[Monochromic Youth] Fuller’s Teasel – Vignette

Fuller’s Teasel

Title: Fuller’s Teasel. Author: Bluebell. Main cast: Kim Taehyung & OC. Genre: AU, Crime, Thriller. Rate: PG-17. Length: Vignette. Disclaimer: I just own the plot!

Summary:

“Kuharap kau tidak menyesal dengan keputusanmu.”

.

***

.

.

.

Ujung benda tajam itu tenggelam, bau anyir merebak di indera penciuman, mengisi kegelapan yang menyelimuti dan perlahan-lahan melumuri sarung tangan milik Taehyung.

 

Tak ada suara, napas putus-putus milik Taehyung menjadi satu-satunya tanda di tempat itu masih ada kehidupan. Satu hentakkan lagi sampai pisau tajam itu menancap di bahu kiri. Taehyung memunculkan seingaian kala si korban ambruk di dekat kakinya.

Seolah belum puas dengan darah yang memenuhi kaus dan jaketnya, kali ini Taehyung menjambak rambut pria itu hingga membuatnya berdiri. Ia menarik pisau yang tadinya menancap di bahu, lalu tanpa aba-aba menjebloskannya kembali pada mata si korban dan memutarnya. Saat benda itu ia tarik, Taehyung mengeluarkan kantung plastik di saku jaketnya untuk memasukkan satu bola mata penuh darah.

Selesai dengan aksinya, Taehyung melajukan tungkainya meninggalkan ruangan. Menunjukkan kantung plastik tersebut, ia menggedikkan dagu pada Namjoon yang telah menunggu untuk menyelasikan tugasnya.

.

*******

.

Taehyung meniti langkah di sepanjang koridor seraya mengunyah permen karet. Ia mengurungkan niat untuk menyentuh gagang pintu karena seseorang telah terlebih dahulu keluar dari ruangan tersebut. Taehyung mengamati punggung pria tersebut yang pergi tanpa menyapanya.

“Tadi itu siapa? Kau habis bercinta dengannya, ya?” Taehyung bertanya asal pada seorang gadis berambut blonde yang duduk manis sembari mengupas apel.

Tatapan tajam dilayangkannya pada Taehyung. Tanpa membiarkan pemuda itu bersiap terlebih dahulu, ia melemparkan pisau kecil di tangannya hingga mengenai lengan kanan Taehyung.

“Akh!”

“Park Jira!” Suara Namjoon tiba-tiba muncul. Taehyung mendengar suara kain dirobek lalu seseorang buru-buru mengikat lengannya.

“Aku membelinya duaratus ribu won per meter, kalau kau ingin tahu, Kim Namjoon.”

Gwaenchanha?” Namjoon bertanya khawatir. Bukannya menjawab, Taehyung malah menarik sesuatu dari saku celana jeansnya dan melemparnya ke arah Jira.

“Hadiah untukmu, Nona,” katanya polos, membuat gadis itu menjerit lantas melemparkan apel ke sembarang arah.

“Kau gila, Kim Taehyung!!”

Namjoon tertawa puas. Baru kali ini ia melihat seorang Park Jira yang arogan menjerit ketakutan layaknya gadis takut kecoa.

.

*******.

.

Jira mendorong dua amplop coklat ke meja beserta kertas berisi biodata.

“Aku sedikit kecewa malam ini karena kau membawa bagian dari tubuh mereka ke mari,” Taehyung memajukan bibir bawahnya, mengejek. Jira pun memutar mata. “Target selanjutnya. Kali ini aku tidak ingin kalian terlalu kejam.”

“Kenapa? Kautakut Taehyung membawanya padamu?” tanya Namjoon iseng.

“Aku hanya melakukannya saat aku ingin, Jira,” Taehyung menyimpan uangnya di dalam jaket. “Kali ini aku tidak bisa. Sebaiknya kau suruh Namjoon mencari teman atau membereskannya sendiri.”

“Kau tidak sedang mabuk ‘kan?”

Taehyung menyandarkan kepala pada kursi untuk mendapatkan posisi nyaman.

“Dua kali lipat.”

Taehyung menutup mata, tak mengindahkan.

“Tiga—“

“Jangan memaksanya, Jira. Dia sedang tidak ingin,” sela Namjoon.

“Apa kau mulai menyayangi keluarga barumu?” Jira menoleh sedikit pada Namjoon agar pemuda itu tidak menyela lagi. “Kau tidak lupa ‘kan siapa yang menolongmu saat nyaris bunuh diri setelah upacara pemakaman?”

Taehyung meloloskan karbondioksida dari mulutnya lantas membuka mata. Ia meraih jaketnya lalu berkata, “Lima kali lipat, maka aku akan membereskannya. Jangan lupa berikan jumlah yang sama untuk Namjoon.”

Menatap kepergian Taehyung dengan sedikit kesal, Jira hampir melayangkan pisau kupasnya lagi pada kepala Namjoon kalau saja pemuda itu tidak bersiul menyebalkan.

“Sialan!”

.

*******

.

Jari-jari kurus itu menyambar tissue banyak-banyak lalu mengusapkan ke wajah terutama pada bagian mata. Taehyung melihat bercak darah yang tadi tercetak di kelopak matanya sudah hilang.

Merasa wajahnya sudah bersih, Taehyung memasuki rumah tanpa rasa takut. Pemuda itu menaiki tangga dengan tenang, enggan menyapa walaupun tahu ada dua manusia sedang duduk bercengkerama di ruang makan.

“Taehyung Oppa!”

Sambutan seorang gadis tak jua menghentikan langkahnya. Sengaja menulikan pendengaran untuk sesuatu yang menurutnya tidak penting.

“Taehyung…” Pemuda itu langsung menjauhkan lengan kanannya yang berhasil diraih oleh seorang wanita paruh baya. Menyembunyikan rasa sakit, ia memilih mengeratkan gigi-gigi di dalam mulutnya. Dengan sepenuh tenaga bernapas normal walau titik-titik keringat mulai muncul di kening dan pelipisnya. “Upacara pernikahan diadakan dua minggu lagi, kau harus mencoba tuksedo yang Eomma pesankan untukmu.”

Taehyung menatap tajam wanita itu. Kemudian memberikan satu lirikan pada Jihyun yang berdiri di samping kulkas.

“Sejak kapan aku setuju hadir di pesta pernikahan anakmu?” Pemuda itu berkata dingin. Meninggalkan keduanya tanpa rasa bersalah.

.

*******

.

Taehyung berusaha bernapas normal selagi melepas jaketnya. Kakinya lemas, terduduk, ia susah payah merangkak menuju nakas untuk mengambil obat. Salahkan Jira tentang hal ini, juga salahkan Taehyung mengapa mulutnya tidak hati-hati.

Tidak menemukan apa yang dicari, Taehyung berusaha berdiri demi mencapai lemari. Kendati tidak mampu berdiri tegak, Taehyung masih bisa melihat pantulan tubuhnya di cermin.

Kaus putih penuh darah, lengan terbalut kain seadanya, wajah pucat pasi, dan sorot mata kebencian yang begitu mendalam. Sungguh, Taehyung mengakui dirinya saat ini terlihat begitu menjijikkan.

Pemuda bersurai legam itu mengulurkan tangan. Niatnya menyentuh refleksi wajahnya di cermin, namun darah terlanjur mengotori kaca.

“Pecundang.”

Pintu terbuka secara tiba-tiba. Jihyun berdiri di ambang pintu dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Oppa…”

Taehyung menatap gadis itu berang. “Siapa yang mengizinkanmu masuk?!”

Oppa, gwaen—gwaenchanha?” tanyanya panik, berjalan mendekati Taehyung.

“Siapa yang mengizinkanmu ke mari?!” nada bicara pemuda itu meninggi.

Alih-alih takut, gadis itu menggapai lengan Taehyung yang bersimbah darah.

“K—kau pucat, a—apa terjadi… sesuatu padamu?” Matanya menyiratkan rasa cemas dan panik.

“Pergi dari hadapanku.”

“Tunggu sebentar di sini, aku akan mengambilkan kotak obat.”

“Pergi.”

“Aku akan mengobatimu, tunggu—“ ucapan Jihyun terpotong karena Taehyung menghentakkan tangan kasar, membuat gadis itu nyaris terjungkal kalau tidak pandai menjaga keseimbangan.

“Jangan menyentuhku,” Taehyung berkata rendah, menghujami Jihyun dengan tatapan tajam penuh luka. “Menjauh dariku.”

Jihyun menunduk, nyalinya menciut. Mata Taehyung sangat menakutkan dan kelihatan sangat terluka karena tatapan sedih itu lebih mendominasi.

“Keluar sebelum aku marah,” Taehyung berjalan menuju ranjangnya dengan tenaga yang tersisa tanpa memedulikan Jihyun yang menutup pintu pelan.

.

*******

.

Sudah setengah jam, arloji di tangannya memeringatkan.

Dari jarak pandangnya sekarang, Taehyung bisa melihat buruannya kali ini sudah siap untuk dihabisi.

Menginjak pedal gas cukup dalam, Taehyung hanya terus memandang lurus. Mobil yang ia kemudikan sedikit bergoyang, menandakan ada sesuatu di atas aspal yang barusaja tergilas. Menunjukkan seringaian, pemuda Kim itu menoleh pada kaca spion. Dilihatnya tubuh itu nyaris rata dengan tanah.

Tak lama kemudian, ia mengerem mobilnya sehingga menimbulkan decitan keras. Dengan cepat Namjoon muncul dari sisi jalan dan duduk di sampingnya. Seringaian yang sama tercetak di wajah.

Nice!” ujar Namjoon.

.

*******

.

“Melatih anjing jinak agar menjadi liar memang sangat mudah.”

Jira menyilangkan kakinya, duduk dengan nyaman di atas kursi lalu meletakkan kertas berisi biodata di depan Taehyung dan Namjoon. Taehyung tengah meneguk soda ketika Namjoon tiba-tiba berseru, “Kau tidak berniat menyuruh kami melakukannya setiap hari ‘kan?”

Jira telah menyodorkan kertas bertajuk biodata, jadi bukankah Taehyung maupun Namjoon tidak perlu menuntut penjelasan?

“Kali ini aku tidak memaksa kalian cepat-cepat membereskannya,” ia asyik memainkan ponsel. “Aku memberi kalian waktu selama dua minggu untuk menyelesaikan, dan kali ini harus lebih rapi.”

“Jangan memotong bayaran Namjoon untuk tirai tidak berguna itu, aku bisa menggantinya dengan kain seprei di kamarku,” ujar Taehyung tiba-tiba.

Jira memutar mata jengah. Namun senyumnya mulai mengembang saat melihat sesuatu di layar ponselnya.

“Jeon Jungkook. Akhirnya aku menemukannya. Cinta pertamaku,” Jira menunjukkan foto seorang laki-laki pada Taehyung dan Namjoon. Bibirnya mengulas senyum tipis, “Hanya waktunya tidak tepat.”

“Oh, ratu kita sedang jatuh cinta rupanya,” komentar Taehyung dengan mulut penuh. Namjoon terbahak, mereka melempar ejekan.

“Tapi ini akan sangat menguntungkan kita berdua,” Jira menatap Taehyung.

“Kim… Ji… Hyun,” suara Namjoon menginterupsi. Kulit kening Taehyung terlipat. “Bukankah adik tirimu juga bernama Kim Jihyun?”

Taehyung merampas kertas dalam genggaman Namjoon. Matanya membola. Foto Jihyun—adik tirinya—tercetak jelas di sana.

“Bagaimana bisa—“ Namjoon menganga tak percaya.

“Taehyung tidak lupa dengan kebenciannya, kurasa.”

“Park Jira, apa benar ini…” Taehyung kehilangan fokus matanya. “Jihyun?”

“Kematian ayahmu akan terbayar dengan ini. Dan aku akan mendapatkan cinta pertamaku.”

Senyum puas terpampang pada wajah gadis bertubuh indah itu. Ia berdiri dan mendekati jendela besar, menjalankan jemarinya di atas layar lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga.

Taehyung tidak tahu semuanya akan seperti ini.

Benar, Jihyun dan ibunya harus membayar penderitaannya. Mereka harus menerima balasan atas apa yang mereka perbuat.

“Ini akan sulit,” Namjoon bergumam.

“Ya, mereka harus mendapatkan imbalan yang pantas,” ia menoleh, meyakinkan Namjoon meski bibirnya bergetar.

“Tapi dia adikmu, walaupun bukan adik kandung,” mata Namjoon berkilat cemas.

“Apa peduliku? Keluargaku akan tetap utuh dan bahagia jika mereka tidak datang.”

Namjoon menghela napas mendengar kalimat Taehyung. Ia pikir, dendam yang teramat besar telah menguasainya. Tetapi disisi lain, menurut Namjoon, semua itu tidak berguna. “Kuharap kau tidak menyesal dengan keputusanmu. Tapi balas dendam tidak akan membuat orangtuamu hidup dan bersatu lagi, Taehyung.”

.

*******

.

Begitu mobil hitam yang ia kemudikan berhenti, mata Taehyung fokus pada satu titik. Otaknya memunculkan berbagai pertanyaan atas hadirnya mobil lain di halaman rumahnya. Dahi Taehyung berkerut lantaran tak merasa kenal dengan pemiliknya.

Melangkahkan kaki lebar-lebar, Taehyung tiba-tiba berhenti begitu fokusnya menangkap orang asing yang duduk di samping Jihyun. Tersenyum, tertawa, bahkan membuat gestur yang menyenangkan untuk dilihat.

Kedua alis Taehyung meliuk, otaknya sibuk mengobrak-abrik kotak memori yang sepertinya memberi sedikit pemberitahuan mengenai siapa sosok laki-laki itu.

“Upacara pernikahan diadakan dua minggu lagi, kau harus mencoba tuksedo yang Eomma pesankan untukmu.”

“Jeon Jungkook. Akhirnya aku menemukannya. Cinta pertamaku.”

Sekelebat suara Park Jira memenuhi kepalanya. Taehyung yakin dengan ingatannya. Ia belum melupakan bagaimana lengkungan manis milik Park Jira tercipta saat menunjukkan foto seseorang di ponselnya.

“Hanya waktunya tidak tepat.”

Tanpa disadarinya, kakinya mengambil satu langkah mundur. Menelan ludah dengan berat membuat kepala Taehyung sedikit pening. Ingin rasanya pergi dari tempat itu untuk mendinginkan pikiran, namun sebelum niat itu terlaksana, mata bulat Jihyun terlanjur menyadari eksistensinya.

Dengan langkah riang Jihyun menghampiri Taehyung. Mempertemukan pandangan mereka sehingga membuat sang lelaki semakin sulit meraup oksigen.

Tatapan tak berdosa itu menghujami Taehyung dengan sekumpulan kasih sayang. Meregas emosi lalu mengubahnya menjadi gumpalan cemas yang menyiksa. Taehyung bingung. Tidak mengerti harus memasang topeng model apa pada setiap pasang mata yang menyaksikan punggungnya makin menjauh.

Pintu tertutup kasar, kunci itu berputar, kemudian Taehyung menyandarkan punggung di sana, menatap langit-langit kamar yang tak memberinya solusi.

Tangan bergetar Taehyung meremas dada, menyalurkan kegelisahan yang mencekik tenggorokan. Perlahan-lahan ujung jemarinya menggenggam liontin yang menggantung di kalung yang ia pakai.

Pandangan Taehyung jatuh ke lantai, menelusuri tiap kotak ubin yang mengantarkannya menuju ranjang. Ia berbaring terlentang, tangannya masih menggenggam liontin berbentuk persegi itu. Sebelah tangan Taehyung terkulai lemas di samping kepala. Lalu netranya jatuh pada bingkai foto di dinding. Menampakkan tubuh mungil sang ibu yang berdiri di samping ayahnya.

Eomma…” Panggilnya lirih. Dadanya terasa sesak melihat senyuman sang mendiang ibu. Rindunya menggebu, satu-satunya keinginannya saat ini adalah menemui sang ibu dan memeluknya erat untuk mengadu.

Ujung matanya berair tanpa bisa dicegah. Genggaman tangannya pada liontin makin erat. Benda yang melingkar di lehernya kini adalah satu-satunya yang tersisa dan paling berharga. Dimana nama Kim Taehyung terlukis apik tanpa cacat sedikitpun.

Taehyung mengatupkan mata. Bulir bening menuruni pipinya.

“Aku merindukanmu, Eomma…”

.

*******

.

Ini tak seperti malam-malam sebelumnya. Setiap kali selesai melancarkan aksinya, Taehyung tidak pernah merasa seresah ini. Sekalipun ia membuat tubuh korbannya terpisah di beberapa tempat, Taehyung tidak pernah gelisah, merasa bersalah, apalagi tidak bisa tidur.

Jadi malam itu Taehyung terjaga. Menyambar jaket kulitnya, ia keluar kamar. Baru menuruni tiga anak tangga, langkahnya terpaksa berhenti karena Jihyun—yang saat itu sedang duduk di ruang makan—mendadak menginterupsi.

“Kau mau ke mana, Oppa?”

Saat itu Taehyung tidak bisa menahan kalimatnya, ia tiba-tiba ingin menjawab. Sembari menatap sang adik tiri dengan pandangan sayu, “A—aku… ingin mencari udara segar. Kau… kau mau ikut?”

Jangan ikut, Jihyun. Alam bawah sadar Taehyung mencoba mencegah, namun tetap tidak memengaruhi keputusan Jihyun untuk mengembangkan senyuman dan segera merapikan rambutnya yang berantakan lalu dengan semangat berkata, “Tentu.”

.

*******

.

Melalui ekor mata, Taehyung melihat gadis itu menggosokkan kedua telapak tangan dan meniupnya. Asap tipis keluar dari bibir gadis itu.

“Dingin,” gumam Jihyun lalu merapatkan lipatan tangan di depan dada.

Mata Taehyung bergerak tak nyaman, mencoba tak memedulikan keluhan gadis itu. Ia ingat bahwa ini adalah kali pertama mereka berjalan bersama berdampingan. Bahkan ini dikarenakan tawaran Taehyung sendiri.

“Kali ini aku tidak memaksa kalian cepat-cepat membereskannya.”

“Aku memberi kalian waktu selama dua minggu untuk menyelesaikan, dan kali ini harus lebih rapi.”

Perkataan Jira berdengung di telinganya. Membuat Taehyung bisa mencerna sedikit demi sedikit apa maksud dibalik semua itu.

Biasanya gadis itu akan mendesaknya dan Namjoon untuk menyelesaikan ‘tugas’ mereka. Tetapi kali ini Jira memberinya rentang waktu yang cukup panjang.

Karena dua minggu lagi adalah hari pernikahan Jihyun dan Jungkook. Maka inilah alasan Jira memberinya waktu dua minggu.

Langkah kaki Taehyung berhenti mendadak. Pikirannya melayang memikirkan hal itu. Membuat Jihyun ikut berhenti secara refleks. Gadis itu memandangnya penuh tanda tanya.

Namun menyadari hal itu, Taehyung cepat-cepat melangkah lagi dan memilih mengabaikan Jihyun.

“Sudah lama aku ingin kita seperti ini, Taehyung Oppa,” gadis itu membuyarkan lamunan Taehyung. “Aku sangat berharap kaubersedia mengantarkanku di altar sebagai pengganti Kim abeoji.

Kim abeoji yang dimaksud bukan ayah kandung Jihyun, melainkan ayah tirinya—ayah kandung Taehyung. Sialnya keduanya memang memiliki marga yang sama.

“Bukankah adik tirimu juga bernama Kim Jihyun?”

“Taehyung tidak lupa dengan kebenciannya, kurasa.”

“Aku ingin menukarnya,” sudut bibir Jihyun terangkat, saat itu pula perhatian Taehyung mulai terfokus padanya. “Ini adalah salah satu alasan aku ingin menikah muda. Kepergian abeoji pasti sangat sulit untukmu.”

Betapapun ia benci, ayahnya tetaplah ayahnya. Masih segar di dalam memori Taehyung bagaimana dirinya menangis di hari pemakaman. Bodohnya, ia menunjukkan kelemahannya pada semua orang, terutama pada Jihyun dan ibunya.

Mata dan telinga Taehyung memerah. Tenggorokkannya mulai kehilangan fungsi mengalirkan oksigen ke paru-paru. “Apa maksudmu, Jihyun?” tanyanya datar, menatap jejak-jejak basah pada jalan yang mereka tapaki.

“Jika saat itu abeoji tidak mendorongku ke seberang jalan, kalian pasti masih bersama.”

“Kalian? Siapa yang kau maksud ‘kalian’? Aku dan appa-ku?” Napas Taehyung memburu. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.

Mianhae, Taehyung Oppa.”

Buku-buku jarinya memutih, kepala Taehyung terasa sangat panas. Dengan cepat pemuda itu mendorong Jihyun hingga punggungnya menabrak tiang lampu. Terkejut, ekspresi tenang gadis itu berubah serius. Tentu mulai ketakutan karena berada di bawah tatapan tajam Taehyung.

“Maaf?” pemuda itu tertawa sinis. “Setelah kau dan ibumu menghancurkan semuanya, kau baru meminta maaf?”

“A—aku… aku—“

“Kau, dan ibumu, bahkan tak pernah tahu betapa menderitanya aku dan ibuku sejak melihat ibumu bercumbu dengan ayahku. Apa kalian pernah berpikir bagaimana hancurnya kami?”

Ujung mata Jihyun berair, begitu pun Taehyung. Masih tersimpan dengan rapi dalam ingatan Taehyung bagaimana ibunya sangat putus asa setelah melihat kejadian itu. Taehyung menyaksikan sendiri ibunya terlihat depresi, tertekan, lalu berakhir dengan botol-botol minuman beralkohol.

“Eomma…” Taehyung kecil meronta dalam pangkuan sang ibu. Air mata mereka menganak sungai, menyatu dalam tangisan pilu yang memenuhi ruangan.

“Pecundang! Mereka adalah sampah menjijikkan!” Ibu Taehyung memeluk erat putra kecilnya yang rapuh lantaran tak sepantasnya ikut menanggung segala penderitaan yang menimpanya.

“Eomma…” Tangan mungil Taehyung menangkup kedua pipi sang ibu, mempertemukan pandangan mereka. “Aku ingin bersamamu ke manapun kaupergi.”

Tetapi semua keinginan Taehyung waktu itu tak terkabul. Jika ibunya memilih untuk mengakhiri hidupnya, seharusnya mereka melakukan itu bersama-sama. Namun jauh dari ekspektasi, ibu Taehyung malah mendudukkan anaknya pada sebuah kursi dan mengikatnya dengan tali kuat-kuat. Setelah itu, ia menunjuk kalung yang dikenakan Taehyung dan berkata, “Kalau kau merindukan Eomma, genggamlah ini maka kau akan tahu bahwa Eomma selalu merindukanmu.”

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya diikat oleh ibumu sendiri lalu menyaksikannya berusaha bunuh diri di depan matamu.”

Mata yang sarat akan luka itu menatap Jihyun, bulir bening menggantung di ujung kelopak mata Taehyung. Saat itu pula rasa bersalah merayapi Jihyun.

“Mianhae.”

“Aku. Membencimu.” Air matanya menetes menuruni pipi, sekali lagi menunjukkan kelemahannya di depan orang lain. “Aku membenci kalian sampai rasanya aku ingin mati.”

Hati Jihyun mencelos.

Sebegitu dalam kah Taehyung membencinya? Sebegitu menderita kah Taehyung selama ini?

“Jangan—“

“Siapa kau berani-beraninya melarangku?”

Tangan Taehyung bergerak cepat. Menangkap leher gadis itu lalu mencekiknya sehingga mengeluarkan pekikkan tertahan. Di balik bulu matanya, Taehyung melihat gadis itu mulai kesulitan mengambil oksigen.

Pemuda itu tertawa ringan lalu berdecak. “Padahal aku belum mengerahkan seluruh tenagaku tapi kau sudah mau mati.”

“Aku… rela… diberi balasan… atas… atas kematian abeoji,” ucap Jihyun kepayahan.

Darah Taehyung mencapai ubun-ubun, tangannya semakin erat mencengkeram leher Jihyun.

“Kau harus menerima imbalannya,” rahang Taehyung mengeras hingga giginya beradu. “Bukan balasan atas kematian appa-ku, tapi untuk penderitaan dan kematian eomma-ku.”

Sebelah tangan Taehyung menggeledah saku jeansnya, sementara tangan yang lain tetap tinggal di leher Jihyun. Ia mengeluarkan pisau lipat dan menunjukkannya di depan wajah Jihyun.

“Sebenarnya aku tidak merencanakannya malam ini.”

Mata Jihyun membulat tak percaya begitu ujung benda tajam itu menari-nari di garis rahangnya. Taehyung tersenyum miring, tanpa memberi aba-aba menekan ujung pisaunya lebih dalam di kedua tulang pipi Jihyun sehingga gadis itu meringis menahan perih.

“Dulu ibuku melakukan ini,” terangnya atas apa yang barusaja terjadi. Kemudian Taehyung melepas tangannya yang berada di leher Jihyun. Tanpa memberi jeda bagi gadis itu untuk menarik oksigen, ia melesakkan mata pisaunya di lengan kanan gadis itu. “Kau pernah melihat darah mengalir di lengan kananku ‘kan? Perlu kau tahu bahwa aku… tidak suka kau sentuh.”

O—ppa…” Jihyun merintih kesakitan, air mata merembes di pipinya yang terluka sehingga darah mengotori hampir seluruh wajahnya. Membuat rasa perih nan ngilu itu semakin menjadi-jadi.

“Dan dulu, ibuku juga melakukan ini.”

Pisau itu menghujam perut Jihyun. Lebih mengutamakan egonya, Taehyung memutar pisau tersebut lalu menariknya sebelum kembali menusuk perut Jihyun berkali-kali tanpa ampun. Gadis itu menutup mata pelan-pelan. Darah terciprat ke wajah Taehyung tetapi pemuda itu menjambak rambutnya agar tubuhnya tidak merosot ke tanah.

Taehyung mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu menancapkan pisau penuh darah itu ke dada sebelah kiri Jihyun. Tepat di jantungnya. Tubuh Jihyun ambruk begitu Taehyung melepaskan kepalanya.

Napas Taehyung tersengal. Ada rasa puas sehingga membuat senyum tipis tercetak di wajahnya saat melihat tubuh Jihyun terkulai tak berdaya.

.

*******

.

Taehyung menekuk kakinya, duduk di dekat jembatan yang minim penerangan. Dirogohnya ponsel di saku jaket, berniat menghubungi Namjoon untuk memberitahu agar tidak perlu repot-repot menyusun strategi karena dirinya sudah membereskannya. Namun sebelum ujung jempolnya yang penuh darah menyentuh gambar berwarna hijau, Taehyung mengurungkan niatnya. Pikirannya kembali berkelana.

“Balas dendam tidak akan membuat orangtuamu hidup dan bersatu lagi, Taehyung.”

Pemuda itu menoleh, menatap jasad Jihyun dengan tangan dan kaki terikat.

Ponsel itu terjatuh dari tangannya.

Tak ada rasa bersalah dalam benak Taehyung. Tadinya seperti itu. Namun ketika nama Namjoon tiba-tiba tersemat dalam kepalanya, ucapan pemuda itu berdengung di telinga. Membuat satu helaan napas lolos dari mulut Taehyung.

Gusar, Taehyung mengusap wajahnya. Tanpa mengacuhkan fakta bahwa saat ini wajahnya ikut tertutup oleh darah.

Dalam hati membenarkan ucapan Namjoon. Ya, membalas dendam takkan mengembalikan segalanya. Bahkan sekarang, meski Jihyun telah mati, ibunya tidak bisa hidup lagi.

Tangan Taehyung menggenggam liontin di lehernya. Tatapan matanya kosong. Terlihat putus asa dan bingung.

Eomma...”

Taehyung menunduk, air matanya luruh, kembali membasahi pipi berbaur dengan rasa rindu pada sang ibu.

Begitu ia mendongak dan berdiri di atas kedua kakinya, Taehyung mengangkat tubuh Jihyun. Mengangkat tubuh kecil itu, Taehyung memandang wajah Jihyun. Keningnya tiba-tiba berkerut, merasa bahwa ini semua tidak sepenuhnya benar.

Maka dengan segenap perasaan yang bersarang di hatinya, Taehyung melepas kalung miliknya untuk dilingkarkan di leher Jihyun, melepas jaket kulit yang ia kenakan untuk dipakaikan pada tubuh Jihyun, dan memasukkan pisau lipat miliknya ke dalam saku jaket tersebut.

Semuanya takkan bisa kembali, sekalipun ia juga membunuh ibu Jihyun.

Mianhae,” ucapnya lirih, kata-katanya terbawa angin.

Taehyung melemparkan tubuh Jihyun ke sungai. Ia sempat melihat air yang bergerak karena tertimpa tubuh gadis itu.

Menghela napas berat, pemuda bersurai hitam itu meninggalkan tempatnya. Ia menengadah, menatap bintang-bintang di langit, lalu memantapkan hati untuk bersiap.

Besok. Atau mungkin beberapa hari lagi ada yang akan menjemputnya. Setidaknya dengan begini, ia tidak tinggal satu atap dengan ibu tirinya.

 

fin.

Advertisements

One thought on “[Monochromic Youth] Fuller’s Teasel – Vignette

  1. Ini namjun sama tae jadi pembunuh bayaran ya? Serem bgt jadi tadi banyak yg aku skip ㅠㅠ
    Akhirnya tae tega juga ngebunuh jihyun. Itu jira siapa sih? Bosnya pembunuh bayaran apa gimana?
    Ini keren bgt thor, good job @-@/

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s