[Monochromic Youth] – Late (oneshot)

Cover Late Fix

 

Title: Late
Author: misshda
Main Cast: Min Yoongi a.k.a Suga, Kim Seokjin a.k.a Jin, and Jeon Jungkook
Support Cast: GOT7’s Bambam & Jackson, and 2AM’s Jinwoon
Genre: Sad, Sport, Family and Friendship
Length: Oneshoot
Rating: PG
Disclaimer: All story is mine, all cast belong to the God!
Summary: “Aku ingin mereka menyayangiku juga hyung, aku lelah dengan semua kemauan mereka! Aku ingin hidup bebas dengan kemauanku sendiri! Aku mohon bebaskan aku, hyung.. bebaskan aku!”


*
*
“Min Yoongi atau yang sering kita kenal sebagai ‘The God of Basket’ mengalami cedera dipergelangan kaki kirinya Sabtu lalu. Ia mengalami cedera saat bertandingan melawan Shoothago Bulls. Perwakilan dari manager Gangnam Lakers mengatakan bahwa Yoongi tidak dapat bermain untuk sementara waktu hingga dinyatakan sembuh total oleh dokter. Dikatakan pula cedera yang dialami Yoongi cukup parah dan harus mendapat penanganan yang serius. Untuk sekarang ini, Yoongi dikabarkan tengah beristirahat disalah satu rumah sakit di Amerika demi kesembuhan cederanya. Demikian..”
TIT.

Televisi yang mengabarkan berita tersebut dimatikan oleh Manager Kim.
“Apa kau mau terus-terusan berdiam diri seperti ini? Apa kau sama sekali tak ingin sembuh?” tanya Manager Kim pada Yoongi.
“Aniyeyo, yang aku butuhkan hanyalah istirahat. Berita itu terlalu berlebihan. Kau juga berlebihan, hyung..” jawab Yoongi cuek pada orang yang telah dianggapnya sebagai hyung-nya itu. Yoongi menidurkan kepalanya kebantal dan menarik selimut agar menutupi badannya. Iapun segera menutup matanya.
“Aish jinjja. Ya! Aku sama sekali tidak berlebihan, ini adalah kenyataannya. Kau mengalami cedera serius dan itu harus segera disembuhkan jika kau tidak ingin itu menjadi permanen.” Ucap namja yang bernama lengkap Kim Seokjin itu.
Yoongi membuka matanya kembali setelah mendengar ucapanya Seokjin. Memang ia tidak mau itu menjadi permanen, tapi ia hanya ingin seperti ini dulu. Yoongi ingin mendapat perhatian dari appanya. Yoongi benci ketika pria yang ia sebut ‘appa’ itu terus menekannya untuk menjadi terbaik tanpa memikirkan perasaan dan rasa sakit yang ia rasakan selama ini.
Yoongi tersenyum sinis.
“Hyung, bisakan kau keluar? Aku lelah..” suruhnya pada Seokjin.
Seokjin menyerah, sudah dua hari keadaanya seperti ini. Untungnya Seokjin mempunyai kesabaran lebih untuk menghadapi keegoisan Yoongi. Ia selalu mengalah demi pemuda yang dianggapnya sebagai dongsaeng-nya ini dan yang telah membawanya menjadi Manager sukses seperti sekarang.
“Arraseo, tapi aku mohon tolong jangan membuatku sulit seperti ini, Yoongi-ya..” ucap Seokjin lalu keluar dari kamar pasien yang ditempati Yoongi.
Yoongi membuka matanya lalu mengedip-ngedipkannya beberapa kali. Entah apa yang dipikirannya saat ini, jujur saja ia belum ingin menjalani serangkaian pengobatan untuk cederanya itu. Beberapa detik kemudian, ia kembali menutup matanya dan benar-benar tidur.
***
Hari ini sudah terlewati selama seminggu. Yoongi masih tetap tidak mau menjalani pengobatan itu. Menonton televisi, berjalan-jalan di taman, makan, dan tidur. Ya, hanya itu yang ia lakukan selama itu tanpa ada kata-kata ‘bosan’ yang keluar dari mulutnya.
“Hyung!” panggil seorang yang lebih muda dari Yoongi saat ia berada di taman rumah sakit.
“Sedang apa kau disini?” tanya Yoongi. Pria muda itu langsung memeluk Yoongi.
“Ah ah appo appo..” keluh Yoongi kesakitan. Pemuda itu langsung melepaskan pelukannya.
“Appo? Eodi? Mian hyung..” sesalnya.
“Jawab dulu pertanyaanku..” suruh Yoongi, kali ini ia terlihat tak seperti orang kesakitan.
“Kau pasti hanya berpura-pura kesakitan. Jinjja.. aku kesini ya ingin menjengukmu, mau apa lagi?” jawab pemuda itu kesal.
“Untuk apa menjengukku? Aku tidak sakit, sana pulang..” suruh Yoongi lagi lalu ia bangkit dari duduknya untuk meninggalkan pemuda itu.
“Hyung, ayolah.. jangan seperti ini. Kau saja masih memakai tongkat seperti itu, apa itu yang dikatakan tidak sakit?”
“Jungkook-ah, sebaiknya kau pulang sebelum appa mencarimu. Aku tidak ingin melihat wajahnya disini..” balas Yoongi pada pemuda yang merupakan adik kandungnya itu.
Yoongi melangkahkan kakinya meninggalkan Jungkook. Namun, Jungkook menahannya dengan memegang tangan kanan Yoongi. Tapi karena kaget, Yoongi reflek melepas pegangannya dari tongkat dan membuatnya terjatuh.
“Argh!” rintihnya kesakitan. Ini sama seperti ekspresinya ketika pertama kali cedera. Wajahnya sangat tergambar jelas begitu kesakitannya.
“Hyung!” Jungkook panik, lalu ia meminta tolong pada beberapa orang disana untuk membawa Yoongi masuk kedalam rumah sakit.
Yoongi masuk kedalam kamar pasiennya lagi untuk diperiksa oleh dokter. Jungkook menunggunya diluar. Ia sangat khawatir pada kakak yang sangat ia sayangi itu, meskipun Yoongi tak sekalipun menunjukkan jika ia juga sayang pada Jungkook.
“Mianhae hyung mianhae..” begitu merasa bersalahnya Jungkook pada Yoongi ketika melihat Yoongi begitu kesakitan.
Jungkook tak peduli setelah kejadian ini Yoongi menjadi benci padanya, yang ia harapkan adalah kesembuhan dari Yoongi. Ia tidak ingin keadaan Yoongi memburuk karena ulahnya ini. Jungkook sangat menyayangi Yoongi, ia ingin Yoongi sembuh, ia ingin Yoongi mengajarkannya bermain basket, ia ingin sehebat Yoongi dalam bermain basket.
Seokjin yang tadinya berada di dalam kamar kini keluar setelah berbicara dengan dokter yang menangani Yoongi. Jungkook melihat Yoongi sudah tenang tak seperti tadi. Dokter memberinya obat penghilang rasa sakit untuk sementara agar Yoongi tidak begitu kesakitan.
“Apa yang dikatakan dokter, hyung?” tanyanya pada Seokjin. Seokjin menghela nafas berat.
“Memburuk..” jawaban singkat Seokjin sudah bisa ditangkap oleh pikiran pemuda berusia 15 tahun itu.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku yang bersalah, aku yang menyebabkan Yoongi hyung terjatuh. Eothokkae..” kini Jungkook penuh dengan penyesalan.
“Ini bukan sepenuhnya salahmu, Yoongi yang memilih untuk tidak menjalani serangkaian pengobatannya. Jadi jangan salahkan dirimu seperti ini..” tenang Seokjin.
***
“Argh!” keluh Yoongi kesakitan. Suaranya itu membuat Jungkook dan Seokjin terbangun, mereka menjaga Yoongi semalaman.
“Wae hyung? Aku akan memanggil dokter..” ucap Jungkook khawatir. Namun sebelum melancarkan aksinya, Jungkook ditahan oleh Yoongi.
“Tidak perlu..” tolak Yoongi dengan wajah masih kesakitan.
“Sebaiknya kau pulanng saja ke Korea. Aku tidak membutuhkanmu disini..” lanjut Yoongi. Ini jelas membuat Jungkook merasa sakit.
“Hyung!”
“Wae? Aku tahu kau kesini karena appa menyuruhmu bukan karena kemauanmu sendiri. Aku tidak ingin orang-orang suruhannya menginjakkan kakinya kekamar ini.”
“Ini bukan kemauan appa, tapi ini kemauanku hyung.”
“Lalu, jika ini kemauanmu apa untungnya bagiku? Aku akan sembuh? Jika kau tidak berguna, sebaiknya pergi dan jangan kemari..” ucap Yoongi. Seketika amarah remaja 15 tahun itu memuncak, memang ia masih kecil tapi Jungkook sudah bisa mencerna dengan jelas perkataan hyungnya itu yang lebih tua dua tahun darinya.
“Baiklah, jika itu maumu. Aku akan pergi. Memang aku tidak menguntungkanmu dalam kesembuhanmu. Kau ingin sembuh? Lucu sekali, hyung. Bahkan serangkaian pengobatan sedikitpun tak ada yang kau jalani.” Balas Jungkook.
“Dan sekarang bicara soal berguna atau tidak? Lihat dirimu, apa kau sekarang berguna? Bahkan kau sekarang hanya bisa menyusahkan Seokjin hyung dan appa saja dengan mengeluarkan biaya banyak untuk rumah sakit. Bahkan kau juga merugikan tim basketmu.” Lanjut Jungkook dengan penuh emosi. Ia tahu ini sangat keterlaluan, tapi emosinya sudah tidak bisa ditahan lagi.
“Geumanhae, Jungkook-ah.. ayo kita keluar..” ucap Seokjin menenangkan Jungkook dan ingin menyudahi perdebatan ini.
“Apa kau tidak kasihan pada Seokjin hyung? Apa ini balasanmu padanya yang telah sabar menghadapimu? Jangan melihat appa atau aku, tapi dia. Luluhkanlah hatimu karena dia, hyung..”
“Sebaiknya kau pergi sebelum aku melakukan sesuatu padamu..” suruh Yoongi lagi. Emosinya juga memuncak, ia masih bisa mengontrolnya dengan baik.
“Baiklah aku akan pergi.. kau sekarang benar-benar menyia-nyiakan orang yang sayang padamu, hyung..” ucap Jungkook lalu berlalu meninggalkan kamar itu.
“Jungkook-ah..” panggil Seokjin. Ia berencana mengejar Jungkook, namun perhatiannya teralih oleh Yoongi yang sedang memukul-mukul cederanya dengan penuh emosi.
“Yoongi-ya, hentikan! Apa yang kau lakukan!? Hentikan! Jebal!” tahan Seokjin.
Seokjin menghentikan tangan Yoongi untuk memukul kakinya yang cedera itu. Tenaga Yoongi sangat besar untuk dihentikan oleh satu orang, namun tenaga Seokjin nyatanya lebih besar darinya. Yoongi menghentikan aksinya. Ia menangis kali ini, tangisan yang sudah ia tahan sedari lama. Keras dan penuh emosi.
“ARGH!!” teriaknya.
“Geuman Yoongi-ya, geuman.. jangan seperti ini, aku mohon..” pinta Seokjin menenangkan.
“Aku ingin sembuh, hyung.. aku ingin sembuh!” ucap Yoongi dalam tangisnya.
“Aku ingin mereka menyayangiku juga hyung, aku lelah dengan semua kemauan mereka! Aku ingin hidup bebas dengan kemauanku sendiri! Aku mohon bebaskan aku, hyung.. bebaskan aku!” lanjutnya.
Tak ada yang dapat dilakukan Seokjin kali ini. Ia tersentuh dengan keinginan Yoongi itu. Seokjin juga meneteskan air matanya. Begitu sulitnya kehidupan seorang remaja sepertinya. Ini juga pernah ia rasakan, dikekang habis-habisan oleh keluarga yang mengasuhnya.
Ya, kehidupan Seokjin tentu lebih berat dari ini dulunya. Ia terlahir dari seorang ibu yang tidak bisa merawat dan mengasuhnya dari lahir karena keterbatasan biaya. Sehingga ia harus dititipkan ke panti asuhan.

Kehidupannya di panti sudah sangat sempurna dan bahagia, ia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan ceria. Sampai akhirnya ia diasuh oleh keluarga yang sangat overprotectif. Masa kecilnya berubah menjadi sangat hitam. Dikekang, dibatasi pergaulannya, hingga pukulan-pukulan yang dilayangkan oleh orang tua asuhnya ia dapatkan.
Namun ia tidak seperti Yoongi yang berani melawan. Dulu jika ia lakukan, sama saja dengan membiarkan dirinya menjadi gelandangan dijalan yang tidak memiliki tempat tinggal. Karena benar-benar tak ada tempat yang ia tuju. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Yoongi dan ayahnya. Ya, mereka yang mengubah nasib Seokjin. Lebih tepatnya Yoongi yang meminta kepada ayahnya untuk membiarkan Seokjin ikut bersama mereka. Karena Yoongi ingin memiliki saudara sebelum akhirnya Jungkook lahir.
Diluar sana Jungkook mendengar semua perkataan Yoongi. Ia juga meneteskan air matanya. Yoongi tipikal orang yang tidak mudah untuk mencurahkan semua isi hatinya. Lebih tepatnya Yoongi menjadi pendiam ketika keluarganya bangkrut dan ibu mereka meninggal dunia 5 tahun yang lalu. Tuan Min selaku ayah mereka dengan liciknya menggunakan keahlian Yoongi bermain basket untuk mendapatkan banyak uang. Ayah mereka menjadi tamak sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan lagi kekayaannya tanpa memikirkan perasaan dan kesehatan Yoongi.
“Aku mohon jangan seperti ini, hyung.. jangan buat aku sedih melihatmu seperti ini.. aku mohon hyung..” ucap Jungkook lirih.
***
Hari ini pertama kalinya Yoongi mengikuti serangkaian pengobatan. Ya, akhirnya ia luluh. Entah wejangan apa yang diberikan Seokjin hingga namja keras kepala itu luluh jadinya. Meskipun begitu, Yoongi sangat benci sebenarnya. Salah satu alasan mengapa ia tidak ingin menjalani pengobatan ini selain karena ayahnya adalah karena rasa sakitnya. Ini sangat sakit.
“Apa ada cara pengobatan lain yang tidak sakit, hyung?” tanyanya pada Seokjin.
“Ada..”
“Mwo?”
“Aku akan membunuhmu, dengan begitu kau tidak akan merasa sakit lagi. Dan kau akan sembuh selamanya..” jawab Seokjin. Mendengar jawaban itu Yoongi kesal namun mereka tertawa bersama setelahnya.
“Mr. Yoongi.” Panggil suster yang keluar dari ruangan dokter.
“Ayo..” ajak Seokjin dan membantu Yoongi mendorong kursi rodanya.
“Kau saja, hyung.. aku malas masuk kesana..” ucap Yoongi.
“Baiklah, kau tunggu disini..” Seokjin segera masuk kedalam ruangan dokter tersebut untuk mendengar hasil dari pengobatan pertama Yoongi.
“He did well, all went well. But we have a problem on his injury. This treatment can indeed be successful but not perfect. Bones were difficult to put together, it will take a very long time. There is a quick way to unite the bones is by surgery. But after surgery he could not play basketball agile as before, because the bones will be sensitive. I’m sorry, this is too late..” jelas dokter yang menangani pengobatan Yoongi.
Seokjin dibuat lemas oleh penjelasan dokter itu. Apa yang akan ia katakan pada Yoongi nantinya? Ini tentu saja akan membuat remaja itu semakin terpuruk nantinya.
“If not by surgery, how long time needed to recover his injury?” tanya Seokjin.
“If he routinely doing this treatment, I think 9-12 month his injury can heal..” jawab dokter itu.
“What? Until a year?” Seokjin menghela nafas frustasi.
“I’m sorry. If treatment was to be done without delay, perhaps it won’t be that long..”
Ya, ini bukan kesalahan dokter maupun rumah sakitnya. Tapi ini karena ketidakmauan Yoongi dulu untuk melakukan pengobatan ini. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa yang harus ia katakan pada Yoongi nanti? Seokjin takut jika nanti Yoongi akan menjadi terpuruk.
Seokjin keluar dari ruangan dokter, ia segera menemui Yoongi yang menunggunya. Ia memamerkan senyuman pada pemuda itu. Yah, ini adalah senyuman termunafik baginya.
“Ayo kita kekamar..” ajak Seokjin sambil membantunya mendorong kursi roda yang diduduki Yoongi sedari tadi.
“Hyung..” panggil Yoongi.
“Apa selamanya aku harus bersahabat dengan kursi roda dan tongkat?” lanjutnya bertanya yang membuat Seokjin menghentikan aksinya.
“W-wae? Mengapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku mendengar semuanya, aku mendengar semua yang dikatakan dokter padamu..”
Seketika Seokjin membulatkan matanya mendengar pengakuan Yoongi. Yoongi menguping semua pembicaraan Seokjin dan dokter tadi.
“Satu tahun itu terlalu lama untukku. Aku tidak bisa berlatih selama setahun, aku tidak bisa bertanding selama setahun dan aku tidak bisa berjalan dengan normal selama waktu itu.” ucapnya lagi. Seokjin menggeram, ia memegang pegangan kursi roda itu dengan kuat.
“Lakukan saja, setelah itu kau akan menjadi baik lagi..” jawab Seokjin tenang.
“Tapi itu terlalu lama, hyung..”
“Aku bilang lakukan saja!” ucap Seokjin agak berteriak.
“Biar saja lama asal kau bisa bermain basket lagi, dari pada cepat tapi kau tidak akan pernah bisa menyentuh bola basket itu lagi. Aku mohon lakukan saja, Yoongi-ya, jebal..”
Yoongi menunduk, ia meneteskan air matanya tanpa Seokjin sadari.

Setahun bukan waktu yang sebentar untuknya, banyak hal yang bisa ia lakukan dalam setahun itu. Sedih jika harus tidak melakukan hal yang ia sukai selama itu.
“Aku takut aku tidak akan menjadi The God of Basket lagi, hyung.. aku takut orang-orang akan melupakanku..” ucapnya lirih. Seokjin memegang pundaknya.
“Gwaenchanha, aku berjanji akan membantumu untuk mengembalikan itu semua nantinya..” Yoongi mengangkat kembali kepalanya.
“Siapa yang berani melakukan itu padamu? Siapa yang berani melupakanmu? Namjoon? Jimin? Jackson? Mark? Akan ku hajar jika mereka berani melupakanmu..” lanjutnya. Sekarang Yoongi tersenyum mendengar perkataan Seokjin.
“Gomawo, hyung..”
“Ya! Mana Yoongi yang dulu? Yang penuh emosi dan tidak melow seperti ini? Dasar pengecut, sama cedera saja takut..” ejek Seokjin yang membuat emosi Yoongi naik lagi.
“Ya! Hyung! Ini beneran sakit, coba saja kau rasakan sendiri..” kesal Yoongi.
“Aku sudah lebih dulu merasakan hal pahit sebelummu, itu lebih sakit dari cederamu itu..” balas Seokjin.
Yoongi menyesal mengeluarkan kata-kata tadi. Tentu saja ia pernah merasakan hal-hal yang perih dan sakit seperti ini. Mendapat pukulan setiap hari, bukan dari ayah angkatnya saja tapi juga ibu angkatnya melakukan hal yang sama. Itu lebih sakit dengan apa yang dirasakan Yoongi sekarang.
“Aaaah sudahlah, ayo kita ke kamar.. aku sangat lelah dan lapar..” lanjut Seokjin mencairkan suasana. Yoongi masih terdiam karena penyesalannya mengeluarkan kata-kata tadi.
***
-1 Tahun Kemudian-
“Jungkook-ah! Shoot!” teriak Yoongi pada Jungkook.
“Kenapa tidak kau shoot saja tadi? Mengapa harus mengopernya dulu ke Bambam?” kesal Yoongi saat Jungkook menyelesaikan latihannya.
“Ya! Hyung! Itu susah!” jawab Jungkook sambil terengah karena nafasnya.
“Hah.. sampai kapan kau akan mengeluh susah? Kapan bisanya, eoh?” Jungkook hanya mempoutkan bibirnya mendengar pertanyaan Yoongi padanya.
“Yoongi hyung, terima kasih untuk latihannya hari ini..” ucap Bambam dan diikuti oleh 8 pemuda lainnya yang seumuran dengan Jungkook dan Bambam.
“Eoh! Jangan malas latihan, ne!?”
“Ne hyung!” jawab mereka serempak kecuali Jungkook.
“Ah mereka selalu memuja-mujamu.. heh aku iri padamu..” ucap Jungkook kesal. Yoongi menghela nafasnya kasar.
“Tak waktu untuk iri-irian. Cepat kemasi barangmu, atau aku tinggal..” balas Yoongi lalu berjalan meninggalkan adiknya itu. Ia tersenyum mengingat perkataan Jungkook bahwa adiknya itu iri padanya. Dan Yoongi juga tersenyum setiap kali mengingat kenapa ia bisa dekat dengan adiknya itu.
“Ya! Hyung! Tunggu aku! Bahkan setelah operasi kakimu sangat cepat dalam berjalan! Aku kira akan sangat lambat!” Jungkook keceplosan dengan kalimatnya tadi. Ia dapat merasakan Yoongi sebentar lagi akan berbalik dan mengejarnya.
‘Satu.. dua.. ti..’ hitungnya dalam hati.
“YA! NEO JINJJA!” kesal Yoongi lalu mengejar adiknya yang usil itu.
Yoongi memilih untuk mengoperasi cederanya. Ini ia lakukan karena tidak ingin sakit terlalu lama. Yoongi tahu resiko yang akan ia dapat adalah tulangnya akan menjadi sensitif. Namun keajaiban itu muncul dari Tuhan, tulangnya dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi Yoongi harus menjaganya agar tetap sehat dan tidak cedera lagi.
Soal ayahnya? Yoongi tidak melawannya lagi sekarang. Ia lebih memberi pengertian pada ayahnya itu, seperti yang Seokjin ajarkan. Yoongi harus menghilangkan dulu sifat egoisnya untuk meluluhkan hati ayahnya. Meskipun sulit melepaskan sifat itu, Yoongi tetap melakukannya. Kuncinya adalah sabar, ketika kita sabar semua akan berjalan dengan baik. Yang pasti dengan usaha dan berdoa pula.
Setelah menghabiskan tenaga untuk kejar-kejaran, mereka melanjutkan langkah kaki mereka ke sebuah restauran karena Seokjin telah menunggu mereka disana. Setibanya disana, Yoongi kaget sekaligus terharu melihat para pemain Gangnam Lakers berkumpul menyambutnya.
“Welcomeback The God Of Basket..” sambut Jinwoon selaku pelatih timnya.
“Ya! Hyung! Bagaimana bisa kau telah kembali dari Amerika begitu lama tapi tidak pernah menyapa kami, eoh?” kesal Jackson yang merupakan teman setimnya.
“Ah ige.. ah..” Yoongi tidak dapat berkata-kata. Ia meneteskan air matanya, air mata bahagia untuk kejutan seindah ini.
“Ya mwoya? Mengapa kau jadi cengeng begini, eoh?” tanya Jinwoon sambil merangkulnya.
“Ani, aku hanya.. aku hanya terlalu bahagia dengan semua ini..” jawab Yoongi.
“Yoongi-ya..” panggil Seokjin.
“Lihatkan? Tak ada yang melupakanmu disini..” lanjutnya sambil tersenyum. Yoongi membalas senyumannya.
“Bagaimana bisa kami akan melupakanmu begitu saja? Aigoo..” ucap Jackson lagi.
“Gomawo yedeulah, gomawo Coach, gomawo Seokjin hyung..” terima kasih Yoongi pada yang ada disana.
“Ah! Begopah.. apa kita tidak bisa memakan makanan ini dengan segera? Perutku harus diisi, jika tidak aku akan mati..” ucap Jungkook yang menghancurkan suasana haru disana.
PLETAK.

Yoongi memukul kepala adiknya itu.
“Kau mengganggu saja..” kesal Yoongi.
“Ya! Appo!” keluhnya sambil memegangi kepalanya. Semuanya tertawa melihat tingkah kakak-adik itu.
Ini memang akan menjadi kenangan yang tak terluapakan bagi Yoongi. Ini adalah masa remaja yang sulit bagi pemuda 18 tahun itu. Diusianya yang segitu ia harus bisa memutuskan apa yang terbaik untuknya. Ia juga harus sudah bisa bersikap dewasa diusianya.
Satu pelajaran yang dapat diambil, jangan pernah sekalipun memikirkan egomu sendiri. Belajarlah dari Yoongi, yang mempertahankan prinsipnya dan memutuskan yang terbaik baginya. Belajarlah dari Seokjin, yang selalu bersabar dan berusaha untuk mengubah nasib buruknya. Dan belajarlah dari Jungkook, yang selalu ikhlas dalam menyayangi dan tidak meminta balasan.

 

***END***
*
*
*
Maaf untuk ff yang tidak jelas ini, semoga ada pelajaran yang dapat kita ambil hehe ^^
Saran dan kritikan yang bersifat membangun sangat saya butuhkan. Terima kasih ^^

Advertisements

4 thoughts on “[Monochromic Youth] – Late (oneshot)

  1. Aihara

    Nice~
    Pelajarannya udah aku ambil 😉
    Jangan kaya Yoongi–pas awal–, pokoknya jangan sampai nyesel ya nantinya… tapi untung dia merubah pikirannya jadi ke arah yang baik 😀

    Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s