[What is Your Color?] RUN! – Oneshot

maposter copy

 

“RUN!”

BTS’s members with Syeina and Raina (ofc, they’re just OC)

Friendship, lil Action genres with teenager rated

Note: Semua pemain berusia sama

Jingga adalah warna yang melambangkan optimisme, persahabatan, petualangan, peremajaan serta keberanian. (indotopinfo.com)

-LittleRabbit-

.

Guys, kalian tahu?” tanya seorang gadis tomboy pada teman-temannya, yang tentu saja dijawab oleh gelengan serempak.

“Beberapa hari ini, aku diikuti oleh seorang laki-laki. Bahkan hingga tempat les!”

“Astaga, Syein, kau terlalu banyak menonton film detektif.”

“Ini kenyataan, Raina,” ujar gadis tomboy bernama Syein itu. “Ini sudah terjadi selama satu atau dua minggu ini.”

“Bisa kita percaya?”

“Kalian bisa memusuhiku jika aku berbohong, Min Suga.”

Syein—atau Syeina lebih lengkapnya— menceritakan tentangnya yang diikuti oleh seseorang akhir-akhir ini pada teman-teman satu kumpulannya.

Teman kumpulan Syein berjumlah sembilan orang dengannya, tujuh lelaki dan dua perempuan. Syeina dan Raina yang pendiam dan feminim, namun jangan meragukan kecepatan berlarinya serta kemampuan otaknya yang cemerlang.

Serta tujuh lelaki lainnya, ada Kim Seokjin yang tertua dan biasanya sebagai penengah; Kim Namjoon yang ditunjuk sebagai pemimpin mereka tanpa pemilihan serta otak kedua dalam kelompok ini.

Kemudian ada Min Yoongi atau biasa dipanggil Suga, anggota yang paling malas namun cekatan dan teliti; setelahnya ada Jung Hoseok si trouble maker yang ceria. Idenya sangat cemerlang, hingga kadang di luar nalar.

Setelah Hoseok, ada Park Jimin, Kim Taehyung, dan Jeon Jungkook yang sepaket. Mereka tak bisa terpisahkan karena ide-ide mereka yang jika digabung akan spektakuler. Ya sebelas-duabelas dengan Jung Hoseok.

“Baiklah, mungkin untuk membenarkan berita itu, bagaimana jika Raina menginap di rumah Syein beberapa hari?”

Raina hanya mengangguk setuju, kebetulan juga ia sedang malas di rumahnya. “Mulai hari ini, kan?”

“Tentu saja!” sahut Syeina dengan cepat. Bagaimana pun, dia tetap ketakutan akan teror yang menimpanya beberapa hari ini.

Raina hanya menuruti teman-temannya, selain karena ingin tahu juga siapa orang yang dengan isengnya meneror Syeina, ia juga malas di rumah. Pertengkaran keluarga yang sudah terlalu sering didengarnya.

Omong-omong, kesembilan pemuda-pemudi ini memang berasal dari keluarga yang hampir atau sudah menjadi broken home.

Kesembilan anak manusia itu melanjutkan obrolan mereka, dari yang penting hingga tidak penting, seperti nilai ulangan Taehyung yang sudah menjadi rahasia umum jika selalu di bawah rata-rata.

~o0o~

“Aku tak menemukan hal-hal atau seseorang yang aneh saat berada di rumah Syein tiga hari ini.”

“Tentu saja dia tidak akan mengikutiku jika aku bersama orang lain!”

Ketujuh pemuda yang tidak menginap di rumah Syeina hanya menatap gadis itu dengan pandangan penuh tanya serta tatapan sinis—khusus ini, Jeon Jungkook yang melakukannya.

“Jadi…apa kita perlu untuk memusuhimu, Syeina?”

Gadis yang menjadi korban tatapannya teman-temannya hanya memandang balik dengan pandangan malasnya. “Terserah! Yang penting aku sudah jujur pada kalian!”

Namjoon mengangkat bahunya sedikit lama. Mencoba mengabaikan ucapan Syeina yang juga tak ditanggapi serius oleh yang lain. Membuat gadis itu mendengus keras yang kemudian bersandar penuh pada Raina.

Keheningan tercipta saat sekelompok remaja tanggung itu sibuk dengan dunia masing-masing, hingga seseorang berpakaian hitam di seluruh tubuhnya menarik Syeina dengan cepat. Kebetulan Syeina berada di paling ujung tempat duduk mereka.

Kejadian itu berlangsung sangat cepat, hingga mereka yang tersisa hanya bisa terdiam beberapa saat. Hingga teriakan Raina menyadarkan mereka.

“Astaga! Ini tidak main-main! Pria itu kemarin berada di mini-market dekat rumah Syein! Aku melihatnya saat kami sedang berbelanja!”

Setelah itu diikuti oleh Yoongi yang sudah siap dengan senjata apinya. Jangan tanya bagaimana dia bisa membawa benda berbahaya itu, ranselnya terisi dengan peralatan membela diri, fyi, dan pistol adalah yang paling biasa ia bawa.

Dengan segera, Yoongi menyerahkan pistol yang ia bawa pada Namjoon, bermaksud untuk menembak ban belakang mobil yang digunakan si penculik. Sementara Seokjin sudah menghafal plat nomor untuk dicatat si bungsu.

“Baik, aku akan membagi menjadi dua kelompok untuk mengejar si penculik beserta Syein.”

Raina yang mengeluarkan suaranya mengalihkan fokus para pemuda di sekitarnya, kecuali Namjoon dan Jungkook yang masih sibuk dengan aktivitas mereka.

“Karena wanita dalam kelompok ini ada dua, maka aku akan bergabung dengan kelompok Namjoon, Seokjin dan Yoongi, sementara—“

“Kenapa kelompok kalian pintar-pintar?”

“Diamlah, Kim Taehyung! Ini sedang serius!”

Yoongi menepuk kepala Taehyung dari belakang, sementara teman terbaiknya hanya terkikik menertawakan.

“—baiklah, ku lanjut. Sisanya berlari menemani Syein, sebisa mungkin kalian berlari menjauhi markas dan alihkan perhatiannya dengan cara apapun! Asal tidak merusak atau mengacau kota, mengerti?”

“Setelah itu, usahakan memasuki markas melalui tempat kedua atau ketiga, jangan yang utama.”

Ketujuh pemuda yang diberinya titah hanya mengangguk, membuat Raina tersenyum puas. Kebetulan juga dua ban belakang mobil yang berjarak tak jauh dari mereka sudah tertembak.

Bodohnya lagi, si penculik tersebut keluar dari mobil meninggalkan Syeina di dalamnya. Otomatis gadis tomboy yang juga cerdik itu menyabut kunci mobil dan berlari keluar, sebelum si penculik menyadari mesin mobil yang mati.

“Berpencar, guys!”

Ketujuh pemuda segera dalam posisi yang sudah dibicarakan sebelumnya, membuat Syeina yang tidak mengetahui apapun berlari mengikuti Raina.

“Berikan kuncimu padaku, setelah itu berlari mengikuti empat sekawan si trouble maker. Cepat!”

Syeina hanya mengangguk patuh. Raina dalam mode serius tak bisa dibantah.

“Omong-omong, aku menemukan dompet berisi lencana si pria aneh itu, Rain, mungkin itu bisa membantu.”

Raina hanya mengangguk seraya menerima pemberian dari Syein. “Pergi, cepat!”

Si penculik yang menyadari jika tawanannya kabur, berlari mengejar Syeina. Pria itu hanya berlari tanpa memikirkan keadaan mobilnya yang ditinggal dengan pintu terbuka. Percuma juga jika ada yang ingin mencurinya, kunci mobil sudah hilang terlebih dahulu.

Kelompok Raina bersembunyi tak jauh dari mobil si penculik, setelah Syein berhasil mengalihkan perhatian si penculik yang selalu mengikutinya. Bergabung dengan kelompok pembuat rusuh, membuat Syeina semakin bersemangat mengikuti alur si penculik.

Dasar, Syeina. Sudah menjadi korban penculikan, masih bisa mengerjai si penculik. Astaga.

Setelah dirasa tidak berada dalam jangkauan pandang si pria berbaju hitam, kelompok Raina berlari sedikit tergesa menuju markas mereka. Markas istimewa yang mereka bangun bersama-sama.

“Kita bagi menjadi dua kelompok,” ujar Namjoon seraya menyalakan sumber listrik dalam ruangan bawah tanah tersebut. “Aku akan mencari plat nomor mobil, Seokjin bisa mencari identitas lencana itu.”

“Hei, ada data diri kepolisian di dompet ini. Apa ini asli?” tanya Raina yang masih membuka dompet si penculik.

“Kenapa kau tidak memobol website kepolisian kota, Raina?”

“Ide bagus, Min Yoongi!”

Yang disebut namanya hanya memutar bola matanya, sebelum perhatian Yoongi teralih pada Seokjin dan Namjoon yang sudah memegang komputer masing-masing.

Merasa tidak ada yang perlu dikejakan, Yoongi membuka personal komputer yang sedang dihadapinya. Membuka aplikasi permainan, solitaire.

“Astaga, Min Yoongi!” seruan sebuah suara tepat di sebelah telinga membuat Yoongi tersentak kaget. Menemukan si gadis satu-satunya di antara mereka berempat sedang melotot padanya dengan tangan di pinggang.

“Rekan-rekanmu sedang berusaha mencari identitas si penculik, kau hanya bermain solitaire? Astaga, bagus sekali kerjamu, Min Suga.”

“Apa? Apa? Aku tak diberi tugas oleh kalian, jadi aku memanfaatkan waktu luangku, salah?” ujar Yoongi membela dirinya.

“Terserah!” –Kim Seokjin.

~o0o~

Sementara itu di sudut kota yang lain, kelompok Syein masih berlari menghindari si penculik yang juga masih mengejar mereka.

“Sial! Kapan pria itu akan berhenti? Kakiku sudah mati rasa!” umpat Taehyung yang berlari dengan sesekali menoleh melihat si penculik.

“Syein menoleh pada pria yang berjarak lumayan jauh dari mereka, “Ku rasa, kita bisa berpencar dari sini, guys.”

“Dan meninggalkanmu?” sahut Hoseok dengan cepat.

“Membiarkanmu berlari berdua dengan pria penculik seperti film India?” tambah Jungkook.

“Tidak! Kita akan terus berlari hingga berjarak yang sedikit atau benar-benar aman, setelah itu sembunyi.”

“Tumben kau pintar, Kim Taehyung!”

“Bagaimana jarak dengannya?” Tiba-tiba Hoseok bertanya tanpa menoleh sama sekali. Pemuda itu bertugas sebagai pencari jalan, itu adalah salah satu keahliannya, omong-omong.

Taehyung yang berada di barisan paling belakang, menoleh sebagai gerak refleks. “Sedikit jauh, tapi masih terlalu dekat jika kita ingin pergi ke gorong-gorong.”

“Apa tidak terlalu lama jika kita menunggunya benar-benar jauh?” Jimin yang tidak mengeluarkan suara sejak tadi, akhirnya bersuara. “Lagipula Syein sudah berkeringat terlalu banyak.”

Dengan kompak, pemuda-pemuda itu menoleh pada Syein yang memang sudah terlihat lemas.

“Aku baik-baik saja, guys.”

“Ayo berbelok, kita lewat jalan pintas!”

Hoseok memimpin rombongan melewati sebuah gang kecil di antara gedung-gedung tinggi. Matahari sudah hampir tenggelam saat mereka melintasi jalan kecil tersebut.

Guys, kurasa kita bisa masuk lewat pintu empat. Pria itu benar-benar sudah berjarak dengan kita.”

Taehyung memberi informasi, yang kemudian diserap dengan baik oleh Hoseok.

“Pintu tiga yang terdekat, kenapa lewat pintu empat?” protes Jimin yang memberikan sapu tangannya pada Syein. “Kau tak lihat jika Syein sudah lemas seperti ini?!”

“Jika lewat pintu tiga, jaraknya terlalu dekat, kita belum membuka pintu gorong-gorong kemudian menutupnya.”

Guys, tolong jangan bertengkar,” lerai Syein dengan tetap berlari. Mereka berlima masih berlari, omong-omong. “Kita bisa lewat pintu tiga, Jungkook dan Hoseok yang berada di depan bisa membuka pintu gorong-gorong, dan kalian berdua bisa menutupnya.”

“Lakukan dengan cepat.”—Jungkook.

Tak ada yang bisa membantah Syein, selain kasihan melihat gadis itu sudah bersusah payah berlari, mereka juga sudah lelah dan ingin beristirahat.

“Omong-omong, kenapa kau bisa jadi korban penculikan, sih?”

“Mana ku tahu, Jimin!”

“Seharusnya kita tidak menolongmu, Syein,” ujar Taehyung dengan ringan tanpa beban.

“Apa? Sialan!”

Keempat pemuda itu tertawa dengan lepas mendengar umpatan Syein.

“Biarkan si penculik itu merugi dengan porsi makanmu yang banyak!”

“Atau dengan cemilan sekantung besarmu.”

“Astaga, diamlah kalian!”

Jimin dan Taehyung tertawa setelah membeberkan aib-aib Syein, sementara mereka sedang menunggu Jungkook dan Hoseok membuka pintu air di bawah mereka.

Jika kalian bertanya apa gorong-gorong itu berisi air kotor, maka jawabannya adalah tidak. Itu hanya gorong-gorong yang sudah tidak terpakai alias aliran air yang sebelumnya melewati gorong-gorong itu sudah dialihkan pada gorong-gorong baru.

Jangan dilanjutkan pembahasan gorong-gorong, kita kembali saja pada Taehyung dan Jimin yang sedang menutup pintu saluran air tersebut.

“Sial, aku capek.”

“Sst, jangan terlalu keras, Syein. Suaramu menggema.” Syein hanya mengangguk seraya mengatur napasnya.

Syeina mengalihkan pandangannya, menatap cahaya matahari sore yang masuk melalui sela-sela pintu air. Hingga tatapannya bertemu dengan pria si penculik.

Guys,” panggil Syein dengan pelan, hampir berbisik, sementara padangan matanya tidak teralih dari sepasang mata di dunia luar.

“Pria itu di atas.”

‘Meong’

Suara eongan kucing itu menjadi pengalih perhatian kelima anak manusia, sekaligus memberikan ide bagi otak cerdas Taehyung.

“Akhirnya, kalian tidak bisa lari lagi, bocah-bocak sialan!”

Suara pria itu menggema dalam gorong-gorong yang berhasil dibukanya, dan menemukan seekor kucing memandangnya penuh harap.

“Sialan! Sial, aku kehilangan mereka!”

Ooh, rupanya ada yang mengganti tatapan Syeina dengan tatapan kucing, guys.

Terima kasih untuk Taehyung beserta ide aneh nan konyolnya.

Sementara itu pada balik pintu yang kedap suara, tawa Syein menggema luar biasa kerasnya. Di sampingnya, terlihat Hoseok yang sudah tidur dan Jungkook yang masih mengatur napasnya.

“Kenapa kalian sudah tertidur di sini? Ayo ke ruang utama!”

“Kau saja yang pergi ke sana, aku akan tidur di sini.”

“Dasar pemalas!”

Syeina meninggalkan keempat sahabatnya yang sedang terkapar di lantai. Bergegas menuju ruangan lainnya yang juga berada di bawah tanah tersebut.

Apa kalian bingung dengan susunan markas bawah tanah mereka?

Ruangan bawah tanah mereka adalah hal yang legal, terima kasih pada ayah Jimin yang merupakan walikota dan ayah Raina yang merupakan ketua kepolisian kota, sehingga mereka dapat menyambungkan beberapa gorong-gorong yang tidak terpakai untuk menjadi markas mereka.

Pelabelan pintu juga berpengaruh pada pembagian ruangan. Seperti pintu satu berisi peralatan elektronik seperti komputer dan perangkatnya, bahkan mereka juga memunyai saluran cctv seluruh kota.

Pintu tiga merupakan tempat tinggal mereka—kecuali Syeina dan Raina yang masih tinggal dengan keluarganya, yang didesain layaknya rumah pada umumnya. Lengkap dengan pendingin ruangan dan shower air hangat. Sementara pintu dua dan pintu empat merupakan jalan pintas, yang menghubungkan ruangan-ruangan tersebut.

“Hai, guys!” sapa Syeina pada kawan-kawannya yang lain, yang memasang wajah cemberut dan datar tak berarti apa-apa—ini ekspresi Yoongi.

“Ada apa dengan ekspresi kalian?”

“Sia-sia!”

Syeina menatap sang sahabat perempuannya, “Apanya yang sia-sia?”

“Sialan, kita ditipu oleh penculik itu. Semua data-datanya pada dompet itu palsu! Bahkan plat nomornya tidak terdaftar secara resmi dan data diri kepolisian itu juga palsu!”

Raina hanya mengamuk-amuk seraya berjalan menjauh dari ruangan penuh komputer itu.

Syeina menatap sahabatnya yang lain, meminta penjelasan pada yang tersisa.

“Penculik itu hanya pengangguran. Dia menculikmu karena…entahlah, yang jelas dia memiliki lencana palsu serta data diri kepolisian palsu itu untuk menipu warga sipil, mungkin.

Yang jelas, penculik itu orang iseng, teramat iseng!” Seokjin menjelaskan secara singkat namun detail, membuat Syeina hanya mengangguk-angguk.

“Jadi, aku berlari memutari tempat ini juga sia-sia? Sialan.”

“Omong-omong, penculik itu harusnya bersyukur tidak jadi menculikmu yang bahkan lebih licik dari seekor tikus got, Syein.”

“Sialan kau, Min Yoongi!”

-FIN-

a/n: terinspirasi dari: mimpiku sendiri.

Untuk pertama kalinya, aku bikin fanfik bergenre action seperti ini…dan ya mungkin aku harus lebih banyak belajar lagi hiks.

Untuk yang (mungkin) bertanya apa hubungannya dengan warna pelangi, tolong resapi arti warna jingga yang sudah ku kutip dari sebuah website itu yaa mwehwhw xD

Advertisements

10 thoughts on “[What is Your Color?] RUN! – Oneshot

  1. lah, kumau bilang absurd, tapi kok keren…
    mau bilang keren, tapi kok absurd..wkwkwk
    yaudah ini abusrd but totaly kwereeeeen/disepak
    as always kelincikecil otaknya selalu random ❤ haha sequel thoorrr

    Like

    1. LittleRabbit

      “as always kelincikecil otaknya selalu random❤ “- …mau ngakak itu ngatain diri sendiri, engga ngakak itu kok pingin ngakak xD
      selalu random-nya yg gakuku kaipy ❤

      Liked by 1 person

  2. Aihara

    Friendshipnya berasa banget, indah gitu ya~
    Petualangannya… keren deh markas mereka, pengen punya satu u,u wkwk
    Pas mereka lari, pas banget sambil denger lagu Run kaya yang Jin saranin waktu itu XD

    Like

  3. byungie

    HAHAHA.. sempet2nya si Yoongi maen solitaire -_- ini absurd gila wkwk
    Taehyung jungkook jimin hoseok syeina lagi lari tapi sempet ngobrol dan becanda 😆😂
    Keren thor, emang mimpinya gimane?

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s