[Monochromic Youth] Good Boy – (Ficlet)

Good Boy-Poster

Good Boy (Ficlet)

A fiction by bebhmuach (@bebh_muach)

[BTS] Park Jimin || [OC] Park Hellen & Park Vallyra

Slight [BTS] Kim Taehyung & Jeon Jungkook

Ficlet  ||  AU, Family, Childhood, Comedy  ||  G

White theme. I  OWN THE PLOT!!

Maaf untuk typo, HAPPY READING^^

.

Karena menurutnya, ini masalah antara hidup dan mati.

.

©2015 bebhmuach

“Jimin sekarang satu-satunya anak lelaki di rumah. Jadi Jimin harus menjaga Kak Hellen dan Vallyra, selama Kak Chanyeol dan Appa tidak ada.”

Kira-kira begitulah kalimat yang diutarakan Chanyeol–si sulung dari keluarga Park–pada Jimin. Kurva di belahan bibirnya mengembang, seiring meresapi arti di balik kalimat itu. Mengingat kini eksistensinya bukan lagi bocah manja yang berusia sepuluh tahun, melainkan satu-satunya pria sekaligus pelindung di keluarga Park. Lantaran, kakak tertuanya harus pergi KKN ke luar kota dan ayahnya yang seorang polisi juga bertugas di luar kota.

Bocah berpipi bulat itu sangat merasa bangga. Terlihat dari gesture-nya yang berlagak menjadi seorang pemimpin, bentuk antonim dari tabiat biasanya. Lain bagi Jimin, lain pula bagi Vallyra–si bungsu. Gadis berkuncir dua itu terkadang lupa membersihkan mainannya, tak ayal menjadi santapan sang kakak. Kalau sudah begitu, Vallyra hanya bisa mengerucutkan bibir dan mau tak mau membereskan seluruh mainanya.

 

Siang ini Jimin tengah menonton kartun favoritnya. Netranya fokus mengamati sang lakon utama; dua serangga berbentuk lonjong berwarna kuning dan merah tengah tergelak hingga menggeliat di atas tanah. Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar suara derap langkah kecil menghampirinya.

 

“Kak Jimin.” Lengan mungil itu menarik-narik ujung baju Jimin.

 

“Kenapa, Val?”

 

“Kak Hellen sakit.”

 

Mendengar nama kakak perempuannya disebut, sontak atensinya lekas beralih pada sang adik. “Sakit apa?”

 

Gadis kecil itu mengedikkan bahu, “mungkin sakit perut. Val, tadi lihat Kak Hellen terus pegangi perut.” Kedua lengannya lantas memegangi perut, pula mimik wajahnya yang berubah–memperagakan kondisi si kakak kedua.

 

Buru-buru Jimin bergerak menuju kamar Hellen di lantai dua. Sejurus kemudian, bocah lelaki itu segera masuk ke dalam kamar. Betul saja, gadis–yang tiga tahun lebih tua darinya–itu tengah merintih di atas kasur sembari memegangi perutnya.

 

“Kak Hellen.” Jimin sengaja menjaga intonasinya sepelan mungkin, lantas kedua tungkainya berayun menghampiri sang kakak. Kala jarak terasa cukup dekat, lengan kirinya mengusap bahu Hellen. “Kakak sakit?”

 

Bola kepala Helen bergerak naik-turun sebagai jawaban. Mendadak hatinya gundah. Hening selama beberapa sekon, selagi Jimin memandangi sang kakak. Kedua irisnya terpaku melihat Hellen tengah menggigit bibirnya, seolah ia berpayah-payah menahan rasa sakit yang teramat.

 

“Jim, mau bantu kakak?” lirih Hellen. Lantas dijawab dengan anggukan sang adik.

.

.

Jimin menyesar jalan menuju tempat yang disebutkan Hellen. Katanya, toko yang dimaksud berada dekat persimpangan komplek.

 

“Jim.” Bariton itu berhasil menginterupsi. Jimin lantas menoleh ke sumber suara, melempar tatap ingin tahu. Presensi dua bocah lelaki muncul dari salah satu gang.

 

“Mau kemana, Jim?” tanya salah seorang bocah lelaki bergigi kelinci.

 

“Toko di sana.” Telunjuknya di arahkan pada satu bangunan sedang yang bercat putih dengan pintu kaca. Meski berjarak berpuluh meter, namun mereka dapat melihatnya dari sana.

 

“Beli apa?” Bocah lelaki berponi itu tampak ingin tahu.

 

“Kak Hellen sedang sakit. Jadi, aku diminta membeli sesuatu.”

 

Awalnya, ia berpikir kedua karibnya paham kalau sekarang ini Park Jimin tengah menjaga sang kakak. Lantaran, Jimin mendapat anggukan sembari ber-oh ria dari keduanya. Namun hipostesisnya terpatahkan, kala bocah–yang bernama Taehyung–itu mengimbuhkan.

 

“Yuk, ikut ke rumah Jungkook. Kita mau main PS.”

 

Si empunya nama ikut-ikut mengangguk, membenarkan tawaran Taehyung. Kalimat itu cukup untuk menghadirkan hening. Biasanya mendengar salah satu kegemarannya itu disebut, ia selalu tergelitik. Mungkin kini efeknya sudah berubah. Jimin sedang mengemban tugas. Karena menurutnya, ini masalah antara hidup dan mati.

 

“Bagaimana?”

 

“Maaf, Tae. Aku harus segera pergi. Lain kali saja, ya.” Sorotnya yakin dan lugas tanpa keraguan. Jimin pun lekas menggerakkan kaki kecilnya meninggalkan tempat itu.

 

Lima menit berlalu, Jimin sampai pada destinasinya. Ia berdiri di depan pintu masuk yang berada pada jarak empat langkah–untuk ukuran kaki kecilnya. Jimin melangkahkan kakinya perlahan, lalu terhenti tepat bersebelahan dengan meja kasir. Maniknya meretas pandang pada deretan barang yang tersusun rapi di atas rak-rak besar.

Tak boleh salah. Bocah lelaki itu membatin. Well, bisa saja Jimin asal memilih agar cepat memberikannya pada Hellen–juga, masih tersisa tiga puluh menit sebelum acara kartun favoritnya berakhir. Alhasil, Jimin memutuskan bertanya pada salah seorang penjaga kasir. Ia pun berjalan mendekat.

 

“Adik kecil, ada yang bisa kubantu?”

 

“Maaf, Kak. Aku mau membeli pembalut.”

 

End.

 

Semoga setelah membaca ini gak ada yang  ngerajam aku 😀 wkwkkwkk.. entahlah ini apa, pokoknya begitu. Keluarga Park nista beud lah ini, ya amfun….

Menyemarakkan event btsff^^ Semoga jaya syelaluuu..

Della~~

Advertisements

6 thoughts on “[Monochromic Youth] Good Boy – (Ficlet)

  1. I’ve been browsing on-line more than three hours lately, but
    I never found any fascinating article like yours.

    It is pretty price sufficient for me. Personally, if all web owners and bloggers made just right content
    as you probably did, the web shall be a lot more helpful than ever
    before.

    Like

  2. Wahahahah tugas pertama jimin sebagai satu-satunya lelaki di keluarga, beli pembalut.

    Ga papa jim, itu membantu kakak. Membantu kakak itu baik kok, abis itu mintain duit deh /plak/ keep writing yeapp~

    Liked by 1 person

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s