[Monochromic Youth] Revenge – Oneshoot

revengeTittle : Revenge

Author : nisrinadc

Cast : · Park Ji Min (BTS)

  • Kim Ji Ho (Oh My Girl)
  • Bae Ji Eun (OC)
  • Kim Jin Hwan (iKON)

Genre : School life, Horror, Mystery, Fantasy

Length : Oneshoot

Rating : PG-15

Disclaimer

FF ini murni dari otak saya, dan castnya murni milik Tuhan Yang Maha Esa. Saya membuat FF ini hanya untuk kepentingan saya pribadi dan bukan untuk merusak atau menjelekkan karakter asli para cast…

 

 

Summary :

“aku tidak bisa memaafkan kalian, sudah cukup aku tersakiti karena kalian, kalian harus mati ditanganku”

^Let’s Story Begin^

      Sejenak aku menatap nama sekolah di depanku. Angin di pagi hari sungguh menyejukkan. Ku pejamkan mataku sembari menghriup udara segar. Lalu kakiku melangkah masuk menuju gerbang. Wajah satpam yang menunggu gerbang tersenyum ramah padaku, aku hanya membalasnya dengan menunduk.

      Jika dibilang, sekolah ini sangat sederhana dibandingkan dengan sekolahku di Seoul. Tentu saja, sekolah ini terletak sangat jauh dari kota. Tapi penampakan wajah siswa disini terlihat sangat ramah dan menyenangkan.

      Aku melihat – lihat sekeliling sekolah sekalian untuk menemukan kelasku. Mataku menangkap kerumunan yang sedang ramai berkumpul. Apa yang terjadi ? tanpa basa – basi, kakiku bergerak menuju kerumunan tersebut.

                Astaga !

 

      Betapa terkejutnya aku saat melihatnya. Kututup hidungku dengan tangan saat mencium bau anyir darah yang tidak kusukai. Perutku bahkan sudah berkonstraksi untuk mengeluarkan isinya. Sungguh, aku tidak kuat dengan bau ini. Akhirnya aku menjauh dari kerumunan itu untuk mendapatkan udara normal. Pikiranku masih terbayang dengan apa yang baru ku lihat.

      Mayat seorang gadis yang tergeletak dengan kepala yang terpisah. Ditambah aliran darah segar yang masih mengalir dari tubuhnya. Apa gadis itu dibunuh ? tapi alasan apa dia dibunuh ? dan, siapa yang membunuhnya ?

o0o

                “halo, perkenalkan namaku Park Ji Min, kalian bisa memanggilku dengan Jimin saja”

      Setelah melewati sesi perkenalan dimana siswa baru harus memperkenalkan dirinya agar lebih dekat dengan teman – teman barunya. Aku membungkuk sembari meminta bantuannya selama aku menjadi siswa di sekolah ini. Seokjin seonsaenim segera menyuruhku untuk duduk di salah satu bangku yang kosong.

      Ku letakkan tasku di samping meja. Aku juga sempat melirik seorang pria yang duduk bersebelahan denganku wajahnya sangat tenang dan dingin. Aku tidak suka wajah seperti itu. Mungkin aku akan merindukan sosok Taehyung yang seperti alien itu.

                “hai, namaku Jimin, siapa namamu ?”

      Aku berusaha untuk berkenalan dengannya.

                “Kim Jinhwan” ujar pria yang ternyata bernama Jinhwan itu dengan singkat tanpa menatapku.

o0o

      Suara riuh siswa – siswi menambah keramaian di kantin ini. Entah itu suara yang sedang berteriak karena mengantri, atau suara yang sedang bergosip. Ditambah pula suara sumpit besi yang bersentuhan dengan wadah makanannya. Tentu hal yang biasa menikmati makanan di sebuah kantin sekolah yang tidak pernah sepi.

                “Jinwhan-ssi ? boleh aku duduk disini ?”

      Aku menghampiri Jinhwan yang sedang makan sendirian di sudut kanan kantin.

                “silahkan”

      Aku tersenyum saat Jinhawan mengizinkanku. Tak ada orang disini yang ku kenal selain Jinhwan. Wajahnya saja dingin seperti itu, tapi bisa saja saat aku mengenalnya lebih dekat dia bukanlah pria seperti itu.

                “Annyeong

      Seorang gadis sedang membawa nampan dan tersenyum kepadaku dan Jinhwan. Aku lalu melirik Jinhwan. Seakan tau maksudku ia berkata “dia pacarku”

      Pacarnya ? ternyata seorang Jinhwan memiliki pacar. Ku kira ia mungkin tidak mempunyai teman sama sekali. Dari yang ku perhatikan ia tidak berinteraksi dengan para siswa di sekolah ini selain aku.

                “aku Kim Jiho, kau Park jimin bukan ?”

      Bagaimana dia tahu namaku ? apakah aku langsung terkenal karena ketampananku disini. Baru aku ingin bertanya, gadis itu sudah memberitahuku duluan.

                “aku tau dari Jinhwan saat di depan kelas”

      Aku hanya mengangguk mengerti. Gadis itu, tidak namanya Jiho ia tersenyum dan meletakan nampannya di meja. Aku melanjutkan acara makanku yang sempat terhenti tadi.

o0o

      Hari sudah semakin larut. Matahari yang tadinya bersinar begantikan bulan yang hanya menampakkan sebagian karena sekarang bukanlah bulan purnama. Setelah mengembalikkan buku – buku dari perpustakaan aku segera pulang ke rumah.

      SREEKK … SREEKK …

 

      Omo! Suara apa itu ? ku hentikan langkah kakiku yang sedang berjalan di koridor sekolah. Gelap. Yah, mengingat pelajaran sudah selesai 1 jam yang lalu. Aku melihat sekelilingku, yang mungkin aku bisa menemukan sesuatu.

      AAAAA!!~~~

 

      Siapa itu ? siapa yang berteriak ?! aku berlari mencari sumber suara itu. Jantungku sudah mulai berdetak tidak karuan. Keringat juga sudah membasahi tubuhku dan wajahku. Otakku sudah menyiapkan beribu pertanyaan yang harus dijawab. Tapi dalam kondisi seperti ini tidak yakin jika semua pertanyaan itu terjawab.

      Langkahku terhenti lagi saat melihat siluet orang yang berjalan menjauh membelakangiku. Aku juga tidak bisa melihatnya karena terlalu gelap, tapi satu hal yang ku ketahui ia seperti seorang gadis. Ia berjalan membelok ke kiri.

      Entah kenapa aku langsung mengejar gadis itu. Membelok ke arah kiri. Aku melihat sejenak mencari gadis itu yang kini sudah menghilang tanpa jejak. Secepat itukah gadis itu menghilang ? padahal ia baru saja belok jalan ini.

                “permisi..”

      Astaga !

      Seseorang menepuk pundakku dan membuatku terkejut. Aku membalikkan badan dan melihat Seokjin seonsaenim. Segera aku membungkukan badan sebagai sapaan.

                “bukankah kau siswa baru di kelas 2-2 ? sedang apa kau disini ?” guru itu langsung memberiku pertanyaan.

                “aku.. aku tadi dari perpustakaan dan akan pulang~ emm.. kalau begitu aku pulang dulu ssaem, a.. annyeong haseyo” ucapku sedikit gugup sambil membungkuk pada Seokjin seonsaenim.

                “baiklah, hati-hati di jalan”

o0o

                “JIMIN-ssi !!”

      Aku menoleh saat seseorang memanggilku. Oh ternyata Jiho dan Jinhwan. Pasangan itu terlihat sangat serasi jika berduaan.

                “kau baru datang ?” tanya Jiho kepadaku.

      Aku hanya menganggukkan kepala dengan pelan. Lalu kami bertiga bejalan menuju kelas. Ku lirik lagi pria bernama Jinhwan itu. Dingin. Ya wajahnya seperti itu, tidak seperti pacarnya yang terlihat sangat periang.

      Aku terdiam sejenak. Hidungku menangkap bau itu lagi, bau anyir darah yang sangat tidak ku suka. Saat melihat sekeliling, dan benar saja, beberapa siswa sedang mengerubungi sesuatu. Kakiku melangkah untuk mendekatinya.

      Betapa terkejutnya aku saat melihat mayat seorang gadis dengan kepala yang terpisah dan darah yang masih mengalir segar seperti baru saja dibunuh. Sejenak aku memikirkan kejadian tadi malam yang membuatku penasaran. Apa ada hubungannya dengan mayat itu ?

                “Jimin-ssi ? kenapa kau ? ayo ke kelas..” Jiho menarikku dari kerumunan untuk menjauh.

      Aku memandang mereka berdua seakan meminta jawaban dari mereka. Tapi wajah mereka terlihat gugup, terutama Jinhwan yang memalingkan wajah dan sedikit terlihat dari wajahnya kalau dia ketakutan.

      Ada apa ini ? kenapa kejadian seperti ini terjadi di sekolah ini ? ditambah setelah masuk dan memulai pelajaran tidak ada yang membicarakan kejadian itu. Mereka semua sangat tidak peduli.

o0o

                “aku aku pulang seka–”

      Ku jauhkan sedikit ponselku dari telinga. Aku terdiam sejenak. Suara itu. Suara yang kemarin kudengar di koridor muncul kembali.

                “yeoboseyo ? yeoboseyo ?  yak !! jiminnie !!”

      Aku sedikit terkejut saat Ibuku berteriak dari telepon.

                “aku akan pulang, eomma.. annyeong

      Kumatikan teleponnya dan beralih ke suara yang sejak awal sudah membuatku penasaran. Aku segera keluar dari perpustakaan dan pergi menuju koridor. Gelap. Ya kegiatan mengajar sudah usai. Hanya tinggal 1 atau 2 orang yang masih berkeliaran di sekolah.

      Siluet itu muncul lagi. Namun kali ini sedikit lebih jelas. Dan memang benar jika siluet itu adalah sosok seorang gadis dan ia mengenakan seragam sekolah yang sama denganku. Aku bersembunyi saat melihat gadis itu mendekatiku.

      Aku mengikutinya berjalan. Sampai pada akhirnya ia berhenti di depan kelasku. Ia menyentuh gagang pintu itu dan bersiap untuk membuka, namun tangannya terhenti dan berbalik menghadapku. Aku sedikit terkejut lalu pura – pura melihat hal lain.

                “kau.. mengapa kau mengikutiku ?”

      Kepalaku melihat sekitar. Mungkin gadis itu sedang berbicara dengan orang lain.

                “park jimin-ssi”

      Bagaimana dia tau namaku ? bahkan melihat dia saja aku belum pernah. Jika dilihat wajahnya terlihat sangat pucat. Apa dia sakit ? tatapannya sangat tajam menatapku, sedikit ngeri melihatnya.

                “ba..bagaimana k…k..kau tau namaku” aku sedikit gugup.

      Tiba – tiba wajahnya tersenyum lembut kepadaku.

      TUKK

 

                “jimin-ssi ?”

      Seseorang menepuk pundakku dan reflex aku terkejut. Dan ternyata dia adalah Jiho. Gadis ini memang sering mengagetkan orang secara tiba – tiba.

                “apa yang kau lakukan disini ?” tanyanya kepadaku.

                “aku ? emm.. dia–”

      Dimana gadis itu ? cepat sekali menghilangnya.

                “siapa ?”

                “ah, tidak”

                “dimana Jinhwan ?”

      Aku bertanya kepada Jiho untuk mengalihkan pembicaraan.

                “aahh.. dia sudah pulang”  jawab gadis itu.

                “kau sendiri ? sedang apa kau disini ?” tanyaku kepada Jiho.

                “aku tadi dipangil Seokjin seonsaenim untuk ke ruang guru” aku hanya ber-oh ria.

                “ayo kita pulang, sudah malam” ajak Jiho dan aku hanya mengangguk dan mengikutinya berjalan.

      Aku sempat mencari – cari gadis itu. Kemana ia pergi ? apa dia sudah pulang ?

o0o

      Entahlah apa yang terjadi pada diriku saat ini. Semenjak aku bertemu gadis pucat itu aku sering menemuinya setelah pulang sekolah. Ia selalu berjalan sendirian dan masuk ke kelasku lalu duduk di bangku paling belakang sambil termenung. Kini satu hal yang aku tahu dari dirinya. Ia bernama Bae Jieun.

                “oh, Jimin-ssi ?” akhrinya Jieun menyadari keberadaanku.

                “kenapa kau sering sekali berada disini ?” aku duduk di di kursi yang berada di depannya.

                “aku sedang memikirkan eomeoni dan abeoji, aku gagal membahagiakan mereka”

      Di tertunduk. Oh apakah ia kini sedang curhat denganku ? tapi dari caranya ia bercerita sepertinya ia sangat sedih sekali. Memangnya ia gagal kenapa ? bukankah masih banyak sekali kesempatan.

                “masih ada waktu untuk memperbaikinya”

      Mungkin kata – kataku ini dapat menenangkannya. Namun dengan cepat ia mendongakkan kepalanya dan malah menatapku membuatku sedikit risih.

                “waktu ? aku sudah tidak bisa”

                “kenapa tidak bisa ?”

                “kau.. kau tidak tahu Jimin, kau tidak tau”

      Kini Jieun kembali tertunduk. Aku mendengar suara sesenggukkan. Apa dia menangis ? ayolah, apa yang tidak aku ketahui, bukankah kata – kataku benar. Ia masih memiliki waktu untuk memperbaiki dan bisa membahagiakan orang tuanya.

                “sebaiknya kau pulang”

                “apa ?” tanyaku bingung walau aku tau apa yang ia bicarakan.

                “pulang, apa kau tidak mengerti ?”

                “kau ?”

                “aku ? untuk apa kau peduli padaku ? sana pulang”

      Aku lalu beranjak dari tempat duduk dan menjauh darinya. Seperti permintaannya tadi.

o0o

                “emm.. jimin-ssi akhir – akhir ini aku sering melihatmu pulang sangat larut”

      Aku sedang berada di kelas setelah tadi ke kantin untuk makan siang. Jiho lalu bertanya kepadaku. Bagaimana dia tau jika aku sering pulang larut ?

                “aku menemui salah satu siswi, dan ia sering sekali berada di kelas ini”

      Saat aku bercerita alasanku mimik wajah Jiho dan Jinhwan berubah terkejut.

                “boleh aku tau siapa siswi itu ?”

      Kenapa wajah mereka ketakutan seperti itu ? apa dia mengetahui siswi itu ? tapi dia kan selalu sendirian.

                “aku juga tidak tau jelas siapa dia tapi namanya adalah Bae Ji Eun”

      Aku melihat mereka berdua lebih terkejut dari sebelumnya. Bahkan telapak tangan Jiho menutup mulutnya. Mereka seperti menyembunyikan sesuatu dariku.

                “kenapa ?”

      Mereka berdua saling memandang. Bahkan terlihat dari tenggorokkannya mereka seperti ingin menelan saliva namun sangat sulit.

                “eumm.. begini, Ji.. Jieun itu” Jiho nampak terlihat sulit bicara.

                “siapa dia ? apa kalian menyembunyikan sesuatu ?”

                “dia sebenarnya sudah meninggal” ucap Jinhwan dengan lantang.

      Apa ? apa yang mereka bicarakan ? tidak mungkin. Gadis yang bernama Jieun itu sudah meninggal ? lalu yang kutemui itu.

                “apa kalian bercanda ?”

                “kami tidak bercanda”

o0o

      Malam ini aku mengajak mereka –Jinhwan & Jiho–  untuk menemui Jieun. Sungguh kepalaku sangat pusing untuk memikirkan hal ini.

                KU MOHON MAAFKAN AKU

 

                AAAAA!!!!!~

 

      Aku terkejut saat mendengar suara itu. Suara yang hampir tiap malam aku dengar setelah bertemu dengan Jieun. Jinhwan dan Jiho juga terlihat sedikit gugup. Aku berjalan untuk menemui sumber suara itu.

      Dan berhenti di dekat loker yang berada tepat di bawah tangga. Betapa terkejutnya aku saat melihat sesosok mayat siswa dengan kepala yang sudah terpenggal.

      SREEKK … SREEKK …

 

      Suara itu terdengar lagi. Seperti sebuah besi yang sengaja di tarik di lantai. Dan suara itu semakin mendekat.

                “apa kabar Jinhwan-ssi dan Jiho-ssi ? lama tidak bertemu”

      Aku menoleh saat mendengar ada seseorang yang berbicara.

      Bae Jieun ?

      Apa yang dia lakukan disini ? dan mengapa ia membawa gergaji mesin ditangannya ? apa dia telah melakukan sesuatu ?

                “Ji..Jieun-ah” ucap Jiho gugup.

                “kau merindukanku ?” Jieun menunjukkan senyum smirk.

      Oh Tuhan, apa mungkin yang dikatakan Jiho benar jika Jieun.. ah sudahlah, sekarang Jieun berjalan mendekati kami sambil membawa gerjai itu dan mulai menyalakannya.

                “aa.. apa yang kau lakukan Jieun-ah ?” telapak tangan Jinhwan terbuka lebar menunjukkan ke lima jarinya. Ia ingin menghentikan pergerakan Jieun.

                “Jimin-ssi kau yang mengajak mereka kemari hmm ?” Jieun mulai menatapku.

                “Jieun-ah ku mohon hentikan !!” Jiho mulai berteriak ketakutan.

      Gergaji yang tadinya tenang kini bergetar karena sudah dinyalakan oleh Jieun. Apa yang akan ia lakukan ?

                “aku minta maaf Jieun-ah” telapak tangan Jiho menyatu meminta maaf pada Jieun.

      Sungguh aku tidak tau kejadian apa yang sudah terjadi. Dan bagaiman bisa Jieun meninggal ? Tersirat dari wajahnya jika ia sangat emosi saat ini.

                Flashback (Author pov.)

 

                “lihat baik – baik huh !! kau bahkan tidak pantas bersekolah disini !! dasar wanita jalang !!”

      Teriak seorang Jiho kepada Jieun lain sambil menjawmbak rambutnya. Air mata Jieun sudah tidak bisa dibendung lagi dan akhirnya keluar dengan sangat deras. Ia sudah tidak tahan lagi di bully oleh anggota itu. Ya anggota yang terkenal garang dan suka membully siapa saja termasuk Jieun.

                “sekarang, gara – gara kau !! kami harus di skors selama satu minggu”

                “akhh.. Jiho, le.. lepaskan aku akhh..”

      Lagi – lagi Jieun hanya merintih kesakitan tanpa orang lain yang tahu. Mengingat mereka sedang berada di sudut sekolah tempat barang – barang tidak terpakai. Anggota itu hanya memandang Jieun dengan penuh kemenangan.

                “aku tidak akan melepaskanmu!!  Jinhwan.. ambil gergaji itu”

      Seseorang yang dipanggil Jinhwan itu langsung mengambil gergaji mesin yang tergeletak di dekat meja yang tidak terpakai.

                “maafkan aku Jiho, maafkan aku”

      Sedari tadi Jieun terus saja meminta maaf dan Jiho tidak merubah tindakannya itu. Kini mesin gergaji itu mulai bergetar karen telah dinyalakan oleh Jinhwan. Mata Jieun terbelalak saat Jiho mendekatkan gergaji yang menyala itu ke wajahnya.

                “kau.. kau harus mati sekarang juga Jieun !!”

                “AAAAA!!!~”

      Tepat saat itu, gergajinya sudah memenggal kepala Jieun dengan satu gerakan. Darah mulai mengalir kemana – mana. Jiho yang melihat itu tersenyum licik dan pergi diikuti anggota lainnya.

                Flashback End

 

                “apa kau tau Jimin-ssi, selama ini kau di bodohi oleh orang ini, mereka telah membullyku dan membunuhku, dan AKU JUGA INGIN MEREKA MERASAKAN APA YANG AKU RASAKAN !! KARENA MEREKA, AKU TIDAK BISA MEMBAHAGIAKAN ORANG TUAKU !!”

      Aku melirik mereka berdua. Dan mereka hanya menatapku yang bahkan aku tidak bisa mengartikannya. Gergaji itu mulai mendekat ke wajah Jinhwan dan Jiho, saat mereka ingin mundur tembok mengahalanginya dan mereka tidak bisa pergi darimana – mana. Mereka sudah terpojok.

                “sebaiknya tenangkan dirimu, kau tidak bisa seperti ini”

      Mata Jieun menatap tajam ke arahku, ditambah air mata yang mulai berlinang di pelupuk matanya. Wajahnya terlihat sangat emosi.  Aku hanya bergidik ngeri melihatnya.

                “KAU TIDAK USAH IKUT CAMPUR !!” teriak Jieun kepadaku.

                “Jieun-ah maafkan aku”

                “tidak ! aku sudah terlalu tersakiti oleh kalian, sekarang aku ingin kalian merasakan apa yang aku rasakan”

      Tubuhku membeku begitu saja. Aku tidak bisa berbuat apa – apa. Bukan, bukan aku mendukung Jieun. Bahkan tepat saat satu gerakan Jieun telah memenggal kedua kepala itu. Sama sekali tanganku tidak mencegahnya. Ya Tuhan, hukumlah aku kalau memang aku bersalah.

      Jieun terduduk lemas. Gergajinya ia letakkan sembarang. Air matanya mengalir sangat deras sambil melihat mayat Jiho dan Jinhwan yang mengalir darah yang sangat banyak.

o0o

      Pagi harinya aku melihat banyak sekali polisi berdatangan ke sekolah. Mereka menemukan mayat Jieun yang sudah mulai membusuk. Anehnya bau ini baru tercium hari ini. Sedangkan Jieun dibunuh 6 bulan yang lalu sebelum aku pindah. Para siswa juga terheran akan hal itu. Namun mereka selalu merasa dingin saat akan melewati sudut sekolah.

      Mayat Jiho dan Jinhwan juga sudah dibawa oleh polisi. Dan aku juga telah mendengar cerita dari teman sekelasku jika Jieun sering di bully oleh Jiho dan teman seanggotanya. Mereka menyesal karena tidak pernah menolong Jieun saat disiksa. Padahal Jieun sangat baik pada mereka semua.

      Pelajaran dimulai seperti biasa. Saat Seokjin seonsaenim  masuk, ia berkata jika ada murid baru hari ini. Woah, siapa murid baru itu ?

                “silahkan masuk”

      Kim Taehyung ?

                “annyeong haseyo, namaku Kim Taehyung”

      Betepa terkejutnya aku saat sahabat terbaikku di Seoul kini satu kelas lagi denganku. Dia menyadari kehadiranku dan tersenyum bodoh seperti biasanya. Dasar alien bodoh.

 

THE END

Advertisements

3 thoughts on “[Monochromic Youth] Revenge – Oneshoot

    1. nisrinadc

      Kan biar ngga ketauan klo jiho pembunuh, knp nempel sama jinhwan selain dia pacarnya jinhwan, agar jiho keliatan gadis baik pada umumnya di mata jimin 😀 gitu hehehe ga paham yaa :3 btw, thanks ya udah baca ^^

      Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s