[Monochromic Youth] LIES – Oneshot

PicsArt_12-25-04.28.33

Freelance – Monochromic Youth – Black Ver.

Lies

By Tipil

Dark, Psychology, Thriller

「 Oneshot; 1.852 words 」

「 PG 17 – Hitting scenes, Unsuitable words

「 Storyline; Art-worker; Tipil  」

Characters

Jeon Jungkook of BTS

Kim Taehyung of BTS

Taekwoon – Leo of VIXX ♠

Jung Yein of Lovelyz ♣

.

Summary

Jeon Jungkook menghabiskan masa-masa ‘emasnya’ dengan mencari kejujuran. Seluruh hidupnya selama 18 tahun adalah sebuah kebohongan.

Pengkhianatan; kebenaran yang tersembunyi; psikologis yang tak stabil; kebencian mutlak—

Menghasilkan masa muda Jeon Jungkook amat berharga.

.

Warning;

Typo(s); weird plot; unexpected story  

.

Lastly, enjoy!

.

.

.

 

13 Juni 2027

30 tahun; usia yang dirasa-rasa cukup pantas bagi seseorang untuk menikah—terutama bagi seorang pria. Namun, apa yang harus dilakukan, bila seseorang begitu takut untuk mempercayai suatu keputusan? Takut untuk melanjutkan hidupnya? Bahkan…

Takut pada hidupnya sendiri?

Seorang pria memperhatikan jam tangannya, nampak menunggu kedatangan seseorang. Sesekali ia menyeruput kopi-nya, untuk mengusir kantuk yang melandanya karena tumpukkan pekerjaan yang selalu mengisi hari-harinya.

Ia merenung, terkenang kembali masa lalunya.

 

*

 

26 Juni 2013

Tiga Orang Sahabat

Tiga orang murid sekolah menengah atas nanpak tengah bercanda dengan akrabnya. Ketiganya bak anak-anak polos yang tak mengenal masalah hidup. Senyuman mereka tulus—murni kebahagiaan yang terpancar dari dalam hati.

“Jeon Jungkook, apa yang ingin kau lakukan di masa depan?” Salah seorang dari mereka—Jung Yein—nampak antusias dalam membayangkan pasal masa depan.

“Hm… tidak tahu. Belum terpikir. Mungkin seorang pengangguran.” Pria bernama Jeon Jungkook itu sama sekali tidak tertarik dengan topik yang selalu disinggung oleh satu sahabat terbaiknya.

“Kalau begitu kau, Kim Taehyung. Apa yang ingin kau lakukan di masa depan?”

“Diamlah, gadis bawel. Kau selalu ribut soal masa depan setiap hari, memangnya ucapanmu itu membuahkan hasil, huh?”

Gadis itu, Yein, hanya dapat mengerutuckan bibirnya begitu mendapatkan jawaban yang Sama menyebalkannya dengan jawaban Jungkook.

Ketiganya melanjutkan langkah kaki mereka menuju ke sekolah—tempat dimana mereka dapat membangun pondasi kokoh guna menjawab pertanyaan salah satu dari ketiganya, Jung Yein.

 

*

 

13 Juni 2027

 

Seorang pemuda dengan surai kecoklatan terlihat tengah asyik bercengkerama dengan seorang pria lainnya. Keduanya berparas tampan—terbalut dalam jas hitam dan kemeja putih senada.

“Jungkook-ah.” Pemuda dengan surai hitam memanggil pemuda di sebelahnya dengan intonasi serius.

“Hm?”

“Maaf, maafkan aku, sungguh.”

Si pemuda bersurai coklat—Jeon Jungkook—mentautkan alisnya, seperti terkenang akan suatu kejadian pada masa mudanya.

Kemudian Jungkook terkekeh pelan, yang langsung membuat pria di sebelahnya mengerutkan keningnya.

“Taehyung-ah, ingatanmu begitu tajam, huh?”

 

*

 

1 Januari 2014

Pengkhianatan Sang Sobat

 

“Jelaskan. Padaku. Sekarang. Juga.”

Seorang gadis dengan polesan make up yang cukup tebal nampak tengah menyudutkan seorang pria yang diketahui bernama Jeon Jungkook. Ia berkacak pinggang seraya memandangi pria itu.

“Ugh, YA! Apa kau ini bisu? Atau tuli? Hey, bocah pintar, berapa peluang kematianmu hari ini? Bisakah otak palsumu yang pintar menjawabnya?!”

Gadis lain dengan kacamata dan seragam super-ketat juga terlihat tengah menyudutkan Jungkook—yang tengah menganga lebar karena sikap kedua gadis itu.

Keduanya mengaku bahwa Jungkook tengah ‘merendahkan’ mereka. Si gadis dengan make up tebal menuduh Jungkook yang menyebarkan foto-fotonya ketika ia tengah melakukan pekerjaannya sebagai pelayan di sebuah karaoke.

Sementara si gadis dengan kaca mata dan pakaian super ketat mengatakan bahwa Jungkook telah mendapat bocoran soal ujian akhir tahun yang akhirnya membuat Jungkook mendapat perigkat pertama.

“Nyonya-nyonya, uhm, begini,” aura ketakutan sama sekali tidak terpancar dari wajah pria itu. Pasalnya, ia telah kerap kali menerima perlakuan semacam itu.

“Bisakah setidaknya aku mengetahui identitas pelapor? Siapa, siapa yang berkata bahwa aku pelakunya?”

Kedua gadis itu nampak bimbang—dalam setiap ‘bisnis,’ identitas pelapor adalah prioritas utama.

Namun, seperti biasa. DNA pengkhianat sudah tertanam jauh dalam lubuk hati dua gadis itu.

“Jadi?….” Jungkook melipat tangannya seraya menunggu jawaban.

Dalam kurun waktu sepersekian detik, kedua gadis itu serempak menjawab;

“Kim Taehyung.”

 

*

 

13 Juni 2027

 

“Taekwoon hyung, sudah makan?”

Pertemuan canggung antara Jungkook dan Taekwoon membuat Taehyung diam seribu bahasa. Baru saja ia bertemu dengan sahabat yang pernah ia khianati, sekarang ia bertemu dengan kakak angkat dari ‘mantan’ sahabatnya.

“Makan denganku dan Taehyung saja, bagaimana? Lagipula sudah lama kita tidak berbicara dengan santai.”

Taekwoon menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal—ketara sekali tengah mempertimbangkan ajakan Jungkook.

“Baik, baiklah.”

Kemudian Taekwoon mendudukkan bokongnya di atas kursi di samping kanan Jungkook.

Taehyung menganati keduanya secara observatif; sebuah kenangan melintasi benaknya begitu saja.

 

*

 

13 Maret 2014

Hyung yang Membenciku, Biarlah.

 

Hyung, ayo main denganku!”

Raut wajah Jungkook begitu berseri sebagaimana anak kecil mendapat sebungkus permen; hari itu, hyung sematawayangnya pulang setelah beberapa minggu menjalani perkemahan kuliah.

“Tidak, tidak mau. Ajak saja eomma tersayangmu main.” Dengan ketus Taekwoon menolak ajakan Jungkook yang tengah memasang wajah masam.

Hyung,

Jungkook memanggil kakaknya lirih, berharap pemuda itu akan berbalik barang sedetik saja; untuk mendengar isi hati Jungkook.

“Aku ingin hyung tahu bahwa sebenci apapun; senista apapun; atau semarah apapun, hyung adalah kakakku. Satu-satunya laki-laki yang kusayang dan hormati selain appa. Jadi, jika hyung marah padaku, hyung boleh, kok, memukulku.”

Taekwoon kaget setengah mati dibuatnya; kedua pasang bola mata Jungkook berair sekarang, seluruh kesedihan yang selama ini dipendamnya tumpah ruah; pertahanannya yang kokoh hancur begitu saja ketika ia bertemu pandang dengan Taekwoon.

“Jungkook-ah,” Taekwoon memberanikan diri untuk ‘mengungkapkan’ segalanya pada Jungkook.

“Hm?”

“Jalanilah masa mudamu dengan baik, karena kau tidak bisa mengulang masa mudamu semudah kau membalikkan telapak tanganmu. Kau memang bukan adikku, tapi kau adalah pria yang kuat.”

Kemudian Taekwoon melanjutkan langkahnya, meninggalkan Jungkook yang tengah membeku di baliknya.

Kau bukan adikku.

 

*

 

15 Maret 2014

Masa Mudaku Seperti Sampah

 

Apa gunanya menyimpan sampah? Barang bekas pakai, tidak berfungsi, dan tidak bermanfaat. Hal itu sama saja seperti masa muda Jungkook.

Mulanya, Jungkook mendefinisikan ‘payah’ sebagai kata yang tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya. Sejak kecil ia memiliki segalanya; mulai dari uang, kekuasaan, gadis-gadis yang mengantri di hadapannya, dan cinta dari ayah serta ibunya.

Namun, seiring berjalannya waktu, kata ‘payah’ itu, ditujukkan untuk dirinya, dan dari dirinya.

“Berikan aku dua botol soju, yang cepat!” Jungkook berteriak begitu ia memasukki warung soju langganannya.

“Kau mabuk lagi, nak?”

Seorang pemuda separuh baya menepuk pundak Jungkook dari belakangnya. Terkejut, Jungkook melihat siapa yang menegurnya.

Appa?

“Kenapa kau mabuk di usiamu yang muda dasar bocah tengik. Kau tahu kau masih SMA, tapi kau malah minum soju dan mengabaikan tugasmu sebagai seorang pelajar.”

Jungkook tidak bergeming—ia sibuk memroses sebuah pertanyaan dalam otaknya.

Appa,” tetiba Jungkook memanggil ayahnya yang tengah sibuk menuang soju.

“Hn?”

“Apa, aku inj bukan anakmu?”

Ayah Jungkook memasang ekspresi tenang, ketara sekali sudah tahu jika pertanyaan semacam ini akan terucap suatu kali dari mulut putranya.

“Apa Taekwoon keceplosan? Atau, memang ia sudah tidak tahan? Hoho, bocah itu.”

Jungkook memandangi ayahnya seakan-akan memandangi orang asing; jauh dalam lubuk hatinya, ia sulit untuk mempercayai siapapun lagi.

“Mari kita mulai dari orang tua aslimu terlebih dahulu.”

Jungkook menatap ayahnya lurus-lurus, menunggu pria itu melanjutkan kalimatnya.

“Keduanya meninggal karena terbunuh. Kala itu, usiamu masih beberapa hari, sebab itu kau tidak ingat apapun. Kejadiannya cukup mengenaskan. Mereka terbunuh karena kesalah pahaman. Akibatnya, kau tertinggal sendirian di rumah sakit.”

Pria itu berhenti sejenak, ia memastikan bahwa Jungkook tidak lepas kendali.

“Lanjutkan saja.”

“Baik, baiklah. Ranjang bayimu bersebelahan dengan ranjang bayi milik putriku, yang entah mengapa wajahnya sama persis denganmu. Pembunuh yang membunuh orang tuamu salah mengambil anak; yang mengakibatkan istriku marah besar. Pada akhirnya kami memutuskan untuk mengadopsimu, dan keputusan kami melahirkan kebencian Taekwoon padamu.”

Selepas bercerita, pria itu menenggak habis sojunya, sementara Jungkook dipaksa menyelami kenyataan pahit.

Ia bukan bersedih karena kenyataan bahwa ia anak adopsi; namun kenyataan bahwa putri asli dari orang tuanya sekarang itu masih hidup.

Dan ia adalah salah satu sahabat terbaik Jungkook;

Jung Yein.

 

*

 

18 Maret 2014

Antara Jung Yein; Keluargaku; dan Aku.

 

“Jung Yein, ikut aku.”

Sepulang sekolah, Yein dipaksa mengikuti Jungkook yang terlihat serius dan, Yein akui, menyeramkan.

“Kenapa? Ada apa, sih?”

Mereka berdua akhirnya berhenti di sebuah jalanan yang indah; pohon-pohon dan bunga-bunga cantik menghiasi kiri-kanan jalan.

“Jung Yein, apa kau punya orang tua?”

Yein tertawa kecil memandangi sahabatnya, ia tidak pernah mengira bahwa Jungkook adalah seorang pelupa.

“Jungkookie, kau pikir sudah berapa lama kita berteman? Ayolah, itu tidak lucu.”

“Apa kau pikir aku bercanda? Ya, Yein-ah, tatap mataku dalam-dalam, apa kau pikir aku sedang main-main?”

Yein nampak ketakutan. Ia takut karena tatapan Jungkook yang berbeda, dan pegangan Jungkook yang erat pada kedua bahu Yein.

“Hey, Jeon Jungkook, aku sudah tidak punya orang tua, apa kau lupa? Lalu, apa gunanya setelah kau mengorek kembali luka lamaku? Kau puas karena telah berhasil membuatku terpuruk lagi?”

Jungkook tak bisa bergerak; ia menatap kekosongan yang taj berarti. Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan seluruh beban yang ia tanggung dalam masa-masa yang seharusnya menjadi momen terbaik dalam hidupnya.

Ia hancur.

Sementara Yein kebingungan—bingung yang sesungguhnya. Belum pernah ia melihat Jungkook serapuh itu.

Sepersekian detik berikutnya, ia menjatuhkan Yein dengan kasar dan bersiap menghajar gadis itu,

Kalau saja Taehyung tidak datang.

“HEY, APA KAU GILA?! KAU BARU SAJA AKAN MEMUKUL SEORANG GADIS! JEON JUNGKOOK, SADARLAH!”

“BAJINGAN BERENGSEK, YA, TAHU APA KAU SOAL HIDUPKU? KAU SENDIRI ADALAH PENGKHIANAT! SELAMA INI, KAU IRI PADAKU BUKAN, KIM TAEHYUNG? KAU SELALU MENJADI NOMOR DUA! DASAR PENGECUT, KAU PAY—

Perkataan Jungkook terputus karena ia terjerembab di tanah—hidungnya berdarah dan bibirnya robek; emosinya betul-betul tak stabil.

“APA KAU MENDERITA KELAINAN PSIKOLOGIS, HAH? KAU HAMPIR SAJA MEMUKUL SEORANG GADIS!”

Taehyung masih ingin menghajar Jungkook jika saja ia tidak melihat pria malang itu tengah menangia meraung-raung di tanah.

Ia sudah hancur; hidupnya berantakan. Ia kehilangan seluruh hal penting dalam hidupnya. Mulai dari sahabat, orang tua, dan kini kewarasannya. Ia merasa bahwa semakin lama, penyakit kegilaan meresapi sumsum tulangnya, membuat ia tak fokus dan selalu emosi.

“A-Aku… tidak sanggup lagi. Semuanya sudah hancur. Hidupku… tidak, tidak akan pernah sama lagi. Masa-masa muda ini membuatku gila! Aku sudah muak hidup, tidak ada gunanya! Seluruh drama tolol ini membuatku hancur; seakan aku hidup untuk menderita!”

Yein Dan Taehyung terpaku; mereka kaku. Tak dapat menggerakan satu bagianpun dari tubuh mereka. Rasanha berat melihat Jungkook seperti itu; dipenuhi beban kala ia tengah menikmati masa mudanya. Kehidupan SMA-nya gelap; penuh kebohongan.

“Kalau begitu, akhiri sajalah.”

Taehyung berucap dengan datar. Ia memandangi Yein yang mengangguk mantap; mereka berdua menghampiri Jungkook,

Dan menyelesaikan seluruhnya.

 

*

 

13 Juni 2027

 

“Mereka berdua memelukku; berusaha membuatku melupakan seluruh masalah dalam hidupku kala itu.”

Taekwoon terkekeh pelan Sementara Taehyung menundukkan kepalanya karena ia malu. Akhir manis yang membawa Jungkook kembali pada alam sadarnya; berusaha melepaskan seluruh dendam Dan benci pada dirinya sendiri.

“Jungkook-ah, lihat siapa yang datang,”

Ucapan Taekwoon Dan Taehyung yang hampir berbarengan menyadarkan Jungkook dari lamunannya; ia menoleh seketika dan tersenyum bahagia begitu menyadari siapa yang datang.

Oppa, apa kabar?”

Jungkook tersenyum lebih lebar lagi, ia Baru menyadari sesuatu.

Andai kata ia tidak melewati masa lalunya,

ia tidak akan pernah bertemu orang itu.

Well, masa mudanya memang begitu gelap dan menyedihkan,

namun setiap perjuangan selalu berbuah manis.

 

『 The End 』

.

.

 

A/N;

Fiyuh, akhirnya selesai juga. Kalo menang bersyukur banget, kalau nggak juga nggak apa-apa ;”

Btw, genrenya emang rada-rada gesrek sih karena ada sedikit friendship dan lovey-dovey scene yang maksa di akhir /biar jadinya misterius gitu/

Ada rencana buat sequel sih, komen yang banyak ya^^

Saranghaeyo, readers-nim

 

Advertisements

7 thoughts on “[Monochromic Youth] LIES – Oneshot

  1. Suka suka suka ><
    Ini fanfict bikin aku ketawa iya–pas appa Jungkook bilang si Jungkook mirip anak perempuannya yang aku juga udh yakin itu si Yein, langsung ketawa, beneran deh wkwk– bikin sedih iya (pas tau kehidupan Jungkook yang sebetulnya), bikin senyam senyum juga iya
    Awalnya kupikir Taehyung Yein mau akhirin pertemanannya, ternyata… waah
    Dan si cewe yang ada di akhir itu Yein bukan? Soalnya dia belum muncul di latar 2027 :v
    Mau dong sequelnya:3

    Liked by 1 person

  2. Weii… Kak tipill^^ fansmu datang kak!! 😁😁 siapa itu yang datang? Yein ya?? Ati wanita lain(?)??hahha.. Bagus kak, lanjutin aja 👍👍

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s