[Monochromic Youth] Alucinaciones – Oneshot

Alucinaciones

Alucinaciones

a story by feyrefly

Starring [BTS’s] Min Yoongi, Park Jimin, Jung Hoseok, and Kim Namjoon

Rating Teen • Lenght Oneshot • Genres Angst, Brothership, Horror, slight! Mystery, slight! Hurt/Comfort

Disclaimer I just own the storyline

.

FOR BTSFFI’S 3RD EVENT : MONOCHROMIC YOUTH

WHITE VERSION

.

Summary

Baru saja, benar-benar baru saja.

Lantas mengapa begitu tergesa-gesa?

.

.

Ketak-ketuk jemari Yoongi memapas sunyi yang sempat unjuk diri. Mengunyah sandwich agaknya menjadi pembuka hari yang menjemukan kendati ia melakukan itu sebagai rutinitas keseharian. Sesekali ekor matanya melempar kuriositas pada apa yang ibunya lakukan di seberang ruangan. Agaknya ia terlampau malas untuk peduli bahwa apa yang dilakukan ibunya masih sama dengan hari-hari sebelumnya dan akan selalu sama untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.

Sentuhan kursi roda beradu dengan lantai rumah menginterupsi aktivitas Yoongi dalam mengunyah, atensinya tertaut pada lelaki lebih muda darinya yang baru saja bergabung bersama di meja makan. Kelopak mata Yoongi tertarik lebar saat piranti-piranti kesehatan yang entah apa namanya turut menjadi pemandangan yang tertangkap netra. Mendadak rasa laparnya menguar akibat bebauan mentol yang menyucuk hidungnya semena-mena. Yoongi tahu, tak seharusnya ia bersikap lancang dengan berniat meninggalkan meja makan padahal adik lelakinya baru saja datang.

Jika yang dimaksud adik lelaki adalah pemuda yang selalu bergantung pada kursi roda dan selang entah untuk apa yang menggulung tubuhnya, Yoongi hanya bisa berdecak atau mungkin mendengus pasrah. Namanya Jimin, usianya dua tahun lebih muda dari Yoongi. Tubuh pemuda itu digerogoti penyakit yang lagi-lagi Yoongi tak berniat untuk peduli. Setahu Yoongi, kaki-kaki milik adiknya itu tak lagi berfungsi. Jimin hanya bisa melakukan kegiatan atas jasa kursi roda dan kasih sayang orangtuanya.

Mungkin tidak seharusnya Yoongi membenci, uh bukan Jimin, tapi penyakit yang diderita Jimin. Terhitung sejak lima tahun yang lalu Yoongi seakan kehilangan orangtua akibat kesibukan mereka mengurus adik bungsunya. Oke, mungkin Yoongi lah yang bersikap tak acuh terhadap Jimin dan penyakitnya. Namun, masihkah Jimin membutuhkan Yoongi dikala kasih sayang orangtua mereka telah ia kudeta sepenuhnya?

Sepertinya tidak atau memang tidak.

“Aku berangkat.” Tungkai Yoongi menegak, meninggalkan piring sarapannya yang tersisa setengah. Sang ibu yang berada tak jauh dari mereka sempat mendaratkan satu pelukan pada tubuh putra sulungnya sebelum Yoongi melangkah ke luar rumah.

Orangtua mereka tidak bertindak kasar. Mereka masih manusia-manusia yang paling disayangi Yoongi hanya saja intensitas kasih sayang mereka yang berkurang terkadang menyebalkan.

Lirikan sekilas Yoongi daratkan pada sosok pemuda yang Yoongi sendiri tidak tahu bagaimana menyebutnya. Benci? Tidak juga. Marah? Tidak pernah. Jimin masih sibuk dengan mangkuk buburnya saat  Yoongi melenggang pergi dari rumah demi berangkat kuliah.

**

Katakanlah lima tahun yang lalu, Yoongi mendapati Jimin terbaring di ICU dengan jarum-jarum keparat yang menusuk kulit tubuhnya. Sebelumnya Yoongi tak pernah seabai ini. Kendati menyebalkan, Jimin tetap adiknya. Seseorang yang menemaninya menghabiskan masa kanak-kanak hingga remaja dengan kenangan-kenangan menyenangkan sebelum penyakit sialan itu menjauhkan Jimin dari jangkauan.

Setelah insiden kelumpuhan itu terjadi, Jimin seakan dijauhkan dari Yoongi.

Tak ada yang bisa Yoongi lakukan tatkala orang tuanya mulai menjadikan Jimin satu-satunya prioritas mereka dan menyisihkan Yoongi sebagai opsi kedua. Ia memang membutuhkan lebih banyak perhatian tapi bukan berarti Yoongi harus diabaikan, bukan?

“Hoy, Bung!”

Yoongi kontan terdongak dan melepas dua butir headset yang menjejali telinganya. Sepasang iris gelapnya memicing kala menyadari eksistensi dua orang manusia pengacau rotasi kenangan yang baru saja ia lakukan.

“Kutunggu nanti siang di studio. Jangan sampai terlambat!” Hoseok, salah seorang dari manusia pengganggu itu meninju lengan Yoongi lantas terkekeh ringan. Seorang yang lain, Namjoon, mengambil tempat kosong di sisi Yoongi. “Kita harus menang kali ini atau kita tidak akan diakui sama sekali.”

“Benar, kita tidak boleh kalah!” Celetuk Hoseok, kilatan semangat menjalari wajahnya seperti tentara masa penjajahan.

Yoongi mendengus samar dan melempari Hoseok dengan kaleng bekas minumannya. “Kalau begitu berlatihlah yang serius! Jangan banyak bercanda!” Setelahnya Namjoon tergelak dan menepuk Hoseok yang berdecak malas.

Hosek dan Namjoon. Mungkin Yoongi akan terjerumus lingkaran menyesatkan jika tidak bertemu mereka berdua dan menghabiskan masa mudanya dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan. Sesuatu yang harusnya ia dapatkan dalam keluarga namun harus berganti peran dalam pertemanan. Mereka anak baik-baik, vodka dan narkoba tak pernah menyentuh hidupnya. Pekerjaan sebagai rapper underground tak serta-merta membuat mereka kalap dan kehilangan kontrol atas dirinya. Suatu saat ingatkan Yoongi untuk berterimakasih atas batasan dan aturan tak kasat mata yang mereka terapkan—sadar tidak sadar aturan dilarang mabuk, dilarang datang ke klub, dan dilarang mengonsumsi narkoba cetusan mereka sedikit banyak memengaruhi pola pikir Yoongi untuk tidak menghabiskan masa muda dengan kegiatan yang sia-sia. Ada lebih banyak hal yang bisa ia lakukan untuk mengisi masa-masa pencarian jati dirinya daripada kegiatan-kegiatan terlarang yang hanya akan membawa kerugian.

Rapper underground tidaklah seburuk kata orang-orang selama kau masih mengikuti jalurnya dan tidak menjadikan area itu sebagai ajang coba-coba. Memilah milih teman dalam hal ini bukanlah larangan mengingat terlalu banyak wajah-wajah munafik dengan tampang dan sikap menyenangkan namun diam-diam menjerumuskan. Teman adalah salah satu indikasi masa muda yang mengesankan.

“Aku akan pulang dan datang pukul dua, tidak masalah ‘kan?” Menyumpal kembali headset-nya, Yoongi melangkah lamat-lamat setelah pertanyaan dari bibirnya dibalas dengan anggukan oleh mereka.

**

Sepulang kuliah yang dilakukan Yoongi adalah menuntaskan makan siang sebelum kembali menyibukkan diri dengan kertas-kertas lirik yang akan ia bawakan di perlombaan. Kemenangan yang ia raih bulan lalu harus segera diraih ulang atau tim rappernya dinyatakan hilang dari peredaran.

Hidup Yoongi bergantung pada dua hal yaitu musik dan basket. Keduanya efektif membunuh jengah dan rasa amarah yang kerap kali meluap tanpa bisa ia cegah. Setelah sekelumit urusan keluarga dan kepenatan akan kuliah maka Yoongi akan melampiaskannya pada pantulan-pantulan si bola bundar yang takhluk di tangannya. Menghilangkan satu persatu beban hidupnya untuk sementara meskipun pada akhirnya beban-beban itu akan tetap menjadi bunga tidurnya setiap malam.

Hyung.” Yoongi membelalak, nyaris tak percaya mengetahui sosok yang biasanya teronggok tak berdaya di kursi roda kini menghiasi permukaan netra. Posisi berdirinya yang tidak terlalu tegak bahkan sempat nyaris terjerembab membuat Yoongi kalang kabut meraih tubuh itu sebelum membentur ubin yang keras.

“Tunggu di sini, biar kupanggilkan ibu.”

“Tidak usah, Hyung.” Ujar Jimin menghentikan Yoongi dalam satu langkahnya. Yoongi berbalik, memandangi tubuh Jimin yang terbebas dari selang-selang yang selalu terpasang pada tubuhya. Sedikit merasa aneh, Yoongi kembali menawarkan bantuan untuk membawa Jimin ke kamar yang segera ditolak Jimin dengan perkataan;

“Aku ingin ikut denganmu, Hyung. Kau akan pergi ‘kan?” Telunjuk Jimin mengarah pada tas punggung Yoongi dan kunci motor yang tergenggam pada jemarinya. “Aku bosan di rumah dan aku ingin ikut denganmu. Boleh?”

Yoongi tak pernah membenci Jimin dan selamanya akan tetap seperti itu. Tapi bukan berarti  Yoongi akan meloloskan permintaan yang nyaris tidak mungkin meskipun Jimin memintanya dengan wajah dimelas-melaskan.

“Kau sakit, cepat kembali ke kamar dan minum obatmu, Jim.” Yoongi berniat lalu begitu saja sebelum Jimin kembali menghentikan langkahnya.

“Aku baik-baik saja, Hyung! Lihat!” Jimin berdiri tegak dan merentangkan tangannya, memerkuat argumennya dengan kalimat-kalimat seperti ‘aku janji tidak akan merepotkan’ atau ‘aku akan baik-baik saja’ yang membuat neuron di otak Yoongi berputar cepat. Kecanggungan atas lima tahun kerenggangan hubungan mereka seakan lebur ketika Jimin memamerkan senyumnya—tanpa lenguh sakit seperti biasa. Yoongi tak menampik jika ia pun merindukan saat-saat kebersamaan mereka dengan eksistensi Jimin sebagai manusia normal bukan pemuda yang menggantungkan hidupnya pada obat-obatan.

“Oke.” Yoongi pada akhirnya mengangguk. Mengangsurkan helm pada Jimin yang menerima dengan senyum lebar-lebar. “Tapi janji jika kau merasakan sesuatu yang menyakitkan atau apapun itu, kau harus mengatakannya padaku.”

Anggukan Jimin kepalang semangat hingga helm yang ia gunakan berderak-derak. Yoongi sampai heran, apa penyakit yang Jimin derita mengakibatkan jiwanya tak bisa bertumbuh dewasa? Ia terlihat seperti seorang bocah, omong-omong.

Studio yang digunakan sebagai basecamp tim rapper Yoongi adalah bekas gudang yang dibersihkan. Berbentuk persegi panjang tanpa sekat dengan lapisan kedap suara. Jimin segera turun dari jok motor Yoongi begitu mereka tiba di sana. Kendati Yoongi seribu kali khawatir namun Jimin selalu melarangnya untuk mengirim pesan pada ibu mereka atas keberadaan Jimin. Jimin bilang, ia takut ibu mereka tak mengijinkan dan Yoongi terlalu kasihan jika pada akhirnya Jimin kembali terkurung di kamarnya. Sesekali Jimin juga butuh hiburan.

“Ini studiomu, Hyung? Wuaah!” Manik gelap Jimin berpendar mengamati setiap sudut studio Yoongi yang masih sepi. See, tadi Hoseok dan Namjoon yang bilang untuk tidak terlambat nyatanya mereka sendiri yang belum datang padahal sudah pukul dua. Payah.

“Kau duduk di sana saja. Aku harus latihan dengan teman-teman rapperku untuk lomba.” Berkutat dengan lirik membuat Yoongi hanya menunjuk sofa abu-abu panjang di ujung ruangan.

“Wow! Kau seorang rapper, Hyung? Benar-benar keren!” Jimin sudah duduk nyaman di sofa dan sibuk mengamati interior studio yang delapan puluh persen dirancang oleh Yoongi. Yoongi melirik sejenak, mengamati Jimin dari ekor matanya. Bagaimana bisa seseorang yang dilihatnya masih tergeletak menyedihkan tadi pagi menjadi sesegar itu siang ini? Jimin terlihat baik-baik saja dengan majalah-majalah musik milik Hoseok yang tengah ia baca.

Diam-diam Yoongi berharap, mereka akan sering menghabiskan waktu bersama seperti ini ke depannya.

“Kau sudah datang?” Hoseok melongok dari balik pintu studio diikuti Namjoon dan cengiran konyolnya.

“Siapa yang bilang untuk tidak terlambat tadi, hah?”

Hoseok bersungut, menunjuk Namjoon. “Salahkan Namjoon yang lupa menaruh headset-nya! Aku bahkan harus ikut mencari dulu sebelum kemari.”

“Ketemu?”

“Tidak juga. Dia bilang akan membeli lagi.”

Stupid.” Yoongi berdecak, kembali larut dalam musik yang ia dengarkan melalui earphone-nya. Sesekali Yoongi melirik Jimin yang masih sibuk dengan majalah-majalah milik Hoseok yang bertebaran di atas meja. Menilik Jimin yang kelewat kurus dengan wajah pucat—meski tidak sepucat biasanya- membuat Yoongi menghela napas panjang. Takutnya membawa Jimin turut serta kemari akan memperburuk keadaannya setelah ini. Jimin tidak pernah keluar rumah sebelumnya, selama hampir lima tahun ia menderita penyakit itu. Tapi mendekam terus di kamar akan memperburuk kondisi psikisnya terlebih Jimin masih muda, butuh bersosialisasi dengan dunia luar. Setelah ini Yoongi berpikir untuk membicarakan hal ini dengan orangtuanya.

“Ayo berangkat, aku tidak sabar mengalahkan rapper-rapper sombong itu di pertandingan.” Hoseok yang paling gegap gempita untuk bangkit saat arloji di tangannya menunjuk angka lima. Perlombangan rapper lokal yang digelar di kota mereka akan berlangsung tiga puluh menit dari sekarang.

Guys, tunggu sebentar. Aku membawa adikku.” Langkah Yoongi melambat sebelum mencapai pintu lalu di putar menghampiri Jimin.

“Mau kemana, Hyung?”

“Aku sudah bilang jika aku ada perlombaan, bukan?”

“Oh, ikut! Aku ikut!” Bergegas, keduanya sudah berada di hadapan Namjoon dan Hoseok sekarang.

“Ini Jimin.” Yoongi menunjuk Jimin dengan gerakan matanya. “Jim, ini Namjoon dan Hoseok.”

Tak seperti yang diharapkan, reaksi Hoseok dan Namjoon berupa kelopak mata yang menyipit dan kening yang berkerut dalam. Yoongi menjungkitkan alisnya, tak paham. Baru setelah Namjoon berdeham, Hoseok menampilkan reaksi yang berlebihan.

“Oh, oh, hai, Jimin!”

Setelah itu mereka tak terlibat pembicaraan hingga sampai di tempat perlombaan.

**

Latihan mereka terbayar lunas. Dua dari lima kejuaraan yang dilombakan berhasil disabet Yoongi dan kawan-kawan untuk kategori penampilan terbaik dan lagu terbaik. Mereka bahkan menyandang juara tambahan yaitu tim rapper terfavorit.

Kini mereka tak perlu bersusah payah memertahankan eksistensi mereka di ranah musik underground. Mereka telah memiliki lahan tersendiri dimana di sana tertuliskan nama besar mereka dengan tinta emas. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada berhasil menggapai impian, bukan?

Kebahagian Yoongi bertambah, meskipun ia enggan mengakuinya. Keberadaan Jimin di barisan terdepan penonton dengan tepuk tangan paling keras mampu menyusupkan kekokohan dalam benaknya untuk terus berjuang kendati lawan-lawan mereka terlihat begitu luar biasa. Ketika orangtuanya bahkan tidak tahu sehebat apa anaknya, tapi setidaknya Jimin tahu dan merasa bangga. Itu sudah lebih dari cukup untuk Yoongi.

Senyum Yoongi tersimpul dalam pejaman matanya.

“Yoon, sepertinya kita tidak bisa merayakan kemenangan kita malam ini. Ibuku tiba-tiba sakit dan aku bisa dibunuh ayahku jika tidak pulang.” Hoseok pamit pulang setelah sebelumnya Namjoon pulang duluan karena ada urusan. Makan-makan untuk perayaan kesuksesan mereka pun ditunda hingga lusa.

“Jim, aku mau beli makanan. Kau tunggu di sini saja ya?”

“Oke.”

Selepas siluet Yoongi menjauh dari pintu, Jimin beranjak dari sofa nyaman tempatnya bergelung sekian lama. Mendekati meja yang sedari tadi dikuasai Yoongi, Jimin menemukan banyak kertas lirik yang sepertinya belum selesai digarap. Beberapa di antaranya tertuliskan kata-kata makian dan beberapa lainnya tersematkan kata motivasi untuk kehidupan. Bahkan rayuan-rayuan menjijikan pun tertulis hingga Jimin tak bisa menahan tawanya.

Pada dinding sebelah meja, terlihat banyak foto yang sengaja ditempel tak beraturan. Foto-foto itu menampilkan banyak momen dimana ketiga sahabat itu memulai debutnya sebagai rapper underground. Ada foto-foto dimana mereka sedang berlatih atau mengaransemen lagu. Foto-foto kemenangan mereka atau sekadar foto-foto tidak penting seperti Hoseok yang memakai baju di kakinya dan celana di kepalanya.

Lagi-lagi Jimin tertawa, syukurlah jika Yoongi mempunyai masa muda yang bahagia. Bukannya Jimin tidak tahu tentang orangtuanya yang terlalu fokus padanya hingga mengabaikan Yoongi, Jimin teramat paham apa yang Yoongi rasakan kendati tidak sepenuhnya. Jika tidak ada orangtua, setidaknya masih ada Jimin yang peduli terhadapnya.

“Jim?”

Jimin menoleh dan mendapati Yoongi sudah berada di sofa. Menyerahkan buburnya, Yoongi segera beranjak ke arah meja di tempat Jimin semula berada. Saat Jimin sudah larut dalam makan malamnya, Yoongi segera meraup selembar foto yang sepertinya belum diketahui Jimin. Berada di antara kertas-kertas liriknya; foto mereka berdua saat masih belia. Yoongi dan Jimin saling merangkul akrab. Bukan gambarnya yang Yoongi risaukan, tapi gengsinya menghendaki untuk Jimin tidak perlu tahu tentang ini. Tentang rangkaian aksara ‘Get Well Soon, Brother‘ yang tertulis di bawah fotonya.

**

Entah bagaimana mulanya Jimin dan Yoongi bisa beradu di lapangan basket belakang studio padahal jam menunjuk pukul sepuluh malam. Jimin menolak pulang meskipun berulangkali Yoongi memaksa. Di sinilah mereka sekarang, saling berebut bola bundar itu dan menjebol ring dalam satu tembakan. Jelas Yoongi lebih unggul lantaran Jimin kerap kali tersandung atau terjerembab saat mereka adu fisik. Rasa cemas Yoongi semula hanya mengintip di balik benak semakin terdesak ke permukaan ketika Jimin tiba-tiba ambruk.

“Sudah kubilang untuk tidak keras kepala ‘kan, Jim?!” Jimin hanya mengerang dengan mata terpejam. “Shit! Ayo ke rumah sakit!”

Awalnya Yoongi berniat memapah Jimin, namun sebelum niat itu terealisasi, Jimin terlanjur memegangi tangannya. Menahan laju tungkainya yang berderap ke arah motor. “Aku baik-baik saja, Hyung. Jangan..ke..rumah..sakit..please.” Ungkap Jimin terbata dengan senyum hambar terpeta di wajahnya.

Damn it! Apanya yang baik-baik saja jika realitanya tubuh ringkih itu gemetar dan tak bisa bergerak?!

Fuck that, Jim! Kau sakit, Bodoh!” Seperti penyakit menular, tubuh Yoongi gemetar seiring kelopak mata Jimin yang terpejam perlahan-lahan.

“Aku..benci..rumah..sakit..Hyung.” Jimin menegak salivanya susah payah. “Jangan bawa aku..ke..sana..lagi..kumohon..”

Setelah negosiasi pahit dan menekan kuat-kuat rasa cemasnya, Yoongi menuruti permintaan Jimin untuk membawanya masuk ke studio dan membaringkannya di sofa. Bocah itu berulang kali mengatakan jika ia baik-baik saja dan jangan pernah menghubungi orangtuanya. Yoongi juga tak pernah curiga ketika Jimin memintanya mematikan ponsel dengan alasan yang tidak jelas. Pikir Yoongi, Jimin hanya ingin dirinya berkonsentrasi terhadap lomba tadi.

Kini Jimin terbaring di sofa berselimut jaket milik Yoongi sedangkan pria itu berjalan mondar-mandir tanpa tahu apa yang harus ia lakukan. Meskipun suhu tubuh Jimin berangsur normal dan tidurnya tampak lelap, tentu saja ia merasa bersalah.

Hampir semalaman Yoongi terjaga untuk memastikan Jimin baik-baik saja. Hingga akhirnya kantuk melelapkannya setelah sebelumnya ia sempat berbisik lirih ke arah Jimin; Kau membuatku khawatir, Bodoh!

**

Ketika kelopak mata Yoongi terbuka, hal yang didapati Yoongi adalah sofanya yang kosong. Tergesa ia bangkit dan berkeliling mencari presensi Jimin yang semalam terbaring nyenyak di sana. Namun dari sudut-sudut hingga luar studio dilakukan pencarian, Jimin tidak juga ditemukan.

Apa Jimin sudah pulang ke rumah?

Melajukan motor tidak pernah secepat ini sebelumnya. Yoongi bahkan memangkas lima belas menit jarak rumah ke studio menjadi delapan menit dengan kecepatan gila-gilaan.

Hal pertama yang memenuhi retinanya adalah keberadaan sang ayah yang segera mendekap Yoongi beserta kekalutan ibunya yang meraung di dekat pintu.

Ada apa ini?

Gerasak-gerusuk Yoongi menembus kerumunan yang memenuhi rumahnya. Masih dengan jaket hitam yang semalam Jimin kenakan, kaos putih polos kusut serta rambut acak-acakan, Yoongi memamah jarak mendekati peti kayu yang di dalamnya terbaring pemuda yang kemarin ia risaukan setengah mati.

Jimin..meninggal?

Yoongi tak lantas percaya. Ditatapnya dalam-dalam wajah sang adik yang terbaring damai dengan seulas senyum pada bibirnya. Nyaris Yoongi berteriak sebelum Namjoon dan Hoseok datang menenangkan. Mereka mendapat kabar setelah Yoongi meninggalkan studio secara kelabakan.

Rasa tak percaya masih memenuhi benaknya kala tawa rendah sang adik menyusup telinga, saat-saat dimana Jimin bertepuk tangan ketika ia memenangkan perlombaan, pun permainan basket tengah malam yang mereka lakukan. Baru saja, benar-benar baru saja. Lantas mengapa begitu tergesa-gesa?

Yoongi gagal paham saat sang ayah menjelaskan kronologi kesehatan Jimin yang terus memburuk kemarin itu. Sekitar pukul satu siang Jimin dibawa ke ICU karena pingsan dan berlanjut koma. Orangtua mereka berulangkali menghubungi Yoongi tapi ponselnya tak pernah aktif. Jadi ini maksudnya Jimin meminta Yoongi mematikan ponselnya?

Kemarin Yoongi ingat benar Jimin merengek ingin ikut padanya sekitar pukul dua tapi kata ibunya Jimin dilarikan ke rumah sakit pukul satu. Seharian kemarin Jimin bersama Yoongi dengan keadaan sehat namun kata ayahnya Jimin kritis di rumah sakit. Jimin dinyatakan meninggal pukul empat pagi dan kenyataannya Yoongi baru tidur pagi ini sekitar pukul empat setelah tidak tidur semalaman demi menjaga Jimin. Lantas paginya Jimin menghilang dari studionya dan dinyatakan meninggal?

Damn! Ini tidak lucu!

“Kemarin ketika kau mengenalkan Jimin pada kami, kupikir kau mengingau, Yoon.” Namjoon melirih, menepuk bahu Yoongi yang masih diam. Ia tak berbicara barang satu kata kendati puluhan bela sungkawa telah diucapkan untuknya. “Kau tidak membawa siapapun kemarin dan kau terus mengoceh tentang Jimin. Aku dan Namjoon berpikir kau merindukan Jimin jadi kubiarkan saja kau berhalusinasi tentangnya.” Imbuh Hoseok.

“Halusinasi? Tapi kemarin Jimin benar-benar bersamaku, tanpa kursi rodanya, tanpa selang infusnya, tanpa penyakitnya! Kami bahkan bermain basket bersama! Bagaimana mungkin..” Menjambaki surainya, Yoongi mengabaikan tetes-tetes fluida yang menumpuk di pelupuk. Batinnya gamang, antara memercayai realita atau halusinasinya belaka.

Tapi kemarin Jimin benar-benar ada di sana!

Sekelebat bayangan ditangkap kornea mata Yoongi di antara kerumunan pelayat yang memenuhi rumahnya. Manik mata Yoongi belingsatan menggapai kehadiran seseorang yang harus memberikan penjelasan. Tungkai Yoongi menegak saat bayangan itu menjauh, membawanya ke sudut jalan yang tidak terjamah.

Dia di sana. Jimin, dengan penampilan yang sama ketika ia merengek meminta ikut pada Yoongi. Kaki-kakinya berdiri tegak, tanpa kursi roda, tanpa tusukan jarum tajam yang membuat bintik hitam di kulitnya.

Hoseok dan Namjoon mematung mendapati Yoongi terpaku menatap satu sudut jalanan depan rumahnya.

“Aku sudah sembuh, Hyung.” Jimin tersenyum cerah, sama seperti saat ia melihat Yoongi memenangkan lomba. “Kau tidak perlu mengkhawatirkanku lagi.” Kembali senyum itu terpeta sempurna, memaniskan wajah adiknya yang tak lagi pucat. “Jadi..selamat tinggal, Hyung?”

Kelopak mata Yoongi mengatup dalam satu detik, sepasang tirta meluncur dari kornea-nya saat ia berkedip. Pada kedipan selanjutnya, bayangan Jimin telah sirna dari sana. Setelah itu, pada detik yang sama, Yoongi melebur dalam tangis yang ia tahan.

.

.

Jadi..selamat tinggal, Hyung?

 

Jangan pergi, Jim!

 

-fin.

Alucinaciones : Halusinasi dalam Bahasa Spanyol.

 

39 thoughts on “[Monochromic Youth] Alucinaciones – Oneshot

  1. Aku nangiiisss bca nih~~~ keinget adek q yg jg dah gk da~~ huuuaaaaa~~~

    Daebak!! Sumpah jjur nih FF prtama yg bkin aq nangis kyk gni~~

    Like

    1. Halo fadilah septi, firstly aku minta maaf ya kalo ff ini mengingatkanmu pada adekmu. Jangan sedih, inshaAllah adekmu sudah bahagia di atas sana kok :’)

      Dan aku gatau harus tersanjung atau merasa ga enak karena malah bikin nangis. Ehehehe, sekali lagi maaf yaaa😀

      Like

  2. ini masuk list bts fanfic terbagus yg pernah aku baca, alurnya jelas dan bagus, bahasanya lebih dr bagus hehe, climax nya kena, keep writting ya! author nya berbakat banget

    Like

  3. baru aja baca ff ausgt, skrg harus baca ff ini.. nangisnya gak berenti2 ini..
    tapi, good job thor 🙂 ceritanya keren..
    terus berkarya 🙂

    Like

  4. Demi apa, sedikit lagi air mata keluar nih! Tapi ditahan karena bacanya di kelas, nanti kalo ketahuan nangis sendiri dikira kenapa-kenapa lagi T^T
    Aku ngga ngeh sama judulnya, ternyata itu halusinasi ya. Ya ampun sedih banget u,u

    (btw aku comment tadi siang tapi baru bisa post comment sekarang wkwk)

    Like

  5. ya ampun, ini ceritanya bikin nyesek banget sumpah.. uh gak tau lagi mau bilang apa, berasa pengen nangis garuk-garuk lantai tapi banyak org yang liatin di sekeliling gua, huaaaaa…. intinya ini daebakk binggo ceritanya, feelnya itu loh ngena banget

    Like

  6. 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭APA INI??? TANGGUNG JAWAB KAMU DEK… INI TERLALU SEDIH BERANJIR RIA 😭😭😭😭😭😭😭
    DEDEKKU KAMU JNGAN METONG 😭😭😭😭 NANTI MBAK GIMANA, JIM😭😭😭😭

    Like

  7. FEY IS COMEBACK!

    aku meluncur stlh dpt notif reblog dr wp km td siang. blm sempet mampir trs baru bisa buka skrg lwt browser di hp *kuota mepet**malah curhat* dan gotcha! mewek udah T.T km emg master of family angst ya fey. gpernah gagal bkn nangis anak orng disetiap ff angst mu (trmasuk aku)..JJANG!

    akhirnya km nulis ff yg panjang2(?) lagi,, kusuka!! Keep witing ya fey. kutunggu!!

    btw ini aku,, Shan,, edisi gpunya kuota buat buka wp 😀

    Like

    1. ((master of family angst)) kok aku ngakak ya shan?? Aku master darimananya hahaha. Lah bikin nangis anak orang mah dosaaa aku kan enggak..((mode fey anak baik: on))

      Thanks ya sista sudah mampir kemari huhuuu

      Like

  8. Yaampun ini keren banget idenya sumpah!
    Beneran ga nyangka kalo ini cuma halusinasi yoongi. Tadi bac. Judulnya sempet mikir “mirip halusinasi” tapi aku kira bukan xD
    Pokoknya bagus banget diksinya, ide ceritanya, pembawaannya. Perfect!!!
    Good job author @-@/

    Like

  9. Kak aku nangis baca nya 😥 jimin sakit dan karna jimin sayang sama yoongi, jimin gak mau cerita tentang penyakitnya demi membuat yoongi gak khawatir 😥 huwaaa.. Yoongi.. Jimin.. 😥

    Like

  10. Woow! Nice story! Sukses membuat hatiku teriris-iris(?) Bener2 sukaa sukaaaaa!! Apalagi gaya bahasanya keren abis>< nice! Keep writing author! Terus berkarya dan pastinya lebih baik kedepannya!

    Like

  11. Hah? Udah ending ya? Oh.. udah ending. APA? ENDING? LALU KENAPA ADA AIR MATA DI PIPI AKU THOR? TERUS KENAPA HATI AKU JUGA MASIH NYESEK? YAAAASSH.. IGE MWOYA?!! ini FF MAHADASYAT sadendingnya. Tolong buatkan lagi thor T.T
    KEREEEEEENNNS T.T huhu~

    Like

  12. DEMI APA AKU NANGIS. INI APA APAAAN. ASDFGHJKL AUTHORNYA MUSTI TANGGUNG JAWAB INI KU NANGIS SESENGGUKKAN. APAAAAAN IH BAPER YAWLA NGGAK NGERTI LAGI AMPUN KU HARUS APA MAZ YUNGI YANG TABAH YA MAZ JIMIN PLIZ JANGAN PERGI INI NANTI KUMAKIN NANGIS NGGAK KERUAN LAH INI BELOM BISA BERENTI NETES(????).

    Liked by 1 person

  13. aaaaaa serius ini FF brothership yoonmin terdebest yang pernah aku baca. suka banget dari kata kata, ide cerita, alur semuanyaaaa aaaaakkkk serius keikutan baper malem malem. banyakin bikin yoonmin brothership lagi yaaa ditungguuuu

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s