[What is Your Color?] Catastrophe – Oneshot

catastrophe cover

Catastrophe

an oneshot by bananakakao

starring all BTS members

PG-15 rated

this is friendship, dark, thriller and angst.

the cast belongs to God, their family and Big Hit Entertainment. But, this fic and poster are mine.

Summary—Ketika bercanda menjadi bencana, mampukah ketujuh pria ini mengatasinya?

e n j o y.

.

.

.

 

“HIYAAAA!” pekik Jimin histeris sembari menutup matanya. Tawa yang terbahak-bahak segera menghiasi ruang keluarga Yoongi. Jimin tahu, itu pasti tawa teman-temannya yang tengah menertawakannya.

Ini sedang musim liburan di Korea. Pada awalnya, Jimin hendak berlibur ke Jepang bersama orangtuanya. Namun, rencana liburan mereka ke Negeri Sakura itu kandas kala bawahan ayahnya meminta agar ayahnya datang segera ke kantor cabang perusahaan mereka di Vancouver dikarenakan ada banyak masalah disana. Selaku bos, ayahnya tidak bisa berbuat apa-apa selain memutuskan untuk terbang ke Vancouver di hari mereka seharusnya berangkat ke Jepang. Apa boleh buat, Jimin akhirnya tetap tinggal di Seoul sementara ibunya terbang ke Jeju untuk mengunjungi kawan lamanya.

Ia dan teman-teman SMA nya—Namjoon, Taehyung, Jungkook, Seokjin dan Hoseok— pun memutuskan untuk menginap di villa baru milik Yoongi saja, lagipula, mereka bertujuh tidak punya rencana liburan. Villa Yoongi—yang baru saja dibelikan ayahnya bulan lalu—itu terletak di sudut kota Seoul. Karena tergolong  villa kelas atas, tak banyak orang yang menginap disitu. Kadang, suasananya menjadi sedikit seram tatkala matahari meninggalkan peraduannya di ufuk barat.

Jarum jam tangan Jimin sudah menunjukan pukul 9 malam. Ketujuh pria yang sedang dalam masa hormon yang tinggi itu tengah asyik menonton film di ruang tengah—well, kukoreksi, sebenarnya yang asyik menonton film hanya enam orang saja, sementara yang satu sibuk berteriak ketakutan selama film itu berlangsung sambil menutupi mukanya dengan bantal atau apa saja yang ada di hadapannya.

Lelaki itu tak lain tak bukan adalah Jimin. Tormented, film horror Jepang yang Yoongi pilihkan untuk malam ini benar-benar membuat bulu romanya berdiri. Film yang mengisahkan tentang sosok pembunuh dibalik badut kelinci itu hanya mendatangkan sensasi aneh di seluruh tubuhnya. Film seram ditambah suasana villa yang sedikit mistis itu sukses membuatnya berteriak-teriak tak karuan layaknya anak kecil yang merengek. Entah sudah berapa kali Jimin menyumpahi sutradara film itu.

Dasar, sutradara setan, batinnya.

Ia kesal, sungguh kesal. Bagaimana tidak, image bad boy nya luntur seketika di hadapan kawan-kawannya, apalagi mengingat bahwa kawanannya ini sangat suka menjahili orang.

Dan benar saja, baru saja sekejap Jimin berpikir seperti itu, sebuah suara sudah menyapa pendengarannya.

“Hahaha Jimin, badanmu memang mirip security, tapi hatimu Hello Kitty! Hahaha,” ejek Taehyung jahil. Sontak perkataannya itu mengundang tawa—untuk kesekian kalinya—dari teman-temannya itu. Bahkan Jungkook sampai menyemburkan cola yang tengah ia minum dan Hoseok terbatuk-batuk akibat tersedak popcorn.

“Hahaha, kau benar sekali Tae! Seandainya Wendy melihat ini!” ujar Yoongi.

“Wendy? Anak kelas sebelah itu?” tanya Seokjin.

“Iya, Wendy yang itu. Dia kan “incaran” baru Jimin,”

Eh? Jimin suka Wendy? Kukira kau suka Momo. Buktinya, minggu lalu kalian dating di coffee shop dekat stasiun, am I right?” kali ini Namjoon yang bertanya.

Ah, begitu ya? Wah, kau ini parah sekali, Mr. Playboy,” Hoseok yang sudah “sembuh” dari tersedaknya ikut menggoda Jimin yang wajahnya kini semerah kepiting rebus.

Jimin hanya mendengus sebal. Setan, kalian semua, gerutunya dalam hati. Ia segera bangkit dan hendak menuju kamar kalau saja Yoongi tidak menarik tangannya.

“Apa?!” tanya Jimin marah.

“Kau mau kemana?”

“Ke kamar, memangnya kemana lagi?!” balasnya kasar.

“Ayolah Jimin, kita ini hanya bercanda denganmu saja, jangan dimasukkan hati, ya?” bujuk Yoongi.

Jimin mendesah. Bagaimana bisa tidak aku masukan ke hati, kalian ini keterlaluan sekali, batin Jimin kesal.

“Iya Jimin, kami minta maaf. Kamu tahu kan, terkadang aku suka berlebihan, jadi maafkan aku. Lebih baik kita lanjutkan nonton filmnya, atau haruskah kuganti filmnya dengan The Human Centipede?”kata Taehyung sambil menunjuk layar televisi yang kini dalam mode pause.

“Taehyung! Kau ini! Sudah tahu dia ketakutan, kau malah menawarinya film psikopat! Dasar!,” Namjoon yang ada di sebelahnya mulai mencubit pinggangnya.

“Ya, aku hanya—aw! Sakit hyung!” Badan Taehyung menggeliat kesakitan.

“Baiklah,” jawab Jimin mengalah. Ia tak mau hal sepele seperti ini merusak liburannya.

Nah, ayo, duduk di sebelahku,” Hoseok menepuk-nepuk sofa empuk di sampingnya.

“Nanti saja, aku mengantuk, aku ingin cuci muka dahulu,” balas Jimin sembari menyeretkan kakinya ke arah dapur. Perlakuan Jimin ini mengundang tanda tanya di benak Jungkook.

“Yoongi hyung, memang kalau ingin ke kamar mandimu, lewat dapur dahulu ya?” tanya Jungkook.

“Tidak, kamar mandinya kan, ada di sebelah kamar. Memangnya kenapa? Kau ingin ke kamar mandi juga?”

“Tidak, aku hanya bertanya. Lantas, mengapa Jimin malah pergi ke dapur?” tanyanya lagi.

Sementara yang ditanya hanya mengendikkan bahu. Ia juga tidak tahu.

***

Sudah 20 menit berlalu, namun Jimin belum kembali terlihat batang hidungnya. Bahkan, film yang mereka tonton sudah selesai dari tadi. Sedari tadi juga bibir Namjoon tak kunjung berhenti meracau.

“Hey, ini sudah 20 menit lebih, tapi, Jimin belum juga kemari,” ucap Namjoon resah.

Kelima anak lainnya—yang tengah sibuk bermain kartu—sontak menoleh ke arah lelaki bersurai hitam itu.

“Apakah, kita terlalu keterlaluan saat meledeknya tadi? Sehingga ia marah pada kita?” lanjutnya.

Yoongi berdehem keras. Lelaki berkulit seputih salju itu sepertinya mulai—atau bahkan sudah—jengah dengan racauan Namjoon.

“Kim Namjoon. Dengar ya, Jimin itu bukan tipe orang yang mudah tersulut amarahnya. Dan kalaupun dia marah, pasti tak akan bertahan lama. So, keep calm and cool, bro,” balas Yoongi santai.

“Tapi, tapi, kalau terjadi apa-apa padanya bagaimana?!” seru Namjoon tak mau kalah.

“Namjoon hyung, kurasa, tidak akan terjadi apa-apa padanya, lagipula dia tidak keluar dari villa Yoongi hyung,” Jungkook yang sedari tadi diam mulai angkat bicara.

“Tapi, bisa saja…”

“Sudahlah Namjoon, kenapa kau jadi paranoid seperti ini? Sepertinya kau mulai terpengaruh film tadi, hahaha, tenang saja Namjoon,”

Aniya, aku, aku hanya khawatir saja. Perasaanku tak enak dari tadi,”

“Paling-paling dia lapar karena terlalu berteriak terlalu banyak saat filmnya diputar, hahaha,” celetuk Taehyung sambil meraih bungkusan keripik kentang di tengah meja.

“Mungkin, ya mungkin saja,”

Mereka pun kembali ke permainan kartu mereka yang sempat terhenti. Air muka Namjoon masih terlihat khawatir, namun ia berusaha untuk menepis segala kemungkinan yang mungkin saja terjadi pada sahabatnya itu.

Tapi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada Jimin?

***

BRUK!

“Suara apa itu?!” seru Hoseok tiba-tiba. Atensinya teralihkan dari permainan kartu yang sedang ia mainkan ketika suara aneh itu menghampiri indra pendengarannya.

“Jangan-jangan, Jimin…”

“Namjoon, tenanglah tak mungkin Jim—,” ucap Yoongi terputus.

“Mari kita cari Jimin. Anak itu sudah 45 menit menghilang,”

“Tapi Namj—,”

“Yoongi, kurasa, perkataan Namjoon ada benarnya. Lagipula, Jimin itu teman kita, kita sudah mengenalnya bertahun-tahun. Rasanya, tak wajar bila ia belum hadir kembali hingga sekarang,” ujar Seokjin bijak.

“Ba-baiklah. Sekarang, kita mulai cari dia,” akhirnya Yoongi mengalah. Ya, biar begitu, Jimin adalah sahabatnya. Apalagi, kini Jimin tengah menginap di villanya. Ia bisa habis dimarahi orangtuanya dan orangtua Jimin apabila terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan pada sahabatnya yang bertubuh kekar itu.

“Aku, Yoongi dan Hoseok akan mencari di luar villa, sementara Taehyung, Seokjin dan Jungkook cari di dalam. Kita tak akan berhenti sebelum Jimin ditemukan,” perintah Namjoon tegas. Ia tak mau merasakan kehilangan yang mendalam lagi.

Seiring dengan derap kaki mereka, apa yang mereka inginkan semakin jelas. Berharap, semuanya akan kembali seperti semula.

Dan hanya cahaya temaram dari rembulan malam itulah, yang menuntun mereka, mengarungi kejamnya malam.

***

Langkah kaki Hoseok mulai tertatih. Tungkai kakinya sudah tak sanggup lagi. Ia sudah memeriksa seluruh wilayah villa ini, namun hasilnya nihil.

Ia meneguk kasar air dari botol minumnya yang tinggal separuh itu hingga habis. Ia melempar botolnya itu ke sembarang arah. Ia mengacak-acakan rambutnya. Semakin lama, ia semakin frustasi.

Tak lama, dering telepon memenuhi sudut jalanan itu. Ia melirik sekilas pada layar handphonenya. Terpampang nama Jungkook disana. Entah mengapa, rasa was-was mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Ia hanya berharap yang terbaik.

Tak butuh waktu lama hingga Hoseok mengangkatnya. Di seberang sana, tak terdengar apa-apa sunyi.

“Yoboseyo?”

Diam. Tak ada jawaban.

“Halo? Jungkook? Apa kau disana?”

Hening kembali menjumpainya. Hingga—

“Ho-hoseok, cepat kemari, ke villa, a-aku…aku sudah menemukan Jimin,”

***

Hoseok membuka pintu villa dengan tergesa-gesa. Tatapannya ia edarkan ke sekitarnya, namun tak ada satu orang pun di dalam.

Mereka dimana? pikirnya. Berkali-kali ia memanggil teman-temannya, tak ada sahutan sama sekali. Baru saja ia hendak kembali keluar dari villa ketika ia mendengar suara gaduh dari arah kamar mandi. Sejurus kemudian Hoseok sudah berada di depan kamar mandi. Suara gaduh itu semakin terdengar jelas. Teriakan Namjoon, isakan Jungkook, erangan Yoongi, ia mendengar semuanya.

Tangannya bergetar ketika meraih gagang pintu sedingin es itu. Begitu daun pintu itu terbuka lebar, matanya tak dapat memercayai apa yang ada di hadapannya sekarang. Lidahnya kelu, ia sangat terguncang. Ia mengatupkan matanya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Berharap itu hanya ilusi semata. Ketika iris hitamnya kembali terbuka, semuanya tetap sama. Saat itulah ia yakin apa yang dilihatnya memang nyata.

Sosok Jimin yang tengah terendam di bathub, yang penuh cairan merah segar.

Darah.

***

Namjoon terlalu shock untuk mengambil handphone dan menelepon ambulans. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana sekarang. Pikirannya buntu. Satu-satunya yang ia pikirkan kini adalah penyesalannya. Seandainya, seandainya saja ia lebih cepat, hal ini tidak akan terjadi.

Beruntung Yoongi dan Jungkook dengan sigap membopong teman mereka itu ke kamar. Saat Yoongi periksa di awal memang, denyut nadi Jimin masih ada, walaupun lemah. Ia tak mau mengambil resiko temannya itu terkena hipotermia, oleh karena itu, ia memindahkan lelaki yang memakai sleeveless itu ke tempat yang lebih hangat.

Saat mereka semua sudah ada di kamar, Taehyung dengan cekatan menelepon ambulans. Berkali-kali ia memanggil, namun tak tersambung. Sementara di luar, petir bergumuruh tanpa henti. Rinai hujan berlomba-lomba agar menyentuh tanah, seolah-olah mendukung suasana hati mereka sekarang.

Telepon itu akhirnya tersambung pada panggilan ketiga belas. Kelima pasang mata itu memandang Taehyung dengan harap-harap cemas.

Yoboseyo? Dengan ER Seoul International Hospital, apa kondisi darurat anda?” tanya suara nun jauh di seberang.

Taehyung mengambil napasnya dalam.

“A-aku, i-itu..ada temanku yang—hey kenapa kau rebut teleponku?” seru Taehyung. Ia menengadahkan kepalanya,untuk melihat tangan siapa yang menghentikannya itu.

“Eh, Jimin?” tanyanya bingung.

***

“HAHAHAHA, kalian benar-benar lucu, HAHAHAHA,” tawa Jimin menggema di seluruh ruangan. 6 yang lainnya hanya menatapnya bingung.

“Jimin, kau tidak kenapa-kenapa?” Kentara sekali rasa khawatir Seokjin dalam perkataannya.

“Aku? Kenapa-kenapa? Memangnya aku kenapa? Ada apa?” Jimin malah balik bertanya.

“Tadi, kau tenggelam di bathub dan—,”

“Oh, itu. Hahahaha, sebenarnya aku, hahaha, tunggu ini terlalu lucu, hahaha,” Jimin tak bisa mengendalikan tawanya. Ia memegangi perutnya yang kesakitan karena terlalu banyak tertawa.

“Jimin. Aku. Ingin. Penjelasan,” geram Yoongi. Matanya melotot, seperti ingin keluar dari tempatnya. Jimin menatapnya takut-takut. Derai tawanya berhenti sedetik kemudian.

“Baiklah. Sebelumnya aku ingin meminta maaf, membuat kalian khawatir. Sebenarnya, sebenarnya aku,” jelas Jimin ragu.

“Sebenarnya kau kenapa, Park Jimin?” Namjoon mulai tak sabar dengan ulah kawannya.

“Sebenarnya, aku tadi…cuma pura-pura,” jawabnya pelan.

“HAH?!” Keenam pria itu berteriak secara serempak. Mereka tidak percaya apa yang Jimin utarakan barusan.

“Iya. Aku hanya pura-pura tenggelam saja. Dan darah tadi, sebenarnya itu saus tomat yang kuencerkan. Makanya tadi aku ke dapur terlebih dahulu, hahaha” Jimin menjelaskan dengan wajah tanpa dosa.

Keenam pria di hadapannya itu pun seketika merasa menjadi orang teridiot dan terbodoh di dunia. Bisa-bisanya mereka terjebak dalam permainan usil Jimin.

Jimin bersiap mengambil ancang-ancang. Ketika dilihatnya bantal-bantal di ruangan itu mulai meninggi akibat diangkat oleh temannya, dengan secepat kilat ia berlari ke luar ruangan. Tentu saja, ia tak mau terkena serangan bantal dari sahabatnya.

“YAK, JIMIN! AWAS KAU!”

 

 

 

end(?).

***

Iris legam Jimin terbuka tiba-tiba. Ia melirik ke jam dinding di kamar Yoongi. Pukul 11.30 malam. Teman-temannya sudah tak ada di sampingnya.

Mungkin mereka menonton bola, pikirnya.

Jimin melangkahkan tungkainya ke dapur. Entah mengapa ia merasa haus. Baru saja dua tegukan, ia dikejutkan oleh suara aneh dari arah ruang tengah. Bergegas ia menuju sumber suara.

Jimin mengusap-usapkan matanya. Pemandangan yang ia lihat di depannya sungguh mengerikan. Keenam temannya terbalut banyak “darah” dalam keadaan tertumpuk satu sama lain.

Bukannya takut, ia justru tertawa. Ia sadar, pasti ini balas dendam dari mereka.

Aish, kalian ini,masih saja mau menipuku? Kalian kira aku akan percaya, huh?” ujarnya mendekati teman-temannya itu.

“Kalian pikir aku akan takut oleh tipuan kalian ini? Hahaha,” ia berjongok di sebelah Hoseok.

“Hey, kau bangun,” ucapnya lagi. Ia mengguncang-guncangkan raga keenam temannya.

Sedetik. Dua detik. Semenit. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit.

Tidak ada jawaban.

Rasa penasaran mulai menggelitiki Jimin. Dicoleknya sedikit “darah” dari pipi kanan Jungkook dan mengendusnya. Seketika bola matanya membesar. Menyadari sesuatu yang salah.

“I-ini…darah sungguhan,” lirihnya.

Ia memeriksa semua temannya dengan panik. Di dalam pikirannya hanya satu, ia berharap, detak itu masih ada.

Namjoon. Hoseok. Yoongi. Seokjin. Taehyung. Jungkook.

Satu persatu tangannya menyentuh leher mereka. Namun kosong. Tak ada detak itu disana. Kemudian ia menyentuh dada kiri mereka. Tetap sama, tak ada getaran apapun. Ia mulai putus asa ketika ia menyentuh pergelangan mereka satu-satu. Dan hasilnya membuatnya terkejut. Teman-temannya, sudah berlibur ke akhirat, mendahuluinya.

Jimin menangis sejadinya. Ia tak menyangka, liburannya harus berakhir dengan berdarah seperti ini. Ia terus meraung-raung, memohon agar Tuhan mengembalikan waktu, sehingga ia bisa mencegah hal ini terjadi. Raungannya semakin lama semakin keras. Sekujur tubuhnya sudah dipenuhi dengan darah teman-temannya. Erangannya itu berhenti tatkala ia menyadari satu hal.

“Tunggu, jangan-jangan, pembunuhnya masih ada disi—,” monolognya terputus.

BUK!

Sekali hantam, semua jadi gelap.Tak hanya bagi teman-temannya, namun juga bagi dirinya. Jimin sudah mencapai ending dari kehidupannya. Ini adalah akhir, akhir dari segalanya.

“Selamat malam,” ucap suara misterius itu pelan. Lelaki berperawakan tinggi  itu menoleh sedikit ke belakang, lalu membenarkan tudung hitam yang menyelimuti dirinya. Ia melanjutkan langkahannya, menyeret bat baseballnya yang menciptakan jejak merah di lantai kayu itu.

Di luar sana, dinginnya malam kembali menusuk tulang.

 

—fin.

Advertisements

21 thoughts on “[What is Your Color?] Catastrophe – Oneshot

  1. Aihara

    Hm, ini awalnya kukira Jimin beneran mati karena marah…
    Eh, taunya bercanda
    Di situ udah seneng banget, ternyata cuma bercanda 😀
    Tapi, pas enam yang lainnya di ruang tengah pake berdarah segala, udah ngga enak
    Akhirnya, tujuh-tujuhnya kehilangan nyawa T_T

    Siapa itu yang ngebunuh mereka:'(

    Like

  2. ratihprav

    Bener2 deh, ini bikin deg2an di awal..
    Pertamanya aku pikir Jim beneran mati dgn ngambil pisau ke dapur, eh taunya cuma saos tomat -_-
    But.
    Knp endingnya pada mati semua?! Kenapa?! Kenapa authornim?!
    Oke fix, ini mengaduk-aduk(?) bgt
    Nice ff (y)

    Like

  3. bangtanbbts

    Wihhh mantap dah.. perasaan ku dimainin(?) Dikasih tegang sedih terus dibuat happy jiminnya bercandaan,, udah gitu dibikin kaget dan galau sama endingnyaa… duhh aku tuh gabisa diginiin authornimm *abaikan* btw, nice fic!! ^o^

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s