[EPISODE 5] BEAUTIFUL LIAR

CYMERA_20160127_221854.jpg

 

wisely present by Cachalpannia
Cast(s) :
[BTS’s] Jeon Jungkook — [OC] Yeon Nahyun — [BTS’s] Kim Taehyung
Genre(s) :
Drama, Fantasy, School-Life, AU
Rating : Teenager

.


Read :
[EP 4] [EP 6]


 

Oh, jadi ini alasan Taehyung menyelamatkan Nahyun dari percobaan bunuh dirinya?

Melompat dari lantai lima memang bukan tindakkan yang main-main. Bahkan Jungkook melongo ketika Nyonya Kim bercerita tentang alasan mengapa Taehyung bisa terbaring koma di rumah sakit. Remaja itu berusaha menghentikan aksi konyol seorang Yeon Nahyun—gadis yang selama Jungkook berada dalam raga Taehyung—tidak ada ramah-ramahnya sama sekali. Gadis yang selalu ingin menang sendiri kendati ia pun menamengi status ekonominya di sekolah.

Kali ini Jungkook lebih-lebih dari sekedar melongokan mata. Seketika tubuhnya pun serasa kaku. Semua kalimat Nahyun terlalu mengejutkannya. Padahal semua persoalan ini tentang Taehyung, bukan tentangnya. Ia kelewat tenggelam dalam pemikirannya sendiri yang dikiranya Taehyung memiliki perasaan khusus pada Nahyun. Kenyataannya, salah besar. Dugaan Jungkook kelewat klise.

“A-apa?” Pun bibir Jungkook menjadi kelu. Tak ingin berkomentar, tidak bisa. Ingin berkomentar, sulit. Bukan mulutnya lagi yang susah berbicara, tapi sudah merambat ke otaknya hingga rasanya ia tak lagi bisa berpikir jernih.

Obsidian Nahyun ikut memincing seiring dengan respon Taehyung yang sangat tidak sesuai, “Kau—kau bilang tadi ingatanmu sudah kembali?!” Protesnya. Seolah dirinya telah tak sengaja menceplos sebuah rahasia besar pada orang yang salah.

“Kapan aku bilang begitu?” Balas Jungkook, mencoba memberi nada sesantai mungkin. Secara harfiah, ia benar. Ia tidak pernah bilang ingatan Taehyung sudah kembali. Dan sekarang giliran Nahyun yang menganga, antara kesal sekaligus tidak percaya. Tadi itu, ia benar-benar berpikir Taehyung sudah mendapatkan kembali seluruh memorinya. Pula dengan memori tentang dirinya.

Melihat wajah Nahyun yang demikian, membuat Jungkook tak enak hati. Ia berdehem dan melanjutkan, “Dengan terapi, aku mulai mengingat sedikit demi sedikit.” Ujarnya berbohong. Padahal ia belum pernah mengikuti terapi dimanapun.

“Jadi itu alasanku menyelamatkanmu yang ingin melompat dari lantai lima?”

Pluk. Seperti orang ketakutan, tangan gemetar Nahyun menjatuhkan ponselnya sendiri yang mungkin sejak tadi memang berada ditangannya—Jungkook tidak terlalu memerhatikan hal kecil seperti itu. Netranya juga tak cukup jeli untuk melihat seluruh sisi dari bagian tubuh Nahyun.

“Aku tidak pernah tahu apa alasanmu saat itu. Kurasa…” Gadis itu menggantung kalimatnya sebentar sembari mengambil kembali ponselnya yang terjatuh. Maniknya bergulir kesana-kemari seakan tengah mencari-cari jawaban yang tepat, “…begitu.”

“Ah,” Jungkook menggelegar tawa sarkas, “Aku tidak pernah mengerti bagaimana bisa aku menyelamatkanmu, kemudian malah aku yang jatuh dan terbaring koma. Mau ceritakan kejadian waktu itu?”

Dilihatnya air muka Nahyun semakin bak orang ketakutan. Jungkook tahu, masih banyak yang gadis bipolar aneh itu sembunyikan dalam brangkasnya. Lantas mengeluarkan cerita yang berkebalikan dengan fakta, lalu membuat Jungkook pusing dengan spekulasinya sendiri. Padahal, sejak awal ia tahu kalau Taehyung koma karena menyelamatkan Nahyun, ia tak pernah mengira semuanya jadi serumit ini. Taehyung memiliki hati dengan Nahyun. Tebakkan mudah.

Pasalnya, kalau sampai saat ini Jungkook bertahan untuk percaya dengan dugaannya sendiri, ia malah benar-benar tak bisa mengira-ngira lelaki seperti apa Kim Taehyung. Bagaimana bisa gadis aneh seperti Nahyun-yang jelas-jelas selalu bersikap timpang padanya-bisa membuat cintanya jatuh.

Hingga pengakuan tak sengaja Nahyun barusan, barulah mengetuk akal sehatnya. Alasan yang logis kalau memang Nahyun adalah saudara tiri Taehyung, kemudian ia merasa harus menjaganya sebagai tanggung jawab atas keegoisan ayahnya yang tidak ingin menganggapnya sebagai anak. Masih banyak drama yang menggunakan konsep tersebut. Lalu dari mana Nahyun dilahirkan? Haruslah menjadi masalah tersendiri keluarga Kim.

“Kau akan mengetahui semuanya sendiri saat ingatanmu sudah kembali, kok.”

Blam. Nahyun pergi, keluar dari kelas begitu saja.


Akhirnya, Jungkook tiba di kantor polisi. Langkahnya tergesa-gesa karena ia tidak ingin membuat para pihak kepolisian menunggu keterlambatannya. Selain itu, ia juga ingin cepat-cepat mengetahui dimana tubuhnya berada sekarang.

Kalau boleh jujur, firasatnya yang keluar sedari tadi sungguh tidak enak. Jungkook memang bukan penganut agama yang kelewat taat. Tetapi setidaknya ia mengerti tentang hal-hal spiritual dimana arwah yang sudah keluar—bahkan sampai bisa berkeliaran di dunia nyata—merupakan pertanda buruk bagi tubuhnya. Ia takut. Tidak bisa membayangkan kalau nanti ternyata badannya sudah terpisah-pisah, atau ternyata sudah dikubur, atau mungkin dibakar. Syukur-syukur kalau ia ternyata cuma koma, seperti Taehyung yang asli sebelum dirasuki jiwanya.

“Kim Taehyung-ssi,” Pria berseragam paruh baya itu berdiri ketika Taehyung datang memasuki kantornya.

Cepat-cepat Jungkook menutup pintu masuk dan menghampiri meja kerja polisi tersebut, “Bagaimana, Pak?”

“Kami sudah menemukan keberadaan ponselnya dengan mendeteksi nomornya. Hari ini ada peringatan tujuh hari kematian rekan anda, Jeon Jungkook, di alamat ini,” Sang polisi menyodorkan secarik kertas kecil pada Taehyung. Hanya melihatnya sekilas pun, Jungkook tahu itu adalah alamat rumahnya, “Kami turut berduka cita.”

Ironisnya baru saja kemarin ia mengunjungi gedung rumah susun untuk memastikan alamat Nahyun. Ia memang tidak menandangi rumahnya. Dan sekarang, ia langsung mendengar kabar tentang dirinya yang sudah tujuh hari diperingati meninggal. Jungkook dalam raga Taehyung itu melemah. Sekujur tubuhnya lemas, dan tahu-tahu saja ia terhempas pada salah satu bangku yang tersedia disana.

“Itu alamat rumah Jeon Jungkook, bukan? Ketika posisi ponselnya terlacak, dan kami menanyakan dimana pemiliknya, ayahnya memberitahu kami kalau Jungkook sudah meninggal. Akibat tabrak lari tujuh hari lalu. Kami benar-benar menyesal,”

Rasanya bukan lagi seperti mendengar seorang kerabat atau orang yang disayang telah tiada. Begitu aneh, tetapi lebih memilukan ketika harus mengetahui bahwa dirinya sendiri sudah tidak lagi bernyawa. Pikirannya kalut tak keruan. Berbagai pertanyaan tentang masa depannya pun datang bergerumul di atas kepalanya. Bagaimana hidupnya nanti? Akankah ia keluar dari tubuh Taehyung? Atau malah ia akan tinggal dalam tubuh Taehyung selamanya? Sebentar lagi, ia pasti akan gila.

Melihat Taehyung yang sangat terkejut, polisi di sana kembali mencoba untuk bicara, “Kim Taehyung-ssi, mungkin akan lebih baik kalau anda mengunjungi upacara peringatan tujuh harinya di alamat itu?”

Benar. Yang ditemui pihak kepolisian adalah ayahnya. Ayahnya tidak waras. Bisa saja beliau hanya mengira Jungkook telah tewas karena menghilang setelah tabrak lari. Bukan karena ia yang menemukan mayatnya. Toh, saat itu, yang menyebabkan dirinya berniat untuk bunuh diri adalah karena lagi-lagi ia menjadi bulan-bulanan ayahnya. Mana mungkin ayahnya tiba-tiba mennjadi peduli. Ia pikir, ia menghilang pun takkan ada yang mencarinya.

Taehyung yang sedang terduduk itu langsung melonjak berdiri. Ia membungkuk singkat pada polisi sebelum berucap, “Saya akan ke sana, terima kasih.”

.

Tak butuh waktu lama bagi Jungkook untuk berpindah lokasi dari kantor polisi ke rumahnya yang asli. Dengan motor yang Taehyung miliki, ia bisa pergi kemana saja yang ia inginkan dengan waktu yang ia inginkan pula. Dibanding dahulu, ia yang harus menunggu angkutan umum jika ingin bepergian.

Hanya dalam beberapa menit, ia sampai pada destinasinya. Gedung kumuh yang kemarin masih sempat ia singgahi. Dan sekarang aura yang dirasakannya sudah berbeda. Banyak orang yang berkumpul di sekitar halaman rumahnya. Bukannya khusuk berdoa untuk tujuh hari kepergian raga Jungkook, sebagian besar dari mereka malah asyik mengobrol dan meminum bir. Tertawa bebas seolah sedang tak ada acara khusus di tempat itu.

Memang, sih, budayanya memang demikian. Tetapi, melihat sebagian besar yang berkunjung di sana adalah segerombolan dari kenalan ayahnya, ia tak yakin kalau mereka datang untuk memperingati kematiannya yang sudah tujuh hari. Paling-paling mereka cuma sekedar santunitas menaruh dupa, lantas terlena sendiri dengan botol-botol minuman keras yang disediakan.

Hati Jungkook sakit bukan main. Apalagi kala dirinya menangkap sosok ayahnya yang juga ikut-ikutan berjalan menuju mabuk. Lelaki tua itu, seakan tidak memedulikan bagaimana kelangsungan upacara doa para tamu. Lebih memilih berkutat dengan kesenangan pribadinya.

Omong-omong, ia jadi teringat. Bagaimana keadaan di dalam rumah?

Tungkainya kemudian melangkah pelan-pelan. Mencoba mendekati bangunan sesak itu secara perlahan. Ia sama sekali tak ingin menciptakan atensi. Berpura-pura tidak melihat siapapun dan bersikap layaknya tak ada siapapun di sana. Kepalanya ia longokkan sebentar. Melihat pasfoto sekolahnya diperbesar, dan diberi bingkai. Tidak ada bunga, hanya lilin putih yang betengger di kedua sisi fotonya. Juga semangkuk dupa yang masih berasap ada di paling depan.

Dwimaniknya bergulir. Tampaklah kakek-nenek berbaju hitam lusuh tengah bersedeku sebagai penerima tamu. Itu adalah tetangga Jungkook yang sudah menganggapnya sebagai cucunya sendiri. Mungkin Jungkook tidak akan hidup sampai seminggu yang lalu kalau tidak ada mereka. Ia harus benar-benar berterima kasih pada sepasang sesepuh tersebut.

“Bagaimana, sih?! Harusnya di acara seperti ini kau menyiapkan botol soju yang banyak!”

Sayangnya nostalgia Jungkook harus terhenti lantaran sebuah bentakkan menginterupsinya dari sisi lain. Telinganya sangat tidak asing dengan suara setengah mabuk itu. Biasanya, dengan nada yang semacam tadi, akan ada dentingan-detingan beling atau gebrakkan permukaan keras yang menyusul.

BRAK.

Tetapi dugaannya tidak seratus persen benar. Ketika Jungkook memilih untuk menengok apa yang terjadi, betapa terkejutnya ia saat obsidiannya menemukan seorang Nahyun yang membanting sebotol soju kosong di atas meja, bukan ayahnya. Pakaian serba hitamnya persis seperti yang dikenakan kakek-nenek di dalam sana.

“Harusnya anda yang menyediakan itu semua! Bukan saya! Yang mati, ‘kan, anak anda!”

Luar biasa. Semasa hidupnya, Jungkook saja bahkan tidak berani menentang atau melawan atau membalas segala ucapan ayahnya. Dan Nahyun—mungkin ia sama menyeramkannya dengan ayahnya.

Ya,” Tuan Jeon berdiri. Dengan wajah telernya, ia menahan pergelangan tangan Nahyun yang hendak kabur dari sana, “Siapa namamu? Kau cantik juga,”

Jungkook pikir, ayahnya akan tetap melunjak. Ternyata, lebih-lebih dari sekedar melawan egoisitas. Tangan Nahyun sudah bergerak-gerak minta dilepaskan. Ini sudah kelewatan hingga Jungkook mau tak mau harus menghampiri mereka sebelum teman-teman ayahnya ikut-ikutan menggoda Nahyun.

Tanpa pikir panjang lagi, Jungkook menarik lengan Nahyun yang ditahan oleh ayahnya. Masa bodoh, sekarang dirinya berada di dalam raga Taehyung. Dan entah mengapa hal tersebut membuat percaya dirinya menjadi lebih tinggi. “Maaf, saya ada urusan dengannya sebentar,”

Pria tua pemilik marga Jeon pun memincingkan matanya tajam ke arah Taehyung yang sempat gugup. Tetapi—entah karena mabuk atau apa—dia melepaskan mereka begitu saja. Jungkook berhasil membawa Nahyun menjauh dari kumpulan orang-orang peminum di sana. Menyingkirkan Nahyun dari ayahnya, lebih tepatnya.

Kendati begitu, Nahyun tetaplah Nahyun. Ia masih sama keras kepalanya seperti yang kemarin. Alih-alih berterima kasih, dengan sekuat tenaga ia malah mencoba melepaskan diri dari sosok Taehyung yang mengajaknya lari secara paksa ini, “Lepaskan!”

Bagai angin lewat, Jungkook sama sekali tak mengindahkan rontaan Nahyun. Lelaki itu terus menariknya menjauh dari rumah Jungkook. Tidak—ia membawanya naik ke lantai paling atas apartment. Lantai lima. Tujuan awalnya yang ingin memastikan apakah dirinya benar-benar sudah tewas atau belum, telah terjawab. Sekarang, sambil menyelam minum air. Nahyun muncul di saat yang tepat, menurutnya.

Seperti yang Jungkook ketahui, gadis itu menyimpan banyak rahasia hidup Taehyung. Dan kini ia merasa harus bertanggung jawab atas hidup Taehyung karena rohnya diberi kesempatan untuk mengecap bumi dalam raga Taehyung. Seketika Jungkook merasa seakan dirinya tak lagi punya tempat tinggal. Tubuh Taehyung lah tempat tinggalnya saat ini.

“Aku harus berada di bawah sampai acara selesai! Lepaskan aku!”

“Kita harus bicara!” Jungkook menolak dengan telak permintaan Nahyun untuk melepaskannya. Mereka tiba di balkon lantai lima. Sepi, tentu saja. Sebagian besar penghuni rumah susun ini sedang menikmati jamuan di lantai dasar.

“Aku tidak mau bicara denganmu!” Lengan Nahyun masih berusaha agar terbebas dari cengkraman Taehyung. Sementara yang menahan tetap tidak mau melonggarkan telapaknya.

Ya, Yeon Nahyun, kau tahu seberapa sakitnya kepalaku ketika mencoba mengingat hal-hal yang sebenarnya tak ingin kembali ku ingat? Bahkan rasa-rasanya otak ini nyaris meledak! Dan dari awal, kau lah yang menjadi inti permasalahan mengapa aku harus kembali mengingat apa yang telah terjadi!” Jungkook berkata seolah-olah dirinya lah yang amnesia. Ia merasa bakat aktingnya semakin berkembang karena cobaan hidup Taehyung ini.

“Kau yang menyebabkanku lupa ingatan, Yeon Nahyun, kau juga yang harus menjelaskan semuanya padaku.” Tambah Jungkook, “Terdengar seperti prinsipmu, ‘kan? Sekarang, ceritakan apa hubungan kita dari awal!”

“Apa lagi yang harus diceritakan? Aku adik tirimu, selesai.” Untuk pertama kalinya dalam hidup Jungkook menemukan gadis aneh semacam Nahyun. Tak pernah ada satu pun jawaban-jawaban Nahyun terdengar baik—kecuali ketika ia bicara dengan kedua sahabatnya—Jiyeon dan Jimin.

“Lalu mengapa kita harus menyembunyikan status itu?”

Nahyun terlihat menarik napasnya dalam-dalam. Obsidiannya yang bersirobok dengan milik Taehyung sedikit lebih tenang, namun parasnya seakan tetap menunjukkan kebencian, “Tak bisakah kau menunggu otakmu mengingatnya sendiri?”

“Tidak.”

Helaan napas terdengar sebelum Nahyun akhirnya mau-tak-mau menjawab, “Ibumu tidak mengetahui kelakuan suaminya. Beliau tidak mengenal siapa aku, dan aku diminta untuk tidak menunjukkan diri didepannya.”

“Apa yang sudah ayahku—ayah kita lakukan?” Ketika Jungkook tidak lagi menemukan suatu tindak kebohongan dalam mata Nahyun, ia seperti mulai memercayai apa yang anak itu katakan.

Akan tetapi, kepala Nahyun menggeleng. Ia menunduk sebentar, “Aku tidak mengerti. Kakakku bilang, ibu hanyalah pelacur yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Ia bunuh diri setelah beberapa tahun melahirkanku, dan wah—aku tumbuh dalam kebencian karena beruntungnya, kakakku mengetahui segala persoalan hidup ibuku.”

Tak lama, ia mendongak lagi. Menatap Taehyung setajam mungkin karena ceritanya belum selesai sampai situ, “Kemudian ayahmu datang, bersikap seperti pahlawan yang seakan-akan ingin bertanggung jawab atas kami berdua. Padahal, yang ia lakukan adalah sebaliknya. Menekan kami agar selalu tutup mulut dari istrinya dan keluarganya dengan iming-iming menggiurkan yang memang kami butuhkan dalam hidup kami.

“Pertama, kakakku yang diberi pekerjaan seadanya karena dia memang putus sekolah.” Tahu-tahu, Nahyun melangkah, mengikis jarak antara dirinya dengan Taehyung. Diimbuhi dengan air muka mengerikan sama seperti yang pernah dilakukan di koridor sekolah, “Kedua, aku yang dimasukkan ke sekolah Taeyang dengan beasiswa. Terdengar seperti tawaran yang bagus, bukan?”

Jungkook diam. Dirinya hanya ingin mendengar cerita itu sampai selesai. Tidak peduli dengan Nahyun yang semakin mendekat dan membuatnya terus mundur mendekati beton pembatas yang tingginya hanya sepinggang.

“Sialnya, penawaran itu tak lagi bagus ketika aku bertemu dengan dirimu.” Sebelah telunjuk Nahyun yang masih bebas dari genggaman tangan Taehyung, menyentuh bahunya pelan. Jungkook berpikir, nampaknya bipolar Nahyun kambuh. Perangainya mulai mengerikan, “Aku tidak tahu bagaimana kau bisa mengetahui kalau aku juga anak dari ayahmu. Aku membencimu, karena kau juga melakukan hal yang sama. Yang murid lain ketahui, aku adalah anak pengusaha kaya raya yang mendapat beasiswa penuh dari ayahmu. Tapi kau selalu mencoba menendangku keluar dari sekolah. Kau membuatku memiliki banyak poin kedisiplinan, tak pernah mengijinkanku menginjak peringkat paling atas, karena kau tahu kalau beasiswa didapat atas dasar nilai.

“Kau membuat kepala sekolah sampai berdiskusi dengan ayahmu untuk mencabut beasiswaku, kau tidak pernah membuat hidupku di sekolah tenang sampai rasanya aku ingin sekali membunuhmu!”

Setelah kalimat terakhirnya itu, secepat kilat Nahyun menarik tangannya dari tangan Taehyung. Kemudian bergerak lebih kuat dan mendorong bahu Taehyung yang badannya sudah menempel pada beton pembatas.

Ya! Yeon Nahyun!”


TO BE CONTINUED


a/n :
Cuma saran, sih, meskipun sebenernya nggak mau ngomong ini(?).
Saran, untuk episode selanjutnya, jangan ditungguin.
//kayakadayangnungguinajacha// 😂
Karena sejatinya ku masih belum tau mau update kapan. Author masih sibuk dengan duniannya sendiri 😢
Tetap setiap sabtu, kok. Tapi nggak tahu entah itu dua minggu sekali, seminggu sekali, atau tiga minggu sekali?

So, cuma ingetin aja, jangan lupa Reviewnya :”))

Advertisements

35 thoughts on “[EPISODE 5] BEAUTIFUL LIAR

  1. Pingback: [EPISODE 6] BEAUTIFUL LIAR – BTS Fanfiction Indonesia

  2. bill

    Kenapa Nih ff ga dilanjut hem? Padahal ini seru… Ayolah di lanjut, gua udh nunggu lama nih berbulan..
    Thor jeball lanjut dong.. Ini sampe gua lulus sklh ga di lanjut” :”(

    Liked by 1 person

  3. Nay Nia

    Duhh… Kapan chap selanjutnya?? kalo kek gini q jd mati penasaran 😂 ceritanya keren, susah ditebakk .. Gimana nasib arwah si kuki klo arwah nya mphi udh pulang?! 😂
    Au dah… Author kapan next nya.??????

    Liked by 1 person

  4. Aihara

    What…
    Nahyun mau ngejatohin (kali ini tubuh) Taehyung lagi._.
    Aku masih inget waktu itu dia sempet bilang yang intinya ‘kenapa ga sekalian aku mendorongnya sampai mati’…
    Makanya pas Jungkook nanya masalah alasan nolong, Nahyun jadi takut-takut gitu kan?
    Dan aku ngakak banget sama dugaan Jungkook kalo Taehyung jatuh cinta sama Nahyun, bisa aja sih, tapi aku ngakak banget wkwk

    Bipolar? Hmm, pantes aja lah-,-
    Sekarang kebayang gimana Taehyung dulu, dia pasti pengen banget ngehancurin hidup Nahyun karena ngga suka sama dia /ok, ini presepsiku sejauh ini/
    Untuk Jungkook, seperti biasa dia selalu menderita dalam berbagai hal
    Rasanya pengen nggasih puk puk ke Jungkook
    Dunia memang kejam Kook

    Btw, aku selalu nunggu ini loh, emang sih kakak bilang jangan nunggu kelanjutannya. Tapi aku bakal tetep nunggu~ gpp lama juga, aku bisa apa selain nunggu, kan?
    Hahaha

    Liked by 1 person

  5. yak…nahyun km mau dongrong tae lagi aahh maksutnya kookie..
    ayolah,,,, gak gitu,,
    terus apa hubungannya nahyun sm kakek nenek yang ada dirumahnya kookie,,,
    atau apa hubungannya nahyun sm kookie, secara dia ada di diacara kematiannya kookie dan malah ngelayanin acara kematiannya red:nyediain minuman..

    aaassshh….
    entahlah yaaa,,,
    kayaknya ada yang ditutupin sm kknya nahyun looh,,,
    ya gak,,, jd nahyun bisa segitu bencinya sm keluarganya tae,,
    aau gimana deehh aku pusing iniiii,,,

    kookie,, seriusan meninggal,,??
    terus rohnya tae dimana doooong,,,
    hiks~~
    dia gak bisa mampir di tubuhnya kookie dong kalo kookie aja udh meninggal 7hari yang lalu,,

    aaahhh apa mungkin kaya sinetron yak,,
    waktu kookie tabrak kan aka di tabrak lari dijalan terus biwa kerumah sakit kan tuuh terus mayatnya ketuker sama mayat orang lain yang juga kecelakan dihari yang sama, jadi bisa jadi aja kooki jasadnya masih ada tapi ketuker sm yang lain karena gak ada yang mewakili korban gitu gak siiih,,,

    aaah tau amatlah kenapa jadi ngalor ngidul gini bhahahahaha

    jangan lama lama yaa post cap.6-nya ,,
    huhuhu

    Liked by 1 person

    1. As always… Komen kamu paling panjang. Aku sukaaak. Hahaha.
      Tadinya mau dibikin kayak sinetron gitu. Tapi nggak jadi WAKWAKWAK.
      Episode 6 sudah update yaa~ maaf kelamaan >< jangan lupa mampir! Makasiiih :)))

      Like

  6. Raserin

    Duh jadi tambah penasaran nih.. rahasianya mulai terungkap.. tapi ngomong ngomong raga jungkook dan jiwa taehyung dimana?? 😀 di tunggu next chapternyaa fighting!!

    Liked by 1 person

  7. Ini….malah bikin tambah penasaran*-* penasaran sama rohnya taehyung dan raganya jungkook.
    Oh iya, kakak pernah ngerasain kayak gitu? Tukeran roh?.-. Sapa tau pernah, gimana rasanya?:3
    Keep writing kak^^
    Selamat berimajinasi^•^

    Liked by 1 person

    1. Aduh. Sayangnya nggak pernah tukeran roh nih :”) kalo bisa tukeran roh sih mau deh nyoba tukeran sama hairstylistnya bangtan(?) 😂
      Episode 6 sudah update yaa~ maaf kelamaan >< jangan lupa mampir! Makasiiih :)))

      Like

  8. Pingback: [EPISODE 4] BEAUTIFUL LIAR – BTS Fanfiction Indonesia

  9. Ye Na

    Kereeeen, Bikin penasaran!!!! Next chapter jgn lama lama ya thor, aku nungguin nih 😊 iya dimaklumi kok klo authornya sibuk! akhir akhir ini aku juga sibuk*ga nanya* maklum lah kls 9 , mulai dari UN,UNPRAK,TUGAS, pokoknya bnyk deh, bkin pusing *malah curhat* . Yg pnting jgn lama lama ya thor….. FIGHTING 🙌💪

    Liked by 1 person

  10. Nah, tuh kaan. Bikin penasaran lagi, terus Taehyung jatuh lagi? Balik koma terus bangun dengan rohnya yg asli?
    Ntar Jungkooknya gimana?
    Ah, entahlaah. Aku sungguh sangat kepo sama Taehyung, seriusan deeh…
    Ceritanya makin seru Chaa ^^

    Liked by 1 person

  11. Kak, kok Jungkook ngenes banget ya di sini? Ngenesnya bukan karena malmingan jomblo lho tapi 😂
    Taehyung! Aku kepo banget sama tu anak nasibnya sekarang gimana, masa lalunya juga gimana, mana sekarang dia ganti warna rambut lagi. Kan tambah kece, sebel aku jadinya.. /halah
    Aku nggapapa nunggu kok, kak. Dedeque udah biasa, hiks:” 😂😂
    Semangat, kak. 😘💪💋

    Liked by 2 people

  12. bentar2 ini wajib nih di anjurkan untuk aku baca dari eps satu yakan kak? *sksd
    dan sebelum aku baca ini mau cuss dulu menikmati eps awal2 nya tapi ijin dulu bisi/? akunta ngabsen di setiap komentar. yang pasti kayaknya aku akan menunggu deh ceritanya jhahah…

    udah ah mau pulang dan baca eps sebelumnya anyeong:D *bawa jungkuk*

    Liked by 1 person

  13. Chimchim

    Thor, kata siapa g ada yg nungguin? Ada aku nih yg nungguin terus.. Terus berharap klo sbnrnya Taetae bkn nyelamatin Nahyun tp ada hal lain di balik itu..
    Tetap kutunggu tulisanmu Thor

    Liked by 1 person

  14. lhsg

    Next chapter panjangin lagi yaa thor… ini kependekan banget, apalagi ceritanya seru begini. Semoga updatenya gak lama-lama amat yaa.. Aku nunggu banget ff ini tiap minggunya^^

    Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s