[Vignette] Another Half

Another Half - tsukiyamarisa

another half

written by tsukiyamarisa

BTS’ Min Yoongi with OC’s Park Minha | 1,7k | Soulmate!AU, Hurt/Comfort, slight!Romance | 13

a sequel for End of Silence by snqlxoals818

.

Bahagia mungkin tidak akan langsung hadir dalam kamus mereka.

.

.

.

“S-silakan minumnya.”

Park Minha hanya mengangguk pelan, tatap terarah pada secangkir teh hangat yang tersaji. Tidak yakin harus berbuat apa, selagi sang lelaki yang tadi meminjamkan beanie kepadanya duduk di sofa seberang. Menunggu dalam diam, kembali bungkam sembari sesekali keduanya bertukar tatap canggung. Bukan jenis suasana yang mengenakkan memang, tetapi Minha sendiri juga tak tahu bagaimana cara memperbaikinya. Lagi pula, ia sendiri sedang berduka.

Ia sedang berduka, dan ia malah mengalami suatu pertemuan yang tak terduga.

Jujur saja, kala ia memutuskan untuk kabur dari rumah setelah berita itu tiba, Minha sama sekali tak berharap untuk berpapasan dengan seseorang. Ia hanya ingin sendiri, ingin menyelami dunia yang senyap dan tak berperasaan. Toh, bagi dirinya, harapan serta kebahagiaan itu tak lagi ada. Ia telah kehilangan separuh bagian penting dari hidupnya, ia telah menjadi seseorang yang tak berguna.

Namun, lelaki itu datang.

Namanya Min Yoongi, dan entah karena alasan apa, Minha bisa mendengar suaranya.

Eum—“

“Ya?”

Meraih cangkir teh adalah hal yang akhirnya Minha lakukan, menyeruput isinya lamat-lamat sambil menata pikiran. Di hadapannya, Yoongi menunggu dengan sabar. Tatap lekat kepada dirinya, sampai-sampai Minha mulai merasa bersalah karena telah merepotkan sang lelaki. Tetapi, walau bagaimanapun juga, ia pasti butuh penjelasan, kan?

“Maafkan aku.”

Respon Yoongi adalah menelengkan kepala, sorot penuh kuriositas tampak jelas di sana. Kendati begitu, ia sama sekali tak berkomentar. Yang ia lakukan hanyalah memandangi Minha, sebelah tangan otomatis terulur ketika gadis itu mulai meneteskan sebulir air matanya. Terisak dalam lirih, sementara bibirnya kembali terbuka untuk bergumam, “Maaf, karena aku mengecewakanmu.”

Pernyataan itu teramat tak terduga, sehingga Yoongi pun sontak menghentikan pergerakan tangannya. Kedua manik dilebarkan, tak mengerti dengan maksud perkataan Minha. Mereka bahkan baru bertemu beberapa saat yang lalu. Jadi, mengapa gadis itu berkata bahwa ia telah mengecewakan Yoongi?

“Aku tidak—“

“Aku… aku butuh waktu untuk menjelaskan,” potong Minha, kali ini seraya meletakkan cangkir di atas meja dan membalas tatapan Yoongi. “Terima kasih atas semuanya, sungguh. Mungkin besok atau lain waktu kita bisa….”

“Kamu boleh menginap kalau mau,” sahut Yoongi, tanpa sadar membiarkan penawaran itu meluncur keluar sementara jantungnya berdegup kencang. “M-maksudku… well, aku hanya menawarkan. Atau kalau kamu sudah berubah pikiran dan ingin pulang, aku bisa mengantarmu. T-tapi….”

Yoongi menahan kata-katanya, memalingkan wajah karena malu. Namun, tanpa diucapkan pun, Minha seolah bisa menebak maksud lelaki itu. Ia sendiri ambil bagian dalam hal ini, lantaran tadi telah sempat kelepasan berkata soal tidak ingin pulang. Ugh, salahkan saja koordinasi antara otak dan mulutnya yang sempat hilang saat berada di jalan tadi.

“Min Yoongi—“

“Aku akan berada di flat temanku, di sebelah, kalau itu membuatmu merasa lebih baik.” Yoongi cepat-cepat menambahkan, lantas berbalik untuk meraih jaket yang tersampir di sandaran sofa. Kaki dengan sigap bergerak ke pintu depan, kepala tertoleh ke arah Minha kala ia menambahkan, “Kutinggalkan kuncinya di sini, jadi tolong bukakan pintu untukku besok pagi. Aku bisa memercayaimu, bukan?”

“Aku….”

Yoongi lekas melempar senyum, menenangkan sang gadis selagi ia melangkah keluar. Abaikan segala usaha Minha untuk memprotes, lantaran hanya satu hal saja yang saat ini memenuhi pikirannya. Gadis itu adalah belahan jiwanya; sehingga wajar bukan jika ia ingin mencoba untuk menghibur atau melakukan sesuatu yang berguna?

“Kalau begitu, selamat malam. Sampai bertemu besok, Park Minha.”

.

-o-

.

Bohong kalau Minha berkata bahwa tidurnya nyenyak.

Ia bahkan sama sekali tak bisa mengistirahatkan pikirannya, berulang kali terjaga dan berjalan mondar-mandir di ruang tengah flat milik Yoongi. Lalu, kala lelah datang menghantam, barulah ia akan kembali merebahkan diri di atas sofa. Berbaring meringkuk, diam-diam meneteskan air mata ketika ia teringat akan alasannya enggan pulang ke rumah. Terus seperti itu sampai pagi menjelang, sehingga wajar jika dirinya terlonjak kaget kala dering bel terdengar.

“S-sebentar!”

Sedikit limbung, Minha buru-buru menyisiri surai pendeknya dengan jemari. Berusaha untuk membuat penampilannya serapi mungkin, sebelum akhirnya bergegas membuka pintu flat. Tampakkan sosok Yoongi yang tersenyum simpul di sana, tanpa banyak kata melewati ambang pintu dan bergerak untuk membuka sepatunya.

“Kamu pasti tidak bisa tidur.”

Itu bukan pertanyaan, dan Minha pun tak perlu repot-repot mengiakan karena Yoongi sudah mengangkat kepalanya. Biarkan pandang mereka bertemu, diikuti dengan decakan pelan setelahnya. Sang lelaki pasti bisa melihat betapa sembapnya mata Minha setelah menangis semalaman, suatu pemandangan yang hingga kini belum ia ketahui penyebabnya.

“M-maaf. Aku bukannya tidak menghargai tawaranmu, tapi….”

It’s okay,” balas Yoongi, secara refleks mengulurkan tangan untuk menepuk puncak kepala Minha. “Maaf juga jika aku memaksamu. Hanya saja, kamu perlu tahu bahwa aku ada untuk mendengarkan. Kamulah yang akhirnya membuatku bisa mendengar, jadi kurasa ini adalah hal yang tepat.”

Tidak ada jawaban. Minha memilih untuk menundukkan kepalanya, memutus kontak mata mereka tanpa permisi. Ekspresi muram lagi-lagi hadir di wajahnya, satu yang membuat hati Yoongi terasa ikut berat karenanya. Namun, ia bisa apa? Ia bahkan tak tahu apa masalah yang menimpa gadis itu. Yang membuatnya tak mau tersenyum kendati sudah menemukan belahan jiwanya; yang mendorong air mata untuk terus turun meskipun dunianya tak lagi sepi.

Singkat kata, Min Yoongi benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.

Jadi….

“Kita sarapan dulu saja, oke? Aku hanya bisa membuat ramyeon, kuharap kamu tidak keberatan.”

Minha mengangguk singkat, mengungkapkan persetujuannya dengan cara mengikuti langkah kaki Yoongi ke dapur. Kedua iris bergulir untuk mengamati Yoongi yang sedang mengambil panci, mengisinya dengan air sebelum meletakkannya di atas kompor. Timbulkan suara-suara khas orang memasak, terlebih ketika Yoongi mulai mengambil sendok dan mendentingkannya pada pinggiran panci.

“Kekanak-kanakan, ya?” Yoongi berusaha membuka percakapan, menarik atensi Minha ke arahnya. “Tapi, aku ingin mendengar semua bunyi yang telah kulewatkan selama dua puluh dua tahun terakhir. Tidak kusangka kalau dunia bisa seramai ini.”

Mmm….”

“Bagaimana denganmu?” tanya Yoongi, berpikir jika ia bisa mencari topik percakapan untuk mengalihkan perhatian Minha barang sejenak. “Kalau kamu belum ingin, kamu bisa menunda ceritamu. Kita bisa membicarakan hal lain, kan? Seperti—“

“Aku sudah bisa mendengar sebelum ini.”

“Apa?”

“Aku sudah bisa mendengar, jauh sebelum aku bertemu denganmu,” ulang Minha, memaksa Yoongi untuk bungkam seketika. Mendadak kehilangan kata, juga nyaris menjatuhkan sendoknya dari genggaman. Tubuh serta-merta berputar untuk berhadapan dengan Minha, alis dijungkitkan tanda tak mengerti. Apa maksud Minha sebenarnya?

“Aku….”

“Maksudmu, seseorang bisa memiliki dua belahan jiwa,” ucap Yoongi hati-hati, berusaha mengklarifikasi sementara dadanya mendadak sesak. Seolah ada yang mengempiskan kebahagiaannya dalam sekejap, meninggalkannya dalam ketidakpastian yang lebih besar lagi. Dari semua hal yang bisa terjadi dalam hidupnya, Min Yoongi sama sekali tak pernah memikirkan probabilitas atas kejadian macam ini sebelumnya. Bertemu separuh jiwanya, yang rupanya sudah….

“Belahan jiwa tidak harus menjadi kekasih atau pasangan hidup,” lanjut Minha, menggigiti bibir bawahnya dengan ragu. “K-karena bagiku….”

Yoongi mengatupkan bibirnya rapat-rapat, enggan bersuara.

“…orang yang dulu membuatku bisa mendengar adalah kakakku.”

Bagai dihantam bongkahan perasaan bersalah, itulah yang Yoongi rasakan saat ini. Praktis menguapkan semua keegoisan serta pemikiran konyolnya, selagi ia berjalan mendekati Minha yang sudah membuang muka. Kedua bahu kembali berguncang, tangan gemetaran saat ia akhirnya bergerak menutupi wajah. Sebuah situasi yang mengingatkan Yoongi akan malam ketika mereka bertemu, membuatnya merasa ikut terseret masuk ke dalam lautan gelap yang tak berdasar.

Ini semua salahnya.

Salahnya, yang terus-menerus mengungkit soal betapa bahagianya ia tatkala bisa mendengar dan berbicara.

Salahnya, yang sudah berpikir bahwa Minha akan memilih lelaki lain itu dibandingkan dirinya.

Dan salahnya pula, yang terus-menerus berlagak bisa menolong padahal ia malah memperunyam keadaan.

Kalau begini caranya, mungkin akan lebih baik jika Park Minha tidak pernah bertemu dengan dirinya. Mungkin takdir salah, mungkin mereka adalah pasangan yang keliru. Apa pun itu, yang pasti Yoongi tak merasa kalau dirinya pantas—

“T-tapi, mendadak aku tak bisa mendengar.”

apa?

“Aku tidak bisa mendengar,” ujar Minha, suaranya sedikit teredam dan tak jelas. “Pagi ketika aku terbangun, duniaku senyap. Tanpa suara, tanpa segala musik kehidupan yang selalu kudengar setiap harinya. Aku takut, namun aku tidak bisa berteriak untuk meminta tolong. D-dan kamu tahu….” Satu tarikan napas panjang, yang kemudian diikuti dengan kalimat penuh duka, “…katanya, ia sudah tiada. Saudara laki-lakiku, orang yang membuatku bisa mendengar tepat sejak hari kelahiranku. S-sudah beberapa hari ia koma karena kecelakaan, h-hanya saja ia… ia t-tidak….”

Tanpa menunggu Minha menyelesaikan kalimatnya, Yoongi membiarkan dirinya mengambil alih keadaan. Kedua lengan serta-merta terulur, menarik gadis itu, gadisnya, ke dalam dekapan. Izinkan Minha untuk menangis dan membasahi kaosnya, untuk sementara mengabaikan fakta bahwa air di dalam panci mulai mendidih. Masa bodoh dengan itu, lantaran saat ini ada hal yang jauh lebih penting untuk diurus.

“Minha… aku….”

“K-kupikir… kupikir aku tidak akan bisa mendengar lagi.” Minha kembali menuangkan kegundahannya, kedua tangan kini mencengkeram kaos Yoongi erat. “Kukira duniaku sudah berakhir, d-dan aku akan sendiri selamanya. Namun, kemarin malam, aku mendengarmu. A-aku mendengarmu, sehingga seharusnya aku lega dan bersyukur. Tapi, apa aku pantas, merasa bahagia di atas kepergiannya?”

“Maafkan aku.”

Hanya itu yang bisa Yoongi ucapkan sebagai tanggapan, sembari ia mengusap rambut Minha dan menepuk-nepuk punggungnya. Memberikan ketenangan, sekaligus jaminan bahwa ia akan tetap ada untuk mendengarkan. Untuk menjadi sandaran, sekalipun jalan hidupnya ini tidak bisa dibilang biasa-biasa saja. Bahagia mungkin tidak akan langsung hadir dalam kamus mereka, tetapi tepat saat ia menemukan Minha malam itu, diam-diam Yoongi sudah berjanji bahwa ia akan berusaha sebaik mungkin untuk membangun dunia baru mereka.

Janji yang sekarang sedang berusaha ia tepati.

“Terima kasih karena sudah berbagi denganku,” kata Yoongi perlahan setelah beberapa sekon berlalu, menarik diri agar ia bisa mengusap jejak-jejak kesedihan Minha dengan jemarinya. “Aku mengerti sekarang, dan kamu tidak perlu merasa bersalah.”

“Y-Yoongi….”

“Aku masih menyukainya, mendengar suara seseorang memanggil namaku.” Yoongi kini mengulas senyum tipis, kedua telapak tangan diletakkan di atas bahu sang gadis. “Jadi, ambillah waktumu. Pelan-pelan saja. Aku memang tidak mengenal kakakmu, tetapi….”

“T-tetapi?”

“Ia tidak akan mau melihatmu terus-menerus menangis,” simpul Yoongi tanpa jeda. “Klise memang, namun kurasa itu benar adanya.”

“Begitukah?”

Yoongi mengangguk yakin. “Lagi pula, kita butuh waktu untuk saling mengenal lebih dekat, bukan? Kamu keberatan?”

Butuh beberapa jenak bagi Minha untuk memikirkan pertanyaan itu, kendati akhirnya sebuah gelengan singkatlah yang ia berikan. Lengkap dengan usahanya untuk sedikit menjungkitkan ujung-ujung bibir, diikuti serangkai kalimat yang sukses mengembalikan letupan-letupan kecil itu ke dalam benak sang lelaki.

“Kamu lelaki yang baik, Min Yoongi.” Minha berkemam, tangan terangkat untuk menyentuh jemari Yoongi yang masih singgah di bahunya. “Kakakku pasti tak akan keberatan. Dan boleh aku minta tolong?”

“Soal?”

“Bantu aku, untuk tidak terus-menerus bersedih. Ingatkan aku, jika aku terlalu banyak menangisinya. Kamu benar. Kakak pasti tidak akan senang melihatku seperti ini.”

Sebaris permintaan itu tulus, yang langsung disetujui Yoongi tanpa perlu dipertimbangkan. Lagi pula, kalau dipikir-pikir, mungkin memang seperti inilah jalan yang digoreskan pena takdir bagi mereka. Untuk saling membantu dan memahami, untuk melewati duka dan kesedihan sebelum kebahagiaan datang nanti.

Dan ia, Min Yoongi, sama sekali tidak keberatan.

Ia hanya perlu memulainya, dan untuk itu….

“Ah, benar! Airnya sudah mendidih sejak tadi!”

…sebuah sarapan pagi bersama mungkin bisa menjadi awal yang baik, bukan?

.

fin.

a.n.

Halo lagi!

Setelah dipaksa ((baca: kebanyakan baper plus diskusi sama Kak Yeni aka authornya End of Silence)), akhirnya sekuel buat itu fic ketulis juga. Niatnya sih cuma ficlet, tapi apa daya malah berujung vignette.

Oke sekian dulu ocehan tidak pentingnya. See you soon in another fic! ❤

Advertisements

11 thoughts on “[Vignette] Another Half

  1. astaga selama ini kemana aja yah gw baru nemu FF yang super duper sweet ala abang agus
    aku mengagumi karyamu thor.
    author jjang!
    lagi…lagi….lagi….park minha >< min Yoongi…never…ending…story^_^ haha

    Like

  2. Yaampun seneng banget nih Sequel udah muncul 🙌
    Ohh ternyata soulmate nya boleh ada dua ya??
    Suga disini kemanisan banget, bikin senyum senyum haru masa 😵
    Overall ini baguuusss !!!!

    Like

  3. Aaaaa, seneng banget ini ada sequel-nya =D
    Menjawab pertanyaan kenapa Minha sedih
    Jujur, aku kaget banget bahkan mulutku bentuknya ‘O’ pas tau ternyata soulmate-nya bisa lebih dari satu, dan Minha udah bisa mendengar dari lahir karena belahan jiwanya itu kakak dia sendiri
    Serius, kaget banget
    Di penghujung, mulai manis-manis…
    Lengkap banget lah
    Mereka udah mau mulai dari hal kecil^^

    Like

    1. sebenernya ini diskusi sana-sini dulu sih, awalnya nggak yakin juga bisa apa nggaknya soulmate lebih dari satu XD
      tapi berbekal kesimpulan kalo bakal banyak yang jomblo (?) ketika soulmate cuma satu, yaudah deh dibisa-bisain /krik/

      anyway makasih ya udah mampir~ ❤

      Like

  4. baru nemu fiksi yang karakter suganya manis total, grrrrzz, ya walaupun pasti awalnya suga aka yungi itu sifatnya dingin-dingin-budek-minta-dijewer gituh, #eaak
    tapi, akhirnya, yungi berubah setelah negara api menyerang/eh engga/ yang bener, setelah masgula ketemu separuh jiwanya, #eaakklagi
    hmm… bagussssss>,< berasa pengen baca lagi masa, apa ini/kode berat/abaikan/

    Like

  5. Kya~ Seneng bgt bsa sering2 baca ff kak Amer disini ((Aku salah satu penggemar ff kakak (??) #fansdetected))
    Sekuel yg sweet sekali.. Ternyata gt ya masalah Minha kok sampe sedih begitu.. Tak kira abis itu dia beneran ga bsa denger lagi dan sempet mikir klo mereka salah ketemu pasangan /waks
    Nice ff (y) ((As always..))

    Like

  6. Wahaha aku kira dia gak bisa denger lagi, soalnya minha sedikit ngoceh waktu ketemu yoongi tp yoongi bisa bikin dia denger lagi, aku merasakan sweet” tak terduga /elah/ keep writing author-nim! Jihyeon/98line😆😆😆

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s