[What is Your Color?] Oppa – Ficlet

untitled-165

Oppa

Adapted from urban legend called Elder Brother

BTSFF’s 2nd Anniversary

“What’s Your Color?”

FiolaCindy

Ravenclaw’s artwork

BTS’s Park Jimin and Lovelyz’ Park Myung Eun

–riddle, crime, family, slight!supranatural. PG-13.

“This reterograde. I can’t remember anything. Why do you keep smiling at me?”

.

Dua April tahun dua ribu enam belas.

Tepat dua tahun setelah insiden tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuaku. Pun kakak laki-lakiku yang dijatuhi hukuman mati atas dugaan pembunuhan keduanya.

Benar, aku kehilangan seluruh anggota keluarga inti ketika umurku masih tiga belas. Usia yang sangat sulit untuk menerima sebuah kenyataan sepahit ini. Daripada itu, hidupku tenang-tenang saja. Aku yang hidup menumpang di rumah bibi sebagai penyandang reterograde amnesia*. Lebih tepat jika menyebutnya kejadian daripada kecelakaan. Karena kau tahu itu.

Namaku Park Myung Eun, namun panggil aku Jin. Jangan tanya, karena bahkan aku lupa alasan di balik nama panggilan itu. Hari ini aku akan menulis kembali memori-memori usangku atas kejadian memilukan tersebut. Dan prinsipku jalani saja apa adanya.

.

Pukul delapan lebih tiga puluh.

Gerimis membasahi lingkup perkotaan Dongdaemun-gu**. Aku berlari kecil seraya mengangkat tas selempang mengingat barang satu-satunya sebagai pelindung kepalaku. Sembari sebisa mungkin berteduh menuju sebuah kafѐ di pinggir jalan kota.

Seorang gadis seumuranku tengah sibuk menyeruput secangkir kopi di tepi  jendela. Aku berdecak sesampainya di sana.

“Seorang sahabat tengah bersusah payah di tengah hujan lalu sahabatnya hanya duduk manis menikmati cappucinno miliknya,” keluhku padanya.

“Ini caramel latte, Jin. Kau harus tahu itu,” tepisnya. Ia meletakkan cangkir putih di hadapannya lalu menautkan jemarinya. Ia bertanya dengan nada serius, “Jadi apa yang ingin kau ketahui?”

Semestinya ia tak langsung menanyakan hal itu. Aku mengistirahatkan tubuhku sejenak.

“Apa salahnya aku menengok sahabatku? Hei, aku merindukanmu, tahu.”

“Aku mengenalmu sejak kau masih embrio, Jin. Aku paham benar kau datang ketika membutuhkanku.” Aku bahkan hanya mengingatnya selama dua tahun ini, jangan salahkan aku. “Jadi apa maumu?” ia melontarkan pertanyaa final.

Aku menyerah, menundukkan kepala barang sejenak. Lirih kuucap, “Kakakku.”

Ia menghela napas berat. “Jin,” panggilnya lirih. “Apa yang sebenarnya ingin kau buktikan? Itu sudah berlalu.”

“Kumohon,” pintaku memelas. Aku tahu betul ia tak menyukai ketika aku memohonnya menerawang masa laluku. Karena hanya dialah satu-satunya kesempatanku. Aku ingin tahu apa yang telah membuat kakakku gila meski aku tak yakin benar ia yang melakukannya. Akulah yang paling mengenalnya –bahkan dibading ayah dan ibu.

Dan duduk di hadapanku, Seo Ji Soo. Teman seperjuangan sekaligus sahabat sedari kecilku. Meski pernah sekali aku melupakannya, lagi tentang insiden mengerikan itu. Namun yang kutahu ia baik. Seorang gadis yang ditakdirkan lahir dengan aura indigo, aura seorang ratu.

Ialah jalan menemukan kakakku, Park Jimin.

.

Dua April dua ribu empat belas.

Hujan lebat mengguyur kota Seoul. Mengiringi malam gelap nan dingin. Membawa mimpi terburuk selama dua tahun belakangan ini. Kusambangi ruang tengah dengan keadaan porak poranda. Entah apa yang menimpaku, pastinya ada yang tidak beres.

Sekelebat bayangan hitam, kilatan petir menyambar, suara teriakan, kibasan pisau lalu gelap total. Aku yang tak sadarkan diri terbangun di bangsal rumah sakit. Aku tak tahu, kejadiannya begitu cepat. Kepalaku sakit, tak lagi mampu mengingatnya. Hanya saja, satu hal yang kuingat.

Kakakku tersenyum padaku.

Seminggu berlalu, Bibi Cha datang menjemputku. Katanya mulai sekarang aku akan tinggal bersamanya. Dan selama itu tak ada yang mengusik insiden tersebut.

Kakakku dipenjara sebagai terdakwa tindak kriminal pembunuhan ayah dan ibu. Aku datang ke pengadilan ketika hakim menetapkan keputusan akhir agar terdakwa dihukum setimpal. Nyawa dibalas nyawa. Aku tak paham perasaanku kala itu. Aku tak dapat menangis meski ingin.

Hari-hari terakhirnya di sel penjara. Aku tak mendapatkan apapun darinya. Tidak perasaan sedih maupun menyesal. Ia tersenyum senang menatapku dari balik pagar besi tersebut. Bahkan ketika hari terakhirnya, ia tetap tersenyum. Persis seperti sebelum-sebelumnya.

Ia tetap tersenyum seperti itu.

.

“Lalu bagaimanya?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Kenapa kakakku berubah menjadi segila itu, Soo?”

Ia bangkit dari zona nyamannya, berjalan mendekatiku. Tangannya terulur padaku kemudian menepukkanya tepat di pundak kananku secara perlahan. “Ia tidak gila, Jin. Park Jimin sepenuhnya sadar atas perbuatannya.”

Tidak mungkin. Kakakku adalah pria paling baik yang pernah kukenal. Ia tak mungkin melakukan tindakan sekeji itu. Tidak bahkan jika ia kerasukan.

“Ia tidak bersalah. Ia hanya menjalankan tugasnya, bertanggung jawab atas orang lain.”

Detik itu tangisku pecah seketika.

Maafkan aku, Kak.

-fin.

*keadaan dimana otak kehilangan seluruh memori sebelum terjadinya kecelakaan

**sebuah distrik di kota Seoul

Happy 2nd Anniversary BTS Fanfiction Indonesia!!!

Meski aku belum genap setengah tahun di sini. Aku cinta kalian semua :* terimakasih atas perhatian kalian selama ini.

Saranghae ❤

phi.

Advertisements

20 thoughts on “[What is Your Color?] Oppa – Ficlet

  1. Aihara

    Tuh, selalu gini kalo baca riddle, pas liat comment yang bertebaran tuh jadi pemahaman yang baru buatku, karena sebelumnya ga kepikiran:’) huhu serius
    Jadi gitu ya, Jimin kakak yang baik:’D

    Like

  2. Hmmmm jadi begini akuu akuuu …. aku gak pernah bisa jawab riddle tapi ini fiksi nya bagus T-T
    Yang ada di pikiran aku, apa jimin psycho? Eh pas baca endingnya dia hanya bertanggung jawab atas orang lain. Terus buat apa jin minta maaf?
    Setelah aku baca komen yg lain ternyata jin yg bunuh dan dia lupa. :v

    Like

    1. Anonymous

      Jin mengidap reterograde amnesia mungkin karena luka di kepala ketika insiden tersebut. Jimin merasa bertanggung jawab karena dia kakak tertua dan harus melindungi adiknya. Jisoo awalnya gamau cerita sama Jin soalnya dia tahu yg ngebunuh itu jin, bukan Jimin.

      Btw thanks for reading
      Ini fio yg lagi lupa sandi wp

      Like

  3. Ashara364

    Kayak pernah baca…tp endingnya lain hehehehe brrti beda
    Jadi aslinya yg bunuh tuan sm nyonya park itu si “jin” tp jimin saking sygnya ma si adex mau aja trima hukuman mati…baik amat bang…
    Riddle yg menarik
    Ahra eonni

    Like

    1. Anonymous

      Hai dear. Memang fiksi ini adaptasi dari Riddle/urban legend dengan banyak pengembangan namun dengan inti yg sama.

      Aku gatau fiksi mana yg kamu baca. Tapi kalau kamu baca terjemahan aslinya itu beda banget karena cuman drabble.

      Btw thanks for reading

      Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s