[Monochromic Youth] The Opposite Track – Oneshoot

PicsArt_1450947706756Judul              : The Opposite Track.

Author            : HCHNSSI (@hchnssi)

Rating             : T

Cast                :  Jeon Jungkook ; Jung Hoseok ; Kim Namjoon ; Min Yoongi ; Kim Taehyung ;                Park Jimin ; Kim Seokjin.

Genre             : Drama, Comedy

Disclaimer      : “Cerita ini adalah milik saya, Ini hanya fiksi belaka dan tidak ada hubungannya                           dengan kenyataan”

Length            : Oneshoot – White Ver.

Summary : “Apakah kau lebih memilih menjadi ‘penonton’ dan melihat teman-temanmu tengah berusaha keras menggapai keinginan dan cita-cita mereka? Sedangkan dirimu? Sudah tertinggal jauh, dan hanya bisa merenung dengan pikiran ‘apakah aku masih memiliki kesempatan yang sudah kulewati selama ini?’ yang terus terngaing di kepalamu.”  

“It’s not about them, It’s about us. To choose our own path.”

.

.

.

Seoul,2015

‘Trak’

Benturan gelas kaca dengan meja kayu yang berada di Bar tempat Jungkook tengah melamun menatap gelas kaca tersebut dengan tatapan kosong, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Jika dilihat dengan penampilannya saat ini, ia terlihat sangat kusut. Penampilannya benar-benar kacau saat ini. Ia menggaruk-garuk puncak kepalanya kesal lalu menyembunyikan wajahnya di balik kedua lengannya yang terlipat diatas meja kayu tersebut.

Di depannya terlihat seorang bartender yang tengah sibuk menyiapkan minuman pesanannya dan menuangkan minuman tersebut kedalam gelas kaca yang berada di hadapan Jungkook, suara tuangan minuman yang ditimbulkan bartender itu menggema di penjuru ruangan Bar. Jam yang sudah menunjukan pukul 11 malam waktu Korea Selatan, Seoul. Sudah waktunya Bar tersebut untuk tutup.“Hei, bangunlah! Ini cocktail terakhirmu, cepat habiskan dan pulanglah. Jangan keras kepala!” Ucap bartender yang menyuguhi Jungkook minuman.

“Ah, aku benar-benar tidak ingin pulang saat ini,hyung. Kondisi rumah saat ini sangat kacau, aku tidak ingin terlibat lagi.” Keluh Jungkook kepada lawan bicaranya yang ia panggil dengan sebutan kakak laki-lakinya itu.

“Hei! Hoseok! Bagaimana dengan pelangganmu itu huh? Tidak mau beranjak juga? Sudah 3 jam dia duduk disana dan memesan minuman yang sama sebanyak 5 kali. Daripada kau menganggur disana, lebih baik kau membantuku memindahkan kardus-kardus ini ke dalam gudang.” Ucap teman kerja bartender itu –Hoseok- dengan suara sedikit memekik.

“Tidak sekarang, Nuna. Sisakan saja beberapa, aku akan menaruhnya saat jam shift-ku selesai.” Balas Hoseok, dan membuat teman kerjanya itu berlalu membawa beberapa kardus tersebut kedalam gudang.

‘Rrrrrr’

Dering ponsel terdengar dan bergetar diatas meja kayu yang tak jauh dari tempat Jungkook dan Hoseok berada. Tertara dilayar yang menampilkan “Rumah”

“Angkatlah, orang dirumah sepertinya khawatir kepadamu karna kau telah lari dari rumah 2 hari yang lalu tanpa kabar.” Bujuk Hoseok, berharap temannya itu merubah pikirannya dan kembali ke rumah.

“Tidak, aku tidak ingin bicara dengan mereka.” Jawab Jungkook singkat meraih gelas cocktail di depannya dan menghabiskannya dalam satu teguk.

“Kau sudah gila huh? Kau sudah minum 6 gelas dan kau menghabiskan semuanya dalam satu teguk, kau akan tumbang dalam sekajap!”

“Masa bodoh! Toh, tidak ada yang peduli kepadaku.”

“Hei, mau sampai kapan kau begini huh? Cepat bangun dan kembali ke akal sehatmu, jika ayahmu tahu kau menghabiskan uang di tempat seperti ini. Ia pasti sudah membunuhmu saat ini juga.”

“Aku tidak peduli.”

Mendengar jawaban Jungkook, Hoseok menghela nafasnya dengan berat. Dia sudah tidak tau harus membujuk temannya itu dengan cara apa lagi, dia benar-benar keras kepala.

“Hei, Dengar. Mau sampai kapan kau seperti ini? Apa kau ingin tertinggal terus seperti ini? Kau tidak memiliki cita-cita atau keinginan untuk melanjutkan hidupmu kedepannya? Kau lebih memilih menghamburkan uangmu dengan hal tidak berguna seperti ini?”

Jungkook terdiam sesaat, mendengar omongan Hoseok.

“Kau tahu? Min Yoongi hyung, saat ini dia berhasil menjadi trainee di agensi ternama berkat usaha kerasnya selama ini. Park Jimin, teman sekelasmu itu menjadi pegawai kantoran di bidang juru ketik, sedangkan kedua kakak-beradik jenius di kelompok kita itu, Kim Seojin dan Kim Taehyung keduanya terpisah. Taehyung melanjutkan kuliahnya di bidang ekonomi untuk melanjutkan bisnis ayahnya di Luar Negeri sedangkan Seokjin hyung mengikuti Wajib Militer.” Jelas Hoseok panjang lebar sembari merapikan meja Bar.

“Lalu, bagaimana dengan Namjoon hyung?” Tanya jungkook saat menyadari nama salah satu teman mereka tidak tersebut.

“Emm, dia..dia masih mengaggur, namun hubungannya masih baik dengan Seolyun sampai saat ini.”

“Ah, sudah kuduga pasangan bodoh itu.” Gumam Jungkook yang masih terduduk di kursinya.

“Sudahlah, lebih baik kau pikirkan baik-baik perkataanku saat kau tiba di rumah. Cepatlah pulang! Aku harus menutup Bar sekarang.” Perintah Hoseok yang sekarang sibuk mengangkat tumpukan kardus yang masih tergeletak dilantai sepeninggal teman kerjanya itu.

“Harus aku bilang brapa kali hyung ? Aku tidak akan kembali ke rumah sebelum pikiranku tenang.” Tegas Jungkook yang tetap pada pendiriannya dan masih tetap duduk di tempatnya.

“Baiklah-baiklah, malam ini saja. Tidak ada lagi! Ini untuk terakhir kalinya aku membantu orang yang kabur dari rumah sepertimu.” Ucap Hoseok pada akhirnya mengalah dan melanjutkan kegiatannya memindahkan kardus ke dalam Gudang sebelum menutup Bar tempat kerjanya itu.

.

.

.

Seoul,2007

‘Tak’

Pukulan tongkat baseball dengan lemparan bola mengenai sasaran, bola pun melambung tinggi. Sang pelempar pun berlari mengintari lapangan untuk mencapai finish.

“Namjoon! Cepat kejar dia! Dasar payah!” Seru teman-temannya itu yang berdiri di lapangan di posisi mereka masing-masing.

Jimin –si pelempar- berlari kencang berusaha mencapai titik finish dengan posisi aman.Namun Namjoon tak mau kalah dan berlari dari arah yang berlawanan.Namun sayang sekali terjadi kecelakaan kecil yang menyebabkan pergelangan kaki kiri Jimin terkilir dan mau tidak mau kaki kirinya harus dalam keadaan di bungkus dengan kain coklat dan dengan bantuan tongkat yang membantunya untuk berdiri dengan normal.

“Kau terlalu bersemangat! Kalau perlu skalian saja kau patahkan kakimu itu huh?” Ucap Seokjin yang berjalan di samping Jimin sembari membantunya berjalan.

“Eii hyung,kau ini haha.” Balas Jimin yang masih tersenyum layaknya tidak merasa kesakitan sama sekali.

“Wah, kau bahkan masih bisa terseyum?” Spontan Seokjin menjitak kepala Jimin dan membuatnya meringis kesakitan disusul dengan tawa ke-5 temannya itu.

Terlihat dari kejauhan seorang gadis berlari menyusuri lorong Rumah Sakit dengan tergesa-gesa mendekati mereka, wajahnya terlihat pucat.

“Namjoon!” Seru gadis itu langsung memeluk laki-laki yang ia panggil itu. “Kau tidak apa-apa? Apa kau terluka? Tidak ada luka yang serius bukan?” Lanjut gadis itu yang tak berhenti melempar pertanyaan kepada kekasihnya itu.

“Hei, bukan maksudku ingin mengganggu moment kalian berdua. Tapi orang yang terluka berada disini.” Potong Jimin sambil menunjuk dirinya sendiri namun tidak digubris oleh Seolyun yang tetap khawatir kepada Namjoon.

Suara tawa temannya pun terdengar kembali kecuali Namjoon, terlihat Seolyun kekasihnya itu masih khawatir dan ingin mendengar jawaban dari Namjoon.

“Aku tidak apa-apa, jangan khawatir. Aku laki-laki yang kuat.” Jawab Namjoon pada akhirnya dan membuat kegelisahan dihati Seolyun menghilang dalam sekejap.

“Kau salah orang untuk bertanya keadaan,nuna. Laki-laki itu memiliki kekuatan penghancur tanpa ia sadari. Lihatlah, kakiku ini.” Kini Jimin kembali bersuara dan memasang wajah sedihnya membuat orang-orang di sekitarnya merasa jijik dengan ekspresi yang dibuat-buat olehnya.

Aigoo, kau ini laki-laki lemah macam apa huh? Bahkan sekali tendangan saja kakimu sampai terkilir seperti ini? Apa aku harus memberikan tendangan ke-2 agar kau bungkam?” Ucap Seolyun yang menendang pelan kaki kiri Jimin.

Nuna kau kejam sekali kepadaku.” Kali ini Jimin benar-benar takut dengan sosok kakak perempuan kekasih temannya itu yang ia kira orang yang lemah lembut. Gelak tawapun terdengar lagi tidak terkecuali Jimin yang ikut tertawa disana.

“Hei, kemana Yoongi hyung? Dia sudah jarang terlihat bersama beberapa hari belakangan ini.” Tanya Jungkook yang membuat gelak tawa teman-temannya itu berhenti seketika, beberapa juga terlihat bingung kemana temannya itu pergi sampai-sampai jarang bersama seperti ini.

“Ah, Yoongi? Dia sedang sibuk mengikuti audisi, mungkin saat ini ia sedang berada di Agensi menunggu nomor urutnya.” Jawab Seokjin yang mengetahui teman sekelasnya itu selalu terobsesi menjadi soerang bintang.

“Astaga, dia benar-benar tidak pernah menyerah walaupun sudah di tolak berkali-kali dari Agensi yang ia ikuti selama ini.” Balas Taehyung yang heran kepada hyung-nya yang satu itu.

“Ya, mungkin itulah kelebihannya.”

***

“Min Yoongi-ssi?” Panggil wanita dengan setelan kemeja jingga di padu celana panjang hitam lengkap dengan nametag dan papan tulis yang berisi daftar nama peserta yang tercantum.

“Disini.” Jawab laki-laki yang bernama Yoongi itu berlalu memasuki ruangan yang diarahkan oleh wanita tersebut.

Kini ia berdiri di tengah-tengah podium menghadap kearah 3 juri yang duduk di depannya saat ini. Terlihat ke-3nya sibuk berdiskusi sembari membalik halaman per halaman dokumen data Yoongi. Suasana sedikit membuat Yoongi gugup namun ia berusaha tetap tenang.

“Min Yoongi-ssi?” Ucap juri pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu, yang pada akhirnya menatap kearah Yoongi.

Nde.” Balas Yoongi singkat dengan mic di tangan kanannya itu.

“Sudah berapa banyak pengalaman mengikuti audisi sampai saat ini?” Tanya pria itu lagi dengan raut wajah serius dan kembali mengalihkan pandangannya kearah dokumen yang berada di tangannya saat ini.

“Hmm, mungkin kalau dihitung dengan yang sekarang sudah ke-5 kalinya”

“Ah, benarkah? Kau benar-benar memiliki semangat yang luar biasa, walaupun kau sudah di tolak berkali-kali oleh beberapa Agensi tapi kau tetap gigih untuk mengikuti audisi di tempat lain.”

“Tentu saja! Aku tidak akan menyerah walaupun aku harus mengelilingi Seoul sampai ada Agensi yang mau menerimaku sebagai trainee.” Jawab Yoongi dengan penuh semangat.

“Kenapa kau ingin menjadi seorang penyanyi?” Tanya wanita muda yang menjadi satu-satunya juri perempuan disana.

“Karena aku ingin membuat orang-orang disekelilingku bahagia dengan bakatku ini.” Yoongi menjawab dengan yakin.

“Baiklah Min Yoongi-ssi, tunjukkan bakatmu untuk meyakinkan kami memilihmu sebagai trainee di Agensi ini.”

Yoongi berjalan mundur beberapa langkah mengambil posisi dan beberapa detik kemudian alunan musik yang menjadi pengiringnya mengalun memenuhi ruangan tersebut.

***

‘Tap,tap.tap’

Suara langkah kaki terdengar memenuhi jalan kecil perumahan daerah Seoul, dengan lesu si pemilik langkah kaki berat itu berjalan menuju rumah tempat tinggalnya dengan tatapan kosong.

Ia benar-benar kecewa, ini sudah ke-5 kalinya, dan tetap saja tidak membuahkan hasil sama sekali dengan latihan yang ia lakukan setiap hari. Padahal suaranya itu tergolong ‘bagus’ namun ia sudah menelan habis penolakan setiap audisi yang ia ikuti selama ini.

Langkahnya tiba-tiba terhenti tepat di depan pagar rumahnya itu, namun bukan untuk masuk kerumah. Melainkan karna ke-6 temannya itu yang sudah berdiri sedari tadi menunggunya pulang.

“Hei, kemana saja kau huh? Aku sudah mati membeku di depan rumahmu.” Sapa Hoseok yang berdiri menggigil di depan rumah Yoongi.

“Ei, kau berani sekali berbicara denganku dengan bahasa informal huh? Mau mati?” Balas Yoongi dengan seringai yang terpasang di wajahnya.

Hyung!” panggil Taehyung yang membuat tatapan Yoongi beralih dari Hoseok. “Apa kau gagal lagi?” Lanjut Taehyung dengan tatapan iba kepada teman lebih tuanya itu.

“Hm, begitulah. Hei, jangan memberikan tatapan macam itu kepadaku. Aku tidak apa-apa.” Jawab Yoongi tersenyum paksa, namun terlihat jelas dari matanya itu jika ia sangat sedih saat ini.

“Ah, ayolah! Aku kesini bukan untuk menangis bersama, ayo kita berpesta hm? Aku yang traktir.” Potong Seokjin yang berusaha mengubah suasana dan menghibur teman sekelasnya itu. Sorak teman-temannya itu pun terdengar dengan lantang, untungnya tidak sampai mengganggu penghuni lain disekitar sana.

“Hei, ini bukan pesta karena senang dengan kegagalanku bukan?” Tanya Yoongi yang menyipitkan matanya menatap Seokjin dengan curiga.

“Tentu saja tidak, bodoh.” Jawab Seokjin berlalu disusul dengan yang lain sedangkan Yoongi tertinggal dan mengekori dari belakang.

***

Ke-7 nya akhirnya tiba di Mini-Market yang tak jauh dari tempat Yoongi tinggal, mereka semua terduduk di bangku yang terletak di depan Mini-Market dan menikmati ramyeon mereka masing-masing.

‘Sluuurrpp’

“Woah, Ramyeon memang makanan terbaik untuk menghangatkan tubuh.” Ucap Jimin dan kembali menyeruput mie instant dihadapannya itu.

“Ckck. Hei, ada apa dengan kakimu itu huh? Padahal baru sebentar saja aku meninggalkanmu.” Tanya Yoongi menatap junior-nya itu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Hm? Kaki? Ah, kakiku terkilir karena bermain baseball bersama yang lain tadi siang.” Jawab Jimin yang sempat terhenti melahap makanannnya.

“Lalu, apa kata dokter?” Tanya Yoongi kembali membuat Jimin berhenti sejenak dengan kegiatannya menyumpit mie instant tersebut.

“Aku hanya perlu istirahat 2-3 hari untuk sembuh total, tidak ada luka yang serius.” Jawab Jimin yang bersiap membuka mulutnya untuk memasukan mie tersebut kedalam mulutnya.

Aigoo,kau bahkan masih menganggap hal sepele? Kalau begitu aku akan mematahkan kakimu juga agar kau mengenal rasa khawatir huh?”

Hyung, aku tidak mengganggap ini hal sepele. Lihatlah bahkan aku masih berusaha keras untuk berdiri dengan posisi normal dengan bantuan tongkat.” Balas Jimin dengan mulutnya yang masih penuh dengan mie.

“Lainkali berhati-hati lah, jika kau masih berani tersenyum sok kuat dengan keadaan seperti ini aku tidak akan segan-segan membunuhmu.”

“Baiklah-baiklah hyung, aku mengerti.” Jawab Jimin dengan wajah kesalnya yang langsung saja menyumpit mie-nya itu dan memasukannya ke dalam mulut tanpa ditiup terlebih dahulu, hal itu berhasil membuatnya memuntahkan kembali mie yang sempat masuk sebentar ke dalam mulutnya.

Melihat reaksi Jimin teman-temannya itu tertawa puas, bagaimana tidak? Akhirnya temannya itu yang dikenal sebagai orang yang lemah namun selalu berlaga sok tegar itu terlihat kesakitan merasakan perih di lidahnya karena ke cerobohannya sendiri.

“Hei, kalian sedang apa huh? Senang melihatku menderita?” Tanya Jimin seusai meneguk habis minumannya.

“Tentu saja.” Jawab mereka serempak.

Suasana malam itu benar-benar ramai, mungkin bisa menimbulkan kecemburuan di sekitarnya dengan keakraban mereka satu-sama lain. Benar-benar membuat beban dihati mereka terasa lepas seketika. Gelak tawa dan canda yang terjadi di depan Mini-Market tersebut berlangsung lama hingga akhirnya jam yang sudah menunjukan pukul 11 malam memisahkan mereka untuk kembali ke rumah masing-masing.

***

Musim gugur telah tiba, semua siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Hannyoung tempat ke-7 laki-laki itu menuntut ilmu untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian masuk Universitas dan kenaikan kelas. Ujian yang akan berlangsung saat musim dingin. Siswa-siswi pun mendapat jam pelajaran tambahan setiap kelasnya untuk ‘mematangkan’ persiapan ujian mereka masing-masing dan itu artinya mereka akan selalu pulang malam hingga hari ujian tiba.

Kini Hoseok, Namjoon, Seolyun berada di salah satu perpustakaan umum di Seoul untuk persiapan menghadapi ujian kenaikan kelas,namun sayangnya keduanya malah bermesraan dan membuat Hoseok terpaksa pindah tempat untuk memfokuskan pikirannya.

“Astaga, pasangan bodoh itu benar-benar.” Gumam Hoseok yang masih tak berkutik dengan bukunya.

‘Trak’ Bunyi benturan kaleng dengan meja kayu tempat Hoseok terduduk, berhasil membuatnya teralihkan. Terlihat Seokjin dan Yoongi yang saat ini duduk dhadapannya dengan buku tebal yang mereka bawa masing-masing.

“Minumlah.” Ujar Seokjin yang menyuguhi Hoseok sekaleng minuman kopi hangat di hadapannya.

“Ah, terima kasih hyung.” Namun Hoseok heran karena kaleng tersebut sudah dalam keadaan terbuka, namun ia merasa tidak enak juga jika menolak pemberian senior-nya itu. Mau tidak mau Hoseok langsung meneguk habis minuman tersebut.

“Sejujurnya itu bekas Yoongi.” Lanjut Seokjin yang nyaris membuat Hoseok memuntahkan minuman yang baru saja ia minum.

Hyung, kau benar-benar licik rupanya.” Ucap Hoseok dengan tatapan sinis kepada Seokjin lalu beralih ke Yoongi yang tidak merasa bersalah sama sekali.

***

Akhirnya ujian akan berlangsung beberapa hari lagi dan para siswa mendapatkan waktu jeda selama 3 hari untuk menenangkan pikiran mereka.

Ke-7 laki-laki itu terlihat merebahkan diri mereka di atas rumput daerah perbukitan yang sebenarnya adalah ide Jungkook untuk membawa mereka berlibur di daerah pedesaan beberapa hari untuk menenangkan diri dan mencari udara segar.

“Hei, darimana kau menemukan tempat se-indah ini huh?” Tanya Taehyung yang masih menikmati udara segar disana sambil menatap langit yang cerah.

“Entahlah, aku hanya ingat jika ayahku memiliki Villa disini.” Jawab Jungkook singkat.

Sesaat suasana menjadi hening sampai pada akhirnya Taehyung membuka mulutnya kembali. “Apakah kalian memiliki tujuan atau cita-cita kedepannya?”

“Tentu saja.” Jawab Yoongi.

“Hei, aku sudah tahu apa cita-citamu hyung.” Balas Taehyung dengan nada datar. “Semoga kau berhasil untuk audisi selanjutnya.”

“Lalu bagaimana denganmu, Taehyung?”

“Entahlah, mungkin aku dan Seokjin hyung akan melanjutkan bisnis ayah.” Jawab Taehyung disusul dengan anggukan Seokjin.

“Bagaimana denganmu Hoseok?” Tanya Seokjin.

“Aku ingin menjadi seorang bartender, Bagaimana denganmu Jimin?”

“Aku ingin menjadi seorang pengusaha.” Jawab Jimin lalu menoleh kearah Namjoon dan Jungkook.

Namjoon yang menangkap sinyal dari Jimin pun membuka mulutnya “Jika kalian bertanya kepadaku, aku akan melalukan apa yang aku sukai. Aku akan menikahi Seolyun.”

Sorakan dan ejekan pun langsung tertuju pada Namjoon sedangkan Jungkook hanya mematung disana.

“Baiklah, semoga sukses untuk kedepannya!” Sorak semua pada akhirnya.

.

.

.

Seoul,2015

‘Ceklek’

Hoseok membuka pintu kamarnya dan menuju ruang tamu untuk menyapa Jungkook, namun sosok yang dicarinya menghilang.

‘Rrr’

Muncul notif pesan masuk dilayar ponselnya, ia pun segera menggeser layar kunci untuk membaca pesan tersebut, pesan dari Jungkook.

“Maafkan aku hyung, aku sudah menenangkan pikiranku. Terima kasih selama ini, aku kembali lebih dulu karena ada urusan, aku akan menghubungimu lagi nanti.”

Hoseok tersenyum saat membaca pesan dari temannya itu dan langsung berlalu ke kamar mandi bersiap-siap untuk kembali bekerja.

***

“Tenang saja, nyonya akan baik-baik saja dia hanya membutuhkan istirahat yang cukup.” Ucap dokter yang menangani ibu Jungkook saat ini.

Jungkook yang mendengar penjelasan tersebut akhirnya bisa menghembuskan nafas lega dan berjalan kearah kantin rumah sakit karena ia tadi langsung lari kesini saat menerima pesan dari ayahnya itu.

“Syukurlah.” Gumam Jungkook dan meneguk perlahan minuman kaleng dihadapannya.

“Jungkook?  Apakah itu kau?” Sapa Namjoon dengan penampilan kusut dihadapannya.

“Eo? Namjoon hyung? Sedang apa kau disini?” tanya Jungkook pada akhirnya, dan keduanya pun berbincang cukup lama. Namjoon yang menceritakan perkelahian hebat antar dirinya dengan Seolyun kekasihnya itu meminta putus kepadanya, dan sekarang ia berakhir di rumah sakit karena ayahnya yang tiba-tiba mengalami tekanan darah tinggi kemarin.

“Hei hyung, berbaikanlah dengannya huh? Jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini.” ujar Jungkook kepada Namjoon. “Dan mau sampai kapan kau seperti ini huh? Menggangur tidak jelas, pantas saja nuna Seolyun tidak betah bersamamu,bagaimana bisa kau melamarnya jika tidak memiliki pekerjaan?”

“Hei-hei, lihat siapa yang berbicara sekarang? Bahkan kau sendiri juga menggagur.” Balas Namjoon yang tidak mau kalah.

“Tidak untuk waktu yang lama hyung.

“Maksudmu?” Tanya Namjoon heran.

“Aku tiba-tiba teringat dengan kata-katamu 8 tahun yang lalu hyung.” Jawab Jungkook. “Aku akan melakukan apa yang aku sukai.” Lanjutnya.

  • END –

 

 

 

2 thoughts on “[Monochromic Youth] The Opposite Track – Oneshoot

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s