[Monochromic Youth] First – Oneshoot

FirstFirst

(Friends, Glass of Soju and Missing)

 

By :  Febby Fatma

Drama, Angst, Friendship

PG 15

Oneshoot (1500+)

 

Cast :

Park Jimin BTS

Jeon Jungkook BTS

Kim Taehyung / V BTS

Disclaimer : Plot milikku. BTS milik kita bersama. Mohon tidak copy-paste atau plagiat. Sebelumnya terima kasih dan selamat membaca~

SUMMARY : Ini tentang Jimin dan dua teman pertamanya. Tentang Soju pertama mereka. Juga tentang rasa kehilangan yang pertama kali mereka rasakan.

“Hey jauhkan tanganmu.”

“Aw!”

“Hahaha.”

Jimin dan dua temannya yang masih berseragam sore itu menyenderkan tubuh mereka pada dinding sebuah bangunan tua. Tertawa puas dan membuat gema yang mengisi kekosongan tempat itu.

“Tadi hampir saja.”

“Kau benar-benar gila, Jung.”

“Tidak apa-apa, yang penting kita dapat ini.”

Satu dari mereka -Jungkook, dia yang duduk di tengah antara Jimin dan satu laki-laki lain mengeluarkan sebuah bungkusan hitam dari balik almamaternya. Suara teriakan “Yey!” Menjadi pengiring kemunculan bungkusan hitam itu.

“Kita dapat berapa?”

“Sudah kubilang jauhkan tanganmu.”

Sekali lagi Jungkook menepuk tangan teman yang sebenarnya tadi justru membuat operasi mereka hampir gagal.

“Sudahlah Jung, Tae hari ini sedang kacau. Tidak perlu kau permasalahkan yang tadi itu.”

Taehyung yang dimaksud mengangguk setuju. Tidak peduli dengan bagaimana Jungkook menatapnya, Taehyung tetap mengambil bungkus hitam tadi dari tangan Jungkook. Mengeluarkan tiga botol berwarna hijau bening sambil terkekeh senang.

“Kita dapat satu-satu.” Seru Taehyung dan langsung Jungkook bekap mulut anak itu.

“Bisa kecilkan suaramu tidak sih?”

Taehyung mengangguk dan mengecilkan suara kekehannya setelah Jungkook melepas tangan yang membekap mulut anak itu.

“Jim, ini untukmu.”

Jimin menerima satu botol dari tiga botol hasil operasi mereka tadi. Untuk sesaat Jimin hanya memandang botol soju di tangannya dalam diam. Pertengkaran aneh Jungkook dan Taehyung kembali menyita perhatiannya.

Sejak awal Jimin ada di antara mereka fungsi utama Jimin adalah melerai pertengkaran mereka. Kedua, Jimin adalah sumber ide dan strategi setiap operasi gila mereka. Yang terakhir, Jimin adalah teman mereka.

Tidak masalah memang, tapi ada saat Jimin ingin masuk ke dalam pertengkaran mereka. Ada saat Jimin ingin terlibat lebih jauh.

“Sudah kubilang, jatahmu hanya setengah!”

“Lalu setengahnya?”

“Tentu saja untukku.”

“Tidak bisa!”

“Kenapa tidak bisa? Aku yang mengambil tadi. Perjuanganku pantas dihargai lebih.”

“Tapi kenapa harus dari punyaku?”

“Karena kau yang hampir menggagalkan operasi tadi.”

Taehyung mendengus kesal mendengarnya. Jimin tahu kalau anak itu menyesal sudah membuat Jungkook harus berlari lebih jauh demi barang operasi mereka.

“Aku memutari sekolah untuk sampai di sini sedangkan kau bisa berjalan santai untuk sampai di sini.”

“Sudah-sudah.”

Lagi, Jimin menjadi penengah mereka.

“Jung, ini pertama kalinya kita minum soju, jadi biarkan dia dapat jatah yang sama dengan kita.”

“Tapi Jim,”

“Dengar, jika kau terlalu mabuk nanti aku dan Tae yang akan susah. Belum lagi jika sekolah sampai tahu. Aku yakin kau tidak mau dapat masalah ‘kan?”

Dan lagi, Jimin berhasil meyakinkan Jungkook.

Selalu seperti ini memang. Jimin akan jadi pihak yang Jungkook dengar. Jadi orang yang terlihat paling dewasa di antara mereka bertiga.

Padalah tidak. Jimin tidak seperti itu sepenuhnya.

Jimin dekat dengan dua orang ini juga karena sejak awal tidak ada pilihan lain. Mereka yang mendatangi Jimin diawal sekolah dua tahun lalu. Mereka yang mengajak Jimin berteman. Itu sebabnya Jimin mau menjadi apapun dalam kelompok mereka.

Karena mereka adalah teman pertama Jimin.

“Jim, kau pernah minum ini sebelumnya?”

Jimin menggeleng. Kepalanya sudah terasa berat setelah meminum setengah botol soju miliknya.

“Ini pertama kalinya juga bagiku.”

Taehyung merangkul dan bersandar padanya. “Kita akan melakukan ini lagi nanti setelah umur kita cukup.”

“Yah, kita akan buat itu menjadi yang pertama kalinya sekali lagi.”

Di antara mereka bertiga bisa dikatakan Jimin adalah yang paling bisa bertahan dengan hasil operasi mereka kali ini. Jungkook yang tadi meminta jatah lebih justru menjadi yang pertama tumbang.

“Dan ingatkan aku nanti, Jim.”

“Ingatkan apa?”

Taehyung menunjuk sosok Jungkook yang sudah tergeletak di depan mereka dengan botol di tangan kirinya. Membiarkan isi botol itu tumpah dan membasahi sepatunya.

“Tentang betapa buruknya dia dalam hal ini.”

Anggukan Jimin disambut dengan tawa pelan Taehyung. Jimin tahu kalau Taehyung sudah mulai mabuk sepertinya, tapi dia bertahan untuk tetap menemani Jimin.

“Tae,”

“Hem?”

“Terima kasih.”

“Jim, ini sudah yang keberapa?”

“Entahlah, yang pasti kau sudah terlalu banyak minum.”

Jimin memainkan gelas kecil yang masih berisi setengah. Memainkan gelas itu, menciptakan pusaran air kecil di dalamnya.

“Kau sudah mabuk.”

“Belum. Aku belum mabuk.”

Jimin membiarkan satu gelas lagi ditenggak habis oleh dia yang bersama dengannya. Membiarkan laki-laki itu merancau lebih banyak lagi.

“Ini harusnya adalah acara minum pertama kita bertiga setelah lima tahun. Iyakan?”

“Yah, harusnya begitu.”

“Tapi rasanya beda dengan yang dulu.”

“Itu karena dulu kita melakukannya di gudang, dengan barang curian dari toko pamanmu dan kita masih berseragam.”

Dia menggeleng. Meminum satu gelas lagi soju dari botolnya.

“Bukan itu.”

“Lalu?”

“Kau tahu betul apa yang aku maksud, Jim.”

Jimin terdiam. Nama itu masih menjadi nama panggilannya hingga kini. Tapi sudah tidak pernah lagi Jimin panggil mereka dengan nama panggilan seperti itu. Entah sejak kapan Jimin berhenti melakukan itu, yang Jimin tahu, kini dia tidak begitu suka dengan nama panggilannya.

Karena hal itu Jimin merasa lagi-lagi dia berbeda dengan kedua temannya.

“Jim.”

“Ya?”

“Ayo ke tempatnya.”

“Sekarang tengah malam. Kau tahu itu?”

“Kenapa memangnya?”

Jimin terdiam. Melihat dia yang mabuk di hadapannya membuat Jimin merasa enggan terus mengobrol. Ingatan tentang seseorang yang pernah berpesan padanya dulu memenuhi isi kepala Jimin sekarang.

“Kau buruk dalam hal ini. Kau tahu itu, Jungkook?”

“Iya, aku tahu.”

“Jadi berhentilah.”

“Tidak bisa. Aku harus meminum jatah Taehyung juga.”

Jimin menangkap tangan Jungkook yang akan kembali meminum soju dari gelasnya. “Biar aku saja.”

“Tidak Jim, aku yang akan meminumnya.”

“Kau sudah terlalu mabuk.”

“Tetap aku yang akan meminumnya.”

“Jeon Jungkook.”

Jungkook tersenyum padanya. Sebuah senyum menyakitkan yang akhirnya membuat Jimin mengalah.

Untuk pertama kalinya, Jimin mengalah pada apa kata Jungkook.

“Karena aku yang membuatnya pergi lebih dulu. Karena aku sekarang dia tidak di sini. Jadi biarkan aku yang meminum bagiannya.”

“Jim, ini akan jadi gelas soju pertama milik Taehyung yang aku wakilkan.”

Teng!

“Hey Kim Taehyung!”

Jungkook menepak bagian belakang kepala Taehyung. Menciptakan bunyi ttak yang mengisi kekosongan di sana. Dia membuat Taehyung yang sedang memapahnya berhenti berjalan.

“Sabar, Tae. Dia sedang mabuk.”

“Tapi dia mulai keterlaluan.”

Jimin tidak memberi jawaban lain. Dia lebih suka menunjukan pandangan yang seolah berkata lalu-apa-maumu?

“Ah, baiklah.”

Jimin terkekeh saat Taehyung kembali membenarkan posisi tangan Jungkook yang sedang mereka papah.

“Tae, kenapa kau mau berteman denganku?”

Jimin tahu pertanyaan itu sedikit aneh dan rasanya seperti Jimin meragukan pertemanan Taehyung padanya. Tapi malam ini tiba-tiba saja Jimin ingin tahu sudah seberapa dalam dirinya terlibat dalam pertemanan ini.

“Entahlah, tidak ada alasan lebih untuk itu. Kenapa?”

“Aku hanya ingin tahu kenapa dulu kau dan Jung mau mendatangiku.”

Taehyung tertawa. Sekali lagi dia membenarkan posisi tangan Jungkook yang melintang di lehernya. Langkahnya dia perlambat untuk menyamai langkah Jimin.

“Karena kau lucu.”

“Lucu?”

“Aku dan Jung sudah memperhatikanmu sejak pertama kau masuk kelas, Jim.” Jimin diam karena menunggu cerita lebih lanjutan dari temannya. “Kau lucu sekali saat itu.”

“Apanya yang lucu?”

“Kau terlihat seperti baru pertama kali masuk kelas. Semuanya tampak baru bagimu. Bahkan mendekati seorang teman saja kau tidak bisa. Kau tampak cupu. Itu yang lucu.”

Kali ini langkah kaki Jimin berhenti. Dia membiarkan lengan Jungkook yang tadi melintang di lehernya jatuh tergelantung.

“Jadi kalian mau berteman denganku karena aku cupu dan itu tampak lucu bagi kalian?”

“Tidak.”

Jimin tidak marah pada mereka sekalipun Taehyung bilang iya tadi. Jimin justru merasa dua temannya ini hebat. Mereka tahu kalau Jimin memang baru pertama kali mengenal kelas.

“Jim.”

“…”

“Kau kenapa?”

“Tidak. Aku baik.”

Kembali Jimin ambil tangan Jungkook yang tergelantung lemas dari tubuh anak itu. Memapahnya seperti tadi.

“Tae.”

“Apa?”

“Ah! Kalian berisik.” Jungkook menarik tangannya dari leher Jimin dan Taehyung. Dia berjalan lebih dulu, meninggalkan Jimin dan Taehyung yang kaget dengan teriakannya.

Anak itu berjalan sempoyongan, dia menyilang kakinya disetiap langkah. Hampir disetiap langkahjuga dia terlihat akan jatuh.

“Jung, kau benar-benar sudah mabuk.”

“Aku tidak mabuk.”

Jimin dan Taehyung tertawa kompak melihat bagaimana cara jalan teman mereka itu. Tapi tiba-tiba tawa mereka berhenti saat Jungkook justru berhenti di tengah jalan, disinari cahaya terang yang semakin lama semakin dekat.

“Bodoh!”

“Tae!” “Kim Taehyung!”

“Kau benar-benar sudah mabuk.”

“Aku tidak mabuk.”

Jimin mengejar langkah temannya itu dan memakasa untuk memapahnya.

“Aku bisa jalan sendiri, Jim.”

“Menurut saja padaku.”

“Jim.”

Jimin kembali mengambil satu tangan Jungkook untuk dia papah. Biarpun Jungkook menolaknya berkali-kali, menghentakan tangannya berulang kali dan menatapnya marah, Jimin tidak perduli. Dia akan tetap memapah temannya itu sampai rumah nanti.

“Terakhir kali kau bersikap seperti ini, kita kehilangan Tae. Kau ingat itu, Jung?”

Advertisements

7 thoughts on “[Monochromic Youth] First – Oneshoot

  1. Brenda

    Gua sempet bingung pas alurnya bolak balik. Tapi sekarang gua ngerti klo si taehyung tuh akhirnya meninggal gara” nyelametin jungkook. Hahaha… Authornya sukses membuat taehyung stans menjadi baper ;p

    Like

  2. Aihara

    Pas sadar kalo Tae udah ngga ada gara-gara Jungkook mau gantiin minum isi gelas sojunya Taehyung, beuh, langsung nyesek banget menusuk hati </3
    Terus pas tau dia mati karena nyelamatin Jungkook, rasanya pengen masang senyum miring, teman yang baik… jadi sedih akunya, terharu:')

    Jungkook, jadi anak yang baik jangan nolak perkataan Jimin ya. Masa lalu harus jadi pelajaran! /haha

    Like

  3. Bapeeer, sedih eh…
    Taehyung ngorbanin dirinya buat nolongin Jungkook, dan itu pas bgt Jimin nanyain apa alasannya Taehyung sama Kookie mau temenan sama dia ‘kan?
    Sakitnya double demiapa…

    Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s