[Monochromic Youth] We Are Together – Oneshoot

FINISH

[Monochromic Youth] We Are Together – Oneshoot

Title                       : We are Together

Author                  : YoungMaster

Length                  : Oneshoot

Rating                   : PG-15

Cast                       : All member BTS & OC

Disclaimer           : This Fanfiction are pure mine! Terinspirasi dari BTS

Summary             : ‘janji memang harus ditepati.’

 

We AreTOGETHER

“Ada maslah?” Tanya Jin sambil berjalan lalu duduk disebelah Jungkook.

Jungkook tetap menatap lurus, tatapannya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu. Jungkook membalas ucapan Jin hanya dengan menggelengkan kepalanya, tubuhnya banyak lebam yang menyelimuti kulitnya yang putih nan mulus itu.

“Benarkah?” Tanya Jin lagi. Jungkook hanya mengangguk, masih dengan tatapan kosongnya itu.

“Kalau ada masalah. Kau bisa katakan dulu padaku. Arasseo?”

Jungkook mengangguk lagi. Jin pun berdiri dan menepuk pundak Jungkooj, lalu berjalan menjauhi jungkook. Menuju ke-5 temannya yang sedang asik bermain

 

“Terlalu banyak.”

.

.

.

Dinginnya malam membuat Jungkook tidak bisa tidur karena memikirkan masalahnya. Jungkook memeluk lututnya.

1 tetes

2 tetes

3 tetes

4 tetes

Air mata pun mengalir deras dari matanya

 

‘mengapa? Mengapa aku membunuhnya…….? Bagaimana bisa……..? apa yang kau pikirkan Jeon Jungkook?! Bodoh! Kau tidak pantas hidup!’

Jungkook menjambak rambutnya frustasi, memukul-mukuli kepalanya dengan keras. Menyesali apa yang telah dia perbuat pada kekasihnya.

Jungkook pun beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi. Mencoba menenangkan diri dengan membasuh wajahnya. Jungkook menatap cermin dihadapannya. Beberapa detik setelahnyaJungkook pun membuka pintu kamar mandi dan berjalan menuju sofa, Jungkook duduk di sofa, tepatnya disebelah Yoongi yang sudah tertidur pulas.

Jungkook menatap ke-6 hyung-nya yang telah tertidur pulas.

“Hyung, aku tahu aku telah berjanji. Tapi tolong maafkan aku, aku ingin merahasiakan semua masalahku ini. Aku tidak ingin kalian terlibat lagi. Aku tidak ingin kalian celaka karena aku. Bodohnya aku membunuh kekasih ku. Bodoh sekali. Biarkan aku selesaikan masalahku. Aku ingin selalu melihat kalian tersenyum.” Setetes bulir air mata pun membasahi pipinya. Jungkook segera menghapus air matanya itu. Lalu mencoba untuk tertidur disebelah Yoongi.

Di sisi lain, seorang namja menjatuhkan air matanya juga. Mendengar semua omongan Jungkook.

‘mengapa hidupmu serumit itu’ gumam namja itu.

_-//oOo\\-_

KRIIIING

KRIIIING

 

Bel sekolah berbunyi, menandakan semua murid harus masuk kedalam kelasnya masing-masing. Jungkook tengah terduduk dibangkunya, tepat dibarisan paling depan, menunggu gurunya. Kursi kursi terisi penuh oleh para siswa.kecuali satu kursi dibelakangnya. Jungkook merasa bersalah, telah mebunuh kekasihnya sendiri. Lagi-lagi dia mengingatnya.

‘Hyeonhwa….’ Gumam Jungkook.

Aerin menepuk pundak jungkook dari belakang, Jungkook menoleh kearah Aerin yang berada di sebelah kiri belakang-nya.

“Jungkook, kau tau dimana Hyeonhwa? Apa dia sakit? Atau dia izin?’ tanya Aerin.

Jungkook menggelengkan kepalanya lesu. Lalu kembali melihat kedepan, menanti kehadiranb gurunya.

“kenapa kau tidak tahu? Bukannya kemarin dia pulang bersama-mu?” Tanya Aerin lagi.

Jungkook tidak menoleh, ia hanya menggelengkan kepalanya lagi. Aerin sedikit kesal, karena Jungkook tidak memberikan jawaban yang jelas. Yang dia lakukan hanya menggelengkan kepalanya, tentu saja Aerin kesal.

“Cih, terus saja gelengkan kepalamu! Kau ini tidak benar. Seharusnya Hyeonhwa mendengarkan aku, kalau kau ini tidak baik untuknya!” Ujar Aerin kesal pada Jungkook.

‘Aku membunuhnya Aerin. Maafkan aku. Aku juga tidak ingat kejadiannya.’  Gumam Jungkook.

_-//oOo\\-_

 

Buagh!

Buagh!

Tangan Jungkook mengepal menahan sakit, dia tak tahan jika terus dicaci maki oleh teman-temannya disekolah. Apa teman mereka menganggapnya lemah? Jungkook menendang perut Jihwan dengan keras, lalu menatap Jihwan dengan tatapan marah-nya. Jungkook pun tak hanya diam, lalu dia melayangkan tinjuan tepat di pipi kanan Jihwan. Kedua teman Jihwan  tidak hanya diam mereka maju, lalu kembali memukul dan memukul Jungkook lagi.

Jungkook tidak ingin terus terluka diapun melawan kedua namja itu.

Buagh!

Tinjuan keras mengenai hidung Jungkook.

1 detik

2 detik

Sebuah darah mengalir deras dari lubang hidung Jungkook. Jungkook semakin kesal, dia melihat sebuah kayu yang tergeletak tidak jauh darinya.

“Mana hyung-mu itu? Pengecut! Kau kira bisa menandingi kami?!” Ucap Jihwan kesal.

Jungkook segera berlari mengambil kayu itu lalu melayangkan pukulan dengan kayu itu tepat dikepala Jihwan. Jihwan terjatuh kepalanya bercucuran darah. Jihwan memegangi kepalanya yang berlumuran darah itu. Rasa sakit membuatnya menjadi pusing. Ke-dua teman Jihwan tetap melawan Jungkook dengan sangat kesal. Jungkook tetap tidak ingin kalah dan juga tidak ingin dianggap seperti pengecut.

Jungkook pun menendang perut Minhyuk hingga Minhyuk terjatuh. Lalu Jungkook mencekik Seungwoo dengan tangan kanannya. Jihwan ingin menolong tapi dia tidak bisa berdiri, kepalanya semakin banyak mengeluarkan darah hingga Jihwan tak sadarkan diri.

.

.

.

“Jungkook, ada apa dengan wajahmu?! Kurasa hiungmu itu patah!” Ujar Jimin kaget melihat jungkook yang baru pulang, dengan wajah penuh lebam.

Jungkook berjalan menuju kamar, menghiraukan namja yang mengkhawatirkannya itu. Lalu membuka pintu kamar, berjalan menuju tempat tidurnya, lalu duduk diatas tempat tidurnya itu.

Jinyang merasa khawatir dengan keadaan Jungkook ingin mencoba berbicara dengannya. Jin pun masuk kedalam kamar Jungkook tanpa mengetuk terlebih dahulu. Diapun duduk disebelah jungkook lalu mengusap kepalanya.

“H-hyung…. Aku….”

“Mengapa kau membunuhnya? Apa dia membuatmu kesal?”

Jungkook kaget mendengar ucapan Jin. Jungkook langsung melotot dan melihat kearah Jin. Jin tersenyum lalu mentap Jungkook.

“hyu…hyung..”

“Ceritakan padaku.”

Belum sempat Jungkook berbicara, Jin langsung menyela. Jungkook menundukkan kepalanya. Mencoba mengingat kembali kejadian waktu itu.

“Tapi hyung.. aku tidak ingat.”

“Baiklah tak apa. Lalu kenapa muka-mu lebam seperti itu?”

“Jihwan, dia kembali membully-ku.”

Jin merasa kasihan kepada Jungkook. Hidungnya patah, ada goresan pisau di pipi kirinya, dan tangan, kaki, bahkan punggung dan perutnya pun banyak luka. Entah mengapa anak malang ini selalu dilanda masalah.

“tenang saja. Aku akan selalu melindungimu. Jeon Jungkook. Sudah kukatakan, anggap saja aku sebagai kaka-mu. Arasseo?”

Jin lalu berdiri, tersenyum pada Jungkook, jungkook membalas senyuman hangat dari Jin. Jin pun berjalan menuju pintu. Keluar dari kamar jungkook. Jungkook masih tetap tersenyum, dia pun menidurkan dirinya diatas kasur yang empuk.

_-//oOo\\-_

Jungkook terbangun dari tidurnya, matanya masih berat untuk dibuka. Jungkook melirik kiri kanan, lalu beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan menuju pintu, lalu pergi kebawah. Berjalan menuju dapur, mengambil gelas dilemari, lalu mengambil susu didalam kulkas, menuangkannya kedalam gelas. Jalan menuju sofa, menempatkan bokongnya diatas sofa. Meneguk susu ditangannya.

“Aku akan pergi kerumah-mu.”

.

.

Jungkook menghentikan motor tepat didepan rumah hyeonhwa. Daerah rumahnya bisa dibilang sangat sepi, jarang sekali ada kendaraan yang lewat. Jungkook sangat gugup untuk melangkah kedepan pintu rumah Hyeonhwa. Tapi dia memberanikan diri untuk mendekati pintu itu. Untungnya dia tahu password rumah Hyeonhwa.

Jungkook melangkah maju sampai dia berada didepan pintu rumah Hyeonhwaa. Tangannya sangat gemetar, saat jari telunjuknya sudah menempel di salah satu angka, Jungkook menekan 4 digit angka untuk membuka pintu rumah itu.

Dengan sangat gugup dia memegang knop pintu itu, tak lama, pintu itu pun terbuka, Jungkook kaget menemukan tubuh Hyeonhwa sudah menjadi biru, pucat. Pucat sekali, banyak darah di perutnya. Ada pecahan gelas didekat tangan Hyeonhwa. Jungkook menangis melihat keadaan hyeonhwa.

“Apa yang aku lakukan? Aku harus mengingatnya kembali!.”

Jungkook menempatkan kepala Hyeonhwa tepat di kakinya. Mengusap-usap pipinya yang sudah sangat dingin. Dress yang dipakai hyeonhwa sudah terlumuri oleh darah dari perutnya. Jungkook menangis deras tidak terima kepergian Hyeonhwa yang disebabkan oleh dirinya sendiri.

“aku akan menguburmu. Agar kau bisa beristirahat dengan tenang. Aku juga berjanji, akan menyusulmu.”

 

.

.

 

“Mengapa tubuhmu penuh dengan tanah eoh?” Tanya Namjoon kepada Jungkook yang baru saja pulang dengan baju yang sangat kotor.

“Tak apa. Tadi aku hanya jatuh dari motor.” Balasnya. Ke-5 hyungnya percaya dengan kebohongan Jungkook itu.

“O ya. Dimana Jin hyung? Aku ingin bicara.” Tanya Jungkook

Yoongi tertawa mendengar pertanyaan Jungkook itu. Jungkook heran mengapa Yoongi tertawa. Yoongi pun berjalan mendekati Jungkook lalu merangkul-nya.

“Kau ini sih, pergi dengan Hyeonhwa terus, jadi kau tidak tahu. Jin hyung pergi ke Busan untuk mencari pekerjaan. Katanya tidak usah hubungi dia, jika dia sudah dapat pekerjaan, dia akan menelfon kita.” Jelas Yoongi pada Jungkook. Jungkook mengangguk mengerti denga perkataan Yoongi.

Yoongi pun melepas rangkulannya lalu menepuk pundak Jungkook, mengajaknya bermain dengan yang lain.

_-//oOo\\-_

Jungkook menghentikan motornya tepat disebuah apartemen yang sangat besar. Jungkook pun masuk kedalam apartemen itu, lalu dia berjalan menuju lift. Jungkook menunguu lift itu turun, beberapa menit kemudian lift itu terbuka dan menampakan beberapa orang yang ada didalam lift, lalu merekakeluar. Jungkook pun masuk kedalam lift itu, menekan nomor tombol 14, lalu pintu lift pun tertutup secara perlahan. Jungkook menunggu lift itu sampai di lantai yang ia tuju. Tak berapa lama, lift pun terbuka dilantai 14, Jungkook keluar lalu berjalan dilorong, mencari kamar nomor 401.

Jungkook mengetuk pintu kamar tersebut tetapi tidak ada yang merespon. Jungkook pun menggapai knop pintu lalu mencoba membuka pintu itu.

CLEK

Tidak dikunci. Jungkook lalu masuk dan melihat seorang namja tengah tertidur dikasurnya.

“Sudah kuduga kau tidak pergi.”

Jungkook mendekati namja itu, ingin membangunkannya. Saat Jungkook memegang pundak namja itu. Jungkook kaget. Dingin, tubuhnya dingin. Jungkook membalikkan tubuh namja itu. Dan benar. Apa yang diduga Jungkook, namja itu mati. Jungkook terbelalak kaget dia pun dudk disamping namja itu sambil meneteskan air mata.

“Andwae! HYUNG ANDWAE! Kau tidak boleh mati Hyung! Apa yang terjadi?!” Jungkook berteriak tidak merelakan kepergian namja itu. Sungguh, Jungkook tidak ingin namja itu pergi.

Jungkook melihat namja itu memegang sebuah kertas ditangan kirinya. Jungkook pun mengambil kertas itu lalu membacanya.

Siapapun yang membaca ini, tolong beritahu bahwa aku mati.

Aku mempunyai penyakit jantung. Aku tidak ingin ke-6 dongsaeng-ku mengetahuinya. Itu sebabnya aku meninggalkan mereka. Agar mereka tidak melihat-ku mati seperti ini.

-Jin-

Jungkook menangis lagi. Tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

“Aku harus bagaimana hyung. Aku tidak ingin mengubur orang lagi. Sudah cukup. Aku akan menyusul kalian.”

_-//oOo\\-_

BUAGH!

BUAGH!

“Arrgghh.. h-hyung. To tolong hentikan.”

“Aku tidak akan berhenti. Asalkan kau bilang, kau ini hanya bercanda! Aku tidak percaya dengan-mu!” Teriak Yoongi. Sedari tadi Yoongi memukuli Jungkook. Karena Jungkook memberikan surat yang ditulis oleh Jin.

Yoongi sangat marah tidak terima apa yang terjadi pada Jin, sahabatnya. Yoongi pun kembali melayangkan tinjuan pada Jungkook yang telah terduduk lemas karena dipukuli oleh dirinya sendiri.

 

_-//oOo\\-_

 

Sudah 1 minggu Jungkook diasingkan oleh ke-5 hyung-nya itu karena memberikan surat yang ditulis oleh Jin. Reaksi mereka sama seperti Yoongi. Marah kepada Jungkook, menganggapnya hanya bergurau. Tapi Jungkook tetap menghiraukan merekan. Jungkook akan menepati janjinnya pada Jin dan Hyeonhwa. Jungkook mengambil cutter yang ada di laci meja. Jungkook menatap garis biru yang nampak dipergelangan tangannya itu. Saat Jungkook akan membuat sebuah goresan, seorang namja menghentikan aksi itu.

Taehyung mengambil cutter yang dipegang oleh Jungkook. Melemparnya jauh-jauh.

“Apa kau gila?! Jeon Jungkook!” Taehyung kesal terhadap Jungkook. Hoseok yang mendengar keributan itu langsung berlari mendekati Taehyung dan Jungkook.
“Ada apa ini?!” Tanya Hoseok bingun sekaligus kaget karena Taehyung terlihat marah kepada Jungkook.

“H-hyung. Aku telah berjanji, aku harus menepatinya.”

“Janji apa?!” Tanya Taehyung sekali lagi dengan sangat kesal.

“Aku telah berjanji akan menyusul mereka.”

Taehyung memeluk Jungkook mengusap punggungnya. Menangis.

“Mereka? Mereka siapa? Bukankah hanya Jin hyung?” Tanya Hoseok yang sedari tadi terdiam.

Taehyung pun melepaskan poelukannya lalu menanyakan pertanyaan yang sama pada Jungkook.

“H-Hyeonhwa ju.. ga.”

Taehyung dan Hoseok kaget mendengar perkataan Jungkook.

“Tetapi kau tidak bisa pergi begitu saja! Ini bukan waktumu Jungkook-ah!” Balas Taehyung.

Jungkook menangis, menyadari bahwa dirinya salah.

“Kau benar Hyung. Aku janji, tidak akan mencoba untuk bunuh diri lagi.”

 

_-//oOo\\-_

Hidup Jungkook kini sudah tenang, tidak ada masalah. Toh, bahkan dia tidak pernah di-bully lagi. Jungkook sangat senang dapat merasakan hidup yangn damai tanpa masalah. Walaupun dia sedikit sedih akan kematian Jin. Yang lain pun begitu. Jungkook menyayangi ke-5 sahabatnya itu, atau yang selalu Jungkook anggap sebagai Hyungnya sendiri.

Tidak ada lagi kesakitan, ataupun kesedihan dalam hidupnya. Kini Jungkook bebas.

 

“Nde… hyung, aku akan segera pulang.” Jungkook menutp teleponnya lalu memasukkan handphone-nya kedalam saku celananya.

Jungkook menengok kekanan memastikan tidak ada mobil yang melewat. Jungkook pun menginjak zebra cross itu lalu menyebrang.

CKIIIT!

BUAGH!

Jungkook terjatuh, kepalanya terlumuri oleh darah. Daarah terus mengalir, sangat banyak darah. Jungkook tidak bisa melihat ke sekitar, kini penglihatannya buram.

‘janji memang harus ditepati.’

1 bulir air mata pun jatuh membasahi pipi Jungkook, yang kini sudah tidak sadarkan diri.

.

.

-fin-

 

 

Advertisements

One thought on “[Monochromic Youth] We Are Together – Oneshoot

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s