[Monochromic Youth] Last Hope – Vignette

project

Last Hope

Story by xiadeer18 ( @irfaniaNS)

Cast :  Min Yoongi [BTS] and BTS Members| Genre  : Angst, Hurt/Comfort, Fantasy |Rating : General | Lenght : Vignette |

this story is officially mine. But the cast is not mine. Sorry for typos

Happy Reading^^

Yoongi berada dibatasannya. Namun dari sanalah ia memperoleh keajaiban.

 

Yoongi tertatih menuju ranjangnya. Ia terseok, hampir saja mengenai ujung meja yang tajam. Eksistensi kedua kakinya kini benar-benar dipertanyakan. Layaknya direndam es selama dua jam,mati rasa. Ditebarkan pandangannya pada seisi kamar dari atas ranjang. Warna putih tembok yang dihiasi temaramnya lampu terasa sangat usang. Padahal ia baru saja meninggalkan kamarnya dua hari lalu.

Kamarnya sepi, tidak ada Seokjin juga tidak ada Jimin ataupun Hoseok yang sekedar mampir dan membuat kegaduhan. Semua penjuru kamarnya sepi. Sama sepinya dengan hatinya kini. Semenjak kemarin lusa berada di rumah sakit sendirian,membuat pemuda bersurai hijau pudar itu menjadi banyak merenung. Menangis tanpa sebab pun juga terjadi pada dirinya.

Ada banyak pemikiran-pemikiran tak masuk akal merasuki otaknya. Pun ternyata bukan hanya kelelahan akut yang menyerang tubuhnya. Juga hati dan otaknya. Hatinya mengatakan bahwa ini sudah cukup. Menuntutnya harus berhenti. Sebelum tubuhnya menjadi lebih buruk lagi. Namun otaknya mengatakan bahwa ia masih sanggup. Ribuan penggemar masih setia menunggu. Dirinya masih mampu menuntut agensi atas kebobrokan tubuhnya.

‘Berhentilah berbohong pada dirimu sendiri. Kau sudah berada di batasanmu.’ Hatinya berbisik lagi. Sekuat apapun ia mengelak.

 

Tangannya meraih sebuah benda persegi panjang nan pipih di sakunya. Segera, ia membuka gallery miliknya. Melihat kembali ratusan kejadian menarik yang ia sempat abadikan. Si termuda Jungkook yang meminum bir untuk pertama kalinya. Si perusak Namjoon yang menghancurkan properti untuk musik video mereka. Bahkan Hoseok yang tertidur di studio karena bekerja keras untuk 1verse-nya. Begitu banyak kejadian yang membuatnya tersenyum. Pun tak terasa kini air matanya mengalir melewati kantung matanya yang telah lama menghitam.

Sejujurnya ia juga sudah lelah. Namun ini telalu indah untuk ia tinggalkan.

Pun tubuhnya sudah tidak mampu menerimanya. Yoongi telah kehilangan berat badan sangat amat banyak. Ia terlihat seperti tulang berbalut kulit yang menari di atas panggung sana-sini. Jika memang sudah waktunya, ia bisa saja mati konyol. Bukan hal yang luar biasa jika ia terjerebab jatuh di atas panggung karena jadwal yang sangat tidak manusiawi. Panganan saja tidak boleh semua ia konsumsi. Bentuk tubuhnya akan jelek, katanya.

Yoongi memejamkan mata. Ia ingin berteriak dan menangis. Tapi kemanakah ia akan pergi? Semua anggota berada di Jepang untuk mengadakan konser. Taehyung sementara dipulangkan ke keluarganya. Ingin juga  ia kembali pada orangtuanya. Melepas ridu lalu menangis sambil memeluk ibu dan ayahnya. Mengucapkan beribu-ribu permintaan maaf. Ia ingin. Sangat ingin.

Terkadang ia merasa bahwa ini adalah sebuah hukuman. Hukuman karena tidak mematuhi orang tuanya. Ia terlalu egois.

Yoongi meringkuk;Memeluk lutut.

Merenung dan tenggelam dalam argumentasi-argumentasi tertahan.

Saat itu Yoongi terbawa dalam dimensi aneh. Dimensi yang tak diketahuinya.

Dalam cahaya yang berpendar indah. Secara tiba-tiba ia berada dalam kilas balik tentang perjalanan kariernya. Berlangsung dengan sangat cepat. Terekam dan tergambar nyata.

Di sebelah kanan, dirinya dimasa lalu yang diam-diam mendikuti audisi. Berlatih dan bermain dengan teman-teman komunitas rapnya. Membuat lirik panjang bahkan tak segan untuk membubuhi makian di dalamnya. Suatu malam, mereka nyaris terjaring polisi karena anak dibawah umur yang berkeliaran di larut malam.

Hingga pada hari sabtu ia mendapatkan surat dari agensi. Bahwa mereka telah menerimanya. Bagaimana reaksi orang tua Yoongi yang tidak setuju. Memarahinya habis-habisan. Semua terulang jelas di sisi kanannya.

Cahaya itu bergerak ke sisi kirinya. Menari dan menggambarkan masa ketika akhirnya orang tua Yoongi akhirnya mengalah. Dimana dirinya memasuki dunia yang ternyata kejam. Jauh dari apa yang ia kira. Dilatih oleh orang-orang ganas yang siap memarahinya kapan pun jika ia tidak melakukan latihannya dengan baik. Berlatih merapalkan berderet kalimat panjang dengan beberapa kosa kata yang ia tak mengerti.

Tapi di saat itulah ia bertemu dengan teman-teman baru. Mereka yang gila. Mereka yang akan menjadi satu grup dengannya nanti. Namun dengan merekalah, ia menjalani rutinitas melelahkannya. Dengan mereka, ia tidak lagi merasa kesepian, terbebani, ataupun stress sekalipun. Mereka punya beribu cara untuk menghibur satu sama lain jika diantara mereka bersedih hati. Karena mereka disatukan dengan mimpi yang sama. Bersama-sama mereka akan meraihnya.

Sampai terulang kembali kejadian hari paling bersejarah bagi mereka. Ketika agensi menentukan tanggal awal bagi mereka untuk menjadi bintang. 13 Juni 2013, hari itu tidak akan pernah dilupakannya. Dimana semua kerja keras selama ini akhirnya terbayarkan.

“Selamat datang Bangtansoyeondan.”

Hari itu senyum tak lepas dari para anggota. Tidak dengan Yoongi. Hari ini ia tidak melihat kehadiran orang yang paling ia kasihi di dunia ini.

Orangtuanya.

 

Yoongi kini menatap ke depan. Kisah perjalanan kariernya. Jadwal promosi berangsur-angsur memadat. Para gadis-gadis yang berteriak melengking mengelu-elukan namanya dimana-mana. Berlatih hingga dini hari untuk kegiatan tur. Menjejaki negeri asing untuk berjumpa dengan penggemar. Ia pun mulai terbiasa dengan lampu ribuan watt yang menyoroti. Kamera dengan lensa berlapis siap kapan pun mengambil gambar dirinya. Namun kebas di seluruh badan terasa lebih sering menimpa dibandingkan dengan rasa punggungnya yang menyapa ranjang.

Kantung mata yang makin hari makin menghitam. Tubuhnya yang makin hari makin mengering. Adalah jawaban sebenarnya dari senyum palsu yang ia tebar untuk para penggemar. Agensi menjadi buta. Penggemar yang terus bertambah membuat agensi menatap ketujuh pria  itu seperti mesin uang. Jadwal promosi menjadi ditingkatkan. Kesempatan mata untuk terpejam semakin berkurang. Mereka sudah gila.

Yoongi terhenyak ketika ia melihat dirinya limbung di atas panggung. Saat itu mereka tengah latihan untuk terakhir kalinya. Pusing yang mendera kepalanya bukan main-main. Puluhan kali ia menolak bujukan anggota untuk beristirahat dahulu. Ia tak mau menghambat yang lain.

Namjoon sang pemimpin pun marah. Bersikeras ia menyuruh Yoongi dan Taehyung untuk beristirahat. Pemuda Jungkook berlari turun dari panggung, ia menangis. Yang Yoongi tahu, Hoseok, Jimin dan Seokjin berusaha keras menahan air mata.

“Aku tidak apa-apa. Aku masih kuat. Ayo kita lanjutkan.” Katanya saat itu.

Semua adegan cepat itu akhirnya hilang. Cahaya-cahaya itu lenyap. Hanya tinggal dirinya di ruangan hitam dan refleksi dirinya pada cermin di hadapannya. Kini inilah dirinya. Pemuda berkulit putih pucat yang terlihat seperti kekurangan gizi.

Apakah ini akhirnya?

 

“Sampai kapan kau akan terus berbohong pada diri sendiri dan orang lain, Yoongi?” seorang lelaki tua muncul dibelakangnya. Mengangkat salah satu ujung bibirnya.

Pemuda bersurai hijau pudar itu membelalakan matanya. Meraba sekeliling untuk memastikan ia sudah kembali. Nafasnya terengah, meraup oksigen sebanyak-banyak. Ia terlihat seperti orang yang hendak kehabisan oksigen. Kepanikan mendadak merasuki. Jantungnya berdegup sangat keras. Pengap berlahan memasuki bilik kamar temaram itu. Padahal jendela sudah ia buka lebar. Baru saja ia melemparkan action figure Super Mario milik Seokjin kearah jendela—demi mendapat udara segar.

“Sudah cukup berbohong pada diri sendiri, Yoongi?” lelaki dalam mimpinya tadi hadir di hadapannya. Senyumannya masih sama. Senyum mengejek.

 

Dua detik kemudian, Yoongi kembali membaur dengan dunia yang tak ia kenali.

Perlahan-lahan gelap menutupi matanya.

Jantungnya melambat. Bernafas pun kian sulit.

 

Di luar sana, salju pertama pun akhirnya turun. Orang-orang pasti sedang membuat permohonan. Jika saja Yoongi merasakannya, ia juga ingin membuat permintaan.

 

“Aku ingin kembali pada masa mudaku. Dengan senang hati akan kuturuti keinginan orang tuaku. Tapi bisakah biarkan aku tetap mengenal Seokjin, Namjoon, Hoseok, Jimin, Taehyung dan Jungkook? Mereka juga keluargaku.”

“Terima kasih semuanya.” Yoongi berkata lirih.

Kalimat itu akhirnya mengantarkan Yoongi pada dunia yang gelap. Juga pengap.

Ini akhirnya.

.

.

 

Pun akhirnya Yoongi terbangun dengan sinar terang yang menyeruak masuk ke mata. Ini kamarnya dahulu semasa di rumah. Sempat ia mengira bahwa ia sudah berada di surga.

“Yoongi, Kau tidak akan bangun? Apa kau tidak punya kelas hari ini?” teriakan seorang wanita paruh baya menggema menyapa gendang telinganya.

Suara ini.

Suara yang sangat ia rindukan.

Itu—

Ibunya.

 

“Hey! Apa kau hanya akan berbaring di sana terus? Ayo, kita kan janji akan pergi ke pantai hari ini, bung!” Seseorang berdiri di antara kusen pintu. Tingginya menjulang dengan jaket kebesaran dan kacamata bulat milik yang bertengger di hidungnya.

Tunggu—

 

—itukan Seokjin.

Oh! Bahkan Namjoon, Hoseok, Taehyung dan Jimin juga muncul di sana. Mereka semua tidak menggunakan make-up bahkan rambut mereka semua hitam.

Seseorang berlari ke arah para lelaki yang berdiri di antara kusen pintu itu. Ia terengah. Gigi kelicinya tampak lucu ketika ia bicara.

“Apa aku terlambat? Hey! Aku kira Yoongi sudah bersiap!” ia marah dan menuding Yoongi.

 

“Panggil dia pakai hyung! Dasar!” para lelaki itu pun menghakimi sang termuda itu. Sang korban justru tertawa riang.

Diam-diam sudut bibir tipis Yoongi tertarik ke atas.

Ia bangkit.

Berlari ke arah mereka lalu memeluk mereka.

 

“Aku merindukan kalian.” Ujar Yoongi.

Tiga kata cukup mendiamkan keributan yang terjadi. Mereka semua diam. Terkejut.

 

“Apa dia sudah gila?”

Hyung? Apa kau terantuk meja saat tidur? Atau jangan-jangan kau tertimpa pecahan langit?”

Oh, Taehyung mulai lagi.

 

Apapun yang terjadi saat ini. Yoongi sangat bahagia sekarang. Tidak ada lagi orang yang memberlakukan dirinya seperti robot. Mulai sekarang, ia akan membahagiakan orang tuanya. Satu hal lagi, tentunya ia akan hidup dengan kebahagiaan yang sebenarnya.

FIN!

 

Note :

  • Ditulis pada 27/12/2015 saat Yoongi dan Taehyung di diagnosis awal terkena vertigo. Menyebabkan mereka tidak bisa tampil di konser yang diadakan di Kobe, Jepang. Para member juga dikatakan menangis karena mengkhawatirkan member lainnya. Ribuan A.R.M.Y menuntut Bighit agar memberikan istirahat untuk BTS. Plis deh yaaa.. mereka juga manusia kaan. Mereka butuh istirahat. Bighit makin ke sini makin ngeselin aku rasa. Jadwal BTS bener-bener padat. Bahkan Yoongi bilang mereka cuma tidur 3 jam per hari.

 

  • BTS sering kali keliatan capek bangeett. Kadang liat mereka senyum tuh pengen ngomong ‘KALIAN ISTIRAHAT DULU LAAH’. Mendadak aku sadar, mereka nggak bakal denger. LOL. Intinya aku kasian sama mereka 😦 Yoongi jangan sakit lagi. Makan yang banyak. Jangan kayak tulang balut kulit. Semua member jangan sakit pokoknyaaa. Ily semuaanyaa. Hahahaha.

 

  • Berantakan seperti biasa. Ditulis ngebut hari itu juga. Aku masih tertatih lagi buat menulis. Warna tulisanku pudar lagi. Diksinya receh. Nggak ada feel sama sekali kan ya. Aku masih lupa caranya menulis.  Dan ini full narasi haha, percakapannya sedikit banget. Semoga kalian nggak ngantuk bacanya. But, Thanks for reading. Review? 😀
Advertisements

5 thoughts on “[Monochromic Youth] Last Hope – Vignette

  1. Aihara

    Mau ditulisnya ngebut pun, tetep aku terbawa suasana fanfictmu ini, author/?(ngga tau mau manggil apa)
    keren deh, jadi sedih juga nginget mereka pas sakit, huaah :’)
    ngga tau mau bilang apa lagi, pokoknya gitu deh
    fighting terus yaa^^

    Like

  2. myungsooga

    Sebagai seorang Yoongi stan tingkat atas (?) , feel-nya kuat banget. Aku suka. BANGET. Apalagi waktu dia ketemu anggota BTS yang jadi keluarganya/?

    Good job min. Ini salah satu FF Suga favoritku.

    Like

  3. Monigalady

    Ceritanya baguss banget,, di buat sedemikian rupa seperti yang banyak orang pikir tentang suga, makasi ya,,, sukses terus nulis ceritanya.. Fighting 👏🏻👏🏻👏🏻

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s