[Monochromic Youth] Crazy – Vignette

crazy

Crazy

by Salmanurfr

Kim Seokjin, Kim Taehyung | Psychology, Supranatural, Thriller, and also brothership | PG | Vignette

“Hyung, kau percaya tidak jika aku memang memiliki kemampuan seperti itu?”

i just own the plot, but dont copy without my permission~

Hujan turun membasahi bumi seketika pada hari itu, setiap tetesnya terasa seperti jarum yang menusuk—begitu terasa. Angin berhembus begitu kuat membuat pohon-pohon menari-nari tak beraturan. Guntur saling bersahutan membuat suara, dilanjutkan dengan suara petir yang sukses membuat jantung berdebar-debar. Akibat derasnya hujan dan kencangnya angin kali ini, banyak pohon-pohon yang tumbang. Tak heran banyak orang-orang yang menghindari keluar rumah hari ini.

Termasuk bocah berumur 12 tahun yang sudah hampir memasuki masa pubertasnya. Mungkin orang lain akan menghabiskan waktunya dengan tidur saat hujan berlangsung, namun tidak dengan bocah ini. Waktu liburan yang berhaga ia habiskan—berkutat dengan tumpukan buku tebal demi mencari info jawaban. Peralatan tulis-pun tersebar sampai ke sudut meja belajar tak beraturan.

Merasakan pusing yang teramat karena tak kunjung menemukan jawaban dari soal tersebut, spontan ia membanting kacamatanya. Mengacak-acak rambutnya dan akhirnya menelungkupkan kepalanya pada pangkuan sepasang tangan. Kali ini malah ia justru malah membiarkan kepalanya menindih tumpukan buku di meja. Jika bukan karena tugas demi melengkapi nilai kelulusannya, bocah ini akan langsung menolak mentah-mentah pada tugas yang diberikan.

Merasa terlalu hening dan kesepian, bocah berlabel nama Kim Seokjin itu beralih meraih pemutar kaset meja selanjutnya, terlihat seperti radio yang dilengkapi pemutar kaset. Memilah-milah sembari berpikir lagu apa yang harus didengarkannya kali ini. Jemarinya berhenti bergerak—membuka lembaran tempat kaset ketika sebuah senyuman terunggah di wajah, merasa lagu yang berada di dalam kaset sempurna untuk diputar sekarang.

Sedikit bersenandung sembari ingin menyambut mulainya dentuman musik, dilanjutkan dengan ketukan jari pada meja belajar. Berhasil menghilangkan rasa sunyi di kamarnya, Seokjin sedikit ikut bernyanyi ketika vocal sang penyanyi mulai berbaur dalam lagu.

Mengingat tugas yang sedari tadi ia kerjakan belum kunjung selesai, bocah itu langsung melesat menggenggam pensil hitam. Sekon berikutnya, suara goresan pensil mulai terdengar di kala ramainya musik saat itu. Setidaknya sedikit mengunggah rasa semangat kembali.

Ketika lagu berikutnya terputar, tiba-tiba bocah itu mengernyitkan dahinya bingung—merasa ada yang aneh. Merasa tak ada backsound ataupun vocal si penyanyi yang tertawa di dalam lagu, namun mengapa gendang telinganya menangkap suara tawa? Sekon berikutnya akhirnya ia mengerti, ini pasti tawa sang adik!

Lupakan soal pernyataan Seokjin yang sebatang kara di rumah, karena sesungguhnya bocah itu bersama sang adik. Seokjin sedikit melupakan keberadaan adik yang lebih muda 2 tahun itu. Kedua orang tua dan neneknya sengaja meninggalkan ia bersama sang adik di rumah. Sedikit horror rasanya karena sang adik dinilai ‘sedikit’ tak waras oleh orang-orang sekitar.

Sedikit tak waras? Oh lebih tepatnya mungkin memang tak waras. Bagaimana bisa ia tertawa terbahak-bahak, kemudian ia mengangis tanpa alasan, dan marah dengan emosi tinggi tiba-tiba. Terkadang juga ia terlihat seperti berbicara dengan seseorang namun nyatanya hanya ada ia seorang disana. Apalagi jika bukan tak waras namanya?

Seokjin juga tak mau Taehyung, adik kandungnya dikatai tak waras dan aneh. Seokjin menyayangi Taehyung, tapi tingkah laku bocah itu sering diluar batas membuat Seokjin enggan mendekati Taehyung. Sebenarnya lebih mendekati kata takut daripada enggan. Tapi kali ini, suara Taehyung benar-benar mengganggunya! Seokjin berusaha fokus untuk kembali mengerjakan namun masih tetap terganggu oleh tawa gila sang adik.

Beranjak berdiri dari duduknya, tungkai Seokjin mulai bergerak maju—keluar dari kamar. Irisnya sibuk mengamati pintu berwarna cokelat tua tepat di ujung lorong. Segaris senyuman miring diunggah dengan paksa sebelum melanjutkan melangkah. Semoga saja Taehyung tak melepar barang-barang ketika Seokjin masuk ke area pribadinya. Sedikit trauma ketika mengingat Seokjin datang ke kamar Taehyung, hendak mengingatkan adiknya untuk makan. Namun yang Seokjin dapatkan malah lemparan bantal beserta peralatan tulis; pensil, pulpen, bahkan cutter. Beruntung mata pisau cutter itu sedang dilepas, kalau tidak, habis nyawa Seokijn.

Seokjin mengepalkan tangannya kemudian mengetuk pintu berwarna cokelat itu. Hendak memanggil nama sang adik, pintu terdorong—terbuka memberikan celah sedikit.

‘Oh rupanya kamar ini tak ia kunci’ Batin Seokjin bernafas lega. Itu pertanda bahwa ia tak perlu mengetuk pintu kamar di depannya ini ratusan kali demi mendapat suasana hening dan tenang.

Telapak tangan kanan mendorong pelan menimbulkan sedikit bunyi derit menggesek permukaan ubin. Mengambil 2 langkah kedepan sembari berdehem pelan berusaha menarik perhatian si adik yang masih sibuk tertawa. Oh astaga, berapa menit bocah itu habiskan hanya untuk tertawa seperti setan.

“T.. Tae?” Satu kata lolos dari bibir tebal yang ingin memasuki masa pubertasnya. Si organ berotot pemompa darah itu berdetak—berirama tak beraturan, takut kejadian kala itu terulang lagi. Apalagi jika bocah yang sibuk tertawa itu malah melempar pisau dapur nantinya. Hiih..!

“Tae.. Taehyung, bisakah kau berhenti tertawa atau mengecilkan volume suaramu? Maaf, aku terganggu dengan suaramu, aku harus mengerjakan berpuluh-puluh soal untuk lulus nanti.” Ucap Seokjin kemudian menunduk, menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Memberanikan diri menatap sekilas sosok Taehyung yang masih sibuk tertawa.

‘Astaga ya tuhan, Taehyung benar-benar tak waras? Ini hal gila, sangat gila. Aku satu-satunya yang tak percaya bahwa dirinya tak waras meski enggan berdekatan dengannya, tapi ternyata prediksiku salah. Taehyung benar-benar tak waras’ Ucapnya dalam hati, berusaha mengutarakan pendapat dengan hati kecilnya. Sampai akhirnya ia berani mengangkat kepalanya dan menatap sosok Taehyung. Hendak pergi dari posisi, namun seketika suara tawa gila Taehyung hilang diterpa angin. Suasana tiba-tiba menjadi sunyi dan hening.

Hyung, aku tau kau pasti menganggapku sudah tidak waras. “

Deg..

Otak Seokjin berputar hebat, dengan susah payah ia menelan salivanya. Bagaimana bocah itu tau apa yang Seokjin baru saja pikirkan? Seokjin tak mengatakan sepatah kata apapun tapi bagaimana bisa? Masa iya Taehyung punya kemampuan telekinesis atau semacamnya?

Taehyung menoleh, menatap manik mata Seokjin. “Percayalah hyung, aku masih waras, aku tidak gila. Semua yang dikatakan psikiater, ayah, dan ibu itu bohong.” Tutur Taehyung sembari memutar tubuhnya agar menghadap Seokjin. “Aku punya alasan mengapa aku bisa terlihat seperti orang tidak waras.”

Seokjin mengatupkan mulutnya. Irisnya memandang manik mata Taehyung dengan tatapan tak mengerti, apa maksud bocah itu? Tak mau dianggap tak waras tapi bertingkah layaknya orang tak waras, konyol sekali.

Guntur kembali bersahutan, disambung dengan suara petir yang kembali membuat jantung berdebar-debar. Volume air yang turun bertambah banyak—deras hampir merendam halaman depan rumah. Cahaya yang berkelebat dengan cepat muncul di langit tiba-tiba, menimbulkan bunyi yang cukup memekakan gendang telinga. Sedikit horror ketika cahaya tersebut muncul pada saat kamar Taehyung gelap, menimbulkan bayangan aneh di sebelah bayangan Taehyung.

Sukses membuat gendang telinga kedua bocah itu bergetar, lampu lorong tiba-tiba berkedap-kedip sebelum akhirnya mati. Menyusul si lampu rumah, kipas angin di kamar Taehyung juga mati bersamaan dengan suara lagu di kamar Seokjin yang sudah tak terdengar lagi. Sudah jelas ini perbuatan si petir tadi yang membuat listrik mati.

‘Ayah, ibu, cepatlah pulang. Aku takut..’ Batin Seokjin bergetar. Ia sama sekali tak takut pada gelap, tapi entah mengapa sekarang rasanya menegangkan dan horror sekali. Kini Seokjin malah berfantasi dengan hal-hal mistis.

“Tak perlu takut hyung, ada aku dan lainnya.”

Jadi kemampuan telekinesis itu benar adanya? Seokjin jadi merasa bodoh sekarang. Dan apa maksudnya Taehyung mengatakan ‘lainnya’, di rumah ini hanya ada dirinya dan Taehyung. Hantu? Jangan bercanda, yang itu Seokjin tak percaya. Taehyung membuat Seokjin bertanya-tanya.

“Oh iya hyung, apakah kau percaya dengan kemampuan telekinesis?” Tanya Taehyung tanpa menoleh sedikitpun kearah Seokjin.

Seokjin menggeleng. “Jangan bercanda, kemampuan seperti itu hanya ada di film saja.” Balas Seokjin pelan, agak takut. “Dan, T.. Tae.., bagaimana kau bisa tau apa yang ada dipikiranku? Ba.. bahkan aku tak mengucapkan sepatah kata.” Taehyung tersenyum miring.

“Sepertinya aku malah membongkar rahasiaku sendiri ya, hahaha…” Ujarnya tertawa garing, dipaksakan. ”Hyung, kau percaya tidak jika aku memang memiliki kemampuan seperti itu?” Tanya Taehyung lagi. Seokjin mengernyitkan dahinya bingung, sekon berikutnya ia mengerti apa yang Taehyung maksud ‘itu’.

“Jangan bercanda Kim Taehyung, jangan konyol.” Balas Seokjin sedikit meremehkan.

Taehyung kembali tersenyum miring.“Lantas apakah kau percaya jika aku melakukan ini?”

Seokjin mengernyitkan dahinya bingung, apa maksud adiknya itu? Hendak berbicara lagi, namun tiba-tiba ia merasakan tubuhnya mati rasa, khususnya perut. Hidungnya merangsang bau anyir seketika, tidak begitu menusuk. Cairan merah pekat itu mulai merembes—menembus pakaian yang dikenakannya saat itu. Seketika mata sipitnya melebar.

Sebuah cutter merah dengan mata pisau mengkilap—tajam menusuk tepat diperut Seokjin. Hanya dengan hitungan detik, bau anyir beserta cairan merah itu memenuhi pakaian. Tentu saja ini perbuatan si adik yang katanya ingin membuktikan. Dan cutter itu itu tertancap diperut Seokjin bukan hasil karya tangan Taehyung. Memang benar itu perbuatan Taehyung, tapi otaknya serta kemampuan telekinesis lah yang melakukan itu semua.

“T.. Tae.. hyu.. ng” Ucap Seokjin lemah. Terlihat jelas Taehyung tersenyum kemenangan, sepertinya kakak satu-satunya itu percaya. Meskipun sedikit menyakiti kakaknya atau mungkin memang benar-benar menyakitinya. Ah, Taehyung tak perduli, yang penting ada yang mempercayainya.

Entahlah, sejak seseorang berwujud tembus pandang datang ke kehidupan Taehyung dan mengaku bahwa ia adalah teman baik Taehyung, Taehyung seperti dihipnotis oleh si tak tampak itu. Menjauh dari keluarga kemudian bertingkah layaknya orang tak waras, ia benar-benar sendirian. Menurutnya tak masalah karena ia memiliki temannya yang tembus pandang itu. Hal gila, namun nyata. Kemudian si tak tampak itu membuat Taehyung memiliki obsesi untuk selalu ingin dipercaya—mempercayai segala apa yang ia katakan. Dan tentu saja, memancing ketidaksukaan, melakukan apa saja agar dipercaya.

Dan soal kemampuan telekinesis Taehyung itu memang benar. Bocah ini seperti bocah super bisa memiliki kemampuan yang manusia lain tak memilikinya. Ditambah dengan ia dihipnotis oleh si tak tampak, semua menjadi mudah baginya. Bahkan si kakak pun menjadi korban.

“Sekarang kau percaya padaku kan Seokjin hyung?” Tanya Taehyung tersenyum miring kembali sembari menatap tubuh Seokjin yang sudah ambruk. Dipastikan Seokjin tidak mati, hanya pingsan—tak sadarkan diri, ya meski jika tak segera diselamatkan akan berujung merengut nyawa Seokjin. Tak lama dari itu, suara tawa berhasil memenuhi kamar Taehyung.

—fin

Advertisements

One thought on “[Monochromic Youth] Crazy – Vignette

  1. Vii jahat >.< /emot apa ini
    Untung aku jadi saksi matanya :3 /hah apaan coba
    hehe, abaikan segala komeng yang amburadul thor 😀 keep writing eak 🙂

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s