[What is Your Color?] More Than Blue – Oneshoot

more than blue

Judul                    : More Than Blue

Nama Author      : deergalaxy0620

Genre                   : Romance, Sad, Songfic

Length                 : Oneshoot ( words )

Rating                  : PG-17 maybe

Cast                     : Kim Tae Hyung a.k.a V ( BTS )

                               Bae Joo Hyun a.k.a Irene Bae ( Red Velvet )

                               Min Yoon Gi a.k.a Suga ( BTS )

Disclaimer           : This FF is mine! 100% is from my mind. This FF also inspired from the song with t(Yoon Mi Rae) – Because of You, but just 20%.

Summary             : Tae Hyung rela berkorban untuk membuat Irene bahagia sebelum wanita itu jatuh ke tangan Yoon Gi.

.

Cinta membutuhkan pengorbanan. Terkadang diantara kita harus berpisah.

.

.

Suara tangisan yang sedu, memecahkan suasana sunyi di kamar. Tae Hyung, pria bertubuh tinggi itu, menitikkan air matanya, dengan tubuh menyandar di dinding putih. Isakan tangis yang pilu itu, tak pernah berhenti. Bibir tebalnya yang seksi itu seketika memucat, dengan mata sangat sipit dan bengkak akibat air mata. Pandangannya tertuju kepada sebuah figura foto yang terpampang di dinding. Senyum ayu seorang wanita yang tak pernah memudar disana. Dia adalah Irene Bae, kekasih Tae Hyung.

Seketika tangisan pria itu terhenti saat dia kembali teringat dengan perkataan Irene. Seorang pria yang pengecut adalah pria yang selalu menangis, meskipun bersembunyi di suatu tempat yang tak terlihat. Begitulah pepatah Irene yang selalu berada di benak Tae Hyung. Akan tetapi, pepatah tersebut tak mampu mempertahankan prinsipnya sebagai seorang pria. Jika dia ingin menangis, menangislah dia sejadi-jadinya. Dan pertahanannya benar-benar lemah. Tae Hyung adalah seorang pria yang pengecut dan bodoh.

Akan tetapi, cerita ini sangat berbeda. Tae Hyung tak suka jika Irene mendekati seseorang hanya untuk sekadar berbicara santai saja. Membuat hati pria bersurai hitam itu terbakar oleh cemburu. Meskipun Irene menganggapnya teman, akan tetapi Tae Hyung benar-benar tak suka. Lebih ironinya lagi, Irene ketahuan berkencan gelap dengan seorang pria, yang ternyata adalah kakak tiri Tae Hyung, Min Yoon Gi namanya. Lebih ironisnya lagi, mereka ternyata telah berkencan gelap selama satu tahun. Membuat Tae Hyung harus menerima luka yang diterimanya. Akan tetapi, apa dayanya jika dia harus mengakhiri hubungan dengan Irene? Tae Hyung benar-benar mencintai Irene hingga dia rela mati untuk wanita itu.

Noona,” ucap Tae Hyung disela-sela isak tangisnya, “apakah kamu benar-benar mencintaiku?” tanyanya dengan bibir bergemetar hebat, saking dia menahan tangisnya yang mulai berangsur-angsur pecah.

***

Satu minggu kemudian…

Malam harinya…

Sudah lama Tae Hyung tak berjumpa sua dengan Irene, akan tetapi apa daya Tae Hyung jika dia kembali merasakan luka lamanya melebar? Terasa berat jika dia melangkahkan kakinya menuju rumah Irene. Saat itu, orang tua wanita itu meninggal dunia akibat kecelakaan, membuat Irene terpaksa tinggal sendiri di rumah tanpa ditemani orang tua. Padahal, biasanya, Tae Hyung selalu menemani Irene di rumah. Mereka hidup seperti pasangan suami-istri layaknya. Entah ada gerangan apa hingga mereka terpaksa pisah rumah.

Ini semua karena Tae Hyung baru merasakan patah hati akibat kekasihnya selingkuh. Sebelum Tae Hyung mengetahui hubungan gelap Irene, mereka terlebih dahulu adu mulut akibat hal yang sepele, tepatnya di rumah Tae Hyung. Berbagai perkataan yang menimbulkan kemarahan sekaligus memicu konflik selalu terlontar dari bibir mereka. Lebih ironinya lagi, Tae Hyung menampar pipi Irene secara tak sengaja. Emosinya yang telah mendidih membuat Tae Hyung benar-benar hampir kehilangan kendali hingga Irene menangis dan pergi meninggalkan rumah Tae Hyung.

Penyesalan selalu berujung di akhir. Tae Hyung menyesal dan hendak meminta maaf kepada Irene. Akan tetapi, badai telah menerpa perasaan Tae Hyung saat mengetahui Irene berselingkuh. Canda tawanya hanya untuk kekasih barunya, bukan lagi untuk Tae Hyung. Membuatnya harus menelan pahit yang diterimanya sekaligus karma yang juga diterimanya. Berujung kepada tangisan yang memilukan dan menyayat hatinya.

“Apakah kamu hendak menemuiku?” tiba-tiba, Irene muncul sebelum Tae Hyung hendak memutarkan tubuhnya, berniat untuk kembali ke rumahnya.

“Kamu mungkin menyesal setelah kami sempat beradu mulut. Aku juga turut merasa bersalah padamu, Tae Hyung-ah,” lanjut wanita bersurai cokelat itu dengan melengkungkan sedikit sudut bibirnya.

“Aku lebih dari bersalah kepadamu,” balas Tae Hyung cukup parau.

I know,” Irene akhirnya tersenyum, meskipun senyuman tulusnya bukan untuk Tae Hyung, “jika kamu ingin bertamu, silakan masuk ke rumahku.” Ujarnya kembali.

“Tidak ada yang perlu aku katakan padamu,”

“Jangan bohong,” Tae Hyung tak mampu membohongi Irene jika pria itu memiliki niat untuk mengunjungi rumah kekasihnya, “kamu pasti merindukanku, kan?” tanyanya lagi. Tae Hyung merindukan Irene. Akan tetapi, sebuah jawaban termanis, yang hendak terucap di bibir tebal dan seksi Tae Hyung, tak mampu membalas perasaannya yang merindu. Hatinya masih terbakar cemburu.

“Aku merindukanmu, Irene noona,” akhirnya, dengan segenap keberanian yang Tae Hyung miliki, pria itu membalas pertanyaan Irene. Membuat wanita itu melebarkan senyumannya. Akan tetapi, Tae Hyung tak dapat menatap wajah ayu Irene. Perasaan terlukanya justru memberatkan hati Tae Hyung. “dan maafkan aku.” Ucapnya lagi sembari menitikkan air matanya.

***

Irene dan Tae Hyung melangkah memasuki ruang keluarga yang cukup lebar. Mereka selalu bermain sembari makan cemilan hanya untuk menghibur saja. Biasanya Irene selalu bercerita kepada Tae Hyung jika wanita itu mengalami masalah. Bagi Irene, Tae Hyung sudah dianggap seperti adik kandung yang memiliki pendengar yang baik, meskipun mereka masih terikat hubungan khusus – kekasih. Dan bagi Tae Hyung, Irene sudah dianggap seperti ibu kandung karena teringat dengan ibunya yang meninggal dunia. Sementara ayahnya pergi melarikan diri karena selalu terlilit utang, membuat Tae Hyung harus pergi ke Seoul untuk mencari kehidupan baru disana.

Sekarang, Irene dan Tae Hyung tampak berbeda setelah pertengkaran hebat, meskipun mereka duduk saling bersebelahan. Mereka saling diam, bahkan jarak antara mereka terlampau cukup dekat. Akan tetapi, Tae Hyung ingin sekali mencintai Irene sebelum Yoon Gi – kekasih gelap Irene – kembali merebutnya dengan sadis. Tae Hyung tak ingin kekasihnya itu direbut seseorang, walau dengan berbagai alasan tertentu. Namun, ada satu alasan kuat dia menginginkan wanita pujaan hatinya.

“Aku ingin bahagia saja denganmu, noona,” Tae Hyung memulai pembicaraannya, meskipun seharusnya Irene yang memulai. “aku benar-benar ingin bahagia denganmu. Tetapi, aku mungkin tampak pria yang bengis hingga menamparmu. Ini membuatku batinku terluka. Aku bertanya kepada diriku bagaimana bisa seorang pria pengecut sepertiku, sangat tega menamparmu. Aku benar-benar tampak bengis, noona.” Ujarnya dengan senyuman yang menyiratkan tak percaya. Menggeleng pelan dengan menunduk, memandang karpet merah yang tebal.

“Ini giliranku yang harus berbicara kepadamu. Kamu selalu bercerita kepadaku, layaknya aku adalah pendengar yang baik. Kamu tak pernah tahu bahwa aku selalu menangis setiap aku merindukanmu. Setiap aku memandang fotomu yang manis dan ayu, justru aku semakin merindukanmu. Bibirmu, matamu, hidungmu dan semuanya. Aku benar-benar merindukanmu,” tiada hentinya Tae Hyung berbicara seolah-olah dia berbagi curhat kepada Irene. Curhat bagaimana untuk menenangkan hati wanita bersurai cokelat itu, meskipun hati Tae Hyung tetap terluka.

“Bagaimana denganku?” tiba-tiba Irene bertanya dengan menoleh dan memandang wajah Tae Hyung dari samping, “aku lebih dari kata merindukanmu. Aku benar-benar merindukanmu. Aku juga turut bersalah padamu, Tae Hyung-ah,”

“Apa salahmu? Justru aku yang bersalah padamu. Apakah kamu tak pernah tahu dimana letak kesalahanmu?” Bibir Irene seketika membungkam, tak mampu untuk membalas apa yang dikatakan Tae Hyung. Seketika pikirannya menjadi bingung. Wanita itu memandang Tae Hyung yang mulai beringsut mendekatinya dan seketika tubuhnya menegang saat pria itu menatapnya lebih dalam.

“Kamu boleh menyalahkanku karena aku adalah pria yang bengis. Akan tetapi, aku lebih menyalahkanmu karena kamu telah berhubungan gelap dengan seseorang.” Seketika tubuh Irene lebih menegang setelah mendengar pernyataan Tae Hyung. Pria itu telah mengetahui hubungan gelap Irene setelah pertengkaran adu mulut mereka berkobar. Menatap kekasihnya itu lebih intens, bahkan Irene dapat merasakan dahinya disentuh Tae Hyung, dengan dahinya. Mendengar deru napas Tae Hyung yang membuat Irene dapat merasakan napas Tae Hyung.

“Kamu mungkin mencintai dia juga, kan?” tanya Tae Hyung sembari memejamkan matanya, menghirup aroma tubuh Irene yang cukup pekat.

“Tae… Tae Hyung-ah…”

“Katakan padaku jika kamu lebih mencintai pria itu. Aku tak akan membiarkan kamu hidup bahagia dengan pria lain selain aku.” Tae Hyung menyela perkataan Irene dengan cepat.

“Di… dia… aku…”

“Wae? Kamu lebih mencintainya, kan? Katakan saja padaku sejujurnya bahwa kamu mencintainya.” Tae Hyung membuka matanya dan kembali menatap manik cokelat mata Irene yang bersinar. Pria itu benar-benar menyukainya.

“Aku… aku juga mencintaimu, Tae Hyung-ah. Tetapi…”

Irene belum menyelesaikan perkataannya karena bibirnya akhirnya dibungkam bibir Tae Hyung. Merasakan lumatan yang terlampau lembut dengan tempo lambat. Irene dapat merasakan jantungnya meledak. Ciuman tersebut berhasil membuat hatinya bangkit, seolah-olah wanita itu kini kembali menjadi milik Tae Hyung, bukan orang lain. Perlahan Irene memejamkan matanya dan membalas ciuman yang diterima Tae Hyung. Tangan wanita itu tergerak menarik tengkuk Tae Hyung, memperdalam ciumannya. Sama halnya dengan Tae Hyung, menarik tengkuk Irene dengan satu tangannya, sementara satu tangan lainnya menarik punggung Irene. Membuat wanita itu pasrah dengan perlakuan Tae Hyung.

Perlahan-lahan, Tae Hyung menjauhkan bibirnya dari bibir Irene, lalu menatap wajah kekasihnya itu. Memberikan sedikit waktu untuk memberi napas untuk Irene. Belum sampai 10 detik, Tae Hyung kembali meraup bibir Irene dan melumatnya kasar. Tae Hyung kali ini lebih bengis dari sekadar menampar Irene. Bibir Irene telah menjadi candu baginya sehingga ada hasrat untuk memiliki wanita itu lagi. Tangan Tae Hyung mulai meraba punggung Irene, lalu mendorong wanita itu dan menindihnya. Berhubung sofa rumah Irene sangat lebar, jadi Tae Hyung dapat dengan leluasa mencumbu Irene. Lenguhan terdengar jelas hingga menangkap ke indera pendengar Tae Hyung, membuat pria itu memperdalam ciumannya. Gigitan kecil berhasil membuat Irene membuka mulutnya dan lidah mereka saling beradu.

“Katakan saja bahwa kamu lebih menginginkanku daripada pria itu, kan? Aku jauh lebih membutuhkanmu. Bahkan tubuhmu ini sekarang menjadi milikmu.” Tae Hyung sejenak melepaskan bibirnya sembari berkata demikian dengan mendekatkan bibirnya ke telinga Irene, membuat tubuh wanita itu merasakan hawa panas menyapu tubuhnya.

Bibir tebal Tae Hyung akhirnya jatuh ke leher putih Irene, membuat wanita itu kembali melenguh. Tae Hyung tersenyum penuh seringaian disela-sela ia mengendus aroma Irene di lehernya. Membuat pria itu meninggalkan tanda kemerah-unguan disana. Mengigit kecil, mengulum, dan menghisap kuat permukaan kulit leher Irene. Tae Hyung menyukai desahan dan lenguhan Irene yang terdengar seksi. Membuat pria itu semakin leluasa mencumbu Irene tanpa ampun. Dan mereka akhirnya saling bercumbu, dengan menyalurkan segala perasaan mereka yang terkesan merindu. Malam yang menjadi indah bagi kedua insan ini. Berharap suatu hari, Irene akan menjadi milik Tae Hyung seutuhnya.

***

Keesokan harinya, Irene melenguh pelan saat matahari menembus tirai putih. Dengan tidur tanpa sehelai pakaian apapun, dia tersenyum disela-sela ia memejamkan matanya. Perlahan ia membuka matanya, namun dia mendapatkan dirinya berada di ranjang. Padahal mereka saling bercumbu di sofa. Irene merasa bingung dan segera dia keluar dari kamar. Dengan mengenakan handuk mandi kimono biru muda, wanita itu segera menemukan keberadaan Tae Hyung, yang secara tiba-tiba menghilang dari ranjang.

Sebelum Tae Hyung menghilang, dia memindahkan tubuh Irene dan menunggu kekasihnya itu tertidur pulas dengan mengubrak-abrik laci meja Irene. Akan tetapi, Tae Hyung menemukan sesuatu yang kembali mengiris hati. Sebuah foto kencan Irene dengan Yoon Gi disertai dengan balutan gaun pengantin dan tuksedo. Mereka akan berkencan keesokan harinya, tertera sebuah tanggal mereka akan menikah. Besok? Tae Hyung merasa marah sekaligus kecewa dengan kekasihnya itu. Setelah puas mencumbui Irene, kini sebuah kabar awan hitam mengundang hati Tae Hyung. Pria bernama Yoon Gi itu, berhasil membuat hidup Tae Hyung diterpa badai dan awan hitam.

Tae Hyung segera mengenakan kembali pakaiannya yang bertebaran di ruang keluarga, kemudian pergi ke suatu tempat yang tak dapat diketahui Irene. Entah ada gerangan apa, Tae Hyung secara tiba-tiba menitikkan air matanya setelah mengetahui kekasihnya itu akan menikah dengan Yoon Gi. Setelah dia berkorban untuk mendapatkan kembali hati Irene, kini ada sebuah perpisahan yang mengharuskan Tae Hyung untuk berpisah. Tak ada lagi cara untuk mendapatkan hati Irene, padahal sebenarnya dia masih memiliki kekuatan untuk merebut kembali hati kekasihnya. Tetapi, apa daya Kim Tae Hyung saat Yoon Gi berhasil meluluhkan hati Irene?

Kau berhasil mencampakkanku, Irene noona. Terima kasih atas luka yang telah kau torehkan padaku. Batin Tae Hyung sembari melangkah memasuki bus yang berhenti di halte bus. Kemudian, bus itu melaju menuju suatu tempat yang tak diketahui Irene.

***

Acara pernikahan telah digelar dengan sepasang kekasih yang ternyata memiliki hubungan gelap. Irene tersenyum ramah sembari berjalan di atas altar. Dengan dibalut gaun pengantin yang serba mewah, Irene memancarkan sinarnya dengan senyuman. Polesan lipstiknya yang tak menonjolkan warna merahnya itu, membuat calon suami Irene – Yoon Gi – tersenyum ramah kepada wanita itu. Membuat jantung pria itu berdegup lebih kencang. Sangat beruntung memiliki kekasih seperti Irene.

Saat seorang pastor mengucapkan janji suci untuk calon mempelai, seketika ekspresi Irene berubah menjadi ekspresi mendung. Dirinya merasa khawatir dengan menghilangnya Tae Hyung secara tiba-tiba. Ada sebuah hasrat untuk bertemu dengan Tae Hyung, tetapi semuanya tak bisa setelah menggelar acara pernikahan dengan Yoon Gi. Bibir Irene seketika terkatup rapat saat seorang pastor bertanya kepada Irene.

“Bae Joo Hyun-ssi, apakah kamu bersedia menjaga calon suami, merawat calon suami, dan mencintai calon suami, dengan segenap hati yang telah kau berikan kepada calon suamimu?”

Pertanyaan itu tak mampu membalas pernyataan Irene yang sesungguhnya. Wanita itu tak mampu membalas pertanyaan seorang pastor dihadapannya, bersamaan dengan Yoon Gi yang tengah berdiri di sampingnya. Membuat Irene ingin menangis karena merindukan Tae Hyung. Hatinya juga kini bersilih ganti ke hati Tae Hyung – mencintai pria itu kembali setelah dia menyalurkan segala cinta yang telah dia miliki.

Yoon Gi dapat membaca perasaan Irene yang kian kalut dan mendung. Pria bersurai hitam itu, tahu apa yang dibenak Irene. Wanita itu lebih menginginkan Tae Hyung dari dirinya. Yoon Gi cukup bersalah karena telah merebut Irene dari tangan Tae Hyung. Akan tetapi, bagaimana takdir mengatakan jika mereka saling jodoh?

“Irene mungkin merasa keberatan jika dia menjagaku,” tiba-tiba bibir Yoon Gi mengeluarkan beberapa kata kepada seorang pastor, “dia mungkin bukan jodohku karena dia masih mencintai kekasihnya. Aku merasa bersalah karena telah merebut Irene dari kekasihnya.” Saat Yoon Gi membungkuk dihadapan seorang pastor, Irene mulai tertegun. Tubuhnya seketika menegang saat Yoon Gi mengeluarkan pernyataannya. Tak pernah menyangka pria setulus Yoon Gi, berani mengambil risiko akibat merebut Irene dari Tae Hyung.

Setelah membungkuk, Yoon Gi segera mengulurkan tangan kepada Irene, dengan senyuman penuh maaf, “Irene-ssi, maafkan aku karena telah merebutmu dari Tae Hyung. Bagaimana jika kita mencari keberadaan Tae Hyung?” mungkin terdengar adil bagi Irene, akan tetapi Tae Hyung mungkin kembali merasakan torehan luka yang kian melebar. Dan akhirnya, wanita bersurai cokelat itu, mengangguk pelan.

***

Yoon Gi dan Irene telah berganti pakaian dengan mengenakan pakaian santai. Mereka berlari sembari mencari keberadaan Tae Hyung yang menghilang itu. Berteriak dengan menyebut nama Tae Hyung, akan tetapi hasilnya nihil. Irene tak ingin menyerah dan wanita itu tetap mencari keberadaan Tae Hyung. Mereka mencari keberadaan Tae Hyung di rumahnya, akan tetapi rumah tersebut kosong dan hening. Yoon Gi hampir frustasi setelah Tae Hyung menghilang. Dengan segera, mereka mencarinya di rumah Irene, akan tetapi tetap kosong.

“Aku sudah mencari Tae Hyung di seluruh penjuru ruang, akan tetapi dia juga tidak ada disini,” Yoon Gi hampir merasa kelelahan akibat terlalu sering berlari. Irene ingin sekali menangis.

“Bagaimana ini? Dia mungkin sudah tahu bahwa kita akan menikah hari ini,” ujar wanita itu dengan menahan tangisnya. Yoon Gi mengacak surai hitamnya penuh frustasi dan menggigit bibir bawahnya dengan cemas.

“Bagaimana kalau kamu menelepon Tae Hyung?” ide cemerlang keluar dari otak Yoon Gi, membuat Irene segera merogoh ponselnya dari tas kecilnya. Jemari lentiknya bergerak cepat menekan nomor ponsel Tae Hyung. Akan tetapi, pria itu tak mengangkat panggilan tersebut.

Sayup-sayup nada dering ponsel Tae Hyung terdengar hingga ke telinga Irene dan Yoon Gi. Mereka segera menemukan keberadaan ponsel Tae Hyung yang masih aktif. Irene kembali menangkap nada dering ponsel Tae Hyung yang kian mendekat. Dan ternyata, ponsel Tae Hyung tertinggal di meja ruang keluarga. Irene sontak tertegun karena ponsel Tae Hyung tertinggal disana.

“Yoon… Yoon Gi-ssi,” panggil Irene dengan suara bergetar, “ponsel… ponsel Tae Hyung… benda itu ada disini,” tubuh Irene seketika terguncang hingga wanita itu terjatuh ke lantai.

“Benarkah?!” Yoon Gi segera meraih ponsel Tae Hyung dan mendapatkan banyak sekali panggilan, terutama dari teman-teman dekat Tae Hyung dan Irene.

“Teman-teman Tae Hyung juga mengkhawatirkan keberadaan Tae Hyung,” kata Yoon Gi sembari mengecek semua panggilan masuk di ponsel Tae Hyung, “mungkin mereka juga mencari keberadaan Tae Hyung.” ujarnya sembari melangkah menghampiri Irene.

“Aku merasa bersalah kepadanya,” penyesalan selalu berujung di akhir. Begitulah yang dialami Irene saat ini, “jika kamu tidak menjodohkan denganku, dia pasti tidak akan sakit hati.” lanjutnya dengan isakan tangis pilunya. Yoon Gi turut bersalah kepada Irene. Jika takdir tak mengatakan bahwa mereka berjodoh, pasti Tae Hyung akan merasa bahagia.

“Jangan menangis, Irene-ssi. Aku juga turut bersalah karena telah menghancurkan kehidupan kalian. Mungkin televisi ini akan menghiburmu…” saat Yoon Gi segera menghidupkan televisi rumah Irene, muncul sebuah berita tentang kecelakaan beruntun. Kecelakaan tersebut terjadi jam tengah malam tadi. Irene dapat melihat, dengan samar-samar, seorang pria yang terkapar di jalanan aspal dengan mengeluarkan banyak sekali darah. Wajah korban itu sangat mudah dikenali Irene hingga seketika tubuhnya menegang. Yoon Gi merasa sangat terkejut dengan seorang pria yang menjadi korban kecelakaan itu. Seorang pria yang sebenarnya ditakdirkan berjodoh dengan Irene. Kim Tae Hyung.

“Apakah benar… itu… Tae… Tae Hyung?” Irene tak mampu meluruskan perkataannya seketika saat Tae Hyung menjadi korban kecelakaan beruntun di televisi. Jemari lentiknya bergemetaran hebat dan menyebar ke seluruh tubuh.

“Tidak mungkin itu Tae Hyung. Tidak mungkin. Reporter pasti salah. Itu bukan Tae Hyung…”

“Irene-ssi,”

“Yoon Gi-ssi,” tiba-tiba Irene segera bangkit, meskipun tubuhnya sedikit terhuyung, “apakah pria yang terkapar di jalan itu, benar-benar Kim Tae Hyung? Mereka pasti salah, kan?” Yoon Gi memejamkan matanya, menahan kenyataan pahit yang akhirnya telah menerpa.

“Sepertinya… kita harus ke rumah sakit sekarang,” balas Yoon Gi dengan membuka pelan mata lebarnya itu.

***

Irene dan Yoon Gi kembali berlari dan menerobos kerumunan pengunjung. Kebanyakan dari mereka adalah keluarga korban kecelakaan. Akan tetapi, sorotan mereka teralihkan kepada satu ruang yang tak diharapkan orang lain, yakni ruang jenazah. Banyak sekali keluarga korban yang mengunjungi ruangan tersebut. Irene menghentikan langkahnya saat Yoon Gi hendak memasuki ruang tersebut, berharap tidak ada Tae Hyung di dalam ruang tersebut. Dalam arti, Tae Hyung telah tewas bersama dengan korban kecelakaan lainnya.

Sayang sekali, harapan Yoon Gi – Tae Hyung tidak ikut tewas bersama dengan korban lainnya – tak dapat diharapkan tuhan. Takdir mengatakan lain. Pandangan Yoon Gi mengunci kepada seorang pria yang tubuhnya diselimuti hampir seluruh tubuhnya. Hanya menampakkan wajah pucatnya dan memutih.

“Tae Hyung…” belum selesai Yoon Gi menyelesaikan perkataannya, Irene segera berlari menghampiri Yoon Gi dan ikut melihat seseorang yang terbaring sempurna di atas brankar. Sekujur tubuhnya memutih dan matanya terpejam.

Tubuh Irene kembali bergemetaran dan kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Wanita itu hampir terjatuh kembali ke lantai jika bukan Yoon Gi yang menahan tubuhnya. Dan seketika Irene kembali menangis dan kali ini tangisan penuh histeris.

“Mengapa engkau mencabut nyawa Tae Hyung disaat aku menyesali perbuatannya?! Mengapa engkau memanggil Tae Hyung?! Mengapa harus dia yang mati?!” Irene berteriak penuh histeris dan isakan tangisnya yang memecahkan suasana duka dan riuh keluarga. Yoon Gi berusaha menenangkan Irene dan memeluk wanita itu.

“Mengapa harus kekasihku yang mati?! Dia bukan orang yang bersalah! Dia adalah orang yang baik dan tulus terhadapku! Dia bukan pria yang jahat!” Yoon Gi segera mengeratkan pelukan Irene dengan segala tenaganya.

“Tolong kembalikan Tae Hyung sekarang! Aku benci dia pergi terlebih dahulu dariku! Aku membencinya!” Irene, tiada hentinya wanita itu menangis dalam dekapan Yoon Gi, seakan-akan wanita itu menyalahkan takdir.

“Irene-ssi!”

“Mengapa harus dia yang mati?! Belum sempat aku meminta maaf kepadanya, kau bahkan telah mencabut nyawa seorang pria yang kucintai tanpa bersalah!”

“Irene-ssi!” Irene akhirnya berhenti berteriak dan hanya menangis sesegukan saja setelah Yoon Gi meneriakkan nama wanita itu. Menahan air matanya yang mulai terjatuh di pipi Yoon Gi, akan tetapi semuanya terlanjur. Membuat pria itu ikut menangis bersama Irene, menangis dengan perasaan bersalah sekaligus menyesal.

“Aku mencintainya, Yoon Gi-ssi,” ucap Irene disela-sela dia menangis dan memeluk Yoon Gi, “aku bahkan tak sempat mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Aku menyesal terhadapnya. Bagaimana aku harus memaafkannya jika dia telah tewas. Dia adalah pria yang baik untukku dan dapat menjaga perasaan wanita. Aku benar-benar mencintainya. Aku telah berjanji kepada Tae Hyung untuk tidak mati terlebih dahulu. Tetapi… mengapa takdir malah tak mendengar janjiku kepada Tae Hyung?” tangis Irene yang berhasil menumpahkan air mata dari pelupuk mata Yoon Gi. Mengalir mulus di pipi putih Yoon Gi dan menengadahkan sedikit kepalanya ke lampu putih.

“Mengapa harus dia yang pergi?” tangisan Irene seketika mereda karena kehangatan Yoon Gi. Mungkin perlahan-lahan wanita itu merelakan kepergian kekasihnya yang tercinta itu, Kim Tae Hyung. Berharap suatu keajaiban datang dan Irene tak ingin ditinggal kembali kekasihnya suatu hari nanti. Membiarkan Tae Hyung hidup bahagia disana.

Dari kejauhan, arwah Tae Hyung memandang Irene yang menangis dalam dekapan Yoon Gi. Wanita itu telah mengetahui kematiannya. Begitulah yang ada dibenak Tae Hyung, membuat pria berbibir tebal itu menitikkan air matanya. Membiarkan kekasihnya itu dipeluk Yoon Gi, asalkan Tae Hyung telah hidup bahagia di surga. Membiarkan juga Irene telah jatuh ke tangan Yoon Gi, asalkan mereka hidup bahagia. Sayang, semuanya malah membuat air mata jatuh ke pipi Tae Hyung. Dalam hatinya, dia masih mencintai Irene.

Kau boleh hidup bahagia dengan pria itu, selama aku telah melepaskanmu. Selamanya kamu ada di hatiku dan aku akan menggenggam hati yang sakit ini. Terima kasih atas cinta yang telah kau berikan padaku, Irene noona. Jangan menangis di hadapan Yoon Gi hyung. Aku mungkin ikut menangis bersamamu. Batin Tae Hyung.

END

Advertisements

2 thoughts on “[What is Your Color?] More Than Blue – Oneshoot

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s