[Monochromic Youth] Baka nii-chan – Oneshot

Baka Nii-Chan

Title: Baka nii-chan
Author: Fuseliar
Main Cast: Jung Hoseok a.k.a J-Hope BTS, Min Yoongi a.k.a Suga, OC
Genre: drama, slice of life
Duration: Oneshoot

 

Disclaimer : ini hanya cerita fanfic doank…. mohon dimaklumi bahwa, J-Hope dan Suga cuman punya yang Maha Kuasa. Dan ini fanfic punya saya…

 

Summary :

Hoseok adalah orang yang ceroboh, Kirie gadis jepang yang sedang berpacaran dengan Yoongi. mereka bertiga bertemu saat yukata dan kecerobohan bertemu.

 

.

.

.

“oi Hoseok! Sejak kapan tulisanmu jadi sejelek itu” sindir Namjoon yang sedang menyalin catatan Hoseok.

“ehehehe, bukannya tulisanku memang jelek?” jawab Hoseok sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“tapi ini parah banget, seperti anak TK, bukan lebih parah, aku hampir tidak bisa membacanya”

“ahahahahahaha, kau benar-benar tukang sindir yang hebat!”

“hei, hei! Siapa tukang sindir?”

“hehehe, maaf, apa aku keterlaluan?”

“ya,”

“maaf kalau begitu.” Hening. Terdengar suara goresan pensil Namjoon yang kasar. Hoseok mulai membolak balikkan halaman buku yang dibacanya. Perpustakaan hari ini cukup sepi. Banyak siswa yang tertarik menuju gymnasium. Hari ini ada acara festival sekolah. Ada pertunjukan besar di gymnasium. Mulai dari band, boy band, girl band, opera, dan festival budaya. Hanya khusus untuk hari ini saja, kelas-kelas dihias, lorong-lorong dihias dengan meriah. Hanya khusus hari ini saja, semua murid bebas dari pelajaran dan bebas berpakaian semau mereka. Ada yang datang memakai hanbok, beberapa penyuka budaya jepang yang tampil dengan kosplay dan pakaian khas jepang, ada pula yang datang dengan pakaian superhero, dan ada pula yang berpakaian dengan tema-tema tertentu.  

“AKHIRNYA!!!!” teriak Namjoon.

“SSSHHHHH!!!!” Hoseok menegur Namjoon yang baru saja selesai menyalin catatan Hoseok.

ara, ara…. hei, kamu mau kemana setelah ini? studio?” tanya Namjoon sambil membereskan bukunya. Pandangan Hoseok masih tertuju pada buku yang ia baca.

“sel syaraf neuron akan mengalami kemunduran fungsi kerjanya”

“hah? Kamu bicara apa Hoseok?”

“sel syaraf neuron akan mengalami kemunduran fungsi kerjanya, biasanya itu terjadi pada orang tua, tapi kemunduran fungsi kerja neuron juga bisa terjadi pada orang yang usianya masih muda, seperti Stephen Hawking”

ALS” jawab Namjoon singkat sambil menata kotak isi pensilnya

ALS?”

“sebenernya bukan hanya ALS, ada banyak. Nah Stephen Hawking, dia penderita ALS.” Jelas Namjoon

“kau tau Mielitis Transversa?”

“apa itu?”

“nah ini aku lagi cari tau”

“dengar dari mana?”

“ini ada di buku”

“kau belum menjawab pertanyaankku by the way…”

“apa? Kamu tanya apa Namjoon?”

“kamu habis ini kemana? Ke studio kah?” Hoseok menggeleng pelan.

“aku sudah keluar dari club tari sejak maret lalu” jelas Hoseok.

“eh? Kenapa?”

“ibuku ingin aku fokus untuk lulus mulai sekarang.”

“oh, gitu. Aku pergi duluan ya!” Namjoon pamit pergi dari hadapannya. Sedang Hoseok melanjutkan bacaannya

 

Kirie keluar dari toilet wanita dengan mengenakan yukata yang paling ia banggakan. Di luar toilet seorang lelaki dengan jaket kulit hitamnya menunggu Kirie keluar.

“Yoongi! Lihat! yukataku baguskan?” kata Kirie sambil berputar menunjukkan yukata kebanggannya.

“kau terlihat cantik sekali sayang” balas Yoongi sambil tersenyum manis.

“kau tau, kau tidak cocok menggunakan jaket kulit itu, senyummu terlalu kawaii untuk jaket kulit itu” Kirie menggandeng Yoongi dan mengajaknya beranjak pergi

“aku ingin terlihat macho, okey.”

“kau lebih pantas menggunakan baju maid. Bukannya kau memakai baju maid tadi?” sindir Kirie sambil menyandarkan kepalanya ke lengan Yoongi.

“ayolah, jangan bahas baju maid itu.” Yoongi menarik tangannya dan menyembunyikan jari-jarinya ke dalam saku jaketnya. Kirie melirik pria di sampingnya dengan pandangan licik.

hora-hora, wajahmu mulai merah” ledeknya. Yoongi memalingkan mukanya menghindari tatapan Kirie.

urusaiyo!” ucap Yoongi kesal.

“permisi..” ucap seseorang dari depan mereka. Orang itu membawa banyak buku di tangannya dan hampir ia tidak bisa melihat ke depan. Kirie dan Yoongi menjauhkann diri memberi jalan untuk orang itu sambil melirik name tag di dada orang itu, Jung Hoseok tulisannya. Orang itu melangkahkan kakinya diantara mereka berdua. Segalanya terjadi seperti slow motion bagi mereka. Tiba-tiba orang itu limbung dan jatuh. Barang bawaan orang itu cukup berat hingga menarik yukata Kirie hingga robek cukup besar hingga kulit pahanya terlihat. Kemudian dahi orang itu telah mencium tanah bersamaan dengan buku-buku yang dibawanya.

“KKKYYYYYYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA DASAR HEEENNNNNNTTTTAAAAAAAAIIIIIII!!!!!!!!!”

.

.

.

“hei, lihat! Dia datang!” kelas yang ramai tiba-tiba menjadi sepi saat Hoseok melangkahkan kakinya ke dalam kelas.

“kau tahu dia itu orang ceroboh”

“eh? Yang benar? Dia?”

“lihat saja perban di kepalanya”

“dia jatuh lagi karena kakinya sendiri”

“lagi? Berapa kali dia jatuh? Tapi, bodoh sekali dia?!”

“minggu lalu dia juga jatuh 7 kali waktu lari putar lapangan”

“kemarin dia jatuh sampai bajunya anak kelas sebelah sobek besar”

“yang benar? Mesum juga dia”

Hoseok berjalan menuju sebuah bangku kosong yang berada di pojok belakang kelas. Saat sampai ia hanya diam. Ia melonggarkan sedikit kerah bajunya dan membenahi posisi dasinya. Ia tidak peduli dengan apa yang dikatakan sekitarnya. Ia mulai menopang dagunya sambil menatap keluar jendela. Mengacuhkan semua bisikan-bisikan di sekitarnya.

ohayou!” panggil seseorang di belakang Hoseok. Hoseok menoleh dengan malas. Seorang wanita berdiri di belakangnya dengan wajah menyelidik.

hontouni, Bisa-bisanya kepalamu di perban begitu?! heh?” tanya wanita itu dengan nada tinggi.

“Pagi-pagi sudah berisik!” balas Hoseok dengan kesal.

“NANI?!!!!!!!!!!!!”

Wanita itu mendengus keras dan langsung menarik rambut Hoseok bersama dengan perban yang melilit kepalanya.

“aaarhhh!!! Ara, ara! aduh! aduh! Ara…!!!” teriak Hoseok mengaduh kesakitan saat wanita di belakangnya mempermainkan kepalanya yang diperban dengan kejam. wanita itu berhenti mempermainkan kepala Hoseok dan menarik daun telinga Hoseok seenaknya.

“dengar ya! kau itu menyebalkan! Anata wa hontou baka!!!!!” kemudian wanita itu melepaskan Hoseok dan duduk di bangku sebelah Hoseok.

ara….sakit nih… ” Hoseok membenahi perbannya yang agak melonggar karena wanita di sebelahnya.

“minta maaf ke aku sekarang! Pakai bahasa Jepang!” ucap wanita di sebelahnya dengan nada ketus. Hoseok menghela nafasnya dan membungkukkan badannya ke arah wanita disebelahnya

gomen, hontouni gomenasai!” teriak Hoseok. Kemudian wanita di depannya tersenyum penuh kemenangan.

“yah, bangunlah…” ucap wanita itu. Hoseok menegakkan punggungnya dan mendapati wanita di depannya tersenyum lebar. Kemudian wanita itu berganti membungkukkan badannya sejenak lalu ia berdiri.

“ingat namaku Hoseok! Aku Nakashima Kirie! Ingat itu ya! aku akan kesini lagi nanti, cha matane!” kemudian wanita itu berlari keluar kelas dengan senyum lebar menghiasi bibirnya.

.

.

.

KRRRIIIIIINNGGG!!!

Suara bel tanda istirahat makan siang telah berbunyi. Guru telah pamit dari kelas dan para murid mulai berhamburan. Ada yang keluar menuju kantin. Ada yang duduk berkelompok mengeluarkan makan siang mereka. Ada pula yang keluar kelas hanya untuk sekedar berjalan-jalan. Hoseok memilih untuk tetap duduk di bangkunya. Menyandarkan kepalanya di kusen jendela yang dingin. Ia merasakan angin berhembus menerpa wajahnya.

“hei, Baka nii-chan!” sebuah suara melengking mengusik ketenangan Hoseok. Hoseok hanya mendengus kecil dan menoleh ke bangku sebelahnya. Kirie telah duduk disana dengan membawa sebuah bungkusan kain yang cukup besar.

“apa itu?” tanya Hoseok. Kirie hanya tersenyum dan membuka bungkusan yang ia bawa. Ada dua kotak makan di dalamnya. Kirie mengambil yang ada diatas dan menyodorkannya kepada Hoseok.

“kau belum makan siang kan? Ini makanlah” Hoseok menelan ludahnya dan menerima kotak makan itu. Ia segera membukanya kotak makan itu. Terlihat susunan rapih telur dadar, sayuran, dan nasi yang mulai membuat air liur Hoseok menetes.

“thank you” ucap Hoseok sambil tersenyum simpul. Kemudian ia mulai mengambil sumpitnya dan mulai mengambil nasinya.

TRAAANGG!!!

Kirie seketika menoleh kearah Hoseok. Hoseok hanya diam ia memandangi sumpit dan nasi yang berceceran jatuh kelantai.

“Hoseok ada apa?” tanya Kirie. Hoseok hanya diam dan menunduk memandangi jari tangannya.

“aku tidak bisa menggunakan sumpit” jawab Hoseok lirih. Kirie menyipitkan matanya

“kau ini sedang bercanda?” tamyanya

“ah, iya, aku sedang bercanda, kau tau kan aku ini ceroboh” jawab Hoseok sambil tersenyum tanpa dosa.

“baka nii-chan! dasar ceroboh! Menjatuhkan makan seperti itu! Huh!” Kirie turun dan memunguti nasi dan sumpit yang jatuh.

“jangan panggil aku Baka nii-chan” protes Hoseok.

“URUSAI!” bentak Kirie. Kemudian Kirie membungkus sumpit yang diambilnya dengan tisu. Kirie menarik kotak makan yang berada di depan Hoseok.

“besok aku akan membawa kimbab, biar tidak ada lagi acara sumpit jatuh” ujarnya sambil mengambil nasi menggunakan sumpitnya.

“itu lebih baik” jawab Hoseok sambil membuka mulutnya meminta untuk diberi makanan. Kirie menyuapi Hoseok dengan hati-hati.

“awas kalo kamu besok bawa bekal!” Hoseok mengangguk pelan sambil mengunyah makanannya.

“aku masih lebih suka roti melon dan yogurt daripada masakanmu” jawab Hoseok dengan santai. Kirie meletakkan kotak makanan dan sumpit yang dibawanya diatas meja. Ia menatap Hoseok dengan tatapan bak Harimau menerkam mangsanya. Hoseok mulai tersenyum ketakutan.

“NANI???!!!!!!!!!” Teriak Kirie sambil menarik telinga dan kerah baju Hoseok.

“UWWAAAA!!!!! ITAI!!!!!!”

.

.

.

“hei, Kirie” panggil seorang wanita dengan rambut panjang memanggil Kirie.

“ya?” jawab Kirie.

“aku heran, kau mau-maunya dengan anak ceroboh itu” Kirie hanya menggaruk tengkuknya dan tersenyum.

“siapa? Baka nii-chan kah? Ehehehe, mau gimana lagi? Dia enggak punya temen sih”

“kau tau, dia jatuh lagi, kali ini dia jatuh di depan ruang guru”

“dia jatuh lagi?”

“iya, dia itu cerobohnya keterlaluan. Sering banget jatuh”

“apa dia baik-baik aja?”

“iya sepertinya, huh, tapi dia bodoh” Kirie tersenyum dan tertawa kecil saat ia mendengar teman sebangkunya mengatai Hoseok bodoh.

.

.

.

Kirie menyusuri lorong kelas yang sepi. Hari ini ia pulang terlambat karena ia mendapat tugas menjaga perpustakaan. Ditengah lorong sepi itu terdengar suara lirih yang mulai menggelitik telinganya. Kirie berhenti sejenak dan menelan ludahnya. Ia berjalan hati-hati dan pelan. Hingga di ujung lorong ia menemukan seseorang dengan perban dikepalanya sedang duduk di lantai. Kirie mengernyit bingung dan hanya diam. Terdengar samar suara nafas yang lelah dan terengah-engah. Kirie tetap diam dan melihat Hoseok, ia tidak melangkahkan kakinya sedikitpun dan berusaha medengarkan dan melihat.

Hoseok mengambil nafas dan mencari pegangan. Kemudian ia berusaha mengangkat dirinya untuk berdiri. Ia berhasil mengangkat tubuhya tapi kakinya sama sekali tidak bergerak untuk menopangnya dan ia kembali jatuh ke lantai. Bagi Hoseok ini adlah hal yang paling ia takuti. Tidak bisa lagi merasakan kakinya.

“ayolah… berdiri… tolong… ayolah…” ucap Hoseok lirih sambil terus berusaha untuk berdiri, namun ia tetap berakhir dengan jatuh ke lantai. Hoseok tidak menyerah, ia tetap berusaha untuk berdiri. Kemudian terdenger suara langkah kaki yang mendekati Hoseok dari belakang. Hoseok menoleh ke belakang dan mendapati seorang wanita berjalan kearahnya. Hoseok tersenyum dan melambaikan tangannya.

konichiwa, Kirie-san” sapa Hoseok. Kirie berhenti tepat di sebelah Hoseok dan memandangi Hoseok dengan jengkel.

“kau ini benar-benar tidak bisa diandalkan. Bagaimana bisa kau menjadi kakak tiriku heh?!” ledek Kirie.

“sejak kapan aku akan menjadi kakak tirimu?!” bantah Hoseok.

“kau itu bisa-bisanya membuat kakimu bengkak begitu heh?!” kata Kirie dengan nada tinggi. Hoseok hanya bisa menatapnya nanar dan menundukkan kepalanya.

“aku tidak bisa menggerakkan kakiku” ucap Hoseok lirih.

baka! Kau ini berhentilah berkata yang tidak-tidak! Cuman terkilir aja manja!” Kirie berjongkok di depan Hoseok dan memunggungi Hoseok.

“sini aku gendong!” titahnya. Hoseok menatapnya bingung.

“tapi, tapi…. “

“tidak ada protes! Kakimu harus di perban tauk!” Hoseok menghela nafasnya dan tersenyum kecil. Dengan susah payah Hoseok meraih pundak Kirie dan menarik kakinya agar Kirie mudah mengangkatnya.

Bagi Kirie ini sangat aneh. Ia menggendong seorang lelaki. Saat Kirie mengangkat tubuh Hoseok, ia mengira akan sangat berat rasanya. Tapi kenyataannya tidak. Kirie pernah menggendong teman sekelasnya dulu, dan sangat berat rasanya. Tapi Hoseok tidak. Ia bahkan yakin berat badan Hoseok jauh di bawahnya. Terlalu ringan untuk seorang lelaki. Mudah bagi Kirie untuk menggendong Hoseok. Hoseok tidak banyak bergerak. Kirie berjalan menuju ke ruang UKS yang tidak begitu jauh dari tempat Hoseok jatuh.

“Kirie-san” panggil Hoseok lirih.

“iya?”

“terima kasih ya”

“yah, sama-sama” mereka terdiam satu sama lain hingga sampai di UKS. Kirie mendudukkan Hoseok diatas tempat tidur. Kemudian ia mulai melepas sepatu dan kaus kaki Hoseok.

“kau ini benar-benar tidak bisa dilepaskan dari pengawasan, masa kakimu sampai memar begini?” Hoseok membungkukkan badannya berusaha melihat kakinya, tapi Kirie memegangi puncak kepalanya dan mendorongnya hingga ia duduk tegak.

“gak usah lihat-lihat gitu, kakimu itu jelek tauk!” ledek Kirie. Hoseok hanya diam dan membiarkan Kirie memperban kakinya. Ia tidak mengerti kenapa Kirie membalut kakinya dengan perban.

“Kirie-san, kakiku tidak bengkak” kata Hoseok lirih.

“aku tau” jawab Kirie. Hoseok menggenggam ujung jas almamaternya dengan erat.

“aku tidak akan bisa datang lagi ke sekolah dan berjalan seperti dulu”

uso

“mungkin nanti aku akan bergerak seperti robot bodoh yang sering jatuh”

uso

uso? Uso itu Apa?! Aku enggak bisa bahasa jepang!” kali ini Hoseok mulai kesal dan memalingkan mukanya dari Kirie. Kirie menyelesaikan balutan terakhirnya dan berdiri

uso itu bohong” kata Kirie

“bohong?” Hoseok balik bertanya.

“kamu bohong kan? Kamu masih bisa jalan, cuman kamu aja yang manja” Hoseok tersenyum ke arah Kirie. Kirie mulai menggigit bibir bawahnya saat ia melihat mata Hoseok berkaca-kaca.

“iya, aku anak manja yang ceroboh, Kirie-san” jawab Hoseok dengan suara parau.

“kalau begitu, aku akan menggendongmu sampai ke rumah, okey?” Kirie menyodorkan punggungnya dan Hoseok berusaha meraihnya. Kirie menggendong Hoseok lagi.

“hm, terima kasih ya, Kirie-san” bisik Hoseok saat Kirie keluar dari ruang UKS.

“Besok cepatlah masuk ke sekolah lagi, ne Baka nii-chan?” balas Kirie dengan ketus.

“berhentilah memanggilku Baka nii-chan!” balas Hoseok

urusai! Kau itu benar-benar manja!” bentak Kirie. Hoseok terkekeh mendengarnya dan ia mulai mengeratkan pegangannya.

“kau benar-benar teman yang baik, aku tidak tau harus bagaimana jika kau tidak ada di dekatku. Aku benar-benar bersyukur bisa bertemu denganmu, Kirie” bisik Hoseok.

“aku ingat saat pertama kita bertemu, saat aku jatuh dan merobek yukata yang kau pakai. Aku masih merasa bersalah jika mengingatnya. Tapi aku juga bersyukur telah merobek yukata itu. Aku bisa mengenalmu dan berteman dekat denganmu.” Kirie tersenyum dan menaikkan gendongannya.

“hehe, menurutmu, pacarku apa akan cemburu kalau ia melihatku menggendongmu begini?” tanya Kirie. Hoseok terkekeh lagi.

“dia pantas untuk cemburu, karena dia tidak mungkin kau gendong seperti ini”

“ya, dia pasti lebih berat darimu. Jauh lebih berat darimu. Kau itu benar-benar berisi tulang dan kulit ya?”

“yah, aku sendiri juga berpikir begitu”

“sejak kapan kau mulai sakit?” tanya Kirie tiba-tiba. Hoseok menelan ludahnya sejenak.

“tahun lalu, saat aku masuk kelas 11. aku baru menyadarinya saat aku ikut kompetisi menari. Sejak saat itu aku jadi rindu dengan studio tari. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku seperti dulu.” Jelas Hoseok

“lama-lama, ini benar-benar seperti drama”

“hm, kalau tidak salah judulnya Boku Ita no Jikan

“kau suka dorama?”

“dan anime

“apa yang paling kau suka?”

“aku ini berjiwa melankolis jadi aku suka Clannad dan Anohana

“kau beda dari Yoongi, dia malah anti sama drama. Enggak sadar kalo pacarnya pecinta drama”

.

.

.

“Kirie, kau tau, aku sedang cemburu tingkat dewa” Kirie mendengus keras sambil mengaduk minumannya.

“aku melihatmu menggendong Hoseok kemarin” keluh Yoongi yang duduk berhadapan dengannya

“aku tau”

“dia kenapa?” Tanya Yoongi.

“oh, dia jatuh kemarin”

“jatuh seperti apa?” Kirie hanya diam. Ia memandangi minumannya dengan sedih.

“entahlah, dia bilang dia tidak akan bisa jalan lagi. Aku melihatnya berkali-kali dia berusaha berdiri tapi kakinya tidak bergerak. Dokter bilang dia mungkin tidak akan bisa jalan seperti dulu lagi”

“oh, pantas. Dia sudah tidak bisa memegang sumpit bukan?”

“hm, 2 bulan lalu ia tidak bisa menulis”

“apaboleh buat, takdirnya jelek sekali”

“takdir?” Kirie mengerjap bingung. Yoongi menopang dagunya dan melirik secangkir kopi di depannya.

“ya, apa lagi?”

“kejam”

“kau akan menjenguknya hari ini?” Yoongi mengalihkan pembicaraan.

“tidak, kau bilang kau akan mengajakku ke taman ria dan naik roller coaster”

“kau ini teman macam apa”

“kalau aku tidak menurutimu, nanti kau cemburu”

“ngapain juga cemburu sama orang yang mau mati”

“YOONGI!” bentak Kirie. Yoongi terdiam kaget. Kirie menatap tajam Yoongi dan tanpa berkedip. Kemudian ia menghela nafasnya sejenak

saiakudesu ne… (buruk sekali ya)” katanya sambil tersenyum dan mengangkat gelasnya. Yoongi mengangguk pelan dan menyandarkan punggungnya

“yeah saiakuna…(yeah buruk sekali)”

.

.

.

Kirie dan Yoongi berjalan berdua menyusuri lorong terang yang dicat serba putih dengan sebuah garis hijau dan besi stainless steel yang memantulkan cahaya lampu. Bau antiseptik yang kental di hidung mereka. Kirie mencari nomor pintu yang dicarinya dengan berbekal sebuah catatan kecil. Mereka berdua saling melirik ke kana dan kekiri mencari nomor itu. Hingga Yoongi cukup jeli menyadri nomor ruangan yang mereka cari dan mereka menghampiri pintu itu dan mulai mengetuknya.

“ya? masuk” suara Hoseok terdengar dari dalam. Yoongi membuka pintu dan mereka berdua masuk.

konichiwa, aku membawakanmu hamburger lho” sapa Kirie berjalan mendekati Hoseok yang duduk diatas brankarnya.

“hamburger? Ah! Mana? Mana? Aku lapar!” balas Hoseok dengan semangat. Kirie meletakkan keranjang kecil yang dibawanya diatas meja kecil di samping brankar dan mengambil sebungkus kecil hamburger dan membukanya hingga sebagian hamburgernya terbuka.

“aku membungkusnya dengan kertas roti bermotif, bagaimana? Kau suka?” tanya Kirie. Hoseok menerimanya dengan kedua tangannya yang bergetar. Hoseok tersenyum dan mulai melahap hamburger di tangannya.

“gimana?” tanya Kirie.

“enak! Enak banget!” jawab Hoseok.

“hehe, aku sama Yoongi lho yang masak.”

“wow, aku tidak menyangka Yoongi mempunyai sisi feminim yang tidak terduga”

“apa maksudmu?” tanya Yoongi dengan nada tertahan.

“kau bisa memasak, bukankah itu elegan?” ucap Hoseok dengan polos sambil memakan hamburgernya.

“Hoseok kapan kau akan masuk sekolah lagi?” tanya Kirie tiba-tiba. Hoseok terus mengunyah makanannya kemudian ia berhenti makan dan menggeleng pelan.

“aku keluar dari sekolah” jawab Hoseok singkat. Yoongi dan Kirie diam dan hanya memandangi Hoseok. Hoseok melanjutkan makannya. Suasana hening sampai Hoseok kembali berhenti makan.

Hoseok menghela nafas melihat dua temannya menunduk dan memandanginya sedih.

“hei, jangan sedih seperti itu, kalian masih bisa datang kemari dan mengunjungiku bukan?” hibur Hoseok.

“kau akan mati dalam waktu dekat, baka nii-chan! Kau tau tidak?!” balas Kirie kesal. Yoongi menepuk punggung Kirie pelan dan mengusapnya.

“aku tau, tapi aku punya kalian bukan? teman dekatku, hehe” kali ini Hoseok tersenyum lebar kearah mereka.

“sudah kubilang, aku ini bersyukur bisa merobek yukatamu sampai aku bisa melihat pahamu yang mulus” cerocos Hoseok.

hentai!” balas Kirie kali ini suaran ya terdengar parau.

“yah, setidaknya ada cowok macho bermuka kawaii yang menjagamu iyakan?”

Kali ini Hoseok menoleh ke arah Yoongi

“jika Tuhan mengijinkan, aku ingin melihat kalian menikah, ne? Karena itu tidak perlu bersedih. Oh iya, seharusnya kalian kan yang menghibur aku bukan aku yang menghibur kalian” kali ini Hoseok benar-benar cerewet di hadapan mereka.

Terdengar suara senggukan kecil dari mereka. Kemudian Kirie memeluk Hoseok.

“BAKA!!!! BAKA!!!! Huhuhu…” Kirie menangis sambil berteriak. Yoongi mengusap matanya yang berair dengan jaketnya.

“hei Yoongi, kenapa kau tidak menangis?” tanya Hoseok sambil tersenyum geli melihat Yoongi.

“aku takut kau meledekku, hentai.” Jawab Yoongi sambil menutupi matanya dengan tangannya.

“hei, aku bukan hentai ya! aku ini Baka nii-chan!”

Advertisements

5 thoughts on “[Monochromic Youth] Baka nii-chan – Oneshot

  1. Lumos22

    Waktu baca kalo Hoseok gak bisa jalan, malah inget Aya di 1 Liter of tears. Ya ampunn… >_.< /btw ini emot apaan sih?

    Satu lagi thor, baka nii-chan artinya apa sih? /hehe maaf, ga tau 😀

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s