[Monochromic Youth] Enchanted Dorm – Oneshot

Enchanted Dorm

Enchanted Dorm

 

Nama Author      : deergalaxy0620

Genre                   : Dark, Suspense, Crime

Length                 : 2.843 words

Rating                  : PG-17

Cast                     : Jung Ho Seok a.k.a J-Hope ( Main Cast )

Cho Kyu Hyun as Head of Dormitory

Kim Nam Joon a.k.a Rap Monster ( Ho Seok’s friends )

Disclaimer           : Fanfiksi ini hanya peristiwa fiksi dan tidak memiliki hubungan dengan tokoh atau peristiwa yang sebenarnya. Jika ada kesamaan cerita, mohon maaf karena keteledoran saya.

Summary             : Ho Seok mengunjungi asrama yang dia tinggal sekarang. Namun ada sebuah cerita menarik yang ada dibenaknya.

4 Desember 2015…

Pukul 17.00 KST…

 

Jung Ho Seok melangkahkan kakinya menyusuri hutan yang memiliki jalanan yang sempit. Menarik tas koper besar beserta menggendong tas punggung hitam. Mengedarkan pandangannya tertuju pada pohon-pohon yang tumbuh menjulang ke atas. Pohon tersebut sangat lebat. Beberapa binatang di sekitarnya bukan binatang yang buas. Hanya ada seekor kucing, monyet, anjing, burung, dan kelinci. Ho Seok terpikir dengan beberapa binatang yang mengitarinya dari jauh. Jarang-jarang dia melihat binatang bukan buas yang ada di hutan.

Setelah tiga puluh menit berjalan melewati hutan, langkahannya perlahan-lahan terhenti saat dia telah sampai di sebuah gedung bertingkat yang cukup bagus. Bunga-bunga bermekaran dengan indah, membuat sang calon penghuninya merasa tertarik. Melangkahkan pelan kakinya memasuki lapangan gedung yang cukup sempit, namun sangat bersih dari sampah. Memandang bunga-bunga yang indah di sekitar pot yang memanjang ke samping.

“Oh, anda sudah datang?” tiba-tiba salah seorang penghuni gedung itu datang menghampiri Ho Seok yang berjongkok di depan tanaman. Dia mengedarkan pandangannya tertuju pada seorang penghuni gedung itu.

“Apakah anda datang sendirian kesini?” tanyanya kepada Ho Seok.

Ne, kebetulan orangtua saya pindah ke Jepang. Jadi mereka memindahkan saya kepada lokasi ini,” jawab Ho Seok sembari berdiri menghadap seorang pria bertubuh jangkung itu.

“Perkenalkan, saya ketua asrama laki-laki disini. Ketua Asrama Cho Kyu Hyun,” pria bernama Ketua Asrama Cho Kyu Hyun itu mengulurkan tangannya kepada Ho Seok. Sayangnya dia membalas uluran tangan beliau, tetapi hanya meninggalkan nama saja.

“Jung Ho Seok,” begitulah balasannya. Cukup tenang dan ramah. Ho Seok melepaskan uluran tersebut, lalu dia segera melepaskan sepatu putih itu. Pikirannya menjadi tenang setelah bertemu dengan Ketua Asrama Cho. Dapat Ho Seok membaca karakter beliau hanya melalui manik matanya. Namun, ada satu karakter yang membuatnya lebih berhati-hati. Karakter yang paling sulit untuk diartikan diluar kepalanya.

***

Ho Seok akhirnya tinggal di kamar lantai dua. Kamar tersebut cukup sempit, tetapi interior di sekitar kamarnya lengkap. Tentu saja ada ranjang berukuran single, lemari pakaian yang berukuran sedang, meja belajar, kursi, gantungan pakaian yang terpasang di dinding putih dan cermin berukuran sedang. Lampu kamarnya cukup terang sehingga kamar tersebut mendapatkan cahaya. Dia sudah cukup senang dengan kamar barunya. Kamar inilah yang akan membawanya ke alam mimpi yang indah. Kamarnya juga terhubung dengan kamar mandi yang cukup luas. Jadi dia tidak perlu keluar untuk menemukan kamar mandi.

Setelah memandang sekitar kamar barunya, Ho Seok segera memindahkan seluruh pakaiannya ke dalam lemari barunya. Saat dia membuka lemarinya, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang menempel di dinding lemari dalam. Tulisan tangan seseorang sangat kacau, bahkan ada bercak darah di kertas putih itu. Membacanya saja sudah membuat Ho Seok bergidik. Ekspresi ceria sekaligus rasa puasnya berubah menjadi ekspresi yang menegangkan dan sedikit ketakutan. Tangannya tergerak meraih kertas itu dan segera membaca isi pesan yang membuat nyawanya terbang ke langit.

 

Jika kamu membuka lemari ini, maka nyawamu dalam bahaya.

 

Cukup mengancam isi pesan tersebut, tetapi hatinya cukup tenang secara tiba-tiba. Dia berpikir bahwa ini hanyalah fiktif belaka, layaknya sebuah drama beradegan menyeramkan. Ho Seok percaya diri bahwa tidak ada yang membuatnya celaka, apalagi orangtuanya berada di Jepang. Dia benar-benar yakin bahwa tidak ada yang menyeramkan disini. Dia juga sudah dewasa, jadi dia harus beradaptasi dengan lingkungan asrama dengan baik. Jika ada yang menakutinya, Ho Seok tidak takut dan terperanjat kaget.

“Apakah kamu anak baru juga?” tiba-tiba seseorang mengagetkan Ho Seok hingga dia sedikit terperanjat. Dia hampir berteriak ketakutan, namun kenyataannya dia hanya berteriak biasa.

Orang yang berdiri di ambang pintu itu, bernama Kim Nam Joon. Tubuhnya tinggi, hampir setara dengan tinggi badan Ketua Asrama Cho. Memiliki lesung pipi di pipi kirinya, matanya yang sipit, dan cukup tampan. Dia juga merupakan penghuni asrama, tetapi dialah yang pertama datang ke asrama. Badannya juga cukup atletis karena dia selalu berolahraga.

“Maaf karena aku mengagetkanmu,” ucap Nam Joon seraya melangkah masuk ke kamar baru Ho Seok. Sementara sang pemilik kamar tersebut menghela napas panjang karena pria bertubuh tinggi itu mengejutkannya.

“Tidak apa-apa, asalkan bukan hantu yang mengagetkanku,” balas Ho Seok sembari membereskan seluruh isi pakaiannya dari koper.

“Hantu? Memangnya disini ada hantu?”

“Entahlah, tetapi aku menemukan sesuatu yang menarik di lemariku,” Ho Seok meraih secarik kertas yang tertempel di lemari pakaian barunya, lalu menyodorkan kertas tersebut kepada Nam Joon.

“Benarkah? Apa itu?”

“Baca saja,” Ho Seok malas untuk membacanya kembali karena isi pesan tersebut cukup membuatnya bergidik, tetapi dia benar-benar tidak takut terhadap pesan tersebut. Sembari menyibukkan diri untuk membereskan seluruh pakaiannya dari tas koper.

“Jangankan kamu, aku juga mendapatkan isi pesan ancaman ini,” ujar Nam Joon seraya ia duduk di samping Ho Seok, membantu teman terasingnya itu membereskan seluruh pakaiannya.

“Benarkah?”

Well, aku juga tidak percaya dengan isi ancaman tersebut. Namun, pertama aku tiba disini, aku merasa ada sesuatu yang membuatku khawatir sekaligus takut. Entahlah apa yang terjadi disini. Namun, aku pernah mendengar rumor sebelum masuk kesini. Rumor tersebut berasal dari mantan penghuni asrama disini.” terang Nam Joon.

“Benarkah? Rumor apa itu?” sepertinya Ho Seok mulai tertarik dengan isi rumor tersebut.

“Ada yang mengatakan bahwa asrama ini merupakan asrama yang paling menakutkan di Seoul. Peraturan disini juga sangat mencengangkan seluruh masyarakat. Ada beberapa penghuni asrama yang mati karena tidak menaati peraturan. Ada yang dibunuh, disiksa berkali-kali, sampai dikubur hidup-hidup. Para penghuni asrama memang ada yang tidak menaati peraturan, tetapi aku merasa aneh dengan isi rumor ini. Mengapa para penghuni asrama, yang tidak menaati peraturan ini, tidak dihukum? Aku sempat bertanya-tanya sembari menimbang sebelum menetap disini. Sayangnya, ketua yayasan sekaligus ketua asrama menyangkal rumor ini. Tetapi banyak sekali orangtua yang memberikan masukan terhadap asrama ini,” Nam Joon menjelaskan dengan panjang-lebar. Ho Seok tertegun dengan penjelasan teman terasingnya itu. Hatinya mendadak menjadi tidak tenang.

“Kau tahu? Orangtua menuai protes terhadap ketua asrama, bahkan mereka meminta kepada beliau untuk pindah asrama. Dalam artian, meninggalkan gedung yang sebenarnya jarang ditempati. Jika gedung ini berada di hutan, seharusnya gedung ini ditempati menjadi sarana pemburuan, bukan tempat asrama. Sayangnya ketua asrama memutuskan untuk menetap tinggal disini. Bahkan, beberapa bulan yang lalu ada sebuah kejadian yang menakutkan.” Sepertinya Ho Seok mulai terhanyut dalam kisah menyeramkan Nam Joon. Ekspresi wajahnya menyiratkan bahwa ada sesuatu yang menarik di asrama ini.

“Ceritakan padaku kejadian yang kamu maksud ini,” pinta Ho Seok sembari memeluk kakinya menghadap Nam Joon.

“Ceritanya begini. Penghuni asrama yang paling senior disini, yang bernama Henry Prince Mak, dihukum oleh ketua asrama setelah keluar dari gedung asrama tanpa izin. Hukumannya adalah duduk tenang di tengah hutan yang jauh sekali dari asrama, lalu ketua asrama menyiramnya dengan minyak bakar. Setelah itu ketua asrama, dengan tidak memiliki perasaan terhadap penghuni asrama yang tinggal di luar Korea, membakarnya hingga dia tewas. Mendengar jeritan histeris Prince Mak hyung, ketua asrama pergi meninggalkan lokasi kejadian dan berpura-pura seolah-olah dia tidak tahu kejadian tragis dan menyeramkan ini. Satu hari setelah kejadian tersebut, orangtuanya mengunjungi asrama. Mereka bertanya-tanya kepada ketua asrama tentang anak mereka. Sayangnya ketua asrama menutup mulut dan hanya berkata ‘anak anda baik-baik saja.’ Setelah itu, beliau masuk ke dalam asrama, lalu mengunci pintu asrama tanpa menghiraukan orangtua Prince Mak hyung.” cerita Nam Joon, yang sukses membuat bulu kuduk Ho Seok bergidik. Tubuhnya seketika menegang setelah mendengar kisah menyeramkan itu. Pikirannya menjadi kosong, bahkan hatinya lebih tegang.

“Ba… bagaimana… bagaimana kamu…”

“Tetanggaku, yang merupakan mantan penghuni asrama, bercerita padaku tentang insiden pembakaran itu. Sayangnya aku mungkin merasa bersalah karena memberikan keputusan yang tidak tepat kepada orangtuaku. Aku tetap bersikukuh untuk tetap tinggal disini, tetapi orangtuaku malah menangis dan menolak permintaanku untuk tinggal disini.” imbuh Nam Joon dengan mengeluarkan senyum pahitnya.

“Ya Tuhan… bagaimana denganku?” Ho Seok mulai gelisah.

“Memangnya ada apa denganmu?”

“Orangtuaku berada di Jepang untuk bekerja disana. Sementara aku diminta kepada mereka untuk tinggal disini hingga kita lulus dari dunia perkampusan. Eotthoke?” Ho Seok menggosok-gosok tubuhnya dengan gelisah.

“Jangan khawatir. Ada aku disini. Meskipun kita saling belum kenal, kamu harus menuruti semua perkataanku. Araseo?” Nam Joon mulai menenangkan Ho Seok dengan menepuk pundaknya. Mereka pun saling bertatapan, yang mengandung perbedaan artian.

“Namaku Kim Nam Joon. Siapa namamu?” sapa Nam Joon dengan mengulurkan tangannya kepada Ho Seok.

“Namaku Jung Ho Seok,” balas Ho Seok dengan membalas uluran tangan Nam Joon dengan tangan bergemetaran.

“Ingat, bagaimanapun kita adalah penghuni asrama, pasti ada jalan yang dapat membebaskan kita dari sini.” Kata Nam Joon sembari melepaskan tangannya dari Ho Seok. Akhirnya, mereka pun menjadi teman.

Dari kejauhan, seseorang mengintip Ho Seok dan Nam Joon yang sedang bersenda gurau dengan kisah yang menyeramkan dari Nam Joon sendiri. Orang tersebut mengeluarkan senyum smirknya, lalu pergi berlalu lalang menuju suatu tempat yang paling menyeramkan bagi seluruh orang.

Di ruangan yang kosong, ada banyak sekali mayat yang terbunuh olehnya. Orang itu memandang seluruh ruangannya yang penuh mayat bersimba darah. Mereka semua terkapar di lantai dengan darah segar mengalir dengan cara yang lebih tragis. Dan semuanya adalah mantan penghuni asrama sebelum Ho Seok dan Nam Joon. Sekitar satu strata dengan senior mereka, Prince Mak.

“Lihat saja esok. Peraturan baru akan dimulai. Silakan kalian menikmati peraturan ini sembari kalian bermain permainan yang mencengangkan dariku,” ucap seseorang dengan mengeluarkan sedikit pisau yang tajam.

***

Pukul 00.00 KST…

 

Ho Seok tak dapat memejamkan matanya dan hanya terbaring di ranjang. Memikirkan tentang cerita yang terlontar dari bibir Nam Joon. Sangat menyeramkan. Orang yang tak bersalah dihukum secara tragis. Membuat hati Ho Seok kembali gelisah dan mengalami insomnia. Memutarkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, sayangnya mata enggan untuk menutup.

 

AAAKKHH!!!

 

Suara jeritan terdengar keras hingga ke kamar Ho Seok, membuat sang pemilik kamar tersebut terperanjat kaget. Dia segera bangun dari ranjang, lalu mengintip melalui jendela. Kosong. Tidak ada siapa-siapa disana. Tetapi jeritan tersebut sangat keras. Ho Seok tidak memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya. Takut jika nyawanya berada dalam status bahaya.

“Ho Seok-ah!” tiba-tiba Nam Joon mengetuk pintu kamar Ho Seok keras. Dengan segera dia membuka pintu kamar untuk Nam Joon. Memandang teman barunya itu dengan ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Seluruh tubuh Nam Joon penuh keringat dan dia juga merasa ketakutan.

“Kamu harus kabur disini! Cepat sebelum ketua asrama kita bertindak!” Nam Joon meraih tangan Ho Seok, lalu mereka pun berlari melewati beberapa kamar yang kosong.

“Ketua asrama yang kamu maksud itu…”

“Kamu akan tahu nantinya. Apakah kamu pernah berkenalan dengannya?” Nam Joon menyela perkataan Ho Seok sembari berlari menghampiri ruang kosong yang benar-benar tidak ada interior.

“Aku hanya mengenalmu dan juga Ketua Asrama Cho,” jawab Ho Seok sembari melepaskan napasnya yang tersengal-sengal itu.

“Mwo? Ketua Asrama Cho?” sebelum Ho Seok menjawab pertanyaan Nam Joon, tiba-tiba seseorang berdiri di belakang mereka, lalu mengeluarkan pisau dan hendak membunuh diantara mereka. Tetapi Ho Seok dapat merasakannya hingga dia dan Nam Joon saling menghindar dan terkapar ke lantai. Orang tersebut murka dan berdiri menghadap Ho Seok dan Nam Joon.

“Nam Joon-ah,” bisik Ho Seok ketakutan, “lebih baik kita kabur dari sini,” lanjutnya.

“Aku setuju denganmu. Kita harus pergi!” sebelum orang asing itu hendak membunuh diantara dua penghuni asrama, Nam Joon segera menarik tangan Ho Seok, lalu pergi meninggalkan ruangan kosong itu. Orang pembunuh itu berteriak marah dan murka. Dengan cepat ia berlari mengejar Nam Joon dan Ho Seok.

Cukup lama mereka berlari, tetapi mereka telah berada di hutan yang sunyi. Nam Joon masih berlari dengan menarik tangan Ho Seok untuk menghindari kejadian yang akan menjadi kejadian yang lebih tragis. Ho Seok ingin sekali berhenti, tetapi Nam Joon bersikeras untuk tetap berlari bersamanya. Sementara orang yang berada di belakang mereka – orang asing itu – masih mengejar mereka dengan pisau di tangannya.

Akan tetapi, sebuah bohlam keluar dari kepala Ho Seok – teringat sesuatu yang dapat menyelamatkan mereka. Ho Seok segera merogoh sebuah benda dari saku celana tidurnya, lalu…

 

PRIIITT!!!!

 

Ho Seok membunyikan pluit merah miliknya sembari berlari. Cukup nyaring dan menggema hingga terjadi suatu yang akan menyelamatkan mereka. Ada banyak sekali orang yang keluar dari hutan. Mereka adalah polisi yang menyamar menjadi mayat. Nam Joon dan Ho Seok berhenti, lalu berdiri menghadap para polisi. Sekitar tiga puluh polisi yang berada di hutan.

Orang pembunuh itu berhenti berlari dan terkejut bahwa dia melihat banyak sekali polisi. Sekarang dia dikepung karena ada polisi lainnya yang berdiri di belakangnya – mengelilinginya. Ho Seok dan Nam Joon cukup lega karena orang pembunuh itu ditangkap dengan paksa polisi, lalu memborgolnya dengan susah payah.

“Kalian cukup pintar!” orang pembunuh itu berteriak marah. Ho Seok mengenal suara itu. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya menghampiri orang terasing itu. Tangannya tergerak melepaskan masker hitam yang menutupi wajahnya. Ternyata itu Ketua Asrama Cho. Nam Joon terpana setelah beliau hendak membunuh mereka.

“Kau cukup pintar, anak muda! Tak bisa saya pungkiri bahwa ayahmu adalah seorang detektif terkenal di Seoul!” Ketua Asrama Cho menyeringai.

“Anda ingin sekali membunuh kita.” Ho Seok meninggalkan perkataannya dengan tenang, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Nam Joon dan polisi lainnya.

“Lihat saja nanti! Aku akan membalas dendam!” teriak Ketua Asrama Cho sembari memberontak, tetapi Ho Seok tak menghiraukan ancaman tersebut. Justru dia tersenyum puas. Berjalan menghampiri Nam Joon, kemudian memeluk temannya itu.

“Bagaimana kamu…”

“Aku datang kesini dengan membawa senjata kecil yang mampu melindungi kita,” Ho Seok menyela perkataan Nam Joon seraya melepaskan pelukan itu. Sementara Ketua Asrama Cho akhirnya diseret paksa menuju mobil polisi. Dia masih berteriak untuk membalas dendam, tetapi lagi-lagi Ho Seok tak menghiraukannya.

“Jika tanpa pluit, bagaimana hidup kita nanti?” tanya Ho Seok sembari menyodorkan pluit merah miliknya kepada Nam Joon.

“Kau benar-benar cerdas, Jung Ho Seok!” puji Nam Joon sembari mengelus rambut hitam tipis Ho Seok hingga mereka tertawa. Sementara polisi lainnya hanya bisa tersenyum mengarah kepada mereka.

Kejadian tersebut tak dapat Ho Seok lupakan. Bahkan kisah yang diceritakan Nam Joon juga tak pernah dia lupakan untuk menyelamatkan nyawa dari bahaya yang mengancam. Ho Seok yakin secarik kertas yang dia temukan di lemari, dengan tulisan tangan yang kacau dengan tinta merah, merupakan ancaman dari Ketua Asrama Cho. Ternyata ancaman tersebut berubah menjadi kenyataan. Tetapi untung saja Ho Seok dan Nam Joon dapat kabur dari asrama.

Keesokan harinya, seluruh penghuni asrama, yang berada di gedung asrama di tengah hutan itu, dipindahkan menuju gedung asrama yang berada di dekat universitas. Ho Seok mendapatkan telepon dari orangtuanya dan bertanya tentang kondisi anak mereka. Tetapi Ho Seok hanya menjawab bahwa dia baik-baik saja. Mungkin karena orangtua membaca koran harian di Jepang. Khawatir anak mereka terancam bahaya.

Sementara Ketua Asrama Cho dijerat hukuman mati akibat menghukum para penghuni asrama dengan cara yang paling tragis, seperti membakar, membunuh, bahkan mengubur mereka hidup-hidup. Beliau juga mengakui kesalahannya karena keagresifannya saat menjadi ketua asrama. Tidak hanya Ketua Asrama Cho yang dihukum mati, melainkan ketua yayasan juga dijerat hukuman 20 tahun penjara karena memberikan pernyataan palsu. Seluruh masyarakat, terutama orangtua, merasa bersyukur dan dapat bernapas lega karena para penghuni asrama yang tersisa masih hidup, terutama Ho Seok dan Nam Joon. Bahkan Nam Joon terpaksa tak lagi tinggal di asrama karena suramnya asrama di tengah hutan. Meskipun demikian, Ho Seok dan Nam Joon saling bertemu kembali di universitas mereka. Pertemanan mereka tumbuh menjadi persahabatan.

Setelah pulang dari kampus, Ho Seok segera pergi menuju asrama barunya. Dia hendak menaiki beberapa anak tangga, lalu berjalan memasuki kamar barunya yang serba mewah. Sesampainya di kamar, Ho Seok segera meneguk segelas air putihnya di atas meja. Terlalu santai hingga dia tidak menyadari seseorang berjalan memasuki kamar Ho Seok. Orang tersebut mengenakan pakaian serba hitam dengan pisau di tangannya.

Tiba-tiba, orang tersebut berhasil membunuh Ho Seok dengan menancapkan pisaunya di punggung Ho Seok. Meninggalkan tetesan darah mengalir dari punggung Ho Seok hingga sang penghuni kamar tersebut tewas. Orang tersebut tersenyum bahagia, lalu menancap kembali pisaunya di perut Ho Seok hingga mengeluarkan banyak sekali darah. Setelah membunuh Ho Seok, orang berjubah hitam itu segera kabur dari kamar sebelum para mahasiswa lainnya telah sampai di asrama. Meninggalkan Ho Seok yang terkapar di lantai dengan darah mengalir dan pisau tertancap di perutnya.

Ternyata, kisah tragis asrama belum berakhir. Nam Joon merasa sedih sekaligus duka setelah ditinggal mati Ho Seok, padahal mereka baru berteman beberapa hari saja. Sementara orangtua Ho Seok telah kembali dari Jepang dan menghadiri prosesi pemakaman Ho Seok. serta para mahasiswa juga turut berduka cita atas kematian Ho Seok. Para polisi masih mencari pelaku pembunuhan tersebut. Entah motif apa yang dilakukan sang pelaku hingga membunuh penghuni asrama sekaligus mahasiswa yang tidak bersalah itu – yang dinamakan Jung Ho Seok.

Setelah prosesi pemakaman Ho Seok, pria pembunuh itu berdiri jauh dari pemakaman, dengan seringaian yang mengerikan. Bagaikan dia adalah seorang psikopat – pembunuh berdarah dingin. Memandang seluruh kerabat Ho Seok yang segera berlalu lalang dengan mengusap air mata mereka. Tiba-tiba, ponsel berdering dan sang pembunuh itu mendapatkan telepon dari nomor yang tak dikenal. Ditekannya layar sentuh hijau – menjawab panggilan tersebut.

“Aku berhasil membunuh anak muda itu,” ujar sang pembunuh itu sembari membuka masker hitam yang mengelilingi wajahnya, “anak muda yang merupakan teman dekatku sendiri.” Lanjutnya dengan tersenyum smirk. Dialah Kim Nam Joon, teman dekat Ho Seok.

 

END

Advertisements

3 thoughts on “[Monochromic Youth] Enchanted Dorm – Oneshot

  1. Pingback: 10 Day Blog Challenge : Seven favorite posts from my blog – Deer Galaxy

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s