[Monochromic Youth] LuxTenebris – Ficlet

LuxTenebris Cover

Judul: LuxTenebris

Author: Alice (Number00)

Genre: Psychology, Dark,

Length: Ficlet

Rating: PG-15

Cast: BTS’ V

Disclaimer: 2015 © All rights reserved

Summary: Kau, aku, dan kita.

 

.

 

.

 

Oh, lihat dirimu.

Bosan ya, jadi kau. Tiap hari harus memasang senyum yang sama dan pergi bersama orang-orang yang sama. Kasihan, kasihan, tapi jangan menangis, tidak akan ada yang peduli kalaupun kau menangis. Hei! Sudah kubilang jangan menangis, bukan? Tidak ada gunanya kau menangis, honey.

 

Jangan, jangan! Hentikan, ya Tuhan, hentikan! Air matamu itu membuatku jijik setengah mati. Urgh, lihat, sekarang wajahmu jadi jelek sekali. Jelekjelekjelek. Aku benci saat wajahmu jadi jelek, kau jadi seperti goblin, ew.

 

‘Diam!’ kau berteriak padaku, dan aku tertawa. Tadi kau bilang apa? Diam? Ahahaha, sungguh, kau ini terlampau bodoh atau memang tidak punya otak sih? Kalau mau aku diam, ya kau juga diam! Berhenti menangis seperti bayi-bayi bodoh yang berkeliaran di tempatmu itu.

 

Ooh, lihat, lihat, kau berhenti menangis. Tapi, tebak! Kini kau berdiri di depanku, Mau apa, bocah cengeng? tantangku sambil mendorong bahumu menjauh. Kau berteriak marah dan mengumpat, dengan kata-kata kasar yang ibu bilang tidak sepantasnya diucapkan oleh kami.

 

‘Hei hei hei! Kau dengar kata ibu bukan? Harusnya kau tidak berkata seperti itu, dasar bodoh!’

 

Kau makin menjadi, wajahmu memerah. Ahahahaha! Lihat, sekarang kau jadi mirip babon. Lucu sekali, ahahahaha! Ya, bagus sekali, bagus, bagus! Jangan ragu, jangan ragu! Terus begitu, terus!

 

Aduuh, aku suka sekali kalau kau kehilangan kendali seperti ini.

 

.

 

.

 

Siapa itu, wahai saudaraku?

 

Ohoho, kau sudah besar rupanya. Siapa dia? Pacarmu?

 

‘Menjauhlah, Taehyung.’ katamu kasar, pacarmu menoleh. Oh, tenang, sayang, aku tidak akan menganggu kalian; isyaratku dengan tangan yang terangkat di atas dada. Sudahlah, kawan, jangan memandang marah padaku begitu. Pacarmu kelihatan bingung, tau. Nanti dia kira kita bermusuhan lagi.

 

‘Kau memang musuhku, busuk.’

 

Wah, kau jadi berani sekali. Pacarmu menghalaumu, ‘Ada apa, sih?’ tanyanya sambil memegang bahumu dan berusaha menenangkanmu. Ya, kawan, ada apa? Kenapa kau mendadak marah padaku? Kita kan baru saja bertemu dan belum melakukan apa-apa? Ah, ya.

 

‘Kenalkan, aku Taehyung.’

 

‘Menjauh darinya, sialan!’

 

Jangan berteriak! Nanti pacarmu makin bingung dan akhirnya memutuskanmu! Sudah keberapa kalinya ini? 3? 7? Ahahaha! Kau sungguh bodoh! Sudah sekian kalinya dan kau belum menyerah juga? Dasar bodoh. Bodoh bodoh BODOH!

 

‘Diaaam!!!’

 

Cuma itu yang bisa kau ucapkan?! Diam! Diam! Diam! Kau yang diam, bocah cengeng! Kau yang harusnya berhenti berharap, hahahahaha. Ha! Lihat, sekarang pacarmu pergi tanpa melihat ke belakang! Apa kubilang, jangan sekali-kali cari masalah denganku di depan umum, harus berapa kali sih kubilang?

 

‘AAAARGH!’

 

Hahahahahahahahahahahahahahahaha!

 

.

 

.

 

Bosan, hei, aku bosan, bocah cengeng.

 

‘Berisik.’

 

Aaah, tuh kan. Kau marah-marah lagi. Kenapa kau bisa tersenyum di depan orang-orang itu tapi marah-marah padaku, sih? Uuuuh, aku sebal sekali padamu. Aku ngambek nih. Kau bilang bodo amat, duh, kau ini kejam sekali padaku.

 

Temani aku, yuk! Aku bisa mengajarkanmu cara untuk membuat orang-orang menyebalkan itu menjauh darimu, ayolaaah! ‘Diam, Taehyung!’

 

Hmp, kau membosankan, ah. Padahal kan aku cuma mengajakmu bermain, jangan marah begitu dong. Wajahmu makin jelek kalau kau ngambek seperti itu, ayolah, hei hei hei! Aku ini kan kawan dekatmu, kenapa sejudes itu padaku sih?

 

‘Kau bukan kawanku, sialan.’

 

Ah, omong kosong itu lagi. Mau berapa kali kau menyangkalku sebagai kawan, hm? Padahal sejak dulu aku dan kau selalu bersama. Taehyung, temani aku main! Taehyung, jangan tidur dulu! Taehyung, dan segala rupa permintaan manjamu! Aduh, sekarang kau sudah besar ya? Kau berubah semenjak mengenal orang-orang sialan itu, loh.

 

Kenapa? Kau naksir kakak kelas idaman itu?

 

Mana mungkin dia mau pada murid biasa sepertimu, hah? Jangan mimpi, temanku sayang. Untuk apa kau mengejar yang tidak pasti? Sini, sini, denganku saja. Kau tidak usah cari teman lagi. Cukup ada aku, kan? Cukup Kim Taehyung seorang.

 

Toh kau juga tahu, aku yang paling mengerti soal dirimu.

 

.

 

.

 

Kalau kau sudah bosan minum obat itu, yasudah jangan diminum lagi.

 

Kau menoleh sekarang, tangan pucatmu gemetar menggenggam satu tabung oranye berisi tablet-tablet pahit berwarna putih. Ew, pasti rasanya pahit. Kau juga tidak suka kan? Sudahlah jangan diminum.

 

‘Nak,’

 

Oh, bagus. Nenek sihir datang. ‘Sayang, kau sudah minum obatmu?’

 

Tenang saja, aku takkan berkomentar banyak. Aku malas mengobrol dengan orang dewasa, mereka tidak asik sama sekali. Setelah mendengar jawabanku, kau menoleh pada sosok ‘ibumu’ yang berdiri gugup di depan pintu. ‘Sudah, bu.’

 

‘Kau yakin sayang? Nanti kalau kau tidak–’

 

‘SUDAH, IBU!’

 

Nah, bagus! Bagus! Akhirnya kau berani melawannya juga. Aaah, sudah berapa kali kubilang makhluk itu tidak berguna kan! Akhirnya kau berani juga. Sini, sini, kubantu kau menutup pintu.

 

Tertutup.

 

Kau menghela nafas dan menggumamkan sesuatu seperti terimakasih padaku sebelum melempar tabung oranye tadi ke dalam toilet.

 

Kenapa? Aku bertanya padamu yang tengah duduk termenung di atas kasur sembari memainkan ujung bantal dengan tanganmu. Kau menoleh setengah enggan, namun setelah beberapa menit diam, kau akhirnya menjawab,

 

‘Kakak kelas itu sudah punya kekasih.’

 

Ah! Sudah kubilang apa kan? Relakan sajalah, kawanku, dia itu cuma mau mengambil untung saja dari hubungannya. Dia juga tidak semenarik itu, kan! Dia laku hanya gegara dia terkenal kaya di sekolah saja, kok!

 

Kau menoleh penasaran, memgangkat sebelah alis bingung. Percaya padaku, kataku meyakinkan. Dan aku bisa lihat sesuatu dalam matamu berkilat senang seperti masa lalu ketika kita jarang sekali bertengkar. Sebelum kau beranjak remaja dan mengenal orang-orang menyebalkan itu.

 

Aku tersenyum padamu dan mengelus-elus bahumu pelan. Tenanglah, aku akan selalu menemanimu.

 

.

 

.

 

Lagi-lagi kau pulang sambil melempar barang-barang dengan asal ke seluruh penjuru kamar.

 

Aku sedang duduk di atas kasur, membaca buku komikmu yang tergeletak di atas meja sembari menunggumu pulang. Kau berteriak marah, menghiraukan ibumu di belakang dan membanting pintu tepat di depan mukanya.

 

Begitu melihatku, kau menghambur ke dalam pelukanku. Dan aku tersenyum miring. Ada apa, tanyaku kalem. Kau mulai menangis, tapi kali ini aku tak meledekmu. Kau menangis dengan heboh, kadang berteriak dan menutup telinga. ‘Taehyung, berisik!’ katamu di sela isakanmu.

 

Aku berdecak, memaksamu untuk mengusir keluar suara-suara dalam pikiranmu hingga hanya ada suaraku yang bergaung dalam otaknya. Hei, buddy, lihat aku! Jangan kehilangan kendali! Jangan menyerah, singkirkan mereka semua! Kataku meyakinkan sambil menggenggam kedua tanganmu.

 

‘Mereka kembali, Taehyung! Aku takut!’

 

Tenang, kawan, tenang. Ada aku disini, kau tak perlu ketakutan seperti itu. Kau mengangguk, gemetar menggenggam tanganku dan mulai berusaha menghentikkan isak tangismu.

 

Sekarang dengar, kataku berbisik di telinganya. Kau mau mereka pergi? Tanyaku sambil mengelus punggungmu. Ragu, kau mengangguk sembari menatap dalam kedalam manik monokromku.

 

Lihat kesana. Titahku, membimbing wajahmu untuk melihat singgasana yang telah kubuat khusus untukmu. Kau tertegun sejenak, bolak-balik menatap tali tambang cokelat muda dan wajahku dengan ragu.

 

Dan aku meyakinkanmu. Tenang saja, begitu kau melakukannya, mereka semua akan pergi.

 

Dengan perlahan, kau beranjak. Bergerak dengan ragu tapi pasti ke arah singgasana megah yang kupersembahkan khusus untukmu. Lalu kau berdiri di depannya. Aku senang sekali. SENANG SEKALI MELIHATMU MULAI NAIK KE ATAS SINGGASANAMU DAN MENGISTIRAHATKAN LEHER LELAHMU DALAM AKSESORIS SEDERHAN YANG KUBUAT UNTUKMU HAHAHAHAHAHAHAHA.

 

Lalu kau memandangku lagi, dan aku tersenyum, seraya berbisik,

 

Percayalah padaku, Taehyung.

 

Anggukan dan kau melayang di atas lantai. Aksesori lehermu mengerat memeluk otot-otot yang menolak hilangnya aliran oksigen. Dan aku tertawa, memegangi kepalaku yang terasa ringan.

 

Anehnya, saat wajahmu mulai membiru karena kehabisan nafas, leherku terasa terbakar. Lohlohloh, bukannya harusnya lehermu yang memerah dan membiru karena terkena tali tambang. Tapi kenapa–

 

Oh, iya.

 

Aku sampai lupa.

 

Ini kan tubuhku.

 

.

 

.

 

‘TAEHYUNG! KIM TAEHYUNG! SAYA–’

 

.

 

Berisik, ibu sialan. Biarkan aku tidur, aaaah … Akhirnya aku terbebas juga. Aku jadi tidak usah menyuruh Taehyung mengejarkan PR atau mengurusi masalah sekolah yang menyebalkan. Hahahaha.

 

.

 

.

 

.

 

Beberapa jam kemudian, setelah pintu kamar itu bobrok karena dihantam sepatu boots, ada seseorang yang tergantung di dalam kamar.

 

Hanya ada satu mayat, dan di dekatnya ada tabung oranye dengan label khusus tertulis di dalamnya.

 

-Olanzapine/Zyprexa, khusus untuk pasien Kim Taehyung.

 

.

 

.

 

Fin

 

*Olanzapine: obat dengan nama pasaran Zyrexa untuk orang dengan penyakit Schizophrenia.

*Schizophrenia: penyakit kejiwaan dimana pasien memiliki halusinasi dan seringkali memiliki kepribadian yang lain dalam dirinya. Biasanya dialami oleh remaja yang punya depresi berat hingga memicu delusi.

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s