[What is Your Color?] Love Is Not Over – Songfic

 

pospub1-lovenotover

Love Is Not Over — Akan tetap hidup

By. Khiftiya

-Blue-

BTS’s Park Jimin and OC | A Songfict (1500-an kata)| hurt/comfort, sad | General

= Just own the plot and oc =

Its about blue…

“…Dan malam ini aku, lagi-lagi, harus puas dengan hanya bayangmu yang menemani…”

.

.

.

Malam yang senyap…

 

Geu gin bami neol ttara heulleoman ganeun geot gata

 

Malam ini, seperti malam-malam sunyi sebelumnya. Aku masih mencoba menunggu seseorang yang –sudah dipastikan tidak akan datang. Aku masih menunggu kedatanganmu di malam sunyi yang dingin ini.

Seperti orang dungu menunggumu di balik jendela yang berembun. Setidaknya aku tidak sendiri, ada hujan yang menemani. Aku tau, tak sepantasnya aku menanti hal yang tak pasti. Tapi apa salahnya berdiam diri dengan harapan dirimu yang datang dengan senyuman terpatri.

Malam ini, entah mengapa terasa begitu panjang. Malam kemarin pun terasa sama sebenarnya. Malamku jadi terasa begitu panjang sejak kau menghilang.

Ini sudah bulan ketiga. Tapi tetap saja aku tak bisa. Tak bisa menghilangkan bayangmu yang indah. Tak semudah itu, praktiknya tak semudah itu. Orang-orang boleh berbicara apa saja, menasihatiku semudah mereka berkata. Tapi praktiknya tak semudah kata yang terkoar. Terbukti sudah bulan ketiga dan aku masih tak bisa.

Dirimu…terlalu berarti..

..untukku

 

I sigani neol ttara heuryeojineun geot gata

 

Malam itu aku ingat. Dengan senyuman menghiasi kau berkata dengan nada lirih “Aku…akan selalu di sampingmu. Apapun yang terjadi..”

Aku membalas senyuman itu, meski aliran air membasahi pipi. Kau, dengan tangan halusmu menghapusnya perlahan. Memastikan tak ada yang tertinggal.

Memoriku menerawang jauh saat itu. Menggali sebongkah ingatan dulu..

Kau yang selalu memaksa. Terkadang aku kesal karenanya. Menganggap kau tak pengertian tak memberiku kesempatan untuk rehat. Kau seolah diburu waktu dalam melakukan sesuatu. Waktumu seakan terbatas, sangat terbatas, hingga membuatmu harus cepat, sebelum habis masanya.

*

Saat itu

Minggu pagi yang berisik…

Yak ! Park Jimin! Cepat bangun! Kau bilang kita akan pergi pukul sembilan. Sekarang sudah lewat 5 menit. Yak ireona !”

Hah… Suara cempreng itu lagi. Tak bisakah ia membiarkanku istirahat sebentar saja. Tak mengertikah ia kalau badanku masih pegal semua.

“Biarkan aku tidur 5 menit lagi. Aku habis begadang mengerjakan skripsi.” Dengan suara parau khas orang enggan bangun, aku menjawab.

“Kau sudah mengucapkannya sejak setengah jam yang lalu. Dan sekarang kau mau nambah lagi?”

Suara itu…huft, benar-benar menyebalkan. Hey, lagian ini hari minggu. Aku masih ada waktu. Aku ingin istirahat sebentar saja.

“Aku janji, ini lima menit yang terakhir. Tolonglah~” aku dengan kukuhnya memohon pada dia yang sedang kesal. Sulit untuk membujuknya tapi aku tidak akan menyerah begitu saja.

“Kau juga sudah berjanji dari dua minggu yang lalu bahwa minggu ini tepat jam sembilan kita akan pergi. Aku sudah menanti minggu ini. Ireona..

Dia mengingatkanku pada janji yang dengan tanpa berpikir aku ucapkan. Saat itu, dia merengek memintaku menemaninya ke suatu tempat, aku yang kebetulannya sedang sibuk, mengucapkan apapun sebagai alasan untuk menolaknya dan tanpa permisi terucaplah janji itu. Janji yang dia tagih.

“Iya aku tau. Maafkan aku. Tapi tak bisakah kita melewati waktu yang aku ucapkan waktu itu? Aku akan tetap menepatinya tapi ulur waktu oke?” Mataku masih tertutup. Aku tidak tau ekspresi apa yang ia tampilkan sekarang. Yang jelas saat kalimat itu keluar untuk yang kesekiankalinya aku langsung beranjak.

“Iya iya… aku bangun sekarang.”

Dengan mulut yang penuh dumelan. Aku meraih handukku dan berjalan kearah kamar mandi. Meninggalkan dia yang sekarang sedang tersenyum senang. Ya pasti senang, keinginannya tercapai.

Kalimat itu..beban bagiku. Aku benci mendengarnya. Aku tak mau itu terealisasikan. Kalimat yang mudah terucap itu, aku benar-benar membencinya. Sungguh.

“Kamu kan tidak tau nanti aku masih punya waktu enggak. Aku gak mau kamu menyesal nantinya saat waktuku sudah tidak ada, saat waktuku untukmu sudah habis terpakai..”

Aku membencinya…

*

Ya.. Aku membencinya, apalagi itu menjadi nyata.

 

Wae, meoreojyeo ga wae? dahji anheul mankeum gaseo

 

Setetes air mata terjatuh disusul tetesan lainnya. Membentuk jejak di pipi. Kenangan itu menyedihkan tapi tak ingin dihilangkan. Sungguh, jika aku mengerti maksudmu aku akan menuruti semua maumu, walaupun pegal mengarungi tubuh.

Penyesalan hanya tinggal penyesalan. Penyesalan yang tiada guna. Memang sejak kapan penyesalan itu berguna? Huh, aku mendengus lucu. Setiap orang itu pasti pernah merasakan penyesalan namun tak pernah bisa memperbaiki apa yang disesalkan di masa lampau.

Aku hanya terus berusaha, agar tak terlalu lama terpendam dalam galian penyesalan yang kubuat…

 

Tell me why, meoreojyeo ga why?

ni nunen deo isang naega boiji anhni? uh!

 

Saat itu aku benar-benar bodoh. Aku membentakmu hingga membuatmu menjauh.

Awalnya aku merasa tenang. Tak ada yang mengusikku. Tak ada yang mengganggu waktu istirahatku.

Namun…

Aku jadi rindu. Dengan kebiasaanmu. Dengan tingkahmu. Dengan suaramu. Aku rindu.

Hingga akhirnya aku ke rumahmu dan mendapat sebuah kepahitan.

Kau pergi, meninggalkanku, tanpa pamit, tanpa sebuah kejelasan. Aku merutuki diriku, alasan apa yang membuatku membentakmu. Hingga membuatmu marah dan kecewa.

Tapi,

Apa sekecewa itukah dirimu? Kenapa kau pergi? Apa aku tak berarti lagi? Apa aku tak terlihat lagi? Kau melihat diriku apa?

*

Malam musim dingin di bulan Desember..

Aku dengan tekad kuat pergi ke rumahmu, memohon maaf darimu, berharap kau memaafkanku.

Angin berhembus kencang. Menerpaku yang hanya menggunakan kaos hitam panjang. Pikiranku hanya tertuju padamu hingga tak memperdulikan tubuhku yang menggigil membeku.

Sampai tepat di depan rumahmu. Tungkaiku kupaksakan melangkah mendekati pagar sederhana itu.

Berdiri di sana dan kupaksakan sekeras mungkin aku berteriak memanggil namamu.

Aku sempat bernapas lega saat seorang wanita paruh baya–yang kutahu itu pembantu rumahmu datang menghampiri.

Namun sedetik setelah ia berkata, aku menelan pil kekecewaan.

Kau pergi. Satu jam yang lalu kau pergi ke bandara. Lima belas menit yang lalu, pesawatmu lepas landas.

Kepalaku tertunduk lemas. Menyadari aku terlambat, terlambat setidaknya untuk berbicara kepadamu sebelum kau pergi.

Aku kesal. Kepada diriku sendiri. Aku merutuk. Kepada diriku sendiri. Bodoh! Kata itu kuucapkan untuk diriku sendiri.

Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menjalani kehidupanku dan berharap ketika kau datang, kau masih mau bertemu denganku dan kalau boleh muluk-muluk kau juga mau memaafkan.

Aku harap…hubungan kita tetap sama.

*

Dan hubungan itu syukurnya tetap sama.

Juga kepergian itu, bukan sebab kau marah.

Aku tahu, setelah malam itu.

 

Sarangiran apeugo apeun geot yeah

ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae

 

Dari awal aku memulainya. Aku sudah siap dengan konsekuensinya. Aku siap dengan resikonya. Aku siap menanggung sakitnya.

Tapi aku tak pernah tau. Perpisahan itu semenyakitkan ini. Perpisahan itu bukan kemauanku pun kamu.

Merutuki takdir? Tidak. Selamanya aku tidak akan merutuki takdir. Karena, takdirlah yang mempertemukanku denganmu.

Aku sudah siap sebenarnya dengan perpisahan.

Kecuali untuk perpisahan ini. Sudah kutegaskan, aku tak ingin perpisahan antara kita ini terjadi.

Perpisahan yang terjadi antara kita ini, bukan perpisahan yang aku harapkan.

Perpisahan ini lebih menyakitkan daripada berdiri di tengah salju hingga membeku.

Perpisahan ini lebih menyakitkan dibandingkan ketika aku menunggu tanpa kepastian saat itu.

Perpisahan ini sungguh lebih menyakitkan daripada rasa rinduku saat itu.

Perpisahan ini menimbulkan luka transparan. Di sini, hatiku.

 

Niga eopseumyeon nan andoel geot gata

Saranghaejwo saranghaejwo

Dasi nae pumeuro wajwo

 

Tiga bulan..

Aku terpaku pada bayangmu yang semu. Masih–selalu berharap kehadiranmu. Aku juga tau itu hal yang semu.

Tiga bulan ini aku selalu berpikir ini mimpi. Kemudian tidur dan esoknya akan terbangun oleh teriakanmu seperti biasa.

Namun ini sudah tiga bulan. Aku tak bisa menyangkal kalau ini nyata. Ya nyata–nya kau pergi meninggalkanku di saatku masih diam dalam lingkupmu.

Aku ingin cintamu. Ani.

Aku ingin peluk hangatmu. Kau tau, walau sekarang bukan lagi musim dinginpun aku masih menginginkan pelukanmu untuk menghangatkanku.

Yang aku inginkan adalah pelukanmu, yang berarti menginginkan juga hadirmu.

Hadir yang benar-benar hadir. Karena kutau, cintamu selalu untukku.

Setidaknya aku tersenyum akan hal itu.

 

Love is not over, over, over

Love is not over, over, over

Love is not over, over, over

Love is not over, over, over

 

Perpisahan itu memisahkan raga kita. Perpisahan itu memisahkan jarak kita. Perpisahan itu juga memisahkan tempat kita.

Kita sudah tak lagi satu tempat.

Tempat kita benar-benar berbeda.

Kita memang sudah berpisah. Kisah kita sudah berakhir.

Tapi, cinta tak pernah berakhir.

Cinta ini masih hidup, sayang. Jauh di lubuk hatiku, cinta ini masih hidup.

Walau kutau pasti. Akan ada cinta yang datang nanti.

Aku akan tetap menghidupkan cinta ini. Biar dia nanti tau bahwa sebelumnya aku memilikimu. Cinta biruku..

 

Sarangiran apeugo apeun geot

ibyeoriran apeugo deo apeun geot gatae

 

Ingatanku kembali jauh melayang.

Saat itu pertengahan Januari, di malam yang dingin ayahmu menelponku. Dia bilang bahwa kau ingin mengucapkan salam perpisahan.

Aku yang saat itu terkejut langsung menuju alamat yang dimaksud, tanpa tau tempat apa itu.

Setelahnya aku mengernyit. Itu alamat sebuah rumah sakit. Jantungku berdebar. Ada yang kau sembunyikan.

Hubungan kita memang membaik namun ternyata penyakitmu malah memburuk. Hal yang tersembunyi itu penyakitmu.

Aku baru sadar. Kau pergi bukan ingin meninggalkanku. Tapi karena pengobatan yang memaksamu.

Kau kembali. Dengan wajah cerah seperti biasa. Hubungan kita baik-baik saja. Katanya kau sudah dianggap sembuh. Nyatanya penyakit itu lebih dulu berbiak di tubuhmu.

Kata orang tuamu, kau tak ingin aku tau, kau tak ingin aku bersedih. Karena jika aku bersedih itu sebuah rasa sakit untukmu. Makanya aku tersenyum ketika melihatmu di ruangan–terkutuk itu. Meyakinkan bahwa aku baik-baik saja walaupun jelas aku kecewa olehnya.

Mereka bilang, aku adalah cinta dan kekasih pertamamu. Mereka bilang kau sering tersenyum saat itu. Mereka juga bilang kalau kau terlihat lebih bersemangat setelah itu.

Sayangnya..

Itu hanya yang terlihat oleh mata. Tanpa tau ternyata tubuhmu sedang berjuang melawan kesakitan.

.

Kau bukan cinta pertamaku ngomong-ngomong. Kau bukan kekasih pertamaku. Kau juga bukan cinta terakhirku, kutau setelah ini kehidupan tetap berputar.

Namun kau cinta biruku yang indah. Cinta air mata yang begitu haru. Moment di mana aku jadi satu-satunya pemilik cintamu–sebagai seorang namja–itu luar biasa.

Kau jangan khawatir, sayang. Selama aku hidup, selama memorimu ada bersamaku, cintamu akan tetap hidup. Bayangmu akan tetap hidup.

Memori momen itu terekam jelas. Dan keinginanku tidak menghapusnya, namun maafkan aku jika suatu saat nanti penyakit umur datang padaku.

Yah…harus kuakui.

Perpisahan oleh takdir itu membuat kisah kita berakhir. Namun cinta kita, bak siklus hujan malam ini, tak akan berakhir.

Terima kasih telah memberi kenangan itu cinta biruku. Biarkan aku terpuruk dulu, menyelami masa-masa itu. Sebelum akhirnya membuat masa yang baru.

Selalu tersenyumlah di sana–

–Seo Jieun.

Aku juga akan berusaha tersenyum di sini, walau air mata mengikuti.

Dan malam ini aku, lagi-lagi, harus puas dengan hanya bayangmu yang menemani di mimpi.

Hah.

 

= FIN =

 

Akhir yang aneh-___-

Jadi, warna yang aku pilih ialah biru(blue) ada banyak makna sebenarnya, hanya saja makna yang aku pakai adalah kesedihan.

I’m really sorry jika itu gak sedih-sedih acan/?/ jujur, aku juga gak tau ini sedih atau malah nylangseng/?\ :3

Maaf jika terdapat typo(s) di sana. Juga maaf atas kata-katanya yang berantakan. I’m still learning, but seriously that’s ma style.-.

 

Advertisements

2 thoughts on “[What is Your Color?] Love Is Not Over – Songfic

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s