[What is Your Color?] The Most Beautiful Moment In Life – Oneshoot

Cover928234

[What is Your Color?] The Most Beautiful Moment in Live – Oneshoot

Author : Deancchi_L

Genre : Friendship, Hurt / Comfort, Angst and Drama.

Leght : Oneshoot [words 2.8k+ words]

Rating : PG -15

Cast : All Member Bangtan Boys

Disclaimer : Ide cerita murni milik Author. Saya hanya meminjam nama dari member BTS. Karena BTS milik Tuhan YME, orang tua dan keluarga mereka, dan juga seluruh ARMY ^^ apabila ada kesamaan plot cerita, nama tokoh atau bahkan dengan realita kehidupan para readers itu semua hanyalah kebetulan semata yang Author sendiri tidak tahu jadi mohon dimaafkan.

Hope you like it…

Please RnR okey?

Summary : “Asalkan bersama dengan kalian,
aku tahu bahwa aku kembali dan tak sendirian lagi…”

.

.

.

Kehidupannya berputar layaknya roda. Cerita di masa lalu hingga kini mengilas balik laksana film dokumenter.

Dan peristiwa demi peristiwa mengerikan kembali terlihat. Kebakaran, tabrakan, ledakan, pembunuhan, dan bunuh diri. Destinasi terakhir ialah dimana semua kegelapan menyelimuti dirinya. Sendirian ditempat yang bahkan ia tak ketahui dimana terbaring dengan keadaan tak berdaya…

Tirai kelopak terangkat, mengerjap dalam kegelapan, manik mata coklat berpendar. Hening ruangan disisipi deru nafas yang sedikit terengah – engah. Ia mendudukkan diri, menatap ruangan yang ia tempati.

“Aku kembali bermimpi…” Tangannya sedikit gemetar. Senyum pedih terbit ketika sudut matanya melirik kesamping dimana sebuah figura foto dimana ada tujuh orang disana. Bermimpi tentang mereka dan relasi yang terbesit dalam imajinasi. Agak miris ketika dirinya mengetahui bahwa mimpi dan realita yang bagai ironi.

Di akhir mimpi, mungkin saja terealisasi. Namun akankah itu terjadi kala sebuah realita bahwa ‘mereka’ yang harusnya mewujudkan hal itu malah menghilang…

Berusaha menutup matanya. Mengabaikan antara mimpi dan realita yang begitu menyesakkannya…

Pada kronologi memorinya, ketika satu per satu dari mereka menatapnya. Hanya segenggam dari bongkahan kenangan pahit teramat menyesakkan yang sekilas berpendar di sorot mata mereka, tiada lagi tawa canda riang –tergantikan kepedihan. Mengecap rasa sakit dan digantikan perasaan putus asa akan hidup-.

JIN POV

Kurebahkan tubuhku kembali di ranjangku. Mataku terasa berat, mungkin karena terlalu lama menangis. Mencoba untuk tidur namun setiap aku sudah terbuai dalam alam mimpi…

Mimpi buruk selalu menyapaku. Bukan! Tapi ingatan demi ingatan yang kembali menyapaku. Ingatan ketika kami bersama tertawa dibawah hangatnya sinar matahari, merangkul satu sama lain dibawah dinginnya guyuran hujan, berlari bersama seolah tidak peduli akan apa pun di tepi pantai. Ingatan semua itu berputar layaknya sebuah roller coster namun disaat yang bersamaan ingatan lain yang seakan membuat kepalaku ingin pecah datang, bagaimana satu persatu dari mereka memberikan sekeping memori menyakitkan untukku.

Pada akhirnya aku hanya bisa menutup kedua mataku kembali…

Berharap bahwa akulah yang tertidur panjang dan mengalami mimpi buruk ini.

Dan nanti disaat aku membuka kembali kedua mataku, aku melihat mereka tertawa dihadapanku…

Jin POV End

****

ung…yung.. hyung!” Sebuah suara mengusik indra pendengaran Seokjin. Ia berusaha membuka kedua matanya yang terasa berat. Sepertinya ia mengenal suara tadi, namun tak dapat mengingat pemilik suara itu. Perlahan kedua matanya terbuka. Mata coklatnya berusaha menatap sekelilingnya.

Gelap. Hanya suara – suara yang didengarnya…

“Jin hyung! Ppali ireona!”

“Kau kenapa masih tidur jam segini?”

“Jin hyung… kami sudah disini. Kenapa kau masih tidur?”

Suara – suara kembali terdengar. Kali ini Seokjin dapat melihat walau samar ditengah kegelapan. Perasaan aneh menghampirinya, tak percaya dengan apa yang ditangkap netranya. Dirinya diam berusaha menyakinkan dirinya kalau semua ini adalah nyata.

Bukankah mereka telah pergi?

Bukankah mereka telah memberikan dirinya rasa sakit di hatinya?

Bukankah seharusnya mereka berada di-

Semua pertanyaan di kepalanya terhenti ketika kedua tangan ditarik dan bahunya di dorong dari belakang. Mereka menariknya untuk bangun dan menyeret dirinya keluar dari lingkup kegelapan menuju sebuah pintu dengan secercah cahaya. Mereka terus saja berbicara, tertawa dan ia hanya bisa diam. Masih berusaha mencerna semua kejadian saat ini.

“Jin hyung cepat, kau lelet sekali.”

Hyung ini biasanya selalu paling semangat kenapa tumben malas sih?”

“Ayo cepat!”

“Tunggu aku, hyungdeul!”

“Kau lelet sekali, Kook!”

“Sudah jangan berdebat! Oh, ya kenapa disini gelap sih?!”

Mengabaikan antara mimpi dan realita, terbit sebuah kurva di bibirnya. Saat mereka menuruni anak tangga satu per satu memori Seokjin kembali berputar saat itu juga. Dalam hati dia berusaha menyakinkan bahwa jika semua ini ilusi dirinya tak keberatan untuk terus terbuai didalamnya.

Seokjin membiarkan dirinya terus diseret oleh mereka. Ia hanya berharap… berharap bahwa mereka selalu bersamanya.

Sekejap mata, Seokjin kembali merasa buta. Namun ia buta bukan karena kegelapan seperti tadi melainkan di butakan terangnya cahaya sang surya yang telah lama tak dilihat manik matanya. Ketika ia mulai terbiasa akan cahaya, ia dapat melihat dengan jelas sebuah senyum yang terukir indah di wajah ke enam orang di depannya. Senyum sehangat sinar matahari.

Dan entah kenapa Seokjin merasa kembali…

Bukan ke jalanan. Bukan ke rumah.

Bukan ke dekapan orang tuanya yang entah dimana.

Bukan kemana – mana…

Dia kembali kepada sahabat – sahabatnya.

****

Waktu itu adalah akhir. Kebersamaan mereka terputus seketika oleh sebuah perasaan menyakitkan dan memilukan.

Waktu ini adalah kini. Ketika dirinya dan mereka bisa bersama kembali, berbalik kemana separuh hatinya dan juga seluruh kepercayaannya berada.

Dentuman musik memenuhi ruangan minimalis itu. Melebur bersama semua perasaan dalam setiap teriakan, tarian dan tawa. Dipojok ruangan sana, Seokjin duduk dengan sebuah handycam ditangannya merekam tiap keping demi keping kejadian seolah takut di masa akan datang dirinya lupa akan hal – hal didepannya –walau dirinya tahu tidak mungkin ia melupakan semua kejadian dengan mereka-.

Pemuda bersurai coklat menghempaskan diri disampingnya. Dia Jungkook, seseorang yang Seokjin kenal usil. Jungkook tersenyum,

Hyung, kau senang?”

Seokjin hanya mampu menganggukkan kepalanya. Tak perlu kata untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Dirinya kembali mengalihkan perhatian kearah lain yang sibuk bermain dengan kursi roda. Disana ada Hoseok, Taehyung dan Jimin. Tiga orang yang ia kenal paling berisik dan hyperaktif. Didekat tangga ia bisa melihat Yoongi dan Namjoon tertawa melihat kelakuan tiga orang didepannya. Dua orang itu –Yoongi dan Namjoon-, Seokjin kenal begitu dewasa mungkin lebih dewasa darinya.

“Hey, Jin hyung. Menurutmu bagaimana kalau kita ke pantai?” Jungkook menyenggol bahunya dan menatap dirinya antusias.

“Pantai?! Ayo kesana sudah lama kita tak kesana kan?” Taehyung menghentikan kegiatannya mendorong Hoseok yang berada di kursi roda. Membuat Hoseok terjatuh kedepan.

“Yak! Tae kau sengaja yak?!”

Jimin hanya tertawa ketika melihat Hoseok mengejar Taehyung dan berusaha untuk memukulnya dengan bantal, “Hahahahahaha…”

“Aku setuju dengan maknae… ayo ke pantai. Entah kenapa aku ingin berteriak saat ini.” Yoongi tak berekspresi atau pun sekedar menoleh namun jelas dari pancaran matanya ia setuju.

“Bagaimana hyung?” Namjoon menatap Seokjin. Yang ditatap hanya diam. Sebelum bibirnya berucap kata, tangannya kembali ditarik oleh mereka.

****

“Uwaaaaaa…”

Teriakan terdengar. Hangatnya sinar matahari menyinari ketujuh pemuda yang tengah berlari dan tertawa. Hembusan kencang angin terkalahkan ketika mereka berteriak meluapkan perasaan yang terpendam sedari tadi. Sudut – sudut bibir mereka melawan poros gravitasi disaat bersamaan.

Langit biru melatari sinar benderang matahari. Sepasang manik coklat Seokjin memancarkan kesedihan walau ia sendiri tak mengerti mengapa perasaan sedih itu meliputi hatinya. Mereka disini lalu kenapa dirinya merasa sedih? Ia mendongkkan kepala menatap cahaya matahari yang membutakan. Hembusan angin membelai wajahnya yang rupawan, sayup – sayup teriakan memanggil namanya terdengar. Sekali lagi Seokjin membiarkan semuanya…

Membiarkan dirinya terperangkap dalam imaji atau pun realita.

“Jin hyung sini!” Itu Taehyung yang melambai kearahnya.

“Arrghh! Yoongi hyung aku basah!” Itu protes yang dilontarkan Jungkook.

“Hahahahaha… Mianhae Kookie-ya.” Itu tawa yang jarang Yoongi keluarkan.

“Uwaaaa…. Anginnya makin kencang! Aaaaa!” Itu teriakan Jimin yang merentangkan kedua tangannya dekat bibir pantai.

“Kau norak sekali, Jim. Seperti tidak pernah ke pantai saja.” Itu ejekan khas Hoseok.

“Hoseok benar, kau seperti tidak pernah ke pantai saja.” Dan itu suara jahil milik Namjoon.

Satu hal yang dia tahu…

Mereka masih bersama – sama…

Andai saat ini yang lain tidak fokus akan kegiatan masing – masing. Dan mereka lebih memilih fokus pada atensi Seokjin yang berlari kearah mereka. Niscaya mereka menyadari sebuah kristal bening mengalir dari manik coklat indah itu.

****

“Kim Ahjusshi!”

Seokjin mengetuk pintu kayu dihadapannya. Senyum sedari tadi terukir dibibirnya, sorot matanya tampak bersinar dikala senja kelabu menghiasi langit. Angin sejuk berhembus bersamaan dengan dedaunan pohon maple yang gugur, tetesan gerimis yang membasahi jalanan menandakan hujan masih enggan turun membasahi bumi pertiwi. Tak berapa lama pintu kayu terbuka, menampilkan sosok orang tua berkacamata. Rambutnya semua telah memutih termakan usia dan keriput telah nampak diwajahnya. Meski begitu kesan berwibawa nampak pada dirinya.

“Seokjin? Kau tumben mampir kesini.”

“Iya, aku ingin mengambil foto. Bisa?”

“Foto? Baiklah.”

“Tapi aku mau mengambil foto bersama. Foto untuk tujuh orang bisa?” Jin menggeser tubuhnya agar Kim Ahjusshi dapat melihat yang lain. Kim Ahjusshi hanya menggerutkan keningnya lalu menatap Seokjin dengan tatapan pengertian khas orang tua kepada anaknya –yang lain hanya tersenyum dan membungkuk sopan sambil mengucap salam- lalu tersenyum dan mempersilahkan remaja – remaja itu masuk.

Ditengah ruangan Seokjin menata kursi dibantu Hoseok dan Jimin sementara yang lain sibuk memperhatikan rumah milik Kim Ahjusshi. Mereka berenam sudah lama tak kemari terakhir kali mereka kemari untuk mencari Seokjin yang menginap disini.

“Rumah ini rasanya tak berubah ya?” Yoongi menatap beberapa foto yang terpajang di dinding. Lain dengan Taehyung dan Jungkook yang sibuk melihat – lihat lemari kaca berisi piring dan cangkir sesekali terdengar tawa dari keduanya saat melihat lemari tersebut.

“Yah, aku juga merasa begitu. Sudah lama aku tak kemari. Sejak kalian melakukan bu-”

“Seokjin…”

Nde? Oh sudah siap ya ahjusshi?”

Kim ahjusshi hanya mengangguk. Sebuah kamera tua telah ada disampingnya. Tanpa menunggu lebih lama Seokjin segera duduk memilih posisinya. Disamping kanannya ada Hoseok, Yoongi dan Taehyung lalu dibelakangnya berdiri Namjoon Jungkook dan Jimin. Dia menatap keenam sahabatnya. Ia tersenyum berusaha memastikan kembali semua ini.

Mereka ada disini…

Mereka kembali bersama…

Mereka menjadi tujuh lagi…

Bagaikan kelopak bunga lily yang berjumlah tujuh. Mereka kini telah lengkap…

“Sudah siap? Hana..deul..set..

KLIK!

FLASH!

Kilatan dari kamera membuat mata Seokjin buta sesaat, lalu ia menoleh kesamping. Dirinya terkejut ketika tak menemukan ke enam sahabatnya disana. Kemana mereka? Apa yang terjadi? Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, sungguh saat ini dia tak ingin kehilangan mereka lagi. Sebuah beban entah apa membebani hatinya menekan begitu berat membuatnya sulit bernafas, dia tidak ingin sendirian dalam lingkup kegelapan lagi. Dia ingin kembali kepada lingkup cahaya.

Kemudian ia kembali membuka mata, saat itu juga Seokjin merasa beban apa pun yang ada di hatinya terangkat.

Mereka masih disampingnya…

Mereka tersenyum disampingnya…

Mereka tertawa disampingnya…

Tanpa sadar Seokjin menghela nafas lega. Dirinya tak dapat membayangkan apa yang terjadi jika dia kehilangan mereka lagi. Ia kemudian ikut tertawa bersama, walau ia tak dapat menutupi bahwa hatinya saat ini gelisah.

“Seokjin, kau mau membawa pulang fotonya?” Kim Ahjusshi menghentikan tawa ketujuh remaja itu. Ia tersenyum ramah kepada Seokjin dan menyodorkan sebuah foto padanya. Tangan Seokjin terulur hendak mengambil foto tersebut namun sebuah suara menghentikannya,

“Simpan disini saja, nanti kapan – kapan kita mampir kesini lagi.” Taehyung memberi usul.

“Iya, lagi pula mau ditaruh dimana? Di basecamp ? Dijamin bisa rusak karena Jungkook dan Jimin.”

“Memangnya kau tak pernah merusak barang – barang hah? Ingat waktu ini kau sudah memecahkan gelas kesayanganku.” Yoongi menatap sinis kearah Hoseok

“Kalau Hoseok hyung itu suka memukul orang dengan bantal.”

“Iya jadi jangan menuduhku dan Jungkook saja. Hyung juga suka bikin berantakan! Gelasku juga hyung pecahkan waktu ini.” Jimin ikut melayangkan protes. Hoseok tertohok mendengarnya, tak ada yang mau membelanya apa? Namjoon hanya terkikik. Baik dia tak membantu Hoseok yang saat ini dibully .

“Jadi bagaimana Jin hyung?” Namjoon menatap Seokjin. Seokjin hanya mengangguk, perkataan sahabatnya ada benarnya. Selembar memori yang berharga ini harus dijaga dengan baik. Foto ini mungkin tak berharga ketimbang emas, mutiara atau apa pun. Namun bagi Seokjin foto ini merupakan harta berharganya selain sahabat – sahabatnya.

Ahjusshi saja yang bawa. Tolong dibingkai ya?” Kim Ahjusshi mengangguk. Lagipula jika Seokjin melihat foto tadi ia tak dapat membayangkan reaksi yang diberikan remaja bersurai coklat tanah itu.

“Kalau begitu kami pamit dulu ahjusshi. Terima kasih.” Namjoon membungkukkan badanya diikuti yang lain. Mereka berjalan menuju pintu sesekali suara tawa keluar dari bibir mereka. Hingga atensi mereka menghilang dibalik pintu kayu.

“Persahabatan yang indah…” gumam Kim ahjusshi ketika melihat foto tadi.

Foto dimana hanya ada seseorang yang tersenyum disana.

****

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan pada kalian.” Seokjin menghentikan langkahnya. Enam orang lainnya ikut berhenti menatap Seokjin kebingungan.

Seokjin menunduk menatap aspal hitam dibawahnya. Senja kelabu telah berubah menjadi langit gelap namun bertaburan bintang diatasnya. Layaknya harapan – harapan kecil didalam kegelapan. Seokjin mengangkat wajahnya, bersitatap dengan berbagai pasang manik kelabu dan gelap dihadapannya. Sungguh banyak hal yang ingin dia katakan namun entah kenapa semuanya hilang ketika matanya bersitatap dengan mereka.

Berbagai perasaan bergulung – gulung laksana ombak. Dia harus mengatakannya, harus! Dia harus mengatakan bahwa…

“A-aku…”

Suaranya tercekat. Mengapa begitu sulit mengatakannya?

“A-aku ingin mengatakan ka-kalau…” Mengapa suaranya terdengar bergetar?

“Kalau apa hyung?” Namjoon menyuarakan pertanyaan dibenak lainnya.

“Kalau aku senang bersama kalian. Terima kasih! Kalian… kalian datang kepadaku. Saat bersama kalian aku selalu merasa pulang. Asalkan bersama kalian, aku tahu bahwa aku kembali dan tak sendirian lagi… jadi tolong jangan ditinggalkan aku sendirian lagi!”

Air matanya tak terbentung lagi. Bulir – bulir kristal bening itu mengalir dari pelupuk matanya, dia berhasil mengatakannya dengan suara keras –walau tersendat tangis-.

Seokjin mengerjapkan mata, pandangannya buram. Hari ini tinggal sebentar lagi mati. Gelap mengontra makna gulita yang dulu bersama dan menghancurkan hati, sekarang berada disisi kembali hingga dia sendiri tak tahu sampai kapan.

Dirinya tidak mengerti apakah ada cahaya diantara mereka, mungkin senyum yang mencapai mata atau denting tawa atau hipokrit menyangkal realita.

Yang lain menatap Seokjin dalam keheningan. Dapat mereka lihat angin membelai helai – helai kecoklatan milik kakak tertua itu, ekspresi kesedihan yang terpancar, dan sorot mata yang terluka. Mereka tertunduk, merasa begitu buruk. Benda tajam menghujam hati mereka ketika manik coklat itu masih memandang mereka.

Apa yang Seokjin harapkan?

Apa yang harus mereka lakukan sekarang?

Jika Seokjin tahu yang sebenarnya, akankah mereka dimaafkan?

Seokjin tersentak menatap diferensiasi sahabat – sahabatnya. Dirinya merasakan pelukan hangat dari mereka. Tangan – tangan yang biasa saling melakukan high five dengan tangannya, kali ini merengkuhnya kedalam kehangatan. Pandangannya semakin buram dan kepalanya terasa berputar. Dirinya yakin sebelum kegelapan menariknya kembali, suara sahabat – sahabatnya itu menanamkan suatu keyakinan dalam hati dan pikirannya…

“Hari ini telah berakhir hyung…”

“Mianhae hyung, mianhae kalau aku suka membuatmu khawatir…”

“Kau harus bangun hyung… bangun dan lanjutkan semua ini.”

“Terima kasih untuk semuanya hyung. Aku tak akan melupakan semua yang kau berikan kepadaku…”

“Jin hyung! Aku janji akan menjaga yang lain. Tapi kau juga jaga dirimu ya? Soalnya aku sudah tidak bisa menjagamu lagi…”

“Jin hyung, hari ini aku dan yang lain bisa membalas semuanya. Rasanya sangat menyenangkan jujur aku tak ingin ini berakhir. Maka dari itu berjanjilah padaku… berjanjilah bahwa kau akan selalu bertahan apa pun yang terjadi. Bangunlah hyung, kami selalu bersamamu. Jadi jangan pernah merasa sendirian lagi… maafkan kami hyung”

Bahwa semua yang terjadi hari ini…

Hanyalah sebuah imajinasi…

****

“Tidakkk!!” Teriakannya mengisi kesunyian dalam kegelapan yang berada disekitarnya. Kedua matanya menatap sekeliling gusar mencari sesuatu atau mungkin seseorang.

Nihil.

Hanya dirinya disini. Semua itu hanyalah mimpi namun kenapa terasa begitu nyata?

Dirinya memilih turun dari ranjang menyibak tirai yang menutupi satu – satunya jendela disana. Sinar matahari langsung masuk ke celah – celah kamar. Dirinya berbalik dan pandangannya jatuh pada setangkai lily dan selembar foto yang berada di samping bantal. Memikirkan sejak kapan kedua benda itu ada. Tungkainya melangkah mendekati kedua benda itu berada. Ketika dia mengambil kedua benda itu, air matanya lolos seketika itu juga.

Foto ini. Foto yang diambil di rumah Kim ahjusshi. Dan hanya ada dirinya yang tersenyum.

Kelopak matanya terpejam, mencoba membayangkan kembali kenangan – kenangan yang ada. Dirinya menangis tanpa menimbulkan suara, membiarkan hening melingkupinya. Sedetik kemudian terlintas dibenaknya, mereka kembali hanya untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya.

Usai rangkaian peristiwa terjalin, semua berakhir kembali. Kebersamaan mereka terhitung singkat, pupus laksana titian tali yang telah putus.

Ketika kita dipertemukan lantas kenapa dengan kejam terpisah?

Kenapa setelah menerima realita malah dipertemukan kembali?

Kenapa disaat ada kesempatan untuk merantai kembali semuanya malah tercerai berai kembali?

Seokjin tak tahu apa – apa lagi. Dia hanya bisa kembali berharap. Harapan yang sederhana, yakni bisa kembali bersama mereka. Orang – orang yang dia sayangi, yang memiliki tujuan yang sama dengannya, yang membuatnya selalu merasakan kehangatan dan orang – orang yang membuatnya tahu arti cinta yang sesungguhnya.

Dia hanya ingin kembali bersama keenam sahabatnya yang telah berada di dimensi lain saat ini…

.

.

.

.

.

“Namjoon hyung?” Taehyung menatap birunya laut di depannya. Pandangan matanya kosong namun Namjoon disampingnya bisa melihat ada suatu pancaran dimata itu.

Nde, waeyo Taehyung?”

“Bisakah kita nanti bersama lagi?” Tanpa mengalihkan pandangannya ia bertanya.

“Jangan konyol, Tae.” Yoongi membalas sinis namun semua orang tahu apa yang diharapkan oleh Yoongi.

“Aku yakin kita bisa bersama lagi. Aku yakin!” Jungkook tersenyum memamerkan gigi kelincinya.

“Menurutmu kita bersama lagi tidak, Hoseok hyung?” Jimin melirik Hoseok yang sedari tadi memejamkan matanya. Menikmati hembusan angin laut dan membiarkan hembusannya menerbangkan helai demi helai anak rambutnya.

“Tentu saja, kita pasti bersama lagi. Ya kan leader?” Hoseok menatap Namjoon.

“Yeah, kita pasti bersama lagi. Bersama dengan Jin hyung. Dimasa depan, sebagai sahabat lagi…” Namjoon tersenyum menunjukkan dimple khasnya. Dirinya berjalan kedepan, kearah lautan biru berada.

Mereka berenam berjalan menuju laut.

Lalu menghilang bersamaan dengan suara deru ombak dan hembusan angin…

Meninggalkan semua harapan, mimpi dan cinta mereka kepada kakak tertua mereka

Kim Seokjin…

_THE END_

Advertisements

7 thoughts on “[What is Your Color?] The Most Beautiful Moment In Life – Oneshoot

  1. Raserin

    Hoaa sedih banget baca ini jadi pengen nangis.. Ceritanya keren banget jadi ff ini seolah olah kita itu sdg menganalisis gabungan mv bts itu /ngomong apa sih gaje :D/
    Juga kosakata nya keren banget lah.. pgn bisa nulis kayak gitu tapi susah deh /malah curhat/..
    Dan pada intinya KEREN..
    Keep writing thor!!!!! FIGHTING!!

    Like

  2. Sebelum baca ini aku tadi nonton I Need You di lanjutin sama HYYH prologue nya dan MVnya yang RUN,lalu aku baca ini entah kenapa seperti ngulang nonton itu lagi, dan ada adegan dimana aku pernah liat salah satu fanpage upload video entah itu konser atau apa sepertinya epilogue juga, dimana jin lagi fotoan sama member dan setelah di pajang sama si ‘tukang foto’ di sana cuma ada jin yang senyum dengan jejeran bangku-bangku yang kosong, baca ini serasa ngerasain apa yg selama ini aku bingungin dengan konsep HYYH nya BTS, aku ter-hip-hip-haru lah baca nya feelnya dapet, perasaan pertemanannya dapet, kata-katanya nyentuh, ya bersama-sama kita harap semoga bighit memecahkan misteri di balik HYYH /ini apa kenapa nyambung kesini/ keep writing with your own style author-nim! Jihyeon/98line😆 maaf nih komen sepanjang kereta, aku terlalu bersemangat/?

    Like

  3. ratihpv_

    Kya~kya~
    Ffnya keren authornim, jadi kayak baca teori aja ^-^
    Kata2nya jg enak dibaca dan yg terpenting, ni ff bsa jadi panduan buat ngertiin soal vcr yg fotonya jin sendirian itu =D
    Friendship feelsnya jg dpt bgt.. Ikut ngerasain gmn rasanya kehilangan sahabat yg udh nyaman bgt dan kental gt persahabatannya..
    Jadi ikut sedih, Seokjin kasian kehilangan teman2nya itu T.T
    Nice ff (y), ditunggu ff2 lainnya ^^

    Like

    1. Aihara

      Sempet ngga kuat waktu udab mau bagian Jin ngerekam pake kamera
      Langsung terbayang-bayang prolog dan itu membuatku galau-baper huhu
      Apalagi pas mereka bertujuh foto tapi cuma ada Jin seorang diri, itu yang ada di VCR hyyh on stage yang sampai saat ini masih bikin aku galau._.

      Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s