[Monochromic Youth] A ‘Good’bye – Oneshot

 

request-a-good-bye-dandeliar-2

Title: A ‘Good’bye | Author: dandeliar | Main Cast: Kim Taehyung, Park Jimin | Genre: Friendship, AU, failed!Hurt/ Comfort | Length: Oneshot | Rating: Teen

Disclaimer: Plot cerita milik saya, beberapa adegan terinspirasi dari beberapa kejadian nyata.

Summary: Perpisahan. Taehyung benci kata perpisahan. Apalagi jika benar – benar terjadi. Ingin rasanya ia menolak keinginan ayahnya. Tapi, apa daya seorang Taehyung yang bahkan belum bisa menghasilkan uang sendiri? Tak mungkin Taehyung bisa membantah ayahnya.

Poster Credit:

HEO MIN JAE @ POSTER DESIGN ART

.

.

.

 

Taehyung mengerti.

Taehyung tahu, ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh ayahnya, dilihat dari ekspresi ayahnya yang serius kala menyambutnya pulang sekolah. Tapi Taehyung tak mengerti, seberapa seriuskah sampai – sampai ayah Taehyung menahan Taehyung begitu Taehyung sampai ke rumah. Begitu Taehyung tiba, ayah Taehyung mengajak Taehyung ke ruang tengah. Taehyung bahkan menemukan ibunya yang sedang memangku adiknya yang tengah tertidur. Tak heran, mengingat ini adalah tengah malam.

 

“Ada apa, Ayah? Sepertinya penting sekali,” tanya Taehyung keheranan. Kemudian ia duduk di sebelah ibunya, persis menghadap ke ayahnya yang duduk di bangku lain. Sebenarnya, Taehyung sudah lelah. Sekolah selama seharian penuh ditambah dengan bimbingan belajar membuat tenaga Taehyung terkuras banyak. Ingin rasanya ia mengganti seragamnya dengan baju santai dan merasakan nyamannya berendam air hangat sambil mendengar lagu jazz. Namun, sepertinya ia harus menunda keinginannya.

 

Ayah Taehyung hanya dapat menghela nafas pelan. Antara ragu untuk mengatakan hal yang terjadi. Ayah Taehyung menatap ke arah ibu Taehyung, menatap obsidian coklat tersebut dalam. Seolah – olah mengajak ibu Taehyung berbicara hanya melalui tatapan, membuat Taehyung semakin bingung. Seserius apa hal yang ingin ayahnya bicarakan?

 

Taehyung secara sekilas melihat ibunya menganggukkan kepala.

 

“Jadi, begini.”

 

.

 

.

 

.

 

Setelah pembicaraan dengan ayahnya tadi, Taehyung langsung ke kamar dan mengunci pintu kamarnya. Ia meletakkan tas sekolahnya di atas meja dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Kedua matanya terpejam dengan erat. Ia tak lagi mempedulikan rencana awalnya. Mengganti seragamnya dengan pakaian santai serta berendam dengan air hangat sambil mendengarkan lagu jazz terdengar tak menggungah lagi di pikiran Taehyung. Dalam pikiran Taehyung, terbayang akan percakapannya bersama keluarganya tadi.

 

‘Kita akan pindah ke Jepang setelah kau terima rapor.’ Begitulah inti percakapannya dengan ayahnya dan ibunya. Ayahnya dipindahtugaskan ke Jepang dan diangkat menjadi seorang direktur disana. Mau tidak mau, Taehyung beserta sekeluarga diharuskan pindah ke Jepang. Entah mengapa, Taehyung tak suka akan keputusan ayahnya. Maaf, bukan entah mengapa, namun Taehyung memang tak suka akan keputusan ayahnya. Kurang setuju, lebih tepatnya.

 

Pindah. Berarti, Taehyung akan bertemu dengan lingkungan baru, tinggal di lingkungan baru, berinteraksi dengan orang baru, dan meninggalkan semua yang telah berlalu. Terparah adalah, ia harus berpisah dengan orang lain. Sebenarnya, Taehyung tak apa jika mereka harus pindah. Taehyung sudah remaja, seharusnya Taehyung sudah bisa menangani hal – hal tersebut. Maksudnya, adaptasi terhadap lingkungan baru, penyesuaian diri. Toh, Taehyung sudah pernah pindah sebelumnya.

 

Namun, kali ini ia tidak terima. Ia tidak rela jika harus berpindah lagi. Ia tak menginginkan berpisah dengan orang – orang yang disayanginya. Terpenting adalah, ia tak ingin berpisah dengan Jimin, satu – satunya sahabat yang Taehyung miliki. Kenapa harus sekarang? Kenapa harus disaat Taehyung ingin membuat kenangan terindah semasa masih remaja? Taehyung tak yakin jika mereka bisa berpisah secara baik – baik. Mengingat Taehyung tak pernah bisa berpisah secara baik – baik dengan orang lain.

 

Taehyung ingat saat ia pindah untuk yang pertama kalinya. Saat itu, ia memiliki teman bernama Sungjae. Ia takut jika temannya akan sangat sedih karena tak lama lagi Taehyung meninggalkannya. Oleh karena itu, ia sengaja membuat Sungjae membencinya agar Sungjae tak merasa sedih karena ditinggal Taehyung. Taehyung tak sempat mengucapkan selamat tinggal ataupun kalimat sampai jumpa. Saat itu, Taehyung menyesal. Mengapa ia harus melakukan hal tersebut? Pikir Taehyung. Dalam hati, Taehyung berjanji tak akan melakukan hal bodoh tersebut jika ia akan berpisah dengan orang – orang yang berharga dalam hidupnya.

 

Namun, lagi – lagi kesalahan bodoh tersebut terulang kembali. Ia melakukan hal yang sama terhadap Pak Jihoon, si guru pengajar saxophone yang Taehyung hormati. Makanya, Taehyung takut jika lagi – lagi ia melakukan hal bodoh tersebut terhadap Jimin.

 

Ia takut. Bagaimanakah reaksi Jimin jika pria tersebut tahu Taehyung akan meninggalkannya? Taehyung mengerti bahwa dirinya adalah salah satu orang yang paling Jimin sayangi. Taehyung juga mengerti jika Jimin menganggap Taehyung sebagai saudaranya sendiri. Jika ada masalah yang tak dapat Jimin selesaikan, ia akan membicarakannya dengan Taehyung.

 

Dalam keheningan, Taehyung merenung. Ia membayangkan berbagai macam kemungkinan yang terjadi jika Taehyung tidak ada di sekitar Jimin. Atau Jimin tidak ada disekitar Taehyung. Tidak. Membayangkannya saja sudah tidak sanggup.

 

Ia tak ingin berpisah dengan Jimin. Walau suatu saat mereka akan bertemu lagi. Entah setahun, atau dua tahun, atau sepuluh tahun kemudian.

 

Karena Taehyung tak yakin jika ia dapat berpisah secara baik – baik dengan Jimin.

 

.

 

.

 

.

 

“Ya! Bocah! Kau terlihat aneh hari ini. Ada apa denganmu?” cibir Jimin begitu tiba di meja yang Taehyung duduki. Ia membawa sebuah nampan dengan dua porsi jajangmyeon dan dua botol jus jeruk, kemudian meletakkannya diatas meja. Taehyung yang sedari tadi melamun tersentak begitu Jimin tiba. Kemudian Jimin meletakkan beberapa lembar uang won di hadapan Taehyung.

 

“Itu kembaliannya. Besok, gantian kau yang mengantri,” ujar Jimin, kemudian duduk di hadapan Taehyung. Taehyung mengambil uang yang Jimin berikan, lalu menyimpannya ke dalam saku celananya. Ia menarik semangkuk jajangmyeon ke hadapannya (tak lupa dengan jus jeruknya), kemudian mengambil sumpit kayu dan membelahnya menjadi dua, dan mengaduk – aduk jajangmyeon.

 

“Kau tidak sedang sakit ‘kan? Hari ini, kau diam sekali,” ujar Jimin sekali lagi. Iseng – iseng, Jimin menempelkan telapak tangannya ke dahi Taehyung, memeriksa suhu tubuh Taehyung. Dengan segera, Taehyung menepis tangan Jimin. Menatap nyalang Jimin.

 

Apaan sih? Aku tidak sakit!” protes Taehyung. “Ataupun gila,” lanjut Taehyung saat Jimin akan berucap. Jimin terkekeh kala mendengar ucapan Taehyung. Jimin hanya bercanda, namun sepertinya Taehyung agak sensitif kali ini. Jimin yakin, saat ini Taehyung ada masalah kali ini. Tetapi Taehyung tak ingin memberi tahunya. Taehyung tak suka jika dipaksa, jadi Jimin lebih memilih untuk diam dan memakan makanannya.

 

Taehyung melihat Jimin yang mulai memakan makanannya. Dalam hatinya, ia merasa bersalah karena berhasil membuat suasana menjadi canggung.

 

‘Maafkan aku, Jimin.’

 

.

 

.

 

.

 

Jimin tidak berani berbicara yang aneh – aneh kepada Taehyung. Jika biasanya ia bercanda bersama Taehyung, kali ini Jimin tidak ingin mengganggu Taehyung. Ia menunggu Taehyung untuk menceritakan permasalahannya. Taehyung tak ingin membicarakan masalahnya. Jadi, Jimin memilih untuk diam.

 

Sampai saat pulang sekolah, Taehyung mengajak Jimin untuk membolos dari bimbingan belajar dan menyuruhnya untuk menemani Taehyung pergi ke suatu tempat.

 

Jimin menurut. Untuk kali ini, ia membolos demi Taehyung. Memilih untuk mengikuti kemanapun Taehyung pergi.

 

Taehyung mengajak Jimin ke Hangang Park, lalu duduk di salah satu bangku yang tersedia. Lalu, Taehyung mengeluarkan dua kaleng cola yang ia beli tadi sebelum pergi ke Hangang Park. Menyerahkan salah satu kaleng cola tersebut kepada Jimin. “Kali ini, aku yang traktir kau,” ujar Taehyung lalu membuka tutup kaleng colanya. Jimin menatap Taehyung aneh. Jarang Taehyung mau mentraktir Jimin, walau hanya sekaleng cola.

 

Tumben baik. By the way, terima kasih.” Jimin membuka tutup kaleng tersebut lalu meminum isinya. Sensasi menyengat khas minuman karbon langsung menyambut Jimin.

 

“Kupikir, kau mau bercerita tentang masalahmu?” Tanya Jimin. Jimin sudah siap memasang telinga untuk mendengar curhatan Taehyung. Anehnya, Taehyung hanya terdiam. Jimin pikir, ia akan mendengar curhatan tentang anjing kesayangan Taehyung atau kisah cinta Taehyung. Kenyataannya, Taehyung mengucapkan hal yang diluar dugaan Jimin.

 

“Sebentar lagi kita naik kelas, ayo kita buat kenangan terbaik kita!” pekik Taehyung. Senyum kotak khas Taehyung terhias di wajahnya.

 

Begitu mendengar ucapan Taehyung, dengan segera Jimin melayangkan tangannya untuk menjitak kepala Taehyung. “Aish! Dasar bodoh! Kupikir kau akan mengatakan hal penting!” cibir Jimin jengkel. Tak menyangka sahabatnya mengajaknya membolos hanya  demi mengatakan hal tersebut. Sedangkan Taehyung hanya tertawa.

 

“Kau khawatir ya denganku?” tanya Taehyung terkesan mengejek. “Memang, bodoh! Kau pikir enak diabaikan olehmu? Tak ada yang bisa aku hina,” ujar Jimin terus menyerang Taehyung. Minuman Taehyung bahkan hampir tumpah demi menghindari serangan dari Jimin. Sampai akhirnya Jimin berhenti, barulah Taehyung melanjutkan ucapannya.

 

“Tapi, bagiku itu penting, Chim,” ujar Taehyung, kemudian meneguk minumannya. Ucapan Taehyung berhasil membuat Jimin menatap Taehyung aneh. “Kenapa?” tanya Jimin keheranan. Sahabatnya itu berkata seolah – olah ia akan meninggalkan Jimin selamanya.

 

Bagaimana jika Taehyung benar – benar meninggalkanmu?

 

“Biar kalau aku sudah tua, ada hal yang bisa aku ingat dari masa mudaku,” jawab Taehyung. Jimin tahu jika Taehyung terkenal akan keanehannya dan keunikannya dalam apapun, namun bukan berarti ia akan menerima jawaban Taehyung begitu saja.

 

“Apa – apaan kau? Tentu kita akan menciptakan kenangan terbaik kita kan? Juga, hei! Apa kau bertingkah laku aneh hanya karena kita akan naik kelas? Masih ada setahun lagi, tak perlu berlebihan, oke?” ujar Jimin. Jimin benar kan? Masih ada setahun lagi, kenapa Taehyung berlebihan sekali? Taehyung yang mendengar ucapan Jimin hanya terdiam. Bingung harus membalas Jimin dengan jawaban seperti apa. Tentu, Jimin menyadari perubahan Taehyung.

 

“Taehyung?” panggil Jimin ragu – ragu. Taehyung menoleh kearah Jimin, menemukan tatapan khawatir Jimin tertuju padanya. Hati Taehyung berkedut. Bingung untuk menyampaikan hal tersebut pada Jimin. Tanpa membuat temannya tersebut merasa sedih. Dalam hati, ia takut. Bagaimana jika Jimin marah? Parahnya, pria itu akan membenci dan meninggalkan Taehyung. Taehyung tak ingin ditinggal oleh satu – satunya sahabat yang ia miliki.

 

Tangan kiri Taehyung terkepal kuat. Kepalanya mendongak, berusaha menahan air mata yang siap jatuh kapanpun. Membuat Jimin semakin kebingungan.

 

Sial. Kenapa dirinya harus dilahirkan menjadi seorang yang cengeng? Dan mengapa dirinya harus menangis sekarang?

 

“Aku..,” ujar Taehyung ragu – ragu. Suaranya menjadi pelan, terdengar seperti sebuah bisikan. Taehyung tak ingin jika suaranya terdengar parau. Taehyung terdiam untuk yang kesekian kalinya, berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.

 

“Setelah penerimaan rapor, aku akan pindah Jimin.”

 

.

 

.

 

.

 

Setelah Taehyung mengucapkan hal tersebut, Jimin terdiam. Kepalanya tertunduk, tidak berniat untuk menatap Taehyung. Taehyung akan pindah setelah penerimaan rapor? Minggu depan adalah waktu penerimaan rapor. Jadi, dalam waktu seminggu, mereka akan berpisah?

 

“Kemana?”

 

“Jepang. Ayahku dipindahtugaskan ke Jepang. Mau tak mau, kami sekeluarga harus ikut,” jelas Taehyung. Sama seperti Jimin, Taehyung juga menundukkan kepalanya, tak berani menatap Jimin. Perasaan takut mulai menyelubungi dirinya ketika Jimin sama sekali tidak membalas perkataan Taehyung.

 

Keheningan pun pecah. Bukan karena Jimin ataupun Taehyung, namun karena ponsel Jimin yang tiba – tiba berbunyi. Jimin mengangkat panggilan dari ibunya, berbicara selama beberapa detik, sebelum menoleh kearah Taehyung sambil tersenyum.

 

“Tae, aku pulang dulu ya? Ibuku sudah menunggu,” ujar Jimin sambil beranjak dari tempat ia duduk. Taehyung mendongakkan kepalanya kearah Jimin, yang membalas Taehyung dengan sebuah senyuman. Taehyung mengerti arti senyuman tersebut. Taehyung juga yakin senyuman tersebut memiliki arti yang berbeda dari senyuman Jimin yang biasanya. “Ya, tentu,” jawab Taehyung, membiarkan Jimin pergi. Membiarkan Jimin meninggalkan dirinya sendiri.

 

Taehyung hanya dapat menghela nafas pelan. Ia ingin menangis, namun entah mengapa air matanya sama sekali tak bisa keluar.

 

Oke. Taehyung sudah mengatakannya yang sejujurnya, dan Jimin sudah memberikan jawabannya. Walaupun secara tidak langsung.

 

“Maafkan aku, Jimin,”

 

.

 

.

 

.

 

Pagi harinya, jika Taehyung biasanya akan pergi ke rumah Jimin dan mengajaknya berangkat bersama, kali ini Taehyung lebih memilih untuk meninggalkan Jimin dan langsung pergi ke sekolah. Jimin belum tentu menerimanya kan? Lagipula, kemarin terasa begitu canggung. Taehyung memilih jalan aman. Untuk sementara, ia membiarkan Jimin sendirian. Begitu lebih baik.

 

Namun, alangkah kaget kala Taehyung mendengar seseorang dengan lantang meneriakkan namanya. Taehyung yang sedang berjalan menuju kearah sekolah harus berhenti untuk menoleh ke belakang ketika ia menemukan Jimin yang tengah berlari kearahnya. Saat Jimin tiba di samping Taehyung, Jimin langsung merangkul Taehyung.

 

“Kau mau mati? Kenapa meninggalkanku? Aku hampir telat, bodoh!” pekik Jimin kesal. Nafasnya terengah – engah sehabis berlari. Kemudian pria tersebut melanjutkan ucapannya. “Jangan karena sebentar lagi kau pindah, kau mengabaikanku seperti itu!” Taehyung merasa rangkulan Jimin semakin erat.

 

“Kau tidak marah?” tanya Taehyung, kemudian menatap Jimin bodoh. Jadi, Jimin tidak marah? Jimin yang mendengar pertanyaan konyol Taehyung hanya terkikik geli. Tak heran Taehyung bertanya seperti itu. Mengingat balasan Jimin kemarin. Jimin seharusnya tahu jika Taehyung seseorang yang sensitif (juga cengeng). Tak seharusnya Jimin meninggalkan Taehyung begitu saja.

 

“Untuk apa? Percuma kalau aku marah, aku juga tak bisa menahanmu agar tetap disini,” jawab Jimin, sambil menuntun Taehyung untuk terus berjalan ke sekolah. Kepala Taehyung tertunduk. Bagaimanapun, Taehyung merasa bersalah. Sebutir air mata pun bebas dari pelupuk mata Taehyung. Dilanjut dengan isakan kecil.

 

Sial. Mengapa dirinya harus menangis?

 

“Ya! Kenapa kau malah menangis?” tanya Jimin panik, kemudian berusaha untuk meredakan tangisan Taehyung dengan memeluk Taehyung erat. Seketika bahu bagian kirinya basah akibat tangisan Taehyung. Perlakuannya berhasil membuat orang – orang disekitar mereka menatap mereka aneh. Mungkin menganggap Jimin dan Taehyung seperti sepasang gay. Tapi Jimin tidak peduli. Ia tetap memeluk Taehyung, sembari mengusap punggung Taehyung, berusaha menenangkan Taehyung. Taehyung menggumamkan kata maaf secara berkali – kali, dan hal tersebut membuat hati Jimin merasa sakit. Taehyung tak bersalah, tak seharusnya ia meminta maaf. Rasanya, Jimin ingin menangis, namun ia lebih memilih untuk menahan tangisannya.

 

Akhirnya, Jimin membiarkan Taehyung menangis sampai tangisannya reda. Tak memerlukan waktu lama bagi Taehyung untuk berhenti menangis.

 

“Sudah merasa baikan?” tanya Jimin. Ia melepas pelukannya dan melihat wajah Taehyung yang berantakan. Matanya membengkak, hidung memerah, juga ingus Taehyung lolos dari kedua lubang hidungnya.  Ia terlihat seperti bocah berumur lima tahun. Taehyung menganggukkan kepalanya sembari mengucek kedua matanya dan mengelap ingusnya.

 

“Tak perlu merasa bersalah, oke? Aku tak apa – apa jika kau tinggal. Kau bisa kembali ketika liburan kan? Aku juga bisa mengunjungimu. Jadi, tak perlu bersedih, oke? Lagipula, ini diluar kehendak kita. Bagaimanapun, keluargamu lebih penting daripada aku,” hibur Jimin, kemudian menepuk punggung Taehyung.

 

Taehyung hanya mengangguk. Ia merasa lega saat Jimin menghiburnya. Padahal, bukankah seharusnya Taehyung ya, yang menghibur Jimin? Mengapa ini malah sebaliknya?

 

“Seperti yang kau bilang kemarin, sebelum kau pindah, ayo kita bikin kenangan terindah kita! Tanpa penyesalan sama sekali!” pekik Jimin. Kemudian berlari sembari menoleh kearah Taehyung.

 

“Lari jika kau tidak ingin telat!” pekik Jimin. Membuat Taehyung menoleh kearah jam tangannya dan memekik kaget dan segera lari menyusul Jimin. Dua menit lagi dan gerbang sekolah akan ditutup.

 

“Hei! Tunggu aku bodoh!”

 

.

 

.

 

.

 

Selama seminggu, Jimin dan Taehyung melakukan semua hal yang mereka berdua ingin lakukan. Dimulai dari beberapa hal yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya, seperti mencoba menggoda wanita di pinggir jalan (walaupun gagal total), sampai melakukan hal yang mereka berdua sukai bersama – sama, seperti bermain di game center seharian pun mereka lakukan. Ibu Taehyung tak melarang Taehyung, bahkan ketika Taehyung mengajak Jimin untuk menginap di rumah Taehyung. Malah ibu Taehyung dengan senang hati menerima Jimin.

 

Jimin juga membantu Taehyung untuk meringkas barang – barang milik Taehyung. Memasukkannya ke dalam kardus yang telah ibu Taehyung siapkan. Walaupun berkali – kali Jimin mengomel, mengingat barang Taehyung tidaklah sedikit. Ejekan pun terlontar dari Jimin ketika Taehyung tetap membawa boneka harimau kesayangannya ke Jepang.

 

“Jadi, besok kau akan berangkat ya?” tanya Jimin seusai membantu Taehyung membereskan barang – barangnya. “Eoh,” jawab Taehyung sembari merenggangkan tubuhnya yang kesal sehabis memindahkan dus – dus berisikan barang – barangnya. Kali ini, ruangan Taehyung terlihat kosong. Hanya ada beberapa barang yang tersisa, termasuk tas milik Jimin.

 

Jimin tiduran diatas ranjang berukuran king size milik Taehyung. Kemudian ia menguap dengan lebarnya. Ia merasa tidak enak hati kepada Taehyung. Besok, sahabatnya akan pergi. Namun, ia tak bisa mengantarkan Taehyung ke bandara karena neneknya yang tinggal di Busan sedang sakit. Besok pagi Jimin akan pergi ke Busan bersama keluarganya, sehingga tak memungkinkan bagi Jimin untuk menemani Taehyung. Apalagi penerbangan Taehyung adalah waktu siang.

 

“Maaf, aku tak bisa menemanimu sampai ke bandara,” sesal Jimin. Taehyung ikutan untuk tidur di sebelah Jimin. “Bukankah sebelumnya kita sudah janji, tidak boleh ada penyesalan selama seminggu ini? Jadi tidak ada kata maaf,” ujar Taehyung. Kemudian pria tersebut melanjutkan. “Seperti yang kau bilang, ini diluar kehendak kita. Bagaimanapun, keluargamu lebih penting daripada aku.”

 

Jimin ingat kalimat tersebut. Kalimat tersebut sama persis seperti kalimat yang ia ucapkan dulu saat Taehyung menangis.

 

“Sekarang? Kau mencoba untuk meniruku?” hina Jimin, kemudian menggunakan guling yang ia pegang untuk memukul Taehyung. Berhasil membuat Taehyung terkikik.

 

“Berhenti, bodoh!” Akhirnya, Jimin berhenti memukuli Taehyung. Mereka berdua hanya tidur bersampingan, sambil menatap langit – langit kamar Taehyung yang berwarna hijau, warna favorit Taehyung.

 

“Jika kau sudah menemukan teman baru disana, jangan lupakan aku.”

 

“Tentu. Kau juga. Jangan lupakan aku,”

 

“Juga, kalau nanti kita bertemu lagi, jangan abaikan aku! Aku tak segan segan akan memukulmu jika kau melakukan itu!” ancam Jimin. Dibalas dengan sebuah kekehan oleh Taehyung.

 

“Kau juga! Jika kau merasa kesepian, kau bisa menelponku. Mungkin kita bisa bermain game online seharian penuh,”

 

“Juga, jika kau ada masalah, kau bisa membicarakannya denganku.”

 

“Tentu.” Mereka terus bersahut – sahutan selama beberapa menit. Sampai mereka merasa lelah, barulah mereka berhenti.

 

“Perpisahan bukan berarti kita tak bertemu lagi. Aku akan selalu merindukanmu, kawan.”

 

“Aku juga, kawan.”

 

-Fin-

 

Advertisements

5 thoughts on “[Monochromic Youth] A ‘Good’bye – Oneshot

  1. Aihara

    Taehyung… pas dulu ninggalin temennya kaya gitu ya bikin greget, padahal kan ngga harus gitu u,u
    Tapi untungnya pas ninggalin Jimin, mereka bisa berpisah dengan baik :’)
    Such “A ‘Good’bye” =D

    Like

  2. Saerin Jung

    Persahabatan Vmin >_< benar banget kalo "perpisahan bukan berarti kita tak bertemu lagi. Aku akan selalu merindukanmu, kawan." jadi nangis kalo mereka berpisah, ah.. 😥 terus lanjutin karya nya yah kak! 😀

    Like

  3. Kalo berpisah belum tentu ga bisa ketemu lagi kan, apalagi sekarang kan bisa ketemu di sosmed 🙂
    Syukurlah kalo jimin sama taehyung masih baik baik aja..aku suka penulisannya rapi banget. Serasa baca novel gitu soalnya EYDnya pas.
    Good job author @-@/

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s