[Vignette] Falsifiable Truths

falsifiable-truths

falsifiable truths

a debut fic by tsukiyamarisa

BTS’ Jung Hoseok with the others | 1,4k | Life, Friendship, slight!Angst | 17

.

Bagi Jung Hoseok, ini semua tidak benar adanya.

.

.

.

Kebenaran itu subjektif.

Jung Hoseok masih berusia dua puluh tahun kala ia memilih untuk menggenggam kalimat itu, mengutarakannya di hadapan enam kawan baiknya. Mereka yang masih sama-sama berdiri di ambang kedewasaan, terombang-ambing di antara batas benar-salah yang semu. Masa-masa ketika tanggung jawab seakan menjadi seperti tamu; kadang hadir dan harus kauperhatikan, tetapi kadang pula sengaja kautinggalkan di depan pintu yang tertutup.

Iya, Jung Hoseok memang masih dua puluh tahun saat itu, sehingga keenam kawannya pun memilih untuk tertawa dan membiarkan pendapatnya lesap ditelan malam. Tak ada yang menganggapnya benar-benar serius, pun berpikir bahwa Hoseok akan menjadikan kalimat itu sebagai tali kehidupan. Suatu hal yang dulu mungkin terlihat sepele, terlihat tak berguna di tengah segala tawa yang ada.

Lagi pula, apa salahnya sih, meyakini bahwa kebenaran itu subjektif?

Semua orang berhak punya pendapat mereka masing-masing, kan?

.

-o-

.

“Aku tidak bisa.”

“Namjoon-a….”

“Aku tahu ini weekend, Hoseok,” balas Namjoon, menghela napas panjang seraya memunguti buku-buku kuliahnya. “Hanya saja, sebentar lagi musim ujian. Aku harus mulai belajar dan mengerjakan tugas-tugasku.”

Ekspresi kecewa melintas di wajah Hoseok, tetapi Namjoon hanya membalasnya dengan tepukan singkat di bahu. Ia bukannya tidak mau bersenang-senang—astaga, sejujurnya Namjoon juga sudah bosan dengan tugas kuliahnya—tapi mau bagaimana lagi? Untuk kali ini, ia terpaksa menolak ajakan temannya untuk pergi menonton film bersama.

“Maaf.”

“Itulah ruginya berkuliah,” timpal Hoseok, mata terarah pada buku-buku tebal di tangan Namjoon. “Aku bahkan tidak paham mengapa kau betah terus-menerus belajar.“

“Itu terasa seperti pilihan yang benar.” Namjoon mengedikkan bahu. “Selain itu, aku juga ingin lekas lulus. Orangtuaku pun menganggap kalau ini—“

Alih-alih menyelesaikan kalimatnya, Namjoon malah mendapati punggung Hoseok tersaji di depan mata. Sahabatnya itu sudah membalikkan badan, tanpa permisi melangkah pergi seraya mengibaskan sebelah tangan dan berkata:

“Ya sudah. Tapi bagiku, itu bukan pilihan yang benar.”

.

.

.

“Ah, bagaimana kalau kita pergi ke PC bang sore nanti?”

Penuh harap Hoseok melontarkan ajakan itu, menatap Taehyung yang baru saja selesai menghabiskan seporsi nasi goreng. Keduanya sedang berada di kedai makan yang sudah menjadi langganan mereka, memutuskan untuk makan siang bersama setelah sekian lama tak bertemu serta bertukar obrolan. Wajar saja, lantaran kesibukan demi kesibukan senantiasa datang sebagai penghalang dan….

“Aku ada kerja part-time setelah ini.”

…tampaknya, hari ini pun bukan pengecualian.

Part-time?”

Yeah.” Taehyung mengangguk, lantas tersenyum cerah sambil menambahkan, “Hanya mengasuh anak tetangga, sih. Tapi bayarannya lumayan. Mau menemaniku?”

Gelengan cepat langsung diberikan Hoseok. “Aku tidak mengerti kenapa kau bersemangat sekali. Maksudku, kerja part-time akan memotong waktu luangmu—“

“—dan membuatku mendapat sejumlah uang.” Taehyung menyelesaikan kalimat Hoseok, paham ke mana arah pembicaraan ini. “Maaf, Hyung. Hanya saja, aku sudah berjanji. Aku bukan anak kecil yang bisa mencari-cari alasan untuk mengabaikan janji, kan?”

Tidak ada jawaban, lantaran Hoseok sudah memilih untuk menyambar kaleng soda yang ada di depan mata dan menyesapnya lamat-lamat. Enggan melanjutkan pembicaraan, sementara otaknya terus-menerus memberikan alasan di balik kekesalan yang timbul.

Karena bagi Hoseok, mengabaikan teman itu bukan hal yang benar untuk dilakukan.

.

.

.

“Kau serius, Hyung?”

“Tiga bulan lagi?”

Rentetan pertanyaan itu ditujukan pada Seokjin, yang sedang tersenyum cerah sembari membagi-bagikan undangan. Kepala dianggukkan sebagai jawaban, sementara gumam-gumam kekaguman dan ketidakpercayaan meluncur dari bibir keenam sahabatnya. Manik bergerak cepat untuk membaca undangan yang baru diberikan, suatu bukti nyata bahwa semua ini memang bukan tipuan.

“Kalian akan datang, kan?”

“Tentu saja!” Jimin adalah yang pertama membalas, selagi yang lain ikut membenarkan. Semua; kecuali satu orang yang entah mengapa tidak bisa terlihat ikut bahagia.

“Seokjin Hyung?”

“Ada apa, Hoseok-a?”

Hoseok berdeham, pupil kembali memandang undangan berpita pink muda yang ada di tangannya sebelum berkata, “Kenapa terburu-buru sekali? Maksudku, menikah kan….”

“Kami sudah cukup lama bersama,” balas Seokjin, berusaha menghilangkan kerut yang terbentuk di dahi Hoseok dengan penjelasan rasional. “Terlebih, aku sudah dewasa. Ini… well, ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Itu saja.”

Hanya kemam “oh” singkat yang diberikan Hoseok, sementara kepalanya kembali tertunduk untuk memandangi undangan pernikahan sang kawan. Dewasa dan menikah terdengar sebagai dua hal yang mengerikan, sehingga bagi Hoseok….

…ini pasti bukanlah hal yang benar untuk dilakukan.

.

.

.

“Begadang lagi?”

“Banyak pekerjaan, Hoseok-a.

Satu kalimat dari Yoongi itu sukses membungkam Hoseok selama sejenak, membuatnya memilih untuk mengempaskan diri pada sofa di flat sang kawan. Padahal, hari ini, ia sengaja datang untuk menginap dan bersenang-senang. Berada di rumah sendiri membuatnya bosan, tetapi menunggui Yoongi bekerja agaknya akan membuat ia lebih bosan lagi.

“Masih lama?”

“Menurutmu?” Yoongi balik bertanya, menjungkitkan alisnya. “Ini bukan main-main, Hoseok-a. Aku tidak mau disuruh merevisi lagu yang sedang kugarap berulang kali.”

“Aku hanya….“

“Bukannya bermaksud mengusir, tetapi kau mengerti, kan? Betapa pentingnya pekerjaan ini bagiku dan—“

“Mengapa itu penting, kalau begitu?” Hoseok menginterupsi, menyedekapkan kedua lengan di depan dada. “Selalu saja bekerja, bekerja, dan bekerja. Mengapa?”

Mengabaikan layar laptopnya, Yoongi menoleh untuk bertukar tatap dengan Hoseok. Memberinya sorot tajam, selagi bibirnya terbuka untuk menjawab, “Jangan kekanak-kanakan. Kalau tidak bekerja, dari mana uang untuk membayar biaya hidup, flat ini, dan semacamnya? Bukankah wajar jika kita memikirkan pekerjaan, Hoseok-a? Kau pun juga seharusnya mulai memikirkan ini.”

Setelah itu, Yoongi sama sekali tak mau repot-repot memberikan atensinya pada Hoseok. Tinggalkan kawannya yang lebih muda untuk berkutat dengan isi pikiran, lengkap dengan rupa cemberut lantaran kata-kata Yoongi tadi jelas menyakitinya.

Oke, Yoongi boleh berpikir itu wajar.

Tapi bagi Hoseok, itu tidak wajar dan tidak benar.

.

.

.

“Selamat atas kelulusannya, Jungkook-a!”

Menebar senyum, Jungkook memandang keenam kawannya yang tahu-tahu hadir di acara wisuda. Memberi ia kejutan, menyelamatinya sembari memaksa Jungkook untuk mengadakan acara makan bersama. Waktu memang berlalu dengan cepat; empat tahun terlewati dan anggota termuda dalam lingkup pertemanan mereka kini sudah lulus pendidikan tinggi.

“Setelah ini, apa rencanamu?”

Membiarkan dirinya dirangkul Taehyung, Jungkook hanya memasang cengiran kecil sebelum menjawab, “Aku belum yakin. Yang jelas, aku harus mulai memikirkannya karena aku sudah dewasa, bukan?”

“Bahkan Jungkook pun bisa menyebut dirinya dewasa sekarang,” kekeh Namjoon, kepala digeleng-gelengkan dengan lagak sok. “Walaupun itu benar, sih. Kita semua sudah dewasa sekarang. Ah, ke mana perginya masa-masa muda yang menyenangkan itu, ya?”

Sekon berikutnya mereka habiskan untuk menyoraki Namjoon yang mendadak sok puitis, kendati di dalam hati, mereka sama-sama mengakui kebenaran yang baru saja terungkapkan. Tak ada yang berpikiran untuk menyangkal, atau setidaknya tak secara langsung. Karena, di balik ucapan selamat dan tawa yang sesungguhnya juga dipaksakan, ada Hoseok yang sama sekali tak ingin disebut dewasa.

Ia benci menjadi dewasa.

Sehingga baginya, yang diucapkan oleh Jungkook dan Namjoon tadi bukanlah kebenaran.

.

.

.

“Apa yang dilakukan Hoseok Hyung itu sama sekali tidak benar, kan?”

Sebuah konsolasi, itulah yang sedang dicari oleh Jimin saat ini. Manik bergulir cepat untuk menatap kelima temannya, yang sama-sama menundukkan kepala dan mengatupkan bibir rapat-rapat. Terlampau malu untuk menunjukkan wajah, pun mengakui bahwa merekalah yang mungkin telah menyebabkan semua ini—walau secara tak langsung.

Guys?”

“Bagi kita, itu tidak benar.” Akhirnya Yoongi membuka mulut, berusaha agar suaranya tidak bergetar. “Namun, di dalam pikirannya….”

“Ingatkah kalian, ketika Hoseok dulu berkata bahwa kebenaran itu subjektif?” Seokjin menyela, jemari meremas selembar kertas yang berisi tulisan tangan Hoseok—pengakuannya atas segala yang telah dan sedang terjadi padanya. “Ini yang dia pilih, Jimin-a. Tentu saja kita akan berpikir kalau ini tidak benar, t-tetapi… bagi Hoseok….”

Seokjin tak perlu menuntaskan kalimatnya, tidak karena mereka semua tahu apa yang dimaksudkan oleh lelaki itu. Maka, tanpa mengizinkan konversasi tercipta lagi, keenamnya memilih untuk kembali berdiri dalam diam. Meresapi hawa keputusasaan yang ada di koridor rumah sakit, lantaran sekarang mereka sudah tahu. Mereka paham, bahwa dibalik pintu ruang gawat darurat yang tertutup itu, ada Hoseok yang pasti sedang berpikir:

Bagiku, menghentikan waktu agar tidak menjadi dewasa itu adalah hal yang benar.

.

-o-

.

Memandangi keenam kawannya yang sedang bercengkerama, Jung Hoseok membiarkan ujung-ujung bibirnya berjungkit naik. Ikut tertawa kala mereka mengenang masa lalu, lantas dalam diam mengalungkan lengannya pada pundak mereka ketika topik pembicaraan berubah sendu. Entah apa yang membuat mereka sedih setiap nama Hoseok tak sengaja tersebut, padahal yang bersangkutan masih senantiasa hadir dan menemani mereka di setiap perjumpaan.

Well, Jung Hoseok memang memiliki pendapat yang berbeda mengenai kebenaran. Apa yang ia yakini mungkin berbeda dengan apa yang dipercayai teman-temannya. Namun, itu bukan masalah. Itu tidak lagi menjadi masalah, lantaran Hoseok yang ini bisa selalu berada di samping keenam kawannya tanpa perlu takut mengganggu atau memancing perdebatan.

Karena bagi Jung Hoseok, bersenang-senang tanpa beban itu adalah kebenaran.

Karena bagi Jung Hoseok, tidak menjadi dewasa itu adalah kebenaran.

Karena bagi Jung Hoseok, pengorbanan berupa sayatan di nadi adalah kebenaran.

Dan karena bagi Jung Hoseok, keinginannya untuk selalu berada di samping sahabat-sahabatnya itu…

.

.

.

…adalah sebuah kebenaran.

.

Jadi, masih bisakah kamu menyangkal kebenaran yang dianut Hoseok?

.

fin.

a.n.

based on prompt(?) “But is there such a thing as a truth? Or the truth itself is subjective?” from my Research Methodology book XD

Oh, dan omong-omong, halo semua!  Akhirnya saya bisa debut juga di BTSFF :”

Perkenalkan, Amer dari line 95 di sini! Staff baru di BTSFF yang akhirnya ngepost ff debut hasil kebut kilat.

Anyway, salam kenal! ❤

Advertisements

33 thoughts on “[Vignette] Falsifiable Truths

  1. Pingback: [Challenge] Break The Stigma – Chamber of Fiction and Fantasy

  2. Ternyata hoseok pengangguran.. /dibuang/
    Hai amer, maafkan aku baru komen di sini heuuuuu lupa mulu sih haha XD
    Aku sebenernya pernah juga merasakan sesedih Hoseok,, di saat teman2 sudah kerja sementara aku belum dapat dan kerjaannya di rumah dan makan di ka ep ci sendirian.. tapi harus banget ya… bunuh diri??? /brb nyekek hoseok/
    Yeoksi ff nya amer as always keren abis ^^v keep writing ya mer ^^

    Like

  3. echaminswag~

    SERIUS INI BENER BANGET ><
    JADI DEWASA ITU MENYERAMKAN APALAGI INGET SKRIPSI DLL. ;_;
    ameeeeer, ih, aku merinding mana bacanya jam segini /yhaterus/
    wkwk hobi tumben pikirannya bener, ga jorok mulu /eh/

    btw, selamat debut meeeer ((iya tau ini telat banget ngucapinnya))~ ditunggu karya-karya yang lainnya ❤

    Like

    1. AAAAK AKU MALU DIKUNJUNGIN BU DIREKTUR /.\
      aduh cha jangan bahas skripsi lagi cha sudah cukup nanti kebawa mimpi /?

      iya makasih banyak chaaa! gapapa walau telat aku mengerti hatimu kok ((ini gombal))
      see ya! ❤

      Like

  4. Kak Meeer, ini keren bgt asli.
    Dan aku ngerasain bgt apa yg Hoseok rasain, dan lebih relate lg sama jawabannya Suga.
    Iya, kalau ga kerja mau makan apa? Walaupun sebenernya kerja itu membosankan, tp yaa mau gimana lg, hehe
    jadi dewasa itu emang nyeremin plus ngeselin sih, jadi tambah banyak mikir, tanggungjawabnya makin gede. Dan paling sedih kalau udah disodorin kalimat kyk gini:
    “Ini hidup kamu, terserah kamu mau milih yang mana. Kita(orangtua) setuju2 aja sama keputusan kamu.”
    Atuhlah, aku paling sebel kalau udah ketemu kata ‘terserah’ (blm siap nanggung resiko kalau pilihannya salah). Labil bgt kaan?
    As always fiksinya Kak Mer tentang life kyk gini selalu keren dan daleem bgt.
    Sukaaa ❤

    Like

    1. jawabannya suga itu semacam isi pikiran sendiri sih hehe sedang dalam mode panik semakin tua, besok harus kerja apa buat bertahan hidup T^T

      terserah emang bikin bingung sih ya, tapi ketika kita ga dikasih kesempatan buat milih juga…………. galau 😦 intinya sama-sama susah sih huhu yaudah kita bisa apa *ujungnya pasrah pada takdir *krik

      anyway, makasih ya neng! ❤

      Liked by 1 person

  5. Aihara

    I’m into this fic~
    Maknanya nyampe dan ngena /sama aja engga sih?’-‘/
    Suka banget lah
    Karena ini sangat dalaaam, aku pun jadi mendalami, asyik banget pas bacanya

    Selamat debut yaa^^

    Like

  6. Jafi kemarin tuh aku udah baca fic ini ya mer, terusan mati lampu jadi yhaa maafkeun kubaru bisa menjejak skarang (ketauan fakir wifi)

    Ehm, pertama aku udah mau beranjir2 ria KENAPA SIH MER KENAPAA AKU MERASA RELATE BANGET SAMA JUNGHOSOK HEUUU /.\
    Iyaa jadi dewasa itu mengerikan…harus selalu mikir, harus ngadepin dosen, harus skripsi, mwihihi /ketawa miris/
    Terus terus aku bacanya udah ngekek aja berasa baca drabblemix hoseok dan bangtan, ihik
    Dan makin ngekek promptnya dapet dari buku metodologi penelitian… ZERIUZZ TELLMEEE BUKU METOPEN MACAM APA YANG MENYAJIKAM PROMPT2 INDAH PENUH ARTI BEGITU MER…

    Anyway tsukiyamarisa shenpai selamat untuk fic debutnya-yang-kece-banget-gini. Bhay

    Like

    1. halo kaipy! ehehe gapapa aku juga fakir wifi kok kak, udah fakir ditambah wifinya error pula barusan kan sedih (((jadi curhat)))

      HAHAHAHAH sesungguhnya ini buah salah fokus saat belajar metopen buat uts, tapi in case kaipy penasaran, aku pake buku judulnya research methodology for business (((lah beneran dikasih tau))) ((perlu nama pengarangnya ga kak wkwk))

      makasih banyak kaipy!! ❤

      Like

  7. pumpkin

    Oh My… Disisi lain aku sependapat sih ama hoseok. Tapi kalo diliat lagi iya ya…kita makin kesini makin gede. Makin banyak yang harus kita kerjain + pikirin.

    Like

  8. Kog terharu ya bacanya. Ga bisa komentar apa2 ngena banget apa yang yang dimaksud jung hoseok itu. Kaya whalien 52 aja nih. Bagaimanpun kau menjelaskan, semua orang tidak akan pernah mengerti.

    Like

  9. Jadi, begini Kakmer, bolehkah saya nobatkan anda menjadi motivator terselubung karena yha, INI MAKNANYA DALEM BANGET, JENG.

    (oke, fey kembali ke jalanmu, nak)

    Aku ngerasa apa yg dirasain hoseok bgt kak, ketika selesai un gini temen2 pada gaisa diajak main dengan alesan…..mereka kerja part time, sedangkan aku msh kayak hoseok yg ‘ayo dong main, abis un nih kita konvoi coratcoret pake seragam ketat terus poto2 biar kayak nak gawl (ga)

    Bah, jd curhat. Maafkan curhat salah tempat ini kakmer. Ficnya mah ga perlu dikomentarin kak, aku percaya apapun yg berlabel tsukiyamarisa pasti keren (ihik)

    See ya, kamer!

    p.s ini udah debut semua huhu aku kapan (lirik draft di laptop sambil bilang ‘kamu kapan selesai, nak?’)

    Liked by 1 person

    1. k-kenapa motivator terselubung…….. nanti aku buka golden ways sekalian gimana sama anak2 bangtan /gak

      btw aku ketawa baca komenmu bagian konvoi XD tapi pengen main itu manusiawi sih, aku yang semester tua aja bawaannya pengen main terus T T

      anyway, makasih banyak ya fey!! dan selamat juga buat kamu udah debut! *baru ngintip beranda*
      see ya! ❤

      Liked by 1 person

  10. anonimjeon

    Ini ngedeep banget serius, ngga tau lah, nggak bisa komen, ilustrasinya dapet banget.. bikin baperin diri sendiri tau nggak/ nggak nanya/

    ini fic debut, kilat, tapi keren(y)
    congrast yahhh^^

    Like

  11. Kemudian aku ikut sedih karena bentar lagi dua puluh dan pasti dianggapnya dah dewasa padahal pengennya mah main-main dulu, trolling around (?) gitu._.
    JHS, i know what you feel~ 😀
    As usual lah yha tulisan kak Amer aku sukaaak ❤ selamat debut yaaa semoga cepet dapet first trophy /lu kira boyben kav/ 😀

    Like

  12. Hmm…… aku bingung mau komen apa…… yang jelas pas part seokjin bagi undangan itu excited/? *yasudah abaikan XD

    Intinya seperti biasa fic kamu tentang life itu kece. Maknanya dapet dan meskipun ga tau gimana yg dirasain hoseok di ff ini, ngena aja gitu. Cuma kepikiran: ‘Kalo udah dewasa harus ya kerja? Harus ya nikah? Harus ya jadi dewasa?’ *lalu jadi sendu 😥

    Kaya kata seokjin: “I want to stay a child. Getting old is sad.” True af!!!

    Oke sekian dan terima kasih/? Selamat debut ameeerr \(^0^)/

    Liked by 1 person

    1. apa ini kode kayen pengen segera bikin undangan sama kak seokjin…….? /eh

      wkwk jangan jadi sendu dong kak, aku nanti ikutan sedih gimana? /peluk /dibuang
      btw tumben kayen bisa cursing itu….? ((diulek))

      makasih kakaaaak! ❤

      Like

  13. Aku udah 17 jadi aku bisa baca /merasa sangat bangga awalnya aku agak bingung, hoseok kenapa? Setelah di pikir dan di telaah, dia itu belum siap jd dewasa msh pengen bisa seneng-seneng sama temennya, begitu bukan? Wahahahah, by the way chukkhae atas debutnya kak, di tunggu fic selanjutnya! Keep writing!😆😆

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s