasi ‘kan, mewakili sekolah?

 

Membicarakan masa muda, tidak lengkap rasanya tanpa membahas romansa-romansanya. Ketika pertama kali merasakan jatuh cinta, cinta bertepuk sebelah tangan, mengabdikan diri untuk move on, dan berkencan setiap malam minggu.

Taehyung tersenyum manis pada Nara, teman kencannya minggu ini. Ia terpaksa mengganti pasangan karena pasangannya minggu lalu, Yoora, tidak suka menonton film horor sepertinya. Pasangan dua minggu lalunya juga tidak bisa diajak kerjasama, walaupun Taehyung sudah berjanji akan mengganti si pahit Americano dengan Latte kesukaannya yang manis menggoda. Sebulan lalu Taehyung benar-benar nyaman pada teman kencannya, mereka sama-sama mengerti satu sama lain dan keduanya juga bisa berkompromi dalam hal apapun.

Sayangnya….

“Maaf, Taehyung, aku sekarang sudah jalan dengan Jungkook,” nama itu yang menghancurkan hubungan baik mereka. Alasannya?

“Kau tidak bisa bergerak lebih jauh padaku. Kau hanya menganggapku sebagai teman kencan, dan kau tidak mau menjalin hubungan yang lebih daripada itu.”

Padahal saat itu Taehyung sudah menyiapkan surprise dengan lilin berbentuk hati dan kembang api di taman dekat rumahnya. Terpaksa rencana itu batal, dengan dengusan nafas dari ketiga sahabatnya yang sudah susah payah mendekorasi taman menjadi lebih cantik untuk acara ‘sakral’ ini.

Oppa, mau makan apa?”

Taehyung menelan liurnya mentah-mentah kala melihat deretan menu asing yang tercetak di buku menu. Setelah itu ia melihat harganya di bagian kanan. Kembali liur itu ditelannya mentah-mentah dan menyisakan rasa pahit di kerongkongan.

“Hmm… Nara, sepertinya aku…” ucapan Taehyung langsung terhenti kala melihat seorang gadis bersurai panjang yang dikenalnya sedang bergandengan tangan dengan orang lain yang—Taehyung akui—sangat imut. Bukan tipikalnya sekali.

“Kenapa, Oppa?”

Gadis yang sedang Taehyung perhatikan itu menoleh ke arahnya, bertukar tatapan dan saling menatap kosong. Jujur saja, Taehyung masih tidak bisa mengubah pandangannya ke arah gadis selainnya, Seo Mina.

“Taehyung Oppa, Hello!” si cantik Nara melambaikan jari-jari lentiknya di depan mata Taehyung, tetapi si lelaki tidak mengedipkan mata barang sedetik pun.

Nara menghela nafas. Ia sudah tahu segalanya tentang Taehyung, tentang makanan kesukaannya, minuman favoritnya, genre film yang sering ditontonnya, hewan yang disukai, kebiasaan-kebiasaan anehnya, sampai cinta pertamanya yang bertepuk sebelah tangan.

Pada akhirnya Nara harus menerima pil pahit dari konsekuensinya menjalin hubungan sebagai ‘teman kencan’-nya Taehyung.

****

“Maaf ya, yang tadi,” ucap Taehyung setelah keluar dari kafe tempatnya ‘kencan’ tadi.

Nara mengangguk, memerhatikan langkahnya dan langkah Taehyung yang kebetulan sama.

“Kau mau kucarikan taksi?”

“Hm?” Nara menoleh ke arah Taehyung yang sedang menatap juga ke arahnya. Waktu seakan berhenti bagi Jung Nara yang terpesona pada seniornya yang satu ini.

“Ku carikan taksi untukmu pulang,” Taehyung berhenti di pinggir jalan, melambaikan tangan pada taksi yang berlalu-lalang di jalan.

Nara tersenyum. Taehyung terlihat lebih bijak sekarang. Dulu boro-boro mencarikan taksi. Sebelum kencan selesai saja Taehyung sudah beralasan banyak untuk mengakhiri.

“Ini taksinya, apa perlu kuantar?” Taehyung sudah membukakan pintu taksi untuk Nara.

Gadis itu melebarkan senyumnya.

“Jangan tersenyum begitu, menyeramkan!”

Nara mendengus, pura-pura kesal. “Oppa, sebenarnya uangku habis untuk beli makanan tadi. Jadi….”

Taehyung menelan ludahnya, pasrah. “Kau mau pinjam uangku? Ini bahkan tidak cukup sampai bulan depan…”

Nara menunduk, menyadari kebodohannya memilih kafe yang sudah terkenal dengan menu harga selangitnya.

“Jadi mau naik taksi tidak?! Kalau tidak punya uang tidak usah naik taksi!”

Taehyung terpaksa menutup pintu taksi itu lagi tanpa menaikinya. Kini menyisakan kecanggungan diantara mereka berdua. Nara tidak berani menatap Taehyung, sedangkan Taehyung menemukan hal terlucu dari gadis itu.

“Hei, kupingmu merah, tuh!” kata Taehyung sembari tertawa. “Sepertinya jadi makin besar juga.”

Oppa!” Nara langsung menutup kedua telinganya dengan tangannya.

Taehyung menghentikan tawanya, mengikis jarak antara keduanya. Wajah Nara sudah memerah sempurna, sedangkan Taehyung merasakan hal aneh lagi ketika bersama seorang gadis.

“Tidak apa-apa kan, naik bus?” tanya Taehyung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku antar, deh!

Senyum manis Nara menjawab semuanya. Kim Taehyung untuk pertama kalinya mengamit tangan gadis, membawanya jalan seperti pasangan pada umumnya. Senyumnya mengembang, deru jantungnya makin tidak karuan.

“A-apa kau begini juga dengan Mina?” tanya Nara, memberanikan diri.

Taehyung tertawa kecil. “Pegangan tangan? Baru denganmu.”

“Benarkah?”

Taehyung mengangguk mantap.

Kami, anak muda, kadang melupakan tujuan kenapa kami diciptakan. Ketika kami dilahirkan ke dunia berbagai cita-cita dan impian ikut mengalir bersama raga sempurna kami. Waktu kecil kami memang bebas bercita-cita, kemudian menggantinya dengan cita-cita lain yang menurut kami lebih keren.

 

KUISIONER MASA DEPAN

Dengan tiba-tiba lidah kami kelu, tangan kami kaku, pikiran kami kosong. Apa yang harus ditulis pada kuisioner ini? Apa yang harus kami tulis dalam bagian ‘rencana’ di masa depan? Apakah kami harus menulis ‘menjadi dokter’ karena itu keren? Atau menulis ‘guru’ karena ingin menghukum anak-anak dengan sadis?

 

RENCANA MASA DEPAN

  1. KULIAH
  2. BEKERJA
  3. WIRAUSAHA
  4. ….

“Jujur saja, aku tidak ingin kuliah,” ucap Jimin. “Tapi aku tidak bisa menjadi gelandangan juga di jalan.”

“Aku ingin bekerja, tapi tidak punya kemampuan apa-apa,” giliran Seokjin yang dilema.

“Aku ingin membuat bisnis daging babi, tetapi aku tidak bisa membayangkan jika rugi besar…” Hoseok menatap kosong kuisionernya.

“Aku ingin menjadi musisi sejak dulu,” Yoongi meletakkan pulpennya, menyerah dengan pilihan yang ingin diambilnya.

“Kenapa tidak? Kau kan sudah menciptakan banyak lagu!”

“Rapmu bagus kok.”

“Gayamu juga tidak jelek-jelek amat.”

“Teruskan, bro!”

Yoongi tersenyum kecil, kembali meraih penanya dan mencoba menuliskan sesuatu di atas kertas. “Orangtuaku tidak akan menyetujuinya.”

“Aku pun,” ucap Taehyung pada akhirnya. “Orangtuaku langsung masuk kamar setelah aku bilang ingin berakting.”

Yoongi menepuk punggung Taehyung. “Aku juga akan masuk kamar dan tidak kembali lagi jika itu maumu, bro!

“Sial!” Taehyung mengumpat pelan, merutuki curahan hatinya yang ditolak mentah-mentah.

“Jadi bagaimana? Apa yang harus kita tulis?” Jimin sudah meletakkan kepalanya di atas kertas kuisioner, bersiap memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya dalam 3 tahun, kelima bocah pembuat onar itu terdiam di bangkunya masing-masing.

Ingatlah, kami, anak muda juga harus memilih jalan yang benar untuk masa depan kami. Tidak selamanya masa muda itu indah.

Guru Kim memeriksa kuisioner yang ditulis lima anak didiknya yang ‘spesial’ itu. Ia tersenyum, tetapi kemudian terdiam.

Park Jimin : Kuliah di SKY. Harus SKY! Biarpun dunia kiamat karena aku masuk SKY, tidak apa-apa!

Kim Seokjin : Lainnya…. aku ingin belajar memasak, aku ingin jadi koki dan punya restoran sendiri untuk anak muda.

Jung Hoseok : Tidak tahu! Mungkin aku akan membantu Bibi Gong diseberang jalan menjajakan perut babi.

Kim Taehyung : Lainnya…. Wajib militer! Karena…. negara memanggilku? Charyeo! Kyeongre! Pilseung![3]

Dan satu jawaban pamungkas dari murid spesialnya ini mampu membuat mata guru Kim berkaca, tetapi ia juga tersenyum karena keberaniannya menuliskan ini.

Min Yoongi : Lainnya….. aku ingin bermusik, terus bermusik. Tetapi orangtuaku tidak mengizinkan. Apakah boleh aku melanggar batas, Saem?

****

“Kau ingat, dulu kau bilang akan memenangkan lomba melukis itu? Aku sudah bertaruh seratus ribu hanya untuk membelamu!”

Taehyung tergelak mendengar pengakuan Hoseok setelah 5 tahun lamanya itu berlalu. Jimin dan Seokjin juga ikut tergelak, kemudian menepuk pundak Hoseok dengan keras.

“Kalau ingat masa lalu, kita kok bodoh banget sih,” kata Jimin. “Ingat tidak waktu kita ketahuan menyontek oleh guru Kim?”

“Ah!” Taehyung tertawa sebentar. “Kau malah tidur kan?”

No wonder.

“Seokjin lebih parah! Punya banyak contekan tidak ada yang benar.” Jimin membela diri.

“Hoseok lebih parah! Orang mengerjakan soal dia malah berdoa!” Seokjin melemparkan kesalahan pada Hoseok.

“Kok aku?! Kita tidak akan berada disini tanpa Tuhan—“

“Tapi Yoongi yang paling tolol, coba bayangkan dia menyalin tugasnya saat Guru Kim ada disampingnya! Cari mati, kali.”

“Jadi kalian membicarakan aku ya setiap aku tidak ada,” Min Yoongi tiba-tiba memasuki meja tempat keempat orang itu bernostalgia.

Selama beberapa saat tidak ada yang berkomentar, melihat penampilan Yoongi yang lebih pantas disebut sebagai penari jalanan dibanding rapper ternama di Korea.

“Sudah kuduga, Suga itu kau!” Hoseok langsung merangkul Yoongi dengan sangat erat. “Kenapa tidak mengabari kami, kunyuk!”

Yoongi tersenyum setelah Hoseok melonggarkan rangkulannya. Kini tubuhnya telah dipeluk oleh 4 orang berbeda dalam satu waktu.

“Aku juga ingin mengabari kalian, tetapi aku tidak tahu nomor kalian.”

“Ada teknologi SNS, kau tidak menggunakannya? Tidak berusaha mencari kami? Teman macam apa kau?!” kata Jimin setengah murka.

Yoongi tergelak melihat wajah imut lelaki itu yang masih saja dipelihara sampai usia ini.

“Aku artis terkenal, kunyuk!” ucap Yoongi sembari menuangkan soju ke gelasnya sendiri. “Harusnya kalian yang mencariku.”

“Aku sibuk belajar di Jerman, tidak punya waktu mencari SNS-mu,” Seokjin menyombongkan diri. “Aku koki profesional, lho.”

Tubuh Seokjin langsung dilempari kacang oleh yang lainnya.

“Aku juga sibuk belajar untuk SKY.”

Semua mata tertuju pada Park Jimin yang sedang mengaduk jus jeruknya. Dia tidak mau minum alkohol sebelum masuk SKY, katanya.

“Serius?”

“Kau tidak tidur?”

“Tidak buat pulau sendiri?”

“Hey, Park Jimin! Buka matamu!”

“Mataku memang kapasitasnya segini,” Jimin tergelak melihat reaksi kawan-kawannya. “Mungkin dunia kiamat kalau aku bisa masuk SKY.”

“Jadi kau masuk tidak?!”

“Sepertinya sih tidak.”

“Aku jadi takut.”

Jimin menundukkan kepalanya. “Aku sudah gagal 3 kali, dan aku tidak mau gagal untuk keempat kalinya.”

“Aku menyerah pada SKY.”

Jimin langsung mendapat siraman air putih dari Hoseok yang telah diberi doa untuk kesembuhan mentalnya.

“Tapi aku malah masuk di peringkat 2 tes Yonsei. Bagaimana? Apa aku harus mengambilnya?” ekspresi Jimin tiba-tiba berbinar, membuat semua orang ingin menyiramnya dengan sebotol penuh soju.

“Jangan diambil, nanti kiamat!”

Gelak tawa pun mengalir seiring dengan cerita-cerita masa lalu dan masa yang sedang dijalani yang mengalir deras. Taehyung sesekali tertawa, tetapi juga fokus pada laptopnya. Menulis sesuatu.

“Kim Taehyung, kau belum cerita apa-apa! Kau jadi apa sekarang? Negara masih memanggilmu tidak?”

Dari sudut pandang penulis, aku merasa masa muda memang masa yang indah. Biarpun berbagai masalah tentang kegalauan dalam memilih masih menjadi kendala, tetapi masih banyak cerita indah yang bisa diambil dari kisah ini.

Selagi muda, kenapa kita tidak menyiapkan ‘bekal’? kata Jimin bawa saja bekal seperti nasi dan telur, yang bisa dibawa dengan mudah dan mengenyangkan. Tapi bekal ini berbeda dari milik Jimin. Bekal yang kumaksud adalah mimpi, biarpun mimpi memang hanya bunga tidur, kenapa tidak dijadikan ‘bunga bangun’ sekalian? Jangan hanya berani bermimpi, beranilah juga mengambil keputusan untuk mewujudkannya.

Temanku Yoongi sudah berani mewujudkan impiannya, walaupun kedua orangtuanya terus menolak untuk hadir dalam konsernya. Seokjin sudah jadi koki profesional di usia 23, padahal dulu yang bermimpi punya restoran itu Hoseok. Jung Hoseok yang kukira akan jadi pendeta ternyata malah jadi guru TK. Awalnya hanya karena seorang gadis, tetapi akhirnya ia jatuh dalam pesona anak-anak didiknya. Jimin akhirnya masuk Yonsei, untungnya dunia tidak kiamat, Seokjin tidak jadi jomblo seumur hidup, dan Suzy tidak menikah dengan Hoseok.

Aku?

Kalian bertanya tentangku?

Tebak, siapa Kim Taehyung?

Oke, aku adalah penulis yang bersembunyi dibalik nama ‘V’.

 

“Sudah baca ini? Karyanya ‘V’. Sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa V itu,” kata Jimin sembari mengeluarkan buku berjudul ‘Kegalauan di masa muda’.

“Ah! Aku mendengarnya sedikit. Kisahnya benar-benar sama dengan masa mudaku yang konyol.”

Taehyung didekat mereka hanya tersenyum kecil.

“Taehyung, beritahukan kami apa pekerjaanmu? Jangan-jangan kau pengangguran?!” Seokjin mengintimidasi.

“Wow, jangan berspekulasi dulu, Bung!” dering telepon membuat Taehyung memfokuskan diri pada benda tipis di tangannya. “Halo, Nara sayang?”

Begitulah akhir kisah ini. Tidak—ini tidak sepenuhnya berakhir. Aku akan melanjutkannya jika itu perlu.

Aku ingin mengucapkan terima kasihku pada teman-temanku.

Park Jimin, si bocah pendek yang berhasil masuk Yonsei. Selamat! Untung dunia tidak jadi kiamat dan Suzy menemukan cintanya sendiri.

Jung Hoseok, kau akan menikah dan tidak menyebarkan undangan padaku? Mati saja! Selamat ya, bro!

Kim Seokjin, lain kali buatkan aku masakanmu yang paling enak, oke? Aku mencintaimu, Chef Jin!

Dan Min Yoongi, inspirator terbesarku, terima kasih telah menyalurkan keberanianmu padaku. Kapan konser selanjutnya? Berikan aku tiket VIP gratis ya. Aku akan coba bujuk ibumu!

 

Tertanda,

 

Kim Taehyung a.k.a ‘V’.

 

.fin

Note :

[1] SKY, singkatan dari 3 Universitas Top Korea Selatan : Seoul University, Korea University, dan Yonsei University.

[2] Si-jak : Mulai!

[3]Charyeo! Kyeongre! Pilseung! : (kira-kira seperti) Perhatian! Hormat grak!

Advertisements

16 thoughts on “[Monochromic Youth] Teenager’s Diary – Oneshot

  1. annyeong kak . aku corin 00 line ‘-‘)v
    ff nya kereeen :”D suka banget sama penggambaran tokoh di sini. dan maknanya dapet walau ceritanya berkesan santai .
    aku juga suka cerita tentang masa mudanya >^< gak muluk muluk dan mulus (semulus kaki Suga(?))
    ini ff juga menginspirasi lho :v
    pokoknya keren deh
    keep writing kak 🙂

    Like

  2. Seru ceritanya keren plus lucu, suka sama bahasanya yang ringan. Jadi inget jaman SMA dulu /duh berasa tua/ wkwkwk pokonya masa mudanya ngena banget 😊
    Tetap berkarya ya, fighting! 😊

    Like

  3. Ngakak banget Hoseoknya di sini wkwkwk. Yang lain pada nyontek, dia malah berdo’a. Segala nyembur2 Jimin lagi wkwkwk. Alur masa mudanya kerasa banget kok 😂😂😂

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s