[What is Your Color?] Sunshine – Vignette

SUNSHINE - JIMMOU

a fanfiction by echaminswag~

Starring : [BTS’] Park Jimin with [OC’s] Moura Lee
| Genres : Angst, Romance | Length : Vignette (1k+) | Rating : PG |

Rules : No Plagiarism!

.

Karena matahari harus selalu menyinari bumi.

.

.

 

“Ulah mereka lagi?”

Jimin bersuara lirih sembari menutupi kepala Moura dengan handuk kering. Seragam gadis itu basah, pun bulir-bulir air masih berjatuhan dari anak-anak rambutnya. Jimin mengambil langkah mundur, memberi ruang lebih untuk Moura menenangkan diri, sementara tatapnya masih mengunci sosok mungil itu.

Ditilik sekilas, Jimin sudah mengetahui apa yang terjadi pada Moura. Namun, ia memilih untuk membiarkan Moura mengatakannya sendiri, barangkali nanti ia meminta Jimin untuk membalas perbuatan si gadis-gadis kurang ajar itu. Tapi, tidak. Pada menit-menit yang terlewatkan, Moura hanya diam. Bergerak untuk mengeringkan tubuhnya yang basah pun, tidak.

Dan Jimin mulai cemas.

“Mou.” ia kembali bersuara, lirih.

Masih tak ada respon dari Moura. Justru sebuah isakan mulai terdengar samar-samar, membuat dada Jimin laiknya dihantam batu besar. Ia mendekat, mengambil posisi duduk di dekat Moura dengan menuntun gadis itu untuk bersandar dibahunya. Di saat yang bersamaan, Moura mengejutkan Jimin dengan melingkarkan tangannya; memeluk pemuda itu dengan erat.

“Aku… takut, Kak. Takut sekali.” Moura berujar di sela isakannya yang makin keras. Tubuhnya gemetaran, terlihat sekali bahwa gadis ini sungguh-sungguh ketakutan.

Jimin semakin dibuat panik. Pasalnya, ia belum pernah mendapati Moura dalam keadaan setakut ini—meski berulangkali mendapatkan perlakuan serupa. Gadis itu hanya akan menangis dalam diam, terkadang menyisipkan cerita tentang apa yang telah terjadi dalam tangisnya. Tak sampai histeris seperti sekarang.

“Apa yang terjadi, Mou?” Jimin berusaha melempar tanya kendati sejujurnya ia tak tega. Mendesak Moura bercerita bukanlah pilihan yang tepat, namun membiarkannya bungkam akan menambah perih dalam hatinya.

“Mereka… mereka…”

Moura tergagap, sementara Jimin mendekapnya makin erat.

“Jangan katakan apa-apa. Menangislah dulu, aku akan menunggu.”

Tak ada yang keduanya katakan selepas itu. Jimin diam, pun dengan Moura yang masih menangis dalam pelukan. Dalam benaknya, Jimin menerka apa yang telah terjadi dengan gadisnya. Ia juga berharap bahwa tak ada hal yang lebih buruk terjadi dengan Moura. Jimin tak akan memaafkan mereka jika hal itu sampai terjadi.

Ia akan dengan sukarela membalas perlakuan mereka, tentu jika Moura mengijinkan.

Berselang cukup lama, tangis Moura mereda. Ia bergerak pelan, menjauhkan diri dari dekapan Jimin. Sementara itu, si pemuda malah asik mengusak rambut Moura yang masih basah dengan handuk tadi. Moura diam. Sejenak, keduanya bersitatap. Jimin memulas senyum, kendati ulu hatinya mulai sakit kala melihat bengkak pada kedua mata gadis itu.

“Kak—”

“Mou, bagaimana dengan keliling Hongdae?”

“Apa?”

***

“Mou, mau eskrim?”

Jimin memekik di antara kerumunan manusia yang memenuhi Hongdae kala dwimaniknya menangkap tenda penjual es krim yang kebetulan berada tak jauh dari posisi mereka. Tanpa menunggu jawaban, jemarinya menaut pada milik Moura, menarik gadis itu bersamanya agar tak hilang di tengah lautan manusia. Selanjutnya, mengambil duduk di kursi paling tepi dan mengangkat lengan untuk memesan.

Imo, dua cokelat, ya?”

Selepas mendapat anggukan dari bibi si penjual, Jimin menatap Moura yang sejak tadi belum juga bicara sesuatu padanya. Gadis itu merunduk, mengucal ujung hoodie  milik Jimin yang ia kenakan. Melihat Moura dalam jarak sedekat ini membuat darah Jimin berdesir, ada hal yang menarik perhatiannya; mata Moura yang sembab itu memancarkan suatu ketenangan. Untuknya, tentu saja. Namun, banyak orang yang tidak menyadari hal itu.

Hei, Moura cantik, omong-omong.

Ia memiliki mata yang indah, berbeda dengan dua saudara kandungnya yang saat tersenyum matanya akan berbentuk seperti bulan sabit, mata Moura lebih lebar dari keduanya dengan iris berwarna abu-abu gelap. Rambut pendeknya tak pernah berubah gaya, membuat kesan kanak-kanak amat melekat pada bungsu Lee itu. Ia cantik. Sebuah cantik yang menjadi tipikal Park Jimin.

“Mou, ingin kemana setelah ini?”

Jimin melontar tanya selagi menyendok es krimnya, yang hanya dibalas tolehan sejenak kemudian hening untuk sekian lama. Moura dengan cepat menandaskan es krim itu dalam beberapa menit saja. Ia lekas beranjak dan membayar es krim pesanan mereka meski Jimin belum menghabiskan miliknya.

“Mou, tunggu—”

“Ke area ice skating, Kak.”

Ha?”

Satu tuturan pelan, dan berhasil membuat Jimin tersedak es krimnya. Buru-buru ia meninggalkan tenda dan menyusul Moura yang sudah melesap ke tengah kerumunan lagi. Ia nyaris kehilangan gadis mungil itu kalau saja jaket berwarna kuning cerah yang ia kenakan tak kontras dengan orang-orang di sekitar.

Moura menghentikan jengkahannya, berbalik untuk mencari sosok Jimin, namun tak menemukannya. Moura pikir, Jimin masih berada di tenda es krim, jadi ia melajukan kembali tungkainya ke tempat tujuan.

Sesampainya, Moura segera memakai peralatan setelah membawanya dari tempat penyewaan. Dua pasang sepatu, untuknya dan Jimin.

“Mou.”

Satu panggilan terdengar, dan si pemanggil sudah berada tepat di depannya. Tanpa persetujuan, Jimin membebat shal ke leher Moura, pun menggunakan benda serupa pada lehernya. Moura mengerjap beberapa kali mendapat perlakuan sedemikian manis dari Jimin, yang belum pernah ia dapat dari orang lain, kakaknya sekali pun.

“Supaya kamu tidak kedinginan.”

Moura mengangguk pelan. Dengan ekor matanya, gadis itu memberi tanda kepada Jimin agar segera memakai sepatu luncurnya. Jimin membelalak, bergantian menatap area ice skating yang cukup rame dan sepatunya. Detik berikutnya, ia menelan ludah dengan susah payah.

***

“Mou, ini tidak baik. Kamu tahu aku tidak pandai dalam olah raga ini, ‘kan?”

Jimin berteriak frustasi kala Moura bersikukuh menarik pergelangannya untuk meluncur ke tengah, namun dengan kekuatan penuh ia masih berpegangan pada pembatas besi di tepian. Sepatu telah terpasang sempurna di kakinya, tetapi jangankan dapat meluncur seperti anak-anak sebayanya itu, ia malah gemetaran dan nyaris mengurungkan niat jika saja Moura tak lekas menariknya.

“Aku akan memegang tanganmu, Kak.”

“Sungguh?”

Moura mengangguk pelan, sementara Jimin menatapnya nanar. Perlahan, ia melepas cengkeraman tangannya pada pembatas dan mengikuti si gadis. Awalnya, sih, baik-baik saja karena Moura terus memegang tangannya. Namun, setelah cukup lama melihat Jimin mulai terbiasa, gadis itu pun melepasnya. Hingga satu, dua, tiga detik—

“MOU!”

—Jimin terjungkal dengan pantatnya yang mendarat lebih dulu. Ia terjatuh, dan berbagai gelak tawa mulai memenuhi seisi area ini.

Memalukan, sungguh.

Jimin mengusap-usap pantatnya selagi pandangannya jatuh ke sosok Moura yang berdiri di depannya. Gadis itu tertawa dengan menutup mulutnya. Sekali lagi, ia tertawa. Moura tertawa. Sebuah tawa lepas yang seakan ia lupa dengan kejadian pagi tadi—di mana ia menangis ketakutan karena pem-bully-an (dijebak dalam toilet, lampu dimatikan, dan disiram air dari atas bilik) yang dilakukan oleh teman seangkatan Jimin, membuat Moura yang pendiam terlihat semakin diam.

Namun kini, mataharinya kembali bersinar. Jimin berhasil mengusir mendung yang menghalau pendaran sinarnya.

Tahu begini, Jimin rela jatuh berkali-kali demi melihat senyuman terbingkai pada wajah Moura.

.

.

“Teruslah tersenyum seperti tadi, ya?”

“Mengapa?”

“Karena matahari harus selalu menyinari bumi, meski ia lelah, meski mendung seringkali menghalangi sinarnya.”

.

.

fin.

Happy 2nd Anniversary BTSFF ❤

Advertisements

5 thoughts on “[What is Your Color?] Sunshine – Vignette

  1. Pas Jimin jatoh di area ice skating, aku ketawa beneran hahaha
    Moura himnae~ ngebayangin pembully-annya parah banget
    Tapi berkat Jimin, Moura masih bisa senyum
    Huah, that’s good:’)

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s