[Monochromic Youth] 360 DEGREES – Oneshot

360 degrees copy

360 DEGREES

PRESENT BY RSCM

Genre : HURT/Comfort, Friendship, Angst, Drama.

Length : OneShoot [3000 WORDS]

Rating : PG-13

Cast : All member BTS

Disclaimer :

All member BTS adalah milik Tuhan YME, orang tua mereka, serta milik seluruh A.R.M.Y. Begitu pula dengan kesempurnaan yang hanya dimiliki oleh Tuhan semata. Fanfic ini merupakan sebuah cerita murni hasil karya saya, dan murni hanya sebuah karangan semata. Apabila ada kesamaan nama atau jalan cerita mohon dimaafkan.

 

Kami bukanlah sebuah gangster yang selalu membuat onar, bukanlah sebuah kelompok yang hanya mencari nama. Tapi ini kami, sebuah lingkaran dengan sudut 360 derajat tanpa celah. Sebuah lingkaran yang tak memiliki awal begitu pula akhir. Hanya sebuah lingkaran yang memiliki nama, Persaudaraan”.

Jin 360 degrees.

 

 

***

Angin sejuk berhembus bersama helaian dedaunan kamboja, tetesan gerimis yang membasahi helaian daun cukup menggambarkannya. Hening dan hikmat. Itulah gambaran suasana saat ini.

Seiring dengan turunnya gerimis yang begitu memilukan, sekiranya beberapa orang berbaju hitam tengah diam membisu. Terdiam layaknya pohon pada musim gugur, diam membiarkan helaian daun emasnya terjatuh ketanah dimana itulah akhir darinya.

Seorang wanita paruh baya tatkala menahan tangisnya, dengan tenggorokan yang begitu tercekat ia berusaha memanggil sesosok bayangan yang kini telah menjadi kenangan. Ditambah rasa sakit ditinggalkan di dalam denyutan nadi, rasa sakit yang terus mengalir layaknya darah.

Kim Taehyung membawa ibunya yang terus menangis pergi dari tempat itu. Tempat dimana ia harus meninggalkan rasa penyesalannya yang teramat dalam kepada semua teman-temannya.

Ia tak menoleh, bahkan hanya untuk mengucapkan salam. Penyesalan akan semakin menyelimutinya jika ia berbalik dan menyapa mereka lagi.

‘Hyung… mianhae. Aku tak mungkin lagi bisa hidup dengan rasa penyesalan ini. Melihat mereka hanya akan membuatku terus teringat kepadamu, dan itu hanya akan menambah rasa sakitku, hyung.’

***

 

“Apa yang akan kita lakukan sekarang? Bahkan Taehyung telah meninggalkan kita..” tutur Jimin memampangkan wajah sedihnya.

Tak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan Jimin. Semuanya begitu terkejut dan tak tau harus berbuat apa lagi. Sama hal nya dengan Taehyung, semua nya kini tengah merasakan penyesalan yang teramat dalam.

Tiba-tiba seseorang berdiri dari kursinya. Jungkook, dengan wajah sembabnya menarik semua perhatian Hyung-nya.

“Hyung! Jangan seperti ini kumohon. Bukankah Jin-hyung pernah mengatakan kepada kita, bahwa 360 degrees layaknya sebuah lingkaran? 360 degrees tak akan pernah memiliki akhir, apapun yang terjadi. Aku sungguh tak mengerti itu awalnya, tapi jika itu benar seperti yang dikatakan Jin Hyung…” jelasnya dengan perasaan yang begitu dalam.

“…maka aku percaya, kita akan kembali seperti dulu lag—“.

“Apa kau tak menyesal?” tak sempat Jungkook menyelesaikan ucapannya, Namjoon memotong pembicaraannya.

Hal itu sontak membuat Jungkook terdiam. Tak mungkin jika ia tak merasakan hal itu. Sebuah penyesalan? Semua orang kini tengah merasakannya.

“A..aku.. aku juga merasakannya, Hyung. Tapi Jin Hyung, ia pasti akan memaafkan kita. Kurasa ia tak akan senang jika kita terus seperti ini,” ujarnya dengan nada yang begitu ragu.

Setelah mengucapkan sederet kalimat itu dengan cepat sebuah tinju melayang ke wajahnya, hal itu berhasil membuat Jungkook terlempar ke lantai.

“Memaafkan?!” teriak Hoseok spontan dengan wajah kesalnya, kini ia tak kuat lagi menahan emosinya kepada Jungkook. Ia kemudian menarik kerah baju Jungkook dan membuat Jungkook berdiri dari lantai.

“Kau… bocah sialan! Kau bahkan tak benar-benar menyesalinya! Tidak! Kau bahkan tak berhak untuk menyesal!!”.

Lagi-lagi Hoseok meninju wajah Jungkook, ia bahkan berusaha duduk diatas tubuh Jungkook dan terus memukulinya dengan buas. Beruntung Namjoon dan Jimin berhasil menahan tubuhnya.

“Kalau saja…” tuturnya menundukkan kepala masih dengan tangan yang ditahan, kini Hoseok menangis.

“Kalau saja bukan karena kebodohanmu, maka perkelahian itu tak akan pernah terjadi…” tutur Hoseok dengan nada yang semakin parau menahan tangisnya.

Jungkook terdiam, setetes air mata terjatuh dari kelopak matanya. Ia akhirnya paham, mengapa Hoseok terus memukul dirinya. Semua ini terjadi karena perbuatan bodohnya dulu.

Tak hanya Jungkook, semuanya juga terdiam. Berfikir lagi dan lagi. Berfikir bahwa yang dikatakan oleh Hoseok mungkin ada benarnya. Tetapi tak mungkin jika semua kesalahan dilimpahkan kepada Jungkook. Jimin tanpa sadar mengangkat suaranya,

“Harusnya..” tuturnya pelan, merenggangkan pegangan eratnya dari tangan Hoseok.

“…harusnya 360 degrees tak pernah ad—“

PRANGG!!

Ucapannya berhasil membuat Yonggi yang sedari tadi diam, menjatuhkan cangkir gelasnya dengan sengaja kelantai.

“Kita hentikan saja…” ucapnya kemudian bangkit dari kursi dan beranjak untuk pergi.

“Apa yang akan kau lakukan, Hyung?” Tanya Namjoon, sontak membuat Yonggi menghentikan langkahnya tepat didepan pintu.

“…Melanjutkan hidup” ujarnya tanpa menoleh, kemudian berlalu begitu saja.

Seketika itu juga Hoseok melepaskan tubuhnya dari pegangan Namjoon, kemudian tanpa melihat kearah Jungkook ia pergi. Melihat itu, Namjoon menatap Jungkook dan meminta maaf kepadanya.

“Hoseok tunggu! Aku ikut denganmu…” teriaknya kemudian pergi mengikuti Hoseok.

Jimin masih terdiam, terpaku karena Yonggi membuatnya begitu terkejut. Melihat Jungkook yang berusaha berdiri ia tersadar dari lamunannya dan langsung membantu Jungkook.

Ia kemudian memapah tubuh Jungkook, membawanya hingga kedepan rumahnya. Suasana menjadi canggung. Akhirnya Jimin hanya memaksakan sebuah senyum kepada Jungkook dan berpamit untuk pulang.

“Jimin-ah,” panggil Jungkook membuat Jimin menoleh kearahnya.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanyanya.

Jimin hanya menatap kosong jalan dihadapannya, terhanyut masuk kedalam fikirannya. Cukup lama ia berfikir, tetapi kemudian ia tersenyum menatap Jungkook.

“Aku tak tau…” tuturnya pelan, “Tapi aku tak ingin kehilangan sahabat terbaikku, Kim Taehyung”.

“…aku tak akan menyerah, Jung. Jadi kuharap kau juga tak menyerah.” Sebuah senyum tulus menghias wajahnya, ia kemudian pergi berlalu.

Jungkook hanya diam terpaku, rasa bersalah menyelimuti hati serta fikirannya. Semua ucapan Hoseok terus terngiang di otaknya, berputar layaknya roller coaster yang terus melaju mengelilingi taman bermain. Lagi dan lagi. Rasa sesak itu muncul lagi, seperti ada sebuah batu besar yang tersangkut dikerongkongannya. Sakit, sesak, hancur. Mungkin hanya itu yang dapat digambarkan untuk dirinya saat itu.

***

 

Dua hari sebelumnya,

 

“Keparat! Enyahlah kau!”

BRUKK!!

Seorang pria berjaket kulit itu jatuh tersungkur dilantai. Ia meringis pelan merasakan sakit tepat diujung bibirnya. Lelaki itu kemudian berusaha berdiri meskipun dengan langkah tertatih ia menatap bengis lawan dihadapannya.

Kim Taehyung, dengan nafas tersenggal-senggal ia berlari dan dengan sekejap mata telah membuat keadaan menjadi berbalik hanya dengan sebuah tendangan. Tendangannya tepat mengenai wajah musuhnya yang kini tengah mencium lantai akibat jatuh tersungkur.

Sebuah senyuman menghiasi wajahnya yang penuh oleh keringat bercampur dengan air hujan. Rasanya seperti memainkan sebuah game perang didalam Video Games. Menyerang, membantu teman, berlindung, serta bertahan. Taehyung tak habis fikir dengan permainan bodoh ini. Oh, ayolah… kita bukan anak kecil lagi. Selesaikan permainan bodoh ini kemudian pulang dan tidur.

Di sisi lain, semua teman Taehyung kini tengah berapi-api melawan musuhnya. Bertarung melawan sekelompok bocah ingusan –yang menyebut dirinya Gengster-– seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka.

Jungkook, si pembuat masalah itu kali ini tengah berjuang melawan salah satu musuhnya. Kalau bukan karenanya, maka para Gengster bodoh itu tak akan menantang mereka seperti ini. Karena sebuah masalah yang pernah ia lakukan di masa lalu membuat dirinya berada didalam masalah yang lebih besar lagi kini.

Jimin, kini tengah berkaloborasi dengan Taehyung melawan seorang musuh dengan tubuh yang begitu kekar dengan kedua lengan bermandikan otot. Takut? Untuk apa? Mereka bahkan menikmatinya, layaknya bermain game Boxing yang biasa mereka mainkan.

Diujung meja tengah bersandar seorang lelaki bertubuh kecil dengan kulit putih pucat. Yonggi, dengan santainya menonton perkelahian yang tersisa. Mengapa? Semua musuh di tangannya telah ia tangani, kini sisanya ia percayakan kepada semua temannya.

Dilain sisi Hoseok dan Namjoon ikut serta melawan musuhnya. Sama halnya dengan Jimin dan Taehyung, terus bermain-main dengan musuhnya. Diam menonton seperti Yonggi hanya membuat mereka bosan.

BRUKK!!

Lagi-lagi seseorang jatuh tersungkur ketanah. Sebuah senyuman terhias diwajah sang penyerang, ia kemudian menarik kerah baju sang lawan hingga membuatnya berdiri. Menatapnya seakan-akan ingin membunuhnya.

“Berhentilah selagi bisa…” ujar sang penyerang pelan.

“Oh…ayolah. Aku bukan anak kecil lagi yang harus terus mengurus bocah ingusan sepertimu.” Nada suara Seokjin kini meninggi.

Musuhnya mendenguskan napas berat dengan senyum picik menghias wajahnya. Meremehkan, itulah yang terlintas di fikiran Jin ketika melihatnya. Hal itu sontak membuat Jin mendorong keras kerah baju yang menyangkut dileher sang musuh, sehingga membuat punggungnya terbanting ke dinding.

“Ku akui, besar juga nyalimu.” Tutur Jin pelan, “TAPI TAK CUKUP BESAR UNTUK MELAWANKU!! Bocah sialan!! Lebih baik kau enyah sekara—“ sebuah tinju kini tengah melayang dan hampir mendarat di wajah musuh itu, akan tetapi sebuah pisau lebih cepat menancap di tubuh bidang milik Jin.

Jin menatap tubuhnya dengan tatapan kosong. Ia kemudian menarik pisau yang tertanam didalam tubuhnya itu dengan cepat, hal itu membuatnya meringis keras. Sakit? Ia mati rasa. Kini ia hanya ingin membunuh bajingan bodoh yang berdiri tepat didepannya itu.

Dengan cepat sebuah tinju melayang tepat mengenai wajah sang musuh, lagi-lagi membuatnya tersungkur kelantai. Dengan lihai Jin menendang tubuh musuhnya itu berulang-ulang kali, hingga membuatnya tak sadarkan diri.

Menutup rapat tubuhnya dengan jaket serta menghias senyum di wajahnya. Kini Seokjin menghampiri para dongsaeng-nya yang tengah berteriak girang karena kemenangan.

“Ayo berpesta!!” teriak Hoseok begitu antusias.

“Kalian berpestalah, aku akan pulang dan tidur.” Ujar Yonggi dengan wajah malasnya.

“Oh… ayolah Hyung!! Kita rayakan kemenangan kita…” ujar Jungkook menahan lengan Yonggi.

“Ini bukan pertama kalinya kita menang, tetapi aku sungguh senang. Ayo kita rayakan!!” tutur Namjoon tampak begitu senang.

“Kau hanya diam Tae?” Jimin menyenggol lengan Taehyung.

“Hmm… kurasa aku setuju dengan Yonggi-hyung, pulang kemudian tidur terdengar lebih menyenangkan.” Ujar Taehyung dengan senyum polosnya.

“Aish… Kau!! Apa sekarang kau memihak Yonggi-hyung? Kau anggap apa pertemanan kita selama ini? aku selalu menungguimu ketika kau sakit, menutupi nilai jelekmu dari Nyonya Kim, bahkan aku meminjamkan boxer-ku di kemah sekola—“ tangan Taehyung dengan cepat membekap mulut cerewetnya Jimin.

“Hya! apa kau akan terus membeberkan semua hal memalukan seperti itu?!” teriak Taehyung kesal, “Aku bukannya tak memihak padamu! Aku hanya ingin tidur! Itu saja.” Lanjutnya sembari melepas dekapan tangannya dimulut Jimin.

“Bbwahh!! Hah..hah…!! Hya! sekarang kau ingin membunuhku?” teriak Jimin kesal, ia kemudian berpura-pura mencekik leher Taehyung begitu pula sebaliknya.

Sedangkan yang lainnya hanya menonton mereka dengan tawa. Sudah hal biasa melihat mereka berkelahi seperti itu.

BRUKK!!

Semua tawa seketika lenyap, seluruh pasang mata kini menatap kearah suara. Jin, terduduk lemas dilantai yang dingin. Dengan wajah menahan sakit ia mencengkeram kuat perutnya, sebuah noda merah merembes keluar dari jaketnya.

“Hyung!!” teriak Taehyung panik melihat wajah Jin, “Neo Gwenchanna?”.

Jin memaksakan sebuah senyuman. Ia menatap narar semua teman-temannya. Ahh… rasa sakit itu kini muncul. Sungguh sakit! Bukan! Bukan rasa sakit karena darah segar diperutnya terus mengalir, tetapi karena rasa takut yang menyiksanya. Rasa takut jika saja ini adalah kali terkahir ia melihat semua dongsaeng-nya, rasa takut akan kehilangan seluruh kebahagiaannya.

“Ahahah…” tiba-tiba saja Jin tertawa,

“Ada apa dengan wajah kalian?” suaranya kini mulai terdengar habis.

Tak ada yang merespon kata-katanya. Sungguh, semuanya kini tengah terkejut melihat keadaan Jin. Bahkan bulir-bulir air mata tanpa disadari mulai berjatuhan.

Jin lagi-lagi tersenyum melihat para dongsaeng-nya. Ia mencoba sekuat tenaga untuk mengeluarkan suaranya.

360 degrees… Gomaptta” ujarnya pelan sebelum pada akhirnya menutup kedua matanya.

“Hyung!! Kumohon bertahanlah!!!” teriak Taehyung tak kuat menahan air mata-nya,

“HYA!!! APA YANG KALIAN LIHAT?! CEPAT BANTU AKU MEMBAWA-NYA KERUMAH SAKIT!!” teriakan Taehyung sontak membuat semua orang bergegas membopong tubuh Jin.

.

.

.

“Hyung!! kumohon sadarlah!!”

 

“Hyung!!”

 

“HYUNG!!!”

Peluh keringat membanjiri seluruh tubuhnya, diselingi deru nafas yang tak kunjung berhenti. Matanya menatap kosong pemandangan didepannya, kini Taehyung menghela napas berat. Rasa sesak mulai menjalar disekujur tubuhnya, rasa sesak yang begitu menyiksanya.

Menaruh lengannya diatas wajah, menghadang sinar matahari yang terus memanggilnya. Kini tubuh Taehyung bergetar hebat, sebuah isakan tanpa suara mengiringinya.

***

 

“Yonggi-ssi, kau pergilah makan. Kita sedang tak banyak pengunjung” ujar seorang lelaki paruh baya kepada Yonggi yang tengah sibuk membersihkan meja.

“Nae ahjussi…” ucapnya sopan kepada pemilik restoran itu.

Yonggi mengambil sebuah Mie Cup dari dalam tasnya, lalu membuka tutupnya. Memasukkan air panas serta bumbunya kedalam cup kemudian menutupnya kembali. Itulah Yonggi, ia selalu memakan mie instan seperti itu. Ia tak ingin membuang waktunya hanya untuk menikmati sebuah makanan. Lebih baik tidur daripada makan, itulah yang ia pikirkan.

Sembari menunggu mie-nya matang ia hanya memainkan ponselnya dengan malas. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya pemilik restoran menghampirinya.

“Aigoo…” ujar wanita paruh baya itu tak habis fikir, “Kau makan Mie Cup lagi?” tanyanya kepada Yonggi.

“Nae ahjuma,” jawab Yonggi singkat.

“Apa kau tak bosan hanya memakan itu setiap hari?” Tanya wanita paruh baya itu lagi.

“Aku… tak ingin menghabiskan waktuku dengan percuma hanya untuk makan.” Jawab Yonggi jujur.

“Aigoo!! Anak muda jaman sekarang memang berbeda! Kalau kau anakku mungkin aku tak akan membiarkanmu seperti ini…” ujar ahjuma itu kepada Yonggi, Yonggi hanya tersenyum mendengarnya.

“Ini, setidaknya kau harus makan ini agar usus buntu-mu tak pecah lagi.” ahjuma itu kemudian menyodorkan semangkuk kecil Kimchi buatan-nya.

“…sesekali cobalah makan nasi dan cicipi juga masakan buatanku, bagaimana bisa kau menjadi karyawanku tanpa pernah mencicipi makanan buatanku… aigoo” ujarnya kemudian pergi meninggalkan Yonggi sendirian.

Yonggi menatap nanar semangkuk Kimchi dihadapannya. Seberkas ingatan melesat dibenaknya. Dulu usus buntu-nya pernah pecah, dan ia harus menjalani sebuah operasi. Semua teman-temannya sedih terutama Jin. Jin bahkan mengetuk pelan kepalanya dan menceramahinya habis-habisan. Yonggi juga teringat ketika dulu ia dipaksa memakan Kimchi oleh Jin, padahal ia tak menyukainya.

“Hya! jika kau makan mie terus, usus buntu-mu bisa pecah lagi. Ini! pakai Kimchi…” ujar Jin mengetuk pelan kepala Yonggi.

“Shirro!” tolak Yonggi singkat.

“Hya! sekarang kau menolakku? Kau tau, mengapa Mie harus dimakan bersama Kimchi? Karena Kimchi mengandung banyak serat untuk pencernaan.”

“…jadi Yonggi-ah, kau harus makan Kimchi ini walaupun kau tak suka, arasseo? Dan dimanapun kau berada kau harus selalu ingat aku setiap kali kau memakan Kimchi ini…” ujar Jin dengan senyum khas miliknya.

Yonggi bergegas memakan makanannya dan menghabiskannya, kemudian dengan cepat ia meminta izin kepada pemilik toko untuk pulang sebentar karena suatu urusan. Berlari kesana! Itulah yang difikirkannya.

***

 

“Saeng-il chukha hamnida! Saeng-il cukha hamnida…” seorang pelanggan saat itu tengah merayakan ulang-tahunnya di Restoran kecil milik keluarga Jung.

Hoseok saat itu ikut melayani pelanggan-nya yang tengah berulang tahun tersebut. Begitu pula dengan Namjoon yang sekarang ikut berkerja membantu usaha kecil keluarga Hoseok.

“Ayo! Sekarang kau harus memakan sup rumput laut ini, agar setahun kedepan kau selalu beruntung…” ujar si pelanggan itu kepada temannya yang ber-ulang tahun.

Hoseok terpaku melihat semangkuk rumput laut yang kini dimakan oleh pelanggannya.

“Enak!” seru pelangganya setelah mencicipi sesendok sup.

Hoseok tersenyum hambar mendengar ucapan pelanggannya. Hanya sup rumput laut buatan Jin-hyung lah yang terenak, batinnya.

Ia teringat ketika Jin membuatkan sup rumput laut untuknya ketika ia berulang tahun dulu. Padahal tak ada yang mengingat ulang tahunnya pada saat itu, begitu pula dengan Jin. Tetapi begitu teringat ulang tahun Hoseok, Jin dengan cepat berlari ke pasar membeli sebungkus rumput laut kering. Jin kemudian menyulap rumput laut kering tersebut menjadi semangkuk Miyeok Guk yang lezat.

Kemudian dengan cepat ia berlari membawa sup tersebut kerumah Hoseok, dan menyuruhnya memakan sup tersebut. Hoseok begitu terharu mendapatkan sup rumput laut dari Jin.

“Selamat ulang tahun Hoseok! keberuntungan akan bersamamu selama setahun kedepan, jadi makanlah sup ini. Mian! Tadi aku terlupa ulang tahunmu! Tetapi kau tau, aku berlari kesini demi memberimu sup ini. Jadi kau jangan pernah melupakanku ya, ingatlah aku jika kau melihat sup rumput laut seperti ini.”

Setetes bening air mata terjatuh dari kelopak mata Hoseok ketika mengingat ucapan Jin. Bodohnya dia, bagaimana mungkin ia bisa melupakan sesosok kakak yang selalu menyayanginya itu begitu saja. Melanjutkan hidup? Apa ia bisa?.

“Namjoon! Ikut aku!” panggilnya kepada Namjoon yang bahkan tak sempat melepas celemek–nya.

Berlari secepat mungkin kesana! Ia tak ingin semuanya berakhir begitu saja. Tidak! Tak boleh! Semuanya tak boleh berakhir begitu saja.

***

 

“HYA!! TAEHYUNG BODOH!!”

“…KELUAR KAU!!!”

“CEPAT KELUAR KEPARAT!!!”

Jimin terus berteriak didepan rumah keluarga Kim. Tak perduli dengan orang-orang sekitar yang terus memperhatikannya. Ia sudah berjam-jam menunggu Taehyung didepan rumahnya. Meneriaki namanya meskipun tak seorangpun mau keluar dari rumah itu. Ia tak akan pernah menyerah sebelum Taehyung mau berbicara dengannya.

“HYA! ALIEN BODOH! CEPAT KELUAR!!”

“KIM TAEHYUNG!!! KELUARLA—“ ucapannya terhenti ketika seseorang pada akhirnya membuka pintu rumah.

“Bajingan bodoh! Kau fikir sudah berapa lama aku menunggumu disini, hah?” sederet kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya ketika ia melihat wajah sahabatnya itu.

“Pulanglah… aku sedang tak ingin berurusan denganmu.” Ujar Taehyung singkat kemudian melangkah masuk kerumahnya.

Tetapi dengan cepat Jimin menarik lengan Taehyung. Taehyung ingin memberontak, tetapi tubuhnya begitu lemas sehingga tak kuat melepas cengkeraman tangan Jimin.

“Lepaskan…” ujarnya kepada Jimin, tetapi Jimin justru semakin menariknya bahkan membawanya berlari bersamanya.

“Diam dan ikuti aku!” ujar Jimin yang tak perduli apapun lagi. Kini hanya satu tujuannya, yaitu membawa Taehyung kesana.

***

 

Jungkook munundukkan kepalanya, menatap batu nisan berhias nama orang yang begitu ia sayangi. Kim Seokjin. Tak pernah ia bayangkan nama indah itu tertulis disebuah batu nisan.

Apa ini sungguhan? Bagaimana mungkin ia bisa menyebabkan seseorang yang ia sayang pergi meninggalkannya begitu saja. Bodohnya dia, kesalahan yang ia perbuat. Kini hanya penyesalan yang terus menghantuinya.

“Hah…! hah…! hah!” tiba-tiba seseorang dengan deru nafas yang tak stabil mengagetkannya.

“Yonggi-hyung?!” kagetnya melihat kedatangan Yonggi.

“Ahh.. hah! Annyeong!” serunya masih kehabisan napas karena tak biasa berlari.

Tak berapa lama terdengar suara berisik dari kedua orang yang juga tengah berlari ke sana.

“Hya Hoseok! Sebenarnya kita mau kemana?”

“Diamlah… kita sudah sampa—“ ucapan Hoseok terhenti ketika melihat Jungkook dan Yonggi yang sudah lebih dulu sampai disana.

“Sampai? di pemakaman? pichasseo?” Tanya Namjoon bingung, tetapi ia kemudian mengerti ketika melihat kedua teman yang juga ada didepannya.

“Mengapa kalian semua bisa disini?” Tanya Jungkook keheranan.

Tetapi belum sempat yang lain menjawab, dua bocah berisik juga datang mengagetkan mereka. Park Jimin dan Kim Taehyung. Taehyung terus mengomel karena Jimin tak mau melepaskan lengannya dan tak juga memberitahu kemana mereka akan pergi.

“Bahkan Jimin dan Taehyung juga…” tambah Jungkook.

Sama seperti yang lainnya, Jimin dan Taehyung juga sama terkejutnya. Taehyung kemudian melepas paksa cengkeraman tangan Jimin.

“Apa maksud semua ini?” Tanya Taehyung bingung.

Lama tak ada yang menjawabnya, semuanya kini tengah berkutik dengan fikiran masing-masing karena bingung. Tak lama kemudian, Yonggi membuka mulut.

“Aku hanya merasa, Jin-hyung memanggilku…” serunya pelan membuat yang lain menatapnya.

“Nado…aku juga merasa Jin-hyung memanggilku,” tiba-tiba Hoseok juga berkata hal yang sama.

“Ahahah…daebbak!” tawa Taehyung hambar seraya bertepuk tangan, hal itu sontak membuat seluruh pasang mata menoleh kearahnya.

“…permainan bodoh apalagi yang kalian mainkan sekarang, hah?!” teriaknya marah, kini bulir-bulir bening tengah mengalir dipipinya.

“Jin-hyung sudah MATI! Kumohon berhentilah..!!”

BRUKK!!

Kini tubuh Taehyung terlempar, Jimin dengan bengis memukulnya. Ia sudah tak tahan melihat tingkah kekanak-kanakan Taehyung.

“BAJINGAN!! Jin-hyung memang sudah mati!! Tapi ia tak pernah benar-benar mati, kau tau!!” teriak Jimin marah, seketika itu juga Taehyung membalas Jimin dengan sebuah pukulan.

Pichasseo?!! Berhentilah bercanda!!” Jimin dengan cepat berdiri dan menarik kerah baju Taehyung.

“DIAM!! Kubilang diam kau bajingan!!” teriak Jimin diselingi tangisnya, “Jin-hyung masih hidup!!” ucapnya membuat semua orang menatapnya.

“Jin-hyung masih hidup…” ulangnya dengan tangis yang terus menjadi, “Jika ia sudah mati tak mungkin tanpa sengaja kita semua berkumpul disini…” lanjutnya dengan suara yang mulai habis.

“Jin-hyung benar-benar memanggil kita…” ujar Yonggi tiba-tiba, bulir bening kini membanjiri wajahnya.

“…karena ia masih hidup,” tambah Hoseok juga merasakan hal yang sama.

“Jin-hyung masih hidup dihati 360 Degrees…

.

.

Jin?

Apa kini kau melihatnya?

360 Degress yang kau banggakan itu…

…belum mati.

 

– FIN –

12 thoughts on “[Monochromic Youth] 360 DEGREES – Oneshot

  1. Favorite part :
    “…karena ia masih hidup,”
    “Jin-hyung masih hidup dihati 360 Degrees…“

    Duh langsung terharu:’)

    Oh ya, kalo nama Suga itu ‘Yoongi’, kan beda ya pengucapannya jadi ‘Yun-gi’, bukan Yonggi hehe
    Sama masih ada beberapa kata yang penulisannya kurang tepat, tapi serius suka banget sama ff ini, bikin baper, dan selama baca tuh ngebayanginnya nyata banget T_T

    Liked by 1 person

    1. Iyaaa… aku juga baru kepikirn kalo salah nulis nama.. 😀 *Mian

      makasih udah baca yaa… dan udh suka juga sama ff ini.. 🙂

      lain kali akan kuperbaiki lagi kesalahan2 yg ada 😀

      gomawoo… 🙂

      Like

  2. Ya amppuunn buat baper tenan mas Jin >,<
    hwaa!! Untung ingus ga keluar /sumvah jijik
    author, maaf ya aku ga bisa ngeluarin mbak ingus /apa sih/ jijik ah
    hehe… Peace 😀
    Keep writing yaaa… /apa banget ini

    Liked by 1 person

  3. Daebaak…!
    Baper bgt bacanyaa, ceritanya ada nyawanya, hehe
    berasa nonton film tau nggak?

    Oya, tadi kan ada kata ‘kesini’ ke- nya dipisah yaa, soalnya nunjukin tempat.
    Kesini — ke sini
    Disana — di sana
    Kemana — ke mana
    dirumah — di rumah
    segitu dulu dari aku, kita sama2 belajar yaa.

    Over all, ceritamu keceee
    keep writing yaa, ditunggu cerita lainnya.

    Liked by 1 person

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s