[BTS FF Freelance] Leaving You – Oneshoot

leaving you

Leaving You

by little snow.

starring BTS’ Suga (Min Yoongi) & Jung Mi Hwa (OC)

genres romance, slight!angst, alternate universe || rating PG-15 || length oneshoot

Disclaimer!

Cerita ini hanyalah fiksi belaka.

I only own the plot and original character.

No plagiarism and harsh comments.

Semoga memuaskan untuk dibaca!

(*Inspired by shewriteslikeshebreathes’ excerpt from the book i’ll never write :

I shouldn’t be breaking myself into pieces just to try and fix you!”)

.

.

            Menurut Min Yoongi, di hari libur seperti ini, hal paling produktif yang dapat dilakukannya adalah tidur seharian. Bagaimana tidak? Selama enam hari berturut-turut, pekerjaannya hanyalah memandangi komputer, menekan beberapa tuts piano dan memetik gitar bass, serta sesekali bermain game ketika bosnya tidak sedang melihat.

Namun rencananya harus dikubur dalam-dalam ketika ponselnya berdering kencang. Yoongi berdecak keras, awalnya enggan membuka matanya yang telah tertutup, bersiap untuk tidur. Kala dering telponnya tidak kunjung berhenti, ia menyumpah seraya mengacak rambut abu-abunya, lalu menjawab panggilan tersebut, tanpa melihat ID Caller.

“Halo,” sapanya, agak ketus.

“E—eh, halo.” Terdengar balasan dari seberang sana, bernada ragu-ragu dan takut. “Hyung …. Ini Jimin.”

“Kenapa?” tanya Yoongi malas. “Kau sakit? Mau aku ke apartemenmu? Atau ada tugas musik, hm?”

“Bu—“

Yoongi menggelengkan kepalanya ironis. “Oh, atau kau baru saja merusak sesuatu dan mau aku memperbaikinya? Astaga, Jimin. Kau ini.”

Hyung!” sentak Jimin, “aku tidak butuh bantuan apa pun. Mi Hwa noona mau kau ke apartemennya sekarang!”

Serta-merta Yoongi membelalakkan matanya. Dahinya berkerut, tampak tak percaya. Selagi menggaruk telinganya, ia bertanya, “Hah? Apa tadi, katamu? Mi Hwa menyuruhku ke apartemennya?”

Walaupun Yoongi tidak bisa melihat Jimin, tetapi ia bisa merasakan Jimin tengah mengangguk. Yoongi pun memijit pelipisnya heran. “Kenapa dia tidak langsung menelponku saja?”

“Mana kutahu,” balas Jimin sinis. “Menurutmu bagaimana? Mungkin dia takut membangunkanmu yang sangat galak.”

Yoongi memutar bola matanya mendengar jawaban Jimin. “Dasar. Ya sudah, aku mau siap-siap dulu.”

Seperti biasa, Yoongi hanya perlu menuruni satu lantai untuk bertemu Mi Hwa. Dalam genggaman tangannya sudah ada satu bar cokelat dan sekotak susu stroberi. Senyuman merekah pada bibirnya, merasa geli dengan fakta bahwa satu hari yang dikiranya akan menjadi hari di mana dirinya tak berguna pada bulan Januari itu, menjadi hari yang mungkin akan sangat menyenangkan.

Begitu lift terbuka dan menyajikan sekelompok orang yang berdiri menunggu, Yoongi segera melangkah ke luar, menyisipkan dirinya di antara kerumunan untuk meloloskan diri dari orang-orang yang hendak masuk.

Yoongi menekan bel ketika ia telah menginjakkan kaki di hadapan sebuah pintu berwarna biru dongker. Ia mengetuk-ngetukkan kakinya kemudian bersuara, “Mi Hwa!”

Tak lama, terdengar langkah kaki dan kenop pintu terputar. Iris coklat Yoongi bersua dengan manik besar hitam milik gadis bersurai keemasan. Yoongi mengangkat sebelah alisnya ketika Mi Hwa malah menunduk.

“Kau tidak akan membiarkanku masuk?” ucapnya, setengah bercanda.

Mi Hwa mendongakkan kepalanya, nampak tersentak, lalu dengan pandangan linglung, gadis itu mempersilakan Yoongi masuk. Dari ekor matanya, Yoongi mampu menyadari bahwa Mi Hwa sedang bergumam: 36, 37, 38, 39, 40. Saat Yoongi telah melangkah lebih jauh dan duduk di sofa, ia masih memerhatikan Mi Hwa yang sudah berada setengah jalan menuju dirinya, kembali lagi ke depan dan menyentuh pintu.

Yoongi menghela napas panjang. Sekitar lima menit ia telah duduk di sana, hanya mengamati Mi Hwa yang tak kunjung duduk di sebelahnya karena terus-terusan kembali lagi ke pintu apartemennya.

“Mi Hwa-ya,” panggilnya lembut, menarik perhatian Mi Hwa yang hampir terdistraksi oleh pikiran-pikiran di kepalanya. “Kau sudah mengunci pintunya.”

Mata Mi Hwa membulat sejenak, sebelum mengangguk dan akhirnya duduk di sebelah Yoongi. Tangannya menggenggam Yoongi erat, seolah-olah ingin membagi rasa khawatirnya. Si adam pun merangkul pundak si hawa, mengelus-ngelus rambutnya pelan, menyalurkan ketenangan tersendiri di tengah sunyinya suasana saat itu.

Gwaenchanagwaenchana,” bisik Yoongi, kemudian mengecup pucuk kepala Mi Hwa. “Tidak ada hal buruk yang akan terjadi.”

Mi Hwa memejamkan matanya, belum mengucapkan barang satu kata pun. Ia tampak terhanyut dalam belaian tangan Yoongi di rambutnya, yang memberikan sebuah sensasi aman di dalam lengannya yang kuat.

“Yoongi-ya.” Mi Hwa membuka matanya, bertemu langsung dengan tatapan Yoongi yang meneduhkan. “Aku—“ Tiba-tiba, ia menggeleng. “Tidak jadi.”

Yoongi mengerutkan keningnya. “Ada apa?”

Saat Mi Hwa hanya menunduk dan kembali menghitung, Yoongi menangkup wajah perempuan itu agar bertatapan langsung dengannya. “Hei. Ada yang mau kau katakan kepadaku?”

Mi Hwa menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk membalas dengan jawaban jelas, bukan dengan urutan angka. “Aku takut mengatakan hal yang tidak sopan dan menyinggung perasaanmu.”

Lagi-lagi ini, batin Yoongi, terdengar jengah dengan respon Mi Hwa. Ia membenarkan posisi duduknya yang merosot. “Katakan saja,” sahutnya. “Aku tidak akan marah.”

“Kau tidak apa-apa, meninggalkan tidurmu dan malah mengunjungiku?”

Yoongi terkekeh geli mendengar pertanyaan Mi Hwa. Ia menelengkan kepalanya. “Kenapa harus marah? Tentu saja tidak apa-apa. Kau prioritas.”

Mi Hwa mengulum senyum tipis. Selanjutnya, Yoongi memberikan cokelat dan susu yang telah ia bawa, kepada Mi Hwa. Perempuan itu menyambut dengan mata berbinar, mengingat itu adalah favoritnya. Melihat Mi Hwa senang dan tidak gelisah, membawa sinar kebahagiaan ke dalam mata Yoongi.

Perempuan itu pergi ke dapur untuk mencuci tangannya, sementara Yoongi membuka bungkusan cokelat dan menghidupkan penghangat ruangan. Pandangannya kemudian menyisir sekitar. Apartemen Mi Hwa seperti biasa: rapi dan terlihat tak tersentuh dengan nuansa dinding warna susu. Dapur yang langsung dapat ditemukan sesaat setelah memasuki pintu. Televisi 42 inch yang dilengkapi dengan satu set DVD Player, serta dua buah sofa warna hijau kecil di masing-masing sisi meja kecil di depan televisi. Sembari menunggu Mi Hwa mencuci tangan dan mengambil gelas, ia melihat ke luar dengan kaki yang terjulur panjang. Cuaca Seoul tampak mendung dengan langit menumpahkan butiran salju.

Mi Hwa kembali beberapa menit kemudian. Gadis itu mulai menggigit cokelatnya sambil menatap Yoongi yang kini beringsut mendekati Mi Hwa. Keduanya bertatapan selama beberapa saat sebelum berdiri dan kembali ke dapur, membuat Yoongi mengembuskan napas frustrasi.

“Bertambah parah,” gumam Yoongi. Lalu ia menyusul Mi Hwa, yang sedang mencuci tangannya. Yoongi berdiri di sebelah Mi Hwa, menghalanginya untuk kembali mencuci tangan. Matanya menyipit, melemparkan tatapan tajam kepada gadis di hadapannya ini.

“Obatmu. Di mana?”

Mi Hwa mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Hah? Ada apa dengan obatku?” Tangannya kembali menuju wastafel, bermaksud untuk membasuh tangannya yang belum bersih sepenuhnya dari sabun.

Lantas Yoongi mencengkram pergelangan tangan Mi Hwa. Kedua alis Mi Hwa tertaut akan sikap Yoongi yang tiba-tiba berubah menjadi kasar. “Ada apa, Yoongi?” tanyanya, tak mengerti. Ia berusaha menyentakkan tangannya untuk bebas dari cengkraman Yoongi. “Ya! Lepaskan!” Keringat dingin mulai bercucuran pada kening Mi Hwa dan deru napasnya berubah cepat, lantaran tatapan mematikan Yoongi.

“Di mana obatmu?”

“Di—di,” Mi Hwa menarik napas susah payah, “lemari obat. Memang kenapa?”

Yoongi tidak memberi jawaban, malah berjalan ke arah kotak penyimpanan obat. Diraihnya sebuah botol kecil berwarna putih, kemudian dibuka tutupnya. Saat itu juga, sebisa mungkin, Yoongi menahan keinginan untuk menjatuhkan botol tersebut dan berteriak memarahi Mi Hwa. Sebaliknya, ia berulang kali menarik dan mengembuskan napas, bertujuan untuk mengatur emosinya.

“Yoon—Yoongi-ya!” panggil Mi Hwa takut-takut dari balik punggungnya. Rasanya Yoongi belum sanggup untuk menghadapi Mi Hwa sekarang. Namun perlahan, ia berbalik dan memandang Mi Hwa dingin.

“Kenapa kau tidak mengonsumsi obatmu lagi?”

Yang ditanya memalingkan wajahnya, menghindari mata Yoongi. “Itu…—“

“Jawab aku, Jung Mi Hwa!”

Tersentak kaget, Mi Hwa terlonjak ke belakang. Pupil matanya membesar karena baru saja dibentak oleh Yoongi, yang notabene selalu bersikap lembut padanya. Airmata bergumul di pelupuk matanya seiring ia berusaha untuk membuka mulutnya, bersuara.

The medicine makes me feel like shit,” ujarnya. “Aku tidak nyaman dengan itu. Jadi, aku menghentikan penggunaannya.”

Yoongi menggeram. “Sudah berapa lama?”

“Kira-kira dua minggu.”

“Dua minggu? Astaga, Mi Hwa,” sergah Yoongi, hampir kalap. “Pantas saja kau bertambah parah hari ini! Sudah berapa kali kau mencuci tangan dan mengecek pintu?”

Mi Hwa mengedikkan bahunya. “Sudah lebih dari dua puluh kali, mungkin?” jawabnya dengan nada bertanya. “Aku tidak bisa menahan diri.”

Mendengar jawaban Mi Hwa, Yoongi bersedekap. “Karena kau tidak mengonsumsi obatmu!”

I’ve said it!” teriak Mi Hwa dan tangannya mulai menarik rambutnya sendiri. “This new medication makes me feel like shit all the time!”

Maybe because it works!”

Mi Hwa terdiam, kehilangan kata-kata, mengingat bahwa perkataan Yoongi ada benarnya. Namun tetap saja, ia menggeleng-gelengkan kepalanya saat Yoongi menyodorkan obatnya. “Aku tidak mau,” tukasnya singkat, cukup membuat Yoongi berdecak keras.

“Mi Hwa, ini untuk kebaikan kesehatanmu sendiri, oke? Kauingin sembuh, ‘kan?”

“Aku mau. Tapi obat itu dan pengobatannya menyebalkan. Aku tidak suka efek yang diberikan.”

“Lalu bagaimana kaubisa sembuh kalau tidak mau mengonsumsi obat itu dan menjalani perawatan?”

“Aku akan cari psikolog lain dan mencoba perawatannya.”

Yoongi memejamkan matanya sekilas. “Semua obat akan memberi efek yang sama, Mi Hwa, tidak peduli siapa psikolognya.”

“Terserah. Aku tidak mau dengar.”

Dan dengan itu, Yoongi tak dapat menahan dirinnya lagi. Ia menaruh kembali obat Mi Hwa di tempatnya, lalu berjalan ke luar. Dari belakang, Mi Hwa mengekori laki-laki itu, hanya untuk mendapati Yoongi mengambil coat-nya dari gantungan dan memakai sepatunya.

“Kau akan pergi?”

Yoongi menoleh. Sinar dalam matanya sendu ketika pandangannya bertemu dengan milik Mi Hwa. “Ya. Aku akan pergi.”

Mendadak, Mi Hwa penuh dengan rasa takut ditinggalkan. Matanya melirik kanan-kiri dan badannya terasa lemas. Dengan ragu-ragu, ia bersuara. “Tapi kau akan kembali, ‘kan?”

Tidak ada jawaban. Mereka hanya saling menatap, tak berbicara, hingga akhirnya Yoongi menyugar rambutnya. “Tidak.”

“Apa?”

“Aku berhenti dari menjagamu, Mi Hwa. Aku sudah berusaha untuk membantumu keluar dari permasalahanmu, supaya kau menjalani hidupmu sebagaimana yang kauinginkan. Tapi nyatanya, kau menolakku, ‘kan?” Yoongi tersenyum sedih.

“Yoongi—“

“Tidak seharusnya aku menghabiskan waktu di sini jika kau sendiri tidak mau dibantu. Tidak seharusnya, aku menghancurkan diri sendiri, hanya untuk mencoba memperbaikimu. Untuk itu, aku akan pergi.”

Mi Hwa membuka mulutnya, ingin berkata-kata, tetapi tidak ada satu pun kalimat yang keluar dari mulutnya, seakan-akan otaknya kosong setelah mendengar perkataan Yoongi. Yoongi sendiri, ia memandang Mi Hwa sekali lagi, sebelum berpaling dan bergumam, “Maafkan aku.”

Dengan itu, Yoongi meninggalkan apartemen Mi Hwa.

Tanpa menoleh.

.

Author’s Note

Hello, peeps! Author baru dan ff debut nih di sini, hehehe. Semoga cukup memuaskan, ya~ dan maaf kalau banyak typo >< kalau ada kritik dan komentar bisa disampaikan di kolom komen! Makasih yang udah baca! ^^

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] Leaving You – Oneshoot

  1. Hai~!
    Ini Mihwa punya gangguan ya?
    Dia kaya ketakutan gitu
    Tapi kalo kaya gitu memang butuh proses sih, bakal susah
    But, Yoongi-nya udah nyerah sama Mihwa 😥

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s