[What is Your Color?] Magic Hour – Oneshot

magic hour

M A G I C     H O U R

by whitearmor

Cast:
Kim Namjoon, Jeon Jungkook, and Kim Jinni (OC)

Genre:
Family, Romance, Hurt/Comfort

Rating:
PG-15

Length:
Oneshot

Disclaimer:
Fanfiction ini terinspirasi dari film berjudul serupa dengan berbagai perubahan disana-sini sesuai dengan jalan pikiran dan suasana hati dari author
(c) whitearmor-storyline

Summary:
Kim Namjoon akan melakukan apapun agar adik kecilnya bahagia,
Jeon Jungkook ingin jingganya kembali, dan
Kim Jinni hanya meminta kebahagiaan.


            Kim Namjoon baru saja bangun dari tidurnya ketika ia mencium aroma harum yang mulai menggelitik perutnya. Ia dengan cepat duduk manis di salah satu kursi tinggi di ruang makan yang langsung menyatu dengan dapur apartemen miliknya.

“Good morning, sweetheart,” balas Namjoon singkat.

Adiknya hanya tersenyum singkat sambil menaruh dua buah pancake diatas piring milik kakak lelakinya itu. Setelah mengucapkan terima kasih, tak perlu waktu lama bagi Namjoon untuk menyantap sarapannya. Setelah itu, Namjoon bergegas membersihkan segala peralatan untuk makan dan memasak yang telah digunakan.

“Besok hari pertamamu sekolah lagi, kan?” tanya Namjoon sembari mengeringkan kedua tangannya setelah mencuci piring terakhir miliknya.

Jinni hanya mengangguk lalu kembali menatap segelas susu yang masih belum tersentuh olehnya. “Apa aku tidak boleh home schooling saja?” tawar Jinni tanpa menatap wajah kakaknya.

Namjoon tahu adik kecilnya sudah lelah karena harus berkali-kali pindah sekolah karena tuntutan pekerjaan orangtuanya. Semua itu berawal ketika Jinni berada di bangku sekolah dasar dan terus berlanjut hingga kini ia sudah duduk di bangku sekolah menengah atas. Beruntung penderitaannya kini sudah berakhir karena ia bisa memilih untuk tinggal di Korea bersama Namjoon yang juga sedang melanjutkan studinya di Seoul National University.

“Sekarang kita sudah menetap jadi home schooling jelas bukanlah lagi sebuah pilihan. Lagipula, Oppa bisa mengantarmu setiap hari ke sekolah,” jawab Namjoon. “Ayo habiskan sarapanmu dan pergi mandi. Oppa akan membawamu ke toko buku untuk membeli peralatan sekolah,” lanjutnya lalu mengacak rambut Jinni.

Jinni hampir tidak bisa menyamai langkah kakak lelakinya ketika mereka sudah tiba di toko buku yang berada di pusat kota. Dibandingkan dirinya yang akan kembali ke sekolah, Namjoon justru yang terlihat jauh lebih bersemangat. Hal itu terbukti karena kakaknya kini tengah memilihkannya tas baru untuk ia gunakan esok hari.

“Bagaimana jika warna biru? Kamu kan suka laut,” ucap Namjoon yang hanya ditanggapi Jinni dengan gumaman tidak jelas.

“Oh! Bagaimana jika yang merah saja? Ini terlihat lebih keren jika kamu memakainya,” sahut Namjoon lagi. Ia berbalik guna menunjukkannya pada Jinni namun adik kecilnya tak berada di tempatnya.

“Aku mau yang ini saja,” pinta Jinni entah darimana sambil membawa sebuah tas berwarna jingga dengan model sederhana. Namjoon hanya tersenyum dan mengambil tas tersebut dari tangan Jinni.

“Apa kau yakin semua ini sudah cukup untuk besok?” tanya Namjoon seraya mengamati isi keranjang belanja mereka yang sudah disesaki berbagai macam peralatan dan perlengkapan sekolah.

“Aku ingin melihat-lihat novel. Oppa duluan saja, aku akan menyusul ke kasir,” sahut Jinni setelah menimang-nimang. Iapun langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju deretan rak buku di sudut ruangan. Kedua manik matanya seolah terus mencari novel yang selama ini ia cari hingga akhirnya ia menemukan apa yang ia cari.

Tangannya lantas mengambil novel yang ia inginkan itu bersamaan dengan tangan lainnya yang rupanya juga mengicar novel yang sama. Kedua pasang mata itupun bertemu dan terkunci beberapa saat sampai laki-laki dihadapannya memutuskan kontak itu terlebih dahulu.

“Ambil saja. Aku akan mencari di toko buku yang lain,” ucap laki-laki itu yang diselaraskan dengan tangannya yang langsung menjauh dari novel tersebut.

“Ah tidak. Sebaiknya kau saja yang membelinya—”

“Kim Jinni!” panggil Namjoon dari kejauhan, memotong ucapannya dengan laki-laki dihadapannya. Kakak lelakinya itu mengetuk-ngetuk jam di pergelangan tangannya guna menandakan jika Jinni harus bergegas.

Tanpa berkata-kata, Jinni kemudian segera berlari menghampiri Namjoon dan pergi meninggalkan toko itu. Anak laki-laki tadi hanya menatap punggung Jinni yang perlahan menjauh sambil memandangi novel yang mempertemukan mereka berdua.

Acara berbelanja peralatan sekolah untuk Jinni berakhir dengan hasil dua buah kantung plastik ukuran besar ditambah tas jingga milik Jinni yang langsung ia kenakan saat itu juga tentu saja atas paksaan sang kakak. Sebenarnya isi di dalam kantung itu tidak terlalu dibutuhkan oleh Jinni, mengingat peralatan sekolahnya masih tersedia dalam keadaan yang baik.

Jinni tahu alasan sebenarnya Namjoon mengajaknya adalah agar ia bisa setidaknya merasakan euforia kembali ke sekolah seperti apa yang dirasakan oleh kakaknya. Namun semenjak kembali ke tanah kelahirannya, ia tidak bisa merasakan kesenangan itu. Mungkin karena kepulangannya kali ini tanpa disertai orangtuanya.

“Apa novel yang kamu beli?” tanya Namjoon sambil tetap fokus menyetir.

Jinni menggeleng lalu memasukkan beberapa potong kentang goreng ke dalam mulutnya. “Aku tidak jadi membelinya karena sudah habis. Apa akhir minggu ini Oppa bisa menemaniku untuk mencarinya?” tanya Jinni. Namjoon menggelengkan kepalanya yang hanya dibalas dengan anggukan paham Jinni. Gadis itu lalu kembali menyantap sisa kentang gorengnya hingga tanpa sadar ia jatuh terlelap.

Sinar matahari menelusup dari balik tirai jendela kamar Jinni yang tersibak sebagian. Pagi ini ia bangun lima belas menit lebih cepat dari biasanya. Iapun segera keluar dari kamarnya, bermaksud untuk menyiapkan sarapan untuknya dan sang kakak. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati sosok Namjoon lengkap dengan celemek tengah berusaha membalik telur diatas wajan.

“Good morning,” sapa Namjoon singkat lalu kembali berkutat dengan telur miliknya. “Aku membuatkanmu telur mata sapi, roti panggang, dan beberapa sosis. Tadinya aku ingin membuat scramble eggs tetapi aku rasa ini jauh lebih mudah,” tambahnya sesaat setelah berhasil menghidangkan telur mata sapi yang tidak terlihat sesuai dengan namanya.

Andai saja Jinni bangun tiga puluh menit lebih cepat, ia bisa menyelamatkan keadaan dapur apartemen milik kakaknya. Kim Namjoon memang memiliki IQ 148 dan piawai dalam berbahasa asing namun jangan pernah membiarkannya berada di dapur terlebih sendirian apalagi disaat pagi buta. Niscahya, keadaan dapur yang semula rapi dan bersih seketika berubah menjadi kapal pecah yang nyaris karam.

Jinni kini hanya memandangi sekeliling dapur yang baru saja diporak-porandakan oleh kakaknya dengan tatapan lelah. Ia jelas sangat menghargai usaha kakaknya untuk membuatkan sarapan untuknya tetapi sungguh lebih baik ia sarapan dengan segelas susu dan biskuit gandum daripada melihat semua kekacauan ini.

“Aku mau mandi dulu baru sarapan,” celetuk Jinni kemudian segera berlalu pergi.

Namjoon hanya mengangguk sekilas lalu meneliti dapurnya yang sudah ia hancurkan dalam satu kedipan mata. Kini ia memerlukan waktu lebih dari dua jam untuk mengembalikannya seperti semula tanpa bantuan Jinni dan rencana itu harus ia tunda karena sekarang ia harus segera bersiap untuk mengantarkannya pergi ke sekolah.

Oppa tidak perlu mengantarku sampai ke ruang guru untuk menyerahkan berkas-berkas. Aku bisa melakukannya sendiri,” gerutu Jinni di sepanjang koridor sekolah barunya.

“Ini adalah hari kembalinya Kim Jinni ke sekolah di Korea dan aku tidak ingin melewatkannya meski satu detikpun,” balas Namjoon yang hanya ditimpali oleh Jinni dengan gerutuan-gerutuan kecil lainnya.

Setelah menyerahkan beberapa berkas kepada seorang staff administrasi sekolah, Jinni segera mengantarkan Namjoon kembali ke area parkir. “Jaga dirimu baik-baik dan tetap jaga jarak aman dengan anak laki-laki. Baiklah, aku berangkat sekarang. Good bye!

Mobil milik kakak lelakinya itupun melaju cepat meninggalkan Jinni yang masih terpaku di tempatnya. Tak menunggu waktu lama, bel tanda masuk akhrinya berbunyi. Jinni segera mempercepat langkah kakinya menuju ruang kelasnya.

Sudah menjadi kebiasaan bagi setiap murid baru untuk memperkenalkan diri mereka di depan kelas sebelum pelajaran hari itu dimulai tak terkecuali bagi Jinni. Dengan langkah tegap, ia maju ke depan kelas dan memperkenalkan dirinya. Tidak ada rasa gugup ataupun canggung sebab ia merasa hal ini sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dua puluh pasang mata menyambut dirinya dengan tatapan yang bermacam-macam. Namun ia tidak peduli.

Kini pandangannya teralih pada sebuah bangku kosong di sudut belakang ruang kelas tepat disisi sebuah jendela besar yang langsung mengarah pada lapangan utama sekolah mereka. Jinni lantas segera berjalan ke kursi tersebut dan sesaat setelah ia duduk, kegiatan belajar mengajar segera dimulai.

Ketika waktu istirahat tiba, Jinni memilih untuk berkeliling sekolah barunya seorang diri sebab hingga saat ini ia masih belum menemukan seseorang yang berbaik hati untuk menjadi pemandunya untuk mengetahui segala seluk-beluk sekolah ini. Kedua kakinya terus berjalan hingga Jinni akhirnya tiba di lantai paling atas sekolahnya. Ia melihat sekeliling hingga kedua matanya menemukan seseorang tengah duduk sendirian sambil mencorat-coret sesuatu.

Tidak bermaksud untuk mengganggunya, Jinni yang berkeinginan untuk segera pergi malah tidak sengaja menarik perhatian orang itu.

“Hei!” panggilnya kemudian menghampiri Jinni yang mematung di tempat.

Jinni mau tak mau berbalik menghadap orang itu, “Maaf karena sudah mengganggumu tetapi tidak perlu khawatir karena aku akan segera pergi,” jelas Jinni gugup.

Laki-laki dihadapannya ini hanya tersenyum lalu menepuk-nepuk bahunya pelan. “Kau pasti murid baru ya?” tebaknya. Jinni membalasnya dengan satu anggukan kepala.

“Namaku Jeon Jungkook dan aku rasa ini milikmu.”

Laki-laki bernama Jungkook itu lantas menyodorkan sebuah novel yang tempo hari ia ingin beli dan satu detik kemudian sebuah senyum tidak percaya terkembang di wajah Jinni. “Jadi, kau yang waktu di toko buku?” tanya Jinni.

Jungkook mengangguk antusias. “Aku rasa ini yang namanya takdir,” sahutnya.

“Terima kasih tetapi kau bisa tetap memiliki novel ini,” tolak Jinni halus sambil mendorong novel yang tergenggam di tangan Jungkook.

“Oh ayolah, terima saja. Aku sudah membaca ini dan menurutku tidak salah jika waktu itu kau juga tertarik untuk membelinya.”

“Akhir pekan ini aku akan mencarinya, jadi kau tidak usah memberikannya.”

“Baiklah! Sampai bertemu akhir minggu ini!”

Jungkook tersenyum lebar lalu melangkah pergi meninggalkan Jinni yang masih tidak mengerti maksud ucapan laki-laki yang baru saja ia temui.

Sudah setengah jam berlalu namun Jinni masih belum menemukan tanda-tanda kehadiran kakak lelakinya yang katanya berjanji akan menjemputnya tepat waktu. Ia kembali menekan nomor kakaknya lalu menghubunginya namun ia hanya mendengar nada monoton yang sama.

“Perlu tumpangan?” tawar seseorang.

Jinni berbalik dan menemukan sosok Jungkook lengkap dengan cengiran khas di wajahnya tengah duduk diatas sadel sepedanya. “Aku bisa mengantarmu pulang,” tawarnya. Jinni mengangguk lalu segera duduk di sadel belakang sepeda Jungkook. Namun baru beberapa kayuhan, Jinni dengan cepat menepuk-nepuk bahu Jungkook dan memintanya untuk berhenti karena menemukan mobil milik kakaknya tengah melaju kearahnya.

“Sorry, I’m late,” sahut Namjoon sambil keluar dari mobilnya. “Is he your new friend, Jin?” tanya Namjoon menyelidik. Aura protektif khas kakak lelaki seketika menguar dari tubuhnya.

Jinnipun saling memperkenalkan mereka berdua. Kedua laki-laki dihadapannya kini saling bertukar sapa dan bersalaman. Iapun segera masuk ke dalam mobil disusul dengan Namjoon sedangkan Jungkook masih terdiam di tempatnya seakan membiarkan mobil yang Jinni tumpangi melaju terlebih dahulu. Nampak dari kejauhan, Jinni melihat lambaian tangan Jungkook dari pantulan spion mobilnya. Ia tersenyum simpul.

Keesokan harinya di sekolah, Jinni kembali dikejutkan dengan aksi spontan Jungkook yang tiba-tiba saja mengajaknya untuk jogging di lapangan utama sekolah mereka dengan seragam sekolah. Alih-alih menolak ajakan tidak rasional itu, Jinni justru menyetujuinya.

“Apa alasanmu sebenarnya seolah mendekatiku seperti ini?” tanya Jinni tanpa basa-basi. Ia tahu sikap Jungkook jauh berbeda dengan sikap anak-anak lain jika memperlakukan murid baru seperti dirinya dan ia juga tidak keberatan dengan hal itu sebab segala sesuatunya tentu memerlukan proses untuk beradaptasi. Namun, berbeda dengan Jungkook yang tiba-tiba saja menjadi sangat dekat dengannya meskipun secara tidak langsung ia mengaku bahwa itu membuatnya nyaman.

“Alamatmu?” sahut Jungkook disela napasnya yang terengah-engah karena berusaha mengimbangi langkah Jinni yang lebar.

Jinni refleks menghentikan langkahnya dan balik menghadap Jungkook, “Kenapa dengan alamatku? Jangan mengalihkan topik!” balasnya.

“Akhir pekan ini kita sudah memiliki janji untuk pergi bersama,” jelas Jungkook antusias sedangkan Jinni hanya memandangnya tidak mengerti.

Jungkook tertawa kecil lalu memukul kepala Jinni pelan, “Kau ingin mencari novel, ingat?” jelas Jungkook berusaha menggali memori Jinni. Gadis yang berada disisinya hanya bergumam tidak jelas lalu pergi meninggalkannya.

Kegiatan sekolah hari ini berakhir dengan cepat karena seluruh guru akan melaksanakan rapat kelulusan untuk kakak kelas mereka. Jinni sudah berusaha menghubungi Namjoon untuk mengabari kakaknya yang menjadi super protektif sejak ia berkenalan dengan Jungkook bahwa ia pulang cepat namun tidak ada jawaban darinya.

“Tidak dijawab ya?” celetuk Jungkook entah muncul darimana. Jinni hanya mengangguk lalu memasukkan ponselnya ke saku jaket.

“Apa kau mau ikut denganku?” tawar Jinni sambil melangkahkan kakinya keluar dari area sekolah. Ia membalikkan badannya guna mempertegas ajakannya pada Jungkook yang masih diam di tempatnya, “Anggap saja ini sebuah hadiah balas budi karena besok kau secara spontan mau menemaniku mencari novel.”

“Tunggu! Aku akan mengambil sepedaku!” pekik Jungkook.

Jungkook terus mengayuh sepedanya dengan arahan dari Jinni yang sedang duduk manis di sadel belakang. Sesekali perjalanan mereka diselingi dengan tawa dari keduanya. “Pegangan yang erat karena aku akan mengayuh lebih cepat,” imbuh Jungkook dan secara refleks Jinni melingkarkan kedua tangannya pada pinggang laki-laki didepannya dengan erat. Jungkook hanya tersenyum kecil.

“Kita sudah sampai,” sahut Jinni lantas bergegas turun dari sepeda disusul Jungkook setelah ia memarkikan sepedanya dengan baik.

“Kau membawaku sejauh ini hanya untuk pergi ke dermaga?”

Jinni menatap Jungkook dingin kemudian beralih pada hamparan lautan biru yang kini mulai memantulkan cahaya berwarna jingga dari langit yang mulai berganti senja. “Aku akan membuatmu terpanah dalam waktu sepuluh detik dan merasakan apa itu magic hour.”

“Ikuti aku,” perintah Jinni.

Gadis itu kini berdiri di tepian dermaga dengan kedua tangan ia rentangkan jauh-jauh sambil menutup kedua matanya. Semilir angin laut yang menerpa wajahnya justru membuatnya semakin tenggelam dalam ketenangan. Rongga paru-parunya kini ia isi dengan udara dari laut yang menyejukkan.

Magis.

Jungkook seolah hanyut dalam setiap detik gerakan yang dilakukan oleh gadis yang ia temui pertama kali di toko buku. Gadis yang berbeda dari seluruh gadis yang pernah ia temui semasa hidupnya. Gadis yang membuat Jungkook ingin terus bersamanya. Gadis yang membuatnya jatuh cinta. Untuk alasan terakhir, ia sendiri masih ragu untuk mengakuinya.

Jinni membuka matanya perlahan bersamaan dengan pergantian warna langit menuju senja. Ia menoleh memandang Jungkook yang juga tengah menatapnya. Kedua pasang mata itu kini kembali terkunci untuk sesaat sebelum akhirnya Jungkook melempar pandangan ke laut lepas.

“Sekarang tatap langit senja itu dan hitung sampai sepuluh. Tatap dengan pikiran yang bebas dan lepas. Fokuskan dirimu hanya untuk langit senja,” instruksi Jinni.

Jungkook memfokuskan kedua matanya pada matahari yang nyaris kembali ke peraduannya. Dalam hati ia menghitung mundur dari sepuluh. Setiap detiknya, ia merasakan sesuatu yang aneh berada di dalam perutnya. Sesuatu yang menggelitik namun semakin lama malah justru menenangkan. Hingga pada hitungan terakhir, ketika matahari benar-benar tenggelam, Jungkook merasakan dirinya begitu berbeda.

“Selamat, Jeon Jungkook. Kau baru saja merasakan magic hour mu yang pertama. Bagaimana rasanya?” tanya Jinni penasaran.

Jungkook menghela dan menarik napasnya perlahan. Ia menatap manik mata yang sarat akan rasa penasaran milik Jinni. “Aku seperti merasa segala beban dalam pikiranku hilang. Aku hanya merasakan—”

“Bahagia,” potong Jinni cepat. Jungkook mengangguk membenarkan.

“Menurutmu sendiri, magic hour  itu apa?” tanya Jungkook.

Magic hour menurutku adalah waktu dimana pergantian dari petang ke malam, disaat langit berwarna jingga dan yang aku rasakan saat aku menatap langit adalah kebebasan serta rasa syukur yang besar.”

Jungkook tersenyum samar, perlahan tangannya meraih jari-jemari gadis disampingnya kemudian di genggam erat.

Suasana hangat di akhir pekan membuat Jinni seolah ikut menjadi lebih bersemangat. Ia sudah berkutat di dapur apartemen milik kakaknya yang bersih sejak beberapa menit yang lalu. Ia juga sengaja tidak membangunkan sang kakak karena ia tahu kakaknya pulang larut kemarin malam. Hari ini ia seakan merasa dua ratus persen sangat bahagia dari biasanya. Mungkinkah ini ada alasannya dengan laki-laki bernama Jeon Jungkook? Jinni juga masih enggan mengakuinya.

Morning, Jin!” sapa Namjoon sambil berjalan ke balkon apartemennya. Jika Namjoon sudah berada di balkon untuk sarapan, Jinni tahu jika kakaknya itu ingin membicarakan sesuatu yang serius dengannya. Maka Jinni segera menaruh sarapan milik kakaknya diatas nampan dan bergegas ke balkon.

“Ada yang mau Oppa katakan?”

Suara pelan milik Jinni membuka pembicaraan serius mereka pagi ini. Kali ini tidak ada gelak tawa yang biasanya mengiasi awal hari mereka. Namjoon masih berdiri di tempatnya sedangkan Jinni dengan hati-hati berjalan hingga berada disisi kakaknya.

“Kau dengan anak bernama Jungkook itu sepertinya bertambah dekat ya?” tanya Namjoon.

Tidak ada jawaban dari Jinni. Gadis itu hanya diam sambil memainkan jari-jemarinya. Namjoon memandangi adik kecilnya, ia lantas memeluk Jinni dari belakang. Sebuah pelukan yang hangat dan erat. Namjoon menyenderkan kepalanya di bahu kanan Jinni.

“Hei, apa salahnya jujur kepada kakakmu sendiri?” bujuk Namjoon.

Jinni masih terdiam. Ia nampak ragu dengan hal-hal yang akan dikatakannya karena ia sendiri masih ragu dengan apa yang dirasakannya. Namjoon tahu gelagat Jinni memang menunjukkan ada sesuatu yang adik kecilnya sembunyikan. Dan jelas sekali, ini berhubungan dengan perasaan Jinni.

“Sebaiknya Oppa segera sarapan. Bukannya Oppa harus segera berangkat kuliah?” ucap Jinni mengganti topik pembicaraan mereka kemudian segera melepaskan diri dari dekapan Namjoon.

Namjoon hanya tertawa kecil menanggapi reaksi Jinni. Ia lantas segera mengambil sepotong sandwich dan melahapnya langsung. Ia tahu pasti situasi ini cepat ataupun lambat pasti akan datang juga. Situasi dimana adik kecilnya mulai menemukan rasa yang berbeda ketika berhadapan dengan laki-laki lain. Kemudian mereka akan semakin dekat mungkin melebihi kedekatannya dengan Jinni.

Setelah menyelesaikan sarapan dan membersihkan dapur, Namjoon segera beranjak pergi dari kediamannya. Apartemen itu kini berada dalam suasana yang sunyi-senyap. Setelah mandi, Jinni hanya duduk di ruang tengah sambil memindah-mindahkan saluran televisi asal. Ia bosan dan ingin membunuh waktu.

Tak lama, terdengar suara bel interkom berbunyi. Secepat kilat Jinni berlari ke depan pintu apartemen dan membukanya. Nampak perawakan Jungkook lengkap dengan kaos dan celana selutut tengah menyengir lebar. Tanpa menunggu waktu lama, Jinni segera pergi ke toko buku bersama Jungkook.

Sesampainya di toko buku, kedua pasang mata mereka segera beredar menjelajahi seluruh sudut untuk menemukan novel yang menjadi incaran Jinni dan betapa bahagianya mereka ketika mendapati tumpukan novel yang dicari masih tersedia sangat banyak. Tanpa menunggu waktu lama, Jinni segera menyambarnya satu dan membayarnya.

“Setelah ini, mau kemana lagi?” tanya Jinni.

Jungkook seketika menghentikan langkahnya, ia tersenyum kepada Jinni. “Maaf tetapi aku hanya bisa mengantarkanmu ke toko buku dan sebenarnya aku ingin berpamitan denganmu.”

“Berpamitan?!” ucap Jinni kaget.

Jungkook hanya tertawa kecil lalu mengacak rambut Jinni. Gadis itu nampak kaget dan sempat membeku di tempatnya. Melihat reaksi Jinni, Jungkook malah semakin gemas. “Aku hanya pergi dua sampai tiga hari. Aku harap kau akan merindukanku.”

Selepas itu, Jungkok segera mengantarkan Jinni pulang lengkap dengan sepeda miliknya. Di ambang pintu apartemen, Jinni sempat mengajak Jungkook untuk masuk sebentar, tetapi laki-laki itu menolak dengan alasan ia sudah terlambat. Maka iapun segera pergi.

Jinni kembali sendirian di apartemen setelah beberapa saat yang lalu Namjoon mengabarkan kalau ia akan pulang larut lagi karena harus menyelesaikan presentasinya. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk pergi berkeliling sendirian guna membunuh kebosanannya. Ia menuruni satu persatu anak tangga hingga akhirnya sampai di lobi utama.

Jinni terus melangkahkan kakiknya bersemangat dengan earphone yang tersumpal sempurna di kedua telinganya. Alunan lagu favoritnya seketika memenuhi indera pendengarannya. Ia seakan menjadi bagian dari dalam lagu tersebut. Ia terus melanjutkan langkahnya, menyusuri setiap jalanan kota yang masih dipenuhi hiruk-pikuk kesibukan para penghuninya.

“NONA AWAS!” teriak seseorang.

Jinni refleks menoleh ke samping dan mendapati sebuah bus tengah melaju cepat kearahnya. Tubuhnya seakan membeku di tempat. Setelahnya, ia tidak bisa merasakan apapun. Ia hanya melihat sekurumunan orang memenuhi penglihatannya. Namun sedetik kemudian, ia hanya melihat hitam.

“Pasien atas nama Kim Jinni, berada di ruang berapa?” tanya Namjoon panik saat setibanya ia di rumah sakit.

“Ruang 245 lantai tiga. Namun pasien masih dalam keadaan koma,” jelas seorang perawat. Namjoon segera bergegas menuju ruang rawat adiknya.

Ia baru saja akan memulai kelasnya pagi itu ketika salah seorang temannya mengatakan jika ada polisi yang mencarinya. Ia segera berlari menemui polisi itu. Sang polisi mengatakan jika ada sebuah kecelakaan yang baru saja terjadi dan ia menemukan kartu identitas milik adiknya berada disana. Polisi itu juga mengatakan jika adiknya menjadi korban dari kecelakaan itu.

Kini Namjoon sudah berada disisi adiknya yang masih terbujur kaku dengan berbagai alat-alat rumah sakit yang masih terpasang pada nyaris sekujur tubuhnya. Kepalanya masih terbebat karena terluka. Mesin kardiogram masih menunjukkan garis yang naik turun. Untuk sesaat Namjoon masih bisa bernapas lega.

“Apa yang sedang kau lakukan hingga bisa jadi seperti ini?” gumam Namjoon putus asa. Air matanya tanpa sadar tumpah membasahi pipinya. Kedua tangannya menggenggam erat tangan sang adik yang masih terkulai tak berdaya.

Tiga hari berlalu cepat semenjak kejadian itu. Pihak kepolisian juga akhirnya berhasil menyelesaikan kasus tabrakan tersebut. Dari olah kejadian perkara, didapatkan kesimpulan jika kecelakaan yang terjadi adalah murni kesalahan dari si supir bus yang dengan sengaja menerobos lampu merah dan naasnya Jinni sedang berada disana, di waktu yang salah.

Namjoon saat ini berada di ruangan dokter. Beberapa menit yang lalu, Jinni sudah siuman meskipun keadaannya masih sangat lemah. Sang dokter menjelaskan kepada Namjoon jika kecelakaan tersebut mengakibatkan benturan yang cukup keras pada kepala bagian belakangnya, tepat di bagian pusat memori. Benturan itu berdampak kondisi Jinni yang saat ini mengalami Amnesia Retrograde.

“Amnesia ini membuat penderitanya mengalami kehilangan ingatan pada hal-hal yang terjadi sebelum kecelakaan. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena Amnesia Retrograde hanya berlangsung singkat dan bisa disembuhkan dengan terapi pengingat ingatan.”

Namjoon keluar dari ruangan dokter dengan beban pikiran yang semakin menumpuk. Ia bersyukur jika Jinni masih bisa diselamatkan tetapi ia sedih dan terpukul ketika mendapati kenyataan bahwa Jinni mungkin melupakannya.

Sudah hampir dua minggu Jungkook tidak melihat Jinni berada di sekolah. Menurut kabar berita yang beredar, gadis itu sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Maka sepulang sekolah, Jungkook memutuskan untuk menjenguknya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan gadis itu. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, ia segera melesat dengan sepedanya menuju rumah sakit. Setibanya disana, Jungkook bertanya dimanakah ruangan tempat Kim Jinni berada.

“Apa kau Jeon Jungkook?” tanya seorang laki-laki berkacamata di ambang pintu ruangan 245. Jungkook hanya mengangguk bingung ketika lelaki itu malah menarik dirinya menjauhi ruangan tersebut terlebih ia melihat sosok Jinni yang tengah berbalik menghadap jendela.

Namjoon meminta Jungkook untuk duduk di kursi yang tak jauh dari ruangan Jinni. Ia melepaskan kacamata yang membingkai wajahnya lalu menunduk lesu. Ia kemudian mulai menjelaskan apa yang sebenarnya menimpa adik kecilnya. Jungkook hanya bisa menahan napasnya ketika cerita tragis itu meluncur. Ia bersyukur karena setidaknya ia masih bisa bertemu dengan gadis itu. Namun disisi lain, ia merasa hancur ketika mendapati fakta jika gadis itu tidak bisa mengingat siapa dirinya dan seluruh kenangan mereka.

“Jika kau mau menjenguknya, kau bisa ikut aku sekarang. Namun, kumohon jangan memaksanya untuk berpikir keras mengenai siapa kau karena itu hanya akan membuatnya terluka,” jelas Namjoon. Kemudian kedua lelaki itu berjalan memasuki ruangan Jinni.

“Kenapa kau masih belum memakan sarapanmu?” tanya Namjoon ketika melihat satu paket sarapan milik adiknya masih tidak bergerak dari tempatnya. “Lihat siapa yang datang,” tambahnya. Sosok lemah Jinni lengkap dengan kepala yang terbalut berbalik menghadap Jungkook. Kedua pasang manik mata mereka kembali bertemu namun kali ini rasanya asing.

“Jeon Jungkook,” sahutnya lalu mengulurkan tangan. Jinni membalasnya. Rasa dingin menjalar dari jabatan tangan mereka. Jungkook memang sudah bertemu dengan gadis yang ia rindukan tetapi perasaan aneh masih mengganjal relung jiwanya.

Jinni melupakannya.

Hari-hari berlalu cepat setelah pertemuan kembali Jungkook dengan Jinni. Ia dan Namjoon tak pernah lelah mendampingi Jinni dalam setiap terapi pembangkit ingatannya. Jungkook percaya jika kenangannya dengan Jinni tidak hilang, kenangan itu hanya sedang bersembunyi saat ini.

“Apa aku boleh mengajaknya ke dermaga?” tanya Jungkook meminta izin pada Namjoon. Hari ini Jinni sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit dan Jungkook tidak sabar untuk menunjukkan magic hour mereka.

“Baiklah. Aku akan mengantar kalian,” sahut Namjoon.

Mereka bertigapun masuk ke dalam mobil milik Namjoon dan pergi ke dermaga. Selama perjalanan, Jungkook tidak henti-hentinya bercerita mengenai pengalaman mereka selama di sekolah meskipun Jinni tidak begitu banyak menanggapinya. Sesekali Namjoon juga ikut menimpali ucapan Jungkook.

“Kita sudah sampai,” seru Jungkook yang membuat Jinni seketika bangun dari tidurnya. Ketika gadis itu membuka mata, ia melihat hamparan laut lepas berwarna biru cerah yang indah. Jungkook tersenyum dari luar mobil dan memintanya untuk segera turun.

Iapun keluar dari mobil, angin laut seketika menerpa wajahnya. Jinni seolah merasa tak asing dengan apa yang kini berada dihadapannya. Hamparan laut lepas yang memantulkan cahaya berwarna jingga yang dipadukan langit senja dengan beberapa kawanan burung yang terbang melayang.

“Aku akan meninggalkan kalian berdua,” bisik Namjoon lalu kembali ke mobil. Jungkook tersenyum lalu mengucapkan terima kasih.

“Ini adalah magic hour,” gumam Jungkook. Rasanya aneh ketika kini ia yang jutsru menjelaskan kepada Jinni mengenai peristiwa magic hour. “Ini adalah saat dimana kau hanya merasakan bahagia dan perasaan bebas,” tambahnya.

Jungkook lantas mulai memberikan instruksi kepada Jinni untuk memfokuskan kedua matanya peristiwa pergantian warna langit yang tengah terjadi dihadapan mereka. Warna jingga itu kembali menyihir Jungkook juga Jinni. Keduanya masih terlarut dalam jingga yang sama. Jungkook meraih tangan Jinni ragu dan menggenggamnya.

Jingga kali ini memang berbeda bagi Jungkook. Meskipun ini adalah jingga keduanya namun jika bersama Jinni, ia selalu merasa ini adalah jingga pertamanya. Bersama Jinni, Jungkook merasa bahagia tanpa alasan dan bersama Jinni pula, Jungkook bisa merasakan apa itu rasanya mencintai.

“Ini sangat indah,” sahut Jinni takjub.

Jungkook menoleh kearah Jinni karena merasa telah mendengar sesuatu namun tidak jelas. Ia mengulas sebuah senyum sambil tetap memandang Jinni. Mulut gadis itu terus bergerak namun Jungkook tidak bisa mendengarkan apapun.

Usaha tanpa henti dari dua orang laki-laki yang begitu menyayanginya akhirnya mulai membuahkan hasil. Amnesia Retrograde yang dideritanya sebulan yang lalu kini sudah dinyatakan sembuh oleh dokter yang menanganinya. Hari-hari Jinni kini mulai berjalan seperti semula. Ia akan selalu bangun lebih pagi dari biasanya. Kemudian membuatkan sarapan dan pergi ke sekolah. Dan bertemu dengan Jungkook yang saat ini sudah resmi menjadi kekasihnya. Tentu setelah melewati berbagai wawancara dan tes tak tertulis ala Kim Namjoon.

Jungkook sedang duduk sendirian di sebuah kursi taman. Dari kejauhan Jinni berjalan menghampirinya sambil sesekali memanggil nama laki-laki itu. Tetapi Jungkook hanya diam. Jinni memandangnya kesal, ia memukul lengan Jungkook dan barulah perhatian lelaki itu beralih padanya. “Oh, kau kemana saja? Apa baru saja kembali dari toilet?” tanya Jungkook. Jinni menatap kekasihnya tidak mengerti. Jungkook hanya tersenyum kecil lalu meraih tangannya dan mengajaknya pergi.

Langkah mereka berakhir pada sebuah rumah sakit. Jungkook masih terus menggenggam tangan mungil Jinni. Di belakangnya, Jinni terus saja menggumamkan sesuatu yang tidak bisa didengar dengan baik oleh Jungkook. Ia tahu Jinni pasti bingung ketika ia tiba-tiba saja membawanya ke rumah sakit terlebih saat ini mereka berada di depan pintu berlabel radiotheraphy.

“Aku tidak bisa menemuimu untuk  beberapa hari ke depan,” sahut Jungkook. Jinni hanya memandangnya tidak mengerti. Jungkook meraih kedua tangan gadis itu lalu mendekapnya erat.

“Apa maksud semua ini, Jungkook?” tanya Jinni.

Jungkook melepaskan dekapannya, ia menatap Jinni lekat-lekat. “Aku sakit, Jin.” Jinni masih menatapnya bingung, meminta penjelasan lebih. “Medullablastoma,” gumamnya.

“Medullablastoma?” ulang Jinni.

Jungkook mengangguk, “Medullablastoma termasuk salah satu jenis tumor yang bersarang di otak kecil dan bisa menyebar ke area lain dari otak dan sumsum tulang belakang.”

“Kamu bisa sembuhkan?” tanya Jinni menuntut, matanya berkaca-kaca.

“Aku harap begitu,” jawabnya putus asa. Sedetik kemudian ia tersadar jika ada orang lain selain dirinya yang harus dikuatkan disaat seperti ini. “Besok aku akan menjalani operasi pengangkatan,” lanjutnya cepat lalu kembali tersenyum lebar.

“Kamu akan baik-baik saja, kan?” tanya Jinni, ia mulai merasa takut. “Jeon Jungkook, ayo jawab aku!” tambahnya mulai emosional. Jungkook tidak mengatakan apapun, ia hanya memeluk Jinni begitu erat seolah itu adalah pelukan terakhir mereka.

“Jadi ini alasanmu selalu pergi tanpa alasan yang jelas? Jadi ini alasan kenapa kamu terkadang tidak menjawabku? Kenapa Jungkook…” isak Jinni didalam dekapannya. Jungkook tau cepat atau lambat ia harus segera mengungkap kebenaran apapun konsekuensinya.

Hari berganti begitu cepat bahkan Jinni seakan tidak bisa merasakan dua puluh empat jamnya sudah habis. Kini ia harus menghadapi sebuah kemungkinan yang ia tidak tahu akhirnya. Namjoon sudah mengetahui kondisi Jungkook, ia kaget. Namun ia harus memerankan perannya dengan baik, ia harus menjaga Jinni untuk tetap tegar dan kuat apapun yang terjadi.

“Aku lelah memandangimu mondar-mandir begitu, Jin,” ucap Jungkook disusul tawanya yang pecah. Ia kini terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. “Aku hanya akan melakukan operasi kecil—”

“Bagaimana mungkin kamu bisa setenang itu?” jawab Jinni. Ia lantas duduk disisi ranjang Jungkook. “Kamu sendiri yang bilang tidak pernah ada yang tahu hasilnya. Bagaimana—”

“Harusnya kamu menenangkanku, Jin,” potong Jungkok cepat. Ia menggenggam tangan Jinni. “Aku akan baik-baik saja. Setelah ini kita akan ke dermaga bersama, melihat magic hour kita.”

Tiba-tiba saja dua orang perawat dan seorang dokter memasuki ruangan Jungkook. Mereka mengatakan jika waktunya sudah tiba. Semuanya sudah siap, operasi akan segera dimulai. Ranjang Jungkook mulai bergerak meninggalkan ruang inap dan Jinni masih tetap setia disisinya, menggenggam tangan Jungkook erat.

“Maaf, Anda tidak diperkenankan masuk,” larang seorang perawat.

Jinni memandang Jungkook yang sudah masuk ke ruang operasi melalui jendela. Air matanya tiba-tiba jatuh membasahi pipinya. Tungkainya terasa begitu rapuh untuk menopang tubuhnya. Namjoon juga berada disana, ia dengan cepat menangkap tubuh lemah adiknya.

Dua jam rasanya begitu lama bagi Jinni. Jarum detik seakan mencoba membunuhnya karena berjalan begitu lambat. Sedari tadi pandangannya tidak pernah lepas dari ruang operasi. Dalam kekalutannya, doa-doa kecil demi kesembuhan Jungkook terus mengalir. Tak lama, seorang dokter keluar dari ruangan itu. Iapun segera berbicara dengan kedua orangtua Jungkook yang juga berada tak jauh darisana.

Jinni tidak bisa mendengarkannya dengan jelas tetapi ia melihat tangisan ibunda Jungkook pecah sedangkan sang ayah terlihat jauh lebih tegar. Tubuh Jinni langsung lemas, Namjoon menahannya. Pandangan Jinni kabur, pelupuk matanya disesaki air mata. Ia ingin segera bangun dari mimpi buruk ini.

Jingga.

Warna yang mendominasi matanya kali ini terasa begitu sepi. Ia memang sedang menyaksikan magic hour-nya tetapi kali ini ia tak merasa bahagia. Justru sebaliknya, ia merasakan kesepian. Ia ingin menangis sejadi-jadinya tetapi apa daya, air matanya sudah kering.

Jingganya kini tidak lagi sama meskipun sekarang ia tidak sendirian tetapi ia tetap merasa kesepian. Laki-laki disisinya memeluknya dari belakang. Namun ia bergeming, tetap menatap lurus lautan yang kini memantulkan cahaya jingga.

Senjanya sebentar lagi akan menghilang. Tergantikan gelapnya langit malam. Meskipun bertaburkan bintang dan menjanjikan kharismanya sendiri, ia tetap tidak tertarik. Ia hanya ingin jingga yang sama.

Jingga yang membawanya kebahagiaan.

Jingga yang mengingatkannya bersyukur karena pernah bertemu dan memiliki kesempatan untuk mencintai dan dicintai dengan tulus oleh seorang laki-laki pemilik senyum menarik dan tingkah spontan, Jeon Jungkook.

“Cintailah orang-orang disekitarmu setulus-tulusnya karena kamu tidak akan pernah mengetahui seberapa cepat takdir akan memisahkan kalian.”

 

 

 

 

 

 

 

Dariku,
untuk kalian.

 

 

Advertisements

3 thoughts on “[What is Your Color?] Magic Hour – Oneshot

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s