[Monochromic Youth] Home – Ficlet

img1451564277112

“Home”

‘I am searching for home – Yoon Gi’

Title: Home| Written by Somplak2◦_◦ |Genre: Friendship, Drama | Length: Ficlet | Rating: T for Teenegers | Cast: Min Yoon Gi {Suga} and Kim Nam Joon {Rap-Mon} | Disclaimer: Cast belongs to God and theirself

Sambil tertawa kecil, segera kulangkahkan kakiku pergi dari swalayan kecil yang barusan kumasuki, sebelum pelayannya sendiri yang mengusirku pergi. Aku hanya tidak bisa menahan mulutku untuk bicara blak-blakan pada pelayanan suram yang diberikan penjaga swalayan itu,

“Lebih baik, Noona, memakai masker atau topeng saja daripada wajah asli yang cemberut seperti itu. Nanti tidak akan ada lagi yang mau beli di sini bila dilayani seperti itu, Noona. Hidup itu sebentar, jadi nikmatilah!”

Yang kuakhiri dengan tawa kecil, yang malah berbuah umpatan dan hardikan kasar dari pelayan muda itu.

Kembali kulanjutkan langkahku sambil tertawa kecil mengingat momen yang baru saja terjadi itu. Rencana pertamaku telah terlaksana: aku telah berhasil membeli makanan dan minuman ringan untuk dibawa ke rumah Nam Joon, sahabatku tercinta. Tersisa rencana kedua dan ketiga yang perlu disukseskan.

Sambil bersiul pelan dan mendengarkan lagu yang sedang berputar dari headphone yang terpasang, aku menikmati hari. Jalanan yang kulewati rindang, dan seakan menyambut musim semi, daun-daun banyak berguguran.

Mungkin memang karena tidak begitu peduli pada kerapian, aku merasa daun yang berguguran dan berserak di jalan yang kulewati ini sangan indah. Di sisi kananku, jalanan berukuran sedang juga sedang tidak terlalu ramai, berbanding terbalik dengan taman di sisi kiriku yang ramai dengan kicauan anak kecil.

“Aku benci jadi anak kecil, Yura. Orang dewasa selalu tidak mempercayaiku.” Kudengar suara anak laki-laki kecil, yang kutebak sedang cemberut. Kucari arah suara itu dan akhirnya melihat seorang anak lelaki dan perempuan yang sedang berhadapan.

Lalu anak perempuan di hadapannya menjawab, “Jangan begitu, Minho-ya. Appa dan eommamu pasti punya penjelasan mengapa melarangmu.”

“Tidak, Yura. Aku tetap merasa bahwa menjadi orang dewasa adalah hal terindah di dunia.”

Aku terkekeh kecil mendengar percakapan innocent antar dua orang anak kecil, yang bila kuprediksi dari penampilannya, berumur kira-kira 5 tahun. Entah bisikan apa yang membuatku menghampiri dan menyela konfrontasi dua orang anak itu, dan berakhir berlutut mensejajarkan tinggiku dengan anak lelaki, yang bila tak salah dengar bernama Minho:

“Jika saja kau tahu, Minho, aku saja yang masih remaja ini ingin mengulang kehidupan anak-anakku. Dunia dewasa itu kejam, Minho, belum lagi bila kau sudah diberikan ‘beban’ di pundakmu. Berat, Minho. Jadi nikmatilah hidupmu sekarang!”

Aku perlahan berdiri, dan mengacak pelan rambut anak itu lalu kembali melanjutkan jalanku ke rumah sahabatku yang tersisa 2 blok lagi. Menghiraukan tanda tanya besar di wajah dua bocah itu.

~^^~

Kuhentikan langkah tepat di depan pagar sederhana yang menghalangi pandanganku pada rumah bertingkat dua di dalamnya.

‘Ahh.. akhirnya sampai juga..’

Helaku pelan lalu menekan bel.

Tak lama kemudian pintu pagar itu terbuka dan menampakkan wajah terkejut Nam Joon, sahabatku. Aku hanya dapat terkekeh pelan, kala ia bertanya alasanku yang tiba-tiba datang ke rumahnya.

‘Memang tidak ada alasan yang istimewa, hanya ingin membicarakan rencana nekatku,’ pelan kujawab pertanyannya, namun hanya dalam benakku, karena aku hanya akan menjelaskannya nanti.

Ia lalu menyilakanku masuk. Tak lupa kuserahkan makanan dan minuman kecil yang telah kubeli padanya. Ia terkekeh lalu membimbingku ke halaman belakangnya.

Inilah spot favoritku dan Nam Joon tau itu.

Di halaman belakang rumah Nam Joon terdapat kolam renang sederhana dan taman kecil yang penuh bunga. Namun bukan itu yang menjadi favoritku, aku malah suka dengan gazebo yang juga terdapat di sana yang menawarkan tempat duduk yang nyaman plus sinar matahari yang indah, tak lupa harum bunga-bunga yang semerbak.

Tapi tak seperti biasa, aku lebih memilih duduk di pinggir kolam dan mencelupkan kakiku pada air tenangnya.

“Tumben kau tidak bilang ingin ke sini, Suga-hyung?” Nam Joon datang dengan minuman dan makanan yang telah kubawa. Namun selain itu ia memang memiliki banyak persediaan makan.

Nam Joon lalu duduk disampingku dan menunggu jawabanku.

Aku tersenyum lalu meminum minuman yang telah tersaji di sampingku. Lalu tersenyum konyol ke arahnya, menandakan keinginanku untuk bersantai dulu baru bicara. Ia hanya menjawab dengan senyum pelan lalu menemaniku makan dan minum cemilan kecil itu.

“Sebenarnya tiada alasan khusus yang membawaku ke sini, Nam Joo-ah, hanya ingin mengajakmu menonton Inception lagi.” Ujarku sambil tersenyum padanya.

Wajah Nam Joon, atau yang sering kami beri nama sayang ‘Rap-Mon’, langsung berubah panik lalu suram, “LAGI??!! Kau sudah ratusan kali menarik kami para minionsmu untuk menemanimu menonton itu, dan kau mau lagii?!! Apa kau tak bosaaann, Hyung??!!”

Aku hanya terkekah pada reaksinya. Hehe. Ak memang selalu menarik satu dari ke-6 sahabat baikku untuk menemaniku menyaksikan film kesukaanku itu. Entah aku tak pernah bosan saja.

“Nam Joon-ah, sebenarnya aku berencana pindah ke luar negeri setelah menamatkan sekolah kita ini.” ujarku sambil mengalihkan pandanganku pada langit cerah diluar sana. Segera melancarkan misi utamaku untuk curhat soal masa depan.

Inilah rencana keduaku, untuk mengatakan pada sahabatku yang paling kupercaya soal impian nekatku. Dan rencana ketigaku yang perlu disukseskan ialah membuat Nam Joon mendukung ide gilaku ini.

Perkataanku sepertinya telah mengundang keheningan dari sahabat disampingku, dan ia hanya bisa merespon dengan satu kata yang diucapkannya pelan,”Mengapa?”

Pelan, sambil kembali memandang langit biru di atas sana, aku menjawab, “Ini mengingatkanku pada omongan anak kecil yang tadi kutemui, yang ironisnya mengingatkanku pada diriku saat kecil dulu. Aku sering bermimpi jadi orang dewasa. Tapi saat sudah besar seperti sekarang aku malah ingin jadi anak kecil saja. Aku benci jadi dewasa dan terkekang. Aku ingin bebas lagi.

Aku menikmati hariku, kok, ada kalian dan keluarga yang kusayangi. Tapi aku juga ingin merasakan seutuhnya rasa dewasa itu bagaiman di usia remajaku ini, yaitu dengan belajar mandiri jauh dari jangkauan orang tuaku, dan menggapai kembali kebebasanku..”

Pelan kutersenyum pada gambaran imajinasi di kepalaku. Aku sangan sayang pada keluargaku dan juga pada Bangtan Boys, grupku dan sahabat-sahabatku tersayang, hanya saja aku tidak dapat menahan diriku untuk menikmati rasanya ‘bebas’ lagi. Kedengarannya aku egois yaa?

“Hyung, kau dan obsesimu akan kebebasan sangat mengusikku dan mengelurkan moster marah dalam diriku!” katanya sambil berteriak dan mencengkram kedua pundakku. “Ehh..??” responku kebingungan.

“Menurutku kau sudah terlalu tenggelam dalam dunia imajinasimu, Hyung. Kembalilah! Bila kau bersikap seperti itu, berarti selama ini aku hanya berteman dengan seorange egois yang meninggalkan keluarga dan sahabatnya demi kebahagian sesaat, kebebasan sesaat!

Kau hanya akan bahagia sebentar Hyung, dan jelas meninggalkan luka di hati yang kautinggalkan. Kau harus mengeri arti ‘home’ sebenarnya.” Ujarnya menuntut.

Aku menggelengkan kepalaku, “Iyaa.. aku akan mengerti apa arti ‘home’ sebenarnya saat aku pergi jauh dari rumah, Nam Joon-ah.”

Kini giliran Nam Joon yang menggelang dan menatapku tajam, “Tidak, Hyung, kau akan mengerti ‘home’ sebenarnya saat kau kebingungan, kehilangan, sedih, bahagia, marah dan kau memikirkan gambaran seseorang untuk berbagi.. Apa yang kau pikirkan bila seperti itu?”

Aku membayangkan yang dikatakan Nam Joon-ah dan refleks menjawab, “Eomma, Appa dan kalian ber-6 sahabatku.”

Entah mengapa, jawabanku menerbitkan senyum puas di wajah Nam Joon, “Tepat sekali. Itulah ‘home’ sebenanya, mereka ialah tempat kau kembali. Bukan dari perjalanan dan jarak yang jauh.  Tapi tempat kau kembali dan berbagi.

Tempat kau berbagi kebebasan, kebahagian, kesedihan dan semuanya, Hyung. Kau sudah memilikinya, kau hanya tidak menyadarinya.”

Nam Joon tersenyum dan aku hanya dapat terdiam mencerna semua ini.

Sepertinya rencana ketigaku untuk membuat Nam Joon mendukung rencana nekatku, sudah gagal. Tapi entah mengapa, aku tidak sedih.

Rasa pencarianku sudah terpuaskan, sepertinya aku memang telah menemukan ‘home’ku yang sebenarnya.

Home yang berarti tempat pulang, tak hanya kau dapatkan di sebuah bangunan,namun juga pada orang-orang yang membuatmu merasakan perasaan ‘di rumah’ sebenarnya; tempat kau berbagi; tempat kau terbang bebas. Dan baru kusadari ‘home’ku ialah keluarga dan sahabatku.

~FiN~

A/N:

Demikianlah fanfic saya yang kadar amburadul dan kesomplakkannya sangat cetarr membahanaa ini ^^. Inilah saatnya sy undur diri dari hadapan pembaca. Maaf bila ada salah khilaf. Dan jangan lupa:

We are somplaks and we are the championss!!

We are one and on!

Fayyerr; pihkterr; Ulalaaa 😉

Salam Somplak! ^^//

Advertisements

4 thoughts on “[Monochromic Youth] Home – Ficlet

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s