[Monochromic Youth] TWINS CONFLICT – OneShot

1451542488954

Judul : TWINS CONFLICT

Nama Author : Park Ryeon Ji  (.DancingChen)

Genre : Brothership, Friendship, Horror

Length : Oneshot @ 1465 words

Rating : Teen (PG-15)

Cast :

BTS’ Jimin as Park Jimin

BTS’ Suga as Park Suga

EXID’s Hani as Ahn Hee Yeon

and another casts.

Disclaimer : They’re not mine, but this story is mine. Don’t copas please!

Warn : Twins!JiminSuga, OC, OOC, AU, AT, Typo(s), badfict, bashing chara.

This White Version’s Story :v

°°°°°

Kita dilahirkan dari rahim yang sama.

Kita dilahirkan di hari yang sama, walaupun dengan selisih waktu berbeda.

Kita juga tumbuh di bawah atap rumah yang sama.

Tapi…,

Kenapa mereka memperlakukan kita dengan cara yang berbeda?

°°°°°

 

Setiap kali, dalam hal apapun, Park Jimin akan selalu merasakan iri pada saudara kembarnya, Park Suga. Jika ditelaah lebih jauh, Suga selalu tampak lebih unggul darinya. Entah itu dalam bidang prestasi, cara Suga dalam mengambil hati teman-temannya di sekolah, sampai cara orang tuanya memperlakukan mereka.

Seperti yang terlihat pagi ini di SMA Bangtan, Suga dan Jimin tampak turun dari mobil yang sama, yang mengantar mereka menuju ke sekolah.

Benar. Mereka memang berasal dari keluarga beruang. Apapun kebutuhan materi yang mereka perlukan selalu terpenuhi dengan tepat waktu. Saat ke sekolah, mereka diantar oleh mobil yang dikendarai sopir pribadi. Semuanya serba ada dan instan, tanpa menunggu untuk waktu yang lebih lama.

Annyeong, Suga,” sapa salah seorang teman sekelas mereka yang baru memasuki pintu gerbang sekolah.

“Oh, annyeong,” sahut Suga sambil melambaikan tangannya.

Tidak hanya dia, beberapa orang dari kelas lain pun tampak menyapa Suga secara bergantian.

Namun, dari banyaknya teman mereka yang menyapa, orang yang menyapa Jimin hanya beberapa saja. Dan, ia pun membalasnya dengan senyuman canggung.

‘Kapan aku bisa diperlakukan seperti Suga Hyung?’

***

Waktu makan siang telah tiba. Para siswa SMA Bangtan menuju kantin. Begitu pula dengan Jimin dan Suga, mereka menuju kantin bersama-sama. Namun, pemandangan yang kontras terlihat. Suga melangkah dengan teman-temannya di barisan depan, sedangkan Jimin, dia memilih untuk berjalan paling belakang dan sendirian—walaupun masih berada di dalam rombongan tersebut.

“Park Jimin, kau merasa baik-baik saja dengan semua ini. Hal seperti ini sudah berjalan setiap waktu dalam sepuluh tahunmu hidup di dunia ini,” gumam Jimin pelan menyemangati dirinya sendiri.

Mereka mengantre, menunggu piring makan siang masing-masing.

“Kau butuh bantuan?” tanya seseorang. Dari suaranya mirip seperti suara perempuan—atau memang perempuan.

Jimin menggeleng. “Tidak, terima kasih.”

Kini giliran Jimin.

Annyeong, Jimin~i,” sapa bibi yang berdiri di belakang meja pelayanan. Dia mengambil salah satu piring berbentuk persegi dengan beberapa petak kecil di dalamnya. Piringnya terlihat lengkap seperti biasanya, dengan nasi, sayur tumis, sup dan daging.

Ne, annyeong,” balas Jimin seraya tersenyum.

“Kau bisa membawanya?” tanya bibi itu.

Jimin mengangguk. “Aku selalu berhasil setiap melakukannya. Terima kasih karena mengkhawatirkanku,” katanya.

Jimin menuju ke rombongan teman sekelas yang bersama Suga tadi. Namun, baru saja Jimin akan mengklaim salah satu kursi, seorang anak laki-laki menyambar cepat kursi itu.

Mian, sudah penuh,” katanya, lalu mengabaikan Jimin dengan bergurau bersama temannya.

Suga tampak melirik Jimin yang membuang napas berat. Jimin berbalik, mencari kiranya meja kantin yang masih kosong—atau kursi yang masih bisa menampungnya. Ia menuju ke salah satu kursi. Dengan agak kesulitan, Jimin meletakkan piringnya. Ia mulai makan, menyumpit nasi, daging atau sayuraan secara bergilir menggunakan sumpitnya.

“Apa aku boleh duduk disini?” tanya perempuan yang menawari Jimin bantuan di barisan antrean tadi.

Jimin berdehem sembari menganggukan kepalanya. “Silahkan, Ahn Hee Yeon~ssi.”

“Tumben sekali kau tidak bergabung dengan mereka,” komentar Hee Yeon setelah memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.

“Tidak ada kursi yang tersisa untukku,” sahut Jimin tersenyum. Namun, Hee Yeon tahu, senyum itu sedang menunjukkan kegetiran.

“Baiklah,” sahut Hee Yeon. “Setidaknya, kau masih mempunyai teman duduk, kan? Kalau kau mau, kita bisa satu meja setiap hari.”

“Terima kasih, Hee Yeon.”

“Sama-sama.”

***

Malam pun menjemput. Suga dan Jimin tampak sedang sibuk di meja belajar mereka masing-masing. Tak satupun dari mereka yang berniat untuk berisik. Suasana hening memang sudah menyelimuti kamar mereka sejak tadi.

Hyung.” Jimin bergumam.

“Hm, kenapa?” sahut Suga. Ia memutar posisi tubuhnya hingga menghadap Jimin yang masih membelakanginya.

“Aku memikirkan ini sejak lama, Hyung,” kata Jimin. Ia juga memutar posisi tubuhnya hingga sekarang saling berhadapan dengan Suga.

“Apa? Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?”

“Apa kau memiliki sebuah cara agar mereka tidak mengabaikanku lagi? Ku pikir, mereka hanya mau berteman denganmu.”

Suga mengetuk-ketukkan telunjuknya pada dagunya, membuat sebuah ekspresi sedang berpikir. “Aku tidak pernah memikirkan hal seperti ini. Kenapa kau merasa terabaikan? Bukankah kita selalu bersama? Kita pergi ke sekolah bersama, makan di kantin yang sama, dan kita berada di satu meja kalau di kelas.”

“Benarkah? Apa hanya aku yang merasakan diriku diabaikan?”

“Mungkin ada cara untuk mengatasi ini,” kata Suga kemudian.

“Kau punya ide?”

“Sejauh ini aku masih memikirkannya.”

“Menurutmu, apa yang berbeda dari kita, Hyung? Kita kembar kan? Aku selalu yakin akan hal ini.”

Suga mengangguk. “Hm, tentu. Kita kembar dan kita adalah saudara.”

“Apa mereka mengabaikanku karena aku tidak normal?”

“Hei, Park Jimin. Kenapa kau menjadi seperti ini? Ku pikir bukan itu alasannya. Dari yang aku lihat, kau menjadi pendiam sejak saat itu. Kau hanya kurang agresif untuk mengajak mereka bercakap-cakap,” ujar Suga. “Dan, kau ini normal.”

“Mungkin itu yang terjadi beberapa tahun lalu, sebelum kecelakaan itu merenggut tangan kananku, Park Suga.” Mata Jimin memicing. “Terima kasih sudah menghiburku, Hyung. Ku pikir, aku punya cara untuk mengembalikan keadaan.”

°°°°°

Waktu memang bergulir begitu cepat sampai-sampai siapapun tak mampu untuk menghentikannya. Namun, Jimin sangat menyukai waktu yang bergulir cepat ini. Sekarang, semuanya telah berubah. Jimin pikir, apa yang dikatakan oleh Suga ada benarnya juga. Ia hanya kurang agresif untuk mengajak mereka bergaul.

Pagi yang berbeda dari pagi-pagi yang lalu di SMA Bangtan. Tapi, seperti biasa, Jimin dan Suga turun dari mobil pribadi yang mengantar mereka ke sekolah.

Annyeong,” sapa beberapa orang yang baru memasuki pintu gerbang sekolah. Mereka melambaikan tangannya pada Jimin.

“Oh, annyeong,” sahut Jimin sembari melambaikan tangannya.

Tungkai Jimin melangkah masuk menuju ke area sekolah, dan jangan lupakan Suga yang melangkah di belakangnya.

“Kau suka hidup seperti ini, Jimin~i?”

***

“Jimin, ayo bergabung bersama kami!” teriak salah seorang pemuda.

Seingat Jimin, dulu pemuda itu sering bersama dengan Suga. Dan, pemuda itu juga yang merebut kursi Jimin saat itu. Namun, berbeda dengan sekarang, dia tampak menyisakan satu kursi untuk Jimin.

“Tidak, terima kasih. Aku akan duduk disana,” kata Jimin sambil menunjuk meja dimana Hee Yeon sedang duduk sendirian.

“Oh, annyeong, Jimin~i,” sapa Hee Yeon.

Annyeong,” sahut Jimin. “Aku semakin nyaman untuk selalu duduk di kursi ini.”

“Hei… Kau sudah melakukannya puluhan kali sejak hari itu. Itu pasti akan berubah menjadi kebiasaan,” komentar Hee Yeon. “Omong-omong, akhir-akhir ini kau sangat gembira.”

Jimin mengangguk semangat. Sambil mengunyah nasi di dalam dalam mulutnya, ia menjawab, “tentu saja. Semakin hari, aku semakin banyak mempunyai teman.”

Hee Yeon tersenyum. “Kau benar. Kau tidak hanya memiliki aku sebagai temanmu sekarang. Tapi, teman-teman Suga yang awalnya mengabaikanmu adalah temanmu sekarang.”

“Aku senang hari ini akhirnya datang,” ujar Jimin.

“Tapi, tidakkah sekarang kau merasakan kekosongan yang sesungguhnya, Park Jimin?”

***

Sampai malam menjelang, Jimin selalu memikirkan ‘kekosongan’ apa yang dimaksudkan oleh Hee Yeon, karena ia merasakan hidupnya begitu penuh sampai saat ini.

 

From : Hee Yeon

Belum tidur?

 

Sebuah pesan masuk dari Hee Yeon. Hidung Jimin pun mengernyit.

 

To : Hee Yeon

Tumben sekali. Belum. Ada apa?

 

Setelah beberapa saat menunggu, pesan balasan dari Hee Yeon masuk.

 

From : Hee Yeon

Apa yang sebenarnya terjadi? Kau bersama siapa sekarang?

 

Lagi-lagi Jimin mengernyit. Dia pikir, ada yang salah dengan temannya yang satu ini.

 

To : Hee Yeon

Apa yang kau maksud? Semuanya normal sampai sekarang. Sendirian.

 

Ponsel Jimin kembali berbunyi.

 

From : Hee Yeon

Apa kau ada hubungannya dengan kematian Suga? Dan, kenapa kau tidak pernah menjelaskan bagaimana kau mendapatkan kembali tangan kananmu, Park Jimin? Kau tidak sendirian, teman.

 

Jimin mengernyitkan dahinya. Dari ekspresinya, sepertinya dia mulai tersulut emosi.

 

To : Hee Yeon

Kau menuduhkan sesuatu yang tidak-tidak padaku. Aku membayar mahal untuk implantasi tangan kananku. Dan, kematian Suga, hal itu murni karena kecelakaan. Lalu, apa maksudmu ‘aku tidak sendirian’?

 

From : Hee Yeon

Dia mengikutimu kemanapun kau pergi, Park Jimin. Setiap kali aku melihatnya, dia  selalu menyukai apa yang kau lakukan sekarang. Tapi, tidak dengan hari ini. Berhati-hatilah.

 

“Apa ini? ‘Dia’ siapa yang dimaksud olehnya?” gumam Jimin. Ia memutuskan untuk mematikan ponselnya malam ini dan segera menuju ke ranjang tunggal di dalam kamarnya.

Jimin menarik selimut hingga menutupi lehernya. Ia masih terjaga. Jimin menoleh ke samping kanan. Dulu, disana tempat tidur milik Suga diletakkan, dan sekarang tata ruangnya sudah diganti dengan meletakkan lemari disana.

Tunggu!

Sejak kapan tempat tidur milik Suga disana lagi?

Jimin membulatkan matanya. Dia kemudian berbalik ke arah berlawanan dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Napasnya terdengar memburu.

“Jimin~i….” Jimin memejamkan matanya. Dia mendengar suara Suga yang bergema seram.

Anniya. Kau tidak benar-benar ada, Hyung. Kau sudah pergi meninggalkan dunia ini. Kau tidak mungkin kembali,” gumam Jimin.

“Jimin~i….”

Anniya.”

“Aku tidak pernah berpikir untuk menyingkirkanmu, Jimin, tapi kenapa kau malah melakukan ini padaku huh?”

“KYAA!”

Jimin berteriak ketika ia membuka matanya. Ia berusaha keluar dari dalam selimut, namun selimut itu seperti diberi lem. Jimin meronta-ronta. Ia berusaha menghindar dari Suga yang sedang berada di hadapannya dengan darah yang keluar dari bahu kanannya yang tanpa lengan.

“Kita kembar dan kita adalah saudara, bukankah lebih baik jika kita selalu bersama, Park Jimin?”[]

 

°°°°°

FIN~

°°°°°

 

A/N : Annyeong haseyo…

Pertama-tama, salam kenal untuk kalian semua yang bersedia membaca fanfiksi singkat ini. Selanjutnya, aku ingin berterima kasih untuk ChoDella 😀 Seperti yang kau ketahui, aku membuat ff requestmu untuk aku ikutkan di dalam event ini xD Mian, tapi aku benar-benar terancam kena writersblock. /ketawa nista/

Lalu, aku rasa, semuanya yang membaca ini sepertinya akan sangat kebingungan dengan alur ceritanya xD Disinilah aku (?) yang akan menjelaskan alur apa yang sebenarnya aku maksud disini.

Oke, seperti yang sudah kalian baca, iyap, kalian tahu? /ditampar/ Aku telah membuat seorang Jimin menjadi—ah—sungguh, aku tidak sanggup. Ya, di dalam cerita, ia sangat iri dengan Suga (yang merupakan saudara kembarnya). Ku pikir, yang kalian bingungkan adalah bagian “Waktu memang bergulir begitu cepat sampai-sampai….”

Baiklah, pada bagian itu Suga sebenarnya sudah tidak ada. Jadi, deskripsi yang aku jelaskan dia turun dari mobil dan melangkah di belakang Jimin dalam sosok tidak nyata. Dan, untuk Hee Yeon, kenapa dia tahu ada Suga di dekat Jimin? Di dalam fanfiksi, Hee Yeon memiliki indra keenam, hanya saja tidak aku jelaskan secara signifikan.

Sejujurnya, aku tidak berpikir kalau mereka ini mirip (?). Tapi, entah kenapa aku malah buat alur seperti ini. Dan, aku rasa, membuat JiminSuga menjadi anak kembar adalah ide konyol /gelindingan/

Mungkin itu saja. Kalau ada yang masih tidak dimengerti, silahkan bertanya.

Akhir kata: Terima kasih. Jangan lupa mampir ke whitechokyulate.wordpress.com … Itu adalah alamat gubuk pribadiku. Mungkin ada yang minatt berkunjung untuk sekedar minum teh (?), silahkan~

Annyeong

Advertisements

5 thoughts on “[Monochromic Youth] TWINS CONFLICT – OneShot

  1. astagaa ff nya seru banget thor. ntah karena emg aku yg suka jalan cerita gaketebak gini atau emg ff nya yg menarik tp ini bnr bnr unik thor hehe agak lebay sih tp aku jujur loh hehe
    btw keep writing ya thor
    fighting!

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s