[What is Your Color?] PURPLE ONION – Vignette

purple-onion

Joonisa present

PURPLE ONION

BTSFF 2nd Anniversary Event

Starring BTS Kim Seokjin, Kim Taehyung, GFriend Hwang Eunbi (Shin Bi)  

Genre Dark, Crime, Thriller, A bit fluff  | Duration Vignette (+2k words) |Rating PG – 15

.

Bagiku, ungu itu warna yang keren.

Bagiku, ungu itu hanya warna.

Bagiku, ungu itu akhir dari penderitaan.

.

Shin Bi merasa aneh belakangan ini. Sudah sekitar empat hari yang lalu ia memiliki dua tetangga baru di kiri dan kanan apartemen kecilnya, namun sampai detik ini ia belum pernah bertemu dengan mereka. Pintu kayu kecil berwarna cokelat tua dengan cat terkelupas di sana-sini milik apartemen sang tetangga itu tak pernah terayun membuka saat mentari pagi menyapa ,di mana tetangga Shin Bi yang lain mulai sibuk melakukan aktifitas rutin harian.

 Shin Bi mencoba tak acuh, namun suara aneh yang terdengar setiap malam dari kedua tetangga barunya itu membuatnya hampir gila. Bukan suara musik rock metal atau karaoke yang masih bisa diatasi Shin Bi dengan menutup lubang pendengarannya menggunakan earphone, melainkan suara yang membuat bulu kuduk Shin Bi berdiri. Suara yang satu mirip seperti pisau yang digesek ke bahan  metal dan suara yang satu lagi seperti suara orang tercekik.

Tak tahan dengan semua itu, Shin Bi akhirnya memutuskan untuk menemui salah satu dari tetangganya itu pagi ini. Shin Bi berdiri di depan pintu rumahnya, menatap bergantian pintu rumah tetangganya. Ia masih bimbang harus mengetuk yang mana, sampai akhirnya ia maju ke pintu yang searah dengan tangan kanannya. Menarik nafas dalam, Shin Bi mengetuk pintu tiga kali dan pintu langsung.

“Ya? Oh, hai! Kau tetangga sebelah ya?”

Shin Bi mengerutkan alis saat pria muda berambut cokelat tua berponi itu menyambut ketukan pintu Shin Bi dengan semangat yang agak berlebihan. Pemuda itu berkeringat banyak di wajahnya, sebesar bulir-bulir jagung dan senyumnya kelewat lebar – menurut Shin Bi. Merasa kurang nyaman, Shin Bi langsung mengutarakan maksudnya.

“Benar, aku tetanggamu. Bolehkah aku bertanya satu hal?”

“Kau mau menanyakan namaku? Namaku Taehyung. Halo.”

Shin Bi memutar bola matanya, “bukan namamu. Tapi aku ingin bertanya apa yang kau lakukan di malam hari sampai membuat suara seberisik itu? Kau tahu, apapun yang kau lakukan itu, sangat menggangguku. Mengganggu belajar, mengganggu tidur, mengganggu – “

“Maaf, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” Pemuda bernama Taehyung itu menggaruk tengkuknya dan memasang ekspresi bingung di wajahnya.

“Apa? Kau tidak mengerti? Apa suaraku masih kurang jelas? Atau kau tidak mengerti bahasa korea?” Shin Bi yang mulai naik pitam mencecar Taehyung sambil bertolak pinggang.

“Maaf, Nona. Tapi aku benar-benar tidak mengerti. Setiap malam aku justru tidak ada di rumah. Aku bekerja di toko kelontong yang buka 24 jam dan pagi sampai sore aku bekerja jadi cleaning service di apartemen Grand Seoul.”

Penjelasan Taehyung yang panjang lebar membuat Shin Bi tercengang. Merasa tidak enak karena sudah mengganggu pagi harinya Taehyung, Shin Bi pun membungkuk dan pamit.

“Maaf sudah mengganggu.”

“Tidak apa-apa. Maaf kalau aku tidak pernah menyapa. Aku tetangga yang tidak sopan, ya kan?”

“Ah, tidak. Kau pasti terlalu sibuk. Kurasa aku bisa mengerti. Sekali lagi maaf ya.”

Usai membungkuk dalam, Taehyung menutup pintu dengan senyum lebar masih tersungging di bibirnya. Sementara itu, Shin Bi justru sibuk dengan pikirannya.

Taehyung mengambil dua pekerjaan dalam satu hari, pasti dia sibuk sekali. Berarti masalahnya ada di tetangga sebelah sini.

Shin Bi kemudian mengetuk pintu tetangga yang satu lagi. Tiga kali ketukan, pintu belum dibuka. Shin Bi mengetuk kembali setelah jeda beberapa detik, namun baru saja Shin Bi mengangkat tangannya, pintu itu sudah terbuka. Berbeda dari apartemen yang  tadi dikunjungi Shin Bi, kali ini ia bertatap muka dengan seorang pemuda yang menyuguhkan ekspresi tidak bersahabat. Alis berkerut-kerut tanpa senyum sedikit pun.

“Ada apa?” tanya pemuda itu sembari bersandar di daun pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

“A – aku tetangga sebelah.”

“Lalu?”

Shin Bi yang tadinya tergagap mulai bisa meraih keberaniannya. Ia balas melipat tangan di depan dada dengan kepala terdongak karena pemuda itu cukup jauh lebih tinggi darinya.

“Apa yang kau lakukan di malam hari sampai menimbulkan suara seberisik itu?”

Raut wajah pemuda itu sedikit melunak. Ia menatap Shin Bi lekat-lekat, membuat Shin Bi dilanda kebingungan.

“Hei, jawab!” Shin Bi berusaha membangkitkan kesadarannya lantaran detak jantungnya sudah mulai tidak karuan. Bagaimana pun, pemuda yang di hadapannya saat ini memiliki ketampanan yang tak terelakkan.

“Kalau kubilang ini bukan urusanmu, kau mau apa?”

Ucapan bernada dingin yang terlontar dari pemuda itu sontak membuat Shin Bi mulai emosi. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Self healing, begitu Shin Bi menyebutnya.

“Kau sudah menganggu urusanku, jadi tentu saja aku harus tahu apa yang sebenarnya kau lakukan setiap malam.”

“Apa suara yang kau dengar membuat bulu kudukmu merinding?” Pemuda itu kembali bertanya. Shin Bi mengerutkan alis, lalu memberi anggukan sebagai jawaban.

“Kau takut?”

Shin Bi menatap lurus pemuda itu, lalu mengangguk.

“Jadi, kau bisa beri tahu aku apa yang kau lakukan setiap malam sampai muncul suara-suara seperti itu?”

Pemuda itu berhenti menatap Shin Bi dan mulai menunduk. Untuk beberapa saat, pemuda itu diam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Tiba-tiba ia menarik gagang pintu dan menutupnya dengan cepat. Namun sebelum pintu itu tertutup, Shin Bi mendengar sesuatu yang diucapkan pria itu walaupun terdengar samar.

“Lebih baik kau tidak tahu.”

.

.

Sudah kali ketujuh Shin Bi menguap sepanjang perjalanan dari kampus. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih lima menit yang merupakan waktu terlarut bagi Shin Bi untuk pulang ke rumah. Biasanya ia pulang sekitar pukul delapan dan paling lambat pukul sembilan, namun kali ini tugas kelompok presentasilah yang membuatnya harus pulang agak larut karena ia mengerjakannya di rumah Eunha.

“Hai, nona!”

Sapaan ceria itu membuat Shin Bi terkejut. Ia hampir saja oleng kalau ia tidak berpegangan pada tangga.

“Hai… Taehyung.” Shin Bi membungkuk pada Taehyung yang berjarak tiga tangga di atasnya. Ia hampir saja tidak mengenali penampilan Taehyung yang mengenakan pakaian serba hitam, kecuali sepatunya yang berwarna ungu berbahan kulit latex, selain suaranya yang khas dan bernada ceria.

“Apa biasanya kau pulang selarut ini?”

“Tidak juga. Kalau ada tugas kuliah saja aku pulang selarut ini.”

Taehyung menuruni satu anak tangga, mengikis jarak antara dirinya dan Shin Bi.

“Seorang gadis tidak baik kalau pulang terlalu malam. Benar ‘kan? Shin Bi – ssi?”

Shin Bi mendongak menatap Taehyung yang juga tengah menatapnya. Seingatnya, ia belum memberitahu namanya pada Taehyung dan mereka belum berkenalan secara resmi.

“Heh, minggir!”

Bentakan dari seorang pemuda yang berdiri di belakang Taehyung sontak membuat Shin Bi dan Taehyung terkejut. Pemuda itu adalah tetangga sebelah Shin Bi yang bersikap dingin padanya tadi pagi. Pemuda itu mengenakan kaus tanpa lengan berwarna ungu tua, celana jeans yang robek banyak di bagian lutut, sneakers butut berwarna abu-abu, dan rambut yang acak-acakan. Ekspresi Taehyung yang mengerutkan alis saat menatap pemuda itu tertangkap oleh Shin Bi.

“Dengar tidak? Minggir! Memangnya apartemen ini punya kakek moyangmu? Hah?” sekali lagi suara pemuda itu membuat Shin Bi tersentak. Namun tidak bagi Taehyung, ia justru menyunggingkan senyum aneh pada pemuda itu.

“Hei, kau minta baik-baik bisa kan? Kami tidak tuli, tahu!” ucap Shin Bi kesal. Ia dan Taehyung memiringkan tubuhnya, bermaksud menyilakan pemuda itu lewat. Namun sudah beberapa detik berlalu, pemuda yang tadi meneriaki mereka berdua tak kunjung lewat.

“Heh, kau, yang perempuan. Siapa namamu?”

Shin Bi dan Taehyung menatap pemuda itu bersamaan.

“Aku? Shin Bi.”

“Shin Bi?”

“Iya. Shin Bi.”

Pemuda itu kemudian menuruni tangga, melewati Taehyung tak acuh, lalu berhenti di hadapan Shin Bi.

“Kalau kau ingin jawaban untuk pertanyaanmu tadi pagi, ikut aku.”

Tanpa ragu, Shin Bi mengikuti pemuda itu di belakang. Meninggalkan Taehyung yang menatap Shin Bi dan pemuda itu dengan tangan terkepal kuat.

.

.

.

Shin Bi menatap tajam pemuda yang tengah asyik menyeruput kuah ramen di depannya. Pemuda yang tadi mengatakan akan memberi Shin Bi jawaban, hanya menghabiskan 15 menit waktu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kecuali membeli ramen untuknya dan untuk Shin Bi di minimarket pinggir jalan.

“Kenapa? Tidak suka ramen?” Pemuda itu akhirnya buka suara. Shin Bi mendecih, lalu kemudian ia menggebrak meja.

“Katakan siapa namamu atau aku lapor polisi!”

“Kim Seokjin.” Pemuda itu menjawab acuh tak acuh sambil kembali konsentrasi pada ramennya. Kali ini Shin Bi tidak tinggal diam, ia merampas cup ramen yang tengah dinikmati Seokjin sampai Seokjin harus tersedak dibuatnya.

“Berhentilah makan ramen dan berikan saja jawabannya, Seokjin-ssi!”

Seokjin menatap Shin Bi lekat-lekat, lalu meletakkan sikunya ke atas meja dengan keras seolah membalas gebrakan meja yang diberikan Shin Bi tadi. Lengan berotot Seokjin terpampang jelas ke hadapan Shin Bi, membuat Shin Bi harus menelan ludah.

“Suara yang kau dengar itu…”

Seokjin mengambil jeda sejenak dan lagi-lagi ekspresinya melunak saat melihat Shin Bi yang terlihat gugup.

“Suara yang kau dengar itu, bukan dari apartemenku.”

“Jadi dari apartemen Taehyung?”

Pemuda bernama Seokjin itu menaikkan alisnya sebagai jawaban. Shin Bi kali ini menatapnya lekat-lekat.

“Kenapa kau bisa tahu?”

“Menurutmu kenapa aku suka warna ungu?”

Shin Bi tercengang selama beberapa saat, lalu ia tertawa dengan nada mengejek. Baginya semakin lama pembicaraan dengan Seokjin semakin tak jelas ke mana arahnya. Shin Bi meraih tasnya yang ia letakkan di atas meja dan bersiap meninggalkan Seokjin sebelum akhirnya Seokjin menarik tangan gadis itu.

“Bagiku, ungu itu warna yang keren.” Ucap Seokjin tanpa melepaskan sedikit pun tatapannya ke dalam mata Shin Bi. Selama beberapa saat lamanya mereka saling bersitatap, namun akhirnya Shin Bi menghentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman Seokjin.

“Bagiku, ungu itu hanya warna. Permisi.”

Shin Bi mengambil langkah besar-besar, berharap agar Seokjin tak bisa membuntutinya. Memang pada akhirnya Seokjin memutuskan untuk berdiam di hadapan cup ramennya yang telah kosong, namun sebuah kalimat yang diteriakkan Seokjin masih sempat menggantung di kedua daun telinga Shin Bi.

“Tanyalah arti warna ungu pada Taehyung, Shin Bi-ssi!!!”

.

.

.

Tanpa siapapun menyangka, Shin Bi penasaran mengenai tantangan Seokjin untuknya. Menanyakan makna warna ungu pada Taehyung menurut Shin Bi merupakan hal konyol, tapi mengingat Taehyung pernah mengenakan sepatu kulit berwarna ungu yang cukup mencolok dibandingkan dengan pakaian serba hitamnya, ia rasa tak salah jika ia mencoba menanyakannya untuk bahan basa-basi sebagai tetangga.

Shin Bi pun keluar dari apartemennya. Saat itu menunjukkan pukul satu dini hari dan ia berniat untuk menemui Taehyung di toko kelontong 24 jam tempat Taehyung bekerja. Namun baru beberapa langkah setelah ia turun dari tangga, ia menemukan Taehyung tengah menggendong seorang wanita di punggungnya.

“Tae.. hyung-ssi?”

Taehyung menatap Shin Bi datar, tanpa senyum lebar yang pernah ia suguhkan seperti tempo hari. Wajahnya kali ini terlihat tidak bersahabat, seperti terganggu saat Shin Bi menyapanya.

“Pacarmu, ya?” tanya Shin Bi lagi, berusaha mencairkan suasana canggung gara-gara Taehyung yang kali ini diam seperti batu.

“Bukan. Aku hanya ingin menolongnya.”

Shin Bi mengerutkan alis. Di satu sisi ia pikir Taehyung sungguh baik mau menolong wanita yang tidak dikenalnya, tapi di sisi lain Shin Bi merasa ada yang aneh dengan Taehyung. Shin Bi melihat sepatu yang dikenakan oleh Taehyung , masih tetap sama seperti yang dikenakannya beberapa jam yang lalu.

“Bisakah aku lewat?”

Shin Bi tanpa sadar sudah menutup jalan Taehyung menuju ke tangga. Ia pun menggeser posisinya beberapa langkah ke kanan untuk memberi Taehyung jalan, namun satu hal tiba-tiba melintas di pikiran Shin Bi.

“Taehyung-ssi, maaf – “

“Apa lagi?”

Taehyung menghentikan langkahnya dan berbalik. Raut wajahnya semakin tak bersahabat, membuat Shin Bi cepat-cepat menanyakan apa yang ingin dia tanyakan.

“Kau suka warna ungu?”

Taehyung menghela satu nafas panjang. Ia membetulkan posisi wanita yang tengah digendongnya, lalu menatap Shin Bi dengan penuh kemarahan.

“Bagiku, ungu adalah akhir penderitaan. Puas?!”

Taehyung berbalik dan cepat-cepat masuk ke apartemennya. Pintu pun ditutup dengan kasar, membuat Shin Bi terhenyak. Tak lama setelah itu, terdengar suara perempuan berteriak dari dalam apartemen Taehyung.

“TOLOOOONG!!!”

“DIAM! AKU AKAN MEMBANTUMU!”

Jelas sekali itu adalah suara Taehyung. Shin Bi menutup mulutnya dan seluruh tubuhnya pun gemetar. Kakinya tanpa sadar bergerak mundur beberapa langkah sebelum akhirnya seseorang menahan bahunya dari belakang.

“Astaga! Seokjin?”

“Tenang, aku sudah menelpon polisi.”

Shin Bi bernafas lega mendengar apa yang dikatakan oleh Seokjin. Pun demikian, rasa leganya itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba pintu apartemen Taehyung menjeblak terbuka. Terlihat Taehyung tengah menyeret rambut wanita yang beberapa saat lalu digendongnya. Wanita itu bersimbah darah dengan kedua tangan terikat erat dengan tali. Shin Bi yang kembali ketakutan bersembunyi di balik tubuh Seokjin.

“Shin Bi-ssi, cepat lari! Pergilah ke tempat yang ramai atau ke pos polisi terdekat, aku yang akan menahan Taehyung di sini! Cepat!”

“Ta… tapi…”

“CEPAT!”

Shin Bi pun mengangguk patuh dan segera berlari meninggalkan area itu. Ia terus berlari lurus tanpa tujuan, tapi tak lama setelah itu ia menemukan beberapa mobil polisi sedang menuju ke apartemennya. Shin Bi berhenti berlari, secercah kelegaan memenuhi rongga dadanya kali ini.

Namun tiba-tiba Shin Bi merasa pusing…

Lalu semuanya gelap.

“Nona? Nona kau kenapa? Nona kau tidak apa-apa? Nona!”

.

.

.

“Kepribadian berbeda pada setiap individu. Jika ada lima orang, maka akan ada lima kepribadian. Begitu pula jika ada 1.000 orang, maka akan ada 1.000 kepribadian yang berbeda. Perlu diketahui, kepribadian itu seperti bawang. Semakin dikupas, semakin terlihat wujud aslinya.”

Shin Bi menatap lurus ke arah dosen yang mengajar kelasnya kali ini. Ia tidak benar-benar mendengarkan apa yang dijelaskan dosen kelas psikologi terapannya itu, namun ia tidak bisa melepaskan tatapannya dari dosen baru yang masih muda itu.

“Ada yang ingin ditanyakan? Sebelum saya akhiri kelas ini?”

“Saya, Pak Seokjin.” Shin Bi mengangkat tangannya. Perhatian seisi kelas tertuju padanya kali ini.

“Silakan, Shin Bi-ssi.” Seokjin menyambutnya pertanyaannya dengan wajah tersenyumnya. Sangat berbeda dari Seokjin yang pernah dikenal oleh Shin Bi sebelum ia bertemu dengan Seokjin yang sekarang.

“Maaf pak, saya tiba-tiba lupa.” Shin Bi menyunggingkan senyum usilnya sekilas, namun senyum itu dapat tertangkap oleh mata Seokjin.

“Kalau sudah ingat, silakan temui aku kapan saja.” Seokjin membereskan laptopnya, kemudian memberi salam dan keluar dari kelas. Belum ada lima langkah Seokjin kelluar dari kelas, sebuah pesan line masuk ke ponselnya tujuh kali berturut-turut.

Shin Bi: Jadi ,kau seorang dosen?!!!”

Shin Bi:  “Kenapa berpakaian seperti preman?”

Shin Bi:  “Apa itu kepribadian aslimu?”

Shin Bi:  “Atau yang berwibawa seperti tadi adalah kepribadian aslimu?”

Shin Bi:  “Dasar bawang!”

Shin Bi:  “Kau sama bawangnya seperti Taehyung!”

Shin Bi:  “Kau bisa kulaporkan ke polisi kalau kau ternyata adalah bawang busuk seperti Taehyung, yang berwajah manis namun ternyata seorang pembunuh. Mengerti?!!!”

Seokjin tak bisa menahan tawanya. Ia terbahak pelan di lorong kampus sembari membaca rentetan pesan dari Shin Bi. Sembari tersenyum, ia membalas pesan itu dengan satu kalimat pertanyaan sederhana –

Seokjin: “Aku tidak mengerti maksudmu. Bisa dijelaskan ulang di kedai kopi?”

– yang akan berlanjut pada pesan-pesan lainnya seperti yang diharapkan Seokjin.

.

.

.

END?

Bagaimana nasib Taehyung?

.

.

Malam saat kejadian itu, Taehyung langsung ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Wanita yang disiksanya malam itu dibawa ke rumah sakit karena sempat mendapat beberapa luka sayatan di beberapa bagian tubuhnya. Polisi pun juga menemukan beberapa mayat perempuan di apartemen Taehyung yang sudah dalam kondisi meninggal dunia. Mereka semua meninggal dengan cara yang sama, yaitu disayat-sayat terlebih dahulu sebelum akhirnya dicekik sampai meninggal. Semua jasad yang berjumlah enam orang itu berwarna ungu kebiruan, bahkan beberapa ada yang sudah mengeluarkan aroma busuk yang begitu menusuk hidung.

Di apartemen Taehyung, seluruh perabotan milliknya berwarna ungu gelap. Beberapa ada yang berwarna biru, beberapa ada yang berwarna hitam. Seokjin menyimpulkan kalau itu adalah warna kesukaan Taehyung. Namun ada satu benda yang membuat Seokjin begitu tertarik melebihi semua benda di rumah itu.

Foto Shin Bi, dengan wajah tanpa ekspresi dan ada tulisan di bagian belakang foto itu.

“Kau yang terakhir.”

.

.

. END

 

 

Advertisements

12 thoughts on “[What is Your Color?] PURPLE ONION – Vignette

  1. Lisa Kim

    Awalnya aku kira Jin yg bermasalah, eh gak taunya malah si Taehyung.hemmmm…
    Dan sejak kpn Jin suka warna ungu/? *ehh /Abaikan/ kekekek..

    Yg jelas, ffnya bikin merinding pas baca…

    Like

  2. Dusta kau, Kim Seokjin! warna kesukaanmu pinkkeu bukan ungu!! /lalu disepak kakniss/
    Kaknissss, aku bisa apa kalo kaknis bawa dede taehyungi sama masseok yang naudzubillah kerennya, huhu
    sukaaaak sama misteri2 gini. Taetae kenapa jadaaad, sini peluk nuna dulu dek /disepak pt.2

    Like

  3. Lumos22

    Kukira cuma si taehyung yang pembunuh, ternyata keduanya|_| /ini emot apa
    Yak keren ehehe.. speechless nih mo ngomong apa, gara (2kali) udah lama gabaca dan komen gajelas seperti biasa, dan sekarang pun masih gajelas-_-
    Lumoz pamit:*

    Like

  4. AAAAAAA SEOKJIIIIIN. Aku baca sambil bayangin jin dengan tampang preman aku baca smbil bayangin jin jd dosen di depan kelas tapi aku gak bisa bayangin tae yang ternyata seorang psycho ._. Terlalu jahat untuk wajah se baby dia pokoknya tae tetep baby walaupun dia psycho /ini egois/ /kemudian tae jambak gue/
    Keep writing kakkkkkk love love!

    Like

  5. Aihara

    W-what?
    Kalo aja Taehyung ngga dibawa ke polisi sesegera mungkin, Shinbi bakal jadi target terakhir:’)
    Yang sebelum ‘END?’ bikin senyam-senyum deh, awalnya yang dicurigai Seokjin, eh akhirnya manis-manis sama dia:3
    Kesan awal ga selamanya sama~
    Dan untuk cast cocok pake shinbi, gampang bayanginnya karena pas karateristiknya:3

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s